LUMER
Bagian 2
Severus Snape, Hermione Granger, Harry Potter, Ron Weasley dan pemeran-pemeran figuran semua kepunyaan JK Rowling
Rate T, Friendship, most Hermione's POV. No pair, AU—no magic here—err... maybe #kedipkedip!
Semua tentang iceskating Ambu dapat dari wikipedia. Mohon bimbingannya!
...dan ternyata icecskating memang lebih baik masuk ke dalam olahraga #pelukpelukElitralala tapi karena sudah terlanjur di fic ini masuk ke Art, biarin aja ya? #kedipkedip XDD
-o0o-
Baik Monsieur Snape maupun Monsieur Karkaroff keduanya mengajar di kelasku. Dengan caranya masing-masing. Dan kalau mau jujur, keduanya—mengerikan!
Kalau saja teman-temanku tidak asyik-asyik, maka pelajaran ini akan jadi bagaikan pelajaran di abad pertengahan. Dengan tempat belajar di kastil, dengan satu dari kedua guru itu tak begitu fasih bahasa Inggris, dengan penampilan mereka yang 'mengerikan', jadilah kami seperti berada di dunia lain.
Monsieur Karkaroff selalu menggunakan pakaian tebal berbulu. Bagaikan kami selalu berada di musim dingin, atau berada di Kutub Utara saja laiknya. Padahal, kalau kami berada di dalam kastil, udaranya cukup hangat. Buktinya saja, kakak-kakak kelas sering memakai kostum sambil berlatih—baik ice skating maupun ballet. Padahal kostum kan cuma selapis, nggak pakai penghangat. Anak-anak ballet malah hampir selalu memakai pakaian berlatihnya yang—sama saja dengan kostum—cuma selapis.
Lalu, Monsieur Karkaroff itu tak begitu fasih berbahasa Inggris—oke, tadi sudah kukatakan! Padahal dia sudah mengajar di sini cukup lama. Menurut kakak kelas tujuh—berarti sudah tujuh tahun—saat dia masuk pun, Monsieur Karkaroff sudah lama mengajar di sini.
Maka, kata-kata yang sering dikeluarkan saat Monsieur Karkaroff mengajar, cuma itu-itu saja. 'Putar!' 'Lebih cepat!' 'Fokus!' selain beberapa kata arah seperti 'Kanan!' 'Kiri!' 'Depan!' 'Belakang!'. Dengan suaranya yang keras dan berat, maka situasinya jadi seperti kamp konsentrasi jaman Nazi dulu—
Kalau Monsieur Snape, berbeda lagi. Suasana lebih ke hening dan sepi. Sebenarnya, ini lebih mencekam. Selain dari beberapa kalimat di awal pelajaran, ia biasanya tak mengucapkan apa-apa lagi. Jadi, pelajarannya biasanya: ia mengucapkan beberapa kalimat, dengan suaranya yang dalam dan rendah. Ini membuat semua siswa mengerahkan semua kemampuan untuk mendengar. Dengan kata lain: konsentrasi. Maka kelas menjadi hening.
Selesai pendahuluan, ia akan menyuruh satu-satu untuk mencoba. Atau sepasang-sepasang, tergantung dari performa macam apa yang akan dipertunjukkan. Nah, di sini, tak banyak yang ia katakan! Ia hanya diam membisu, memperhatikan gerak-demi-gerak yang kami pertunjukkan. Hanya suara musik pengiring yang terdengar. Selesai kami semua mencoba gerakan, akan ada beberapa kalimat lagi. Evaluasi tentang apa yang sudah kami pertunjukkan. Lalu ada peer—membaca atau latihan gerak. Selesai.
Belum lagi ia biasa datang atau pergi bagai menghilang begitu saja!
Agak... horor kalau kubilang.
Tapi, setelah mengobrol panjang lebar dengan rekan-rekan, aku tahu dari Luna kuncinya memahami pelajarannya.
Tatap matanya!
Pantas Luna seperti aneh jika dalam pelajaran Monsieur Snape, selalu menatap langsung ke wajahnya. Rupanya dia sedang menafsir tatapan beliau!
Dan kami bertiga—aku, Luna, dan Ginny—sukses menjadi siswa yang paling mengerti akan kemauan Monsieur Snape. Hihi. Memang, kalau kita bisa menafsirkan tatapan mata, dengan raut wajah beliau yang dingin tanpa ekspresi itu bisa mudah diterjemahkan.
Seperti ini. Ginny kurang cepat memutar, sehingga putaran yang ia lakukan tidak sempurna. Monsieur Snape hanya bergumam, "Hn—"
Tapi tatapan matanya menyiratkan, ia kecewa.
Ginny cepat-cepat mengajukan diri untuk melakukannya sekali lagi. Kali ini, dengan konsentrasi penuh, ia bisa berhenti di saat tepat, lalu membuat lingkaran yang sempurna.
Raut wajah Monsieur Snape masih sama saja seperti tadi, tetapi di ujung matanya seperti terlukis senyum puas.
Jadi, dengan perjuangan keras, kami bisa menikmati semua pelajaran!
-o0o-
Kalau pelajaran saja sudah bisa kami nikmati, apalagi dengan makanan. Tim masak rupanya tahu, siswa-siswa ini harus banyak makan supaya stamina terjaga, tetapi lemak dan karbohidrat harus dikendalikan. Mereka mengeluarkan semua kemampuan untuk memasak dengan lezat—tapi dengan minim lemak!
Dan ditambah dengan waktu makan bersamaan, biasanya makanan yang tak enak juga jadi enak! Coba saja kau makan sendirian, mana enak! Sedangkan kami, biasanya jam makan adalah jam paling ramai karena semua angkatan dan semua jurusan berkumpul. Mengobrol ataupun tukar informasi dengan serius, pokoknya jarang ada yang makan sendirian.
Bahkan, guru-guru pun ada yang sering berada di Aula Besar saat makan. Madame McGonagall, misalnya. Atau Madame Pomfrey. Hagrid tak usah ditanya, dia hampir selalu ada di Aula Besar saat makan, kecuali kalau sedang ada tugas.
Dan di saat makan ini aku mendapat banyak teman lain. Dari asalnya hanya dua teman di jurusan Ice Hockey, sekarang aku sudah mengenal semua siswa jurusan itu di angkatanku, plus beberapa kakak kelas Harry dan Ron. Aku juga jadi tahu kalau SEMUA anak Weasley itu berhasil meraih beasiswa Hogwarts! Hanya Percy yang lulus di Hogwarts Skotlandia Selatan, tetapi enam—ya, enam anak—lainnya lulus beasiswa di Hogwarts Hogsmeade. Ice Hockey, kecuali Ginny. Wow!
Anak Ballet juga ramai! Dan kulihat ada beberapa anak laki-laki yang mengambil Ballet, sama seperti Ice Hockey juga, ada beberapa anak perempuan. Ice Skating juga sebenarnya punya siswa laki-laki, tapi di kelas atas. Di kelasku semua perempuan!
Hari ini ramai seperti biasa. Oh, tidak, sepertinya anak-anak kelas atas punya kabar yang menggembirakan. Atau—semacam itulah! Soalnya banyak anak-anak kelas atas itu tiba-tiba: "Aaaah! Februari? Beneran? Iya? Mauuuuuu!" dan semacamnya!
Ada apa sih? Dari raut wajah mereka itu, seperti kalau kami mau kedatangan Jonas Brothers gitu, atau Avan Jogia!
Seorang anak kelas enam melewati mejaku dengan berseri-seri. Tak sengaja aku bertanya padanya.
"Suzie, ada apa sih?"
"Kau tak tahu? Pagelaran Antar Kelas! Ohya, kau kan anak kelas satu! Tapi ini akan asyik sekali! Tiap kelas akan menampilkan satu pertunjukan di Ballet dan Ice Skating, lalu juga ada pertandingan antar kelas di Ice Hockey. Nanti ada akumulasi nilai, dan dari situ akan ada Juara Umum! Ini seru sekali! Dan jangan disangka anak kelas atas yang selalu dapat, beberapa tahun lalu ada Kelas Tiga yang menyabet semua gelar Terbaik! Asyik sekali, Hermione!"
Pagelaran Antar Kelas?
-o0o-
Madame McGonagall memperjelasnya pada kami kelas satu, saat kami selesai belajar Matematika sore itu. Beliau minta pada Madame Vector untuk tidak membubarkan kelas dulu. Jadi kami semua bisa mendengarnya secara langsung.
"Jadi, ini adalah tradisi angkatan di Hogwarts. Di kampus lain, mungkin berbeda bentuknya, tetapi ini yang kami lakukan di Hogsmeade. Ada pementasan ballet, pementasan ice skating, dan pertandingan ice hockey. Ballet dan ice skating diadakan di 14 Februari, sedang ice hockey sebelumnya, karena ice hockey kan harus bertanding antar kelas dulu."
"Ballet dan ice skating biasanya ganti-berganti menjadi penutup acara. Tahun lalu, ballet. Jadi ice skating dipentaskan siang. Tahun ini gantian, ballet dipentaskan siang. Malam kita mementaskan ice skating. Tempatnya di outside rink—"
Langsung terbayang olehku, skating rink yang pernah kulewati saat berjalan-jalan bersama Luna dan Ginny. Jadi, rink yang itu? Yang lengkap dengan tempat duduk penonton? Sepertinya akan menarik, apalagi pertengahan Februari biasanya sedang beku-bekunya!
"Nah, silakan menyusun sendiri apa yang hendak kalian pentaskan. Untuk ice hockey, aku minta susunan team lengkap, termasuk pemain cadangan. Untuk ballet dan ice skating, aku minta ringkasan cerita yang mau kalian tampilkan, berikut siapa saja penarinya—"
Luna sudah mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Ya, Miss Lovegood?"
"Bagaimana kalau kami memerlukan penari laki-laki, sedangkan kami semua perempuan?"
Sebagian besar dari kami ber-'ooh iya'!
Madame McGonagall tersenyum. "Kalau gerakannya tidak terlalu sulit, kalian bisa minta pinjam personil dari ice hockey. Bagaimana, apakah kalian bersedia?" pandangannya dilayangkan pada para pemain ice hockey.
Yang terdengar adalah gerutuan. Hihi, dasar anak cowok! Tetapi, Harry berdiri. "Seperti kata Madame McGonagall, kalau gerakannya tidak begitu sulit, dan kalau tidak bentrok dengan pertandingan, kami bersedia!"
Yaiy! Dan kami anak-anak ice skating plus anak-anak ballet berebut memeluk Harry secara main-main. Hihi. Madame McGonagall hanya tesenyum saja melihat kelakuan kami. Sambil berjalan ke pintu, ia mengingatkan, "Jangan lupa daftar personil! Kan akan dibuatkan seragam baru untuk ice hockey, dan kostum untuk anak-anak ballet dan ice skating!"
"Baik, Madame!" kami kompak serempak berseru.
Hari ini masih di bulan Desember. Jadi masih ada dua bulan lebih untuk berlatih. Jangan lupa, pelajaran tetap akan berlangsung, jadi latihan untuk pementasan hanya bisa dilakukan di waktu-waktu sela itu, atau Sabtu-Minggu. Belum lagi ada libur Natal—
Sambil ribut berceloteh kami menuju ruang angkatan kami. Tak henti-henti kami mendiskusikan apa yang akan kami pentaskan.
Seperti biasa, anak-anak laki-laki selesai lebih cepat. Tentu saja, mereka tak perlu memikirkan tema atau cerita apa yang mau dipentaskan, koreografi seperti apa yang mau dilakukan. Mereka tinggal menulis nama-nama anggota tim inti dan tim cadangan. Beres.
Tapi pekerjaan pertama selesai. Jadi kelas ballet akan mementaskan Gadis Korek Api, sedang kami anak-anak ice skating bersepakat mementaskan Winter Solstice1). Pas dingin-dingin dan malam-malam, walau dipentaskannya Februari bukan Desember.
-o0o-
"Kalian sudah memutuskan akan mementaskan apa untuk Pagelaran Antar Kelas?" tanya Monsieur Snape, selesai pelajaran siang itu.
"Sudah Sir," sahut Luna, "—kami akan mementaskan Winter Solstice. Mungkin akan memerlukan bantuan dari kelas ice hockey, tapi tak banyak gerakan, cuma jadi pohon saja—" ia menyerahkan fotokopian rencana koreografi kami.
Dalam pementasan ini, kami harus mengerjakan semuanya sendiri—maksudku, kami tak boleh punya pelatih kakak kelas, guru, atau orang luar. Harus kami sendiri yang mengerjakannya. Tapi, kami masih boleh bertanya-tanya, baik pada guru atau kakak kelas. Walau, kemungkinan kakak kelas sih malas menjawabnya, soalnya kan mereka juga sedang mempersiapkan pementasan angkatan mereka sendiri!
Dengan cepat mata Monsieur Snape memindai halaman demi halaman. Tanpa komentar, sudah diduga. Matanya nampak jauh menerawang. Tak diduga, beliau menyahut juga, menunjuk pada kertas fotokopian, "Ini—boleh untukku?"
Sepertinya Luna sudah nyaris berteriak kegirangan, tapi ditahannya. "Tentu, Sir. Kalau ada waktu melihat kami berlatih—"
Beliau mengangguk kecil, nyaris tak terlihat. "Akan kulihat dulu jadwalku—"
Dan ia meninggalkan skating rink itu.
Dan kami nyaris saja bersorak! Monsieur Snape mau melihat latihan kami! Yaiy!
-o0o-
Malamnya saat kami sedang makan, aku menceritakan kejadian itu pada Harry dan Ron.
"Wang wana hih, Wonsyeur Wnapa hitu?" tanya Ron sambil berusaha menghabiskan dulu isi mulutnya
"Masa' kau tak tahu? Ada di deretan guru paling depan waktu diperkenalkan—"
Ron berhasil mengosongkan mulutnya.
"Ya, aku kan tidak memperhatikan—"
"Yang pakai baju hitam-hitam?" tanya Harry ragu.
"Iya itu! Katanya sih, beliau mau datang dalam latihan, tapi belum janji. Kalian datang saja latihan nanti! Siapa tahu pas beliau ada. Lagipula kalian belum memberikan nama-nama anak ice hockey yang mau membantu—"
"Kita tidak usah meliuk-liuk berputar-putar, kan?" tanya Ron lagi, horor.
Aku terkekeh. "Nggak lah. Kalian akan jadi pohon, jadi cuma diem. Sesekali bergerak mengikuti penarinya, tapi nggak usah muter-muter. Asal bisa diem di atas es, lalu bergerak maju atau mundur—"
Harry memandang Ron. Ron memandang Harry. "Jadwal latihannya tidak bentrok sama jadwal latihan kami, kan?"
"Pohon sih cukup 2-3 kali latihan. Jadi kalau nanti ada bentrok, kalian tidak datang juga tidak apa-apa. Mungkin pas gladi resik saja kalian harus datang—"
Harry memandang Ron lagi. Ron memandang Harry lagi. "Ya sudah. Masukkan saja nama kami—"
Yaiy! Aku bersorak, langsung berdiri menuju tempat duduk Luna, dan mengabarkan kabar baik ini.
"Jadi, kalian positif ini bersedia?" Luna mendatangi tempat Harry dan Ron, masih menghabiskan makanan pencuci mulut.
"Kalau gerakan kami cuma itu, ya bolehlah!" sahut Harry. "Dengan perjanjian—"
"—tidak mengganggu jadwal latihan kalian. Oke! Jadi nama kalian akan kumasukkan, soalnya kan harus dibikinkan kostumnya—"
"Bentar," Ron memotong, "—kita nggak usah pakai pakai pakaian stretch seperti penari ballet itu kan?" nadanya ngeri.
Aku dan Luna terkekeh. "Ya, nggak dong! Kalian kan pohon, jadi pakaiannya seperti pohon—"
Ron menghela napas lega, dan kami menertawakannya lagi beberapa saat.
-o0o-
Kami juga mengabarkan berita ini pada Hagrid. Dia senang, dan berjanji akan menonton salah satu latihannya.
Ngomong-ngomong pondok Hagrid, tanpa sengaja aku keceplosan bertanya, "Hagrid, kalau Hutan Terlarang itu, apakah terlarang juga untuk guru?"
"Kenapa?" tanya Hagrid heran.
"Eh, enggak—cuma pengen tau aja!"
"Ya, secara umum sih sama saja terlarang. Kecuali seperti kalau ada kejadian, ada yang masuk ke hutan, dan kami guru-guru mencarinya. Itu juga, kami tak pernah sendiri—"
Sebenarnya aku ragu apakah ada binatang liar buas yang berani mengganggu Hagrid dengan perawakan sebesar itu—
—tapi, kalau guru-guru saja tak pernah masuk ke hutan sendirian, kenapa Monsieur Snape saat itu masuk sendirian ke hutan? Apa yang dilakukannya?
TBC
1) Ini ngarang ya, ceritanya ada koreografi ice skating begini XDD Demi terpenuhinya skenario #plaks
