FYI Corner : Park Geun Hye itu Presiden Korea Selatan yang sekarang. Saya sebenarnya gak tahu rupanya bagaimana, tapi yeah thanks to Wikipedia.
Di Korea Selatan, posisi pengemudi itu ada di kiri—bukan di kanan yang ada di Indonesia. Yah, jadi saya pikir Lamborghini di sana juga mungkin didesain khusus kayak gitu. Gak tau juga sih, seumur-umur saya belum pernah naik Lamborghini -,-v
Sumpah, terjebak dalam suasana seperti ini membuat Seokjin gerah.
Kim Taehyung, duduk di hadapannya dengan kaki bersila dalam balutan setelan jas monokrom sedangkan di belakangnya ada dua antek-anteknya yang berbadan tegap berdiri bagai anjing bulldog yang siap menggonggong bila Tuan mereka diganggu. Seokjin merasa rendah seketika. Astaga, sebenarnya siapa yang menjadi tuan rumahnya sekarang?!
Lutut Seokjin kini sepenuhnya menyentuh meja kecil di mana dua cangkir teh Earl Grey bersemayam manis. Hasil racikan mendadak dua pengawal Taehyung—dan jujur Seokjin nyaris gila hanya dengan mencium aromanya saja. Manis. Dan benar-benar tercium mahal. Wajarlah, Earl Grey kan merupakan teh berkualitas premium dengan harga selangit.
Dan kalian tidak usah bertanya mengapa Seokjin bisa mengetahui soal harga-harganya. Sebagai mahasiswa yang baik, dia sering mengecek harga-harga terkini di semua produk. Rasanya Seokjin bisa menjadi katalog belanja keliling bagi Myungsoo. Eh, Myungsoo ke mana?!
Seokjin hendak meraih ponselnya ketika Taehyung berdeham.
"Ah, aku lupa untuk mengatakan hal ini kepadamu."
Oh?! Jari telunjuk Seokjin melayang satu inchi dari layar sentuh ponselnya, menunggu kelanjutan dari Taehyung.
"Kim Myungsoo-ssi sedang pergi," Taehyung meraih cangkir teh di hadapannya dan menyeruputnya, tidak peduli akan fakta bahwa tuan rumah belum mengizinkannya untuk mencicipi hidangannya. Toh teh ini dibuat oleh pengawalnya, kok. "Tadi aku memberinya... Semacam hadiah kecil. Dan dia langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan terima kasih kepadaku."
Alis Seokjin terangkat, merasa curiga sembari menatap Taehyung intens. Myungsoo jelas-jelas bukan seseorang yang akan melonjak seperti itu bila diberi hadiah, palingan juga cuma menerimanya dengan asal dan kemudian pasang muka tidak peduli lalu memutuskan hadiah itu lebih baik berakhir di tempat sampah. "Benarkah?! Kalau boleh tahu, kau memberinya apa?" Seokjin akhirnya memutuskan untuk ikut meminum teh tersebut, sekedar mencicipi rasa teh mahal kualitas dunia itu. Hitung-hitung kan gratis.
Taehyung menyeringai—dan Seokjin berusaha untuk tidak menamparnya dengan setumpuk buku mengenai fotografi milik Myungsoo. "Ah, hanya beberapa lembar voucher untuk mendapatkan DSLR Nikon D80 versi terbaru, kartu memori enam belas gigabytes dan sepaket lengkap alat fotografi," jeda sejenak. "Tanpa diundi."
Kini Seokjin-lah yang poker face.
Penyogokan telah terjadi di kondominium sewaannya.
.
.
Brothers Conflict
.
Bangtan Boys © BigHit Ent., their fams, their God.
Brothers Conflict © Mato-san a.k.a gue/?
.
Let's keep living faint and unnaturally today.
—Lost Time Memory by IA.
.
chapter ii : Obviously Family
.
"Jadi Bangtan Famiglia itu apa?"
Pertanyaan inti pun meluncur dari bibir Seokjin setelah beberapa menit tadi berbasa-basi singkat soal penyogokan yang telah taehyung lakukan kepada Myungsoo. Dia bisa melihat ujung bibir Taehyung tertarik dan membentuk seringaian (sok) ganteng. "Seperti yang kau ketahui, milady. 'Famiglia' itu artinya keluarga dalam bahasa Italia." Jelasnya tenang.
"Jangan panggil aku milady," dengus Seokjin, kembali menyeruput Earl Grey-nya. "Aku bukan sesosok perempuan dari era Victoria."
"Baiklah, Mein Frau Jin."[1]
"Dan aku bukanlah Nona-mu, bodoh, " Seokjin memutar bola matanya malas. "Sekali lagi kau menganggapku perempuan dalam bahasa asing, aku akan menyodokmu dengan tongkat hookey dan membuatmu terdampar di ruang ICU rumah sakit terdekat." Mendadak Seokjin merasa tolol karena telah mengatakan hal demikian. Taehyung memiliki dua pengawal—menghajarnya sama saja seperti bermain gulat 1 versus 5 (bila kedua pengawal Taehyung masing-masing dihitung dua).
Seringai kembali muncul di bibir Taehyung. "Ketimbang terdampar di ruang ICU, mengapa kita tidak terdampar di kamarku saja, eh?!"
"Enyahlah kau wahai orang mesum. Bisakah kau langsung menjawab pertanyaanku tadi?!"
Taehyung berdehem. "Baiklah, baiklah," Taehyung menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap santai Seokjin. Seokjin membalasnya dengan tatapan membunuh. "Bangtan Famiglia itu... Keluarga."
Tanpa sadar Seokjin mendecak. "Lebih detail," gumamnya. "Kau sudah mengatakannya tadi di awal. Aku tidak sebodoh itu untuk tidak bisa mengartikan Bangtan Famiglia itu artinya 'Keluarga Bangtan'."
Cengiran muncul di bibir Taehyung, menghapus semua kesan-kesan bangsawannya. Seokjin ragu pemuda di hadapannya bisa menjaga image keluarga—oh dia mikir apa tadi. Taehyung menarik nafasnya, masih nyengir. "Bangtan Famiglia... Yah dalam kata lain bisa disebut 'Keluarga Keduamu'."
"..." Hening.
Alis Taehyung naik sebelah. "Tidak terkejut, eh?!"
Sedetik.
Dua detik.
Tiga de—oh ada seekor gagak imajiner migrasi di atas kepala mereka.
"Sebenarnya tidak sih."
Taehyung nyaris headbangs dari lantai sepuluh lalu segera terbang ke langit ketujuh naik paus atlantik.
.
Seokjin menghempaskan kepalanya ke sofa, berusaha mencerna semua penjelasan Taehyung tadi. Mulutnya terbuka dan tatapannya datar ke langit-langit ruangan. Siapapun bisa salah persepsi melihat posisinya sekarang, mengira Seokjin sudah mati tercekik atau jiwanya sudah ditarik paksa karena telah melakukan kegiatan exorcist terlarang. Lalala, abaikan.
"Jadi secara non-biologis, kau ini adikku," gumam Seokjin, masih tidak beranjak dari posisi anehnya ini. Peduli amat dua pria berbadan sekelas Ade Ray yang di dalam hatinya mungkin lagi ngakak melihat dirinya yang sekarang. "Itu menjelaskan mengapa kau bersikap tidak sopan denganku, brat."
Cengiran kembali muncul di bibir Taehyung, tetapi yang kali ini terkesan horor sehingga Seokjin buru-buru bangkit dari posisinya dan duduk seperti semula. "Adik non-biologis terdengar sadis," tangan Taehyung terkibas. "Bagaimana bila 'Adik tiri'?"
"Itu lebih sadis, ppabo." Ketus Seokjin sarkatik.
Semasa Seokjin masih kanak-kanak, ekonomi keluarganya bisa dibilang melarat. Dan pada suatu hari seorang pria baik hati menawarkan memberi jaminan hidup yang layak bagi Seokjin saat ia besar nanti, jika keluarganya masih melarat. Orangtua Seokjin menyetujuinya. Pria tersebut memasukkan nama Kim Seokjin ke daftar 'Bangtan Famiglia', di mana semua anak bernasib seperti Seokjin diasuh. Orangtua asuh?! Mungkin.
Tetapi beberapa tahun kemudian, ekonomi keluarga Seokjin membaik. Pria tersebut mengundur penjemputan Seokjin untuk bergabung ke Bangtan Famiglia sampai ia sudah besarㅡatau akan dijemput kembali jika orangtuanya meminta. Atau ketika kondisi finansial keluarganya memburuk kembali.
"Aku rasa orangtuaku tidak memintaku untuk bergabung bersama kalian," kata Seokjin, menumpukan wajahnya di tangan sambil memajukan bibirnya tanda sedang berpikir. "Dan aku sudah besar. Aku bahkan sudah bisa mencari uang sendiri."
"Rupanya kau memiliki gangguan pendengaran, hyung," tanggap Taehyung, mengaduk-ngaduk isi cangkirnya dengan sendok kecil yang entah ia dapat dari mana. "Kan sudah kubilang tadi, pihak Bangtan Famiglia mengundur penjemputanmu sampai kau sudah besar. Dan sekarang kau sudah cukup besar untuk bisa kembali ke Bangtan Famiglia. Mengerti?"
"Sebenarnya," Seokjin mengetuk-ngetuk dagunya sendiri. "Siapa nama dari pria dermawan tersebut?"
Taehyung terdiam sejenak. "Aku sebenarnya tidak tahu nama aslinya," jawab Taehyung. "Kami biasa memanggilnya Papa. Dia akan datang sebulan sekali di mansion kami dan mengadakan makan malam bersama. Papa baik sekali, tapi ia selalu menolak untuk memberitahu identitas aslinya." Ia menghela nafas.
Mata Seokjin memicing seketika. "Kau tidak pernah curiga bahwa dia adalah orang jahat atau apa?"
Sedetik kemudian Taehyung tertawa. Bukan terkekeh atau apa. Benar-benar tertawa, dengan tulus. Ini pertama kalinya Seokjin melihatnya tertawa normal. "Jika dia orang jahat, aku tidak akan tumbuh sesehat dan seganteng ini." Dih narsis.
Seokjin menatap Taehyung dari atas ke bawah. Iya juga sih, anak ini sehat-sehat saja. Hanya saja mungkin akal dan pikirannya sedikit tidak sehat, mungkin. "Tapi aku masih tidak bisa percaya begitu saja," bersidekap, Seokjin menatap Taehyung dengan sedikit congkak. Kini gilirannya untuk menunjukan siapa sebenarnya tuan rumah di sini—eh bukan. "Apa kau punya bukti lain?"
"Tentu saja," Taehyung merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sepucuk amplop kertas yanng sedikit lecek. "Buka isinya. Kata Papa, isinya adalah izin legal yang diberikan kepada Bangtan Famiglia. Dia sudah menduga kau tidak akan percaya secepat yang kami inginkan." Ia menyodorkan surat itu ke arah Seokjin.
Masih dengan tatapan curiga, Seokjin menerima surat tersebut dengan perlahan lalu membuka amplopnya dengan hati-hati. Setelah ia menemukan selembar kertas di sana, Seokjin membacanya dengan baik-baik.
Irisnya melebar. "Dari mana kau bisa mendapat tanda tangan Park Geun Hye?!"
Tangan Taehyung kembali terkibas. "Itu masalah gampang. Presiden-ssi saja mengetahui soal Bangtan Famiglia."
Skak-mat. Seokjin rasanya ingin tenggelam sekarang.
"Bagaimana kalau kalian orang jahat?" tanya Seokjin kembali, kini lebih terdengar seperti pertanyaan yang konyol.
Hanya tawa kecil dari Taehyung yang menjadi jawabannya. Dia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya di hadapan Seokjin sambil menyeringai lebar. "Well, itu berarti hyung telah mengizinkan penjahat untuk masuk ke dunia hyung."
.
Lamborghini ini terasa tidak pantas Seokjin duduki sambil melengkungkan bibirnya ke atas, tapi mau bagaimana lagi. Seokjin sebal terhadap pemuda congkak di hadapannya. Memutuskan untuk menyeret paksa Seokjin dan menunjukkan kebenaran dari semua perkataannya... Bahkan Taehyung tidak memberikan Seokjin untuk menelepon polisi. Atau setidaknya, berkemas.
Dia bisa merasakan bahwa Taehyung memperhatikannya dari kaca spion atas sembari menyetir. Iya, bocah sialan itu yang menyetir sementara antek-anteknya mengiringnya menggunakan mobil lainnya. Dan Seokjin ogah untuk duduk di sampingnya sekalipun Taehyung memaksanya. "Jangan cemberut terus hyung. Nanti gak manis lagi lho." Komentarnya sambil tersenyum jahil.
Sedetik kemudian Taehyung menyumpal mulutnya dengan sabuk pengaman ketika melihat Seokjin mengangkat tinggi-tinggi gunting yang entah-berasal-dari-mana dan mengarahkannya ke jok mobil.
"Seberapa jauh mansion Bangtan Famiglia itu?" tanya Seokjin, memandang ke luar jendela dengan malas. Dia mulai merasa mengantuk, siapa suruh mobil ini terasa sangat nyaman.
"Lima belas menit lagi juga sampai," jawab Taehyung, kali ini tidak berani mencuri-curi pandang ke Seokjin. "Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa," Seokjin menguap kecil lalu menyenderkan kepalanya ke kaca jendela mobil. "Aku hanya merasa bosan."
"Memangnya apa yang kau harapkan dari mansion Bangtan Famiglia, hyung?"
Iris cokelat kelam Seokjin menatap Taehyung yang masih mengemudi. Jika saja pemuda ini lebih tenang dan tidak suka cari masalah, Seokjin dengan senang hati mengakui bahwa Kim Taehyung itu ehemtampanehem. "Rumah yang besar dengan halaman rumah yang luas dan ditumbuhi berbagai macam tanaman," gumam Seokjin, mengelus permukaan kaca jendela dengan pelan. "Di mana rumah itu terlalu besar sehingga para penghuninya bahkan tidak mengenal baik satu sama lain. Rumah dengan atmosfer udara yang dingin."
"Hyung," Taehyung mengetuk-ngetukan roda kemudinya. "Mendekat ke arahku."
Kali ini Seokjin sedang malas berdebat sehingga dia menurut saja. Seokjin mendekat ke arah jok pengemudi dan memiringkan kepalanya, melempar ekspresi bertanya.
Pluk. Tangan kiri Taehyung mengusap kepala Seokjin dengan lembut, membuat yang diusap melebarkan matanya. "Rambut hyung halus."
Untuk pertama kalinya, Seokjin tidak menolak perlakuan halus tersebut. Ia melenguh pelan dan menyandarkan kepalanya ke kiri—ke bahu Taehyung yang masih mengemudi.
Dan perlahan, kedua matanya terasa berat.
.
"Bangun milady."
Dengan berat hati, Seokjin membuka kelopak matanya yang terasa berat. Mengerjapkan matanya perlahan sebelum mengorganisir lingkungan di sekitarnya.
Seingatnya tadi ia berada di satu unit Lamborghini mewah, tertidur di bahu Taehyung sementara pemuda itu tampaknya tidak bisa berhenti mengusap rambutnya. Dia masih ingat. Seokjin tidak sepikun itu, kau tahu.
Dan sekarang. Terdampar di sebuah kasur yang sangat lembut di ruangan yang semuanya didominasi oleh warna pink lembut. Seokjin nyaris menjerit kesenangan karena mendapati ruangan ini dicat sesuai dengan warna kesukaannya, tapi kepalanya masih terlalu pusing untuk bisa eurofia.
Tapi tunggu... Dengan horor, Seokjin menoleh ke samping kanannya.
"Uh, akhirnya milady bangun juga."
Sesosok Kim Taehyung nyengir jahil ke arahnya dengan kepala bertumpu pada lengan kiri pemuda berambut cokelat tersebut. Seokjin mengerjap kembali. Mengerjap lagi. Dan mengerjap.
"AHOOOOO!"[2]
.
.
[1] : 'Nonaku' atau 'My Lady' dan sejenisnya. (German)
[2] : 'Idiot' (Japanese)
.
.
End of chapter ii : Obviously Family
.
.
Next Chapter Spoilers!
.
"Kau stalker-ku atau bagaimana?"
.
"Bunga-bunga saja tampak layu bila dibandingkan denganmu."
.
"KAU KEMANA HEE?!"
.
"Tch. Merepotkan."
A.N : Makin ancur gwaaah! /? *segera headbangs lagi* /sudahlah
Ini kok plotnya gak maju-maju ya-_- Stuck di Taehyungie. Kira-kira minggu depan/? siapa yang muncul ya?! Ayo voting voting di kotak review /moduslukebacathor-_-/
Rasanya konten makin gaje ya -" Saya kekurangan asupan FF Bangtan jadi ngadet gini otak lol. Makanya di chapter ini saya lebih munculin genre humor (gagal) ini. Jin-nya OOC gila -_-
So, mind to RnR? :9
