WARNING! PLEASE READ!
OOC, Typo(s), Plot gaje, Alur kecepetan, Nista, Nista, Nista(?), dan keabalan lainnya.
Jika tidak tertarik dengan fic ini, jangan dipaksakan membaca. Nanti mata anda rusak.
.
.
Chapter 2
Disclaimer: Harvest Moon punya Natsume, ide cerita murni mengalir dari otak Ao.
.
.
(Still) Gray's POV
Tang!
Tang!
…
"Kakek," panggilku.
"Hn?" jawabnya singkat.
"Aku sudah memperbaiki alat milik Barley," aku memperlihatkan hasil pekerjaanku pada kakekku. "Bagaimana? Ada bagian yang salah, gak?" lanjutku.
Kakek memperhatikan alat milik Barley yang sudah selesai kuperbaiki dengan teliti sambil sesekali membolak-baliknya, kemudian dia mengangguk pelan.
"Pekerjaanmu lumayan juga. Pertahankan ya Gray," kakek melemparkan botol berisi air putih yang masih dingin ke arahku. Aku langsung menangkap botol itu dengan tanganku, lalu membuka tutup botolnya. Aku meneguk air dingin segar itu ke dalam mulutku.
Saat ini…
Apa yang sedang Claire lakukan ya?
Hn…
.
.
.
—H-HAH?!
Tunggu.
APA?!
Aku mikir apa sih?!
Aku melepas topiku, lalu mengacak-acak rambutku kesal. Kenapa tiba-tiba muncul dia dipikiranku?! Pergi sana! Syuh! Syuh! Pikirku panik.
Kakek yang sedari tadi memperhatikanku hanya memandangku dengan pandangan bingung. Aku berdiri dari posisiku, lalu pergi mendekati pintu.
"Aku mau pulang," ucapku.
Blam!
Aku berjalan menuju Inn. Ahh.. hari ini benar-benar hari yang melelahkan, sebaiknya aku cepat pulang, pikirku.
Aku melewati pertigaan, belok ke kanan adalah jalan untuk pergi ke Inn. Sedangkan belok ke kiri…
"Farm…" ucapku sambil memandangi papan yang berada di jalan. Dengan spontan aku mengalihkan pandangan, dan pergi berbelok ke arah kanan. Tiba-tiba kakiku memutuskan untuk berhenti, dan otakku mulai berpikir.
Waktu itu
Claire membantuku
Dan, aku malah memukulnya kencang
Apa dia baik-baik saja?
.
Aku jadi merasa bersalah dengannya.
Harusnya aku tidak memukulnya seperti itu.
Aku benar-benar bodoh.
.
M-mungkin sih. Hanya mungkin.
Sebaiknya aku mengunjungi farm-nya.
Aku... harus
Minta maaf.
Sekian lama aku menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk mengunjunginya. Yah sekali-kali tidak apa sih, hanya pergi untuk meminta maaf kan. Tidak ada hal lain, pikirku. Aku berbalik lalu berjalan menuju Peternakan Claire.
—STOPGRAY
Bagaimana jika kau mengganggunya?
Bagaimana jika Claire sedang sibuk?
Atau, bagaimana jika Claire sedang tidak ada di rumah?
Apakah kau akan kicep?
Aku memegangi kepalaku, frustasi. Jadinya aku berkunjung atau enggak, nih? Tanyaku dalam hati.
"—Gray?" panggil seseorang di belakangku. Aku menoleh dan mendapati perempuan berambut hitam berkacamata, mukanya tertutupi oleh buku yang menggunung di tangannya. Perempuan itu adalah Mary.
ITU MARY.
"O-oh... hey," sapaku.
"Selamat sore, Gray!" sapanya sambil tersenyum manis. Aku menarik ujung topiku ke bawah, membuatnya menutupi mukaku yang kini (mungkin) memerah. "S-sore…" jawabku salting.
Ini benar-benar canggung… apa yang harus kulakukan…
"Kau mau ke mana?" tanya Mary dengan suara lembut. Sial, mendengar suaranya saja sudah membuat mukaku memanas.
Aku memalingkan muka sedikit, berusaha agar dia tidak melihat wajahku sekarang. "Aku dalam perjalanan mau pulang ke Inn… kau sendiri?" tanyaku balik.
"Aku ingin mengantarkan buku ke rumah Claire, mau ikut membantuku?"
"Tentu—maksudku… boleh saja sih."
Aku membantu membawakan beberapa buku yang Mary bawa, lalu pergi menuju peternakan milik Claire. Selama kami berjalan, tidak ada satupun percakapan yang terlontar dari mulut kami, diam. Ya, hanya diam yang menyapa kami.
Gah… berada dekat Mary lebih terasa canggung daripada yang kukira. Apa yang harus kulakukan…
"Gray?—Mary!" Gadis berambut pirang itu menyambut kami ketika kami sampai di depan kebunnya. Sosoknya yang sedang merebahkan diri di atas rerumputan langsung bangkit dan berlari menuju ke arah kami.
Aku menghela nafas, syukurlah Claire muncul, kalau tidak… aku akan terperangkap dalam keadaan seperti itu selamanya, pikirku lega.
"Hehe!" Claire tersenyum lebar, lalu dia nyengir gak jelas.
"Claire, aku datang membawakan buku-buku yang kau minta. Gray ikut membantuku," jelas Mary sambil tersenyum.
"Waah! Thank you~" Claire tersenyum, kali ini senyuman-nya lebih lebar dari biasanya, bahkan sebagian giginya bisa kulihat.
Claire menoleh ke arahku, "terimakasih ya, Gray!" ucapnya sembari tersenyum.
Kaats!
Mukaku lagi-lagi memanas, karena melihat senyuman yang bisa dibilang, manis—sudahlah, aku mikir apa sih. Aku dengan refleks langsung menarik ujung topiku ke bawah, memalingkan muka dan berbalik badan. "Aku… harus pergi, duluan ya," ucapku.
"Huh? Gray? Kenapa tiba-tiba…" ucap Claire dengan bingung.
"T-terimakasih sudah membantuku, Gray!" Mary menatapku dengan wajah memerah, kemudian gadis berambut hitam kelam itu menyunggingkan senyumnya.
Aku mengangguk pelan, dan segera melangkahkan kakiku menjauh dari peternakan milik Claire.
Terkadang cewek itu mengerikan, ya…
.
.
.
Aku berjalan menuju Inn sembari menatap ke atas langit senja yang kini berwarna kemerahan. Aku belum sempat meminta maaf pada Claire, yah, mungkin waktunya belum tepat. Lagipula, saat berkunjung tadi sepertinya Claire kelihatan baik-baik saja.
Sudahlah, lebih baik pikirkan dirimu sendiri, Gray.
Cklek!
"Selamat datang—oh, Gray!" suara yang terdengar familiar menyambutku, kuletakkan topi serta jaketku ke atas meja lalu membalas sambutan pria yang kini tengah mengelap gelas di tangannya, Doug.
"Aku pulang."
"Tumben kau pulang jam segini, kau mampir ke mana dulu?" Tanya Doug.
"Gak kemana-mana," jawabku cepat.
Doug memperhatikanku, lalu tiba-tiba dia mengangkat sebelah alisnya. "Kau gampang ditebak. Kau bohong, kan? Telinga-mu memerah tuh, Gray."
Cih.
Aku mempercepat langkahku dan segera pergi menuju kamar, mengabaikan pertanyaan yang diajukan Doug. Hanya satu hal yang terlintas di pikiranku, tidur, tidur, tidur dan—sudahlah, tidur sana, Gray!
—Kukkuruyuk! (suara ayam)
.
Hn.
Berisik. Aku mau tidur.
.
Kukkuruyuk!
.
Bagaimana bisa suara ayam milik Poulty Farm terdengar sampai sini…
Aku bangkit dari posisiku, lalu menyingkirkan selimut yang kupakai semalam. Aku melirik jam di atas meja. Jam menunjukkan pukul 06.00, ah… Sudah pagi ya…
Aku bangun kepagian.
Kutapakkan kakiku di atas lantai yang dingin, dan berjalan tanpa tujuan sambil sesekali menguap. Kupandangi Cliff si pemalas yang masih bergelung di balik selimutnya—oh ya, aku ingin tahu apa dia sudah mendapat pekerjaan atau belum. Ah—Lupakan saja, toh lagipula itu bukan urusanku.
Hari ini hari apa?
Tik
Hari Kamis-kah?
Tik
Berarti aku dapat hari libur.
Tik
. . .
Apa sebaiknya aku pergi menambang saja, ya?
Aku merogoh palu yang terletak di sudut kamar, kemudian kupikul palu itu di atas pundakku sambil pergi mengendap-endap keluar Inn. Udara di pagi hari memang menyegarkan, suasananya sunyi dan tentram. Langitnya juga cerah.
Aku terus berjalan menyusuri jalanan yang sepi, tak ada satu pikiran yang muncul di kepalaku—sebelum akhirnya kulihat papan bertulis 'farm' yang berada di pinggir jalan.
Satu hal langsung muncul dipikiranku, Claire. Ah… apakah dia sudah bangun jam segini, ya? Aku harus minta maaf padanya. Tapi… sepertinya dia belum bangun. Haruskah aku lewat peternakannya untuk cepat sampai ke gua? Bagaimana jika aku disangka ingin mencuri? Nanti Claire makin membenciku, dan aku harus minta maaf dua kali? Tidak mungkin.
Hey—jadi aku pergi menambang atau enggak nih.
Aku memutuskan untuk pergi—bukan aku sih, tapi kakiku (Author: "Ah elah, sama aja kali, gray."). Kakiku membawaku menuju peternakan Claire untuk pergi menuju gua.
(Gray: "Kamu kan yang ngarang, jangan salahin aku dong.")
(Author: "Hehe..")
Niatnya sih aku ingin pergi menambang, yah… melewati peternakan Claire dan sekalian melihat hasil pekerjaannya. Hanya itu, Gray. Hanya itu. Tidak ada alasan lain.
Kuangkat kepalaku, dan kulihat sekitarku. Terpandang kebun luas tanpa rumput liar yang mengakar, batu-batu tersusun rapi membentuk seperti sebuah pembatas, kayu-kayu yang berserakan seperti yang kulihat dulu sudah hilang ditelan Claire—dibersihkan oleh Claire. Aku terdiam, terpesona akan keindahan kebun luas di depanku.
Tiba-tiba seseorang dengan suara cempreng mengagetkanku.
"Gray!"
Kupandangi sosok gadis berambut pirang di depanku, dengan bulu kuduk yang berdiri dan perasaan yang kaget, aku mendorongnya menjauh dariku. "AH!"
"He-hey! Gray, ini aku! Claire!" jelasnya.
"A-aku tahu! Hanya saja, kau bikin aku jantungan, bego!" balasku sambil berteriak.
Dia tertawa, menyebalkan. "Hahaha, oh ya, ngomong-ngomong sedang apa kau di sini? Jam segini? Harusnya semua orang masih tidur," ucapnya.
Ya, harusnya aku masih tidur jam segini.
"Aku dalam perjalanan menuju gua untuk menambang, jangan salah paham," jelasku sambil menggaruk sebelah pipiku. Claire menatapku dengan mata berbinar-binar, "wah, kalau begitu aku ikut dong!" ucapnya girang.
"Hah?"
"Bukannya kau harus mengurus peternakan dan kebunmu?" lanjutku memastikan.
Dia mengangguk penuh nafsu, "ha ha! Tenang saja!" dia menepuk-nepuk dadanya bangga. "Aku sudah selesai mengurus peternakan, kok! Lagipula Harvest Sprite—" claire dengan tiba-tiba menutup mulutnya, sepertinya dia keceplosan.
"Harvest Sprite?" tanyaku. "Kenapa kau bawa-bawa nama Harvest Sprite?" tanyaku jengkel.
Claire menggembungkan sebelah pipinya, "yasudah, aku akan beritahu Gray! Hanya Gray! Tapi, jangan beritahu siapa-siapa ya?" ujar Claire sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"H-huh?"
"Janji kelingking?" Tanya Claire.
Aku terdiam, oh… itu maksudnya. Aku tersenyum kecil dan mengikatkan jari kelingkingku ke jarinya, "janji kelingking," jawabku.
.
.
.
Claire menarikku menuju kebunnya, dan aku hanya bisa pasrah mengikuti ke mana pun dia mau pergi.
Claire menatap langit pagi sambil tersenyum tenang, tangan sebelah kanannya memegang lengan tangan sebelah kirinya. Aku terus memandangi cewek pirang di depanku, menunggu sesuatu yang akan diucapkannya.
…
"Aku... berteman dengan Harvest Sprite."
"—Sulit dipercaya." jawabku.
"Tidak apa-apa, lagipula bukan 'sulit dipercaya'. Tapi 'tidak akan ada yang percaya'," timpal Claire.
Aku melirik Claire, lalu aku mengerutkan alisku, "yah… terserah apa katamu."
Claire memandangku, lalu tiba-tiba dia berjalan ke arah bebatuan di sampingnya, "Hey, Hoggy… jangan tidur di sana. Nanti kau bisa sakit," ucap Claire dengan nada antara khawatir dan marah.
Aku melirik bebatuan yang berada di sampingnya lalu terdiam, tidak ada siapa-siapa di sana… pikirku.
Pada akhirnya aku membuat kesimpulan (karena risih mendengar Claire ngomong sendiri). Aku menghela nafas pasrah, "yah, jadi… sepertinya kau benar-benar berteman dengannya, ya."
Dia memandangku lalu tersenyum lebar, "kau percaya, ya, Gray?"
07.30
Hari ini aku menemani Claire—tidak, Claire memaksa untuk pergi menambang bersamaku. Awalnya aku hanya numpang melewati peternakannya agar cepat sampai ke gua untuk pergi menambang, tapi malah dihentikan oleh cewek pirang yang kurang waras itu. Dan bahkan aku terpaksa percaya hal yang tidak waras tentang Claire berteman dengan Harvest Sprite. Apakah aku akan menjadi tidak waras juga sepertinya?
Maksudku—ayolah, Harvest Sprite itu kan anak buah Dewi Goddes? Kenapa dia bisa berhubungan dengan farmer seperti Claire? Aku ingin bertanya padanya, tapi…
Hah…
Oh sudahlah, bukan urusanku.
"Gray! Maaf membuatmu lama menunggu!" teriak Claire dari belakang, aku menoleh ke arahnya yang kini sudah terlihat lebih rapi dan bersih dari sebelumnya.
"Baiklah, ayo pergi!" timpalnya sambil berteriak semangat.
Aku mengangguk, lalu berjalan menuju arah selatan dari rumah Claire, tentu saja kami akan langsung pergi ke gua.
… Skip Time …
Kami tiba di dekat Goddes Spring, dan sialnya di sana ada Ann dan Popuri. Cih, aku lupa kalau Ann dan Popuri suka mejeng di sana. Bukannya sekarang masih pagi? Harusnya mereka masih tidur! Oh mungkin karena tadi aku terlalu banyak membuang waktu di peternakan Claire? Gray, kau pintar sekali.
"Wah-wah, Gray…" tiba-tiba Ann berkata seperti itu ketika melihatku datang—bersama Claire yang mengekor di belakangku.
"Tumben pagi-pagi seperti ini… biasanya kau kebo, Gray. Jadi… kau dan Claire mau pergi ke mana?" lanjut Ann.
"Kau mau apa pada Claire, Gray!" tanya Popuri dengan wajah marah.
Aku diam sesaat, itu pertanyaan yang benar-benar membuang waktu saja. "Sudah jelas kan? Aku mau pergi menambang di gua. Dan Claire… dia ikut-ikutan," jawabku sambil menghela nafas.
"Kau bohong! Mana mungkin Claire punya waktu untuk pergi menambang bersamamu! Kau memaksanya kan?!" kata Popuri ngocol.
"Kau pria yang menjijikan, Gray…" tambah Ann sambil menatapku dengan tatapan hina, apa-apaan tuh.
Jujur saja, jika sekarang Popuri dan Ann berubah jadi laki-laki, pasti sudah kuajak ribut.
Claire akhirnya angkat bicara, "bukan, Gray benar. Aku cuma ikut-ikutan kok!" ucapnya.
2 gadis remaja itu saling berbagi pandang. Sepertinya mereka sulit mempercaya kebenaran yang barusan Claire katakan.
"Oh… begitu ya, Claire. Jangan paksakan dirimu, ya…" ucap Popuri khawatir.
"Iya… kalau kau lelah, sebaiknya kau langsung istirahat…" timpal Ann sambil menepuk pundak Claire.
Lalu Ann dan Popuri melirik-ku dengan kompak, "dan Gray…" ucap mereka disertai death glare. Bulu kudukku langsung berdiri.
"Jangan terlalu keras pada Claire!"
"Awas saja, nanti kau gak kubuatkan makan selama 2 minggu!"
Kenapa sikapnya beda banget kalau denganku?! Pikirku kesal.
"Ya-ya terserah. Kalian menghalangi saja," aku menerobos celah di antara Ann dan Popuri, lalu pergi memasuki gua.
"Claire! Hati-hati ya!" pesan Ann dan Popuri pada Claire.
"Hehe, tenang saja! Kan, ada Gray!" jawab Claire sambil sedikit berteriak.
Apa maksudnya, tuh? Aku dijadikan perisai?
.
.
.
Dak!
Brak!
Bang!
(Author: sebenarnya suara orang lagi mecahin batu itu gimana sih?)
"Hey Gray… kok batu yang ini susah banget dipecahin-nya…" keluh Claire, dia seperti mengadu pada ibunya untuk minta tolong, hah.
"Huh… masa gini aja gak bisa," ucapku sambil berjalan menuju Claire. Claire hanya menatapku dengan mata berbinar-binar. "Minggir, akan kuperlihatkan bagaimana cara yang benar," ucapku dengan smirk lalu menggeser Claire yang menghalangi jalan.
Buk!
Brak!
Bang!
Pank! (?)
Dan…. Sudah kupukul berkali-kali, tetap saja batu itu tidak mau hancur. Ada apa ini.
"Hihihi~ Apaan tuh Gray? Hanya segitu yang kau bisa? Apanya yang 'cara yang benar'. Kau bahkan tidak bisa!" ledek Claire sambil mentertawakanku.
Ukh… Dia membuatku kesal.
"Tadi aku hanya menggunakan 1% kekuatanku, tau. Ha ha ha!" balasku menahan kesal.
"Baiklah… ayo kita bertarung! Siapa yang paling cepat menghancurkan batu itu, dia yang menang!" tantang Claire sambil memutar-mutar palunya.
"Lalu yang kalah?" tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku.
"Harus mengabulkan segala permohonan yang menang, tentu saja," jawab Claire.
Dia ini… naif banget, gumamku.
"Hey, batunya kan hanya satu yang kayak begini."
"Jadi, kau menolak tantangan dariku? Payah dan pengecut sekali kau, Gray!" kata Claire dengan wajah yang bisa dibilang menyebalkan—sekali.
Mukaku memerah, bukan karena malu. Aku kesal sekali… duh, cewek ini ingin kuhajar lagi rasanya. "Baiklah, ayo! Sudah jelas pasti aku yang akan menang!" kataku pada akhirnya.
"Nah, begitu dong!"
.
.
.
08.45
Krak!
Aku tersenyum ala smirk mendengar suara retakan batu di depanku. Aku memandang gadis di depanku, wajahnya cengo tak percaya—bahwa dia kalah.
"Haha, sudah kubilang kau tidak mungkin bisa mengalahkanku. Aku ini kan seorang Black Smith!" aku memukul-mukul dadaku bangga.
.
"Hahaha!"
.
"Ha ha ha…"
.
"Haha… ha?"
"Claire?" panggilku.
Krik.
Kok gak ada jawaban? Pikirku.
Aku menoleh ke arah gadis berambut pirang itu, "t-tenang saja, aku hanya bercanda…—"
"C-CLAIRE!"
.
.
.
Tu Bi Continyu?
Garis :3
Ao Notes:
Hai, asdfghjkl
Pertama, Eto-eto, terimakasih atas review dan dukungan para senpai di chapter sebelumnya. Arigatou gozaimasu. *bungkuk* Ao melting sendiri loh baca reviewnya! Terimakasih untuk RainbowLyoko-san, Everdistant Utopia-san, dan Sweety Nime-san karena telah meripiu fic abalan ini! Arigatoo~
Kedua, Maaf atas keterlambatan mengupload(?) dan sebenarnya Ao niat untuk menghapus fic ini karena ke gajeness-an nya(?)
Ketiga, Ao tahu, karena sepertinya cerita ini makin gaje. Jadi tolong maklumi ya.
Keempat, silahkan flame, bakar, robek, caci-maki fic ini. Ao juga tidak terlalu keberatan, kok.
Kelima, Maaf karena characternya OOC semua. Gomen-gomen. Oh ya, kalo pakai italic berarti bahasa kurang baku ato bahasa inggris. Eh, udah tau ya? Oke.
Keenam, Banyak sekali Typo, tapi Ao tidak terlalu peduli. *dilemparpisau* Maksud Ao, gomen senpai. Ao juga manusiaaa.
Ketujuh, Sebenarnya Ao mau updatenya bulan Agustus/September, tapi berhubung lagi liburan. Jadi Ao memutuskan untuk update chapter kedua lebih cepat. *dibantaiortu* Tapi, setelah update chap 2… sepertinya Ao akan hiatus jadi author. Tapi masih jadi reader kok.
Eh—gaada yang peduli?
Thank you for reading. Boleh kah Ao minta kritik dan reviewnya?
Dadah~
