SCARS

Summary: Sebatang kara, tanpa keluarga. Kehidupan yang sulit dan cinta yang harus terpisah paksa darinya. Kebaikan yang selalu buatnya sengsara. Pria itu sangat ia takuti dan benci. Membuatnya menangis, sakit. Hidup yang penuh luka dan derita. Akankah ia masih bisa bahagia?

Disclaimer: Naruto just Masashi Kisimoto punya

Rated: M

Chap 2

Happy reading ^^

Mereka bertatapan cukup lama. Hanya beberapa detik memang, sebelum Hinata sadar diri dan segera menyerahkan kantung belanjaannya yang tak seberapa sambil melempar senyum yang dipaksakan pada Naruto. Terlihat agak gugup. Naruto juga sedikit canggung dengan gadis di depannya.

Setelah mengetahui fakta yang agak mengejutkan dari Sakura tentang Hinata. Waktu itu ia hanya biasa-biasa saja. Tapi sedikit ada rasa bersalah dalam hatinya. Ia tidak menyukai Hinata. Namun begitu tahu bahwa gadis pemalu yang bersikap agak aneh –menurut Naruto- itu menyukainya, ada rasa yang asing yang menggelitik ujung syaraf perasaan pemuda penyuka ramen tersebut. Gadis yang dulunya selalu berpakaian konvensional dan bersikap amat pemalu, berambut indigo pendek dengan poni tebal yang selalu menyembunyikan wajah bulatnya ketika menunduk. Pipi yang putih dan selalu merona. Gadis yang baik. Sangat baik malah, lemah lembut dan agak gagap. Gadis yang biasa-biasa saja bagi Naruto.

Tapi kini gadis itu terlihat berbeda. Wajah bulatnya sekarang agak lonjong dengan dagu yang meruncing. Bulat telur dan semakin putih. Rona itu tak pernah hilang. Rambutnya kini sudah bertambah panjang. Warna indigonya tak pudar sedikit pun. Semakin berkilau. Tubuhnya tetap mungil seperti yang terakhir kali Naruto ingat.

Iris lavendernya begitu jernih dan memukau. Hinata tampak berbeda. Ia jauh berbeda dengan dirinya dulu di high school. Dengan kata lain, ia bertambah cantik. Sangat cantik. Begitu cantiknya hingga membuat sapphire Naruto tak bisa lepas barang sedetik pun dari satu-satunya objek di depannya. Ia terpukau. Terpukau dengan gadis yang dulu sangat menyukainya dan ia sendiri malah tidak menyadari kehadiran cintanya. Dirinya yang tak tahu pesona alami yang terpancar dari gadis cupu yang selalu sendiri dan hanya memiliki sedikit teman. Gadis yang mungkin merasa tersakiti ketika tahu, salah satu sahabat baiknya menerima ungkapan cinta dari laki-laki yang dipujanya tepat saat kelulusan sekolah. Sakit hati yang hanya bisa ia pendam dan tangisi sendiri. Tak berani mengungkapkan hal tersebut pada siapa pun.

Naruto tahu, Hinata adalah gadis yang terlampau baik untuk mengatakan 'tidak' pada Sakura ketika gadis pink itu menanyakan pendapatnya. Sakura bingung harus bagaimana. Di lain sisi Naruto yang waktu itu mengatakan tidak akan pernah berhenti sebelum Sakura mengatakan 'ya' pada ungkapan perasaannya. Dan Naruto juga merupakan teman baik sedari kecil Sakura. Situasi yang cukup membuat bingung Sakura. Akhirnya gadis itu mengiyakan saja ungkapan Naruto, dan menyesali perbuatannya ketika Hinata yang ia temui malam harinya hanya mengucapkan 'selamat' dan 'tidak apa-apa' pada Sakura, dengan senyum paksa yang bergetar. Sakura tahu Hinata menangis ketika tubuh mungil itu berbalik hendak pergi. Belum sempat ia merangkul dan mengucapkan maaf, Hinata sudah pergi lebih dulu, lenyap dari pandangan azure si gadis pink.

Naruto tahu, pacarannya dengan Sakura tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Tak ada pertengkaran, tak ada perselisihan. Sakura hanya diam dan banyak melamun setiap kali mereka berkencan. Mungkin gadis itu merasa sangat bersalah karena telah merebut satu-satunya sumber semangat Hinata sewaktu sekolah dulu. Sebagai gadis yang selalu sendiri dan tak jarang mendapat cemoohan murid lain, Hinata tak pernah menginginkan hal yang muluk-muluk sewaktu high school. Ia hanya ingin lulus dengan nilai maksimal, mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Dan bersama Naruto.

Kenyataan itulah yang membuat Sakura memutuskan menceritakan semuanya pada Naruto. Semuanya. Dari awal sampai akhir. Dari awal Hinata menyukainya, hingga senggukan kecil yang Sakura dengar di malam harinya setelah Naruto menyatakan perasaannya pada Sakura. Lalu berakhir dengan kata 'putus' yang terlontar dari bibir pink itu. Sakura menangis, meninggalkan Naruto yang bingung harus bersikap seperti apa setelah mendengar semua ceritanya. Gadis yang ahli dalam hal-hal medis itu pergi meninggalkan Naruto begitu saja, dengan air mata berderai membasahi pipi putihnya. Sakura tak memungkiri, bahwa sebenarnya ia sedikit memiliki rasa pula pada Naruto.

Kini gadis yang ada dalam cerita Sakura dua tahun lalu tepat ada di depan mata Naruto. Menunduk, menyembunyikan keayuan yang Naruto sendiri akui. Tak banyak sikap Hinata yang berubah. Ia masih sama dengan Hinata yang dulu. Hanya saja, ada kilat berani dan tegar dalam pearl indah itu, berbeda dengan Hinata remaja yang selalu merasa takut dan cemas berlebih. Naruto tak tahu dengan tragedi yang dialami keluarga Hinata beberapa bulan lalu. Membuat gadis itu harus berubah menjadi gadis yang kuat dan mandiri. Namun, meski sikapnya sudah berubah, di waktu-waktu tertentu Hinata hanyalah seorang gadis biasa. Ia akan menjadi Hinata dengan sifat mulanya dalam beberapa keadaan. Seperti sekarang.

Tak begitu lama hingga sifat rapuhnya keluar. Belum lama ini ia kehilangan seluruh keluarganya. Luka dan sakitnya belum sembuh benar. Kini harus terbuka lagi luka lama yang sulit untuk ia sembuhkan beberapa tahun lalu. Hanya menunggu pembayaran belanja murahnya saja, Hinata harus rela merasakan sakit hati 'itu' lagi. Walau hanya cinta seorang gadis remaja, Hinata serius jika perasaannya pada Naruto dulu adalah perasaan yang sungguh-sungguh. Ia adalah seorang gadis kesepian dalam kegelapan dan tiba-tiba saja ditolong oleh seorang pemuda yang memberikan cahaya dalam hidup suramnya. Sedikit menyesal dirinya kenapa mengharapkan seseorang yang jelas-jelas akan jauh dari jangkauan tangan kecilnya.

"280 yen, Hinata," sapphire Naruto melirik gadis yang lebih pendek darinya itu sambil membungkus belanjaan dengan perlahan. Ia ingin melihat gadis itu lebih lama. Ia ingin mengungkap penyesalan terlambat darinya. Ia ingin Hinata kini memaafkannya. Ia ingin Hinata tahu perasaannya.

"H-hai'," Hinata mengeluarkan beberapa keping uang dan menyerahkannya pada Naruto. Cepat-cepat ia ingin keluar dari sini, tak ingin jika dirinya didapati mengeluarkan air mata di hadapan pemuda kuning itu. Hanya saja, ada satu hal yang ingin Hinata ketahui dari Naruto. Meski ragu, tapi Hinata sangat penasaran akan hal itu. Ia merasa bersalah dan membebani jika dugaannya selama ini benar.

"Na-naruto-senpai.." Naruto menoleh cepat ke arah Hinata. Sedang gadis yang ditatap menggigit bibir bawahnya yang sedikit bergetar.

"Ba-bagaimana k-kabar Ss-sakura-chan?" Naruto membelalakkan matanya, lalu meredup tatkala secara otomatis otaknya mengulang sebuah adegan di masa lalu. Untuk sesaat ia menghentikan kegiatan membungkus belanjaan Hinata. Menghela napas dan menyiapkan mental untuk mengatakan suatu hal pada Hinata. Ia menatap mata Hinata teduh dan mencoba tersenyum lembut. "Aku, tidak tahu." Hinata terkejut. Sesaat suasana sepi karena kedua pihak sibuk dengan pikiran masing-masing. Masih belum ada pelanggan lain di pagi itu. Lalu suasana sepi itu terpecahkan ketika Naruto memberanikan dirinya untuk berterus terang.

"Ne, Hinata-chan.." Hinata mendongak cepat. "Besok, kau punya waktu luang?" Hinata masih tertegun. "Bisakah, datang ke kafe depan itu saat jam makan siang?" Naruto berusaha menunjukkan nada cerianya. Hinata yang tertegun kini terbelalak. Tak perlu waktu lama untuk ia menganggukkan kepalanya mengiyakan ajakan Naruto.

Pemuda itu menatap jendela dengan datar. Melihat jutaan rintik hujan yang membasahi halaman luas mansion megahnya. Dari lantai atas itu ia melihat sebuah mobil hitam melaju memasuki gerbang dan kesibukan para pembantu menyiapkan beberapa barang. Di sudut ruangan yang ia tempati terlihat meja besar berbahan kayu oak yang di atasnya terdapat bertumpuk-tumpuk map. Sedikit berantakan tapi masih teratur. Map yang berisi dokumen-dokumen penting senilai jutaan bahkan milyaran yen. Hal yang lumrah bagi pria 27 tahun itu.

Tatapannya masih dingin. Ia bagai manusia hampa dengan balutan raga sempurna. Tak banyak yang ia pikirkan selama ini. Ia menjalani hidup dengan kosong dan begitu saja. Tak peduli apapun. Ia juga tak peduli dirinya. Ia hanya ingin mencapai sebuah tujuan yang bukan tujuannya. Tujuan yang ia ingin capai untuk mengisi kekosongan hidupnya. Karena, dalam semua kebekuan dan cara hidup datar pria itu, tersimpan banyak luka menganga yang tak bisa 100% disembuhkan. Harus mematikan semua rasa yang membuatnya menjadi seorang manusia untuk mengabaikan sakit-sakit itu. Tak pernah sekalipun pernik dunia yang memikatnya. Meski setiap wanita berhasrat, selalu, dan pasti ingin mendapat pesonanya, tak satupun berhasil dihiraukannya. Pesona yang tak mungkin ditolak oleh wanita manapun. Ya, pesona seorang Uchiha.

Tapi tak seorang pun dapat menggetarkan gunung es yang telah mendarah daging dalam jiwa Uchiha muda itu. Dirinya tak bisa dan tak ingin mencintai. Tidak. Mungkin belum saatnya itu datang pada dirinya. Setidaknya begitulah takdir setiap manusia. Karena setiap manusia pasti ditakdirkan untuk selalu bersama. Setiap manusia diciptakan berpasangan. Sekalipun itu adalah manusia dingin berjiwa es dan berhati iblis seperti Sasuke. Sasuke, nama Uchiha itu.

Suara pintu mobil yang berdebum menandakan sesuatu. Sebuah awal kegiatan yang sering dilakukan pemuda itu lima tahun terakhir ini. Bukanlah hal yang terlalu ia khawatirkan seperti kebanyakan orang yang berkecimpung dalam dunia yang ia jalani. Sudah terkatakan bahwa ia tak peduli hal apapun di dunia ini. Ia hanya ingin mencapai tujuan untuk pengisi kekosongannya. Ingin mendapat sedikit perasaan dalam jiwa datarnya. Ia ingin menjadi satu-satunya orang yang disegani dalam hal pertarungan. Dan dirinyalah, orang yang harus menang. Absolut. Otoriter. Senyum licik dan seringai. Itulah Uchiha Sasuke.

"Sepertinya mangsa sudah datang,"

Naruto sudah menceritakan semuanya. Semua. Awal sampai akhir. Kecuali perihal bagaimana perasaan Naruto dulu dan sekarang. Hanya mengedepankan fakta tanpa ingin melibatkan perasaan. Hinata tertunduk demi mendengar semua cerita itu. Matanya berkaca. Ia sudah rela jika Sakura yang mendampingi Naruto. Ia sudah rela dan berusaha melupakan semuanya. Kenapa Sakura melakukan hal itu? Kenapa ia kian membuat Hinata merasa bersalah? Sejak malam itu ia tak pernah bertemu kembali dengan si gadis pink. Sakura seolah menghindar darinya.

"Gomen, baru menceritakannya padamu sekarang,"

"Da-daijoubu.. itu semua salahku. Perasaanku t-terlalu kekanakan," Hinata menyeka air di ujung matanya. Tak ia biarkan dirinya didapati menjadi seorang gadis cengeng setelah semua kejadian yang menimpanya selama ini.

"Kau tak salah, Hinata. Sakura juga tak salah. Itu semua adalah salahku," Naruto menunduk.

"Jika saja aku tahu perasaanku, mungkin aku akan menjaganya dan menggunakan waktu yang tepat." Teh yang sedari tadi mereka pesan tak berkurang sedikit pun. Asap yang semula mengepul ramai, kini hilang tergantikan kediaman air yang tak mau bergeming.

"Aku terlalu bodoh untuk mengerti perasaan perempuan. Andaikan aku lebih pintar, mungkin saat ini kau dan Sakura masih berteman," Naruto tertawa kecut.

"I-ini bukan salah Naruto-senpai. A-aku dan Sakura-c-chan masih berteman..." Hinata memberikan jeda sejenak. "... H-hanya saja, k-kami terpisah karena su-suatu alasan. Mu-mungkin, kami, m-masih mengkhawatirkan perasaan satu sama lain..." Hinata menatap jemari tangannya yang bertaut erat di pangkuan rok merah muda lembutnya.

Suasana kembali hening. Mereka larut dalam pikiran masing-masing untuk waktu yang cukup lama.

"Ne, Hinata-chan," Hinata menatap Naruto yang tersenyum.

"Kita terlalu serius. Bukannya aku ingin lari dari semua ini, tapi..." menarik napas perlahan,

"... Jika kita terus meratapi masa lalu, kita tak akan bisa melangkah ke depan," manik sapphire itu kembali cerah.

"Bagaimana kalau kita memulainya lagi dari awal?" Hinata membuka sedikit bibirnya. "Anggap saja aku ini adalah temanmu..." Hinata melihatnya lagi.

"... Teman yang saling melengkapi..." melihat hal yang pertama kali membuat ia jatuh hati.

"... Dan bersama-sama, kita cari dan temukan Sakura-chan," melihat cahaya penerang yang menjadi arahan hidupnya dahulu, dan kini.

"H-hai'," senyum merekah yang cantik telah terbit.

"Haruno-san, pasien di kamar 089 membutuhkan pertolongan segera."

"Baik, akan kuperiksa setelah ini," seorang wanita berjas putih panjang khas dokter berjalan cepat menuju tempat yang dikatan perawat tadi. Kaki putihnya yang terbalut rok span hitam selutut dan hells 10 cm berwarna hitam menunjukkan betapa indah dan jenjang kaki itu. Rambutnya sebahu dan diikat ke belakang. Berwarna pink, terlihat mencolok. Wajah cantik yang banyak digilai kaum adam. Mata azure yang memukau dan tegas, namun ramah dan menunjukkan sifatnya yang murah senyum. Ia adalah seorang dokter muda yang cerdas, tangkas dan baik hati. Pesonanya tak diragukan lagi. Hatinya yang bersih membuat ia seolah bak bidadari.

Haruno Sakura. Menyelesaikan bidang studinya di Jerman selama tiga tahun. Lulus dengan cepat dan hasil yang brilian. Kini bekerja di rumah sakit rintisan keluarganya yang sudah menjadi rumah sakit yang sukses dengan berbagai cabang dimana-mana. Tak menjadikan ia sombong dan angkuh. Hanya saja, status single dan gila kerja begitu lekat dalam namanya. Tak satu pun lelaki yang menarik minatnya. Meski pun ada, ia akan segera melupakan dan fokus pada pekerjaan.

Tak seorang pun tahu bahwa dirinya masih terbawa oleh masa lalu.

Hanya saja, ada satu orang yang begitu ia puja. Dari dulu. Dari ketidaksengajaan mereka bertemu pada acara makan malam yang diadakan keluarganya untuk para pemberi saham rumah sakit Haruno's Medical and Health Group.

Mata yang dingin dan wajah yang rupawan. Sakura juga seorang wanita normal, tak bisa ia tolak mentah-mentah pesona seorang Uchiha yang tepat berada di hadapannya waktu itu. Ingin ia lupakan dan fokus bekerja. Tapi bayangan pemuda itu selalu hadir dalam tiap malam menjelang tidur maupun dalam mimpinya. Tak mau hilang sekalipun ia sudah berusaha keras mengabaikannya. Sakura yakin, ia sudah benar-benar jatuh dalam pesona Uchiha Sasuke. Ketampanan dan wibawa yang tak bisa ditampik. Ia adalah seorang pewaris tunggal dari perusahaan raksasa Uchiha's Group. Seseorang yang akan sulit untuk digapai. Sekali pun itu bagi Sakura. Perbedaan status mereka masihlah sangat jauh.

Namun Sakura berharap memiliki sebuah kesempatan untuk bisa berdampingan dengannya. Sakura juga ingin bahagia. Terutama ia ingin melupakan masa lalunya. Memulai lembaran baru dan juga masih berharap jika sahabatnya, Hinata, baik-baik saja dan mendapat kehidupan yang bahagia pula disana.

Walau Sakura tak tahu jika hidup Hinata sekarang lebih sulit dari yang dulu.

"Matsuri-san, tolong jahit dan perban luka lainnya. Keadaannya sudah membaik dan kuserahkan sisanya padamu," Sakura berkata ramah pada seorang perawat junior yang begitu ia kenal. Meski diluar mereka akrab dan saling memanggil dengan sufix -chan, tapi jika sudah masuk lingkungan kerja Sakura akan menjadi pribadi yang serius.

"Baik, sensei,"

Shift kerjanya sudah habis. Ia ingin menghabiskan sisa malam ini untuk makan malam di luar. Hidangan seafood dan sake. Menginap di hotel dekat pantai dan menghabiskan beberapa gelas bir menjelang tidur. Itulah hal yang selalu ia lakukan menjelang cuti kerjanya. Ia gadis single yang senang menghabiskan waktu sendiri. Meski di luar ia punya banyak teman akrab, sedikit pun tak akan bisa membuatnya menjadi pribadi yang hidup setelah semua kepenatan kerja yang ia jalani dengan keras.

Terkadang pula saat merenung di malam hari, ia berharap Sasuke tiba-tiba datang dan menemaninya di ranjang. Bangun di pagi hari dengan berpelukan dan mengucapkan selamat pagi dengan sebuah ciuman. Lalu sebuah cincin berlian yang muncul diberikan Sasuke pada jemari kirinya.

Sakura tak mau munafik. Ia menginginkan hal-hal itu. Ia suka membayangkan hal-hal itu. Ia juga sudah dewasa. Ia biasa memikirkan hal-hal itu. Meski sudah menjalani one night stand bersama segelintir pria, termasuk Naruto, Sakura tetap mendambakan Sasuke dalam tiap imajinasi liarnya.

"Hh... Sepertinya berendam dalam air hangat akan sangat menyenangkan,"

"Oiii... jidat lebar!" Sakura menoleh dan memberengut mendapati rekan sesama dokternya berlari ke arah mobil tempat ia akan menuju lokasi 'liburannya'.

"Ada apa, Ino pig?" Ino mengerucutkan bibirnya dan menjitak kepala Sakura.

"Kau mau kemana? Ke pantai lagi?"

"Ittai! Hoi, aku juga butuh refreshing pig! Ingin liburan!"

"Jidat, yang namanya begadang sambil mabuk-mabukkan lalu tidur sampai molor kesiangan di hotel itu bukan liburan! Kapan sih, kau itu bakal berubah?!"

Sakura masih menggosok dahinya yang memerah. "Ah, sudahlah.. aku sudah lelah. Jangan mengajakku berkelahi sekarang," Sakura bersiap melajukan mobilnya ketika secepat kilat Ino membuka paksa pintu mobil dan mendesak Sakura untuk pindah dari kursi kemudi.

"Ino pig! Kau tak tahu arti dari kata 'a-ku su-dah le-lah'? Cepat keluar dan jangan berbuat hal yang bodoh, pirang!" Sakura mulai merasa pusing karena kelelahan dan tingkah konyol Ino.

"Kali ini turuti saja mauku. Aku akan membawamu untuk 'liburan' yang sesungguhnya," Sakura mengernyit bingung dan menyerah saja ketika mobil sport merahnya mulai melaju meninggalkan basemen rumah sakit.

Sepanjang perjalanan Sakura hanya diam menatap keluar. Memperhatikan kerlap-kerlip malam di Kota Konoha. Tak menghiraukan ocehan Ino yang terus menceramahinya tiada henti.

"... Kau itu dokter, tapi pola hidupmu jauh dari kata sehat. Kau harus makan teratur, olah raga, dan banyak istirahat. Cepat cari kekasih dan kita jalan bareng bersama..."

Ino memasuki daerah yang sepi namun tidak mencekam. Daerah perumahan dan pertokoan kaum menengah ke bawah. Banyak pohon rindang berjajar di sepanjang jalan. Indah. Sangat menyenangkan jika dipakai jalan-jalan di sore hari. Huh... mungkin kapan-kapan ia akan kesini dan berbelanja murah. Sayang sekali, hidupnya ia habiskan untuk bekerja dan 'berlibur' di hotel. Tak sekalipun ia benar-benar menyantaikan dan menyenangkan tubuhnya. Ia juga cuma sedikit mengerti tentang tempat-tempat di kota, kecuali destinasi 'libur' di hotel yang menjadi langganannya.

"... Aku, Sai, kau dan kekasihmu. Kau masih muda Sakura, setidaknya gunakan masa mudamu untuk menoreh hal yang menyenangkan. Seperti Lee. Ah, mengingat Lee, aku ingat ekspresi berlebihan yang ia tunjukkan ketika kau menolaknya. Sayang sekali, padahal ia adalah pemuda yang baik..."

Daerah disini begitu hening. Mungkin karena sudah hampir memasuki tengah malam. Lampu jalan masih benderang di sisi-sisinya. Sedikit kendaraan yang melintas. Sedikit keramaian. Sedikit kegundahan. Suasana yang damai. Sakura jadi ingin tinggal disini.

"... Jangan-jangan kau masih memikirkan pewaris Uchiha itu. Aku tahu, dia tampan dan mapan, tapi apa kau sudah tahu seluk beluk pribad-" tepat setelah melintasi sebuah apartemen tua, Ino mengerem mobil mendadak dan hampir membuat mereka berdua celaka.

CKIIITTT...!

"Ouh! Pig, kau ini bisa menyetir tidak sih?!" untung mereka memakai sabuk pengaman. Jika tidak, mungkin kepala yang jadi imbasnya.

"Gomen, Jidat! Sepertinya aku lupa membeli sesuatu. Kau tunggu disini, aku mau membelinya dulu!" dengan cepat Ino keluar mobil dan menuju sebuah warung kecil yang masih buka di waktu hampir tengah malam begini.

"Kau lupa beli rokok, heh?" Sakura yakin jika malam ini ia akan mengunjungi vila kekasih sahabatnya itu. Pemuda yang berbakat dalam bidang seni dan suka berbuat kebaikan palsu. Sai. Awalnya Sakura sedikit was-was dan tak percaya pada pemuda pucat itu. Tapi, setelah diamati, sepertinya ia adalah pemuda yang bisa dipercaya. Meski pun sangat mesum dan suka merokok. Sakura tak habis pikir. Bagian apa dari Sai yang membuat Ino betah berpacaran dengannya tiga tahun ini.

Ia ingat pertemuan pertamanya dengan Ino di Jerman dulu. Mereka sama-sama dari Jepang. Dan sama-sama cerewet penggila pria tampan. Mereka berteman baik. Hingga saat ini. Waktu itu pula Ino sudah bersama Sai. Pemuda misterius penggila lukisan dan berkulit pucat menjijikkan bagi Sakura. Meski tampan, awalnya Sakura tak suka pemuda itu. Apalagi ketika pertama bertemu saja ia sudah mengatai Sakura gadis jelek. Tapi lama-lama ia sudah terbiasa.

Terkadang seorang seniman memiliki cara tersendiri untuk bersosialisasi. Dan itu sudah Ino pahami hingga ia saling terikat dengan Sai. Sakura mulai paham akan hal itu. tapi tetap saja, pemuda itu terlalu eksentrik untuknya.

"Pig... kau lama sekali..." Sakura menggerutu lalu memutuskan menyusul Ino. Tenggorokannya kering dan ia butuh air. Tepat setelah berjalan beberapa langkah, derit suara gerbang tua membuat perhatiannya teralihkan. Sepertinya berasal dari apartemen tua yang ia lihat tadi. Samar, dari temaram sisi yang tak terkena lampu jalan, ia melihat sosok yang berjalan ke arahnya. Tepatnya ke arah warung kecil yang di masuki Ino. Sakura tak peduli dan akan melanjutkan langkahnya ketika sebuah suara yang begitu ia kenal menyapa indra pendengarannya.

"S-ss-sakura...c-chan...?"

Sakura menoleh cepat dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia kaget. Sangat kaget.

"Hi... H-hinata?"

TBC

Hwaaahhh... capek buanget! *digampar

Gomen Reader-sama, awal semester banyak acara sekolah. Sibuk, sibuk teruuussss... ampe gk jadi liburan. Dikit banget liburannya. Itupun gk kemana-mana, cumak di rumah aja! *Authornya curhat -_-'

N cuma ini yang bisa Shiro tulis, maaph kalo alurnya terkesan buru2, Shiro bener2 capek. Tapi buat ngehibur reader, Shiro rela kok... ? *:3

Yaaa... mumpung kemaren minggu, Shiro ngebut buat nylesein chap 3 ampe kelar. Terus nambahin pula chap-chap cerita ff Shiro yang lain. Wah, jadi terbengkalai gara2 acara sekolah..

Hountoni gomeeeen... n arigatou na, udah mau baca ff Shiro

Oh iya, ni ff udah Shiro mantebin rated nya M. So, bagi reader yang blm cukup umur, Shiro saranin tekan tombol BACK aja yah.. n bagi yg cukup umur, siap-siap aja dueh... *senyum2 mesum* tapi beneran kok, sebenarnya Shiro gk saranin bwt baca ff yg rated M, ntar takutnya ketularan hentai kayak otak Shiro *Author: pasti Reader bakal bilang: emang gua pikirin?! #Reader: nglemparin sendal ke wajah author

Haha gomen2... :v

Yosh, ketemu lagi di chap selanjutnya

See you...