Previous Chap :

Itu Sakura, Sakura Haruno

"Hina..." Siswi yang paling sering berkuasa di kelas itu menyebut namanya. Dengan pelan, dan menyeramkan. "Hinata..."

"Tolong..." Lirihnya tanpa tenaga. "Tolong aku!"

Hinata merinding, terutama saat ia mendekat serta sedikit menjulurkan tangannya.

"TOLONG AKU!"

.

.

"Sa-Sakura...?"

Masih di tempat ia berdiri, tubuh Hinata bergetar ketika sosok itu mendekatinya. Wajah Sakura terlihat pucat pasi dan tidak bersemangat. Irisnya bagaikan kristal emerald yang redup.

Benar-benar seperti bukan manusia.

Ya, sampai sekarang pun Hinata masih bingung. Dia bisa melihat manusia, dan juga hantu dalam sekali tatap. Jadi... Sakura yang ini adalah manusia, atau sudah menjadi hantu?

"Kau... kau kenapa?"

"Kenapa?" Ulangnya sambil mendengus. Walau seolah-olah mengejek, nadanya menyiratkan sebuah kepahitan. "Kau masih tanya aku 'kenapa'?"

"Sa-Saku—"

"Kau tidak melihat darah yang keluar dari kepalaku ini, hah!" Cepat-cepat ia memotong dengan sebuah bentakan.

Hinata melirikan matanya ke luka sobek yang ditunjukan. Kemudian ia mengulurkan tangan, berusaha untuk menyentuh kening Sakura. "Apa itu sakit—?"

"Jangan sentuh!" Dia tepis secara kasar tangan Hinata. "Ini tentu saja sakit!"

"Bi-Biar kuobati..."

Menghadapi sifat menyebalkan Hinata—yang sebenarnya bertujuan baik—untuk menolongnya, Sakura menghela nafas pasrah.

"Percuma. Aku sudah mati."

Hinata terbelalak.

"Si-Siapa? Siapa yang..."

"Naruto—orang yang sempat menabrakmu kemarin." Sinisnya. "Dialah yang membunuhku."

"Ti-Tidak mungkin."

"Ya, selain itu dia juga yang ngestalk puluhan siswi angkatan kita..."

Hinata seakan tidak bisa bernafas. Semenjak Sakura menjelaskan informasi tersebut kepadanya, tak ada satu pun berita bahagia yang gadis itu bawa. Sebaliknya, semua bagaikan petir di siang bolong.

Apalagi saat Hinata mengetahui Narutolah yang membunuh gadis pink tersebut. Ia benar-benar tidak bisa percaya. Padahal saat mereka bertemu, Naruto benar-benar seperti sesosok pria dewasa yang sangat baik dengan senyuman mentarinya.

Tapi kenyataan memang suka berbeda.

"Karena itu, aku mau minta tolong padamu." Ia tatap kedua mata ala Hyuuga miliknya, tentu saja masih menggunakan sebuah tatapan tajam. "Mayatku masih ada di rumahnya. Dan aku ingin kau..." Telunjuknya teracung ke depan wajah Hinata. "Membawa jasadku pergi dari rumah itu."

"A-Apa—?"

Sakura tidak akan membiarkan Hinata menyela. "Se-ka-rang."

.

.

.

STALK GHOST STALK

"Stalk Ghost Stalk" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[NaruHina & NaruSaku & SakuHina]

Crime, Horror, Suspense, Friendship

AU, OOC, Typos, No-Bashing, etc.

.

.

SECOND. Investigasi

.

.

"Tidak. Aku tidak bisa." Jawabnya cepat. Bahkan gadis berponi itu tidak berpikir dua kali untuk menolak permintaan Sakura. "Lebih baik melaporkan ini ke polisi."

Sakura menggeleng.

"Tidak mau. Aku punya dendam pribadi padanya. Dan aku hanya mau kalau KAU yang membantuku melepaskan dendamku."

Hinata menunduk dalam-dalam, genggamannya di tongkat sapu yang dia pegang semakin mengerat.

"Tapi aku tidak akan bisa..." Bisiknya susah payah. "Dia telah membunuhmu, Sakura. Dia pembunuh..." Perlahan, Hinata mempertemukan irisnya yang sudah berkaca-kaca ke mata siswi di depannya. "Dan aku... aku hanya seorang siswi SMA biasa—"

"Dan orang yang bisa melihat setan." Pas sedetik sesudah Sakura mengatakan hal itu, ia terdiam untuk berpikir, lalu tersentak sendiri. Ada yang perlu diralat. "Oh oke, aku hantu. Jadi kau adalah orang yang bisa melihat 'hantu', bukan 'setan'."

Namun, Hinata tetap menggeleng. "Itu tidak ada hubungannya."

"Aku membantumu juga, Hinata sayang..." Sambil menaikan kedua sudut bibirnya, ia rangkul pundak Hinata. "Dan kau harus mau. Karena kaulah satu-satunya orang yang bisa melihat dan membantuku."

Glek.

"Kalau tidak..." Sontak senyumannya memudar, bahkan tergantikan oleh raut wajah yang tidak mengenakan. "Kau akan kubunuh."

.

.

~zo : stalk ghost stalk~

.

.

Dari sebuah sudut jalanan yang sepi, Hinata memfokuskan pandangannya ke salah satu rumah mewah di ujung jalan. Rumah itu memang tidak mencolok, tapi berkat itu juga para penduduk sama sekali tidak curiga bahwa pernah terjadi pembunuhan di dalamnya.

"Ja-Jadi... itu rumahnya?"

Sakura—yang kini penampilannya jauh lebih baik dibanding awal bertemu—menggangguk yakin.

"Iya. Pertamanya kukira Naruto tuh orang baik yang kaya. Erh, tau-taunya dia seorang stalker yang punya ratusan koleksi. Ck, disgusting."

Hinata mencoba mendengarkan tanpa menyela.

"Dan kau mesti tau, di kamarnya ada banyak foto siswi angkatan kita. Dan yang paling menjijikan dari semua itu... Naruto memfotonya bukan hanya di kelas, melainkan di ruang ganti, kamar mandi dan lain-lain!"

Setelah selesai berbicara, ia mengernyitkan keningnya sendiri sampai tercipta beberapa kerutan. Sakura seperti sedang berpikir.

Hinata memiringkan kepala, tanda ia bingung.

Sakura pun mendengus lalu berbalik, membiarkan Hinata hanya bisa menatap punggungnya.

"Ada apa?"

"Kenapa aku harus cerita padamu, sih? Euwh..."

"Eh? Ti-Tidak apa-apa kok, aku dengan senang hati mau mendengarkan..."

"Bukan kaunya! Tapi 'aku' yang tidak suka cerita sama kamu!"

Bukannya tersinggung, Hinata malah tersenyum. Sakura hanya berbicara seperti itu karena ia malu, tentunya.

"Cerita saja. Pasti banyak unek-unek yang ingin kau katakan, benar kan?"

Sakura mengerucutkan bibirnya dan kembali menghadapkan wajahnya ke Hinata. "Yah, itu karena kau yang memaksa deh."

Namun, tiba-tiba saja Sakura mendapati sebuah sosok yang amat ia kenal dari kejauhan.

Ia yang panik langsung berteriak kencang. "Eh, eh, eh! Itu dia! Dia barusan keluar rumah!"

Dengan merapatkan tubuhnya ke balik tembok, Hinata berusaha mengintip agar dapat melihat apa yang tadi Sakura bilang.

Dilihatnya Naruto yang tersenyum lebar sedang menyapa warga kompleksnya yang berada di luar rumah.

"Ck, sok baik banget sih! Dasar muka dua!" Ujar Sakura, sewot. "Nah, ayo samperin dia!"

"Eh? A-Aku?"

Sakura terkejut mendapati reaksi pasif dari Hinata yang masih terdiam. "Iyalah! Masa aku? Kau kan sudah janji mau membantuku!"

Sebenarnya Hinata sama sekali belum berjanji...

"Ta-Tapi, untuk apa—?"

Tiba-tiba saja, emosi Sakura memuncak.

"—CEPAT!"

PRANG!

Sambil menunduk, ia tutupi kedua telinganya dengan telapak tangan. Lampu jalan yang beberapa meter persis di atas kepalanya itu pecah, membiarkan kaca plastik meruntuhinya.

Jangan ditanya lagi, itu pasti akibat energi yang tercipta dari amarah Sakura.

Setelah keadaan mendingan, Hinata baru berani menegakan tubuhnya dan menatap Sakura dengan tatapan cemas. "I-Iya... tunggu sebentar."

Mata lavender Hinata kembali ke Naruto. Kini, pria itu akan menuju salah satu minimarket yang ada di blok sebelah.

Ragu-ragu Hinata mencengkram erat sweater tebalnya, lalu ia pun melangkah maju.

Selewat pintu, Hinata berdiri tegap, kemudian menghela nafas untuk mengatur kadar detakan jantungnya yang berdegup tak normal.

Diamatinya satu persatu sudut dan lorong di dalam sana, dan begitu sampai ke lorong kue... ia menemukannya. Si pirang jabrik yang sudah menenteng keranjang dan akan berjalan ke kasir.

Dan di saat ia berbalik secara mendadak, Hinata tersentak.

Mereka sempat bertemu pandang.

Tanpa berbicara Hinata langsung membuang muka, bertingkah seolah-olah sedang memilih barang yang dijual bebas di sekitarnya.

Tapi, Naruto rupanya sadar—bahkan ia masih hafal tampang Hinata yang tempo hari pernah ditabraknya sampai jatuh.

"Hai."

Kedua bahu Hinata menegang seketika. Nyaris saja keranjang belanjaan kosong yang dia pegang terlepas begitu saja.

Dengan gemetar ia menoleh ke arah suara, melihat pria yang sudah mengulas senyuman lebar.

"Eng—"

"Ah, kau yang waktu itu kan!" Sapaan Naruto yang begitu ceria menyela kalimatnya.

Berhubung sudah didahului, Hinata sedikit menunduk dan tersenyum gugup. "I-Iya..."

"Kau mau beli apa di sini?"

Mata Hinata mengerjap.

Iyaya, dia lupa. Seharusnya ia punya banyak cadangan kalimat kalau sedang melakukan misi seperti ini. Lagian dia sendiri tidak tau apa tujuan Sakura menyuruhnya menemui Naruto.

"Ah, a-aku...?" Tanyanya mengulangi—sekedar memperpanjang waktu untuk berpikir. Lalu ia putar kedua manik lavendernya, menatapi deretan barang yang terpajang. "Whip cream. Ya, whip cream..." Ia tertawa kikuk. "Untuk kue."

Alis Naruto naik sebelah, lalu ia pandangi satu-satu produk yang berisikan bahan-bahan kue yang ada di jejeran rak, sekedar membantu mencarikan.

"Wah, kayaknya lagi habis."

"Oh... yasudah, lupakan saja." Hinata tersenyum lembut. Walaupun orang jahat, Naruto tetaplah sosok pria yang baik—untuk saat ini—di matanya. "Kalau kau sendiri?"

Pertanyaan Hinata membuat Naruto menunjukan barang belanjaannya ke Hinata. "Biang es."

"Dia pasti beli itu untuk membekukan mayatku! Dasar jahanam!" Di dekatnya, Sakura yang dari tadi ikut mendengarkan langsung mengumpat. Tapi Hinata mengabaikannya.

"Ohya, di rumah aku punya banyak whip cream. Apa kau mau? Rumahku dekat kok."

"Jangan mau!" Kalau saja Sakura bisa menyentuh Hinata, mungkin bahunya sudah diguncangkan kencang oleh gadis pink itu. "Kita memang akan ke rumahnya, tapi jangan ada dia!"

Hinata tersenyum, berusaha terlihat seperti biasa meskipun butiran keringat sudah menghiasi keningnya. "Ra-Rasanya tidak perlu... itu terlalu merepotkan..."

Karena sudah dicueki sampai beberapa kali, Sakura menggeram. Tatapannya tersorot penuh ke Hinata, keningnya mengkerut, kedua tangannya terkepal.

Ia marah.

"HEI, KAU MENDENGARKU TIDAK SIH?"

Mendadak, rak besar yang berdiri di samping Hinata dan Naruto bergoyang—padahal sama sekali tidak disentuh atau ditabrak oleh siapapun.

Dan seperti hukum gravitasi, barang-barang yang sempat oleng itu terjatuh dengan serempak, mengarah ke dua orang yang masih termangu di bawahnya.

"A-Awas!"

Prak!

Prak!

Prak!

Setelah tidak ada suara benda yang terjatuh lagi, akhirnya Hinata memberanikan diri untuk membuka mata. Ternyata dia lolos dari segala macam produk tepung kue instan yang sudah berhamburan di lantai, tentu dengan pertolongan dari Naruto yang segera memeluk dirinya.

Naruto yang sedikit kesakitan hanya meringis sambil mencoba berdiri lagi. "Aw... sakit juga." Lalu ia kembali menatap Hinata. "Kau baik-baik saja?"

"I-Iya..."

Hinata menunduk. Awalnya ia berniat menyembunyikan pipinya yang merona, tapi nyatanya ia melihat sesuatu yang lebih penting.

Kunci rumah Naruto—yang mungkin lolos dari sakunya sewaktu pria itu menolongnya barusan.

Sewaktu petugas minimarket datang untuk membereskan barang dagangan mereka, Naruto sibuk menolong sekaligus bertanya. "Eh, tadi kenapa rak ini goyang sendiri sih? Ada gempa ya?"

"Bukan. Sepertinya kaki raknya sudah harus diganti. Maaf telah membuat kalian dalam bahaya."

"Ah, ya. Untung saja raknya tidak jatuh."

"HYUUGA! AKU BICARA PADAMU!"

Teriakan Sakura memecahkan lamunan Hinata.

"Um, maaf tidak bisa membantu... aku harus pulang duluan." Pamitnya langsung. Memang agak tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi kalau Sakura sudah kelewat emosi.

"Jaa."

Pertamanya Naruto memberikan sebuah senyuman ke Hinata, tapi setelah gadis itu sudah menghilang di balik pintu. Senyumannya sirna.

Dan digantikan oleh sebuah seringaian tersembunyi.

. . .

Beberapa langkah sesudah ia keluar dari minimarket, Sakura muncul di depannya dengan muka kusut. Hinata tersentak dan akhirnya diam di tempat sembari menunduk.

"Heh, kenapa di sana kau sengaja tidak menjawabku?" Sambil berkacak pinggang Sakura bertanya.

"..."

"Ooh! Mentang-mentang sudah ditolong sama Naruto, kau langsung jatuh cinta dan tidak mau membantuku, eh?"

Hinata tetap tidak bersuara.

"OI, JAWAB DONG! Aku bukan pajangan, ya—!"

"Bu-Bukan!" Selaan Hinata yang menggunakan volume keras itu membuat Sakura bungkam.

"Maaf...! Aku ingin menjawab. Tapi, karena hanya aku yang bisa berkomunikasi denganmu, aku pasti disangka gila apabila aku menjawabmu di depan umum seperti tadi." Jelasnya perlahan dengan wajah bersalah.

Kedua bola mata Sakura segera memandang tanah. Tanpa sebab yang jelas ingatannya kembali melayang ke masa-masa dia masih hidup, di mana ia pernah menghina gadis pemalu itu sebagai orang gila karena pernah melihatnya berbicara sendiri.

Sekarang ia tau apa alasannya.

Rasa bersalah di dalam hatinya sih memang ada, tapi ia usahakan agar tetap terlihat cuek.

"Oh, yaudah. Eh, tapi bagaimana caranya kita masuk rumah Naruto?"

"Aku ada ini." Ia tunjukan sebuah kunci yang diambilnya barusan.

"Wah, brilliant!"

Hinata sedikit menghela nafas berat, lalu ia mengadah—siap menjalani permintaan selanjutnya dari Sakura. "La-Lalu sekarang kita harus ke mana, Sakura-san?"

"Sudah pasti kita harus ke rumah si Naruto itu."

.

.

~zo : stalk ghost stalk~

.

.

Sesampainya di kediaman Uzumaki, Sakura langsung berjalan menuju pintu terdepan. Sedangkan Hinata perlu melirik ke kanan-kiri—agar tidak ada yang curiga padanya yang datang secara mengendap-endap seperti ini.

"Nah, mumpung Naruto kayaknya masih lama, ayo cepat!"

Hinata mengangguk dan segera membukakan pintu.

Didorongnya pintu yang berat itu sampai ruangan di dalamnya setengah terlihat.

Gelap.

Berhubung Naruto sedang pergi, sudah pasti segala lampu dimatikan. Ditambah sebuah kebetulan yang menyadarkan mereka kalau matahari sore sudah terbenam, semakin membuat seram rumah tersebut.

"Sa-Sakura-san... aku takut."

"Tenanglah, ada aku di sini. Lagipula kau sendiri kan sudah hafalkan wujud para hantu itu seperti apa!"

"I-Iya, tapi... kadang mereka mengagetkan."

"Ck, sudahlah. Ayo maju..."

Hinata melangkah dengan kedua tangan yang saling bergenggaman. Sesampainya di dalam rumah, ia taruh telapak tangannya ke dinding sebelah pintu.

Kedua tangannya meraba permukaan datar itu, berusaha menemukan sebuah saklar lampu. Namun, setelah hampir semenit ia melakukan kegiatan tersebut, hasilnya nihil.

"Kenapa tidak ada saklar lampu?"

"Ya mana kutau? Pakai senter ponsel saja."

Sesuai perintah Sakura, Hinata segera mengambil ponsel indigonya dan menyalakan aplikasi senter untuk penerangan. Walaupun sinar yang dihasilkan kecil, setidaknya dapat membantu menerangi rumah gelap gulita ini.

Dan baru saja memasuki rumah itu dengan langkah ke empat...

BLAM!

"KYAAAAAAAAAAAAAA!"

Teriakan tadi berdurasi lama, bahkan sampai Sakura yang juga kaget—tapi tidak sampai berteriak—itu sempat menghela nafas panjang-panjang dan memberikan tatapan malasnya ke Hinata.

"Ah, yaampun... aku takut."

"Hyuuga, jangan buat aku kesal..."

Sambil menormalkan nafasnya yang belum teratur, ia balas tatapan Sakura dan membungkuk memohon maaf. "I-Iya... maaf."

Mereka berjalan perlahan. Sakura sibuk mengoceh tentang segala keburukan Naruto, sedangkan Hinata terdiam—bukan dalam arti mendengarkan. Masalahnya, ia lebih fokus ke segala perabotan di rumah mewah tersebut.

Satu yang membuatnya heran.

Tidak ada satu pun hantu di sini.

"Sakura-san... apa kamu masih ingat di mana Naruto membunuhmu?"

"Di kamar pria itu. Kamarnya ada di atas."

"Baiklah... kita ke sana." Dengan perlahan Hinata menaiki tangga.

Tanpa mengulur waktu, mereka sampai ke lantai dua.

"Di pojok sana ada ruangan. Itu kamarnya."

"Ba-Baik."

Ditemani secercah penerangan minim, ia terlusuri lantai teratas sampai ke kamar pemiliknya. Dia pegang kenop pintu, dan ia dorong pintu tersebut.

Kieeeet.

Pintu sudah terbuka lebar, memperlihatkan kamar tanpa cahaya di dalamnya. Berbeda saat Sakura menemukan kamar ini, tentu saja di bagian jendela—mungkin karena kacanya pecah sehabis membunuh Sakura—Naruto menutupi ventilasi besar itu dengan sebuah tripleks tebal, sehingga menghalangi sinar sore masuk ke dalam.

Ctik.

Hinata menyalakan lampu, dan terlihatlah segala perabotan kepunyaan Naruto di kamar tersebut. Dimulai dari kasur, serta mading yang sedari tadi ingin Sakura perlihatkan kepadanya hanya untuk membuktikan sebejat apa Naruto sebenarnya.

"Nah, itu fotonya."

Melihat ratusan foto yang tertempel, reaksi Hinata tidak jauh berbeda dengan Sakura. Gadis itu terbelalak sambil menutupi mulutnya yang sedikit menganga. Bedanya Hinata tidak marah, ia malahan semakin takut lama-lama berada di rumah ini.

"A-Astaga... aku sangat tidak menyangka—"

Sesaat ia akan berjalan mundur, pandangannya tertuju ke bawah. Dan secara kebetulan, sinar dari ponselnya sedang menyorot arah lantai, sehingga terlihatlah...

Sebuah bercak darah yang seperti bekas seretan.

"—KYAAAAAA!"

Lagi-lagi Hinata berteriak, dan hal itu sontak membuat Sakura gelalapan. "Di-Diamlah, bodoh! Nanti kita bisa ketahuan! Kau terlalu mudah berteriak banget sih!"

Masih tidak bisa menahan keterkejutannya, Hinata kembali menangis. "Ta-Tapi, ini...!"

"Itu darahku." Ujarnya cepat. "Ikuti jejaknya."

Tak ada yang dapat dilakukan Hinata selain memperdengarkan isak tangisnya. Sewaktu Sakura menoleh dengan wajah kesal, barulah ia menjawab.

"Sa-Sakura-san... kita sudahi i-ini saja, ya?" Bisiknya dengan suara bergetar.

Sakura berdecak. "Ayolah..."

Ia bujuk Hinata yang masih memeluk dirinya sendiri.

Hinata sedikit mengadah, memperlihatkan sebuah wajah yang sudah dipenuhi oleh keringat dingin hasil ketakutannya. Masih dengan nafas tersenggalnya ia mencoba mengangguk, berusaha tidak memperdulikan air mata yang sudah mengalir di pipinya.

Demi Kami-sama, dia ketakutan.

Sambil mengeratkan genggamannya ke sweater, Hinata mengarahkan senter kecil dari ponselnya ke depan, kemudian berjalan keluar kamar mengikuti jejak darah tadi. Berlawanan dengan Sakura yang tampak tenang, badan Hinata gemetar, dan matanya terus bergerak gelisah seakan-akan takut jika ada sesuatu yang mendadak muncul dari kegelapan.

Mereka terus berjalan, sampai akhirnya di ujung lantai dua itu terdapat sebuah perpustakaan yang terisi oleh sofa, piano, dan lemari jumbo—yang mengitari ruangan—berisikan ribuan buku.

"Ka-Karena sudah jalan buntu, a-apa aku boleh pulang?"

"Tidak." Sakura menggeleng sembari memejamkan matanya. "Aku merasakan kehadiran jasadku di sekitar sini."

"Di-Di mana? Di sini hanya ada lemari buku..."

"Karpet."

Hinata menoleh. "Eh?"

"Di bawah karpet. Coba lihat bagian itu."

Hinata menuruti apa yang hantu itu mau. Ia tarik permukaan karpet sehingga benda mahal tersebut menjadi awut-awutan di pojok grand piano yang berwarna hitam.

Dan seperti apa yang dikatakan Sakura...

Di sana ada sebuah pintu yang menempel di lantai. Ya, persegi berukuran 1 x 1 meter.

"A-Apa mungkin ini... pintu rahasia?" Tanyanya penuh takjub. Ia ingat benar di berbagai macam novel misteri dan detektif yang pernah dia baca, pasti sering sekali memakai setting sebuah rumah yang dilengkapi pintu rahasia seperti ini.

"Diamlah, jangan berisik. Cepat buka..."

"Umm..."

Ragu-ragu dia letakan ponselnya di lantai, lalu digenggamnya pegangan pintu. Kemudian, ia tarik kuat-kuat, berusaha sebisa mungkin untuk mengalahkan berat yang terasa di tangannya, sampai akhirnya ia berhasil membuka ruangan rahasia tersebut.

BRAK!

Setelah pintu terbuka, Hinata yang terengah pun mendekat, namun di saat itu pula ia membuang muka.

"Uhuk!" Satu batukan disusul oleh batukan lain. Tangannya dipakai untuk mengibas-ngibas ke udara, berusaha menjauhkan bau yang menyetrum indra pembaunya itu. "Ahh... astaga..."

"Oi, ini bukan saatnya batuk tau...!"

"B-Bau." Bisiknya. "Bau darah..."

"Eh?"

Hinata menyeret posisi duduknya agar menjauh dari lubang hitam nan menyeramkan tersebut. Matanya mengernyit, hidungnya ia tekan kuat-kuat agar tidak dapat mencium apa-apa. Tampaknya ia benar-benar terganggu sama bau menyengat yang baru pertamakali ia jumpai.

"Bau darah apaan? Aku tidak mencium apa-apa." Sakura berdecak.

Hinata menghela nafas. Hantu kan memang tidak akan bisa lagi merasakan sesuatu yang duniawi seperti ini.

Ia pun menoleh ke arah Sakura, berniat menjelaskan.

"Itu karena—"

"Itu karena kau sudah terlibat terlalu jauh, Cantik."

Suara yang menyambung kalimatnya itu...

Naruto.

Hinata tidak bisa berkata-kata. Matanya membulat ketika ia menangkap sebuah wajah yang sudah sangat dekat dengannya di tengah kegelapan ini.

Ya, tebakannya tidak meleset.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Weheheh... akhirnya aku update chapter kedua~! Semoga aja masih ada yang sukaa ;)

.

.

Thanks for Read &Review!

Special Thanks to :

B. C, Aoyama Eiichi, Ayuzawa Shia, OraRi HinaRa, Yamanaka Emo, elmoelmo, Lollytha-chan, Y. C, Crimson Fruit, Uzumaki Nami-chan, Endless Fear.

.

.

Pojok Balas Review :

Horror sama suspense-nya udah kerasa. Wah, terimakasih. Semoga aja chap depan suspense-nya lebih kerasa lagi. Kirain Naruto jadi hantu. Hehe O:) Ayo, Hinata fight buat balesin dendam Sakura ke Naruto. Wihihi... Hinata bakalan berusaha banget kok ;) Ngga kusangka Naruto jadi stalker. Iya, padahal kan Naruto ngga mesum! :p *ngelirik Kakashi + Jiraiya* Wow, kemampuan Hinata hebat banget bisa ngeliat hantu. Aku sih ngga mau kayak Hinata, serem amir~! Hebat deh yang bisa punya kemampuan kayak itu! :& Jadi ngga ada romance-nya, ya? Iya, ngga ada. Tapi ada scene NaruHina yang bikin deg-degan kok (amin) ;) Kalo ada adegan suspense NaruHina, siapa yang bakalan nolong Hinata. Suspense di fict ini bukan berarti bunuh-bunuhan semua loh, tapi kubuat suasananya jadi "menegangkan". Katanya udah komplit, tapi mana chap 2-nya? Hehee... kan di update secara berkala dongs~ SakuHina bukan pairing, ya? Kukira ada shoujo-ai. Itu pairing kok, tapi lebih ke genre Horror-Frienship. Horrornya baru kerasa sedikit. Tungguin di chap depan, oke? :D Kesan misteriusnya Naruto keren. Hehe, Naruto tuh kalo di OOC-in kayak gemanapun tetep kerenlaaah hahay.

.

.

Next Chap :

"Lebih baik kau diam, dan jadilah anak baik."

"Apa kau tidak tau seberapa bahayanya terlibat suatu masalah dengan seorang 'pembunuh'?"

"Sayang sekali gadis sepertimu sudah repot-repot ke sini kalau tidak mau difoto."

"He-Hentikan!"

.

.

Review kalian adalah semangatku :'D

Mind to Review?

.

.

THANKYOU