Fanfiction
Cast : Jongin, Sehun
Genre : Romance, Drama
Summary : Jongin tidak pernah menyangka suatu hari ia terbangun dengan status baru yaitu sebagai tunangan seorang anak milioner bernama Oh Sehun. Seharusnya dia bisa saja kan membeberkan kebenaran dan kembali pada hidup tenangnya? Tapi…Jongin memilih berperan menjadi tunangan Sehun. Hanya peran, tidak sungguhan. Benarkah hanya peran? HunKai/SeKai/SeJong. Yaoi.
Chapter Two
"Kenapa kau tidak bilang dari dulu kalau kau sudah punya pacar?!" Suara seorang wanita terdengar keras dari sebuah kamar kecil dirumah sederhana yang hangat itu.
"Aku awalnya tidak serius Bu, tiba-tiba dia melamarku dan memintaku bertunangan dengannya."
"Astaga..astaga.." Sang wanita berjalan mondar-mandir dalam kamar kecil milik anak bungsunya.
"Jongin, kau tahukan kau masih tujuh belas tahun?" Kini suara pria dewasa terdengar sedikit mengintimidasi.
"Tahu Yah, mana mungkin aku lupa umurku sendiri." Jongin, nama pemuda yang sedang diinterogasi duduk dengan kepala menunduk diatas kasurnya sementara kedua orang tuanya berdiri dengan wajah tegang.
"Jongin, jangan bercanda. Kenapa kau bisa bertunangan dengan Oh Sehun? Astaga, dia salah satu pemegang saham terbesar di Oh Company!" Sang ayah menghardik anaknya yang masih bisa-bisanya santai.
"Aku menyukainya Yah.." Jongin menjawab pelan. Sebenarnya ia tidak ingin berbohong pada orang tuanya, tapi ia tidak bisa mengambil resiko dengan mengatakan jika pertunangannya dengan Sehun adalah pura-pura.
Ya, Kim Jongin adalah pemuda tujuh belas tahun yang tidak sengaja bertunangan dengan seorang pria yang kebetulan anak bungsu dari keluarga pemilik perusahan ponsel pintar terbesar kedua di seluruh dunia.
"Bagaimana kau bisa mengenal Sehun?" Ibunya mendudukkan diri disamping Jongin dan menatap anaknya tajam.
"Tadi kan Sehun Hyung sudah menjelaskan. Aku dan Sehun Hyung bertemu waktu aku kunjungan sekolah diperusahaannya. Lalu kami dekat dan…dan berkencan.." Jongin menjawab perlahan. Mengatakan kebohongan yang sudah ia susun dengan tunangan palsunya.
"Apa kau tidak masalah dengan perbedaan umur kalian? Sebelas tahun Jong! Apa dia tidak terlalu tua untukmu?" Sang ibu masih bertanya dengan wajah serius. Dulu-dulu ia tidak pernah mendengar sekalipun anaknya memiliki kekasih bahkan orang yang disukai, tapi siang ini tiba-tiba anaknya pulang dan memperkenalkan seorang pria yang merupakan tunangan anaknya.
"Sehun Hyung baik Bu, karena dia jauh lebih tua jadi dia bisa menjagaku dengan baik. Aku tidak masalah kok dengan umur Sehun Hyung." Jongin menjawab lancar. Ah, maafkan anak ini yang sudah berbohong pada orang tuanya!
"Astaga, menyesal semalam Ibu menyuruhmu cepat menikah." Wanita setengah baya itu menghela nafas panjang.
"Ibu, Ayah, tenanglah. Aku dan Sehun Hyung mungkin sudah bertunangan tapi kan aku masih muda. Paling tidak dua tahun lagi sampai aku boleh menikah. Aku dan Sehun Hyung hanya ingin mempererat hubungan saja." Jongin menjawab dengan kata-kata yang sangat meyakinkan.
"Apa kau sudah bertemu keluarga Sehun?" Sang ayah bertanya lagi. Wajahnya masih tidak terima jika anak bungsunya tiba-tiba sudah bertunangan. Bagi pria ini, Jongin masih bayi! Dia tidak rela jika Jongin sudah tumbuh secepat ini.
"Be-belum.."
"BELUM?!" Sepasang suami istri itu menjerit kaget.
"D-dengarkan penjelasanku dulu, sebenarnya aku dan Sehun Hyung tidak ingin membuka hubungan kami secepat ini tapi…karena sudah terlanjur ketahuan wartawan—"
"Jadi kau sudah berencana juga untuk tidak memberi tahu kami?" Ibu Jongin memijat tengkuknya yang terasa kaku.
"Bu-bukan begitu Bu.." Jongin mengumpat dalam hati. Ada rasa menyesal ia menerima tawaran Sehun untuk berperan menjadi tunangannya.
"Sudahlah, jangan ditekan lagi. Toh Sehun adalah pria baik. Dia bahkan melamar Jongin, menunjukkan kalau dia serius dengan anak kita." Beruntunglah sang ayah bertindak lebih bijaksana dan menyelamatkan anaknya dari omelan sang ibu. "Jadi nanti malam kau baru akan bertemu keluarga Sehun?'
"Iya Yah."
"Astaga anakku sudah akan menikah.." Sang ibu berkata dengan suara dramatis.
"Ibu, aku masih tujuh belas tahun!" Jongin mendengus kesal.
"Kau masih kecil!" Kini sang ibu mulai terisak, antara senang dan sedih.
"Aggh!" Jongin mengacak rambutnya frustasi. Jongin tahu jika ayah dan ibunya senang dengan Sehun, terbukti dengan tidak diusirnya Sehun begitu menjelaskan maksud kedatangannya. Kedua orang tuanya hanya sedang terkejut. Sangat terkejut dan Jongin berusaha memakluminya.
"Keluarlah, Sehun pasti sudah menunggu lama." Ayah Jongin berkata dan menyuruh anaknya keluar kamar, menyusul Sehun yang masih menunggu diruang tengah. Sementara sang ayah mengusap-usap pungguh istrinya yang masih terlihat emosional.
Jongin keluar kamarnya dengan wajah sulit diartikan.
'Bagaimana?' Sehun bertanya tanpa suara dan Jongin hanya mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum.
"Sungguh?" Sehun bertanya khawatir.
"Sungguh, ibuku hanya masih shock."
"Apa ibumu punya sakit jantung?" Sehun masih terdengar khawatir.
"Tidak Hyung." Jongin menjawab pelan. Sebenarnya ia ingin tertawa karena pertanyaan Sehun, lucu juga melihat Sehun yang begitu khawatir dengan ibunya. "Jadi, bagaimana dengan makan malamnya? Apa aku harus sekali datang?"
"Tentu saja harus. Kenapa?" Sehun memandang Jongin yang memainkan cincin 'tunangan'nya.
"Aku takut." Jongin menjawab lirih. Siapa yang tidak takut jika jadi Jongin? Bertemu dengan keluarga besar dari Oh Company? Terlebih ia harus membohongi mereka semua? Jongin akan rajin berdoa setelah ini agar dosa-dosanya diampuni.
"Ada aku. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian disana." Sehun berkata lembut. Wajah tampannya menatap Jongin dengan siratan rasa bersalah. Jika saja kemarin bibirnya tidak asal bicara, pasti pria manis ini tidak akan terseret dalam masalah seperti ini.
Jongin menjawab dengan anggukan kecil.
Kini pasangan 'tunangan' itu berjalan-jalan dipinggir sungai Han. Bukannya mau sok romantis seperti pasangan tunangan yang lainnya tapi Jongin sedang gugup setengah mati dan Sehun mau tidak mau harus meminggirkan mobilnya dulu. Menunda keberangkatan mereka menuju rumah keluarga besarnya.
"Ini, makanlah es krim." Sehun menyodorkan sebuah es krim cone rasa cokelat pada Jongin.
"Terima kasih." Jongin menerimanya dengan senyum lebar. Jongin sangat suka es krim dan makanan itu bisa membantunya mendinginkan otaknya yang sedang kepanasan. Sehun tersenyum dan duduk disamping Jongin, ikut memakan es krim yang ia beli untuk dirinya sendiri.
"Maaf Hyung." Jongin bergumam pelan setelah beberapa saat diam.
"Untuk apa?"
"Karena aku terlalu gugup."
"Kenapa kau harus minta maaf?" Sehun tertawa kecil. "Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah menyeretmu dalam masalah ini."
"Tapi kan aku sudah dibayar." Jongin menjawab pelan.
"Jadi kau melakukan ini semua hanya karena tawaranku itu?" Sehun bertanya dengan alis terangkat.
"Aku kan sudah bilang kalau aku ingin membantu, bukan karena tawaran itu saja!" Jongin menjawab kesal. Kesannya ia adalah pemuda bayaran yang bisa dibeli kapan saja oleh Sehun ketika mendengar pertanyaan Sehun.
"Kalau begitu jangan bilang 'aku kan sudah dibayar'!" Sehun berkata dengan suara meninggi. Sehun pikir ia suka mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Jongin? Sehun tidak ingin keadaan seperti ini juga, ia ingin…ia ingin…jika pertunangan ini nyata.
"Tidak usah berteriak padaku bisa tidak sih Hyung?!" Jongin langsung kesal mendengar suara Sehun yang meninggi.
"Kata-katamu membuatku kesal!"
"Memangnya kata-kata Hyung tidak membuatku kesal?! Hyung membuatku merasa seperti orang yang mengejar uang Hyung saja tahu!"
"Kau sendirikan yang bilang kau kalau sudah besar tidak mau menikah denganku. Berarti kau hanya menginginkan pekerjaan itu saja!" Sehun balas berteriak. Entah bagaimana kata-kata Jongin kemarin sore masih membekas lekat dalam ingatannya: 'kalau aku sudah dewasa aku juga tidak mau menikah denganmu'. Pertama kali mendengarnya Sehun memang sedikit kesal tapi lama kelamaan entah mengapa Sehun jadi kesal setengah mati mendengar kalimat yang diucapkan Jongin waktu itu.
Tidak ada orang yang tidak ingin menikah dengannya.
Dia tampan, dia kaya, dia pintar.
Apa yang kurang dari Oh Sehun?
Dan Jongin sudah bisa bilang tidak ingin menikah dengannya tanpa berpikir panjang?
"Aku ingin membantu Hyung! Aku tidak usah diberi pekerjaan juga tidak masalah! Ternyata Hyung menilaiku rendah sekali!" Jongin marah. Harga dirinya terluka. Siapa yang tidak terluka kalau menjadi Jongin? Niatnya baik malah Sehun mengucapkan hal seperti itu.
"Aku benci Hyung!" Jongin berteriak kesal pada Sehun dan berjalan secepat yang ia bisa menuju entah kemana. Kemana saja yang penting tidak melihat Sehun. Kakinya menghentak-hentak jalan paving menunjukkan betapa kesalnya dia.
"Jongin! Jongin!" Sehun mengejar Jongin yang marah. Bisa bahaya kalau Jongin pulang sendirian, bukannya takut Jongin akan tersesat. Tapi bagaimana dengan janji makan malam dengan keluarganya?
"Sana cari orang yang bisa Hyung beli dengan mudah! Aku tidak jadi mau membantu Hyung!" Jongin berjalan semakin cepat.
Kenapa Jongin seperti anak gadis yang sedang ngambek sih? Pikir Sehun
"Jongin, ayo kembali ke mobil!"
"Tidak mau!" Jongin berteriak keras.
"Jongin! Kita akan terlambat!"
"Hyung yang terlambat! Aku tidak! Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang yang hanya berpikir kalau aku—akhh!" Jongin berhenti mengomel dan berteriak. Tubuhnya terasa diangkat paksa oleh tangan besar. Dalam beberapa detik Jongin digendong oleh Sehun diatas bahunya, seolah-olah Jongin adalah karung beras.
"HYUNG TURUNKAN AKU!" Jongin berteriak keras, membuat beberapa orang menoleh kearah Jongin dan Sehun. Ada yang terkekeh melihat kelakuan mereka dan ada juga yang terheran-heran.
"TOLONG AKU MAU DICULIK!" Jongin berteriak lagi namun tidak ada yang menghiraukannya. Siapa juga yang percaya? Mana ada penculik yang dengan santainya berjalan ditaman pinggir sungai Han?
Jongin terus meronta-ronta namun ia tahu kalau ia akan kalah. Sehun jauh lebih besar dan kuat darinya. Menggendong Jongin dengan satu tangan saja Sehun sama sekali tidak terlihat kesulitan.
"Hyung lepaskan aku!" Jongin meronta lagi ketika ia dipaksa masuk kedalam mobil Sehun.
"Bukankah kau bilang kau suka didominasi? Hm? Jadi menurutlah padaku." Sehun berbisik pada telinga Jongin sambil memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Jongin. Pemuda manis itu langsung merinding mendengar suara rendah Sehun ditelinganya, suara rendah yang sama seperti yang pernah ia dengar beberapa malam sebelumnya ketika ia menghabiskan malam diranjang pria dua puluh delapan tahun ini.
Jongin diam.
Jongin masih marah pada Sehun yang menganggapnya hanya menginginkan imbalan dari pria itu. Padahal dia kan pernah bilang kalau ia hanya ingin menolong Sehun walaupun ia tidak menolak tawaran Sehun juga sih..
"Kita mampir kesini sebentar. Kita tidak bisa menemui keluargaku hanya mengenakan kaos." Sehun meminggirkan mobilnya didepan sebuah butik besar dari Prancis yang terkenal dengan harganya yang selangit.
Jongin diam saja.
Sebagai bentuk luapan kemarahannya pada pria itu.
Begitu Sehun membukakannya pintu, baru Jongin mau keluar dengan wajah ditekuk. Sehun tidak bisa menahan senyumannya karena wajah manis Jongin imuuuut sekali kalau lagi marah seperti itu.
"Selamat datang Tuan, ada yang bisa kami bantu?" Dua orang pelayan bersenyum ramah langsung menyambut kedatangan Sehun dan Jongin.
"Aku ingin kemeja yang tidak terlalu formal untuk dia." Sehun menunjuk Jongin yang masih cemberut.
"Tentu saja Tuan."
Tidak sampai lima belas menit Sehun dan Jongin sudah berada didalam mobil Sehun lagi. Mobil Sehun melaju dengan secepat mungkin dalam kemacetan Kota Seoul. Jongin masih dalam mode ngambeknya dan Sehun berusaha sebisa mungkin mempertahankan sikap cool-nya walau sebenarnya ia ingin sekali mencubit pipi gembil Jongin.
"Jongin, apa kau masih ingat—"
"Iya aku masih ingat!" Jongin menjawab ketus.
"Ingat apa?"
"Kebohongan apa yang harus aku katakan didepan keluarga Hyung supaya aku bisa mendapat bayaran!" Jongin menekankan kata 'bayaran' pada kalimatnya. "Kita bertemu waktu sekolahku mengadakan kunjungan ke perusahaan Hyung dan kita berkenalan di toilet. Lalu kita berkencan selama dua bulan dan Hyung baru melamarku seminggu yang lalu."
"Great." Sehun mengangguk kecil. "Dan jangan marah-marah terus Jong, nanti manismu hilang."
Jongin yang mendengarnya hanya membuang muka untuk memandang kemacetan yang menjebak mereka. Tentu saja hal itu untuk menyembunyikan rona merah dipipinya karena dipanggil manis oleh Sehun.
—
"Makan yang banyak Jongin, lihat pipimu tirus sekali."
Tirus dari mana, aku liburan ini sudah naik tiga kilo.
"Kau suka daging atau ayam?"
"Jangan hanya diberi daging saja Bu! Ini sayurnya juga!"
"Biar Jongin memilih makanannya sendiri astaga."
"Paman, apa benar Paman bukan wanita?"
Jongin tersedak mendengar pertanyaan keponakan Sehun. Dan Sehun dengan manisnya langsung menyodorkan segelas air padanya. Diikuti pandangan gemas anggota keluarga Sehun melihat betapa manisnya pasangan baru didepan mereka.
"Mau air lagi?" Sehun mengelap bibir Jongin dengan mesra seolah hal itu sudah biasa mereka lakukan.
"Tidak terima kasih Hyung." Jongin menggelengkan kepalanya. Pipinya begitu merah karena perlakukan Sehun begitu manis hingga Jongin harus berkali-kali mengingatkan dirinya jika disini ia hanyalah berpura-pura. Bahkan Jongin harusnya masih marah pada Sehun kan?
Kedatangan Jongin tadi begitu memalukan bagi pemuda manis itu, bagaimana tidak? Jongin sama sekali tidak memperhatikan jika label harga masih terpasang pada pakaian barunya. Jongin sungguh malu sekali ketika kakak lelaki Sehun menegurnya. Untung saja keluarga Sehun terlihat biasa saja dengan kecerobohan Jongin bahkan mereka malah tertawa gemas melihat kegugupan Jongin.
Lalu, keponakan Sehun yang masih lima tahun memanggilnya Noona.
Jongin tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar ia dipanggil Noona. Memang ia sering mendengar jika ia terlalu manis untuk ukuran seorang pria, tapi tidak pernah ada yang sampai memanggilnya Noona atau Unnie!
Ketiga, Jongin bersikap norak sekali dengan jamuan makan malam yang disediakan keluarga Sehun. Jongin tidak bisa mengontrol rasa kagumnya pada jumlah dan menu yang ada didepannya. Dan lebih kesalnya, Sehun sama sekali tidak membantunya melewati tiga momen memalukan yang sudah terjadi padanya kurang dari satu jam itu. Sehun hanya ikut tertawa bersama keluarganya.
Jongin kesal setengah mati!
"Kalian baru berkencan dua bulan kenapa sudah seperti bertahun-tahun ya?" Ibu Sehun tersenyum lebar melihat Jongin dan Sehun yang begitu manis.
"Uh.." Jongin menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Sejujurnya ia tidak biasa mendapat perhatian sebanyak ini dari orang-orang disekitarnya. Hanya ibunya yang selalu berkomentar atas apapun yang ia lakukan. Ayahnya sibuk bekerja dan bukanlah tipe pria yang banyak bicara. Sedang kakak perempuannya selalu sibuk dengan kegiatan sekolah, kampus dan kini sibuk bekerja.
"Aku sendiri juga masih heran kenapa aku bisa tergila-gila pada Jongin. Aku hanya merasa langsung cocok, aneh kan Mom?"
"Tidak aneh kok. Dulu Mommy dan Daddy juga seperti itu. Iya kan sayang?"
"Ughh..Mom hentikan." Kakak tertua Sehun mengerang melihat ibu dan ayahnya yang sok mesra.
"Mom, benarkan Paman Jongin itu laki-laki?" Keponakan Sehun bertanya lagi dengan mata penuh rasa penasaran pada ibunya yaitu kakak perempuan Sehun.
"Memangnya kenapa Jiwon? Apa Paman Jongin seperti perempuan?"
"Iya Mom, Paman Jongin cantik." Jiwon, bocah lima tahun yang membuat Jongin malu setengah mati berkata dengan kejujuran yang terlihat jelas dan anggota keluarga Sehun pun terkekeh.
"Jiwon, aku laki-laki." Jongin berkata pelan, memberi penjelasan. "Lihat ini Paman punya jakun." Jongin berkata sambil mendongakkan kepalanya dan menunjukkan jakunnya. Hal itu membuat keluarga Sehun tertawa lagi, bagi mereka kelakuan Jongin sama kekanakannya dengan kelakuan Jiwon, sangat menggemaskan.
Sehun terus tersenyum dan tertawa sepanjang makan malam. Hatinya terasa ringan melihat keluarganya seriang ini setelah kedatangan Jongin. Memang sudah beberapa bulan terakhir ayah dan ibunya mendesak Sehun untuk segera mencari kekasih yang serius. Entah sebuah kebetulan atau takdir, ia dan Jongin tiba-tiba terjebak dalam pertunangan palsu ini.
Orang tua Sehun bukanlah tipe orang tua keras yang menekan anaknya untuk menuruti kemauan mereka. Tiga kakak Sehun sudah berkeluarga semua dan semuanya bukan karena perjodohan yang tidak mereka inginkan. Ada yang dijodohkan tapi itu atas persetujuan si anak, bukan semata-mata keinginan mutlak orang tuanya.
Menantu keluarga Oh sendiri juga tidak semuanya berasal dari keluarga terpandang atau kaya raya. Ada juga yang dari keluarga biasa-biasa saja, ayahnya Jiwon misalkan. Suami kakak perempuan Sehun itu bukan berasal dari keluarga kaya raya tapi usaha dan kerja keras yang membuat kakak iparnya bisa menjadi sukses dan mampu mencukupi gaya hidup kakaknya yang termasuk mewah.
Sehun tahu kalau keluarganya akan menyukai Jongin. Jongin adalah pria yang manis dan uh, lugu. Walaupun tidak selugu yang mereka bayangkan. Tapi hati Jongin bersih dan polos. Satu hal yang Sehun sukai dari Jongin adalah niatnya. Sehun terenyuh waktu mendengar Jongin mengatakan kalau pemuda itu ingin membantunya. Ah, Sehun jadi merasa bersalah sudah mengatakan hal-hal yang membuat seolah Jongin adalah pria materialistis.
"Mom, Jongin harus pulang." Sehun berkata sambil merangkul pinggang ramping Jongin mesra. "Ini sudah hampir jam sepuluh malam."
"Sudah jam sepuluh?" Ibu Sehun terkejut dan mengecek jam tangannya. Tidak ia sangka waktu berlalu cepat sekali ketika ia mengobrol dengan Jongin tentang masa kecil anak bungsunya.
"S-sudah jam sepuluh ya?" Jongin sama terkejutnya. Perasaan baru beberapa menit ia duduk dan menikmati makanan penutup sembari mendengarkan cerita ibu Sehun. Dilihat sekelilingnya, kakak lelaki dan ayah Sehun sudah tidak ada. Hanya tinggal kakak perempuan Sehun, Jiwon dan Sehun diruangan itu.
"Mereka sudah pulang duluan karena ada urusan mendadak." Sehun menjawab kebingungan Jongin yang terkejut melihat anggota keluarga Sehun hampir sudah pulang semua.
"Kenapa aku tidak tahu?" Jongin mengernyitkan dahinya bingung. Wajah manisnya terlihat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu. Andaikan pemuda itu sungguhan tunangannya mungkin Sehun sudah mencium bibir penuh Jongin.
"Kau terlalu sibuk menggosipkanku dengan Mommy." Sehun menjawab datar dan membuang muka agar tidak semakin gemas melihat wajah manis Jongin. Sejak awal pertemuannya dengan Jongin, Sehun memang sudah mengakui jika Jongin itu sangat manis dan cantik. Tapi dua hari mengenal pemuda itu, ia sudah merasa akan diabetes. Apapun yang dilakukan Jongin terlihat menggemaskan baginya, bahkan sangat marah sekalipun. Sehun harus mengingatkan dirinya berulang kali jika Jongin bukanlah kekasihnya dan pemuda itu tidak mau menjadi kekasihnya.
"Bibi, aku harus pulang." Jongin berkata dengan berat hati. "Oh astaga, Jiwon sampai sudah tidur pasti dia kelelahan sekali.." Jongin terperanjat melihat Jiwon yang sudah tidur pulas diatas bantal besar yang disediakan restoran mewah itu. Restoran yang mereka kunjungi memang sebuah restoran yang dikenal dengan tingkat privasinya yang tinggi. Setiap pengunjung akan ditempatkan pada sebuah ruangan tertutup dan mereka bisa makan dengan nyaman tanpa perlu merisaukan gangguan dari pengunjung lainnya.
"Kapan-kapan bawa Jongin kerumah ya Hun, Mommy belum puas mengobrol dengan Jongin!" Ibu Sehun berkata pada anak bungsunya.
"Tentu Mom." Sehun tersenyum lebar dan berjalan keluar mengantarkan ibu, kakak perempuan dan keponakannya menuju tempat dimana sopir dan mobil sudah menunggu. "Pulanglah dan langsung istirahat Mom, jangan menonton drama."
"Iya, iya." Ibu Sehun cemberut pada nasehat anaknya. "Jongin, Bibi pulang dulu ya. Bibi tunggu kau kerumah, oke?"
"Hehe. Iya Bi." Jongin hanya mengangguk sambil tersenyum canggung. "Selamat malam Bibi, Noona. Hati-hati dijalan."
Ibu Sehun dan kakak perempuan Sehun tersenyum pada Jongin sebelum mobil mewah yang mereka naiki mulai berjalan meninggalkan area lobi restoran, meninggalkan Jongin dan Sehun berdua dengan pertengkaran yang belum benar-benar selesai.
"Kau mau jalan-jalan sebentar disekitar sini?" Sehun bertanya pelan untuk memecahkan keheningan yang terasa begitu canggung.
"Bo-boleh." Jongin mengiyakan. Biarpun kini mungkin sudah lewat jam sepuluh malam, dia tidak peduli. Dia kan anak laki-laki, ibunya tidak begitu peduli dia pulang jam berapa.
Sehun dan Jongin berjalan perlahan keluar dari area restoran menuju trotoar yang sudah mulai sepi oleh pejalan kaki. Tidak ada yang bicara, mereka hanya berjalan beriringan menikmati angin sejuk di musim panas.
"Terima kasih, omong-omong." Sehun yang lebih dewasa memecah keheningan.
"Untuk apa?" Jongin bertanya pelan.
"Kau benar-benar mempesona didalam tadi." Sehun menunduk, memandangi ujung sepatunya. Ia tidak mau memandang Jongin karena merasakan kehadiran pemuda itu disampingnya saja sudah membuat ia berdebar, apalagi kalau memandang wajah manisnya?
"Me-mempesona?" Pemuda manis itu terkejut mendengar ucapan Sehun. Mempesona apanya? Dia tadi didalam bahkan sangat kaku dan canggung, belum lagi tadi ia lupa tidak melepas label harga dibajunya, lalu sikap noraknya pada jamuan makan malam.
"Iya, kau mempesona." Sehun tidak mau menjelaskan bagian mana yang mempesona karena menurutnya semua yang ada pada diri Jongin itu mempesona.
"Aku tadi sangat canggung Hyung, aku banyak melakukan hal memalukan dan aku terlalu tegang setiap kali Hyung menyentuhku.." Jongin bicara jujur apa adanya sambil memegang pipinya karena malu mengingat betapa makan malam tadi kacau karenanya.
"Keluargaku menyukaimu. Ibuku sangat menyukaimu. Semua orang menyukaimu." Sehun berhenti berjalan dan menunjuk sebuah bangku beton kosong yang berjejer dibawah pepohonan rimbun sepanjang jalan.
"Sungguhan mereka menyukaiku?" Jongin bertanya dengan mata terbelalak.
"Tentu saja." Sehun membersihkan bangku beton itu dan mempersilahkan Jongin untuk duduk. Jongin menggigit bibirnya melihat perlakuan manis Sehun padanya. Mungkin memang Sehun memiliki sikap gentleman jadi jangan terlalu besar kepala dulu, Kim Jongin.
"Ta-tapi aku tadi canggung sekali.." Jongin memandang Sehun yang duduk disebelahnya.
"Mungkin kalau kita bergandengan tangan, kecanggungan kita akan berkurang." Sehun memandang wajah Jongin dengan tatapan hangat yang bisa melelehkan siapapun, mulai dari wanita, pria, tua dan muda. Tangan besar Sehun meraih tangan langsing Jongin dan menggenggamnya. "Begini."
Jongin memandang tangannya yang sudah digenggam erat oleh Sehun dengan pipi merah padam dan juga jantung yang berdebar. Bohong kalau ia mengatakan Sehun tidaklah menarik hatinya. Sehun sangat menarik hatinya tapi ia tidak tahu apakah Sehun adalah orang yang tepat. Mengingat perbedaan umur mereka lalu status mereka. Rasanya terlalu mustahil saja Sehun dan dirinya benar-benar memiliki hubungan spesial.
"Jongin, aku ingin minta maaf atas perkataanku barusan. Aku tahu kau hanya berniat membantuku dan tidak mengharapkan imbalan apapun." Sehun memecah keheningan setelah beberapa lama keduanya diam.
"Uh.."
"Aku hanya sedang kesal saja jadi asal bicara."
"Memangnya Hyung kesal kenapa?" Jongin bertanya penasaran.
Kesal karena ucapanmu yang tidak ingin menikah denganku. "Bukan hal penting kok."
"Jangan ulangi kata-kata itu lagi, aku sangat kesal mendengarnya." Jongin berkata lirih. "Hyung bisa kah kau ceritakan tentang keluargamu? Kakak Hyung banyak sekali, ibu Hyung juga keren!"
Sehun tertawa mendengarnya.
"Kau belum bertemu dengan semua keluargaku. Masih ada nenekku yang luar biasa cerewet, lalu kakak laki-lakiku satu lagi." Sehun tanpa sadar mengeratkan pegangannya pada tangan Jongin. Jari besarnya mengelus-elus tangan Jongin sambil bercerita tentang keluarganya.
Sehun adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Dua kakak laki-laki bernama Kris dan Suho lalu kakak perempuannya bernama Minah. Semua kakaknya sudah berkeluarga namun yang memiliki anak barulah Minah saja. Semua keluarganya sudah memiliki rumah masing-masing walaupun kenyataannya mansion mewah milik ayah Sehun masihlah selalu ramai oleh celoteh empat anak-anaknya. Belum lagi dua paman Sehun yang sampai saat ini entah kenapa belum juga menikah. Mansion itu selalu meriah.
"Bagaimana dengan keluargamu?"
"Aku?" Jongin tersenyum dan berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sehun. "Aku juga anak bungsu tapi aku cuma punya satu kakak perempuan. Kakakku pegawai biasa dan ayahku juga pegawai biasa. Aku juga hanya punya seorang nenek."
"Bagaimana dengan sekolahmu? Apa kau punya pacar?"
"Pacar?" Jongin menggeleng malu. "Aku tidak punya pacar."
"Benar juga, kalau kau punya pacar kau pasti tidak mau melakukan ini." Sehun tertawa kecil. "Kalau boleh tahu, kenapa malam itu kau nekat sekali?"
"Malam itu?" Jongin mengerutkan dahinya, tidak mengerti.
"Malam itu, waktu kau, uh, ke apartemenku." Sehun sedikit malu untuk mengatakan maksudnya secara terus terang.
"Ah.." Pipi Jongin bersemu lagi, "Aku hanya penasaran. Teman-temanku kebanyakan sudah merasakannya jadi…jadi…"
"Bukankah seharusnya kau melakukan hal itu dengan orang yang kau sukai?" Sehun bertanya dengan alis terangkat. "Apa kau menyukaiku?"
"A-apa?"
To Be Continue
Hehehehe.
Update juga akhirnya.
Sebenernya mau update yang Crime To Love You duluan tapi idenya masih mampet :(
Mumpung belum ada aneh-anehnya Author mau update seri ini dulu deh, dan updatenya agak maleman ngga kayak biasanya sore-sore udah update wkwk.
Memastikan kalo temen-temen semua udah membatalkan puasa hahaha.
Sekali lagi mengingatkan semua seri maljum libur duluuuu
Jangan minta update seri maljum dulu wkwk
Bagus ngga chapter iniii?
Kasih kritik dan saran yaaaa hehehe
Jangan lupa review-nya jugaaa^^
Gomawo chingu!
