Disclaimer: Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki &Yusuke Murata

Pair : HiruMamo XDD

Warning : OOC, typo(s), gaje, gak jelas dan lain-lain XDD *harap maklum/dooor*

A/N : Saya kembali di FanFic ini dan saya ucapkan terima kasih untuk yang sudah me-review~ Hontou ni arigatou minna (_ _) nah sekarang saya munculkan chapter duanya jengjengjeng (?) oh iya ini chapter ceritanya sebelum Mamori sama Hiruma jadian yak hihihi *bows*

Very bad FanFic for this fandom #plakkk# I hope you're enjoy minna~I need review, if you want, review please hehehhe sankyu XD lagi-lagi untuk judulnya abaikan saja =DDD


.

.

.

~Yesterday~

.

.

.

Masih di musim yang sama, dimana suasana dingin serta salju putih masih menghiasi tempat ini. Tetapi musim dingin ini tentunya akan terasa begitu hangat saat dirimu terus mengisi keseharianku yang kadang melelahkan itu. Aku yakin akan hal itu, benar-benar yakin akan perasaanku yang kian lama kian menghangatkan hati ini. Dan disini aku tengah menatapmu yang masih saja sibuk dengan berkas-berkas merepotkan itu.

"Sebaikanya kau lanjutkan besok saja Hiruma." Ucapku pada pemuda berambut pirang itu.

"Tch, mana bisa begitu heh? Apa kau tidak melihat berkas-berkas ini begitu banyak?"

Fuh, yasudahlah mau apa lagi memang berkas-berkas itu sangat banyak dan sebenarnya aku tau seorang Hiruma Youichi tak akan semudah itu meninggalkan pekerjaannya. Percuma saja aku melarangnya atau menasehatinya. Birakan saja dia tetap meneliti lembar demi lembar berkas-berkas itu hingga dirinya merasa lelah dengan sendirinya.

"Kau tidak mau pulang bukan kuso mane?" Terlihat Hiruma sedikit menyeringai dan tentunya aku tau apa maksud dari seringaiannya itu.

"Baiklah aku akan membantumu."

Kemudian untuk beberapa saat suasana menjadi sangat hening ditambah lagi udara dingin yang kian menyeruak masuk ke dalam ruangan ini. Sejujurnya aku ingin membuka sebuah pembicaraan tetapi untuk saat ini kurasa sama sekali tak ada yang perlu dibicarakan. Mungkin jika ada hal yang harus kubicarakan saat ini tentu saja hal itu pasti menyangkut perasaanku pada sosok pemuda itu. Tetapi tentu saja aku tak berani bukan?

Plukkkk—

"Eh?"

"Pakai saja."

Sesaat suasana hening itu terpecahkan karena Hiruma dengan santainya melemparkan jaket hitam miliknya kepadaku. Aku sedikit kesal sih karena hal itu membuat berkas-berkas itu semakin berantakan. Apa maksudnya? Jika ingin memberikannya tidak bisakah kau melakukan dengan sedikit lembut? Ah, sudahlah tidak mungkin Hiruma melakukan hal macam itu.

"Tch, ingat ya kuso mane aku memberikan jaket itu padamu bukan karena aku perhatian padamu hanya saja aku tak ingin bawahanku sakit dan meninggalkan tanggung jawabnya untuk memeriksa berkas-berkas ini."

"Huh, aku juga tak ingin diperhatikan olehmu." Omelku padanya. Tetapi bohong sih, sejujurnya aku ingin sekali diperhatikan olehnya.

"Kekeke kufikir kau menyukaiku dan selalu ingin kuperhatikan." Tawa Hiruma kembali menghiasi ruangan ini.

"E—eh? I-itu kan tidak mungkin."

Bodoh! Kenapa berkata seperti itu? Sudah berapa kali kau menggodaku seperti itu dan sudah berapa kali pula wajahku memerah karenanya hah? Aku memang menyukaimu tetapi jika aku mengatakannya apakah kau juga akan menyukaiku seperti akau menyukaimu? Memikirkannya saja sudah membuatku pusing dan patah hati.

Aku kembali menatap berkas-berkas itu sebelum Hiruma mengatakan hal-hal aneh yang membuat wajahku semerah kepiting rebus. Tetapi sepertinya upayaku tak berhasil karena aku masih saja menatap pemuda itu diam-diam ditambah lagi jaket miliknya masih berada dipangkuanku. Bodoh sekali aku ini.

"Hei, kuso mane sudah kuperintahkan kau memakai jaket itu tetapi kenapa kau masih belum memakainya hah? Apa kau menungguku naik darah baru kau memakainya?" Hiruma menatapku dengan tatapan yang mengerikan.

"Sudah kubilang kan tidak usah, lebih baik kau saja yang memakainya karena itu jaketmu." Kemudian aku melemparkan kembali jaket itu padanya. Tetapi tentu saja aku melemparkan jaket itu tak sekasar lemparannya tadi.

Hening, Hiruma hanya diam sebelum ia beranjak dari tempatnya.

"Kalau kubilang pakai ya pakai! Dasar kuso mane idiot."

"Tapi kan—"

"Tch merepotkan, pakai jaket saja harus aku yang memakaikan kekeke."

Apa? Yang benar saja Hiruma memakaikan jaket itu dipundakku? Sungguh aku tak dapat menahan rona merah diwajahku saat ini.

"Daisuki, Mamori."

"E-eh?"

Aku baru saja tersadar akan lamunanku dan saat kusadari Hiruma tak terlihat lagi disekitarku. Kemana dia? Apakah tadi benar-benar nyata ataukah hanya sebuah mimpi? Tidak, semua ini nyata bahkan untuk sesaat aku dapat merasakan hembusan nafas Hiruma yang begitu hangat disekitar telingaku. Kemudian sesaat setelahnya ia membisikan kata-kata itu tepat ditelingaku membuatku mematung untuk persekian detik.

"Bodoh! Untuk apa aku hanya diam saja? Aku harus segera pergi."

Dengan segera aku mengunci pintu ruangan itu dan berlari ditengah dinginnya malam musim dingin ini. Baru saja beberapa langkah aku sudah merasakan tubuhku membeku saat ini juga tetapi aku harus tetap melangkahkan kakiku menyusuri jalan ini dan menemukan dirinya. Ya, aku harus mencari Hiruma bagaimanapun caranya. Walaupun udara saat ini sangat dingin dan malam semakin larut aku harus tetap mencarinya karena aku telah yakin dengan perasaan ini, aku menyukainya dan aku harus mengungkapkan perasaanku saat ini juga. Entah terbalas atau tidak yang terpenting adalah mengungkapkan perasaanku pada orang yang ku cintai.

.

.

.

Pukul 09.00 pm

Aku terus berjalan menyusuri malam yang dingin ini seorang diri. Sejujurnya aku bahkan tak tau harus pergi kemana untuk mencari sosok pemuda bermata emerald itu. Disepanjang jalan yang kulalui terlihat beraneka ragam lampu dengan warna yang begitu indah. Sejenak aku melihatnya dan saat itu pula aku terbanyang akan sosokmu, seseorang yang membuatku jatuh hati. Kemudian sebelum aku semakin terhanyut dalam lamunanku, saat itu pula aku berniat untuk beranjak pergi dari tempat ini.

"Sudahlah tidak mungkin kan Hiruma mengatakan itu, haha pasti dia hanya bercanda tadi." Ucapku dengan senyuman yang sangat dipaksakan saat mengingat kata-katanya tadi.

"Fuh, sepertinya aku terlalu banyak membaca komik romance akhir-akhir ini."

"Ya, kau benar kuso mane sepertinya kau memang terlalu berlebihan membaca komik-komik konyol itu."

"Mungkin aku akan menguranginya nanti."

"Kekekek."

"He—eh?"

"Ada apa kuso mane? Terkejut?"

Aku mematung ditempat saat mendapati sosok itu tengah berada dihadapanku. Hiruma, sejak kapan dirinya berada disana? Apakah dirinya—

"Aku mendengar semuanya kuso mane."

Perlahan Hiruma memperdekat jarang antara kami.

"Ukh, aku hanya—"

Dekat, semakin dekat membuat jantungku tak berhenti berdegup kencang. Bahkan saat ini aku dapat merasakan setiap senti aroma tubuhnya. Ya, aroma tubuhnya, wangi mint yang begitu membuatku nyaman serta hangat jika berada didekatnya. Membuatku tak bisa bernafas padahal jantungku berdegup sangat kencang.

Kali ini wajahku dan Hiruma saling berdekatan, benar-benar dekat seolah tak ada jarak lagi diantara kami karena Hiruma telah mematahkan jarak itu. Tidak, aku tak bisa menghindar. Tubuhku kaku, aku tak bisa bergerak saat itu. Aku ingin pergi, aku tak kuat jika harus berlama-lama menatap mata emerald itu.

"Ada apa? Apa kau takut padaku?" Hiruma masih saja menatap mataku tajam tanpa memperjauh jarak diantara kami.

"Hi-iruma, a-ku—"

Kiss~!

"Ummm,"

"Daisuki..."

Ya, setelah ciuman singkat itu Hiruma kembali mengatakannya. Aku masih belum percaya, aku takut jikalau semua ini hanyalah mimpi belaka yang membuatku jatuh setelah aku bangun nanti. Saat aku ingin memastikan semua ini nyata atau tidak tiba-tiba saja Hiruma meraih tubuhku sehingga membuat tubuhku ini jatuh dalam pelukan hangatnya. Ukh, wangi mint ini begitu membuatku terhanyut.

"Dengar kuso mane ini bukan mimpi." Sejenak Hiruma melepaskan pelukannya dan mencubit pipiku.

"Ukh, sakit." Ternyata memang bukan mimpi.

Dan sejenak keheningan kembali menghampiri kami.

"Hiruma, a-aku men-cintaimu." Aku memberanikan diri untuk mengatakannya karena aku telah berjanji pada diriku sendiri sebelumnya.

"Kekeke, apa aku harus percaya semudah itu?"

"Aku tak membutuhkan kepercayaanmu dan balsan untuk cintaku karena yang kubutuhkan saat ini hanyalah telingamu untuk mendengar kata demi kata yang akan ku ucapkan." Aku berkata demikian, aku mencoba mengatakannya dengan penuh kenyakinan.

"Bodoh, benar-benar bodoh."

"Ya, aku memang bodoh karena telah mencintaimu Hiruma."

"Dan mungkin aku terlalu bodoh karena lebih mencintaimu."

"Ukh," Aku hanya dapat menahan rona merah diwajahku. Aku tak menyangka akhirnya perasaanku akan terbalaskan dihari ini.

"Kekekeke karena terlalu cinta padaku kau jadi sebodoh ini ya kuso mane?"

"Moo, Hiruma aku kan—"

Ukh, lagi-lagi Hiruma menciumku dan kali ini sebuah deep kiss. Aku suka ciuman itu, lembut serta hangat ditambah lagi aroma mint yang membuatku semakin nyaman. Aku menyukai Hiruma, benar-benar menyukainya. Dan saat ini aku benar-benar tak ingin menjauh dari dirinya karena aku ingin terus merasakan kehangatan disetiap pelukannya serta kelembutan disetiap sentuhannya.

"Daisuki Mamori, katakanlah kau juga menyukaiku."

"Hi-ruma, daisuki— hontou ni daisuki."

Aku tak dapat menahan air mataku yang saat ini telah membasahi wajahku. Aku menangis, semua perasaanku tercampur saat ini hinngga aku tak dapat menahannya dan membenamkan kembali wajahku dalam hangatnya tubuh Hiruma. Aku terisak dalam pelukannya. Erat, begitu erat aku memeluknya dan kurasakan Hiruma pun membalas pelukanku itu.

Aku menyukaimu, menyayangimu, bahkan sangat mencintaimu.

Kini, malam yang dingin sama sekali tak kurasakan karena hangat tubuhmu.

'Aku mencintaimu.'