.

.

MISSING YOUR LOVE

.

.

.

JungNara2602

.

.

.

DISCLAIMER

Cerita ini murni terinspirasi dari live fanfiction 'ROLEPLAYER TPSTPG' (Trio Penguntit Sate Tusuk Pantat Gajah) yang resmi diadakan pada Sabtu, 12 Desember 2015

.

.

.

Cast ; Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun and others

.

.

Genre ; romance, hurt/comfort, boyslove, m-preg

.

.

RATE ; M

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

Inilah keluarga kecil kita, Boo...

Aku bersumpah akan menjaga kalian seumur hidupku

Kau milikku dan tidak seorangpun bisa merenggutmu dari sisiku

.

.

.

Kliiing!

Yoochun mengulas senyum lembutnya menyadari siapa sosok cantik yang mengayunkan langkahnya memasuki kafe Hello Kitty. Kafe bertema unik di kawasan Hongdae, Seoul ini sengaja di pilihnya sebagai tempat 'dating' dengan namja cantik yang sangat dirindukannya selama tinggal di Kanada. Kim—ah, dongsaeng kesayangannya kini telah resmi menyandang marga Jung. Namun itu tak menyurutkan euphoria Yoochun untuk segera menemui Jung Jaejoong begitu menginjakkan kakinya kembali di Korea Selatan.

"Anyeong, hyungie..."sapa pemilik suara tenor ini disertai bungkukan hormat dan senyuman manis.

"Ckk! Aku benar-benar kecewa padamu, Jung Jaejoong!"

"Eoh...?"

"Jadi setelah dua tahun berpisah kau hanya akan berdiri seperti orang bodoh disana dan tak akan memeluk hyung-mu? Apa Jung pabo itu sudah mencuci otakmu, huh?"kecam Yoochun dengan sorotan dingin. Nyaris saja tawanya meledak melihat kerucutan sebal di bibir cherry namja cantik itu, karena tak terima hyung kesayangannya mengatai suami tercintanya.

"Suamiku tidak pabo,"gerutu Jaejoong kesal.

"Benarkah?"

"Tentu saja..."

"Haish! Ya, ya, ya terserahmu sajalah! Bagiku dia tetap namja pabo dan berkepala batu. Kemariiii...hahaha...jangan marah lagi. Jadiii...dia benar-benar menjagamu dengan baik aniya?"goda Yoochun serta merta menarik Jaejoong ke dekapan hangatnya. Astaga—ia sangat merindukan sikap manja, imut dan menggemaskan si cantik ini, meski hubungan mereka murni sebatas hyung dongsaeng sekarang. Ia merelakan seluruh impian indahnya asalkan Kim ' Jung' Jaejoong bahagia.

.

.

.

'Jangan mengatakan hal seperti itu lagi, hyung. Kau membuatku merasa sedih dan sangat bersalah...apapun yang terjadi di antara kita bertiga di masa lalu, kenyataannya sekarang Jung Yunho adalah suamiku. Appa dari kedua putraku, sekaligus orang yang sangat kucintai. Gomawo atas semua pengorbananmu, Chunie hyung! Aku selalu berdoa agar kau bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dariku...saranghae, hyungie.'

.

.

.

Drap!

Drap! Drap!

Junsu menghentakkan kaki kesal dengan raut muka keruh karena merasa di abaikan sang hyung. Bayangkan bagaimana repotnya ia mengurusi dua makhluk ajaib yang dijulukinya 'Evil Twins', sejak Jaejoong meninggalkannya begitu saja di halaman parkir. Napas namja manis ini nyaris terputus hingga terengah kelelahan, sementara si kembar bergelayut di kedua lengannya sembari melonjak-lonjak aktif.

"Hyungieeee..."rengeknya mengenaskan.

"Ommo, Suie? Mian aku melupakanmu, hehehe..."

"Bagaimana bisa kau melupakan kami, haish...teganya?"gerutu Junsu saat menyerahkan salah satu jagoan Jung Yunho ke rengkuhan sang umma. Yoochun termenung sesaat menyaksikan interaksi Jaejoong dan kedua putranya. Seolah ia mendapat cubitan keras bahwa mantan tunangannya telah memiliki dunia dan keluarganya sendiri sekarang.

.

.

.

"Hahaha...jadi ini kedua jagoan kecilmu, Joongie?"

"Nde, ahjucci...cheoneun Jung Changmin imnida,"tukas Jaejoong menirukan gaya cadel khas balita dua tahun. Si sulung bermata bambi itu mengerjap lucu ke arah ahjussi berjidat lebar, sembari memamerkan senyuman imut dengan gigi serinya yang telah tumbuh sempurna.

"Min...imnitha..."

"Kau sangat mirip dengan ummamu ne, Minie ah?"Yoochun mengusak rambut legam bocah itu gemas.

"Anyeong, jucci...Jung Moonbin imnida!"sambung Jaejoong menggerakkan tubuh mungil si bungsu yang mulai menguap malas, enggan menatap atau merespon ucapan sang umma. Bahkan mata rubahnya mulai sayu, di tambah isakan kecil tanda tak nyaman dengan keramaian sekelilingnya.

"Hiks..."

"Aigoo? Kau mengantuk, baby? Cup...cup...Suie? Bisakah kau meminta pelayan menyeduhkan susu Binie?"pinta Jaejoong dan langsung dibalas anggukan sang dongsaeng. Ia meraih botol-botol susu milik si kembar di tas Jaejoong. Bukan dua melainkan tiga, karena Minie pasti meminta jatah double nanti.

"Sekalian aku akan memesan makan siang untuk kalian. Kau ingin apa, Chunie Hyung?"

"Terserah kau saja, Suie"

"Baiklah,"

"Sini! Biar aku saja yang menggendong Changmin ah,"Yoochun mengulurkan tangannya ke arah Changmin yang bergerak rusuh ingin turun. Sepasang kaki mungilnya bahkan menendang kesana kemari, hingga sang ahjussi kewalahan.

"Igeo...ikut jucci sebentar ne, Minie!"

"Kemari jagoan! Hupp..."

"Maaam...maaamm..."celoteh Minie riang begitu pantatnya mendatar sempurna di pangkuan Yoochun. Junsu terpaku menyaksikan keharmonisan ChunJae dan si kembar, jika bukan karena kesalahan Jung Yunho pastilah sekarang pasangan ini sudah bahagia. Entah mengapa kemarahan itu masih mengendap di dadanya, ia tak terima kakaknya di perlakukan tak adil di mansion Jung.

.

.

.

"Kalian seperti sebuah keluarga."

Heii...heiii...

Siapa yang baru mengatakan hal absurd itu? Jaejoong sangat terkejut, sementara Yoochun hanya mampu terkekeh karena ucapan spontan Kim Junsu. Saat melihat interaksinya dengan Minie, namja manis ini tak mampu menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya. Terlebih balita yang biasanya aktif itu hanya duduk santai sembari memainkan kancing-kancing jas dan kemeja Yoochun, seolah nyaman dan familiar dengan sosok ahjussinya. Manis sekali.

"Bukankah kita memang keluarga?"balas Yoochun tenang.

.

.

.

'Kalian seharusnya sekarang memiliki keluarga yang bahagia, hyungdeul...'

.

.

.

Jung Jaejoong terpaku mengawasi pergerakan adiknya yang beringsut ke outlet kafe untuk meminta bantuan pelayan, serta memesan beberapa menu makanan. Sampai sekarang namja berpantat bebek ini masih menyatakan ketidak sukaannya secara terang-terangan pada keluarga Jung, tak jarang pula melalui sindiran dan kalimat ketus. Interaksinya dengan Yunho malah bisa dikatakan sangat buruk, kecuali terhadap si kembar yang imut dan menggemaskan maka sikapnya cenderung melunak.

"Dia masih saja sensitif?"kata Yoochun menaikkan sebelah alisnya, heran dan tak percaya.

"Ne, hyung"

"Suie sangat menyayangimu, Joongie"

"Ne, hyung...aku mengerti alasannya bersikap seperti itu,"

"Bersabarlah. Aku yakin cepat atau lambat, Suie akan menerima keberadaan keluarga kecilmu!"

"Gomawo, hyung"

"Kau baik-baik saja kan? Ah, aku yakin Jung pabo itu akan menjagamu dengan baik—jika tidak akan kurontokkan giginya hingga jadi harabeoji ompong, hahaha...jangan memelototiku! Itu jelek sekali, Joongie!"tawa Yoochun lepas menghadapi deathglare dongsaeng-nya yang jauh dari kesan galak. Jaejoong tidak banyak berubah dan tetap menjadi sosok imut, manis dan menggemaskan. Hal ini sedikit mengurangi rasa bersalah dan beban yang selama ini mengendap di benak Yoochun. Ia merasa gagal menjaga dan melindungi namja yang sangat di cintainya, karena dosa dan karma dari kehidupan bumonimnya dan Yunho di masa lalu. Setidaknya ia bisa bernapas lega bisa menemukan senyuman indah itu lagi di wajah Kim Jaejoong, mantan tunangannya.

.

.

.

'Dia menjagaku dengan sangat baik, hyung...sangat baik...'

.

.

.

Tap!

Tap! Tap!

Jung Jaejoong terbelalak seketika melihat siapa yang datang dan memasuki area kafe. Sorot tajam sepasang mata musang itu mampu membuat seluruh otot persendiannya membeku, seolah kini tubuhnya lumpuh total hingga tak bisa di gerakkan. Suaminya, Jung Yunho langsung menghampiri meja mereka dan meraih tubuh mungil Changmin dari pangkuan Yoochun dengan tatapan iritasi. Astaga, ia bersikap seolah-olah baru menemukan sang istri tengah berselingkuh dengan mantan kekasihnya.

"Y-Yunie...?"

"Eoh—lama tidak bertemu, Yunho ya? Bagaimana kabarmu? Tadinya kupikir kau akan datang bersama Joongie dan si kembar, namun aku senang bisa menjumpai kalian semua disini!"sapa Yoochun tenang dan santai, tanpa terpengaruh sedikitpun dengan sorotan permusuhan yang dilayangkan Yunho.

"Kabarku? Buruk."balas Yunho dingin.

"Yunie...?"

"Buruk?"

"Ya—terutama setelah melihatmu muncul dan mendekati keluargaku! Jauhi mereka atau tinggal namamu yang tersisa, Park Yoochun!"sergah Yunho sembari mengepalkan tangannya emosi. Demi Tuhan? Orang inilah yang membuat istrinya sengaja membohonginya, agar bisa menemuinya diam-diam bersama Junsu yang selalu bersikap seolah ia adalah musuh bebuyutan.

"Yunie? Kumohon...?"pinta Jaejoong memelas.

"Ikut denganku,"

"Hyung...?"Jaejoong mengalihkan tatapannya pada Yoochun.

"Sekarang!"hardikan keras itu nyaris membuat jantung Jaejoong melompat. Suaminya benar-benar marah sekarang, ia hanya bisa meminta maaf pada Yoochun lewat pancaran manik matanya sebelum bergegas mengikuti langkah Yunho. Ia tak mau pria yang berstatus suaminya ini melampiaskan kemarahan pada orang yang tak bersalah lagi, Yunho versi 'Angry!Bear' nyatanya memang sangat mengerikan. Huh—Yoochun menghela nafas panjang, ia sangat berharap bisa bertemu dengan Yunho dalam situasi yang lebih baik. Jika mereka masih bisa di kategorikan sebagai teman.

.

.

.

'Dia sangat mencintaimu ne, Joongie? Aku lega kau telah menemukan keluarga dan kebahagiaanmu sendiri. Itu artinya hutangku kepada mendiang kedua bumonim-mu telah lunas. Aku yakin meski sikap Jung pabo itu tak berubah dan tetap saja menyebalkan, egois, dingin juga arogan sama seperti 2 tahun silam...tapi setidaknya ia mampu menjaga dan melindungimu dengan baik.'

.

.

.

"Dimana Jaejoong hyung?"

1

2

3

Yoochun mengalihkan perhatian kepada Junsu yang membeku dengan wajah pucat pasi menyaksikan mobil milik Yunho meluncur meninggalkan area parkir. Astaga—kepanikan tergambar jelas di wajahnya, seakan malaikat kematian yang baru saja membawa hyung dan keponakannya pergi. Gelagat aneh itu spontan membuat alis Park Yoochun bertaut, karena rasa takut lah yang mendominasi namja manis itu. Meski berbaur dengan rasa cemas dan khawatir, membayangkan apa yang akan menimpa sang hyung di mansion Jung.

"Kenapa?"

"Suie..."

"Kenapa hyung membiarkan orang itu membawa Jaejoong hyung pergi, hah?"teriak Junsu keras.

"Suie...?"

"Kenapa kau tidak mempertahankan Jaejoong hyung?"

"Suie...!"

"Kenapa kau melepaskan hyungku demi orang brengsek dan keji sepertinya, hyungie?"sergah Junsu emosi, namun perlahan namja manis itu merosot dengan tubuh gemetar hingga Yoochun menariknya ke salah satu kursi. Ada denyutan tak nyaman di dadanya sekarang, ini terasa dejavu—Yoochun seakan tertarik ke masa lalu di malam laknat yang membuatnya harus kehilangan Kim Jaejoong untuk selamanya. Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang akan terjadi.

.

.

.

"Tenanglah, Suie...apa yang sebenarnya terjadi selama aku di Kanada, hmz—kendalikan dirimu. Kau bisa menceritakan semuanya padaku, jika memang ini ada kaitannya dengan Jaejoongie aku pasti akan melakukan apapun untuk membantunya. Kau bisa mengandalkan aku, Suie?"

.

.

.

Kenapa...

Apakah Yoochun telah melakukan kesalahan besar dengan melepaskan Kim Jaejoong? Pertanyaan inilah yang berputar di benak Park Yoochun, hingga membuat pelipisnya berdenyut Tuhan berbaik hati menunjukkan fakta dan kenyataan yang menimpa kehidupan sang mantan tunangan dengan segera, malam itu juga di Seoul Hospital. Rumah sakit yang di pegangnya sebagai dokter spesialis anak terbaik lulusan McGill University, Kanada.

.

.

.

"Dokter Park...pasien anda sedang kritis karena serangan asma di ruang observasi tiga,"

.

.

.

Seoul Hospital.

Yoochun meneliti ulang rekam medis pasien kecilnya yang memiliki riwayat penyakit asma sejak berusia dua bulan. Jung Moonbin, satu nama yang membuat jantungnya serasa tercabut ke akarnya. Apalagi menyaksikan sosok namja yang sangat di cintainya kini tengah mondar-mandir gelisah, dengan wajah pucat pias di instalasi gawat darurat. Sendirian—jejak airmata masih terlihat jelas, di sela kepanikan dan ketakutannya. Jangan lupakan penampilannya yang acak-acakan, piyama yang tidak terkancing sempurna serta tanpa alas kaki.

"Joongie?"sergah Yoochun meraih bahu dongsaeng cantiknya.

"Hyung...Binie...hiks..."tangisan Jaejoong pecah di saat Yoochun memeluknya singkat, coba menyalurkan ketenangan. Namja berjidat ini menyampirkan jas kerjanya ke bahu sempit sang dongsaeng, sembari menatapnya tajam memberikan dorongan moril.

"Aku akan melakukan yang terbaik untuk putramu,"

"Aku...tidak...bisa, hiks...merasakan denyut nadinya..."kata namja cantik itu tersedak di sela isak tangis. Yoochun menepuk pelan kedua pundak dongsaeng kesayangannya disertai tatapan teduh, meski hatinya sendiri bergejolak mendengar pengakuan Jaejoong.

"Tenanglah, Joongie—aku janji akan menyelamatkan Binie. Tunggu disini!"

"Hyung..."

"Aku segera kembali,"

.

.

.

"Siapa dokter yang menangani Jung Moonbin?"

.

.

.

Intensive care unit

Dr. Park melakukan observasi terhadap hasil diagnosis Moonbin yang sebelumnya ditangani oleh Dr. Zhang. Dokter terbaik Seoul Hospital, sekaligus dokter pribadi keluarga Jung. Rekam medik menunjukkan riwayat asma yang di derita bayi 2 tahun ini sebagai penyakit bawaan gen atau keturunan. Namun melihat kondisi Moonbin yang membiru, sesak nafas dan detak jantung cepat ia memiliki spekulasi lain. Bayi yang dijumpainya tadi siang ini benar-benar seperti tak bernyawa, ketika di bawa ke instalasi gawat darurat. Beruntung keadaannya bisa di stabilkan dengan berbagai alat bantu untuk menunjang kelangsungan kehidupannya.

"Lakukan ekokardiografi, elektrokardiografi (EKG), rontgen dada dan oksiometri!"perintah Yoochun.

"Baik...Dr. Park!"

"Berikan hasilnya kurang dari enam jam,"

"Keadaannya telah stabil sekarang!"kata Dr. Zang mengusap peluhnya lega.

"Seberapa sering hal ini terjadi pada pasien?"timpal Yoochun serius.

"Umumnya kondisi Moonbin memburuk setiap mengalami kelelahan fisik dan terpapar alergen, namun bisa di atasi dengan obat-obatan yang kuberikan secara berkala."tukas Dr. Zang menautkan keningnya heran melihat reaksi hoobae-nya yang menyiratkan rasa tak percaya.

"Bagaimana hal sepenting ini bisa lolos dari pengamatan anda, Dr. Zang?"

"Apa maksudmu...?"

"Moonbin memiliki kelainan pada defek jantungnya."sergah Yoochun tegas.

"Itu tidak mungkin—aku rutin memeriksa kehamilan Tn. Jaejoong sejak berusia 20 minggu. Hasil ultrasonografi, skrining TORCH, fetal kardiografi dan antenatal Moonbin sangat baik. Aku tidak mungkin melakukan kesalahan diagnosis,"bantah dokter berusia separuh abad ini tak terima.

"Menilai dari kondisi pasien dan gejala yang dialaminya, aku menduga Moonbin menderita ventricular septal defect. Kita akan mengetahuinya dengan segera!"pungkas Dr. Park dengan tatapan tenang. Ia mencoba menguasai diri, walaupun tahu sedikit kesalahan dari tim medis seperti mereka bisa berakibat fatal terhadap pasien. Terutama dengan penyakit bawaan serius seperti VSD dan ASD non sianotik yang seringkali tidak terdiagnosa dokter ataupun orangtua, namun sangat berbahaya jika tidak ditangani secara adekuat karena bisa berakibat kematian.

.

.

.

'Aku berjanji akan menyelamatkan putramu, Joongie...'

.

.

.

Azalea 03

Yoochun memasuki intensive care unit tiga, ruangan dimana Moonbin dirawat untuk masa pemulihan. Hatinya mencelos sedih menyaksikan Jaejoong yang duduk membelakanginya, namja cantik itu nyaris terjaga semalaman dan terus mengusap lembut tangan mungil buah hatinya. Demi Tuhan. Ada banyak sekali pertanyaan yang menyelinap di benak Yoochun sekarang, namun ia menutup rapat karena ada hal yang jauh lebih penting. Kesehatan Moonbin.

"Kau juga harus istirahat, Joongie!"tegur Yoochun pelan.

"Ia akan baik-baik saja kan..."

"Ya. Dia telah melewati masa kritisnya!"

"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, hyung..."

"Putramu sosok yang kuat sepertimu, Joongie"

"Gomawo telah membawanya kembali padaku, hyung..."

"Hm. Kau juga harus menjaga kesehatanmu! Makanlah, Joongie!"perintah Yoochun sembari mengulurkan menu sarapan yang sempat dipesannya beberapa saat lalu di kantin rumah sakit, meski harus menghela nafas karena mendapat gelengan lemah dari sang dongsaeng. Keras kepala, sikap jelek yang satu ini rupanya masih melekat erat pada Kim 'Jung' Jaejoong.

.

.

.

"Makanlah! Kau harus kuat demi putramu, Joongie. Karena setelah ini aku harus berbicara serius denganmu dan Yunho mengenai hasil pemeriksaan ulang dan diagnosa penyakit Moonbin."

.

.

.

Tap!

Tap! Tap!

BRAKKK

Yunho membeku di ambang pintu kamar perawatan Moonbin, setelah berlari-lari di sepanjang koridor Seoul Hospital. Rasa cemas, panik dan ketakutan usai mendengar bahwa sejak semalam sang istri melarikan buah hati mereka karena serangan asma ke rumah sakit tiba-tiba menguar seketika. Lebur menjadi kekecewaan yang nyata menyaksikan namja yang sangat dicintainya memilih menghubungi mantan tunangannya, daripada dirinya yang notabene berstatus sebagai appa dari sang putra.

"Kau sudah datang, Yun...aku harus bicara denganmu!"sapa Yoochun tenang.

"Aku mengganggu malam panas kalian?!"sindir Yunho dingin.

"Apa yang kau bicarakan?"

"Jadi kau memilih selingkuh secara terang-terangan, boo?"kalimat datar sang suami seketika membuat Jaejoong memejamkan sepasang mata doe-nya erat. Demi Tuhan—prasangka, kebencian dan kecemburuan Yunho seakan semakin mencekiknya hingga sukar bernafas. Bahkan di tengah kondisi kritis sang buah hati, sang suami enggan meredam emosinya yang membabi buta.

"Jung Yunho!"gertak Yoochun kehabisan kesabaran.

"Jangan pernah bermimpi bisa merebutnya kembali dari tanganku, Park Yoochun!"desis Yunho berbahaya.

"Ada apa denganmu, Jung?"

"Sampai matipun aku tidak akan melepaskanmu, Jung Jaejoong!"

"Hentikan sikap konyolmu, Jung—jangan berteriak di sini, Moonbin perlu istirahat! Simpan kemarahanmu demi putramu yang terbaring sakit dan baru melewati masa kritisnya. Kita bicara empat mata di ruanganku. Sekarang!"titah Yoochun tegas tanpa bisa ditawar dengan tatapan intimidasi. Kelakuan kekanakan mantan sahabatnya sungguh membuatnya jengah dan iritasi. Sementara Jaejoong tak bergeming di tempatnya, seolah menutup mata dengan kehadiran Yunho dengan aksi bungkamnya. Mata doe itu tak henti memandangi gerak naik-turun dada sang putra seakan takut jika mengalihkan pandangan sedetik saja maka Moonbin akan berhenti bernafas.

.

.

.

"Bicara? Maksudmu membicarakan siapa appa biologis Changmin dan Moonbin?"

.

.

.

DEG

Kalimat kasar, dingin dan keji yang terlontar dari pemilik bibir hati ini bagai ribuan pisau tak kasat mata yang menghunjam jantung Jaejoong. Ini sangat menyakitkan. Pengorbanannya untuk bertahan disisi seorang Jung Yunho rasanya sia-sia. Setelah kehadiran si kembar, terutama usai fakta mengejutkan kala si bungsu menderita penyakit asma. Sikap suaminya mulai berubah dingin dan hampa, terlebih praduga itu diperkuat dengan bukti jika Moonbin memiliki gejala yang sama dengan riwayat penyakit yang di derita keluarga Park. Yunho mulai meragukan jika kedua putranya adalah darah dagingnya, namun ia terlalu arogan dan egois untuk sekedar melakukan tes DNA. Satu-satunya alasan adalah ia sangat takut kehilangan Jung Jaejoong, terlebih setelah kehadiran Park Yoochun kembali di Korea Selatan.

"Mereka memang bukan darah dagingmu, Jung Yunho..."

Tes!

"Kau puas...?"lanjut namja cantik itu dengan tatapan kosong.

Tes!

"Hahaha...akhirnya kau mengakuinya? Dasar jalang!"teriak Yunho murka.

Tes!

"Kenapa kau tidak melepaskan kami...?"bisik Jaejoong lirih nyaris tak terdengar.

Tes!

"Tutup mulutmu! Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja, huh...aku bersumpah akan membuat hidup kalian berdua sengsara! Ingat itu—seumur hidup kau tak akan bisa keluar dari cengkeramanku, Jung Jaejoong!"gertak Yunho keras, sebelum membanting pintu dan keluar dengan wajah merah padam. Kemarahan telah mencabik-cabik akal sehatnya. Semenit saja ia bertahan satu ruangan dengan Yoochun yang masih membeku lantaran shock berat, bisa dipastikan dokter muda itu tinggal nama. Suara halus sang dongsaeng tiba-tiba menyadarkan Yoochun dari keterkejutannya, hingga ia memutuskan mengejar pria brengsek yang sudah berhasil menghancurkan kehidupan namja yang paling di cintainya di dunia.

.

.

.

"Mereka hanya anak-anakku, hyung...hiks...mereka darah dagingku..."

.

.

.

"Jung brengsek! Kau pikir apa yang kau lakukan! Hah?!"

Bough...

Bough...bough...

Tiga pukulan keras bersarang di pelipis, dagu dan rahang Yunho. Itu rasanya tak sebanding dengan airmata kesedihan yang mengalir dari sang dongsaeng akibat arogansi dan kebodohan namja yang pernah berstatus sebagai sahabat baiknya semasa di Seoul University ini. Kecemburuan tak berdasarnya sungguh membuatnya gelap mata, hingga menolak kenyataan yang ada. Jung Yunho tetap saja seseorang yang angkuh dan terbelenggu luka lama di masa kecilnya. Menyedihkan...

"Dasar bodoh!"

Duash...

"Kau idiot!"

Duash...

"Buka matamu lebar-lebar!"

Duash...

"Dan lihat apa yang selama ini Jaejoong-ku korbankan, brengsek!"

Duash...

"Hahaha...Jaejoong-mu? Dia akan terus menjadi milikku meski malaikat maut sekalipun yang coba merebutnya dariku, Park! Selangkah saja ia mencoba pergi, maka aku akan mematahkan kedua kakinya jika itu satu-satunya jalan kami tetap bersama! Ingat itu! Bahkan aku tak segan membunuhmu..."desis Yunho sambil membarut nyeri yang menguasai rahangnya. Ia terkekeh mengerikan menyaksikan Yoochun yang terengah mengatur nafas usai aksi brutalnya. Rasanya ia tak sabar membalas pukulan mantan sahabatnya, tetapi selalu ada cara yang lebih keji bagi seorang Jung. Satu jurus Hapkido-nya rasanya tidak buruk untuk permulaan. Erangan panjang keluar dari mulut Yoochun, ketika tubuhnya terlempar ke dinding oleh tendangan Yunho yang langsung membuat pandangannya menggelap. Astaga...

.

.

.

"Bodoh..."

.

.

.

Mirotic club

Yunho menenggak wine ke tujuhnya selama satu jam ia menghabiskan waktu di club malam elite Gangnam-gu. Tempat yang akhir-akhir ini sering dikunjunginya untuk melampiaskan rasa frustasi. Pernikahan yang di impikannya akan berakhir bahagia, berubah bagai neraka dua tahun belakangan. Kenyataan bahwa kedua putranya tidak memiliki gen yang sama, ditambah bukti test DNA yang di berikan sang umma benar-benar membabat habis kewarasannya. Miris...

"Kalian sengaja melakukan semua ini padaku...hugs..."

"Yun?"

"Kalian ingin balas dendam huh..."

"Yunho ya,"

"Brengsek!"

"Yunho—kau tidak bisa terus seperti ini. Ayo! Aku akan mengantarmu kembali ke mansion Jung,"seru Boa cemas. Ia mengguncang bahu kekar Yunho, berharap masih ada sisa kesadaran dari sahabat sekaligus namja yang pernah di cintainya. Demi Tuhan. Boa tak tega menyaksikan kehancuran hidup Yunho. Benci, kemarahan dan kekecewaan itu begitu besar hingga membuatnya terperosok kembali menjadi sosok bengis tanpa hati nurani. Berbanding terbalik dengan senyum yang selalu terulas di awal-awal pernikahannya dengan Jung Jaejoong. Malaikat yang telah membangkitkan sisi manusiawi sahabatnya, namun juga menjadi orang yang menjatuhkan Yunho hingga titik terendah kehidupannya. Rasa percaya akan adanya cinta, kesetiaan dan kepercayaan seolah hancur lebur ketika namja tampan itu mengetahui fakta dan bukti jika Jung Twins bukan darah dagingnya.

.

.

.

"Apa yang harus kulakukan untuk menolongmu, Yunho-ya?"

.

.

.

Seoul Hospital

Jung Jaejoong mengulas senyuman sendu sembari memainkan jari-jari mungil Moonbin. Tidak peduli seburuk apa hari-hari yang mereka lewati di mansion Jung karena perlakuan Heechul, tanpa pembelaan dari sang suami yang selalu bersikap dingin setelah kehadiran kedua buah hati mereka. Namun ia sangat bersyukur putra bungsunya mampu bertahan dan masih berada di dekapannya hingga detik ini. Kata demi kata sang hyung kembali terngiang. Pembicaraan serius yang membuat nyawanya seolah di cabut paksa mengetahui fakta mengerikan tentang penyakit yang di derita Moonbin.

"Ventricular septal defect,"

"B-Bukan asma...?"Jaejoong terbelalak shock.

"Istilah awamnya kebocoran jantung, Joongie—pada kasus Binie terjadi kelainan di septum bilik kirinya dan itu tergolong VSD non sianotik, gejalanya nyaris tidak terdeteksi hingga sulit bagi orang tua atau pun dokter sekalipun mengenalinya secara dini. Umumnya bayi mengalami sesak nafas, sulit minum asi, keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan."

"Kenapa...?"

"Penyakit jantung pada bayi biasanya di sebabkan beberapa faktor, diantaranya virus Rubella, kadar gula yang tinggi di masa kehamilan, kebiasaan merokok, konsumsi obat tertentu sejenis asam retinoat dan faktor genetik atau keturunan."

"Itu tidak mungkin...ah, umma?"

"Yyah! Mereka mewarisi riwayat penyakit mendiang umma-mu, Joongie. Changmin! Kita juga harus memeriksanya, sebab kemungkinan besar bayi kembar mengidap kelainan yang sama."

"Lakukan apa saja untuk menyelamatkan putraku, hyung..."

"Aku telah berkoordinasi dengan rekananku di McGill yang berprofesi sebagai dokter bedah jantung terbaik di Amerika. Kita mempunyai peluang besar, jika melakukan penanganan medikamentosa dan kateterisasi yang relatif lebih aman untuk bayi di atas satu tahun. Operasi pemasangan heart-lung bypass baru bisa di lakukan jika pasien telah cukup dewasa. Kau harus bersyukur, Joongie...putramu sangat kuat. Di Kanada sedikitnya 35.000 bayi mengalami kelainan yang sama dan 90% meninggal sebelum mencapai tahun pertama. Moonbin pasti bisa melewati ini semua...percayalah!"kata Yoochun tenang dan tegas. Ia menepuk kedua bahu dongsaengnya guna memberikan kekuatan. Dukungan moril dari keluarga dan orang-orang yang dicintainya, itulah yang paling dibutuhkan namja cantik itu untuk melewati semua ujian berat di kehidupannya sekarang.

.

.

.

"Yunho...kurasa ia berhak tahu apa yang terjadi pada putranya. Kau harus menyelesaikan kesalahpahaman ini, Joongie...Suie sudah menceritakan semua tentang Yunho. Sisi positifnya ini bisa menjadi kesempatanmu memperbaiki kondisi keluarga kecilmu, saeng...percayalah! Selalu ada nilai yang terkandung di dalam mimpi buruk sekalipun...hyung pasti mendukung apapun yang terbaik bagi masa depan keluarga kalian dan kita semua akan melakukan yang terbaik untuk Moonbin."

.

.

.

Mansion Jung

Hujan deras di sertai gelegar petir dan kilat yang bersahutan menjadi saksi bisu sekaligus teman saat namja cantik ini menginjakkan kaki kembali di mansion Jung. Tempat yang awalnya menjadi surga baginya, namun ternyata berubah menjadi neraka. Sekali lagi—Jung Jaejoong terhempas ke jurang kehancuran begitu membuka kamarnya dan menyaksikan kejadian laknat. Pemandangan yang tersaji seolah melemparnya kembali ke masa lalu. Dejavu. Ia hanya mampu membeku di ambang pintu melihat suaminya, namja yang sangat di cintainya kini tengah menyetubuhi yeoja yang sudah di anggapnya sebagai kakak kandung. Kwon Boa...

"Noona...?"

"Kumohon hentikan, Yun...huhu..."tangis yeoja itu kesakitan, sementara Yunho terus bergerak kasar menuntaskan hasratnya sembari mencumbuinya dengan kasar dan brutal.

"Kau nikmat sekali, Boo."desis Yunho disela geraman rendah, menikmati percintaan mereka.

"Lepaskan aku...sakiiit..."

"Sedikit lagiiii, sayang!"

"Jangan!"

"Aku datang, baby..."Yunho mencapai klimaksnya dalam satu hentakan kasar, hingga cairan spermanya menyembur sempurna di dalam rahim sang noona yang tak henti menangis meratapi nasibnya. Niat awalnya membantu namja Jung ini malah membuatnya terjebak dan menjadi pelampiasan nafsu binatang Yunho. Malangnya, pria yang di cintainya ini sama sekali tak mengenalinya karena mengira ia tengah bercinta dengan sang istri. Jung Jaejoong. Astaga! Boa terbelalak menemukan siapa yang berdiri di ambang pintu dengan airmata bercucuran dan isakan yang tertahan oleh bungkaman tangannya. Namja cantik itu tengah menahan tangis sekuat tenaga, sebelum mengumpulkan kekuatannya untuk meninggalkan ruangan itu dan menjangkau kamar sang putra. Ya Tuhan. Boa berusaha mendorong tubuh telanjang Yunho yang ambruk kehabisan kesadaran, lalu berusaha mengejar Jaejoong yang sangat di sayanginya seperti adik kandungnya sendiri. Tangisannya pecah setelah gagal memburu namja cantik yang sudah terlebih dulu meninggalkan mansion dengan Changmin di pelukannya. Ini benar-benar buruk.

.

.

.

"Kumohon...ini tidak seperti yang kau lihat Joongie...hiks...aku tak berdaya menghentikannya...hiks, hiks...maafkan aku...maafkan noonamu ini..."

.

.

.

Namwoon Street

Namja cantik ini tak henti mengusap butiran panas yang terus meleleh dari sepasang mata doenya. Ia merasa terkhianati, hancur, sakit dan kecewa di saat yang bersamaan. Ia tahu rumah tangganya berada di titik jenuh karena sikap dingin sang suami, tapi ia tak menyangka Yunho tega melakukannya dengan yeoja yang begitu di sayanginya. Disaat ia terpuruk karena tuduhan keji Heechul dan Yunho, justru Boa noona-lah yang setia dan selalu membesarkan hatinya. Tetapi kenyataan yang memukulnya sekarang seperti bom waktu yang membuatnya mati berkeping-keping. Ya Tuhan...

"Hiks..."

"Mmaa? Umm...maaa..."bola mata bambi yang menatapnya penuh rasa ingin tahu justru membuat tangisan Jaejoong pecah. Bayi berusia 2 tahun itu terdiam sesaat sebelum wajah imutnya berangsur memerah, lalu ikut meledakkan tangis.

"Hiks...jangan menangis, baby..."

"Huwaaa..."

"Kumohon, hiks...berhenti menangis, sayang? Hiks...nanti kau bisa tersedak...hiks..."

"Huwaaaa...ummmaaa..."

"Hiks...hiks..."

Astaga!

Sang sopir taxi berusia separuh abad ini di buat cemas dan kebingungan oleh aksi pria cantik dan aegya-nya yang kini sama-sama menangis memilukan di jok penumpang. Ia membayangkan jika hal ini menimpa salah satu anggota keluarga, hingga tak sampai hati melihat peristiwa yang membuat hati miris ini. Hampir tiga puluh menit, taxi yang di kendarainya hanya berputar-putar di distrik Namwoon. Mulutnya seakan terkunci walau hanya untuk menanyakan kemana arah dan tujuan penumpang cantiknya di tengah malam yang di sertai hujan badai seperti ini, hingga suara halus menyapa indera dengarnya.

.

.

.

"Tolong...Seoul hospital, ahjussi..."

.

.

.

Brukkk...

Sepasang kaki Jaejoong rasanya lemas dan kehilangan tenaga, terlebih menemukan ruang perawatan putranya di penuhi para perawat dan Yoochun yang sesekali memberikan instruksi. Moonbin mengalami sesak kembali dan kali ini serangannya lebih serius. Sekujur tubuh bayi mungil itu nyaris membiru, hingga membuat para perawat pesimis dan kehilangan harapan. Beruntung kondisinya masih bisa di stabilkan, berkat tangan dingin Yoochun dan bantuan Dr. Nam yang merupakan specialis jantung di Seoul hospital.

"Kita tak bisa menunggu lebih lama lagi, Dr. Park! Begitu kesehatan pasien stabil, kateterisasi harus segera di lakukan agar nyawanya bisa di selamatkan."saran Dr. Nam serius.

"Lakukan!"

"Jae...?"

"Lakukan apapun untuk menyelamatkan putraku, hyung!"kata namja cantik itu dengan suara bergetar, kening Yoochun berkerut menyisakan tanya karena dongsaengnya lagi-lagi sendirian.

"Yun—"

"Mereka putraku! Hanya putraku..."desis Jaejoong sembari memeluk Changmin yang masih terisak dengan hidung memerah dan mata bambinya yang berkaca-kaca. Yoochun mengangguk pasti mengutarakan keyakinan bahwa ia akan melakukan apapun demi keselamatan Moonbin. Dan operasi akan di lakukan pagi ini juga di Seoul hospital dengan bantuan para spesialis bedah jantung terbaik yang ada di Korea Selatan.

.

.

.

Mansion Jung

Sepasang mata musang itu mengerjap gelisah karena terganggu bias matahari yang menerobos sisi gorden jendela. Yunho mengerang pelan mencium aroma alkohol dan sperma yang bercampur aduk memenuhi atmosfer ranjang mewahnya. Ia bisa mengingat dengan jelas percintaan panasnya dengan sang istri, walau dibumbui pemaksaan dan tangisan Jaejoong pun masih terngiang jelas di telinganya. Urrggh—namja tampan ini bergegas membersihkan diri sebelum pergi ke kamar Changmin. Yyah, ia memutuskan akan membawa istri dan anaknya pergi sejauh mungkin dari Park Yoochun. Orang yang akhir-akhir ini membuatnya ketakutan akan kehilangan namja yang dicintainya, terlebih setelah mantan sahabatnya itu tahu fakta jika Jung Twins adalah putra kandungnya. Shit...

"Dimana Minie?"tanya Yunho dingin kepada salah satu baby sitter putranya.

"T-Tuan muda bersama tuan Jaejoong..."

"Istriku ada di bawah?"

"S-Semalam tuan Jaejoong membawa tuan muda pergi, Tuan Besar!"

"Apa katamu?"

"S-Saya tidak tahu..."

"Brengsek!"sergah Yunho dengan kemarahan menyala-nyala di matanya. Ia bergegas turun dan menemukan sang umma tengah bersiap menikmati menu sarapannya dengan gaya anggun dan santai. Kekehan ringan dan seulas senyuman sinis terukir di wajah cantik Jung Heechul menyaksikan kepanikan sang putra karena kehilangan istri cantiknya. Ia sudah lama menantikan saat-saat namja rendahan yang dipungut putranya kembali ke jalanan, hingga ia bisa mengendalikan sosok Jung Yunho kembali. Ckk

"Siapa yang kau cari? Mungkin istrimu sedang memperkenalkan anak-anaknya pada keluarga Park. Bukankah itu yang seharusnya terjadi...manusia miskin dan rendahan seperti mereka memang lebih layak berada di jalanan. Pakai akal sehatmu, Jung! Mereka tidak pantas memperoleh kehormatan keluarga kita."kalimat sarkastik sang umma langsung membuat Yunho mengeraskan rahangnya tidak suka. Apapun yang terjadi ia tak akan melepaskan keluarganya untuk Park Yoochun, hidup ataupun mati. The Posesive Jung.

.

.

.

"Sampai matipun aku tidak akan melepaskan mereka, Nyonya Jung."

.

.

.

Seoul Hospital

Yunho tertegun karena tidak menemukan istri dan anak-anaknya di ruang Azalea. Kamar perawatan Moonbin tampak kosong, sunyi dan senyap tanpa ada aktifitas medis. Menurut salah seorang perawat jaga, putranya telah menjalani operasi kateterisasi sekitar dua jam lalu. Beribu pikiran buruk berkecamuk di benak Yunho setelah mendengar penjelasan singkat Dr. Zang mengenai kesalahan diagnosis tentang penyakit yang di derita sang putra.

"Ventricular septal defect (VSD) atau kebocoran jantung."ujar Dr. Zang menerangkan.

'Apa...?'

"Semalam Moonbin mengalami serangan dan kondisinya memburuk,"

"Dimana putraku sekarang..."

"Kami memutuskan melakukan tindakan kateterisasi begitu keadaan Moonbin stabil. Itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya—Jaejoong menyetujuinya kemarin malam,"

"Kenapa kau tidak memberitahuku, Boo..."

"Maafkan atas kecerobohanku, Yunho-ya. Ini semua murni kesalahanku, jika saja aku lebih jeli dan waspada maka kita bisa melakukan tindakan lebih awal dan kesehatan Moonbin tidak akan memburuk. Beruntung Dr. Park cepat menyadarinya, hingga kita bisa melakukan operasi untuk menyelamatkan nyawa Moonbin...putramu masih dalam keadaan kritis sekarang, Yun!"kata-kata Dr. Zang bagaikan mantra yang terus menguasai alam bawah sadar Yunho. Itu semua seperti tamparan keras yang menunjukkan seberapa buruk perannya sebagai appa dan kepala keluarga. Ia tak ada di saat-saat sang putra tengah berjuang di antara kematian. Ia gagal menjaga keluarganya karena sibuk bergulat dengan perasaannya sendiri. Darah siapapun yang mengalir di tubuh kedua putra tercintanya, Yunho tak mampu mengelak ia memiliki cinta dan kasih sayang yang besar pada mereka. Kendati semuanya seakan tertutupi sikap dingin, kasar dan arogannya.

.

.

.

"Eoh—akhirnya kau muncul juga, Tuan Jung?"

.

.

.

Sraaakkk...

Yoochun melemparkan sehelai surat keterangan dari pihak rumah sakit mengenai hasil test DNA atas nama Jung Moonbin. Fakta baru yang langsung membuat Yunho membeku kehilangan suara sarkastik dan angkuhnya. Di form berstempel Seoul hospital itu jelas-jelas tertulis jika putranya tidak memiliki kecocokan DNA dengan Park Yoochun. Kecurigaannya selama dua tahun ini terbantahkan dengan bukti-bukti yang ada. Ia bisa mengeceknya langsung jika benar hasil test terdahulu rekayasa ummanya, tapi surat keterangan itu ditandatangani langsung oleh Dr. Zang.

"Ini..."

"Itu hasil otentik test DNA antara Dr. Park dan Moonbin, jika kau meragukannya aku bisa melakukan test ulang untukmu dan Changmin. Mereka putramu, Yunho. Aku telah menyelidiki ada rekayasa dengan hasil test terdahulu. Salah satu dari staf kami menerima nominal tertentu untuk memalsukan hasil keterangan asli...pihak Seoul hospital meminta maaf yang sebesar-besarnya, Yunho-ya. Aku akan bertanggung jawab untuk semua kesalahan fatal ini, aku akan mengundurkan diri sebagai dokter kepala rumah sakit,"kata Dr. Zang penuh penyesalan.

"Hahaha...anda pikir ini lelucon?"desis Yunho geram.

"Aku tahu ini kesalahan besar, Yun!"

"Anda tahu—akibat kesalahan 'kecil' anda, aku sudah menyia-nyiakan keluargaku. Selama dua tahun aku menganggap mereka seperti orang asing dan menatap istriku layaknya seorang pengkhianat keji. Permohonan maaf saja tidak berarti, Dr. Zang!"sergah Yunho emosi.

"Yunho..."

"Gunakan otak cerdasmu untuk berpikir lain kali, Jung! Aku tidak tahu harus merasa iba atau marah dengan perlakuan kejammu pada namdongsaeng-ku, tapi kau masih memiliki jalan untuk memperbaiki keadaan, kawan! Berharaplah Joongie bisa memaafkan semua tindakan bodohmu...aku tidak akan main-main dengan ancamanku jika kau menyakiti Joongie untuk ketiga kalinya, Yunho-ya."gumam Yoochun sambil menepuk bahu mantan sahabatnya lunak. Ia sadar kemarahan tidak akan menyelesaikan apapun, tapi dengan terkuaknya kebenaran ini ia berharap Jaejoong-nya akan menemukan kebahagiaan. Yoochun mengayunkan kakinya dan ingin mengistirahatkan tubuh letihnya beberapa menit di ruang pribadinya usai melalui berjam-jam yang menegangkan. Seulas senyum tipis mengembang dari sudut bibir namja berjidat lebar ini membayangkan hari-hari buruk yang dilalui sang dongsaeng cantiknya akan segera berakhir. Ia melakukan hal yang benar aniya?

.

.

.

'Kau harus bahagia, Joongie...'

.

.

.

Intensive care unit

Yunho terpaku memandangi sosok mungil yang terbaring tak berdaya di ruang pemulihan, pasca operasi kateterisasi yang dilakukan. Moonbin-nya tampak begitu rapuh dengan berbagai alat bantu guna menunjang kehidupannya. Sementara Jaejoong terus menggenggam tangannya dengan kondisi yang jauh dikatakan baik. Jubah steril rumah sakit membalut tubuh kurusnya yang memakai piyama biru, pakaian yang di kenakannya sejak dua hari lalu. Ia enggan meninggalkan sang buah hati meski Junsu sering membujuknya untuk memperhatikan kesehatan. Ia sangat takut jika sedetik saja memalingkan wajah maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada sang putra.

"Aku sudah melakukan kesalahan fatal, Boo..."

Tes!

"Kesalahanku mungkin terlalu besar untuk kau maafkan,"

Tes!

"Tidak seharusnya aku meragukan kalian..."

Tes!

"Bisakah kita memulainya kembali dari awal. Kau , aku, Changmin dan Moonbin...keluarga kecil kita?" kata-kata Yunho seolah hilang tertelan deru air conditioner yang menurunkan suhu ruangan perawatan. Tidak ada sedikitpun reaksi dari namja cantik itu, satu kalimat singkatpun. Jaejoong tidak melepaskan perhatian dari wajah Moonbin dengan sorotan kosong, sendu dan hampa. Kecuali butiran panas yang perlahan jatuh menuruni pipi mulusnya. Ia sudah kehabisan pikiran, waktu dan tenaga sekalipun untuk meneriakkan kesakitan yang selama ini diterimanya bertubi-tubi dari namja yang berstatus suaminya. Orang yang seharusnya menjaga, melindungi dan mencintai keluarga kecil mereka. Nyatanya semua impian itu berakhir menjadi mimpi buruk.

.

.

.

"Sulitkah bagimu untuk mempercayaiku, Yunho ya...aku tidak pernah mengkhianatimu...kaulah yang sudah mengkhianati kami...terima kasih atas semuanya...ini sudah cukup..."

.

.

.

DEG!

Suara tenor lirih itu seperti tamparan keras bagi Jung Yunho. Kesakitan dan kekecewaan yang dirasakan namja cantik itu mungkin sudah terlalu dalam padanya, hingga sekedar menatap matanya ia enggan. Yunho terpatung di tempatnya merasakan jarak yang diberikan Jaejoong bagi hubungan mereka terlalu jauh untuk dilampaui. Seulas senyuman pahit terukir di bibir hatinya, mencoba menghibur diri sendiri meski dadanya berdenyut sakit. Rasanya seperti di lemparkan ke masa lalu, dimana mereka memulai pernikahan sebagai orang asing.

.

.

.

"Aku tidak akan menyerah, Boo..."

.

.

.

Minggu ke ; 1

Yunho tersenyum kecil pada Moonbin yang duduk tenang di ranjang sembari memainkan gundam kesayangannya. Hari ini ia diperbolehkan check out dari rumah sakit setelah serangkaian tes kardiografinya dinyatakan baik dan cukup sehat untuk menjalani rawat jalan. Kecuali jadwal kunjungan pemeriksaan rutin yang harus tetap dilakukannya seminggu sekali. Tawa bocah berusia dua tahun ini seperti keajaiban bagi Jaejoong, meski senyuman lembutnya tak pernah lagi ditujukan bagi Yunho yang kehadirannya dianggap sebagai angin lalu selama seminggu buah hati mereka dirawat di Seoul hospital.

"Hey! Hari ini jagoanku mau diperbolehkan pulang. Hmm?"seru Yunho menarik robot biru milik Moonbin untuk merebut perhatiannya. Terbukti kerucutan sebal itu tercipta, sementara tangannya berusaha menggapai benda kesayangannya.

"Ppa...guntham...Bin!"pekik bocah serupa Yunho itu protes.

"Baiklah! Popo appa dulu, hm?"

"Chileo...!"

"Hey! Mau gundam-mu kembali?"

"Huweee...mma...appa nappeun..."rengek Moonbin histeris. Yunho terkekeh miris, ia berharap bisa mendengar kalimat larangan istrinya yang kesal jika ia menggoda si bungsu. Tapi harapan tinggal harapan, namja cantik itu tak bergeming dan tetap dengan kesibukannya membereskan barang-barang si kecil. Hingga kedatangan Junsu, Yoochun dan Changmin mengusik keributan yang di sebabkan rengekan Moonbin. Si sulung yang melihat Yunho langsung berontak turun dan melompat ke pelukan sang appa sembari terkekeh menggemaskan. Tampaknya ia merindukan pria tampan yang seminggu ini tak di jumpainya, sebab ia menginap di rumah Park harabeoji. Yeah—Junsu memilih tinggal di kediaman keluarga Park yang sudah di anggapnya sebagai ahjussi kandung, daripada menerima tawaran sang kakak untuk tinggal bersamanya di mansion Jung.

.

.

.

"Kajja, baby...kita pulang. Harabeoji sudah menunggu Binie di rumah."

.

.

.

DEG!

Yoochun mengangguk singkat menanggapi sorot tajam mantan sahabatnya. Mengiyakan apa yang menjadi kekhawatiran Yunho. Namja cantik itu menolak kembali ke mansion Jung. Itu langkah terbaik sementara waktu hingga ia bisa menenangkan pikiran dan menentukan langkah ke depan untuk keluarga kecilnya. Tampaknya kali ini Yunho terpaksa mengalah, mengingat sikap dingin sang istri. Keadaan bisa semakin memburuk jika ia bersikeras melontarkan kalimat sanggahan. Pilihan bijak aniya?

.

.

.

Minggu ke ; 2

Kim Junsu melengos melihat siapa yang menjadi tamu rutin di kediaman Park. Pria yang berstatus suami sah hyungnya itu selalu mengunjungi keluarga kecilnya setiap hari, tidak peduli sedingin apapun sang istri mengabaikannya. Yunho menyadari benar dimana letak kesalahannya dan menganggap hukuman ini layak ia terima, mengingat hampir 2 tahun ia melakukan hal yang sama pada Jung Jaejoong. Tanpa tahu alasan di balik perubahan sikap namja yang di cintainya. Sakit, luka dan rasa kecewa akibat pengkhianatan Yunho terpatri di ingatannya hingga detik ini. Itu semua terlalu menyakitkan.

"Orang itu benar-benar menyebalkan, hyung!"gerutu Junsu geram.

"Nuguya?"

"Jung pabo itu. Siapa lagi memangnya. Huh!"

"Hyung-mu juga bermarga Jung, Suie. Semenyebalkan apapun, Yunho berstatus sebagai hyung iparmu. Belajarlah menghormatinya, seperti kau menghargai hyung kandungmu sendiri. Suka atau tidak. Dia sudah menjadi bagian dari keluarga besar kita. Hmm..."bujuk Yoochun disertai senyuman lebar ketika mengacak rambut namja manis itu dengan gemas.

"Haish. Kenapa kau itu begitu baik, hyung?"

"Wae..."

"Dia orang yang sudah menghancurkan kehidupanmu, juga Jaejoong hyung."

"Melupakan dan memaafkan adalah dua hal yang jauh berbeda, Suie. Kelak kau pasti mengerti. Baik atau buruk. Tidak ada kejadian di dunia ini yang tidak memiliki suatu maksud. Lihatlah hyung-mu! Bukankah yang terpenting melihatnya hidup berbahagia dengan keluarga kecilnya, Hmm..."Junsu termenung menyaksikan seulas senyuman tulus yang terpahat di wajah tampan Yoochun, kala memergoki interaksi keluarga Jung di sofa ruang tamu bersama Park harabeoji. Kendati Jaejoong menanggapi obrolan mereka dingin dan terkesan ogah-ogahan. Semua butuh proses...

.

.

.

'Kau sungguh-sungguh malaikat yang hadir di kehidupan kami, Chunie hyung. Gomawo.'

.

.

.

Minggu ke ; 3

Namja cantik kita terpekur di ambang pintu kamar yang di tempatinya bersama kedua putra selama tinggal di kediaman Park ahjussi. Telinganya menangkap alunan suara bass Yunho mendendangkan nada 'Winter Rose'. Lagu yang sangat familiar. Lagu yang sama selalu di perdengarkan sang suami setiap ia gelisah menjelang tidur dimasa-masa kehamilan si kembar. Sesak tiba-tiba menyeruak di dada Jung Jaejoong mengenang semua memory manis bersama sang suami. Jauh sebelum kesalah pahaman menhancurkan pilar-pilar kokoh keluarga kecil yang dibangun mereka dengan susah payah.

"Kimiga ireba soredeii...sousa close to heart, close to my love..."

'Aku sudah melakukan kesalahan fatal, Boo,'

"Tatta hitotsu shikanai aiga kokoni arukara...kimino tameni irebaii, itsumo close to heart, close to your love..."

'Kesalahanku mungkin terlalu besar untuk kau maafkan,'

"Tokimekiwo kasaneau kokorono nakani winter rose..."

'Tidak seharusnya aku meragukan kalian.' Reka ulang percakapan terakhirnya dengan sang suami kembali menyeruak di ingatan Jung Jaejoong. Sedetik ia menghela nafas berat sebelum kembali memasang topeng dingin dan datar yang selalu di tampilkannya di hadapan Yunho. Jurus ampuh untuk menutupi rasa sakit dan kecewa yang terlanjur terpatri di hatinya atas pengkhianatan sang suami. Deg. Sekujur tubuh namja cantik itu menegang ketika genggaman tangan kekar dan hangat itu merengkuh kedua bahu sempitnya dari belakang, serta melingkari pinggang rampingnya. Kenyamanan familiar yang diam-diam dirindukannya dan selalu berhasil meluluhkan kebekuan hati seorang Jung Jaejoong.

.

.

"Benarkah kau sama sekali tidak bisa memaafkanku, Dear? Tidak adakah jalan bagi kita memperbaiki dan membangun kembali keluarga kecil impian kita. Kau, aku, Moonbin dan Changmin. Kumohon...berikan aku satu kesempatan, Boo. Aku berjanji akan menjadi suami dan appa terbaik bagi kalian."

.

.

.

Minggu ke ; 4

Jaejoong mengayunkan langkah kakinya menyusuri koridor rumah sakit bersama si bungsu di dekapan hangatnya. Pemeriksaan rutin selesai dilakukan dengan hasil memuaskan. Kateterisasi tahap pertama sukses menyelamatkan putra kesayangannya dari resiko terburuk kebocoran jantung. Senyum namja cantik itu mengembang meski kegetiran masih tampak menghiasi bibir cherrynya. Uhm. Yunho menghubunginya 30 menit lalu dan berjanji akan menjemput di jam makan siang, sementara si sulung berada di kediaman Park. Ketegangan suami-istri itu sedikit melunak, meskipun Jaejoong enggan memberi kepastian kepulangannya kembali ke mansion Jung.

Brukh...

"Mianhae—saya tidak sengaja, noona,"

"Gwencana."

"Anda baik-baik saja? Wajah noona begitu pucat."

"Uhm..."

"Baiklah. Sekali lagi maafkan keteledoran saya, noona"percakapan kecil di depan klinik Maternity mengundang perhatian Jung Jaejoong. Yeoja yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan itu sangat dikenalinya. Kwon Boa. Sayangnya, yeoja yang lebih tua beberapa tahun di atasnya itu sama sekali tak menyadari keberadaan Jaejoong. Ia melenggang dengan tatapan kosong dan sayu meninggalkan koridor rumah sakit. Beberapa kali ia sempat bersinggungan dengan orang-orang yang berlawanan arah. Pertanda pikiran dan tubuhnya sama sekali tak singkron karena beban berat yang siap melanda kehidupannya.

Demi Tuhan.

Ini benar-benar mimpi buruk bagi Boa menemukan tanda-tanda kehamilan dari janin yang kini bersemayam di rahimnya. Buah dari percintaan terlarangnya dengan namja berstatus sahabat yang bahkan kini resmi menjadi milik seseorang yang sudah dianggapnya sebagai dongsaeng kandung. Boa tak menyadari hasil test yang 10 menit lalu berada di genggamannya tercecer dan kini berada di genggaman Jaejoong. Seketika suara halus, gemetar dan familiar itu menghentikan seluruh aliran darahnya hingga membeku. Deg!

.

.

"Siapa appa dari bayi yang kau kandung sekarang, Noona...a-apa 'dia'?"

.

.

.

Finally.

Senyum lebar menghiasi wajah tampan, tegas dan berkharisma Yunho memasuki halaman mansion Jung. Yyeap. Ia bahagia memperoleh pesan dari sang istri yang mengatakan menunggu kepulangannya di mansion. Jung Jaejoong kembali. Perjuangannya selama 1 bulan meluluhkan kebekuan hati sang istri akhirnya membuahkan hasil. Namun senyum itu tak bertahan lama saat menemukan wajah-wajah suram dan berang di ruang keluarga. Dimana Heechul, Boa, Jaejoong dan Yoochun sama-sama terpekur dan menatapnya dengan beragam ekspresi tak mengenakkan.

"Boo. Kau sudah kembali, sayang..."

"Duduklah."perintah sang umma tegas.

"Binie. Minie...?"

"Kubilang duduk, Jung Yunho. Ada hal yang lebih penting harus kau selesaikan sekarang juga. Pengacara kita akan segera datang dan mengurus berkas perceraianmu dengan Jaejoong."kata-kata Heechul bagai gelegar halilintar yang meledakkan kepala Yunho. Ini jauh dari asumsinya. Pernyataan ini bukan main-main melihat aura membunuh di mata Park Yoochun. Berikut sinar kekecewaan di sepasang mata doe yang bahkan enggan membalas tatapannya. Juga Boa yang tertunduk dengan wajah sembab pertanda baru saja mengurai airmata. Dejavu.

"Apa. Maksud. Semua. Ini."

"Kau harus menceraikan Jaejoong dan menikahi Boa, Jung Yunho."

"Aku. Tidak. Akan. Pernah. Menceraikan. Jung. Jaejoong."bantah Yunho dengan rahang mengeras.

"Kau harus."penggal Yoochun marah.

"Kau tidak berhak mengaturku, Park Yoochun."

"Aku berhak, Jung. Aku sudah memperingatkanmu jauh-jauh hari, sekali lagi kau menyakiti dongsaeng-ku. Maka aku akan membawa Kim Jaejoong pergi selamanya darimu. Bagian mana yang tidak kau mengerti,"desis Yoochun sarkastik. Kali ini ia benar-benar murka dan jengah dengan kelakuan mantan sahabatnya.

"Boo..."

"Aku ingin bercerai, Yunho-ssi."

"Aku. Tidak. Akan..."

"Kau harus. Noona sedang mengandung benihmu, Yunho-ssi. Kau harus bertanggung jawab."

"Aku. Tidak. Pernah..."

"Kau pernah. Kau mengatakan bagaimana aku harus memaafkanmu? Lepaskan aku dan nikahi noona."

"Kau. Tidak. Bisa..."

"Aku bisa. Aku akan membesarkan Changmin dan Moonbin tanpamu. Itu yang terbaik. Keadaan kami berbeda. Aku namja dan noona yeoja. Aku bisa berperan sebagai appa sekaligus umma, Yunho-ssi. Kami akan baik-baik saja. Sedangkan noona membutuhkan figur seorang appa bagi bayi yang di kandungnya atau mereka akan menerima gunjingan dan pandangan buruk selamanya. Bukankah kau yang berjanji menjadi appa dan suami yang baik bagi kami? Inilah saatnya membuktikan semua ucapanmu."kata namja cantik itu tegas. Pertama kalinya Jung Jaejoong berbicara dengan nada keras tak terbantahkan. Ia sangat tahu keputusan ini menyakitinya, Yunho dan berimbas pada masa depan keluarganya. Namun inilah jalan keluar terbaik bagi mereka semua, juga Boa dan bayinya yang harus menjadi korban dan terseret ke dalam masalah pelik keluarga Jung.

"Aku. Tidak. Akan. Pernah. Melepaskanmu. Jung. Jaejoong."

.

.

.

"Tandatangani surat perceraian kita!"

.

.

.

.

Kisah ini bukanlah tentang awal dan akhir.

Kau bisa menutup rapat-rapat kedua telingamu, tetapi kedua matamu tak bisa menipu. Kau bisa berpura-pura tak peduli dengan apa yang terjadi, tetapi nuranimu tak akan pernah bisa mengingkari. Kau tak akan pernah tahu seperti apa permainan takdir. Lari. Pergilah sejauh mungkin dari dosamu di masa lalu, tetapi tidak dengan rasa bersalahmu. Ingatlah! Hukum karma pasti berlaku, Jung.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hohoho...

Mantan sider sableng muncul kembali. Mian readers yang nunggu luaaaama sampai kutuan, jamuran, yeah...kalau ada. Missing Your Love part 2 ini sebenarnya sudah ada di galnot sejak 1,5 tahun lalu sih # hajaaaaar Naraaaaa# hahaha...Cuma baru sempat edit plus finishing sekarang. Dikarenakan data yang raib dan kerusakan laptop Nara. Ditambah empunya yang tengah galau terjebak cinta segitiga #tak ada nyambungnya#. Semoga ini bisa jadi pengobat kangen kalian. Jangan di tanyain lanjutannya karena Nara juga tak tahu. Ups #nyengir setan#. Yang nunggu Time After Time...woalaaaah. Belum di apa-apain. Nara musti fokus ke real live, kawan-kawan. Nara bukan author lho sebenarnya. Sama aja seperti kalian. Mantan reader rate M. Okay ~ bye all...

.

.

.

Big thanks to all my readers, followers and haters/?.

.

.

.

SEE YOU NEXT TIME