Oke, Annyeong Chingudeul! Kembali lagi dengan author edan/gaje/stress sepanjang massa ini Choi Hee Jung!

About this, FF:

Gaje/TYPO/ABAL/Sok Galau

Sesuai judulnya, sangat terinspirasi dari salah satu lagu barat yang sanggup bikin orang galau nangis! ketahuan author tukang galau-_-

Pairingnya bisa kalian pikir sendiri #PLAK

Ini FF murni asli made in Choi Hee Jung

Autho labil nan galau ini sekarang lagi cinta sama kisah Eunhyuk yang tersiksa*dirajam batusamaJewels*

Oh ya Readers tercinta, bisakah kalian memberikanku review? Aku terima saran dan kritik yang baikkk ya, jagi #PLETAK

Mau flame? Sama yang lain aja yaa, masa author udah galau mo ditambahin galaunya T_T tar aku laporin suamiku tercintah nih, Siwon #dilindesSiwonest#

Yodah, langsung Goyang! Eh langsung dibaca! :D

Cast :

Donghae

Eunhyuk

Sungmin

Kyuhyun

SOMEONE LIKE YOU CHAPTER 2

Before..

"Aku-aku…" Kyu menundukkan kepalanya, lalu…

"Aku tahu apa yang kau rasakan, karena kisah kita mirip Hyuk. Tahukah kau seberapa kagetnya aku saat mendengar Sungmin yang sangat aku cintai justru memilih pria lain untuk bersanding dengannya." Kyuhyun menarik napasnya panjang dan menghembuskannnya perlahan barulah dia melanjutkan kata-katanya,

"Aku hanya bisa pasrah melihat semuanya, walau sebenarnya aku sangat hancur melihat kejadian seperti itu. Apalagi saat kau bilang kalau dia penggila harta! Aku takut kalau sampai Sungmin benar-benar dimanfaatkan olehnya, bagaimana bisa aku yang mencintainya dengan sepenuh hati justru tak di tanggapi.." aku melihat sebulir air mata mulai mengalir lagi di pipiku Cho Kyuhyun,

"Ha-aarhhh. Bagaimana bisa aku menangis? Ha..ha" aku lihat Kyuhyun yang sedang menghapus kasar air matanya, lalu tertawa dengan nada yang sama sekali tak terdengar riang justru kebalikannya.

"Itu hakmu, pabo! Kau boleh menangis sepuasmu, jangan pikirkan harga dirimu di hadapanku. Karena aku pikir kita berdua adalah sahabat kan?" aku melipat kedua tanganku dan tersenyum sinis padanya,

"Terserah kau saja, dasar yeoja jelek." Ejek Kyuhyun padaku, dia mencubit pipiku sangat keras.

"APPO! Dasar kau manusia ter-PABO." Aku melempar bantal yang ada disofa,

BAG

BUG

BAG

BUG..

"SUDAH HENTIKAN, CHO KYUHYUN." aku meneriakinya kesal! Menatap apartemenku yang sudah sangat berantakan, bantal sofa berserakan dan keripik kentang tumpah kemana-mana. Dan ini karena perbuatan si namja menyebalkan satu ini.

"Baiklah. Aku akan membantumu untuk membantumu untuk membereskan apartemenmu, hehe. Mianhae, Hyuk. Jangan ngambek!" aku melihatnya yang mulai membereskan bantal sofa, dan mengambil sapu untuk menyapu keripik kentang. Sementara aku hanya diam saja, melihatnya bekerja sendiri.

"Bantu aku, Hyuk. Sampai kapan kau akan diam di sofa saja, tanpa membantuku. Menyebalkan! Ini kan juga ulahmu." Dia menatap kesal ke arahku, karena aku orang yang masih tahu diri akan perbuatanku jadi kuputuskan untuk membantunya.

2 jam kemudian…(Kyu's POV)

Trililing…trilililing….trililing…

"Kyu, tolong angkat teleponnya. Aku sedang memasak makan malam." Pinta Hyuk pada Ku yang tadinya sedang bermain game, akhirnya dengan malas bangkit berdiri dan berjalan untuk mengangkat telepon.

"Yoboseyo." Sapa Ku dengan nada malas, karena acara bermain gamenya diganggu oleh si penelepon.

"K-kau? Kyu-hyun?" OMO! Spontan aku melotot kaget, mendengar suara barusan. Dan aku yakin pemilik suara itu adalah….

"Sungmin?" aku mengatur napasku, aku tak tahu harus berbicara apa. Tapi, intinya aku harus tenang!

"K-kau di apartemen Hyuk?" aku dengar nadanya berbicara sedikit aneh..

"Ne, waeyo? Kau ingin berbicara pada Hyuk?" jujur, aku sangat merindukan yeoja yang satu ini. Aku masih mencintainya seperti dulu pertama kita bertemu.

"Ne, bi-bisakah kau panggil dia sekarang?" aku hanya mengangguk, pabo memang karena dia tidak mungkin dapat melihat anggukanku. Aku berjalan ke arah dapur sambil mengenggam telepon wireless milik Hyuk, saat di dapur Hyuk yang mungkin bisa mengerti raut wajahku..

"Sungmin ya?" tanya Hyuk padaku, dan aku hanya mengangguk. Lalu memberikan telepon itu padanya, aku menatapnya sesaaat dan berlalu ke ruang tamu,

Kyuhyun's POV END

Hyuk's POV

"Yoboseyo." Ucap seseorang diseberang sana, dan aku mengenali suaranya.

"Waeyo, Minnie?" aku takut kalau ia akan memamerkan tentang perjalanan honeymoonnya, sambil tetap mengaduk masakan dengan tangan kanan dan memegang telepon wireles dengan tangan kiri.

"Humh, be-begini. Hah, sebelum aku memberitahu sesuatu. Aku ingin tanya, kenapa Kyuhyun bisa berada di apartemenmu?" pertanyaan Sungmin barusan terdengar nada cemburu, tapi…ah sudahlah, dia kan sudah punya Hae. Dan saat aku mengingat kalau mereka sudah menikah, hatiku langsung berdenyut sakit.

"Annyeong, palli jawablah." Hey! Kenapa dia memaksaku, tiba-tiba emosiku naik. Entah datang setan dari mana, sehingga membuatku berdusta.

"Dia kekasihku." Hah! Refleks aku menutup mulutku tak percaya telah berkata seperti itu.

"O-oh. Ka-kalau begitu chukkae ya. Ah sudah dulu." Klik. Telepon dimatikan, aku bingung kenapa dia malah mematikan teleponnya? Bukankah dia bilang ingin mengatakan sesuatu? Aneh..

"Kau barusan bilang apa?" aku membalikkan tubuhku, dan mendapatkan tatapan tajam dari Kyu.

"Apa kau sudah gila, hah? Bagaimana kalau Sungmin sampai berpikiran yang aneh-aneh tentang kita? Aku tak mau kalau dia serius berpikir kita pacaran." Omo! Kyu sepertinya sangat emosi. Aku tahu salah telah berkata begitu, tetapi dia tak pantas mencemaskan Sungmin.

"Kau tak pantas berkata begitu, Kyu. Sungmin sudah menjadi milik Hae." Nyut..ini adalah pertama kalinya aku berkata langsung kalau Sungmin sudah menjadi milik Hae. Hati ku sakit…

"Justru kau yang tak pantas mengaku-aku sebagai kekasihku, PABO!" cecar Kyu, sementara aku hanya langsung mematikan kompor. Berusaha tak mempedulikan pembicaran tadi.

"Kajja, kita makan malam. Masalah ini kita bicarakan nanti saja." Aku langsung menarik tangannya ke meja makan.

"Aku tak mau makan, tak selera." Kyu langsung pergi meninggalkanku keluar dari apartemen, sementara aku tidak mempedulikan kepergiannya.

Aku menatap meja makan yang sudah terhidang macam-macam makanan, kesukaan aku dan….

"Hae…." Aku menunduk sebentar. Menarik napas dan menghembuskannya perlahan, lalu menatap satu persatu ke arah makanan yang sudah tersedia. Dan mengingat seluruhnya,

#FLASHBACK ON

Saat ini aku sedang memasak makan malam untuk kekasihku tercinta, saat akan menaruh piring yang berisi makanan kesukaan kami. Tiba-tiba aku merasa ada yang memeluk pinggangku dari belakang, lalu menutup mataku.

"Hae-ah, aku sedang menyiapkan makan malam. Jangan ganggu!" aku berpura-pura bicara dengan nada marah, dan aku yakin ini akan ampuh untuk membuat Donghae tidak mengangguku.

"Ah, baiklah chagi. Kalau begitu aku tunggu makanannya yaa," dia mencubit ujung hidungku gemas, lalu duduk di kursi makan dengan gaya yang menggemaskan. Dia melipat tangannya, dan tersenyum. Hae terlihat seperti seorang anak yang sedang menunggu makan malam yang sedang disiapkan eommanya.

"Kau terlihat imut, Hae. Hm, semuanya sudah siap. Baiklah, aku taruh celemek dulu ya." Aku membuka celemek yang kupakai dan menaruhnya di tempat pakaian kotor. Sengaja memang, karena kupikir celemek itu sudah kotor dan aku harus mencucinya. Setelah selesai dengan celemek, aku langsung ke ruang makan khususnya meja makan.

"Kajja, chagi. Aku tak sabar memakan ini semua hehe." Aku langsung duduk di kursi, bersiap untuk makan bersama Hae.

"Selamat makan, Hyukkie." Ucap Hae padaku dan langsung memakan makanannya dengan lahap.

"Selamat makan, Hae." Aku juga langsung memakan makananku. Seperti biasa kami makan dalam diam, setelah makanan habis.

"Chagi, biar aku yang bereskan ini semua ya. Kau duduk saja di sofa, tunggu sebentar." Aku menautkan kedua alisku dan menatapnya bingung, tapi aku hanya bisa menuruti Hae. Jadi aku langsung ke ruang tamu dan duduk di sofa. Selang beberapa menit, Hae datang…

"Hey, chagi. Tidak lama kan?" aku hanya tersenyum sambil mengangguk. Donghae duduk di sampingku lalu merangkulku.

"Ini untukmu." Hae menyodorkan sebuah kotak kecil, entah kenapa aku berpikir itu adalah sebuah….hm,

"Bukalah." Hae menyuruhku untuk membukanya, maka dengan senang hati aku membuka kotak kecil itu.

"Cincin! Hyaa, Hae-ah tahukah kau? Ini sangat indah." Omo! Senangnya aku mendapatkan cincin seindah ini dari Hae, cincin perak dengan ukiran bunga seindah ini dan dihiasi sebuah batu permata yang sangat sangat sangaat indah!

"Kau suka, Hyukkie?" Hae menggenggam kedua tanganku, dan tersenyum padaku.

"Sangaaaaatt suka! Kau tahu, ini adalah cincin terindah yang pernah aku lihat. Jeongmal gomawo, chagi." Aku langsung memeluk Donghae senang, ralat! Sangat senang. Mungkin ini adalah hari paling bahagia yang boleh aku lewati, kalian mungkin bingung atau berpikir kalau aku ini berlebihan. Asal kalian tahu, aku seperti ini karena kupikir Donghae akan melamarku….

"Cheonmanaeyo." Mwo? Aku langsung melepaskan pelukanku dan menatap Donghae sebentar. Aku bingung karena kupikir selanjutnya Hae akan berlutut dan mengatakan, ''will you marry me, Hyukkie?" tetapi kenapa hanya kata 'cheonmanaeyo' yang dia katakana padaku? Hm, sudahlah mungkin saja lain waktu. Atau dia ingin ada hal yang lebih surprise lagi untukku.

#Flashback OFF

"cincin itu hanya pertanda keburukan hae! Aku benci kau! Ah bukan aku benci semuanya yang terjadi di antara kita, LEE DONGHAE. Arrrrrggghhhhhh!" prang…prang….bug…pranggggg…..

Seluruh piring yang berisi makanan dan gelas berisi minuman, sudah pecah dan berserakan di seluruh ruang makan ini. Aku melemparnya tanpa ampun, dengan air mataku yang terus mengalir….

"tahukah kau, aku saja yang menangis disini! Apakah kau mengingatku Hae? Kau ingat aku tidak? LEE DONGHAE AKU TANYA KAU INGAT AKU TIDAK! ARRRGRGHHHHH!" lagi-lagi aku melempar sebuah piring yang tersisa ke arah pintu kamarku, dan ternyata pintunya terbuka.

"Wowowow, hentikan Hyuk! Apa kau sudah gila, hah?" saat aku melihat siapa yang datang ternyata….

"Kyu? Kenapa kau kesini? Bukannya kau marah padaku? Pergi saja, aku taka pa sendirian." Aku membuang wajahku, rasanya malu sekali saat ketahuan sedang stress seperti ini di hadapan Kyuhyun.

"ternyata benar ya pikiranku, kalau aku meninggalkanmu dalam keadaan kacau seperti ini pasti akan terjadi hal yang seram. Seperti ini!" aku langsung kembali menghadapkan wajahku ke Kyu, menyipitkan mataku dan menatapnya dengan tatapan kesal.

"PABO! NAMJA PABO! Menyebalkan, tahukah kau kalau kau itu benar-benar menyebalkan?" Aku menghampirinya sambil berkacak pinggang,

"Anniyo, aku tak tahu kalau aku menyebalkan. Karena seluruh yeoja yang melihatku, selalu saja mengatakan kalau aku ini namja yang tampan dan baik hati." Mwo! Saat dia berkata seperti itu, refleks saja aku tertawa geli.

"Hahahaha, yang benar saja kau! Aku yakin semua yeoja itu pasti sudah gila." Aku terus tertawa geli, ditambah lagi melihat wajah Kyu yang cemberut seperti itu.

"Terserah kau, karena aku ini baik hati jadi aku akan membantumu membereskan semua ini." aku hanya tersenyum tulus, karena aku sungguh berterima kasih ada Kyuhyun disini. Setidaknya dia bisa meredam amarahku.

3 jam kemudian…..

OMO! Aku lelah sekali, yah lagipula ini semua karena aku. Ah, karena amarahku jadinya begini deh. Berantakan, banyak gelas dan piring yang pecah. Saat ini aku sedang duduk di sofa bersama Kyuhyun, yang juga kelihatan sangat lelah.

"Hyuk, aku lelah sekali. Aku ingin makan." Aku langsung menoleh ke arah Kyu, tiba-tiba rasa penyesalan menghampiriku. Aku benar-benar menyesal telah membuatnya kesal lalu pergi dan merusak seluruh acara makan malam.

"Mianhae, makanan tadi seharusnya kita makan bersama tetapi malah aku buang begitu saja. Hmm…bagaimana kalau kita pergi makan ke restoran saja?" aku memberikan sebuah ide yang setidaknya membuat rasa lapar Kyu hilang, ah jujur aku juga lapar.

"Bagaimana kalau makanan di pinggir jalan? Sepertinya lebih asyik, apalagi kalau sudah malam begini. Pasti banyak yang menjual makanan." Aku menatap Kyuhyun yang kelihatan sangat bersemangat, hum sebenarnya aku tidak mau karena itu akan mengingatkan aku tentang Hae lagi. Tapi, karena melihat Kyu akhirnya aku menurutinya dengan berat hati.

"Hummm, ba-baiklah." Kupaksakan senyumku, walau Kyu pasti tahu kalau senyum ini pasti palsu.

"Jangan memaksakan senyum seperti itu, Hyuk. Karena akan membuatmu kelihatan jelek." Aku langsung melotot kesal.

"Terserah kau sajalah." Aku membuang muka, malas melihat namja yang satu ini kalau sudah mengejek.

Trililing…trililing…heh? Suara telepon….

"Ah, sebentar ya Hyuk. Aku dapat telepon dan sepertinya dari teman lamaku." Aku tersenyum dan mengiyakannya.

Selang beberapa menit, Kyu datang dengan wajah sedikit cemas.

"Waeyo, Kyu? Ada kabar tak bagus? Kenapa wajahmu seperti itu, Kyu?" sepertinya aku jadi berlebihan, tapi tak apalah lagipula aku sudah menganggap Kyu adalah sahabatku.

"Bukan, aku harus pulang sekarang Hyuk. Mianhae tidak bisa menemanimu sampai besok." Aku mengangguk dan tersenyum tulus.

"Aku antar sampai bawah ya?" tawarku dan Kyuhyun langsung melotot kaget.

"Kau gila, heh? Kau itu seorang yeoja, dan ini sudah malam." Kyu langsung mengambil tasnya dan beranjak pergi tetapi aku menyegatnya saat dia membuka pintu.

"Mwo? Apa lagi sih?" aku menatapnya dalam, tetapi dia langsung memalingkan wajahnya.

"Apa-apaan sih kau, Hyuk? Aku mau pulang. Jangan halangi aku." Kyu menarik tanganku yang tadi menghalanginya tetapi lagi-lagi aku berhasil mencegat Kyu.

"Jangan pergi, nanti kalau aku sendirian trus ada penjahat bagaimana?" OMO! Barusan aku bilang apa? Nada bicaraku juga…..manja! ku lihat Kyu senyum-senyum karena perkataanku barusan.

"Bwahahaha. Hahahahmmmpphf." Ku lihat saat ini Kyu menahan tawa, sementara aku menggembungkan pipiku kesal. Aku langsung masuk lagi ke dalam, tiba-tiba Kyu justru menarik tanganku.

"Mianhae, jangan ngambek Hyuk! Kau itu selalu saja, aku janji besok akan kemari. Jadi, aku boleh pergi kan?" aku langsung menghadapnya dan tersenyum.

"Baiklah, tapi janji ya? Dan tunggu! Beri aku 1 alasan kenapa kau pulang tiba-tiba." Aku melipatkan tanganku di dada, dan menatapnya.

"Barusan yang menelepon itu temanku dan Sungmin ketika di New York dulu, dia sedang datang ke Korea. Dan dia akan tinggal dirumahku untuk sementara, aku pergi sekarang ya Hyuk. Annyeong!" aku tersenyum dan melambaikan tanganku juga pandangan mataku yang terus menatap Kyu sampai dia tidak terlihat lagi. Setelah yakin Kyu benar-benar pergi, aku langsung masuk ke apartemen dan mengunci pintu.

Aku ke kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci muka sebelum tidur. Saat bersiap tidur, tiba-tiba telepon ku berbunyi. Pertamanya aku tidak mempedulikan orang yang benar-benar tidak sopan seperti ini, menelepon tengah malam! Yang benar saja, apakah dia tidak punya jam? Atau matanya buta tak bisa melihat jam? Aku tak tahan untuk mengangkat karena telepon itu terus berbunyi, dengan berat hati aku mengangkat telepon wireless ku. Dan kembali ke kasur,

"Yoboseyo." Sapa seseorang di seberang, dan sepertinya aku tahu ini suara siapa…

"Sungmin? Wae? Tadi kenapa kau tutup duluan? Padahal kau belum mengatakan apapun yang ingin kau sampaikan, heh?" mataku yang tadi sayup sayup, sekarang langsung terbuka saat mengetahui bahwa sahabatku yang menelepon.

"Hum, kau sedang apa?" mwo? Jadi dia meneleponku tengah malam hanya untuk menanyakan ini semua? Hah…

"Tadinya sih akan tidur, tapi karena ada orang tak tahu sopan santun meneleponku tengah malam jadinya aku terbangun." Dalam sekali kata-kataku barusan, tapi aku tak peduli. Jujur aku agak kesal dengan Sungmin yang mengganggu tidurku.

"Hahaha, kau selalu begitu kalau aku menelepon tengah malam Hyukkie." Hoaamm…aku menguap karena mengantuk dan malas mendengar ocehan Sungmin.

"Waeyo? Katakan sekarang atau sama sekali aku tak akan mau ditelepon oleh kau?" jahat memang, tapi aku makin kesal karena dia mengulur-ulur waktuku untuk tidur.

"Baiklah. Coba sekarang kau lihat di channel **, palli! Sekarang ada beritanya." Dengan malas aku mengambil remote tv yang ada di meja kecil samping tempat tidur. Dan langsung memencet tombol on lalu memencet angka yang akan langsung menuju channel yang dimaksud Sungmin.

Omo! Ini berita mengenai…Donghae si Penggila Harta!

"Pemirsa, ada kabar mengenai suami salah satu pengusaha terkenal Lee Sungmin yaitu, Lee Donghae. Ada isu kalau dia adalah seorang penggila harta! Dan dia menikah Lee Sungmin hanya karena mengicar hartanya untuk dapat membantu perusahaan appa-nya yang hampir …." aku tak mendengar lagi yang selanjutnya, lalu ku matikan televisi. Kembali lagi dengan teleponku bersama Sungmin,

"Sudah selesai, Hyukkie?" Aku mengangguk, dan pabo! Dia tidak mungkin melihatnya jadi dengan malas aku mengucapkan,

"Ne." Sepertinya aku mulai mengantuk, walau jantungku ini rasanya ingin copot. Walau aku disakiti Donghae karena alasan yang diucapkan oleh reporter tadi, tetapi tetap saja aku masih mencintainya.

"Gila kan? Aku saja yang menonton itu, sungguh tak menyangka. Mungkin besok sekretarisku akan menuntut perusahaan saluran televisi itu." hah, aku menghela napas dan menghembuskannya perlahan.

"Ne, Lee-ahjumma. Kau memang selalu mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan?" cih..termasuk Donghae-ku. Entah kenapa emosiku jadi naik,

"Hum, kau benar Hyukkie. Ah, yang benar saja gara-gara hal itu. Malam pertamaku dengan Hae-ah jadi terpotong." Nyut…apa katanya barusan? ''malam pertama''?

"Oh. Selamat bersenang-senang ya, aku berharap bisa melihat keponakanku nanti." Aku pastikan kalau nada suaraku tadi cukup terdengar riang, dan dapat aku pastikan juga kalau hatiku ini sudah tersayat-sayat juga sakitnya bukan main.

"Hahahaha, kau bisa Hyukkie. Ah, aku ingin ke toilet. Tetapi, aku tak mau mematikan teleponku denganmu. Bagaimana kalau kau mengobrol dengan Hae?" MWO? Sontak mataku membulat kaget saat Sungmin menawarkan aku mengobrol dengan Donghae. Jelas saja, aku langsung menolak!

"Ah, andwae. Kau ke toilet saja, nanti kan kau bisa telepon lagi. Begitu saja bagaimana?" aku mencari ide lain kalau-kalau Sungmin masih mempertahankan perintahnya padaku.

"Kumohon, Hyukkie. Lagipula aku ingin suamiku dekat dengan sahabatku, siapa tahu kalau nanti kami bertengkar kau akan menjadi penengah karena dekat dengan Hae. Hahaha, mau ya?" AIGO, bagaimana bisa aku mengobrol dengan namja yang ingin sekali aku bunuh. Atau paling tidak, aku tak pernah berharap untuk ditakdirkan menjadi kekasihnya dulu.

"Andwaeyo, Minnie. Lebih baik kau ke toilet dulu sana, aku matikan saja ya? Kau telepon lagi besok!" hah, kenapa mataku jadi tak bisa menutup begini? Aku jadi tidak mengantuk lagi..

"Ini teleponnya aku berikan ke Hae, nanti setelah dari toilet kita berbincang lagi Hyukkie. Bye," omo! Jangan bilang kalau aku bersuara, yang akan menjawab…..

"Hyuk?" tes…tes…tess, mataku rasanya panas. Dan air mata sudah memenuhi pelupuk mataku, dan tumpah begitu mendengar suara namja yang paling kucintai.

"…" hiks, hiks, aku membekap mulutku berharap Hae tak mendengar tangisanku.

"Hyukkie?" Aigo! Tahukah kau Lee Donghae, kalau aku sungguh mencintaimu.

"….." aku tak bisa membalas sapaannya. Aku benar-benar tak kuat, bahkan untuk memegang telepon ini.

"Hyukkie? Hello, kau ada disitu kan? Palli jawab aku, sebelum Sungmin datang aku ingin bicara." Aku menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan, menghapus air mataku lalu berbicara dengan nada hati-hati.

"Ne, a-aku di-sini. Wae?" hah, akhirnya aku bisa menjawabnya.

"Kau sudah lihat berita tadi kan? Dan kau percaya?" entah kenapa, aku yang tadinya menangis sekarang emosi.

"Aku percaya, karena aku mengalaminya." Jawabku cepat tanpa jeda dan disertai emosi.

"Mwo? Maksudmu? Jadi kau pikir kita putus karena aku itu gila harta?" aku melotot kesal, kenapa namja yang satu ini tidak sadar diri sih?

"Lantas apa?" sergahku tak ingin membuang waktu sampai Sungmin kembali.

"Aku…akuu….sesungguhnya aku itu…." aku menunggunya, tetapi justru bukannya dia melanjutkan perkataannya. Malahan aku mendengar suara sahabatku,

"Mianhae kalau aku lama, Hyukkie." Omonnnaaa! Yang benar saja, dia kan belum selesai bicara. Tapi kenapa sudah diambil oleh Sungmin teleponnya?

"Gwenchanaeyo. Aku mengantuk, Sungmin. Aku tidur ya, bye." Klik..telepon aku putuskan tanpa mendengar jawaban Sungmin. Kuputuskan untuk tidur,

Tapi! Aku tak bisa tidur! Tess…tesss..teess lagi-lagi air mataku menetes.

"Lantas apa, Hae? Kalau kau memutuskanku bukan karena harta? Waee! Kau memutuskanku pasti karena harta! Hiks, hiks." Aku terus terisak mengingat kejadian ketika dia meninggalkanku. 1 hari penuh kesialan!

Sementara aku terus menangis, tanpa aku ketahui di seberang sana. Tampak seorang namja yang memandang keluar jendela, air hujan yang mengalir dijendela juga air matanya yang mengalir dipipi.

"Seandainya aku punya kesempatan kedua…..aku ingin bersama-mu dan semuanya kembali." Ucapnya menunduk sedih,dan air mata terus menghiasi wajahnya bersama dengan air hujan yang turun.

$^$^To Be Continued$^$^

Akhirnya TBC juga, mianhae kalau aku gak update kilat karena banyak ujian. Btw, next Chap bakalan ada New Cast yang mungkin bakalan bikin nih cerita makin complicated atau sebaliknya bikin kisah sedih jadi bahagia. Yah, itu masih dipikirkan sama aku. Intinya Review yaaa, readers. Aku mau lanjutin kalau kalian gak jadi silent readers :D