Mayraa : makasih atas reviewnya..thx dah di fave ya
Nayaka : beresssss senpai
Haze senpai : nanti ada scene dimana Hinata tuh tomboy banget..tunggu ajah ya
Hyu Chan : thanks.. HAH? MASA? Waaah gomen gomen.. Maaf! Fire nggak maksud niru idenya kok
Baiklah!
Kita mulai!
23 November 2009, 21.00 a.m
Malam itu, setelah semua pulang dan jam berkunjung habis, Hinata dengan setia menunggu Ai, cowok misterius yang malam-malam belakangan ini selalu menjenguknya. Hinata merebahkan diri di kasur, setengah berbalik memunggungi pintu kamar dan menghadap ke jendela yang tertutup tirai putih. Dan sesuai dugaan Hinata..
CKREK!
Terdengar suara pintu kamarnya dibuka, disusul langkah-langkah berat yang berjalan ke arahnya. Hinata tersenyum kecil. "Ai, apa itu kau?", tanyanya.
Terdengar satu kali ketukan.
Hinata memasang wajah stoicnya lagi lalu bangun dan duduk menghadap Ai. Dia mendengar suara kursi yang diseret dan dia tahu Ai kini duduk di sebelahnya.
"Jadi, Ai, kita mau bicara tentang apa?", tanya Hinata, memiringkan kepalanya. Tapi sesaat kemudian, Hinata menunduk dan menutupi wajahnya dengan tangan.
"Bodoh! Mana mungkin Ai menjawab? Dia bisu, Hinata! Aaah! Bodohnya aku!", dia merutuk dalam hati. Tiba-tiba terdengar suara tawa tertahan dari mulut Ai. "Ai, apa kau bisa membaca pikiranku?", tanya Hinata, merasa agak malu, apalagi saat dia mendengar suara ketukan satu kali di meja.
"Maaf! Aku nggak bermaksud-", kalimat Hinata terpotong saat dia merasakan tangan yang hangat memegang tangannya. Dan Hinata juga merasakan jari Ai menulis di tangannya.
'Tidak apa-apa. Aku tidak marah, kok.'
"Makasih, Ai. Maaf ya. Aku nggak bermaksud menyinggung kok.", Hinata memaksakan sebuah senyum kecil. Jari Ai kembali menulis di tangannya.
'Kalau kamu mau curhat, aku siap mendengarkan.'
"Benarkah, Ai? Apa kau nggak bosan?", tanya Hinata. Terdengar ketukan sebanyak dua kali.
"Baiklah. Pertama aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apa kau percaya adanya malaikat yang akan datang padamu?", tanya Hinata. Ai mengetuk meja satu kali. "Hm. Kalau keajaiban, apakah kau mempercayainya?", tanya Hinata lagi. Yang ditanya mengetuk meja satu kali.
Hinata tersenyum sedih. "Ai, apa kau tahu, akhir-akhir ini sebelum aku kecelakaan, ada orang asing yang mengirimiku surat dengan jasa merpati pos. Lucu, ya. Aku tak mengenalnya, tapi yang aku tahu, dia laki-laki. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Dia tahu segalanya tentang aku. Agak mengherankan, memang. Ai, apa menurutmu dia adalah malaikat?", tanya Hinata.
Ada jeda sejenak, kemudian terdengar suara ketukan di meja sebanyak satu kali.
Hinata menghela napas. Dadanya terasa sesak. "Dengar Ai, umurku tidak panjang. Mungkin bulan Januari atau Februari tahun depan nanti aku akan meninggalkan dunia ini. Aku menderita penyakit jantung yang sudah sangat parah. Sudah tidak mungkin disembuhkan lagi. Kata dokter, hanya mujizat yang bisa menyembuhkanku. Sudah sakit parah, mataku diperban lagi. Ai, apa kira-kira dosa masa laluku, ya? Haha!", Hinata memaksakan tawa yang palsu. Tak ada respon apapun dari Ai. Namun Hinata merasakan tangan Ai yang hangat menggenggam tangannya.
"Ai, apa kau.. memiliki cinta sejati?", tanya Hinata tiba-tiba. Terdengar satu ketukan di meja. "Aku tidak ingin tahu siapa cinta sejatimu. Yang ingin aku tahu, bagaimana caramu mendapatkannya? Ai, aku minta tolong ajari aku caranya. Aku menginginkan cinta sejati itu.", tiba-tiba Hinata mencurahkan isi hatinya. Sesaat hening. Kemudian Hinata merasakan jari Ai menulis di tangannya.
'Cobalah untuk membuka hatimu. Dengan demikian, kau bisa mencintai.'
"Benarkah begitu, Ai? Tapi umurku sudah nggak panjang. Sudah nggak ada kesempatan bagiku untuk melakukan hal itu, kan.", nada suara Hinata berubah menjadi begitu sedih.
Ai menulis lagi di tangan Hinata.
'Masih ada waktu. Dan percayalah juga kepada malaikat dan keajaiban. Kalau kau tak percaya, selamanya kau takkan pernah mendapatkan cinta sejati yang kau inginkan itu.'
Ketika Hinata merasakan jari Ai menuliskan kata-kata itu, tiba-tiba saja dia merasa sangat marah. Entah kenapa amarahnya meledak. Dia mengibaskan tangannya, kemudian dia berdiri dengan tiba-tiba.
"Pergi kamu!", teriak Hinata. "Berani sekali kau bilang begitu padaku! Pergi kau!", dia mengibas-ngibaskan tangannya dengan marah. Tanpa bisa dilihatnya, Ai memasang wajah bingung dan sedih serta terkejut. Ai mendekat, tapi karena tangan Hinata yang menampar-nampar udara dengan liar, maka kejadian berikutnya sudah bisa dipastikan..
PLAAK!
Hinata merasakan tangannya menampar sesuatu.
BRAK!
Hinata juga mendengar suara kursi yang ditabrak sesuatu.
Akhirnya Hinata menyadarinya.
Dia secara tak sengaja telah menampar Ai hingga cowok itu terbentur kursi.
Mulutnya terbuka untuk sesaat. Dia hendak mengatakan permintaan maaf, namun tiba-tiba jantungnya terasa sangat sakit sekali. Dia mencengkeram bagian dada tempat jantungnya berada. "Uhuk! Uhuk!", dia terbatuk-batuk. Setelah dia terbatuk, dia merasakan sesuatu yang hangat di tangannya.
Darah..
Dia pun mati rasa dan ambruk. Sesaat sebelum kepalanya membentur lantai, dia merasakan dua lengan yang kokoh melingkar di pinggangnya, kemudian dunianya menjadi gelap.
29 November 2009, 22.00 p.m
Ruangan VVIP dengan papan bertuliskan 'Hyuuga Hinata' di depan pintunya itu sangat sepi. Tampak seorang pemuda duduk di kursi di samping sebuah tempat tidur yang di atasnya berbaring seorang gadis berambut indigo dengan mata yang diperban. Ya gadis itu adalah Hinata. Dia pingsan sejak 6 hari yang lalu, dan belum bangun sampai sekarang. Pemuda di sampingnya itu duduk dengan sikunya bertumpu pada pinggiran tempat tidur Hinata dan kedua telapaknya bertaut menutupi mulutnya. Segalanya sangat sunyi. Hening. Tiba-tiba..
"AI!", Hinata bangun dari pingsannya sambil menjerit. Pemuda di sampingnya sontak terkejut dan berdiri untuk menenangkan Hinata. Merasakan ada tangan yang memegang bahunya, Hinata segera meremas tangan itu. "Ai, apakah ini kamu?", nada suaranya terdengar sangat aneh. Tak terdengar ketukan di meja. Pemuda di sampingnya itu tanpa ragu-ragu segera merengkuh Hinata dalam pelukannya. Hinata pada awalnya terkejut, namun akhirnya dia malah menerima kehangatan pemuda itu. "Ai.. Maafkan aku..", Hinata terisak. Hinata menangis. Pemuda itu hanya mengeratkan pelukannya.
Untuk beberapa saat, keduanya tak bergerak dari posisinya masing-masing. Hinata yang biasanya tegar kini hancur luluh. Pertahanannya ambruk. Dia menangis di pelukan pria asing yang selama ini dikenalnya dengan nama Ai itu.
Sisa malam itu hanya berlalu tanpa ada percakapan via ketukan meja yang berarti, yang ada hanya Hinata yang terus menumpahkan semua isi hatinya sampai dia tertidur di pelukan Ai.
30 November 2009, 08.00 a.m
Pagi ini Ino datang berkunjung menjenguk Hinata. "Hai, Hinata.", sapa Ino ceria. "Hai, Ino.", balas Hinata dengan senyum.
"Aku kangen banget sama kamu!", Ino segera merangkul sahabatnya itu. "Aku juga, Ino.", Hinata membalas pelukan Ino.
"Oh iya ini titipan dari Sasuke! Dia minta agar aku memberimu ini! Kurasa dia malu untuk memberikannya sendiri padamu!", Ino meletakkan sebuah kotak di tangan Hinata dengan senyum lebar. "Taruh di dalam laci meja saja, Ino. Toh aku takkan bisa melihatnya. Nanti saja kalau aku sudah bisa melihat lagi.", senyum Hinata. "Oh baiklah!", Ino pun mengambil kotak tersebut dari tangan Hinata dan meletakkannya di dalam laci meja di sebelah ranjang Hinata.
"Apa kau sudah diberitahu kapan perbanmu dibuka?", nada suara Ino meninggi. Suaranya terdengar lebih senang dan bersemangat. "Iya. Ayahku sudah memberitahuku. 1 Desember nanti perbanku akan dibuka. Senangnya.", jawab Hinata. "Ahaha! Selamat kalau begitu, Hinata! Wah aku nggak sabar menantinya!", Ino meremas tangan Hinata.
Lalu Hinata pun menceritakan pada Ino tentang pria misterius yang mengiriminya surat melalui merpati pos, dan pria misterius yang setelah Hinata kecelakaan dan matanya diperban senantiasa mengunjunginya setiap malam setelah jam besuk habis. Ino tampak sangat tertarik.
"Tapi Ino, dia bisu. Maka aku dan dia berkomunikasi melalui ketukan meja. Jika aku menanyakan sesuatu padanya, kalau jawabannya iya, maka dia akan mengetuk meja sebanyak satu kali, namun jika tidak, dia akan mengetuk sebanyak dua kali. Kadang dia juga menulis dengan jarinya di tanganku.", kata Hinata.
"Ooh.. kau tahu namanya?", tanya Ino penasaran. Hinata menggeleng. "Saat aku tanya namanya dia bilang bahwa dia nggak bisa memberitahuku. Lalu aku menanyainya lagi dengan apa aku harus memanggilnya. Dia menulis kanji 'Ai' di tanganku. Maka sejak itu aku memanggilnya dengan sebutan 'Ai'. Lucu, ya. Dan aku selalu mencium bau mawar yang sangat familiar dari tubuhnya. Seolah dia selalu memakai parfum beraroma mawar. Aku sangat familiar dengan bau mawarnya, tapi aku lupa di mana aku pernah mencium bau itu.", jawab Hinata.
Ino tersenyum. "Hmm.. mungkin dia adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan padamu.", katanya. "Mungkin.", jawab Hinata. Senyum Ino lenyap. Apa dia nggak salah dengar? "Hinata.. kamu..", kata Ino. "Ino, mulai sekarang aku akan belajar untuk mempercayai keberadaan malaikat dan keajaiban, walaupun yang kedua tak ada buktinya. Mungkin kamu benar, Ino. Mungkin Ai adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan kepadaku. Dan aku juga mulai menyadari bahwa..", kalimat Hinata terputus. "Bahwa?", tanya Ino. Hinata tersenyum. "Lupakan sajalah.", katanya. Ino hanya bisa menyunggingkan senyum manis. "Pasti ada hal penting yang ingin dikatakannya.", pikir Ino. Kemudian dia merangkul sahabatnya itu dan memeluk Hinata dengan hangat.
30 November 2009, 21.20 p.m
Malam itu, seperti biasanya, Ai datang berkunjung.
Hinata tak tahu seperti apa rupanya.
Hinata tak tahu seperti apa wajahnya.
Hinata tak tahu seperti apa sosoknya.
Berkomunikasi hanya dengan media ketukan meja dan tulisan yang ditulis di tangan Hinata dengan jari Ai.
Walaupun dihalangi dengan hal-hal tersebut, Hinata merasa sangat senang sekali hanya dengan adanya kehadiran Ai.
Setelah membicarakan hal-hal yang lumayan nggak penting, Hinata berkata..
"Ai, besok tanggal 1 Desember perban sialan yang menutupi mataku ini akan dibuka. Aku akan bisa melihat kembali. Jika saat itu tiba, Ai, kamu adalah orang pertama yang ingin aku lihat. Tak ada yang lain.".
Tak ada respon dari Ai, yang mana membuat Hinata merasa agak sedikit kecewa.
"Ai.. Kamu.. akan datang, kan?", Hinata bertanya dengan nada memohon yang amat sangat.
Tak ada respon apapun dari Ai. Hening.
Namun Hinata tidak bodoh.
Dia tahu Ai menolak untuk datangā¦
Tenggorokan Hinata tercekat. Matanya terasa panas. Hatinya terasa sakit. Sangat sakit. Saat itulah dia menyadari sesuatu..
Dia telah jatuh cinta pada Ai, pemuda bisu yang selalu menemaninya itu.
Hinata menarik napas panjang untuk meredakan nyeri di dadanya. "Bodohnya kau, Hinata.. Ai kan sudah memiliki cinta sejatinya sendiri.. Mana mungkin dia menerima cintamu?", batinnya dengan sangat sedih dan pahit. Untuk pertama kalinya dia bersyukur matanya ditutup perban, karena airmata mulai mengalir keluar dari matanya. Tangannya meremas selimut putih tempat tidurnya dengan erat, berusaha mengontrol emosinya.
Tanpa dia sadari, Ai sedang kebingungan saat melihat Hinata yang bungkam dan menggigit bibir bawahnya. Ai bisa melihat bahu Hinata yang sedikit berguncang. Tepat pada saat Ai hendak menyentuh bahu Hinata, Hinata bersuara,
"Ai, mungkin malam ini adalah malam terakhir kita.", suara Hinata bergetar.
Terdengar ketukan keras di meja sebanyak dua kali, seolah Ai sedang berteriak, 'Tidak!'. Wajah Ai sangat kalut.
"Aku bersyukur bisa mengenalmu. Aku yakin bahwa kau adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan padaku. Tapi kukira hubungan kita hanya bisa sampai sini saja.", lanjut Hinata, tak mempedulikan ketukan keras barusan.
Ai mengetuk meja dengan lebih keras sebanyak dua kali lagi.
'TIDAK!'
Hinata menggigit bibir bawahnya lebih keras. Kali ini, airmatanya tak mampu dia bendung. Perbannya basah oleh airmatanya.
"S-sebelum-nya.. m-ma-maafkan aku.. k-k-kare-na su-sudah merepotkanmu..", suara Hinata terputus-putus disela isaknya.
Terdengar suara ketukan di meja sebanyak dua kali. Kini lebih keras lagi.
"Jangan mengetuk lagi!", nada suara Hinata tiba-tiba meninggi. Keheningan segera menyapu kamar itu.
"Terima kasih, Ai.. Terima kasih banyak.. Walaupun aku hanya bisa berhubungan denganmu lewat ketukan meja dan tak mampu melihatmu.. Aku sudah sangat bersyukur..", Hinata tersenyum. Airmatanya membanjir.
"Terima kasih, Ai.. Kuharap kau bahagia bersama cinta sejatimu.. Terima kasih atas semua kunjunganmu padaku.. Terima kasih karena sudah membantuku untuk percaya.. Percaya bahwa malaikat dan keajaiban itu memang ada.. dan..", senyum Hinata berubah menjadi sebuah senyum yang sangat pahit. Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan..
"Terima kasih karena kau sudah membantuku menemukan cinta sejati yang tak mungkin kudapatkan..", Hinata terhenti sejenak, lalu melanjutkan..
"Yaitu.. kamu.."
Mendengar itu, mata Ai melebar. Mulutnya menganga saat mendengar kata-kata yang dikatakan Hinata barusan.
"Nah, sekarang kau sudah bebas, Ai.. kau sudah bebas untuk pergi.. kau sudah nggak perlu lagi mengunjungiku setiap malam.. Tahun depan bulan Januari atau Februari aku akan meninggal..", lanjut Hinata.
Kali ini terdengar dua ketukan yang amat sangat keras. Sepertinya Ai bukan mengetuk meja dengan jarinya, namun memukul meja dengan buku-buku jarinya.
"Kau boleh pergi..", kata Hinata.
Ai hendak mengetuk meja lagi, namun terhenti saat mendengar suara Hinata yang terdengar bergetar serta begitu pahit dan sangat sedih berkata..
"Sayonara, Ai.."
Ai tak mampu berkata apa-apa lagi. Dia pun beranjak dari kursinya. Sebelum keluar kamar, dia melirik sebuah pena dan notes yang ada di atas meja. Diraihnya kemudian dia menuliskan sesuatu di halaman pertama sambil menangis. Airmatanya menetes ke atas kertas itu dan membasahinya. Dia melakukan beberapa hal lagi. Setelah selesai, dia menutup notes Hinata. Sambil menangis dia berjalan ke arah pintu. Saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu, dia berhenti dan menoleh pada Hinata. Sebutir airmata meluncur menuruni pipinya. Kemudian dia keluar dari kamar Hinata.
Mendengar suara pintu ditutup, hati Hinata makin terasa sakit.
"Aishiteru.. Sayonara, Ai.."
Fuahhhhhhhh
Gimana dengan chapter yang ini, minna-sama?
Minna-sama tahu nggak sih sapa cowok misterius yang dipanggil Ai oleh Hinata?
Kalau tahu, bilangin Fire kalo minna-sama review yah?
Tunggu chap depan oke? *plak*
Akhir kata, Read 'n Review pleaseeeeā¦
