a/n: Assalamu'alaykum, akhirnya, update~! #loncat-loncat ngga jelas# Karena hari ini vea menganggur #banyak kerjaan sih, tapi rasanya ngga mood# Jadi akhirnya vea habis-habisan melanjutkan fanfic-fanfic yang sempat terbengkalai. Mudah-mudahan kalian semua tidak kecewa dengan vea yang sering lalai dan membuat kalian lama menunggu, hiks, maaf ya m(T_T)m vea sedang berusaha semaksimal mungkin untuk melanjutkan semua fanfic-fanfic vea, nantikan terus ya..

Elisabeth: Kazune emang jahat #dicekek Kazune# (Karin Hanazono: Heh, author, bilang saja kau iri karena Kazune mu menjadi dingin padamu dan malah bersikap hangat pada semua fansnya :P) Uh, kau tidak perlu mengatakan hal itu, akan ku buat kau menderita di chapter ini! (Karin: Tidak! Author jahat DX Kazune, tolong aku!) (Kazune: Wah, author, mau nyiksa Karin ya? Aku ikutan dong!) (Karin: Whua, Kazune jahat! T_T)

Tamae: Jangan-jangan..? Mau tahu jawabannya, terus ikuti saja ya :D

Suzuka: Whua, makasih banyak, jadi terharu #ngelap air mata# (Karin: Ih, author cengeng!) #nyekek Karin#

Mai-chan: Benarkah? O.O Arigatou, nee.. Maaf updatenya lama #garuk-garuk kepala#

Kira: Yup, sudah dilanjut, maaf kalau agak lama^^

(no name): Makasih ya, ini sudah dilanjutkan, maaf membuatmu menunggu^^

Dan terakhir, makasih buat semua readers...! (Karin & Kazune: Jangan lupa review ya? ^.~)


Selamat Hari Ibu


Kamichama Karin ©Koge Donbo

Selamat Hari Ibu © Invea


Rated : K (semua umur)

Pairing : Karin x Kazune

Genre : Family-Romance


"Kazune, kau tidak pergi kerja?" tanya Karin melihat suaminya masih betah duduk santai di sofa sembari menonton berita yang ada di televisi.

"Hn, libur," jawabnya singkat. Karin hanya mendesah kesal. Ia kemudian bergegas merapikan kamarnya―tepatnya kamar mereka. Lagi, keanehan lainnya terjadi. Berbeda dari biasanya, sesuatu yang janggal kembali dilakukan suaminya. Pria itu sama sekali tidak merapikan tempat tidur mereka. Karin mendengus. Di sisi lain, ia juga mengerti bahwa itu memang kewajibannya. Tak ada yang salah jika Kazune tidak merapikan tempat tidur. Tapi tetap saja, pekerjaan itu menambah panjang daftar list tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Perlahan, Karin lantas merapikan tirai, tempat tidur mereka yang berantakan kemudian menyeret sebuah pembersih debu dan mulai membersihkan kamar.

"Karin!" panggil Kazune dari bawah.

"Apa?" tanya Karin kesal sembari tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

"Tolong ambilkan puding yang aku taruh di kulkas kemarin," sahut Kazune kemudian. Karin menghembuskan nafasnya―mulai kembali kesal.

"Kenapa tidak kau ambil sendiri saja? Bukankah hanya perlu beberapa langkah untuk menuju dapur?" seru Karin menolak dengan―err―bisa kita katakan halus―tepatnya sedikit halus.

"Kau kan istriku, tugasmu kan melayaniku," ujarnya cepat membuat gadis berambut cokelat itu semakin dongkol. Dengan mengeluh pelan, ia kemudian menuruni tangga dan menuju dapur. Perlahan dibukanya pintu lemari es. Udara dingin mulai menyeruak keluar dan menyapa tubuhnya. Mata hijau emeraldnya bergerak-gerik mencari puding yang diminta sang suami tercinta.

Sayang, puding yang dicari tak dapat ia temui. Ia kemudian membuka pintu freezer, matanya kembali bergerak ke kiri dan ke kanan. Tak ada jua.

"Kazune, pudingnya tidak ada," seru Karin kemudian sembari menutup pintu freezer. Perlahan terdengar suara langkah kaki mendekat. Karin menebak bahwa itu Kazune.

Ternyata dugaannya benar, pemuda itu mendekati lemari es seraya berkata,"Kau tidak serius mencarinya,"

Ia kemudian mulai mencari-cari puding yang ia maksud.

"Hm, aku baru ingat kalau kemarin malam sudah ku makan," sahutnya pelan saat pria berambut pirang itu tidak menemukan puding yang hendak dimakannya. Karin menggeram pelan. Ia mengepal tangannya―berusaha menahan amarahnya yang mulai membuncah ingin keluar.

"Hei, Karin. Bisakah kau pergi membelikan puding untukku?" tanyanya kemudian.

"Tapi, aku sedang membersih―"

"Ini perintah,"

"Geez, baiklah. Kau mau puding rasa apa, tuan Kazune?" tanya Karin seraya menekankan kata tuan dalam kalimatnya.

"Hn, tolong belikan yang rasa cokelat, satu buah saja," jawabnya sembari menyerahkan beberapa keping uang ke tangan Karin. Karin menghitung kepingan uang tersebut.

"Kok uangnya pas sih? Kau tidak memberi jatah satu puding untukku?" keluh Karin kemudian. Kazune lantas menatap wanita itu sejenak sebelum menjawab keluhan gadis itu dengan dingin,"Masih untung aku tidak memintamu membayar pudingku,"

'Grrr! Sabar! Sabar!' seru inner Karin. Jujur saja ia merasa sangat kesal. Tapi, kalau ia marah, hanya pertengkaran yang akan timbul. Akhirnya ia memutuskan untuk mengalah dan menuruti semua permintaan suaminya yang ahem, tersayang itu.

.

.

Karin langsung menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda―membersihkan kamarnya. Selepas ia membersihkan kamarnya, ia lantas menuju dapur dan mulai mencuci piring. Diliriknya Kazune yang masih betah berada di ruang keluarga. Pria itu tampak serius membaca sebuah buku di tangannya. Karin kemudian buru-buru melanjutkan pekerjaannya yang lain, mencuci pakaian.

Kira-kira seperti itulah rutinitas yang biasa dijalaninya setelah menikah. Biasanya semua pekerjaannya itu akan selesai sebelum jam 10 siang. Tapi kelihatannya kali ini ia mengalami keterlambatan karena daftar list pekerjaannya bertambah oleh hal-hal yang tidak terduga. Lihat saja, jam dinding menunjukkan pukul setengah 11 saat Karin selesai menjemur pakaian-pakaian yang baru saja ia cuci.

Wanita itu baru saja hendak membersihkan ruang tamu dan keluarga ketika suara telepon rumahnya berbunyi.

"Karin, bisa kau angkat?" Terdengar seruan Kazune dari arah teras.

"Iya, iya," sahut Karin ogah-ogahan. Ia kemudian mengangkat gagang telepon rumahnya yang berwarna putih polos tersebut.

"Di sini keluarga Kujo, ada yang bisa saya bantu?" sapa Karin.

"Kya~! Karin-nee-chan, ini aku, Kazusa!" seru suara dari seberang. Karin tersenyum mendengar suara adik iparnya. Ia pun mulai berbincang-bincang―atau ngegosip?―dengan wanita berambut pirang tersebut.

"Nee, Karin, dengar ini! Tadi, Jin mengajakku makan dinner di luar! Terlebih lagi dia tiba-tiba pulang saat aku masih mencuci piring. Dengan lembut dia memelukku dari belakang dan membawakanku buket bunga mawar! Dia juga berkata seperti ini,'Selamat Hari Ibu, Kazusaku sayang. Tinggal menunggu 3 bulan lagi untukmu menjadi seorang ibu bukan?'. Aku benar-benar senang. Di hari sebelumnya, Jin bersikap dingin padaku dan dia berkata bahwa itu hanya idenya untuk menjalankan kejutan tadi,"

'Hari ibu...? Kejutan..? Jangan-jangan...'

"Karin-nee-chan sendiri bagaimana? Apa Suzune sudah mengucapkan selamat hari ibu? Atau Kazune-nii-san menyiapkan kejutan untukmu?" tanya Kazusa kemudian. Karin tersenyum sesaat.

"Aku juga tidak tahu, tapi memang banyak keanehan hari ini. Mereka berdua seperti sengaja membuatku merasa sangat kesal―maksudku, benar-benar kesal," keluh Karin.

"Ah, jangan khawatir! Itu pasti bagian dari rencana untuk membuat kejutan pada Karin-nee-chan,"

"Hehe, semoga saja begi―"

"Karin! Sampai kapan kau akan berbincang di telepon? Kau tidak memasakkan makan siang untukku, hm? Lagi pula kau belum membersihkan ruang tamu serta ruang keluarga bukan?" seru Kazune yang terlihat marah. Karin mendengus kembali kesal.

"Maaf, Kazusa. Kita lanjutkan di lain waktu,"

"Ah, baiklah. Maaf sudah mengganggu, Karin-nee-chan,"

"Tidak, kok. Aku justru senang karena kau sudah menemaniku. Kazune sangat menyebalkan,"

"Karin!" Terdengar kembali lengkingan suara Kazune.

"Ara, lain waktu lagi, Kazusa. Jaa,"

"Jaa,"

Karin menutup telepon dan mengakhiri perbincangannya dengan Kazusa. Ia kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.

'Benar juga. Kan tidak biasanya Kazune dan Suzune bersikap seperti itu. Mungkin saja mereka menyiapkan sebuah kejutan untukku! Aku jadi tidak sabar menantikannya,' seru Karin dalam hatinya.

"Karin! Cepatlah!"

"Iya, iya, sabar sedikit kenapa sih?"

Karin berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaannya memasak. Sesekali ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan kejutan apa yang akan menimpanya nanti. Kazune hanya memandang aneh terhadap istrinya tersenyum.

"Karin, kok tercium bau gosong?" tanya Kazune kemudian. Karin kembali tersadar ke alam nyatanya.

"Astaga, telurnya gosong!" sahut Karin kemudian.

"Dasar payah!"

Karin hanya menggembungkan pipinya.

.

.

To Be Continued

.

.

Review Please?