Sleepy Party
Summary: Menginap di rumah sahabat baru memanglah hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Namun apa jadinya jika di malam pertama saja sudah ada kejadian tak menyenangkan yang dialami oleh Hinata. Tak disangka tak dinyana, tak diduga tak ditanya, eh, ternyata eh ternyata, kejadian tersebut adalah awal kisah baru bagi sang Hyuuga muda kita... / Sorry, gak pandai buat summary... RnR please... ^^
Disclaimer: Masashi Kishimoto always
Pair: Gaara x Hinata [4ever ever after *?*]
Rated: T
Genre: Romance, drama, family, fluffy and humor [maybe]
Warning: OOC tingkat akut, AU, typo, gaje, abal, ide pasaran, dan warning-warning lainnya
DON'T LIKE DON'T READ
CHAPTER 2: Sleep Party
...
Hinata merasakan sinar hangat yang menerpa kulit putih wajahnya. Menggeliat sedikit dan terasa pegal, perlahan Hinata membuka kedua amethysnya. Beberapa kali ia mengerjap untuk beradaptasi dengan kuantitas cahaya yang ada, hingga erangan kecil membawa tubuhnya untuk duduk bangun termenung di tempat tidur.
"Jam berapa ini?" menolehkan kepalanya pada jam kecil berbentuk kucing di nakas, Hinata melihat jarum pendek jam itu mengarah hampir tepat ke angka enam. "Masih pagi..." Hinata beranjak dari kasurnya dan langsung membereskannya. Setelah meregangkan otot dan melakukan senam kecil, Hinata berjalan ke arah jendela kamar yang menghadap langsung pada taman samping pekarangan rumah. Menyibakkan gorden putih gadingnya, dan mengangkat kacanya ke atas jendela. Seketika, udara sejuk khas musim semi menyambut wajah ayunya yang tak sadar menyunggingkan senyum pada pagi hari ini. Serta merta udara segar itu masuk memenuhi ruang kamar diiringi cahaya hangat lembut sang mentari pagi.
Pagi keempat di Kota Konoha. Awalnya Hinata mengira bahwa udara di kota tak seenak di desa. Nyatanya, dugaannya itu meleset. Tak semua tempat di Kota Konoha ini berudara panas dan pengap. Berterima kasihlah ia pada Hiashi yang sangat pintar memilih lokasi perumahan hijau yang terhindar dari hiruk pikuk kesesakan polusi. Yah, meski Hinata akui udara disini tak sesejuk yang ada di desa.
Setelah puas memandangi guguran sakura juga mekar bunga-bunga, Hinata bergegas mandi dan mengganti piyamanya dengan pakaian rumah. Menuju lantai dasar dan menghampiri ibunya yang memasak, ditemani Hanabi yang mencuci sayuran masih lengkap dengan piyama birunya. Hinata menyapa Hiashi di meja makan yang sedang membaca koran pagi ditemani secangkir kopi, dan seperti biasa pula, hanya dijawab gumaman 'hn' olehnya.
"Ohayou Tou-san, Kaa-san, Hanabi-chan..."
"Ohayou Hinata-nee..." jawab Hanabi sambil meletakkan sebuah paprika di ember. "Ohayou Hinata-chan..." ibu Hinata tersenyum tanpa menghentikan aktifitasnya menggoreng ikan. Hanabi yang melihat Hinata sudah hadir disana merasa mendapat kesempatan untuk kabur dari ibunya. Yah, gara-gara dirinya yang tak sengaja dipergoki sedang meminum segelas air oleh sang ibu yang baru pulang dari belanja, gadis tomboy itu disuruh membantu Hikari -ibunya- untuk memasak di dapur. Pengennya sih, Hanabi merajuk ingin pergi ke kamarnya lagi... tapi begitu melihat ayahnya yang baru melepas mantel sehabis mengantar si ibu dan beralih ke meja makan, Hanabi jadi ciut dan mengurungkan niatnya itu. Aura sangar seorang Hiashi memang tidak bisa dilawan. Nah, kebetulan sekali, melihat Hinata yang baru turun dan menuju dapur, Hanabi jadi punya kesempatan untuk kabur kembali menuju kamarnya. Apalagi kalau bukan untuk melanjutkan tidur molornya yang sempat tertunda karena kehausan. *didepak Hanabi*
Jam hampir mengarah tepat pada angka tujuh saat beberapa wadah makanan di meja persegi kayu itu mulai bermunculan membawa berbagai hidangan menggiurkan di atasnya. Tak lama, Neji turun menggunakan baju formal yang sangat rapi. Rambut panjangnya ia ikat sedemikian rupa hingga terlihat kendor di bagian atas, namun ketat di bagian bawahnya. Begitu sampai di dapur, seketika langsung tercium aroma mint yang begitu menyegarkan dan membuat sang puteri dan ratu disana tersenyum manis menyambut kedatangannya. Namun tidak bagi sang raja yang langsung mengucapkan kritikan pada satu-satunya pangeran di keluarga itu. *emang keluarga kerajaan *
"Apakah kau bisa makan dengan aroma parfum menyengat seperti ini?" Neji memberengut. "Bisakah Tou-san tidak mengritikku terus? Aku begini kan juga untuk mengantar Tou-san ke stasiun nanti." Hinata terhenyak. Meski hanya menggumam, tapi gumamannya itu masih bisa didengar Hikari dan membuat wanita itu menggunakan apa yang barusan ia dengar untuk menggoda putra tunggalnya.
"Tou-san apa Tou-san?" wanita itu melempar senyum jahil pada Neji saat meletakkan sebaskom sup kare di meja. "Kaa-san bilang apa sih?" Hikari melebarkan senyumnya. "Aku baru ingat bahwa asramamu dekat dengan kereta api yang kita naiki tempo hari. Dan, mungkin juga itu alasanmu menolak bersekolah disini dan memilih bersekolah disana, untuk bisa lebih dekat dengan stasiun. Yang artinya, kau bisa sewaku-waktu mengunjungi Tenten-chan dengan mudah kan?" Neji membeliak sedang Hiashi kini menatap Neji. "Ahh... Mungkin kalau Hinata-chan tadi tidak memberitahuku, mungkin aku tak pernah tahu apa motifmu sebenarnya menolak bersekolah disini, Neinei-chan, hihi..." Neji langsung menatap Hinata horor yang disambut palingan wajah Hinata yang berpura-pura sibuk mencuci sesuatu di washtafle.
"Tadi malam kau khawatir pada Hinata karena masalah pria, sekarang kau sendiri yang ingin mendapat seorang gadis dengan cara seperti itu." Hiashi sedikit memberi argumen. "Sumimasen, Otou-san..." Hikari yang melihat suaminya seperti itu malah mendeathglarenya, dan itu berhasil. "Hhh... bukannya aku melarang atau apa, tapi hal seperti itu jangan terlalu diutamakan. Utamakanlah sekolah dulu, dan dapatkan pekerjaan yang layak untuk keluargamu kelak. Terutama kau Neji. Kau adalah seorang pria, dan tugas seorang pria adalah menafkahi keluarganya. Kau harus bersekolah yang benar, lalu serius dengan orang yang memang kau sukai, dan bahagiakanlah keluargamu kelak." Nasihat Hiashi.
"Baik Tou-san." Neji merasa terilhami dan menjawab mantap akan apa yang Hiashi ucapkan. Sedang Hikari hanya memutar kedua bola matanya bosan. "Jangan salahkan Neji yang mengejar-ngejar seorang gadis sampai seperti itu. Neji, Hinata, Tou-sanmu dulu pun dulu juga seperti itu. Memohon-mohon pada Tou-sannya Kaa-san agar mengijinkan putrinya yang cantik ini bisa diajak pergi berkencan. Pernah, sampai terpeleset ke sungai gara-gara ingin mengambilkan keranjang Kaa-san yang terjatuh di tanah landai sungai. Huh, tak salah jika Neji mewarisis sifat ayahnya," Hinata terkikik pelan sedang sang ayah merasa harga dirinya dijatuhkan di hadapan anak-anaknya oleh isteri sendiri. "Kimi wa..."
"Nani?" tantang Hikari yang seolah tak peduli tatapan tajam Hiashi. Tak berselang lama, semua makanan pun siap tersedia di atas meja makan. Saat Hikari ingin memanggil anak bungsunya, si bungsu pun dengan semangat masa muda –kayak Lee aja- berlari dan hampir tersandung di tangga saking semangatnya. Setelah ditegur dan berdebat-debat ria bersama kakak sulungnya, Hanabi menempati tempat duduknya seperti biasa dan keluarga bahagia itupun mulai memanjatkan doa bersama untuk mensyukuri apa yang telah Kami-sama berikan pada mereka hari ini.
"Itadakimasu..." ditengah-tengah sarapan pagi mereka, Hinata melontarkan sebuah pertanyaan pada Hiashi. "Apakah Tou-san hari ini jadi pergi ke Kiri?"
"Hn. Setelah ini Tou-san akan langsung berganti pakaian dan pergi ke kediaman Sabaku bersama Neji."
"B-bolehkah aku ikut?" Hinata berharap.
"Ini masih pagi Hinata, tak baik berkunjung ke rumah seseorang pagi-pagi seperti ini. Apalagi ini akhir pekan, bisa-bisa kau dikira mengganggu waktu istirahat orang." Hinata nampak murung. Namun kembali memasang wajah senang saat ayahnya berkata, "Nanti akan coba aku tanyakan tentang putri Sabaku itu, dan akan kusampaikan salammu padanya. Dan ada baiknya bila kau kesana saat sore saja." ucap Hiashi tenang tanpa mengalihkan kegiatan makannya.
"Arigatou, Tou-san." Selesai sarapan, Hiashi dan Neji bersiap dengan koper masing-masing untuk menaiki taksi yang telah dipesan. Rencananya mereka nanti akan menumpang pada mobil keluarga Sabaku, karena mobil mereka masih dalam proses perbaikan. Ketiga perempuan yang ada di depan rumah pun mengantar kepergian dua laki-laki tercintanya itu dengan doa mereka. Sedang kedua prianya hanya mengucap pamit singkat seperti biasa.
"Kami pergi Anata, Hanabi, Hinata," Hiashi mengecup kening isterinya lalu mengusap puncak kepala kedua putrinya singkat.
"Mungkin aku akan mengunjungi desa untuk bertemu Tenten dan mengunjungi Jii-san dan Baa-san nanti," dan untuk pertama kalinya, Neji jujur terhadap keluarganya akan tujuannya hari ini. Tak lagi menutup-nutupi lagi dan berusaha bersikap dewasa. Tak peduli jika dirinya terus digoda Hanabi atau Hikari, yang penting ia tak membohongi perasaannya lagi dan itu membuatnya lebih tenang.
"Hati-hati di jalan..." ketiga perempuan itupun mengiringi kepergian anggota keluarga pria mereka dengan melambaikan tangan. Setelahnya, Hinata dan ibunya beres-beres rumah dan berkebun, hal yang lumrah mereka lakukan saat akhir pekan. Sedang Hanabi pamit untuk pergi ke warnet bersama seorang gadis tetangga yang baru dikenalnya.
Seperti yang disarankan oleh Hiashi, hari itu Hinata datang ke rumah Matsuri sekitar jam tiga sore. Tak banyak yang ia bawa, hanya sepasang piyama dan sebuah baju terusan. Berjalan kaki menuju blok utara di mana terdapat kediaman Sabaku, Hinata cukup berjalan saja untuk bisa sampai disana. Yah, karena memang kediaman itu tak sampai berjarak satu kilometer dari blok selatan kediaman Hyuuga. Ditambah lagi karena Hinata ingin lebih bisa mengenal area sekitar juga menikmati udara sore yang khas. Melihat beberapa anak kecil yang bermain di lapangan, melewati area pertokoan dan juga sebuah jembatan di sungai jernih yang dekat dengan pemandian air panas.
Beberapa lama berjalan, Hinata pun sampai di sebuah kediaman yang cukup besar dengan pekarangan luas yang ia yakini adalah rumah Matsuri. Memastikan tulisan yang tertera di sepotong kertas miliknya, Hinata pun semakin yakin kalau ini adalah kediaman keluarga Sabaku. Apalagi di pagar tembok seleher Hinata itu mencantumkan sederet nama yang ia cari. Saat akan membuka gerbang itu, Hinata dikejutkan oleh suara yang memanggilnya.
"Hinata!" tepat dari arah pintu rumah itu muncul sesosok gadis dengan model pakaian santai tengah berlari penuh semangat ke arahnya. Hinata tak bisa menyembunyikan senyuman senangnya mendapati Matsuri yang senang akan kehadiarannya.
"Matsuri-chan..."
"Tadi Hiashi-jisan berpesan bahwa kau akan datang sore hari, Hinata-chan..." kata Matsuri sambil membuka pintu pagar rumahnya dan mengajak Hinata untuk masuk ke dalam. "Aku tak menyangka bila ayah kita juga saling mengenal, senangnya..."
"Umm! Aku juga kaget m-mengetahui kalau Tou-san ternyata kenal dengan kepala keluarga Sabaku,"
"Ne, mungkin itu takdir," cengir Matsuri sambil memegang kenop pintu dan memutarnya. Setelah masuk, Hinata disuguhkan dengan interior rumah yang didominasi oleh warna putih pada bangunannya, dan warna kecoklatan atau karamel bahkan putih gading pada perabotannya. Sedikit ada warna lain dari beberapa tanaman yang sengaja ditaruh disana yang terlihat kontras oleh ruangan serba putih itu. Meski ada beberapa barang yang berwarna mencolok, tetap saja ruangan tersebut terlihat lebih didominasi warna putih bersih. Kesannya modern, tapi tak bisa dikatakan modern, karena segala yang ada di dalamnya adalah hal lumrah seperti kebanyakan rumah-rumah lain. Hinata tak habis pikir, mungkinkah yang mendesain rumah ini adalah orang yang begitu berbakat di bidang seni?
Seakan mengerti apa yang menyebabkan sahabat barunya ini bengong -diam memandangi interior rumahnya-, Matsuri pun berkata, "Yang mendesain semua ini adalah Tou-san. Memang sebenarnya dari kecil beliau memiliki cita-cita menjadi seorang arsitek, yang membangun segala sesuatu agar terlihat unik dan menarik, tapi tidak nyentrik. Terutama berbagai hal yang menyangkut tentang pasir. Pernah dia membayangkan memiliki rumah seperti gua yang berbahankan pasir coklat yang dicampur serbuk emas dan interior ruangan yang berkesan primitif namun tetap modern. Terlihat sederhana tapi aslinya rumah yang biasa seperti kebanyakan orang. Hah... Tou-san memang sering mengungkapkan apresiasinya terhadap seni secara berlebihan, "
"Me-menurutku itu luar biasa,"
"Benarkah? Kukira itu adalah hal yang hanya dipikiran oleh anak kecil yang suka bermimpi saja."
"L-lalu kenapa Sabaku-jisan tidak menjadi arsitek saja?"
"Ojiisan tidak mengijinkan, karena katanya lebih baik ia menjadi seorang pekerja biasa yang masih bisa berkumpul dengan keluarga, seperti orang-orang pada umumnya. Menurut Jiisan, menjadi arsitek itu adalah hal yang merepotkan. Kalau masih saja ada ide di kepala, mungkin akan mendapat kelancaran, tapi kalau sudah habis, gimana coba? Huh, Ojiisan pikirannya pendek sekali, dan Tou-san menyetujuinya begitu saja,"
Hinata tertawa pelan, "M-menurutku... ji-jika aku mempunyai Tou-san seperti itu, aku akan sangat mendukungnya untuk membangun rumah dari pasir emas itu. K-keliahatannya menyenangkan jika tinggal disana," Matsuri melongo, "Heeee?! Kupikir jika Tou-san benar-benar melakukannya, keluarga kami akan seperti tinggal di dalam gua pada zaman prasejarah yang sering diceritakan Anko-sensei itu..." bergidik ngeri Matsuri membayangkannya. Sedang Hinata hanya terkikik geli. Tapi, jujur saja. Ia tak bohong dengan pendapatnya tadi itu.
"Awalnya aku juga terkejut dan takjub akan pindah ke rumah yang terkesan blasteran seperti ini. Tapi, aku menyukainya!" percakapan mereka sore itu diakhiri dengan naiknya Hinata dan Matsuri ke lantai dua, tempat dimana kamar bungsu Sabaku itu berada.
"Huuft..!" Matsuri menghempaskan tubuhnya lumayan keras diatas kasur empuknya. Walau sebenarnya tak terasa sakit, ekspresi di wajahnya meringis seakan ia sedang mengalami sakit yang luar biasa. Hinata yang menyusul di belakangnya dengan membawa dua gula-gula berwarna pink itu hanya ikut duduk di pinggir ranjang Matsuri sambil tersenyum.
"A-apa Matsuri-chan merasa lelah?" Matsuri menoleh ke arah Hinata sambil cemberut. "Bukan lelah, tapi sangat lelah! Kenapa anak-anak kecil tadi itu menyuruhku memanjat pohon hanya untuk mengambilkan bola mereka yang tersangkut? Bahkan mereka tak mengenalku, aku juga tak mengenal mereka. Dan, hell! Apa aku dianggap seperti anak laki-laki?! Masa' seorang gadis disuruh memanjat? Menyebalkan!" Hinata terkikik pelan.
"Tapi Matsuri-chan sangat ahli dalam memanjat pohon," sedikit 'pujian' Hinata itu membuat Matsuri hanya bisa mendengus. "Hari ini sungguh menyenangkan,"
"Yah... jalan-jalan kita sore ini lumayan menyenangkan!" Matsuri membenarkan perkataan Hinata. "Ow, kau kan belum kuperkenalkan dengan Kaa-san. Ayo, kuperkenalkan dulu, jadi nanti kau tidak terkejut." Matsuri menarik tangan Hinata.
"M-memangnya setiap hari, Sabaku-basan tidak ada di rumah?" dalam perjalanan, Hinata bertanya pada Matsuri.
"Hm, tidak juga. Hanya saja untuk beberapa malam ke depan pegawai yang biasa menjaga toko pada malam hari sedang mengunjungi keluarganya yang sakit, jadi mulai saat ini Kaa-san yang menjaga toko itu pada malam hari. Kau tahu lah, toko itu buka dua puluh empat jam non stop."
Hinata dan Matsuri berjalan menuju ke sebuah toko yang lumayan besar tepat di seberang rumah keluarga Sabaku. Di atas toko itu terdapat tulisan dari huruf kanji bertuliskan Ai no Mise. Nama yang lucu.
Memasuki dalam toko, nampaklah suasana yang sepi di dalamnya tanpa seorang manusia pun. Memang, toko yang baru dibuka setelah beberapa saat vakum karena beberapa alasan itu masih dalam tahap penataan barang jualannya. Pintunya pun masih berpalang 'close' meski tidak dikunci. "Kaa-san!" terdengar suara benda jatuh yang cukup keras saat kedua gadis itu memasuki toko yang sepi itu. Matsuri dan Hinata berlari ke arah datangnya suara dan mendapati seorang wanita yang mirip Matsuri tengah terduduk dengan beberapa makanan kaleng di atas tubuhnya.
"Kaa-san, kenapa duduk di lantai seperti itu? Nanti kalau masuk angin bagaimana?"
"Heee, kamu yang mengagetkan Kaa-san sampai terpeleset seperti ini," si ibu itu mencoba berdiri dibantu Matsuri yang hanya bisa cengar-cengir melihat ibunya. "Hm?" mengerti arah pandangan nyonya Sabaku kini beralih padanya, Hinata gelagapan dan segera membungkuk memberi salam. "H-halo..."
"Ah, Kaa-san, perkenalkan, ini Hyuuga Hinata. Teman baruku di sekolah yang sama-sama murid pindahan sepertiku itu lho..."
"Oh, kamu teman barunya Matsuri ya? Hyuuga Hinata? Nama yang manis, sama seperti orangnya," ibu Matsuri itu mendekati Hinata lalu merangkul pundak Hinata dan membawanya ke tempat kasir. Mengabaikan Matsuri yang dibuat pundung di sudut rak makanan kaleng.
"Uhm, a-ano... mm..."
"Panggil saja aku Karura-bachan,"
"Okaa-san! Bolehkah aku mengambil beberapa bahan makanan untuk kuolah? Mungkin nanti malam aku dan Hinata akan mencoba kreasi memasak untuk mengisi waktu,"
"Heeeh, memangnya kau bisa masak?!"
"Uh, Kaa-san terlalu meremehkanku. Kali ini aku sudah mempelajari semua buku resep Kaa-san. Dan aku yakin, aku bisa membuat Boome Habanero... ciptaan Kaa-san!" Matsuri mengepalkan kedua tangannya berapi-api.
"Eeehh?! Kau yakin?!" Karura seolah tak percaya.
"Tentu saja!" Karura pasrah dan membiarkan anak bungsunya itu mengambil beberapa bahan makanan di tokonya. Sembari menunggu Matsuri dengan kesibukannya, Karura berbincang-bincang sebentar dengan Hinata.
Tak dirasa hari mulai menjelang malam. Saatnya para manusia di muka bumi ini pergi membersihkan badan mereka dan bersantai sembari menunggu wanita di rumahnya memasak makan malam. Tak terkecuali Hinata dan Matsuri. Seorang pegawai di toko Karura sudah datang, sehingga ia bisa pulang ke rumah sejenak untuk membersihkan diri. Namun sebelum itu, ia menawari Hinata sesuatu.
"Hinata-chan, kau tak mau mengambil beberapa bahan untuk memasak bersama Matsuri nanti?" Hinata menggeleng pelan. "T-tidak perlu, Karura-basan."
"Ne, tak usah sungkan. Kuyakin gadis sepertimu akan lebih pandai mengolah sedikit bahan daripada anak itu. Walau bahan yang ia gunakan banyak dan berkualitas, sangat kecil kemungkinan yang bisa menjamin kalau masakan Matsuri nanti akan terasa nikmat," Karura melirik Matsuri yang gondok dikatai oleh ibunya sendiri.
"Cepatlah, mumpung ini kesempatan langka. Kau tak perlu bayar, Hinata-chan. Sangat jarang Kaa-san memberikan kesempatan seperti ini pada orang lain. Kau tahu lah, ibu-ibu jaman sekarang itu kebanyakan pel..."
DUKK!
"Ittai!"
"Urusai na! Jangan dengarkan dia, ambil saja beberapa bahan yang kau mau. I-ni pe-rin-tah." Karura menekankan kata terakhirnya. Mau tak mau, Hinata pun menuruti saja apa kata Karura. Tak banyak yang ia ambil, hanya beberapa bahan sederhana seperti keju, tofu, telur, beberapa bumbu dapur dan bahan lain untuk membuat jenis makanan manis. "Hanya itu?" Hinata mengangguk. "A-arigatou,"
Kedua gadis belia itupun pulang bersama Karura ke kediaman Sabaku. Sesampainya di dalam, mereka berpisah di tangga rumah. "Kalau masakannya sudah jadi, aku harap kalian mau membaginya untuk kucicipi ya?"
"T-tentu saja, Karura-basan." Hinata tersenyum. "Yosh, kuharap Kaa-san tak menghabiskan masakanku, ne?" Karura berdecak. "Sebenarnya aku sedikit khawatir jika harus memakan masakanmu nanti. Kuharap, Boome Habaneroku tidak jatuh imagenya di tanganmu, huhuhu..." Karura tersedu *lebay amat*. "Iie! Jangan salahkan aku nanti. Masakakan Kaa-san saja yang aneh, dan sulit dibuat. Demo... demi mendapat pengakuan dari Kaa-san, aku akan berjuang! Semangat!"
Toweweweweng...
Matsuri pundung ditinggalkan Karura yang sudah menghilang dari sana. "Ja-jadi, da-dari tadi aku berbicara sendiri?"
TING!
"Aaaaaa! Menyebalkan!"
"... Tak selamanya, impian itu... bisa diraih. Segala sesuatu y-yang abadi, sangat mustahil di dunia -kita, memang tidak bisa melupakan masa lalu... ta-tapi, mungkin kita bisa... merubah ma-masa depan... A-aku, uhuk-uhuk! Uhuk- uhuk!..."
"Maki! Ti-tidak, tidak...! Jangan tinggalkan aku Maki, kumohon! Bertahanlah!"
"Saji, a-aku titipkan... Ruka pa-padamu... jaga di-dia, baik-baik..."
"Maki! Maki!MAKIIII...! TIDAAAAK...!"
"Hoaaamh..."
"Hiks! Hiks!"
"Maki, aku mencintaimu... Maki, jangan tinggalkan aku... Maki... Hh, MAKII! Huh... uh... HUAAAAAARGHH...!"
"Uhuhuhu... ddzhrrttt..."
"Hah, membosankan!" Matsuri melipat kedua tangannya di dada sambil sandaran di punggung sofa. Hinata yang sedari tadi tak henti-hentinya menangis melihat dorama malam itu menghabiskan hampir satu pack tisu jumbo hanya untuk menghapus air mata dan mengeluarkan ingusnya.
Hah... waktu hampir tengah malam seperti ini tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menonton televisi. Semua hal menyenangkan yang Matsuri catat sebagian sudah mereka lakukan. Namun karena Hinata yang kelelahan, jadi Matsuri mengalah untuk menemani sahabatnya itu menonton dorama saja. Sebenarnya, masih banyak yang Matsuri ingin lakukan bersama Hinata. Tapi, ya... mengalah sajalah untuk kali ini.
Jam menunjukkan arah di antara angka sepuluh dan sebelas. Kedua gadis itu masih tetap tak ingin tidur ataupun merasa kantuk. Semangatlah yang membuat mereka ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi. Tapi jika seperti ini waktu yang mereka habiskan, rasa-rasanya Matsuri ingin tidur saja. Dan saat melihat berderet-deret tulisan di layar hitam tivi datarnya, Matsuri merasa ada kesempatan untuk mengajak Hinata beraktivitas lagi.
"Hina-chan, acara memasak tadi kita tunda, bagaimana kalau kita memasak sekarang? Lagi pula, aku juga sedikit lapar," Hinata mengangguk. Keduanyapun melesat ke arah dapur dan membongkar isi lemari es untuk mengambil bahan-bahan yang mereka butuhkan.
Hinata memecahkan sebutir telur ke atas gumpalan tofu sutera dalam wadah kaca. Memasukkan beberapa bahan lainnya lalu melumat adonan itu hingga tercampur halus dan rata. Hinata tampak santai dalam hal masak-memasak. Sebenarnya, ia sendiri sedikit enggan untuk memasak malam-malam begini, karena rasanya aneh dan tidak terbiasa. Sebenarnya ingin sekali rasanya Hinata mencoba berkreasi namun ia sungkan, sebab ini bukan dapur rumahnya.
Beda Hinata, beda lagi dengan Matsuri. Gadis aktif itu terus sibuk dengan sendirinya. Begitu semangat seriusnya ia saat memasak. Mondar-mandir dan terkesan tergesa saat mencampurkan bahan masakannya. Tak jarang pula bahan-bahan itu belepotan mengotori area sekitar kompor dan washtafle. Begitu terlihat berantakan dibanding gadis sebelahnya yang terlihat terang benderang bersih rapi dalam mencampurkan adonan.
Tapi yah... kelakuan Matsuri yang seperti itu menjadi hiburan tersendiri bagi Hinata. Sesekali gadis indigo itu tersenyum pelan saat Matsuri mengomel atau terpekik oleh suatu hal yang tak jelas. Diliriknya beberapa kreasi yang diciptakan Matsuri, Hinata bergidik ngeri melihatnya. Berblok-blok keju yang tak jelas dicampur oleh tepung basah atau telur itu terlihat bercampur tak rata dan berantakan. Dan Hinata semakin menatapnya horor saat Matsuri memblender banyak sekali cabe habanero merah dan menuangkan semuanya dalam adonannya itu.
"M-matsuri-chan... e-eto..."
"Ini adalah resep andalan Okaa-san yang paling spesial. Boome Habanero. Rasanya sangat enak dan eksotis, dengan bahan mencengangkan yaitu si habanero merah segar ini. Aku sudah lama mempelajari dan mencatat resepnya. Dan saat ini, aku akan berusaha membuatnya menandingi kelezatan Boome buatan Kaa-san!" sambil menyalakan mixer, Matsuri menoleh ke arah Hinata dan tersenyum bangga. Hinata hanya tersenyum dan memperhatikan kegiatan matsuri saat ini. Tapi...
GGREEEENG...NGNGNG!
"Chaaaa!" Matsuri yang berniat meratakan adonannya dengan mixer, malah membuat adaonan itu semakin tak berbentuk dan acak-acakan karena pengendalian mixernya terlihat sangat kaku. Mencoba lagi, Matsuri malah kecipratan adonan pedas itu sedikit di matanya. Segera ia matikan mixernya lalu cepat-cepat membasuh wajahnya di washtafle.
"Matsuri-chan, d-daijoubu ka?" Hinata sangat khawatir.
Matsuri mengelap wajahnya dengan lengan bajunya lalu menenangkan Hinata yang khawatir padanya. "Aku tak apa. Huh, kenapa mixernya jadi rusak bila aku yang menggunakannya, sih?" Matsuri masih mengucek matanya. Hinata tersenyum. "Mixernya tak rusak. Mu-mungkin karena Matsuri-chan belum terbiasa menggunakannya. Umm... Ka-kalau mau, aku bisa membantumu. Berikan saja a-aku instruksi,"
"Souka?" Hinata mengangguk. "Iyoosh! Oke, kau mixer bahan tadi dan aku akan menyiapkan adonan pelapisnya." Hinata hanya menuruti apa kata Matsuri. Dalam hati ia bertanya-tanya. Sebenarnya, jenis makanan apa sih yang mau dibuat Matsuri itu? Jika dilihat-lihat, bahan untuk membuat kue sudah semua ia masukkan. Tapi kenapa tadi dia bilang masih harus membuat adonan pelapis? Apa ia mau membuat pie? Tapi, jika pie, kenapa isinya berupa bahan komplit untuk kue seperti ini? Apa isinya juga akan berbeda dengan yang ini? Sespesial itukah kue ciptaan nyonya Sabaku itu? Hah... memikirkannya saja membuat kepala Hinata pening. Ia pun mulai merapikan adonan yang belepotan untuk kembali dalam jangkauan wadah adonan menggunakan pelumat. Dan mulai memixernya dengan tenang. Matsuri sempat melongo begitu melihat tangan terampil Hinata dalam mengolah-olah bahan.
"Nah, sudah halus. Selanjutnya apa?" Matsuri menyolek sedikit adonannya dan mencicipinya. "Hoeek... ke-kenapa terasa aneh begini? Aku yakin semua yang dibutuhkan sudah kumasukkan dengan takaran yang tepat." Matsuri mengeluarkan note pan jangnya dan langsung berjengit. "Ah, aku lupa beberapa bahan lainnya! Hinata-chan, tunggu sebentar ya, aku akan ke toko dulu, jaaa!" dan Matsuri pun langsung melesat meninggalkan Hinata sendirian dalam keadaan melongo kaya' sapi ompong. "M-matsuri-chan tadi bilang apa? Ku-kurasa, dia bicara terlalu cepat..." Hinata pun hanya melanjutkan kegiatannya sampai tiba-tiba lampu dapur mati mendadak.
PETT!
Hinata kaku di tempat. Ia bukanlah gadis yang seta merta akan takut dengan kegelapan, hanya saja keadannya yang tiba-tiba ini membuatnya sedikit kaget. Namun beberapa saat kemudian Hinata mendapat kesadarannya kembali. "A-apa sedang pemadaman?" Hinata melangkahkan kakinya untuk melihat keadaan sekeliling. Ternyata dugaannya benar. Seluruh ruangan di rumah itu gelap gulita. Hinata berniat mengambil ponselnya di kamar Matsuri saat telinganya menangkap suatu suara.
Tap... tap... tap...
Seperti suara langkah kaki. Namun seperti bukan langkah kaki biasa. Suaranya lebih pelan dan terkesan ditahan. Hinata mulai merinding. Perlahan, ia memberanikan dirinya untuk mencari asal suara itu. "M-matsuri-chan, kk-kau kah itu?" tak ada jawaban. Hinata semakin ketakutan. Dilihatnya sekelabat bayangan hitam yang semakin mendekat ke arahnya dari pintu depan. Hinata mundur dan bersembunyi di balik tembok sambil terus mengawasi bayangan hitam itu.
Tes...
Sebutir keringat dingin sebesar biji jagung meluncur dari pelipis Hinata. Sungguh, keadaan ini membuatnya terpaksa bersenam jantung. Rumah ini kosong, hanya ada dirinya. Ditambah lagi ini bukan rumahnya. Mau minta tolong ke siapa dia?
Tap...
Bayangan itu semakin mendekat. Hinata menahan napas saat bayangan itu tiba di undakan rumah yang dibarengi kilat petir yang langsung disusul hujan lebat. Hinata hampir copot jantungnya. Ia berusaha menahan tangis saat bayangan itu terlihat sedang melepas alas kakinya dan mengendap-endap ke arahnya.
"M-matsuri-cchan..." ingin hinata meneriakkan nama itu namun yang keluar hanya cicitannya yang tak terdengar ditelan oleh guntur di luar sana. Saat bayangan itu semakin mendekat ke arahnya, Hinata langsung melesat ke arah dapur dan mengambil sebuah batang sapu. Dengan gemetar, Hinata memegang sapu itu dan kembali mengawasi sosok misterius di ujung sana dari balik tembok dapur. Dapat dilihat saat kilat petir lewat, sosok itu memakai mantel hitam dan sedang membelakangi Hinata. Terlihat secara hati-hati ia mengobrak-abrik buffet keluarga Sabaku sambil membungkuk. Hinata berspekulasi bahwa ia adalah pencuri. Mengumpulkan seluruh keberaniannya, Hinata mendekati sosok itu. Jantungnya tak berhenti berdetak kencang disertai tubuh yang gemetar hebat. Napas Hinata memburu, namun ia tetap mencoba memberanikan dirinya.
Langkah Hinata terhenti saat sosok itu menegakkan tubuhnya dan diam. Hinata menelan ludah.
CTARR! DUARRR! ZRESSSS!
Hujan di luar sana semakin deras dengan volume petir yang juga ikut naik. Sosok itu masih dalam posisinya membuat Hinata hanya bisa mematung dibuatnya. Posisi Hinata saat ini benar-benar tak menguntungkan. Gadis itu terus menahan dirinya agar tak berteriak dan mengatur napasnya yang terasa semakin memburu. Tapi ia tak bisa menghentikan berbulir-bulir keringat dingin yang keluar membasahi tubuh mungilnya.
Satu menit...
Dua menit...
Keadaan itu sungguh mencekik Hinata. Berniat mengakhiri ini semua, Hinata mati-matian menekan rasa takutnya dan bersiap mengayunkan batang sapunya. Disaat bersamaan sosok itu menoleh sedikit ke arahnya dan berkata,
"Siapa kau?"
"HYAAAAAAT...!"
TBC
Yosh! Ini dia chapter dua yang udah Shiro janjiin. Semoga gak mengecewakan ya...
Maaf kalau Shiro seenak dengkulnya namain Ibu Hinata tercinta dengan nama Hikari. Secara gitu, rasanya amat gak enak kalau ibunya Hinata tuh gak punya nama. Jadi, waktu mikir-mikir nama apa yang tepat, langsung deh... nama Hikari melintas begitu aja. Yah, itung-itung huruf awalnya sama ama keluarga Hyuuga tercinta. Meski Neji beda sendiri *Neji dibuat pundung*
Ne, chapter berikutnya Shiro janji bakal update secepetnya kalo gak ada hambatan. Yah, sebenernya ini udah Shiro selesein beberapa chap, cuma Shiro updatenya ngangsur aja ya... *plak!
Wokeh, makasih bagi readers yang mau baca fict abal ini, apalagi kalo mau ngereview. Shiro seneeeeeeeeeeeeeeeeeeeng... banget, dan gak akan bosen-bosennya minta review-an dari para readers yang kawai-kawai ni... *readers: penjilat lu!*
Sampai jumpa di FF dan chapter Shiro berikutnya...
Ittekimasu... ^_^
R
E
V
I
E
W
.
.
.
...
