DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

TITLE :

Atashi no Shugo Tenshi

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

WARNING :

OOC. FemKura. Rated T - Semi M. OC. Dedicated to all of HxH Community Members!

SUMMARY :

I can feel it … when you're not safe

My heart is pounding … when there's something endangered you

Just don't go, stay beside me

I will protect you … forever

EDITED BY :

whitypearl

BETA READERS :

Airin Aizawa

Ai Kireina Maharanii

PUBLISHED BY :

ToneIvonne Katzura

CONTRIBUTORS (in alphabetical orders):

Airin Aizawa

Kay Inizaki-Chan

Kiyui Tsukiyoshi

m404

Scarlet85

Seffen A. Whitleford

ToneIvonne Katzura

whitypearl


.

.

.

CHAPTER 2

''Kalian benar-benar mengganggu!'' ucap gadis misterius itu kesal seraya menjentikan jarinya. Tiba-tiba muncul beberapa pria bertopeng di belakangnya.

''Awalnya aku hanya berniat menghabisi gadis itu. Namun ternyata kalian meminta hal yang lain. Baiklah, aku akan berbaik hati kali ini,'' tambahnya dengan seringai mengerikan nampak di wajahnya.

Dari balik pohon yang rindang, muncul lagi seorang gadis dengan wajah serupa seperti si gadis misterius. Hanya saja, ia memiliki penampilan yang sedikit berbeda. Rambut panjangnya dikuncir dua, membuatnya tampak lebih manis namun tidak menutupi aura membunuh yang muncul dari dirinya.

''Ini pasti akan menyenangkan. Iya 'kan, Koyuki?'' katanya sambil melirik si gadis misterius yang ternyata bernama Koyuki.

Tanpa memedulikan kedua gadis itu, Milluki segera bergerak menyerang Koyuki, mengarahkan pukulannya ke arah gadis itu. Namun Kurapika segera mencegahnya. Ia berdiri di hadapan Milluki.

''Tunggu!'' katanya.

''Apa urusanmu, Nona?'' tanya Milluki kesal. Mukanya memerah menahan amarah karena lagi-lagi usahanya menangkap Koyuki terganggu.

Memanfaatkan kesempatan ini, Koyuki menghunuskan pedangnya ke arah Kurapika.

''Kurapika!'' teriak Gon dan Killua bersamaan ketika menyadari hal itu.

Kurapika menoleh ke arah Koyuki yang berdiri di belakangnya. Mata Kurapika membulat sempurna saat pedang Koyuki hampir mengenai tubuhnya.

Kuroro bergerak cepat, ia segera menarik Kurapika agar menyingkir.

"Hei!" seru Kurapika protes.

Ia benar-benar tak suka langsung diselamatkan tanpa diberi kesempatan untuk melindungi dirinya sendiri terlebih dahulu. Tapi Kurapika langsung diam melihat wajah Kuroro saat itu. Dia yang tak pernah menunjukkan emosinya, kini terlihat begitu marah. Aura hitam terlihat menyelimuti tubuh pria itu. Lalu tiba-tiba saja Koyuki terpental ke belakang karena energi yang diarahkan Kuroro kepadanya.

"Sentuh dia sedikit saja, dan kau akan mati," kata Kuroro dingin.

Gon dan Killua terkejut, situasi makin membingungkan. Sementara itu Milluki tengah bertarung dengan pasukan bertopeng yang dikerahkan kedua gadis itu.

"Aku harus segera memenangkan pertarungan ini, demi game Persona lima itu!" gumam Milluki sambil mengarahkan pukulannya ke arah Koyuki namun meleset hingga Milluki hanya memukul udara, membuat tubuh suburnya sempat kehilangan keseimbangan walau hanya untuk sesaat.

'Sial!' gerutunya dalam hati.

Kurapika melirik Kuroro yang berdiri di sampingnya. Terlihat kecemasan di mata biru gadis itu.

Kuroro menyadari tatapannya. Seulas senyum nakal pun nampak di wajah tampannya.

"It's show time, Baby," bisik Kuroro.

Kurapika tertegun mendengar reaksi Kuroro yang tidak disangkanya itu. Namun gerakan musuh yang cepat membuatnya segera tersadar. Ia mengeluarkan rantai Nen-nya lalu bersiaga di samping Kuroro. Gon dan Killua pun ikut serta. Walau kedua bocah itu belum bisa memahami semuanya, setidaknya mereka tahu bahwa kehadiran Kuroro saat itu bertujuan untuk melindungi sahabat mereka.

"Wah... Sudah dimulai, ya?" ucap gadis berkuncir dua itu dengan ekspresi wajah yang malas.

"Jangan remehkan mereka, Bodoh!" seru Koyuki dengan penuh emosi seraya menghindari serangan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Namun incarannya tetap satuKurapika.

Pertarungan semakin sengit. Kuroro menyerang kelompok pria bertopeng itu sambil mengawasi dan memperhatikan Kurapika dari ujung matanya. Gadis itu sedang bertahan dari penyerangnya yang satu lagi. Gon dan Killua mencoba menyerang Koyuki, tapi entah mengapa belum satupun serangan mereka yang berhasil menimbulkan luka cukup berarti ke tubuh gadis itu.

Saat Gon dan Killua lengah, Koyuki melemparkan sebuah pisau tajam ke arah Kurapika. Namun dengan cepat Kuroro menangkapnya.

"Kau..." ucap Koyuki geram sambil menatap Kuroro dengan tajam. Namun Kuroro hanya membalas tatapannya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Giliranku!" teriak si gadis berkuncir sambil mengeluarkan gumpalan air dan menggunakannya untuk menyerang Kuroro. Dengan segera pria bermata hitam itu melompat menghindarinya.

"Koyuki, serang gadis itu!" teriaknya.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan. Jangan memerintahku, Mary," protes Koyuki dingin.

Koyuki pun melancarkan serangan membabi buta ke sosok yang terus menghindari serangannya. Akhirnya ia menyerang gadis itu dengan melemparkan banyak pisau tajam.

Melihat gadis berambut pirang itu sedang kesulitan, tentu Kuroro tidak tinggal diam. Ia memusatkan energinya dan menghempaskan pisau-pisau itu. Koyuki melompat menghindari serangan balik Kuroro, sementara Kuroro bergerak cepat mencoba menyerang Koyuki dari belakang. Namun kelompok pria bertopeng menghalanginya.

'Membuang waktu saja,' pikir Kuroro kesal sambil mulai melawan kelompok itu yang menghalangi jalannya menuju Kurapika.

Gon dan Killua mulai kewalahan. Keringat mereka berdua mengucur deras. Tiba-tiba saja, Koyuki dan Mary sudah berada di hadapan Kurapika.

"Apa yang harus kita lakukan?" teriak Gon frustasi.

Kurapika mengerahkan rantainya. Matanya sudah berwarna merah sekarang. Ia terus berusaha menghalau serangan kedua gadis itu. Dadanya berkecamuk.

'Apa salahku? Apa yang sudah kulakukan sampai mereka ingin membunuhku?' pikirnya.

Kuroro menyingkirkan pria terakhir yang menghadangnya dengan memukulnya hingga terjerembab ke tanah. Seolah dapat mendengar pikiran Kurapika, Kuroro mendekat dan berbisik, "Ini bukan salahmu. Nanti kita cari tahu siapa yang bertanggungjawab di balik ini semua."

Ucapan Kuroro membuat Kurapika mulai dapat menenangkan dirinya. Ia pun mencoba lebih berkonsentrasi hingga akhirnya rantai gadis itu dapat melilit tubuh Mary.

"LEPASKAN AKUUUU...!"pekik Mary.

Ia menjerit dengan suara melengking yang aneh. Matanya pun membelalak mengerikan. Kurapika terkejut mendengarnya.

"Konsentrasi!" perintah Kuroro melihat reaksi kekasihnya.

"Kau! Kau gadis sialan!" teriak Koyuki marah sambil menunjuk Kurapika.

Kurapika tertegun.

"Seandainya hari itu kau tak membunuh Pakunoda… Hal seperti ini tak akan terjadi..." ucap Koyuki sambil melangkah pelan menghampiri Kurapika.

Kurapika terdiam mendengar nama itu.

"Lindungi Kurapika!" seru Kuroro sambil menoleh ke arah Gon dan Killua, lalu menghadang Koyuki dan memusatkan perhatiannya pada gadis itu.

"Sepertinya kita sama-sama pembunuh… Senang dapat bertarung denganmu," kata Kuroro dengan nada suara yang mengejek sambil melemparkan jarum-jarum beracun ke arah Koyuki.

Kurapika memperkuat lilitan rantainya di tubuh Mary. Mary berteriak sekali lagi, lalu menghilang bagai debu. Rantai Kurapika pun terhempas jatuh ke tanah. Bersamaan dengan menghilangnya Mary, Koyuki pun lenyap dari hadapan Kuroro.

"A-apa itu...?"gumam Kurapika bingung.

Kuroro segera menghampiri dan memeluknya.

Kurapika hanya diam, namun beberapa saat kemudian ia tak dapat menahan emosinya lagi.

"Apa salahku…?" ucapnya pelan dengan suara tertahan. Dengan tangan gemetar Kurapika memegangi baju pria itu. Mata merahnya tampak berkaca-kaca.

"Kurapika…" panggil Kuroro lembut.

Kuroro tahu, kurapika bukanlah tipe pembunuh. Ia yakin bahwa pembunuhan yang telah dilakukannya dulu membuatnya sangat tertekan.

BLARRRR!

Suara ledakan terdengar dari belakang kelompok pria bertopeng yang mulai dapat bangkit kembali. Nampak sekelompok orang yang sangat dikenal Kuroro.

Gen'ei Ryodan.

Kuroro menatap mereka tak percaya. Perhatiannya begitu terpusat pada Kurapika hingga ia tak dapat menyadari kehadiran anak buahnya itu. Dan bagaimana mereka dapat mengetahui keberadaannya di sini?

"Danchou, kami juga ingin brsenang-senang," kata Phinx sambil menyeringai. Tanpa menunggu jawaban Kuroro, ia langsung menyerang kelompok pria bertopeng itu bersama yang lainnya.

Baru saja beberapa detik berlalu, muncul sesosok wanita tua bertubuh kekar dengan penampilan yang aneh. Gon dan Killua terkejut. Ia adalah Bisuke, guru mereka.

"Wahh... Semuanya sudah berkumpul!" seru Gon ceria.

Namun Bisuke tak nampak senang. Ia melangkah menghampiri kedua muridnya lalu menjewer telinga mereka.

"Kalian ini! Benar-benar cara bertarung yang tidak bagus! Membuatku malu saja!" bentaknya.

"Aaw! Sudah, Nek! Sakit tahu!" kata Killua sambil meronta melepaskan diri dari jeweran Sang Guru.

"Ayo keluarkan semua ilmu yang sudah kuajarkan pada kalian!" Lagi-lagi Bisuke membentak dengan galak.

Sementara itu, melihat kehadiran Gen'ei Ryodan, Kurapika mulai menyadari sesuatu yang seharusnya sudah ia tanyakan sejak kemarin.

"Kuroro … kau ... sudah lepas dari Judgement Chain-ku?" tanya Kurapika.

"Ya, kamu baru menyadarinya?" tanya Kuroro dengan tatapan tak percaya pada hal yang barusan didengarnya. Tapi kemudian pria itu pun tersenyum nakal.

"Tapi hatiku sudah terjerat olehmu selamanya," tambah Kuroro lagi. Pipi Kurapika merona mendengarnya.

Tiba-tiba mata Kurapika berkunang-kunang. Mungkin ia letih karena apa yang dialaminya malam ini. Gadis bermata biru itu hampir terjatuh, namun dengan sigap Kuroro segera meraihnya. Tanpa mempedulikan semua yang ada di sana, Kuroro membawa Kurapika pergi. Gadis itu menjadi prioritas utamanya saat ini.

"Mana Kurapika?" tanya Gon dan Killua di tengah pertarungan. Mereka menengadahkan sedikit kepalanya sehingga mereka menjadi lengah.

Melihat kelengahan Gon dan killua, salah seorang pria bertopeng segera mengambil kesempatan untuk menyerang.

"MATI KALIAN!" teriaknya.

Bisuke segera menghadang pria itu dan mengalahkannya. Gon dan Killua pun kaget. Namun mereka segera menyerang dan meningkatkan kewaspadaan mereka.

.

.

Kuroro terus berlari sambil menggendong Kurapika. Wajahnya menatap Kurapika khawatir.

'Apa Kurapika kelelahan, ya?' tanya Kuroro dalam hati.

Wajah Kurapika terlihat gelisah. Ia memang trauma soal membunuh manusia. Kematian Ubogin dan Pakunoda membuatnya tertekan. Ia tak mau jadi seorang pembunuh. Kejadian malam ini membuat Kurapika mengingat itu semua. Dahi Kurapika berkerut, menunjukkan ketidaknyamanannya. Tubuh Kurapika pun bergetar. Dengan penuh kasih sayang, Kuroro mempererat pelukannya.

Kuroro membawa Kurapika ke sebuah rumah indah di tepi pantai. Deburan ombak terdengar jelas di malam yang sunyi itu. Kuroro segera masuk ke sebuah kamar dan membaringkan Kurapika di tempat tidur dengan hati-hati.

Kuroro melepaskan jas dan dasinya, lalu menatap gadis itu. Gaun yang dikenakan Kurapika tampak sedikit kotor karena pertarungan tadi. Ia membungkuk melepaskan high heels hitam yang anehnya masih terpasang di kaki Kurapika.

Kurapika mengerang lemah ... ia masih terlihat gelisah.

Kuroro mndekatkan wajahnya. 'Aku akan menjagamu selamanya,' ucap Kuroro dalam hati, lalu mencium bibir Kurapika dengan lembut.

Setelah beberapa saat, Kuroro melepaskan ciumannya.

Tubuh Kurapika mulai bergerak.

''Ku-kuroro...'' ucap Kurapika lemah.

"Jangan memaksakan dirimu… kau pasti lelah," ujar Kuroro lembut sambil duduk di tepi tempat tidur.

"Tapi" ucapan Kurapika terpotong saat Kuroro meletakkan jari telunjuknya di bibir Kurapika. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata gadis itu.

"Kau harus istirahat sekarang. Semua akan baik-baik saja," kata Kuroro. Ia berusaha menahan perasaannya. Hatinya terasa sakit melihat kondisi Kurapika saat ini.

"Bersihkan dirimu dulu, mungkin di lemari ada baju yang bisa kau pakai," ucap Kuroro lagi sambil menghapus air mata Kurapika yang mulai jatuh. Lalu ia memberikan senyum terbaiknya pada Kurapika. "Oh, ya! Kau cantik sekali malam ini."

Blussh!Wajah Kurapika langsung bersemu merah. Ia pun langsung menoleh menyembunyikan wajahnya. Jantungnya masih tidak bisa berhenti berdegup kencang. Padahal ini bukan pertama kalinya Kuroro menggodanya.

Saat Kuroro beranjak, Kurapika segera menggenggam tangan pria itu. Kuroro hanya tersenyum ... dan membelai rambut pirang gadis itu.

"Nanti aku ke sini lagi," katanya sambil melepaskan tangan Kurapika lalu melangkah keluar.

Di depan pintu kamar, Kuroro mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Shalnark, "Cari info lengkap tentang kedua gadis misterius itu. Kabari aku segera."

.

.

'Apa yang kupikirkan sih!' gerutu Kurapika dalam hati sambil menepuk-nepuk pipinya. 'Lebih baik aku segera mandi. Aku lelah sekali...'

Selesai mandi, Kurapika membuka lemari dan memilih sehelai piyama berwarna biru. Sepertinya terlalu besar, tapi tak ada pilihan lain. Kurapika segera memakainya. Ia memandang ke luar dinding kaca, menatap laut yang terlihat dari sana.

Walaupun hari sudah larut, laut tetaplah laut. Laut dapat menyerap kesedihan kita. Ombak yang menggulung besar memberi hiburan bagi benak Kurapika yang lelah.

'Mengapa mereka mengincarku? Apa yang mereka cari?' tanya Kurapika dalam hati. Mata Kurapika menatap sayu laut itu.

"Sudah selesai?" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Kurapika menoleh dan melihat Kuroro sudah kembali dengan rambut yang basah dan pakaian yang lebih santai.

"Ya..." kata Kurapika pelan.

Kuroro mengusap-usap rambutnya dengan handuk lalu duduk di tempat tidur. Sementara Kurapika tak beranjak dari tempatnya berdiri.

"Kuroro, ini di mana?" tanya Kurapika.

"Oh... Ini rumahku," jawab Kuroro pendek.

Kurapika menatapnya tak percaya, membuat Kuroro tertawa geli.

"Kenapa? Kau pikir aku harus selalu bersama-sama dengan Gen'ei Ryodan? Aku juga perlu tempat untuk sendiri ... tempat yang tidak diketahui oleh mereka."

Entah kenapa mata biru Kurapika tak dapat berpindah dari sosok pria itu. Ia seperti terhipnotis dan tiba-tiba saja degup jantungnya kembali terdengar. Bahkan kali ini lebih cepat dari yang tadi.

'Sial! Ada apa denganku?' batin Kurapika resah.

Dengan cepat ia langsung memalingkan wajahnya—kembali memandang laut di luar sana, berharap dapat menormalkan detak jantungnya kembali. Kurapika sangat berharap mudah-mudahan Kuroro tidak tahu apa yang tadi ia lakukan. Menatapnya tanpa berkedip? Sungguh hal yang memalukan bagi Kurapika!

"Bagaimana pendapatmu?" Tiba-tiba Kuroro bertanya.

"Hm?" tanya Kurapika bingung. Ia kembali menoleh ke arah Kuroro.

"Yah... soal rumah ini. Bagaimana pendapatmu?" tanya Kuroro lagi.

"Tempat yang sangat indah..." jawabnya sambil melirik ombak yang terhempas ke tepi pantai.

"Sebenarnya ini adalah rumah yang biasa disinggahi keluargaku saat liburan tiba. Rumah ini mempunyai banyak sekali kenangan," ucap Kuroro dengan pandangan mata yang menerawang ke arah laut.

Kurapika tertegun dan langsung menatap Kuroro. Ia tak pernah membayangkan pria itu pernah menjadi bagian dari suatu keluarga dan menceritakan hal itu pada dirinya. Cahaya lampu tidur di sebelah Kuroro membias. Membuat wajah pria itu itu terlihat lebih tampan dari biasanya.

'Tampan? A-apa yang baru saja aku pikirkan?' batin Kurapika tak percaya terhadap apa yang baru saja dipikirkannya. Rasanya ia ingin mencekik lehernya sendiri karena sudah memikirkan hal seperti itu!

"Ada apa, Kurapika?" tanya Kuroro yang merasa kalau Kurapika memperhatikannya. Ia bangkit dan melangkah menghampiri gadis itu.

"Ti-tidak apa-apa!" jawab Kurapika yang mengalihkan pandangannya, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

'Bodohnya aku!' jeritnya dalam hati.

Kuroro meletakkan kedua tangannya di pinggangnya dan tersenyum melihat tingkah Kurapika. Ia lalu meraih dagu Kurapika agar wajah gadis itu menoleh padanya.

"Kau semakin terlihat manis kalau seperti itu," goda Kuroro lalu menyeringai jahil saat warna merah semakin kentara di pipi gadis Kuruta tersebut. "Seandainya kau tidak galak, mungkin dari dahulu kita sudah bisa menikah dan mempunyai anak, minimal sepuluh," lanjutnya kemudian, menghela napas yang dibuat-buat.

"Iiih! Apaan sih! Mesum!" kata Kurapika sambil menepis tangan Kuroro dan menjitaknya pelan.

"Aww … sakit tahu! Cantik-cantik kok galak..." ejek Kuroro dengan nada yang dibuat-buat. "Kok mesum sih? Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Kurapika?"

Kuroro mengacak-acak rambut pirang Kurapika. Dia terkikik geli. Wajah Kurapika masih saja memerah.

"Huh!" Kurapika hanya mendengus kesal dengan wajah cemberut.

'Kuroro... Awas kau!' umpatnya dalam hati.

Tiba-tiba Kuroro memeluk Kurapika dari belakang.

"Terima kasih... sudah menerima perasaanku," bisiknya di telinga Kurapika.

"Kapan aku bilang menerima perasaanmu?" tanya Kurapika. Ia tak bisa menolak pelukan Kuroro saking malunya. Wajahnya kini semakin merah.

"Lho? Apakah kau lupa kejadian beberapa jam yang lalu di tempat pesta dansa itu? Lagipula sudah tergambar jelas di wajahmu, Sayang," jawab Kuroro yang meletakkan dagunya di bahu Kurapika.

Tubuh Kurapika menegang saat ia merasakan hembusan nafas Kuroro mengenai lehernya yang terbuka. Ada rasa yang aneh di dalam dirinya ketika pria itu menempel padanya. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu berkumpul di perutnya dan membuncah bersamaan, hingga menimbulkan sensasi ekstrim luar biasa.

"Enggh.."

Kurapika langsung membekap mulutnya saat menyadari kalau ia baru saja … mendesah?

Oh tidak!

Sementara itu, Kuroro menyeringai di belakang punggung gadis itu dan mencium telinganya.

"Jangan pura-pura lupa begitu, sebelum melawan kedua gadis itu kan kita sudah menyatakan perasaan masing-masing," katanya sabil menahan tawa. "Apa kau jadi pelupa gara-gara terlalu sering memikirkan aku?"

Kuroro membelai pipi Kurapika perlahan. Kurapika blushing berat! Ia tak mampu menyanggah perkataan kekasihnya.

Kurapika melepaskan tangan Kuroro yang melingkar di pinggangnya

"Sudah sana! Kau bilang aku harus istirahat!" kata Kurapika sambil melangkah menuju tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di sana.

Perlahan mata Kurapika mulai terpejam. Hari ini telah terjadi banyak hal hingga ia merasa sangat lelah. Namun ia tetap tak bisa tidur karena detak jantungnya masih belum stabil.

Kuroro berdecak pelan saat Kurapika melepaskan diri darinya. Namun ia tidak bisa menahan seringainya saat warna merah terlihat menodai pipi Kurapika walau gadis itu memunggunginya. Ya, warna merah merona yang sampai-sampai menjalar ke telinga gadis keturunan terakhir Suku Kuruta itu.

Dengan perlahan, Kuroro melangkah ke arah Kurapika yang saat ini sedang mencoba untuk tidur.

Kelopak mata Kurapika yang sebelumnya terpejam langsung terbuka lebar saat merasakan seseorang menaiki kasur yang sama dengannya. Dengan cepat, ia langsung duduk dan berbalik, menatap sang pelaku—yang tak lain adalah Kuroro Lucifer—yang saat ini tengah tersenyum aneh kepadanya.

"Kenapa kau masih di sini?" tanya Kurapika dengan nada sengit.

Kuroro mengangkat sebelah alisnya sambil memasang muka tak bersalah. "Memangnya kenapa? Aku juga ingin tidur. Tidak boleh?" jawabnya cuek.

"Tentu saja tidak boleh!" bentak Kurapika. "Tidur di kamarmu sendiri sana!" lanjutnya sambil mendorong tubuh Kuroro menggunakan kedua kakinya. Namun pria itu tetap bergeming. Malah Kurapika merasa jaraknya dengan Kuroro kian dekat hingga beberapa detik kemudian Kuroro itu membaringkan dirinya di samping Kurapika.

Kurapika mengerjapkan matanya, ia nampak kebingungan.

Kuroro menggeliatkan badannya, mencari-cari posisi yang enak untuk tidur. Kemudian ia bergumam, "Karena tempat tidur di rumah ini hanya ada satu, dan sudah pasti aku juga tidur di sini bersamamu."

Kurapika melongo tidak percaya. Lalu kemudian menghela napas yang terdengar pasrah.

"Baiklah kalau begitu. Aku tidur di ruang tamu saja," ucapnya sambil bersiap turun dari tempat tidur.

Namun sayang usaha Kurapika tidak berhasil dilaksanakan saat sebelah tangan Kuroro menarik pinggangnya dan membuatnya terjatuh di atas tubuh pria itu—tepat saat sebelah kakinya akan menapak lantai dingin yang ada di bawahnya. Jarak di antara wajah mereka sangat dekat sampai-sampai Kurapika bisa merasakan hembusan nafas Kuroro di wajahnya. Dan ketika pandangan mereka bertemu, hanya tampilan dirinya yang terefleksi di mata hitam milik Kuroro. Jantung Kurapika kembali berdegup. Untuk beberapa detik, ia masih terhipnotis oleh pesona misterius sepasang mata hitam itu, hingga akhirnya ia kembali tersadar dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Kuroro.

"H-hei! Lepaskan aku!" seru Kurapika dengan suara bergetar.

Kuroro tidak melonggarkan pelukannya sedikit pun. "Jangan berlebihan begitu. Kemarin malam 'kan aku tidur di kamarmu di Rumah Nostrad. Apa bedanya dengan sekarang?" goda Kuroro.

Kurapika terdiam sejenak, tapi kemudian ia kembali berusaha melepaskan diri dari pelukan Kuroro. Pelukan pria itu membuat jantungnya berdebar-debar, hingga tak tahan rasanya.

Kuroro tidak memedulikan protes gadis itu. Ia kemudian mengubah posisinya menjadi miring, masih dengan memeluk pinggang Kurapika. "Sebentar saja. Biarkan seperti ini, sebentar saja," gumamnya pelan di dekat telinga Kurapika.

Kurapika berhenti bergerak. Walau ia tidak mengangguk, namun gerakan tubuhnya menandakan bahwa ia mengabulkan permintaan pria itu.

Kuroro pun tersenyum di dalam tidurnya. Tak lama, Kurapika yang mulai merasa tenang pun ikut tertidur. Malam itu mereka tidur dengan posisi berpelukan. Menyebarkan rasa hangat di antara keduanya.

.

.

Sementara itu, di tempat pertarungan terjadi, nampak kelompok pria bertopeng kewalahan menghadapi serangan Gon, Killua dan Gen'ei Ryodan. Walaupun anggota kelompok itu lebih banyak, tapi tetap saja kekuatannya tidak sebanding.

Killua menendang tubuh salah seorang dari mereka dengan kesal. "Sial! Mereka sama sekali tidak mau membuka mulut!" gerutunya kesal.

"Di sini juga sama," sahut Feitan sambil menyabetkan pedangnya ke leher pria bertopeng yang berada di hadapannya.

Gon meringis melihat pemandangan itu. Tapi tak ada waktu untuk berdebat dengan Gen'ei Ryodan mengenai cara mereka mendapatkan informasi, lagipula sepertinya akan sia-sia saja.

Milluki menggerutu lalu menoleh pada adiknya. "Killua, lain kali kau harus membantuku!" ucapnya.

Killua tersenyum jahil. "Yahh… walaupun alasan kita berbeda, tapi tujuan kita sama kali ini. Tentu saja aku akan membantumu, asal kau jangan lupa memberikan banyak chocorobokun untukku."

"Oh, tentu saja! Kau jangan khawatir!"

Tiba-tiba terdengar deru mesin helikopter. Angin kencang menyibak pepohonan yang ada di sana. Semua menengadah ke atas, melihat helikopter milik Keluarga Zaoldyeck perlahan-lahan turun dan mendarat di padang rumput tak jauh dari sana.

"Kau mau ikut?" tanya Milluki.

Killua tertawa kecil.

"Tidak usah, aku belum ingin pulang. Sampai jumpa," jawabnya.

Milluki pun berjalan cepat menghampiri helikopter itu. Tentu saja ia ingin berlari agar bisa sampai lebih cepat, namun berat tubuhnya menghalangi niat itu.

Setelah kepergian Milluki, Gon dan Killua menatap ke arah Gen'ei Ryodan. Tak lupa masih ada Bisuke di belakang mereka, seolah berusaha menjaga kedua muridnya.

"Kita bertemu lagi Bocah," sapa Nobunaga pada Gon, sambil menyarungkan pedangnya yang berlumuran darah.

Gon tersenyum lebar. "Ya, senang bertemu denganmu!"

Semua langsung sweatdrop melihat reaksinya.

"Baiklahhh… cukup sampai di sini dulu, karena kami harus menjalankan misi dari Danchou," kata Nobunaga lagi. Shalnark mengangguk mengiyakan.

Dalam waktu beberapa detik saja, Gen'ei Ryodan pergi berpencar.

"Gon, bagaimana sekarang?" tanya Killua sambil menoleh ke arah sahabatnya.

"Sebaiknya sekarang kita pulang dulu ke apartemen, kurasa Kurapika akan baik-baik saja karena dia bersama dengan Kuroro," jawab Gon.

Killua mendengus kesal. Dia tak habis pikir, kenapa Kurapika harus bersama pria itu? Bocah itu belum bisa memahami alasannya.

"Benar, cepatlah pulang!" perintah Bisuke. "Kita bertemu besok pagi, aku harus melatih kalian lagi!"

"Iya, Nek…!" sahut Killua malas.

DUAKK!

Pukulan Bisuke melayang ke kepala Killua, sukses benjolan sebesar telur muncul di kepala bocah itu. Gon hanya tersenyum melihat tingkah kawan dan gurunya ini. Mereka bertiga pun berjalan keluar dari tempat itu.

.


.

Cahaya matahari pagi memasuki kamar itu. Mata Kurapika terbuka perlahan. Yang pertama dilihatnya adalah Kuroro yang masih terlelap. Kurapika tersenyum melihat kedamaian yang nampak di sana. Perlahan ia mengulurkan tangan dan membelai wajah pria itu.

Setelah beberapa menit, Kurapika mengangkat tangan Kuroro yang mendekap tubuhnya dengan hati-hati. Lalu ia duduk di atas tempat tidur itu, menatap jauh ke luar dinding kaca. Laut terlihat sangat berkilau.

Tiba-tiba Kuroro bergerak. Hal ini membuat Kurapika menoleh. Mendadak mata birunya menangkap sesuatu, yaitu seekor kecoak yang sedang merayap di tubuh Kuroro.

Kurapika pun terkejut. Refleks, ia menendang Kuroro hingga hampir jatuh dari tempat tidur.

Kuroro pun terbangun.

"Kurapika, apa yang kau lakukan?" tanyanya kaget sambil meringis.

Kurapika tidak memperdulikan pertanyaan kuroro, matanya sibuk mencari-cari ke mana gerangan kecoak tersebut.

Tidak lama berselang, kecoak tersebut hampir hinggap di hidung Kuroro. Mungkin itu kecoak betina. Lagi-lagi Kurapika refleks mengulurkan tangan hendak mengusir kecoak itu. Namun sayang, tangannya malah memukul wajah Kuroro sementara sang kecoak terbang entah ke mana.

"Kurapika!" seru Kuroro marah.

"Ups!" sahut Kurapika yang menutup mulutnya. "Ma-maaf…" ucap Kurapika pelan. Ia menggeser badannya ke dekat Kuroro lalu memegang wajah pria itu dan memeriksanya.

Tiba-tiba Kuroro memegang tangan Kurapika yang menyentuh wajahnya, membuat gadis itu kembali merona.

Kurapika segera menarik tangannya sambil menunduk malu. "S-sebaiknya kau cepat mandi, supaya tidak ada lagi kecoak yang mendekatimu!" katanya pura-pura kesal.

Kuroro tersenyum.

"Padahal 'kan semalam aku mandi saat hari sudah larut… Eh, kau malah menyuruhku mandi lagi. Yah … apa boleh buat kalau kekasihku cemburu pada kecoak seperti ini," ucap Kuroro sambil beranjak dan mengambil handuknya.

"Hei! Bukan begitu! Siapa juga yang cemburu!" pekik Kurapika tak setuju.

Namun Kuroro mengacuhkannya dan segera masuk ke kamar mandi. Ia tertawa kecil begitu air membasahi tubuhnya.

Kurapika menghela napas. Perlahan sebuah senyum manis mulai nampak di wajahnya.

'Padahal kemarin aku merasa sangat sedih. Tapi dalam waktu sebentar saja, Kuroro berhasil membuatku bersemangat lagi. Ia pun selalu melindungiku,' batinnya. 'Apa keputusanku menerima Kuroro ini salah?' tanya Kurapika dalam hati seraya memegang dadanya.

Merasa lelah, Kurapika kembali berbaring di tempat tidur. Namun beberapa saat kemudian ia teringat sesuatu hingga membuatnya bangkit kembali. Gadis itu mengambil ponselnya lalu menekan nomor ponsel Gon.

"Kurapika, sekarang kau di mana?" tanya Gon ceria sekaligus khawatir.

"Aku baik-baik saja, Gon... Sekarang aku ada di tempat yang aman," jawab Kurapika berusaha menenangkan hati sahabatnya. 'Aku tak mungkin bilang kalau aku ada di rumah Kuroro,' ucapnya dalam hati.

"Syukurlah..." Gon menghela nafas lega.

Tiba-tiba Killua merebut ponsel itu dari tangan Gon. Terdengar sedikit keributan di sana, membuat Kurapika terkekeh geli.

"Apa kau sedang bersama Kuroro?" tanya Killua curiga. Ia menuntut penjelasan.

Kurapika terkejut. Ia pun menjadi gugup. "Ngg... eh... ya, begitulah..." jawab Kurapika dengan suara pelan. Tak ada gunanya berbohong, Killua pasti sudah dapat menerkanya.

"Kenapa kau masih bersamanya? Jelaskan pada kami! Tahukah kau, kami kebingungan dan khawatir memikirkanmu!" bentak Killua.

Kurapika meringis, seolah ia dapat melihat mata Killua yang menatapnya tajam. "Ehm... Killua..." panggilnya gugup.

"APA?" jawab Killua ketus.

"Boleh aku bicara dengan Gon saja?" tanya Kurapika dengan hati-hati.

"Hn!" dengus Killua sebal. Ia langsung memberikan ponsel yang dipegangnya kepada Gon.

"Hai, Kurapika!" sapa Gon ceria.

Tiba-tiba Kuroro keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Melihat ekspresi wajah Kurapika yang gugup, ia menghampiri gadis itu dan duduk di sebelahnya.

"Siapa yang menelepon?" tanyanya sambil memeluk pinggang Kurapika. Tentu saja Gon dapat mendengarnya.

"G-Gon, nanti kutelepon lagi ya. Jaa!" kata Kurapika langsung menutup teleponnya lalu menoleh ke arah Kuroro.

"Kuroro! Lepaskan!" ucap Kurapika. Wajahnya makin merona. Tapi dia tak mendorong tubuh Kuroro.

"Siapa yang menelepon?" tanya Kuroro penasaran tanpa menggubris perintah gadis itu.

'Masa dia bisa gugup juga selain saat bersamaku?' pikir Kuroro curiga.

Kurapika malas menjawabnya. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Kuroro dan turun dari tempat tidur. "Aku mau mandi." Kurapika berkata.

Sebenarnya itu hanya kamuflase karena gadis itu tidak bisa mengatasi rasa gugupnya saat berdekatan dengan Kuroro. Dengan pipi yang masih merona, Kurapika melangkah dan menyambar handuknya.

Namun langkah gadis itu terhenti saat tiba-tiba Kuroro menarik Kurapika hingga jatuh terduduk di pangkuannya.

"Eits... Kau tak boleh mandi lagi. Nanti masuk angin lho!" kata Kuroro. Tentu itu hanya alasan saja.

"Lalu aku harus apa?" tanya Kurapika sambil melirik Kuroro dengan sinis. Dia tak mau terjebak dalam permainan Kuroro lagi.

"Good morning kiss," ucap Kuroro. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Kurapika. Tapi kali ini Kurapika tak menolak. Kuroro memegangi kepala gadis itu untuk memperdalam ciumannya.

Tiba-tiba ponsel Kuroro berbunyi. Ia segera mengangkat telepon itu tanpa mengijinkan Kurapika beranjak dari pangkuannya.

Kurapika mengerang kesal dan merengut. Bukan karena gangguan telepon itu, tapi karena dia tak bisa pergi ke mana-mana gara-gara lengan kekar Kuroro yang semakin erat saja melingkar di pinggang Kurapika.

"Hn... " Kuroro menjawab teleponnya.

"Kami sudah mengetahui identitas mereka, Danchou," terdengar suara Shizuku dari seberang sana.

"Lalu, bagaimana?" tanya Kuroro datar.

"Mereka cukup berbahaya. Sepertinya mereka sama seperti kita."

Dahi Kuroro mengernyit. 'Pantas saja aku berfirasat buruk,' batinnya.

"Cari tahu apa hubungan gadis itu dengan Pakunoda."

Setelah memberikan perintah, Kuroro menutup teleponnya dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Kurapika. Raut wajah gadis itu berubah setelah mendengar percakapan Kuroro dan anak buahnya. Ia tahu kurapika pasti merasa cemas dan sedih lagi.

Kuroro menghela napas dan mengacak-acak rambut pirang kekasihnya sambil tersenyum. "Hei, aku mau pergi sebentar mencarikan baju untukmu. Tidak apa-apa 'kan kau kutinggal dulu?" tanya Kuroro.

Kurapika menatap Kuroro dengan tajam. "Tentu saja tidak apa-apa! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!" protesnya sambil berdiri.

Kuroro terkekeh geli, namun beberapa saat kemudian wajahnya terlihat sayu.

"Aku hanya ingin melindungimu," tambahnya.

Kurapika mlihat perubahan itu. Sekilas muncul rasa bersalah dalam hatinya. 'Apa memang aku sudah keterlaluan?' pikirnya.

Kuroro segera berpakaian, lalu mencium pipi Kurapika sepintas. "Aku pergi," ucapnya lembut.

Tubuh Kurapika membeku. Ia memegangi bekas kecupan Kuroro di pipinya.

'Terima kasih, Kuroro...' batin Kurapika sambil menatap sayang pada Kuroro yang melangkah keluar dari kamarnya.

Sesampainya di halaman, Kuroro segera masuk ke mobilnya. Sekilas ia merasa ragu. Kuroro menoleh ke arah rumah.

'Tidak ... dia pasti baik-baik saja. Kalau ada apa-apa aku akan segera merasakannya,' ucap Kuroro dalam hati.

.

.

Seekor lalat yang tiba-tiba terbang mengitari kepala Kurapika membuyarkan lamunan indah gadis itu.

'Ughh…ada-ada saja!' gerutunya dalam hati. Perasaannya yang sedang mellow menjadi jengkel seketika.

Kurapika mengambil beberapa helai kertas di meja samping tempat tidur dan menggulungnya, lalu menggunakannya sebagai senjata untuk memusnahkan lalat itu.

'Kalau untuk membunuh seekor lalat, aku tidak akan merasa menyesal sama sekali!'

Kurapika sampai naik ke atas tempat tidur berusaha mengusir lalat yang mengganggunya. Tapi tentu saja lalat itu lebih gesit. Ia terbang kesana kemari, membuat Kurapika lelah … hingga akhirnya keluar begitu saja melalui jendela yang terbuka.

Kurapika menghela napas berat dan terduduk lemas di tempat tidur. 'Aku seperti orang bodoh saja, mengejar lalat sampai begini,' keluhnya. Untung Kuroro tidak melihatnya! Sebaiknya aku mandi saja untuk membangkitkan semangatku yang sudah rusak gara-gara lalat itu.'

.


.

Di sebuah rumah indah yang berada di tepi pantai, nampak seorang gadis berambut pirang sedang duduk di teras. Rambut pirang berkilau yang cocok dengan sinar matahari, mata biru yang sama indahnya dengan laut yang berada di hadapannya. Ia mengenakan kemeja putih yang nampak longgar di tubuhnya. Namun semua itu membuat si gadis pirang terlihat begitu cantik dan murni bagaikan malaikat.

Angin pantai bertiup semilir membelai rambut Kurapika. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Kurapika merasa sangat nyaman.

'Seandainya hidup begitu tenang dan indah seperti ini, pasti akan sangat membahagiakan,' pikirnya.

Tiba-tiba terdengar suara deru mobil. Kuroro sudah kembali. Ia keluar dari mobilnya sambil menenteng beberapa tas belanjaan. Kurapika pun segera berdiri.

Kuroro terdiam sesaat melihat pemandangan yang dilihatnya. Kurapika yang cantik dan manis dengan latar belakang langit biru yang bercahaya. Benar-benar pemandangan yang indah.

Ia tersenyum, lalu mulai menaiki tangga dan melangkah menuju teras di mana Kurapika berada.

"Ini untukmu," katanya sambil memberikan tas yang dibawanya pada Kurapika.

Kurapika mengintip sebuah tas yang berukuran paling kecil. Matanya terbelalak melihat tas itu berisi beberapa pasang pakaian dalam. Ia merasa sangat malu dan ingin menutupi rasa malunya itu dengan melampiaskannya pada Kuroro. Kurapika mengangkat wajahnya. Terlihat Kuroro yang sudah bersiaga menghadapi kemarahan gadis itu.

Tapi Kurapika merubah pikirannya. Ia segera menyadari, pasti Kuroro pun sudah rela menahan malu saat membeli pakaian dalam itu.

"Kalau begitu aku ganti baju dulu," ucap Kurapika akhirnya. Wajah Kuroro langsung terlihat lega.

.

.

.

Kuroro memasukkan kedua tangannya di saku celana lalu berjalan mendekati pantai. Ia menatap laut yang luas dan membiarkan sinar hangat matahari mengenai wajah tampannya.

Tak lama terdengar seseorang melangkah di atas pasir menuju tempatnya berdiri. Kuroro membalikkan badannya. Nampak Kurapika dengan wajah yang merona, berdiri di belakangnya. Ia memakai celana pendek jeans dan blus tanpa lengan bermotifkan bunga-bunga biru dengan pita tersimpul di sebelah kanan bahunya.

Kuroro tersenyum puas. "Benar-benar cocok untukmu," komentarnya, membuat Kurapika menundukkan wajahnya karena tersipu.

Tiba-tiba tangan putih pria itu terulur ke hadapan Kurapika. Gadis itu terdiam sejenak hingga akhirnya ia pun menyambut uluran tangan itu. Berdua mereka berjalan menyusuri pantai.

Kuroro menoleh melihat wajah Kurapika yang berseri-seri. "Aku senang melihatmu seperti ini," ucapnya lagi.

Kurapika tersentak. Tapi yang tak disangka-sangka adalah, gadis itu pun menoleh dan tersenyum, membuatnya tampak semakin manis. Senyuman terindah yang pernah dilihat Kuroro sepanjang hidupnya.

Kuroro berhenti melangkah dan membalikkan badan menghadap Kurapika. Ia membelai wajah gadis itu dan perlahan mendekatkan wajahnya. Namun tiba-tiba Kuroro terdiam. Kurapika pun heran melihat perubahan raut wajah pria itu. Dengan sigap, Kuroro menutup mulut Kurapika dengan tangannya dan menariknya bersembunyi ke balik sebuah pohon besar di pantai itu. Kurapika hanya menatap bingung sementara Kuroro terus menengok ke balik pohon.

"Mmph…! Mmph!" ucapan Kurapika hanya menjadi ucapan tak jelas karena mulutnya terkunci rapat.

"Sst… diam sebentar, dan bernapaslah pelan-pelan," bisik Kuroro dengan penuh waspada.

TBC

.

.

A/N :

Fuhh…finally, it's done for this chapter =_=;

Review please….!^^