Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto


.

.


Klan : Ketika Hati Saling Bersilangan


.

.

2


Enjoy~


[Sasuke]

Lima belas menit Danzo menunda pertemuan, apa yang sebenarnya si tua bangka itu lakukan! Kepalaku mulai pusing dan pusing membawa semakin banyak keringat di telapak tanganku, dari tadi yang kulakukan hanya meremas tenganku, pura-pura mendengar ocehan Hinata, menatap tingkah para bajingan yang membuat pertunjukkan menjijikkan di depanku, dan yang paling meresahkan tubuhku adalah gadis beraroma musim semi yang sedari tadi berbicara dengan Sai dan mengabaikan keberadaanku! Apa sebenarnya yang kau pikirkan Sasuke? Dia cuma gadis penyembuh biasa, tidak ada yang beda darinya kecuali aroma musim semi yang dia keluarkan. Jangan mengatakan cuma gara-gara aroma kau jadi terkacaukan! Sial!

Aku meremas rambut frustasi, Hinata belum berhenti mengoceh, entah apa yang dia bicarakan, bibirnya seperti mesin pembicara otomatis tanpa jeda. Dia menuang sake untuk kesekian kalinya aku merebut gelas itu darinya kemudian meneguknya tanpa sisa.

"Apa yang kau lakukan!" Hinata memainkan nada suaranya seolah dia sedang marah.

"Kau tidak boleh mabuk, mabuklah setelah rapat selesai."

"Kau.. kau romantis sekali Sasuke." Hinata mulai cegukan, tapi aku tahu dia tidak sepenuhnya mabuk.

"Hn." Aku bosan melihat tingkah Hinata, tapi aku tidak bisa menyakiti hati gadis ini selama dia tidak melakukan hal yang salah.

"Kepala klan penyerang telah hadir!"

Konan berteriak keras berharap suaranya menjangkau seluruh penghuni ruangan, bersamaan dengan itu Danzo memasuki ruangan, setiap orang mulai duduk dengan teratur termasuk para bajingan pemabuk yang jelas berjalan sempoyongan mengambil bangku mereka. Aku tidak ingin memperhatikan para bajingan itu, pandanganku teralihkan oleh sosok kepala klan Danzo, tubuhnya penuh luka, banyak perban melilit tubuhnya, aku heran kenapa tua bangka itu tidak pensiun menjadi kepala klan dan menyerahkan kursinya pada generasi yang lebih muda.

Setelah duduk Danzo mulai membuka dokumen yang di serahkan Konan padanya.

"Pembicaraanku dengan Hokage-Sama berlangsung lama, setelah selesai aku segera ke tempat ini untuk menyampaikan pesan dari beliau." Aku tahu Danzo sedang menjelaskan keterlambatannya, tapi aku tidak butuh penjelasan itu, apa dia tidak tahu bagaimana cara mengeja kata 'maaf'?

"Hokage mendapat pesan dari para Anbu bahwa desa Oto mendapat serangan dari beberapa monster kiriman, Anbu dan klan strategi sedang menyelidiki dari mana asal monster itu." Selagi Danzo membolak-balikan beberapa dokumen di depannya, Konan berkeliling untuk memberikan lembaran pada kami. Aku mendapatkan lembaran itu, alisku berkerut, dalam lembaran itu jelas tergambar monster dengan wujud binatang, bentuknya bermacam-macam, ular, kelabang, dan harimau, apa monster-monster ini nyata?

"Desa Oto meminta bantuan Konoha untuk membasmi para monster itu, mengingat Konohalah desa yang terdekat dari Oto, dan bukan tidak mungkin monster-monster itu akan mengunjungi desa kita." Danzo berhenti sejenak, sepertinya dia tengah meneliti ekspresi wajah kami.

"Ini akan menjadi misi yang menjijikkan!" Hinata bergidik ngeri, pandangannya tidak lepas dari lembaran kertas di pegangannya. Aku tidak mendengar suara dari gadis aroma musim semi di dekatku, dia hanya sekilas menatap lembaran monster itu dan meletakkan di atas meja tanpa menyentuhnya kembali. Dan Sai, aku melupakan keberadaan pria itu.

Danzo meneruskan ucapannya tentang taktik yang akan kami gunakan, aku tidak terlalu memperhatikan penjelasannya karena dia selalu menggunakan taktik menyerang tanpa ampun, dan kami memang selalu berhasil. Tapi kali ini ada yang berbeda.

"Dan tentang klan penyembuh yang bekerja sama dengan kita, aku meminta nona Hinata untuk tidak mendampinginya. Nona Hinata akan ikut menyerang bersama yang lain."

Hinata menatap Danzo tanpa kedipan, aku mengerti kebingungan Hinata, karena dia selalu bertugas mendampingi dan melindungi para klan penyembuh yang ikut dalam misi. Apa Danzo sudah kehilangan akal? klan penyembuh tanpa perlindungan, mereka akan mati!

"Maaf ketua, apa tidak apa-apa aku ikut menyerang?" Hinata mempertanyakan keputusan Danzo, suara Hinata terdengar ragu dengan apa yang dikatakannya.

"Apa ini bisa membuatmu nyaman dalam misi Nona Haruno?" Danzo memandang gadis aroma musim semi di sampingku, dan apa tadi itu? Haruno? Jadi gadis ini putri dari kepala klan penyembuh?

"Tentu Tuan!" Gadis ini menganggukan kepalanya, aku bisa melihat mata tiap orang memandang putri dari klan penyembuh ini, rasa penasaran mereka sama dengan rasa penasaranku, bahkan Hinatapun menatap gadis itu tanpa berkedip.

Yang aku tahu, klan penyembuh adalah klan yang tidak bisa di ikut sertakan dalam pertempuran karena mereka tidak bisa melindungi diri mereka sendiri, mereka tidak bisa menggunakan senjata, bahkan dalam pertempuran mereka selalu berada di garis paling belakang setelah klan strategi. Dan kali ini, dengan jelas salah seorang dari klan penyembuh menyodorkan diri ikut dalam petempuran tanpa pendamping dan dia seorang perempuan! Gadis Haruno! kau penuh teka-teki. Aku tidak sabar melihatmu dalam pertempuran, semoga saja bukan kau yang pertama mati. Memikirkan kematiannya, sedikit seringai muncul tanpa dapat kendalikan, lucu!

"Perjalanan ke desa Oto memakan waktu dua hari itupun dengan kecepatan penuh, kalian harus bergegas karena besok pagi kalian akan langsung berangkat. Sekarang pulanglah dan siapkan tenaga kalian!" Danzo meangkhiri kalimatnya kemudian keluar dengan Konan yang berjalan di belakangnya, sasana ruangan ini kembali riuh.

"Hei, Haruno! kau yakin dengan ucapanmu?" Hinata mengambil botol sake dan meneguknya di depan gadis Haruno itu, Hinata tidak memandang gadis itu, Hinata hanya terkekeh geli, bagus Hinata mempertanyakan apa yang ingin kutanyakan juga.

"Tentu!"Gadis itu berdiri, berjalan melewati Hinata, gadis itu pun sama, dia tidak memandang Hinata sedikitpun, aku baru tahu kalau pembicaraan antar perempuan sedingin ini. Gadis itu berjalan menjauh sebelum sosoknya hilang di balik pintu.

"Aneh.." Tanpa sadar kata itu terlontar dari mulutku, aku tidak tahu apa yang aneh, gadis Haruno itu, atau sesuatu yang bergemuruh di area dadaku sedari tadi.

"Kau akan segera tahu Sasuke." Sai menepuk punggungku sebelum menghilang dari ruangan ini, Sai memang memiliki teknik teleport yang luar biasa. Sai meninggalkanku dengan pernyataan ambigu yang susah kupahami. Aku menggelengkan kepala berharap kalimat Sai enyah dari pikiranku.

"Baiklah, Sampai ketemu besok Sasuke.."

"Hn" Aku mengabaikan Hinata, pikiranku terlalu rumit untuk memikirkan Hinata dan ocehannya.

'CUP'

Dingin, basah, dan lembut menyentuh permukaan pipiku, Hinata mengecupku sebelum pergi dari ruangan ini. Kali ini perutku yang bergemuruh, dan aku mual membayangkan bibir Hinata. Oh Tuhan, itu adalah ciuman pertamaku!

.

.


[Sakura]

Apa itu tadi? Jika mereka tidak menerimaku, mereka bisa menolak! Bukan aku juga yang menginginkan misi ini! Dan perempuan indigo itu, benar-benar menyebalkan, oh Tuhan aku baru saja menemukan kembaran Shiho, tunggu sampai aku mengatakan ini pada Ino.

Terkutuklah untuk hari ini! Terutama pada ayah, dia mengacaukan daftar liburanku, memberiku misi yang menyusahkan, membuatku bertemu dengan bajingan bau, dan mempertemukanku dengan kembaran Shiho, hari yang menyenangkan bukan! Jika bukan karena Tuan Danzo dan Sai, aku bisa pergi kapanpun dari tempat penuh tumpahan sake menjijikkan !

"Hei nona, kita bertemu lagi." Sial! Pria yang melecehkan tanganku menghentikan langkah kakiku! Sepertinya dia sudah siap menerima kunai untuk menembus kepala besarnya itu.

"Minggir!" Aku berusaha membuat suaraku sedingin mungkin, semoga ucapanku bisa menusuk ulu hatinya. Tapi dia tetap tidak minggir, di balik bahunya bisa kulihat gerbang kawasan klan penyerang, jida pria bau ini tidak menghadangku, aku pastilah sudah bebas dari tempat busuk ini.

"Ayolah nona, aku sedang sakit di sini, kumohon sembuhkan aku.." Nadanya dibuat memelas, tangannya menyentuh sesuatu dibalik selangkangannya. Kakiku gatal, aku ingin sekali menendang selangkangannya, kumohon iblis jahat masuklah ketubuhku sekali saja!

"Kalian menghalangi jalanku.." Dan ya, satu lagi kawanannya datang memeriahkan pesta malamku, lelaki lain tiba-tiba datang, aku enggang menatap lelaki ini hanya suara datarnya yang tertangkap indra pendengaranku. Aku yakin keinginanya sama dengan bajingan bau di depanku, membayangkannya berhasil membuat perutku meraung meminta untuk segera mengeluarkan isinya.

"Oh Uchiha, kau ingin bergabung dengan kami?" Sepertinya pikiran bajingan bau ini berhasil teralihkan dariku, kesempatan untuk kabur.

"Kau tidak dengar? Menyingkir dari jalanku!" Bagus sekali, suara bentakan lelaki Uchiha itu berhasil membuat tubuh bajingan bau ini kaku. Dan ya, aku berterima kasih pada kakiku, mereka mengambil tindakan yang tepat. Setelah keluar dari kawasan klan penyerang, aku kembali mengengok kebelakang, sepertinya leherku tidak sejalan dengan ke dua kakiku. Aku tidak melihat bajingan bau itu berdiri di sana, yang ku lihat adalah seorang pria tinggi dengan mata yang mengkilat melihatku, karena jarak yang terlalu jauh tubuhnya tersamarkan oleh cahaya lampu yang tak menjangkaunya, dia masih berdiri di sana menatapku, orang itu aneh! Uchiha?


Aku tidak bisa terus memikirkan pria aneh itu, sekarang yang harus kulakukan adalah mengganti peranan Ino untuk memohon pada kepala klan, aku tidak percaya harus melakukan hal ini.

"Hai Sakura!"

"Hai Ino." Eh? Aku kaget Ino berjalan di sampingku, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya, hentikan tingkah konyolmu Sakura! Aku yakin Ino bisa melihat sekusut apa wajahku.

"Kau mau kemana?" Ino kembali bertanya, aku terus melangkahkan kaki tanpa memperlambatnya, Ino kesulitan menyamakan langkah kami.

"Kesuatu tempat yang tidak akan kau percaya!" jawabku seadanya.

"Menemui Ayahmu yang gila?"

"Oh Tuhan Ino, aku yakin Sai telah memberi tahu semuanya padamu! Jadi bersyukurlah aku akan menukar misi kita!" Aku menghentikan langkah, berkacak pinggang dan menatap horror Ino yang hanya memberiku ekspresi polos tanpa dosa.

"Aku tahu.. aku tahu.. apa yang harus aku lakukan untukmu? Membedah perut para bajingan itu dan mengeluarkan isinya, atau kau mau aku mengulitinya?" Ino mengeluarkan dua pisau bedah di kedua tangannya dengan seringai lebar. Oh Tuhan, betapa aku mencintai gadis ini. Ino berparas cantik seperti Aprodite tapi mulutnya kotor seperti pelaut.

"Kau lebih gila dari dugaanku." Aku berbalik dan kembali melanjutkan langkah, Ino tetap mengikutiku dengan sumpah serapahnya.

"Ino, aku sendiri yang akan menemui ayahku." Aku berhenti di depan ruangan ayah, Ino melihatku dengan tatapan tidak terima.

"Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti, jadi biarkan aku melewati proses pendewasaan sekarang!" Aku melanjutkan ucapanku, karena Ino tidak bergeming sebelum dia menerima alasan yang masuk akal.

"Sepertinya proses pendewasaanmu tidak kunjung selesai." Ino memutar mata mendengar alasanku. Aku tidak bisa berdebat dengannya sekarang, pikaranku sudah terbagi dan aku tidak mau membaginya lagi untuk Ino.

"Terserah padamu saja, aku masuk." Ino baru saja ingin membalasku, tetapi aku terlalu malas mendengarnya dan langsung masuk keruangan ayah, tidak lupa mengunci pintunya ' maaf Ino'.

Aku melihat ayah duduk dengan lembar-lembar dokumen yang menumpuk di mejanya, ada secangkir kopi yang telah habis menyisakan ampas di sana, dia tidak bergeming dari dokumen-dokumennya, aku melangkah mendekati ayah, ayah pasti sudah tahu bahwa aku datang, mengingat dia memberiku seringai liciknya saat rapat klan. Betapa bodohnya aku tidak menyadari hal itu.

"Ayah!"

"Hmm.." Dia masih tidak melihatku.

"Ayah tahu, aku baru saja melihat lumba-lumba raksasa."

"Benarkah? Dimana ?" Mata ayah menatapku dengan tatapan penasaran, aku memutar bola mata, aku tahu lelucon konyol bisa mengalihkan pikiran ayah. Entah bagaimana caranya ayah bodohku ini bisa menjadi kepala klan.

"Di kepala besarmu ayah!" Oh Tuhan, aku baru saja merekrut diri untuk menjadi anak durhaka, tetapi ayahku telah lebih dulu menjadi ayah durhaka.

"Ayah tidak yakin, lumba-lumba raksasa muat di kepalaku Sakura." Ayah kembali melihat dokumen di tanganya.

"Dan aku tidak yakin, bajingan-bajingan bau klan penyerang itu muat di kepalaku ayah! Apa ayah sudah kehilangan akal, ayah baru saja melempar putri ayah kekandang para bajingan bejat! Entah apa yang akan ayah lakukan kalau aku tidak kembali dari kungkungan mereka!" Aku meledak! Berteriak marah di depan ayahku, mengeluarkan semua yang beban yang ada dalam hati dan pikiranku.

"Ayah tidak akan melakukan apa-apa Sakura, kau ada di depan ayah sekarang." Ayahku memang sudah gila, bagaimana bisa ayah menanggapi semua omonganku dengan santai tanpa beban, apa aku harus menggunakan lumba-lumba raksasa untuk menarik perhatiannya lagi?

"Ayah, mereka membawaku ketempat yang penuh dengan sake! Mereka mengolok-olok warna baj_ rambutku! Dan bahkan mereka menghina klan kita ayah! Dan terakhir bajingan itu menunjukan ereksinya di depanku dan mengharapkan aku menyembuhkannya! Oh Hades.. terkutuklah mereka!" Aku kesulitan mengatur nafas akibat amarah yang menggebu-gebu, tapi itu bukan masalah.

"Kau menginginkan ayah membatalkan misimu?"

"Tidak!" Akhirnya ayah menatapku dan melemparkan dokumennya ke atas meja, aku tahu sejak tadi ayah mendengarkanku, ayah memberiku kesempatan untuk menjernihkan pikiran. Inilah ayahku.

"Jadi Sakura, ini waktu yang tepat untuk menunjukan kemampuan klan kita." Ayah berdiri dari kursinya dan menghampiriku.

"Kau tahu alasannya kenapa ayah memberimu misi ini! Hanya kau yang ayah percaya, kau memiliki warisan dari ibumu, dan itu cukup untuk mengubah pandangan klan lain terhadap klan kita." Ayah membawa kepalaku ke dadanya, memelukku erat, memberi ketenangan atas kekacauan pikiranku.

Klan penyembuh memang tidak bisa memegang senjata karena tujuan kami bukan untuk menunjukkan kematian pada seseorang, sebaliknya tujuan kami adalah menjaga kehidupan agar tetap berlanjut, itulah mengapa klan kami menolak senjata dan pertarungan. Tetapi tiga klan lain, bahkan sebagian besar dari penduduk Konoha tidak menyadari tujuan kami, yang mereka tahu hanyalah klan kami adalah klan yang lemah, mereka tidak tahu berapa banyak penduduk dan klan lain yang datang ke rumah sakit untuk di sembuhkan setiap harinya, berapa banyak klan kami yang memikul tali persatuan Konoha dengan desa lain untuk keselamatan mereka. Disetiap pertempuran mengapa klan kami membutuhkan pendamping, itu karena kehadiran kami penting untuk menyelamatkan, dan kami tidak boleh mati sebelum mereka. Aku tidak tahu kenapa mereka menutup mata untuk tidak melihat kami dari sisi yang lain.

"Aku tidak membenci mereka ayah." Aku memegang dada ayahku, merauk seluruh kehangatan tubuhnya untukku.

"Kau memang tidak harus membenci mereka, ada beberapa diantara mereka yang tidak memiliki sifat bajingan." Inilah yang menjadikan ayahku satu-satunya lelaki favoritku, dia tahu bahaimana cara membahagiakan dan membuatku nyaman.

"Em, tuan Danzo dan Sai.."

"Sai?" Ayah mendorong bahuku, membuat jarak diatara tubuh kami.

"Dia kekasih Ino ayah, dia yang membantuku di rapat tadi."

"Jadi kau memiliki lelaki favorit lain?" Ayah menyempitkan mata menyelidikiku, aku terkekeh geli melihat ekspresi konyolnya.

"Aku masih mempertimbangkannya ayah, aku harus pulang, jadwal perjalanannya besok pagi." Aku masih terkekeh, melihat raut wajah ayahku yang masih menyelidiki kebenaran bahwa Sai akan menjadi saingannya.

"Ayah tidak bisa mengantarmu Sakura, kau bisa lihat tumpukan di atas meja ayah!" Ada raut kekecewaan di wajah ayah, karena pekerjaan, ayah hanya memiliki sedikit waktu untukku, begitupun denganku, misi Anbu benar-benar menguras tenaga dan waktuku, hanya sekali dua kali aku bisa bertemu dengan ayah dalam sebulan. Pernah aku memikirkan untuk berhenti menjadi Anbu, tetapi berada dalam tim Anbu adalah impian ibuku, dan aku jelas tidak boleh mengecewakannya.

"Aku rasa misi ini tidak memakan waktu lama, aku akan segera menemui ayah lagi." Aku tersenyum tulus pada ayah, dia membalasku dengan tepukan di kepala, tepukan ini selalu mengingatkanku kalau aku adalah anak kecil ayahku, aku benar-benar mencintaimu ayah.

"Jaga kulitmu untuk tidak tergores!"

"Baik Ketua!" Aku membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan ayahku, ada ruang di dadaku yang membuatku bisa bernafas dengan normal kembali, kali ini aku tidak membutuhkan toilet untuk mengeluarkan isi perut, rasa mualku telah lenyap dan aku tidak memikirkannya lagi.


Aku tiba di rumahku tanpa hambatan, di sepanjang jalan aku tidak menemukan Ino mungkin dia sedang bersama Sai, aku turut bahagia untuknya. Pembicaraanku dengan Sai walau singkat tapi cukup mayakinkanku bahwa dia adalah pria yang baik untuk Ino.

Sepatu boots selutut, kunai, dan obat-obatan telah aku siapkan, karena besok aku akan meninggalkan desa maka jubah dan topengkupun tidak boleh ketinggalan. Semuanya telah siap, aku hanya perlu tidur sekarang.

.

.


[Sasuke]

Hari masih gelap tapi ibu telah membuat keributan untuk membangunkanku, aku mengerang, sebagian tubuhku masih terlena dengan kenyamanan kasur dan sebagian yang lain berontak untuk segera terjaga. Akhirnya sebagian tubuhku berhasil memaksa untuk bangun dan segera meninggalkan kenyaman kasur. Guyuran air dingin membangunkan seluruh sendi tubuh dan pikiranku. Tentang pikiran, aku masih teringat kejadian Hidan dan Haruno di wilayah perbatasan klan penyerang semalam. Jelas sekali kulihat mata kelaparan Hidan menelanjangi tubuh Haruno, tubuhku bergerak sendiri melihat gadis Haruno itu diam tak melakukan apa-apa. Sebenarnya apa maksud Sai mengatakan gadis ini berbeda, yang kulihat dia lemah seperti klan penyembuh yang lain.

"Kalian menghalangi jalanku.." Aku berdiri di antara mereka, Hidan melihatku seperti pengganggu dan si Haruno menundukkan kepalanya tanpa menggubris keberadaanku, apa gadis ini tidak mengerti aku sedang menolongnya?

"Oh Uchiha, kau ingin bergabung dengan kami?" Otakku tidak bisa memproses ucapan busuk Hidan, ada desiran yang tidak mengenakkan pada tubuhku akibatnya tanganku terkepal di luar kendali.

"Kau tidak dengar? Menyingkir dari jalanku!" Tubuh Hidan mengeras dan kaku setelah melihat perubahan pada kedua bola mataku, Hidan tidak mengatakan apapun lagi, jika dia tidak segera menghilang dari hadapanku, aku tidak yakin bisa membiarkannya meninggalkan tempat ini dengan tubuh yang utuh.

Hidan segera pergi bersamaan dengan gadis Haruno yang berlari keluar dari kawasan klan penyerang. Aku menemukan persamaan gadis itu dengan tua bangka Danzo, Danzo tidak bisa mengeja kata 'maaf' dan gadis ini tidak bisa mengeja kata 'terima kasih'!

Aku mengawasi gadis itu hingga tubuhnya tertelan kegelapan, tapi aku masih tidak yakin membiarkannya berjalan sendirian, yang kulakukan selanjutnya adalah memastikannya memasuki wilayah klan penyembuh dan itu cukup menenangkan hatiku.

"Sasuke!" Suara ibu menarikku kembali, menyadarkanku dengan suhu dingin yang mulai menusuk kulit, segera ku sambar handuk dan keluar dari kamar mandi. Ibu telah menyiapkan baju misi ku di atas kasur, aku bisa melakukannya sendiri tapi ibu adalah ibu yang tidak suka di bantah, aturannya paten, aku dan Itachi hanya bisa mengelus dada melihat ibu memperlakukan kami seperti bayi yang baru lahir.

"Ibu sudah menyiapkan bekal di tasmu, ada ramen instan juga kau hanya perlu memanaskan air, dan ada vitamin di kantung belakang tasmu, kau harus meminumnya tiga kali. Oh iya kau perlu krim anti nyamuk!" Ibu seperti berbicara pada dirinya sendiri sebelum keluar dari kamarku. aku memakai pakaian misi dalam diam. Ibu kembali ke kamarku dan meletakkan sesuatu di tasku, aku tidak akan mempertanyakannya, ibu selalu tahu kebutuhanku.


Aku meninggalkan rumah setelah bebas dari berbagai wejangan ibu, melompat dari satu atap ke atap yang lain, hari masih gelap namun beberapa orang telah keluar membuka pintu dan jendela rumah mereka. Di depan adalah kawasan klan penyembuh, gerbang mereka masih tertutup, berarti gadis Haruno itu belum menuju gerbang utama desa atau memang aku yang terlalu awal? Kuteruskan perjalananku menuju gerbang utama desa, di sana sudah ada Sai menyenderkan punggungnya pada dinding gerbang, kulihat Hinata melampaikan tangannya sembari memanggil-manggil namaku, dan beberapa orang klan penyerang yang membelakangiku. Mataku mencari sosok pink di antara mereka tetapi dia tidak ada, berarti benar dia belum meninggalkan kawasannya.

Sai menyapa setelah aku berdiri di sampingnya, ada Hidan dengan jarak yang lumayan jauh dariku, jelas dia menghindari kontak denganku, itu membuatku sedikit lega, satu pengganggu menyingkir dengan sendirinya.

Tak berselang lama setelah kedatanganku, Danzo dengan Konan yang mengikutinya, beserta beberapa orang dari klan penembak menghampiri kami. Ada tiga orang dari klan penembak yang bergabung dengan misi ini, aku kenal satu di antara mereka. Kiba, di juluki anjing pemburu karena setiap tembakannya selalu mengikuti sasaran dan tak pernah meleset.

"Segeralah berangkat, kalian harus berkejaran dengan waktu, kudengar Oto semakin terdesak!" Danzo memerintahkan kami untuk memulai perjalanan ke desa Oto, tetapi gadis Haruno itu belum datang juga, aku tidak peduli dengan yang lain tapi kita memerlukan penyembuh dan dia adalah satu-satunya penyembuh disini.

"Ketua, kami belum memiliki penyembuh." Aku mencoba mengeluarkan pernyataan, semoga telinga Danzo tidak menganggapnya sebagai pertanyaan. Reputasi Uchihaku akan jatuh jika aku menanyakan hal yang sepele.

"Mulai perjalanan kalian! Nona Haruno akan menyusul." Danzo mengakhiri kalimatnya. Sai, Hinata dan yang lainnya menganggukkan kepala sebelum melesat meninggalkan jejak debu di udara, aku masih berdiri di tempat yang sama, memandangi Danzo dengan tatapan menuntut jawaban lebih.

Danzo menghembuskan nafasnya bosan "Aku tidak mengharapkan catatan kegagalanmu di misi ini Sasuke!"

"Terserahlah!" Aku tidak peduli lagi. Ucapan Sai, ketidak pedulian Si tua bangka Danzo, bahkan gadis Haruno beraroma musim semi. Semuanya membuatku muak, entah mozaik apa yang sedang di mainkan mereka, tapi aku tidak ingin mengikuti permainan mereka. Aku memiki permainanku sendiri.

.

.


[Sakura]

"Apa aku terlambat tuan?" Kakiku mendarat di belakang tubuh tuan Danzo, pertanyaan basa-basiku mengambang tanpa jawaban. Seharusnya aku tak perlu bertanya, sudah jelas aku memang terlambat, insiden kecil dengan seseorang di jalan menyita banyak waktuku.

"Mereka di depanmu nona Haruno, kau tidak terlambat." Dibalik topeng kucing aku menghela nafas lega kemudian tersenyum lebar. Tuan Danzo tidak berbalik memandangku, percuma saja jika dia berbalik, aku memakai jubah dan topeng Anbu, dia tidak akan bisa melihat wajahku langsung.

"Baiklah!" Tanpa menunggu lama dengan cepat aku melesat meninggalkan gerbang Konoha, menekan tekanan udara dan meringankan tubuhku, teknik ini berguna untuk meningkatkan kecepatan lariku dua kali lipat dan berhasil mereka ada di depanku. Cih! Lamban.

Aku mengurangi kecepatan, menjaga jarak dengan mereka adalah tindakan yang tepat. Aku tidak mau pesta semalam terulang kembali dan bajingan bau itu pasti ada diantara mereka. Lagipula aku bisa mengawasi mereka dari sini, jarak waktu yang ku miliki kisaran tiga puluh dua detik untuk berada di antara mereka dan itu cukup untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.


Lima jam mereka berlari tanpa henti, terik mulai memunculkan peluh yang menggelitik pelipisku. Klan penyerang memang penuh ambisi, tapi gadis yang menyadarkanku bahwa Shiho tidak sendiri mulai mengurangi kecepatannya, refleks membuat aku berhenti. Aku meneliti sekitar, memanfaatkan insting dan sumbangan kekuatan dari alam tetapi tidak ada ancaman di area ini. Kulihat lelaki dengan rambut donger menyamakan langkahnya dengan gadis itu, dan sekarang aku tahu gadis itu mencapai batasnya, dia kelelahan.

Seluruh anggota tim mulai memperlambat pergerakannya, mungkin lelaki rambut donger itu menyuruh mereka untuk istirahat, lelaki baik!

.

.


A/N

Jadilah putra putri bangsa yang baik dan BERPENDIDIKAN !