TITLE: Good Things Take Time
RATE: M
GENRE: Romance, Humour, Drama
LENGTH: SEQUEL – 1 of…
DISCLAIMER :semua tokoh punya YME, yang saya punyaCuma plot dan typo yang bertebaran di ff gaje ini. Jika ada kesamaan plot, nama tempat, dll. Itu semua murni Cuma kebetulan.
SYNOPSIS: semua teman Wonwoo sudah pernah melakukan hubungan 'itu' dengan kekasih mereka. Sedangkan Wonwoo jadi kekasihnya itu Kim Mingyu, bujangan paling diminati di Seoul. Sebenarnya apa yang salah? Apa Mingyu sudah tidak cinta Wonwoo lagi, atau bagaimana? MEANIE! GS!
This is a Genderswith. Please just close the tabs if you don't like any of 'genderswitch'. Please do not bash. I was just write my wild imagination into this absurd ff :)) please enjoy:))
.
.
.
Wonwoo sedang membaringkan tubuhnya dengan malas diatas ranjangnya yang berguling ke kanan, kemudian ke kiri.
Tiba-tiba saja senyum yang indah tersungging di kembali menatap jari manis di sebelah kirinya.
Terdapat sebuah cincin emas putih yang bertahtakan berlian berbentuk hati mengusap sayang cincin tersebut, kemudian mengecupnya sekali.
Tentu saja Wonwoo sangat menyukai cincin tersebut. Itu adalah cincin yang Mingyu berikan padanya saat Mingyu melamarnya beberapa bulan yang lalu!
Dan dalam beberapa jam kedepan, Wonwoo akan berganti status menjadi seorang married woman. Namanya juga akan turut berganti. Sebentar lagi ia akan dipanggil dengan sebutan nyonya Kim.
Namun sesuatu yang indah tentu butuh layaknya saat ini.
Sudah dua minggu ini Wonwoo tidak diperbolehkan bertemu dengan sedang menjalani tradisi keluarga Jeon. Ya, ia sedang dipingit sebelum menikah dan tidak diperbolehkan untuk menemui calon mempelai prianya selama beberapa saat.
Dan saat ini Wonwoo sedang tinggal di rumah keluarganya untuk menjalani tradisi tersebut, mau tidak tidak suka.
Meski dalam hati, rasa rindunya pada Mingyu sudah sampai ubun-ubun. Selama beberapa minggu ini ia hanya bisa mendengarkan suara Mingyu. Melihat wajah Mingyu lewat video call dan bertukar pesan lewat chat.
Tapi itu semua belum cukup.
Wonwoo merindukan Mingyu. Merindukan suara pria itu, merindukan hangat pelukannya, merindukan manis kecupannya. Merindukan seluruh diri Mingyu, dari kepala sampai kaki.
segera saja, Wonwoo menekan angka satu pada fast dial di ponselnya dan segera terhubung dengan seseorang yang menjadi pusat dunianya.
"yeoboseyo?"
"Mingyu-yaaa…" panggil Wonwoo sudah biasa seperti ini selama dua minggu terakhir. Dan MIngyu sudah dipastikan harus berakhir menemani Wonwoo hingga gadis itu jatuh tertidur.
"bogoshipeo. Manhi." Ucap Wonwoo lirih.
"nado, chagiya. Bersabarlah. Aku akan segera menemuimu. Secepatnya." balas Mingyu. Di seberang sana, Mingyu sedang mengulas senyum penuh kerinduan saat berbicara dengan kekasihnya tercinta. Jujur, ia juga sangat merindukan Wonwoo. Mingyu bersumpah, jika ia bisa menemui Wonwoo, sudah pasti ia akan segera memeluk gadis itu erat dan tidak akan melepaskannya.
"mingyu. Kau mencintaiku?" tanya Wonwoo. Konyol. Sebentar lagi mereka akan menikah. Perlukah Wonwoo menanyakan hal itu?
"ya! Calon istri Kim Mingyu! Apa kau masih perlu menanyakan hal itu?" tanya Mingyu dengan nada malas.
"jawab saja! Kuhitung sampai tiga! Satu… dua..ti-"
"ne, ne. saranghaeyo, Jeon Wonwoo." balas Mingyu sebelum Wonwoo menyelesaikan hitungannya yang ketiga.
"jinjjayo?"
"jinjja. Neomu neomu puas?"
"aku tidak percaya sebelum kau datang kesini." Ucap Wonwoo yang sedang duduk di bangku kerjanya sampai terbangun karena ucapan Wonwoo.
"datang kesana bagaimana? Sayang, apa kau tidak ingat, kita sedang dilarang untuk bertemu!" ucap Mingyu frutasi. Ia menepuk dahinya sendiri menghadapi kelakuan Wonwoo yang terkadang suka ada-ada saja.
"katamu kau mencintaiku, kau bilang kau merindukanku!" Wonwoo merengek seperti anak kecil yang merajuk karena tidak diberi permen.
Membuat Mingyu geleng-geleng kepala diseberang sana.
"pokoknya aku tidak mau menikah denganmu kalau kau tidak datang kesini dan menemuiku! Titik!" ucap Wonwoo final, kemudian menutup sambungan begitu Mingyu berdecak kesal.
Tentu ia tidak ingin membatalkan pernikahannya dengan Wonwoo yang sudah ia persiapkan dengan sangat matang begitu saja.
Tapi tentu saja itu bukan berarti ia ingin berakhir menyedihkan di tangan ayah Wonwoo yang terkenal sangat tegas itu.
Ia hanya punya satu pilihan. Dan yang akan ia pilih adalah…
.
.
.
"TOK TOK TOK"
Wonwoo terlonjak kaget saat mendengar jendela kamarnya tiba-tiba saja diketuk oleh menghampiri kaca jendelanya sambil membawa sebuah sepatu high heels yang tumitnya sangat runcing, untuk berjaga-jaga.
Dan ia tidak bisa menutupi rasa gembiranya saat tahu bahwa yang mengetuk kaca jendelanya merupakan calon suaminya, Kim Mingyu.
"gyu-yah! Kau benar-benar datang!" pekik Wonwoo senang.
"ne. cepat buka jendelanya. Disini sangat dingin, aku bisa mati membeku!" ucap Mingyu sambil terus mengusapkan kedua tangannya.
Mingyu memarkirkan mobilnya sedikit lebih jauh dari rumah Wonwoo. Sehingga ia tidak akan ketahuan.
Sesaat setelah Mingyu masuk kedalam kamar Wonwoo yang memang terletak di lantai satu dan memiliki jendela cukup besar itu, Wonwoo segera berlari menubruk tubuh Mingyu dan memeluk prianya erat.
"Mingyu! Bogoshipeo!" ia lalu mengusakkan wajahnya ke dada Mingyu, membuat Mingyu hanya tersenyum geli, kemudian balas memeluk wanita miliknya tak kalah erat.
"nado."Ucap Mingyu kemudian mencium puncak kepala Wonwoo, menghirup aroma shampoo yang selalu Wonwoo gunakan, dan ia sukai.
Wonwoo menengadahkan wajahnya, kemudian ia sedikit menjinjitkan kakinya dan mengecup bibir Mingyu. Agak lama.
Mingyu tentu biasanya gadis itu yang memulai menyerang , kecuali saat kejadian beberapa bulan lalu, Wonwoo berusaha menggoda Mingyu, tentunya. Dan Mingyu bersumpah tidak akan melupakan kejadian itu sepanjang hidupnya kelak.
Saat Wonwoo melepas ciumannya, ia menatap mata Mingyu yang masih menatapnya dalam. Kemudian tersenyum dan berusaha melepaskan pelukan Mingyu pada pinggangnya, namun saat berhasil dilepas, Mingyu malah kembali menarik tubuh Wonwoo dalam dekapannya dan membalas ciuman Wonwoo dengan cara yang lebih dari yang Wonwoo lakukan padanya.
Mingyu bergantian melumat bibir atas dan bawah Wonwoo, kemudian mendorong lidah nya agar bisa memasuki mulut Wonwoo dalam sesi ciuman panas tersebut.
Awalnya Wonwoo kaget. Pasalnya Mingyu tidak pernah menciumnya dengan cara seintim ini. Wonwoo tahu ini. Inilah yang dinamakan French Kiss.
Wonwoo memang sedikit kewalahan meladeni ciuman Mingyu, namun ia tidak menampik bahwa ia menyukai ciuman Mingyu yang seperti ini.
Akhirnya setelah berperang lidah, bertukar saliva, dan membuat bibir masing-masing memerah dan agak bengkak, Wonwoo menyerah minta dilepaskan karena mulai kehabisan oksigen.
Dan Mingyu melepaskan ciumannya pada Wonwoo dengan pandangan mata agak sayu dan sedikit tidak rela.
Setelah berhasil kembali mendapatkan udara untuk mengisi paru-parunya, Wonwoo kembali melingkarkan lengannya pada perut Mingyu, dan menyandarkan kepalanya di dada Mingyu.
"suka." Ucap Wonwoo pelan, namun Mingyu masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"apanya?" tanya Mingyu sambil terus mengusap kepala Wonwoo perlahan.
"ciumanmu. Aku suka." Jawab Wonwoo semakin melesakkan wajahnya kedalam dada Mingyu
Mingyu menarik Wonwoo agar ia bisa melihat wajah gadis itu yang sudah merona hebat. Ia mengelus lembut pipi Wonwoo.
"mau lagi?" tanya Mingyu dengan nada menggoda dan seringaian jahil pada bibirnya.
Wonwoo hanya menggelengkan kepalanya polos, yang malah mengundang tawa geli dari kekasihnya.
"jangan khawatir. Besok setelah kau resmi menjadi istriku, aku akan sering menciummu dengan cara seperti ini. Kau mau?" tanya Mingyu lagi masih dengan seringaian yang menampilkan gigi taringnya yang khas.
Wonwoo hanya menggigit bibirnya menanggukkan kepalanya malu-malu.
Ia lalu melepaskan pelukannya dari Mingyu dan berjalan menjauhi Mingyu sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"sudah ah, aku malu!"
Mingyu segera memeluk Wonwoo dari belakang dengan erat, seperti tidak rela berpisah dengan wanitanya.
"eyy… jangan kabur. Yasudah kalau kita mengobrol saja."
.
.
.
Mingyu masih betah memeluk tubuh Wonwoo meski sudah hampir dua jam mereka melakukan posisi itu. Ya, mereka hanya lebih.
Meski terkadang tangan Mingyu merembet nakal, mengelus perut Wonwoo hingga paha gadis itu, namun hanya sampai disitu saja batas mereka.
Pembicaraan yang mereka lakukan juga hanya berupa apa yang masing-masing lakukan selama tidak bertemu, ada kabar terbaru apa di kantor Mingyu, dan pembicaraan wajar lainnya.
Namun mereka berdua terlonjak kaget saat tiba-tiba saja pintu kamar Wonwoo dibuka begitu saja oleh seorang pria.
Ya, itu ayah Jeon Kangwoo.
"apa yang sedang kalian lakukan?" tanya pria paruh baya itu penuh dengan penekanan. Ia memicingkan matanya menatap seorang pria berkulit tan yang sedang memeluk anak gadisnya diatas ranjang, calon menantunya. Kim Mingyu.
Mereka berdua sontak segera melepaskan pelukan mereka masing-masing dan turun dari ranjang dengan terburu-buru, sangat mirip dengan kedua pasangan yang tertangkap basah sedang berbuat mesum.
"kalian berdua! Ikut appa!" perintah tuan Jeon, lalu meninggalkan kamar Wonwoo dengan tergesa-gesa.
.
.
.
Wonwoo dan Mingyu kini sedang duduk bersimpuh dihadapan kedua orang tua dan nyonya sedang disidang.
Pasalnya, mereka sedang menjalani tradisi keluarga Jeon untuk tidak saling bertemu, tapi kedua anak muda ini malah melanggarnya.
"sebenarnya apa yang kau lakukan disini, Kim Mingyu?" tanya tuan Jeon penuh penekanan. Ia kembali memelototkan matanya menatap pria muda dihadapannya.
"i-itu.. jwesonghamnida, abeonim. Saya tidak bisa menahan rindu pada Wonwoo, sehingga saya nekad untuk menemuinya lagi, jwesonghamnida." Mingyu mengakui kesalahannya, ia berkali-kali menundukkan kepalanya pada ayah Wonwoo.
Melihat Mingyu yang dihakimi oleh ayahnya, Wonwoo tidak turut berbicara pada ayahnya, bahwa ini bukanlah murni kesalahan Mingyu. Wonwoo-lah yang menyuruh Mingyu untuk datang kesana.
"diam kalian! Dua-duanya salah!" suara tuan Jeon yang menggelegar kembali terdengar, membuat Wonwoo tersentak takut. Ia adalah anak tunggal, dan baru kali ini ia dimarahi seperti ini oleh ayahnya yang biasa bersikap tegas namun lembut.
Wonwoo menitikkan air matanya, membuat Mingyu dan nyonya Jeon tidak segera mengelus punggung Wonwoo untuk menenangkan gadis itu.
Sesungguhnya, dalam hati tuan Jeon juga ia tidak sampai hati memarahi Wonwoo hingga menangis, namun anak-anak muda ini perlu diberi pelajaran. Mereka sudah melanggar tradisi yang ada, pikirnya.
Tuan Jeon kemudian berdeham, dan bertanya pada Mingyu,
"Mingyu, jawab yang kau dan Wonwoo sudah pernah melakukan hubungan 'itu'?"
Membuat Mingyu bingung dengan pertanyaan tuan Jeon pada awalnya, namun ia segera mengerti dengan maksud pertanyaan tersebut dan menjawabnya dengan gelengan kuat dikepalanya.
"animnida, abeonim! Saya berani bersumpah, saya tidak pernah melakukan hal itu pada masih terjaga kesuciannya, saya berani jamin itu!"
Tuan Jeon hanya memicingkan matanya, kemudian ia memerintahkan nyonya Jeon untuk membawa Wonwoo masuk kedalam kamarnya, karena ia masih ingin menyidang Mingyu.
"a-appa. Jebal, ini semua bukan salah Mingyu, aku yang menyuruhnya datang kemari." Rengek Wonwoo sebelum pergi ke kamarnya.
"pergi ke kamarmu, Jeon Wonwoo!" perintah tuan Jeon lagi.
Wonwoo menatap mata Mingyu penuh rasa bersalah, namun Mingyu hanya memberikan tatapan mata teduh, menenangkan Wonwoo dan seolah berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah nyonya Jeon dan Wonwoo meninggalkan para pria di ruang keluarga,tuan Jeon kembali menyidang pria tampan tersebut.
"apa kau tahu, kesahalan yang kau lakukan?" tanya tuan Jeon setelah beberapa saat dan keadaan agak tenang.
"ne, abeonim. Saya tahu." Jawab Mingyu mantap.
"lalu kenapa masih kau lakukan?"
"saya tidak bisa menahan rindu pada Wonwoo, abeonim."
Tuan Jeon hanya menghela nafasnya kasar, ia kemudian menyuruh Mingyu duduk di sofa dihadapannya setelah menyuruh Mingyu berlutut selama kurang lebih satu jam.
Dengan kaki yang keram dan kaku, Mingyu berusaha mendudukan tubuhnya di kemudian berusaha untuk duduk dengan sopan dihadapan calon mertuanya yang galak ini.
"aku jadi ragu, apakah aku bisa menyerahkan putriku padamu." Ucap tuan Jeon pada Mingyu yang langsung membuat pria muda itu shock.
"a-abeonim…"
"sebagai calon suami, tidak seharusnya kau menuruti semua perkataan calon istrimu. Terlebih itu sampai melanggar tradisi."
MIngyu kembali menundukkan memang tahu itu.
"tapi aku pikir hal tersebut malah bisa menjadi bukti bahwa kau benar-benar mencintai putriku." Ujar tuan Jeon dengan nada yang lebih tenang. MIngyu kembali menengadahkan kepalanya, menatap tuan Jeon yang sedang menatapnya sambil tersenyum penuh wibawa.
"a-abeonim.." MIngyu tiba-tiba saja tidak tahu harus berkata apa.
"aku mohon, jaga putriku. Cintai anakku sebagaimana ia mencintai dirimu. Maafkan segala kecerobohan dan sifat keras kepalanya. Itu semua aku yang menurunkan padanya." Tuan Jeon berucap dengan lirih, Mingyu berani bersumpah, ia bisa melihat mata tuan Jeon agak memerah dan sedikit berkaca-kaca.
"tapi dibalik semua sifat jeleknya, aku berani bersumpah kau akan temukan cinta dibalik itu semua. Anakku itu..sangat mencintaimu. Putriku satu-satunya yang paling berharga, lebih memilih dirimu dibanding ayahnya ini…" suara tuan Jeon terdengar agak bergetar. MIngyu jadi turut terharu.
Ia merasa sangat bersyukur bisa menikahi Jeon Wonwoo yang ia cintai. Merasa bersyukur karena Wonwoo yang ia cintai, dicintai oleh begitu banyak orang, dan bersyukur karena Wonwoo yang dicintai banyak orang, mencintai dirinya.
"abeonim, aku berjanji, akan selalu mencintai Wonwoo. Aku akan menjaganya, menerima semua sifat buruknya. Abeonim tidak perlu khawatir. Soal Wonwoo… serahkan saja padaku." Ucap Mingyu sangat mantap, membuat tuan Jeon menatap Mingyu puas.
Tuan Jeon paling tidak suka pria plin-plan, apalagi yang tidak tegas dan tidak bisa diandalkan. Dan syukurklah ia tidak menemukan karakteristik yang paling ia benci didalam diri calon suami anaknya itu.
Tuan Jeon tersenyum kemudian mempersilhkan Mingyu untuk pulang setelah berbincang selama beberapa saat. Membuat Mingyu membungkukkan tubuhnya penuh hormat.
.
.
.
"jangan terus gigiti bibirmu, sayang. Nanti lipstick-mu rusak." Tegur nyonya Jeon melihat kelakuan anak gadisnya.
"eommaa.." Wonwoo tetap tidak hanyalah seorang Jeon Wonwoo yang manja dan sering merengek.
"aku gugup sekali.." ucap Wonwoo sambil memeluk tubuh ibunya tersebut.
"memang seperti itu, sayang. Tapi coba kau rasakan, pasti yang ada disini adalah rasa berdebar-debar yang menyenangkan, karena akan segera bertemu calon suamimu." Nyona Jeon berucap lembut sambil memegang dada Wonwoo.
Hingga tiba-tiba saja tuan Jeon datang dan berkata bahwa mereka sudah harus keluar karena acara akan dimulai sebentar lagi.
Wonwoo menggandeng lengan berjalan di sepanjang koridor gereja tempat ia dan Mingyu mengadakan acara pernikahan mereka.
Sepanjang jalan ia mengundang tatapan kagum dari seluruh tamu yang ada.
Tak terkecuali para sahabatnya, Jihoon, Hao, Seungkwan, dan Chan yang berada disana dengan para pasangan masing-masing.
MIngyu yang sudah menunggunya sedari tadi hanya bisa berdecak istrinya terlihat sangat luar biasa hari dibalut oleh gaun putih yang membentuk lekuk tubuhnya dengan Sabrina pada gaunnya membuat leher dan bahu Wonwoo terlihat sangat jenjang dan mulus.
Rambut kecoklatannya yang digelung keatas dihiasi dengan mahkota bertahtakan berlian.
Dan meski tertutup oleh wedding veil berbahan brukat, riasan natural Wonwoo masih bisa terlihat dengan cantiknya.
Intinya, satu kata untuk Wonwoo; ia sempurna, menurut Mingyu.
Begitupun dengan Wonwoo. Diujung altar, bisa ia lihat pemandangan calon suaminya yang sedang menunggunya.
Mingyu berdiri disana dengan setelan jas berwarna putih yang sepasang dengannya. Rambut Mingyu ditata keatas, memperlihatkan dahi Mingyu yang seringkali ia sebut seksi. Alisnya terlihat tebal, menambah kesan jangan lupakan senyumnya yang terus tersungging, menampilkan gigi taringnya yang sangat mempesona.
Sesampainya di altar, tuan Jeon memberikan tangan Wonwoo pada uluran tangan Mingyu. Kemudian pria paruh baya itu berkata,
"tolong jaga anakku, Mingyu."
"ne, abeonim." Mingyu kembali berucap mantap sambil menganggukkan kepalanya pada tuan Jeon.
Mereka segera mengucap janji sehidup semati, kemudian saling bertukar cincin.
Kali ini Wonwoo dan Mingyu yang mendesain sendiri cincin pernikahan emas yang diberi aksen perak pada pinggirnya terlihat sangat unik. Dan dibagian dalam cincin mereka, terukir nama masing-masing pasangan.
JWW untuk Mingyu, dan KMG untuk Wonwoo.
Segera setelah bertukar cincin, para hadirin menyoraki mereka untuk berciuman.
"kisseu! Kisseu! Kisseu!"
"go get her, man!" teriak Soonyoung yang juga merupakan teman main Mingyu.
Mendengar dorongan dari para sahabat, Mingyu segera menarik tangan Wonwoo dan mendekap tubuh wanita yang sudah resmi jadi istrinya tersebut erat.
"ingat janjiku kemarin?" tanya Mingyu pelan dihadapan Wonwoo.
Wonwoo hanya mengangkat alisnya bingung. Janji apa? Tapi kemudian ia segera teringat akan janji Mingyu semalam, bahwa suaminya itu akan sering-sering melakukan French kiss padanya.
Wonwoo ingin menolak, namun dan tengkuknya sudah dipegang oleh Mingyu, dan pria itu mulai tidak bisa melakukan apa-apa, selain menikmati permainan.
Melihat ciuman Mingyu, para hadirin menyoraki kedua pasangan yang sedang berbahagia ini.
.
.
.
"aahh… lelah sekali…" Wonwoo segera mendudukkan tubuhnya diatas ranjang kamar Mingyu di mansion milik pria itu – ralat, kini milik mereka berdua.
"kau lelah, nyonya Kim?" tanya Mingyu sambil berusaha melepas jas putihnya.
Mereka baru saja pulang dari acara resepsi pernikahan mereka harus terus berdiri serta tersenyum sepanjang hari pastinya menguras tenaga.
"ne, nampyeon. Aku lelah sekali." Ucap Wonwoo sambil tersenyum jenaka memandang suaminya.
"barusan kau panggil aku apa?" tanya Mingyu sambil tersenyum geli.
"nam-pyeon. .Arrayo?" jelas Wonwoo sambil mengucapkannya tepat dihadapan wajah Mingyu.
Gemas akan kelakuan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya ini, Mingyu menggelitiki pinggang ramping milik sang gadis dan mereka tertawa terbahak-bahak bersama.
Wonwoo menggeliat kegelian, ia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Mingyu, namun hal itu malah membuat keseimbanganya oleng. Ia hampir saja terjatuh jika saja Mingyu tidak dengan sigap menangkap tubuhnya.
Tubuh mereka berdua terjatuh diatas ranjang dengan Mingyu yang berada dibawah tindihan tubuh Wonwoo.
Posisi Wonwoo saat ini sangat tubuh Wonwoo menempel erat dengan milik kini Mingyu bisa merasakan dada Wonwoo yang empuk mengenai bagian Mingyu melenguh pelan.
"won.." panggil Mingyu pelan.
Wonwoo memerah wajahnya, ia segera beranjak bangun, namun lengannya ditarik kembali oleh Mingyu, menyebabkan tubuh gadis itu limbung dan kembali jatuh menimpa dada dan perut Mingyu.
"kajima"
"w-wae? Kau pasti berat… lepaskan, gyu."Wonwoo terus berontak, berusaha bangun dari posisinya saat tenaga Mingyu jauh lebih itu bahkan kini mengaitkan kedua tangannya di punggung Wonwoo dan memeluk wanita itu erat.
"tidak sesak. Aku suka posisi ini." Mendengar ucapan Mingyu, wajah Wonwoo kembali merona hebat. Namun tiba-tiba ia memekik keras karena seketika Mingyu membanting tubuhnya dan membalik keadaan.
Kini Mingyu yang menindih tubuh masih menahan bobot tubuhnya dengan kedua siku pria itu.
"g-gyu.." panggil Wonwoo pelan. Ia memalingkan wajahnya dari Mingyu karena merasa sangat malu menatap pria itu.
Mingyu segera menangkap dagu Wonwoo dan kembali menatap gadis itu.
"apa aku sudah mengatakan padamu, bahwa kau terlihat sangat cantik hari ini?" tanya Mingyu tepat di wajah Wonwoo.
Wonwoo hanya mengigit bibirnya mengerjapkan matanya beberapa kali.
"kau selalu cantik. Tapi hari ini kau terlihat luar biasa. Apalagi setelah menjadi milikku." Mingyu kembali membelai lembut dahi serta rambut Wonwoo.
Ia mengecup bibir Wonwoo perlahan, namun hanya sekedar menempel.
"aku mencintaimu, Kim Wonwoo."
Mingyu kembali mengecup bibir Wonwoo. Namun ia dengan segera melumat bibir istrinya. Menelusupkan lidahnya, dan beradu dengan lidah milik wanitanya.
Wonwoo menikmati ciuman Mingyu kali ini. Sangat. Ah, tapi memang kapan Wonwoo tidak menyukai sentuhan Mingyu?
Wonwoo melingkarkan kedua lengan kurusnya di leher Mingyu, memberikan akses lebih pada suaminya agar ia bisa menikmati ciuman itu.
setelah puas dengan bibir dan lidah Wonwoo, ciuman Mingyu mulai menjalar menuju rahang gadis itu. Kemudian leher jenjangnya.
Memberikan beberapa tanda kemerahan, dan terus bergerak turun kebawah.
Potongan gaun Wonwoo yang berupa Sabrina memudahkan Mingyu untuk mencicipi kulit bahu istrinya yang mulus.
Tangan Mingyu mulai bergerak untuk terus menurunkan gaun Wonwoo, namun tiba-tiba saja pergerakan Mingyu dihentikan oleh tangan Wonwoo.
"Aku ingin bersih-bersih dulu..." ucap Wonwoo terengah-engah. sesungguhnya ia sendiri tidak kuasa menahan cumbuan Mingyu.
"Untuk apa bebersih kalau nanti kotor lagi?" Goda Mingyu kembali mengecupi leher jenjang istrinya.
"G-gyu.. ah! Hnn.. jebal.. riasanku sangat tebal, rasanya tidak nyaman..." rengek Wonwoo sambil terus menggeliatkan tubuhnya yang masih digerayangi Mingyu.
Rasanya Mingyu tidak rela. Baru tubuh yang masih dilapisi pakaian lengkap saja, sesuatu di bagian selatan Mingyu sudah bereaksi. Apalagi jika sudah polos seutuhnya?
Namun ia tidak ingin memaksa. Biarlah Mingyu mengalah untuk saat ini, karena sebentar lagi, Mingyu akan memastikan Wonwoo tidak bisa berkata tidak.
"Baiklah. Ayo kita bersih-bersih." Mingyu beranjak dari tubuh Wonwoo, dan turut membantu istrinya yang agak kesulitan bangun karena gaunnya yang berat.
"Tapi setelah ini, jangan harap kau akan lepas. Hahaha..."goda Mingyu seolah ia adalah seekor serigala yang berbicara pada kelinci tawanannya.
Wonwoo hanya tersenyum lugu, kemudian mengelus dada suaminya pelan.
"Ne, setelah ini aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Sabar ya..."
.
.
.
Mingyu sedang duduk santai diatas ranjang kingsize miliknya. Ia memegang selembar kertas yang ia sembunyikan keberadaannya dari Wonwoo.
Sebuah senyum ia ulas di bibirnya, memikirkan reaksi istirnya kelak.
Mendengar suara kucuran shower yang terhenti, Mingyu segera menyembunyikan kertas itu kembali didalam laci nakasnya.
Kini ia sedang menunggu Wonwoo selesai mandi, karena Mingyu lebih dulu membersihkan tubuhnya selagi Wonwoo menghapus riasannya.
Ia hanya mengenakan kaus putih polos yang tipis dan celana piyama yang panjang.
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, dan ia dapat melihat Wonwoo yang sudah segar. Rambutnya yang masih agak basah digerai hingga punggung. Tubuhnya yang indah hanya dililit dengan bathrobe, membuat Mingyu tidak sabar melihat isi dari bathrobe tersebut.
Wonwoo duduk didepan meja riasnya dan mengoleskan cream pada wajahnya. Namun Mingyu tahu, dilihat dari gelagatnya, Wonwoo sedang gugup berhadapan dengannya. Membuat Mingyu tersenyum geli tanpa sepengetahuan Wonwoo.
Mingyu memanggil Wonwoo, dan menyuruh wanita itu untuk duduk disisinya diatas ranjang. Dan saat Wonwoo menghampiri Mingyu, pria tan itu malah meninggalkannya pergi.
Membuat Wonwoo melongo bingung.
Namun ternyata Mingyu hanya pergi untuk mengambil dua gelas wine yang sedari tadi sudah ia siapkan.
"Cha." Mingyu menyodorkan gelas tersebut pada Wonwoo.
"Kau tahu aku tidak bisa minum." Tolak Wonwoo
"Gwenchana. Ini hari spesial. Lagipula hanya segelas tidak akan membuatmu mabuk. Terlebih apa yang kau takutkan? Kau bersamaku. Ayolah, sayang..." mingyu tetap memaksa, membuat Wonwoo akhirnya turut menerima wine tersebut.
Wonwoo menyesap minuman itu perlahan, namun segera berjengit karena rasa pahit yang aneh yang menyapa inderanya. Ia kemudian meletakkan gelas wine itu keatas meja nakas.
Mingyu hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya yang selalu membuatnya speechless.
Ia mendekati Wonwoo, kemudian duduk dihadapan wanita itu, dan meraih Wonwoo kedalam pelukannya.
Mingyu mengusap pelan puncak kepala Wonwoo sambil sesekali mengecupnya lembut.
"haaah.. Jeon Wonwoo.. kau tidak tahu betapa aku sangat menunggu hari ini." Ucap Mingyu dengan nada rendah tepat disisi telingan Wonwoo.
Membuat wanita itu menatap Mingyu heran. Namun tidak lama kemudian, Wonwoo memekik kencang karena kaget, tubuhnya tiba-tiba saja didorong keras oleh suaminya yang kini berada diatasnya.
"g-gyu.." lirih Wonwoo. Matanya menatap tepat dimata Mingyu yang tajam dan bening. Seketika itu juga Wonwoo tahu Mingyu sudah diselimuti kabut bernama nafsu.
"apa, sayang? Kau mau beralasan apa lagi?" tanya Mingyu tepat dibibir Wonwoo.
Gadis itu hanya tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya kecil. Ia segera melingkarkan lengannya ke leher Mingyu.
"aniya. buat aku jadi milikmu seutuhnya. Sekarang." Ucap Wonwoo seduktif, kemudian mengecup ujung bibir Mingyu.
Pria itu terkekeh kecil melihat tingkah istrinya, ia kemudian mengecup belahan bibir Wonwoo lembut.
Namun kecupan itu tidak bertahan lama karena sang pria segera menaikkan tempo ciumannya. Ia segera melumat bibir sang istri, bagian atas, maupun bagian bawah. Juga tak luput permainan lidah yang membuat mereka berdua bertukar saliva hingga menetes di dagu.
Merasakan remasan pada bahunya, Mingyu tahu bahwa istrinya hampir kehabisan nafas. Sehingga meskipun tidak rela, ia harus melepaskan tautan bibir mereka yang terasa sangat manis.
Mingyu menatap wajah dan penampilan Wonwoo yang menurutnya sangat menggoda malam ini. Matanya terlihat sayu, bibirnya berwarna merah, agak bengkak dan basah, akibat permainan mereka barusan.
Mingyu mengecup dahi Wonwoo sangat lembut. Turun ke kedua matanya, hidung, kedua pipi, hingga kembali ke bibirnya.
Sang pria mengendus rahang serta leher jenjang istrinya, merasakan aroma vanilla yang menguar dari tubuh indah itu. Mengecupnya sesekali, menjilat, kemudian mengigitnya gemas.
Meskipun merasa geli saat titik sensitivenya disentuh, namun Wonwoo malah memberikan MIngyu akses lebih jauh untuk memanjakan lehernya, yang kemudian dibalas seringaian oleh pria itu.
"Sayangku, kau tidak tahu betapa aku sangat menginginkan ini.." ucap Mingyu serak, bahkan suaranya yang terdengar diliputi nafsu terdengar seksi bagi Wonwoo.
Wonwoo menggigit bibirnya kecil, merasakan nikmat saat bagian sensitifnya dimanjakan. Ia mengusap kepala Mingyu yang sedang sibuk memberikan tanda pada lehernya, kemudian berkata disertai dengan desahan-desahan menggoda,
"emh.. kalau begituh… nggh.. beri.. tahu akuh.. anghh.."
Mingyu menyeringai mendengar lampu hijau dari istrinya. Ia kemudian menurunkan ciumannya menuju tulang selangka, bahu, hingga belahan dada Wonwoo yang sedikit terekspos akibat bathrobenya yang sudah tidak karuan.
Dengan cepat, Mingyu menyibak bathrobe Wonwoo dan membuka ikatannya. Kemudian rahangnya seperti mau jatuh saat melihat penampilan tubuh sang istri dibawah sana.
Mingyu melempar asal bathrobe Wonwoo, kemudian menatap intens tubuh indah istrinya.
Wonwoo hanya dibalut sebuah bra tipis transparan yang berbahan dasar brukat dan renda-renda, begitupula dengan celana dalamnya. Well, MIngyu tidak bodoh untuk mengetahui yang Wonwoo kenakan saat ini adalah G-String.
Mingyu bahkan malu untuk mengatakan ini, tapi harus ia akui. Wonwoo is so damn sexy dan bahkan kelihatan seperti aktris JAV yang suka ia tonton saat remaja jika mengenakan pakaian ini.
Membuat sesuatu dibagian bawah Mingyu terasa amat sangat sesak.
Merasa malu karena ditatap sang suami sangat intens, Wonwoo memutar tubuhnya menyamping, kemudian menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
Membuat ide jahil terlintas di otak Mingyu.
Mingyu meraih kedua tangan Wonwoo, kemudian menahannya diatas kepala gadis itu.
"g-gyu.. apa yang.. kau lakukan?" tanya Wonwoo terengah-engah. Kedua tangannya tertarik keatas, membuat tubuh Wonwoo menjadi sangat terekspos.
"jangan menutupi tubuhmu dihadapan suamimu, sayang." Mingyu menjilat daun telinga Wonwoo, membuat gadis itu berjengit geli.
Ia kemudian tetap menahan lengan kurus Wonwoo hanya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mulai bergerak untuk memanjakan tempat lain.
Ciuman Minyu turun ke buah dadanya. Meski masih ditutupi bra, ia sudah bisa merasakan bentuk puting istrinya yang sudah mengeras.
Menggunakan giginya, Mingyu menarik turun cup bra sebelah kanan Wonwoo, mengeluarkan payudara istrinya dari cup, membuat wanita itu memekik kencang.
"relaks, sayang… relaks.." ucap Mingyu bagaikan mengucapkan mantra. Setelah dirasa tubuh Wonwoo sudah lebih santai, Mingyu mendekatkan hidungnya pada payudara Wonwoo yang kencang. Ia mengecupi pipi payudara, hingga areola istirnya , membuat Wonwoo mendesah tidak karuan.
"haah.. gyuh.. gyuh.." desah Wonwoo.
"santai, sayang.. ini belum apa-apa." Goda Mingyu sambil sesekali mengecup. Merasa Wonwoo sudah bisa mengontrol dirinya, Mingyu kembali ingin menjahili istrinya. Ia menyeringai kecil, kemudian tanpa aba-aba ia menjilat kasar putting Wonwoo membuat wanita itu menggelinjang kaget.
"anghh.. gyuh! Jebalhh.." desah Wonwoo sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak kuat lagi. Ia tidak mau Mingyu terus mempermainkannya.
"apa, sayang?" mingyu menyeringai mendengar desahan Wonwoo. Ia kini sedang sibuk menjilati payudara Wonwoo. Merasa bosan menjilat, ia menghisapnya seperti bayi kehausan.
"sayang, aku haus. Mau susu." Ucap Mingyu sambil terus menghisap. Namun Mingyu kini bosan dengan payudara kanan Wonwoo, hingga dengan tangan satunya lagi, Mingyu meraih pengait bra di puggung Wonwoo dan membukanya dengan mudah.
Mingyu kini berganti menyedot payudara kiri Wonwoo, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meremas, mencubit, memelintir, dan mengusap putting kiri Wonwoo. Membuat wanita itu mendesah nikmat, dan memekik kesakitan.
Merasa puas mengerjai kedua buah payudara istrinya, MIngyu beranjak bangun. Ia melepaskan kedua cekalan tangan Wonwoo, kemudian dengan gerakan perlahan Mingyu membuka kaus putihnya.
Posisi Wonwoo yang berada di bawah Mingyu, membuat Wonwoo merasa takjub, sekaligus malu saat melihat gerakan erotis suaminya saat membuka baju. Terlebih otot perut, dada, serta bisep Mingyu yang terlihat sangat seksi membuat Wonwoo ingin menyentuh aset milik suaminya tersebut.
"Menyukai pemandangan indah, sayang?" Goda Mingyu saat sadar bahwa Wonwoo memperhatikannya tanpa berkedip barusan.
Wonwoo memalingkan wajahnya malu, namun ia segera terlonjak kaget saat Mingyu kembali membungkukkan tubuhnya dan menjilat sepanjang perut Wonwoo, membuat wanita itu kegelian.
Lidah mingyu terus bermain disekitar pusar Wonwoo dan berjalan turun menuju ikatan celana dalam yang istrinya kenakan.
Lagi-lagi menggunakan gigi, Mingyu membuka simpul yang mengait di daerah pinggul Wonwoo.
Kedua simpul di sebelah kanan dan kiri Wonwoo sudah terbuka, membuat Mingyu tersenyum puas. Ia kemudian dengan sengaja mengecup kemaluan istrinya yang masih ditutupi kain, membuat Wonwoo memekik kaget.
"G-gyu!"
"Hstt... panggil aku nampeon, seperti yang baru saja kau lakukan.." Mingyu meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Wonwoo.
"Say it, baby" goda Mingyu pada Wonwoo yang merona hebat dibawah kukungan tubuhnya.
"N-nampyeon.." cicit Wonwoo membuat Mingyu menyeringai puas.
Tanpa aba-aba, tangan Mingyu menyibak secara kasar kain terakhir yang menutupi tubuh istrinya, membuat Wonwoo bergerak secara naluriah untuk menutupi daerah pribadinya dengan merapatkan kedua paha.
"G-gyu.. aku malu.."
"Kau panggil aku apa?" Tanya Mingyu kembali mengerjai Wonwoo, membuat Wonwoo menghela nafasnya jengah.
"Ne, ne. Nampyeon."
Mingyu mengelus perlahan kedua paha Wonwoo, kemudian turun ke kedua lututnya. Mingyu menyelipkan tangannya di lutut Wonwoo, kemudian membuka paha Wonwoo lebar, membuka akses bagi Mingyu untuk menyelipkan tubuhnya diantara kedua paha Wonwoo.
"Jangan malu. Aku suamimu. Ne? Aku berjanji, akan melakukannya secara lembut.." mingyu kemudian mengecup dahi Wonwoo pelan, namun penuh penghayatan. Ciumannya turun ke pipi, kemudian bibirnya.
Mingyu terus saja menciumi dan mengecupi setiap inchi tubuh Wonwoo seolah tubuh itu mengandung madu yang nikmat.
Mingyu sudah membuat banyak sekali tanda di tubuh istrinya. Di leher, buah dada, perut ratanya, hingga kini Mingyu sedang mengecupi paha bagian dalam Wonwoo.
Namun ternyata Mingyu menyisakan bagian yang paling nikmat untuk terakhir. Save the best for the last.
Mingyu menghirup aroma khas di daerah kewanitaan Wonwoo yang membuat hasratnya semakin bergejolak, kemudian mengecupi lembut bagian tersebut yang bersih tanpa bulu.
Merasa geli akan sentuhan Mingyu di bagian sensitifnya, Wonwoo tidak kunjung berhenti menggeliat, ia bahkan kadang meloloskan desahan kecil yang membuat Mingyu menyeringai seksi, senang karena bisa memuaskan Wonwoo.
Mingyu tahu Wonwoo sudah terangsang sejak tadi, terlihat jelas dari bagian kewanitaannya yang terasa basah.
"Sayang, apa kau mau merasakan kenikmatan yang sahabat-sahabatmu ceritakan?" Tanya Mingyu menatap mata Wonwoo intens.
Yang ditanya hanya mengerjapkan matanya lucu. Malam ini ia merasa sangat aneh. Tubuhnya terasa panas. Dan juga rasanya ia ingin terus dimanjakan dan dipeluk oleh prianya.
Wonwoo kemudian tersenyum menggoda, setelah mendapat sebuah ide entah darimana.
Ia mengalungkan tangannya di leher Mingyu, dan dengan sengaja menyenggol tubuh bagian selatan Mingyu yang sedari tadi sudah terlihat menggembung dengan kakinya.
"Memangnya kenikmatan seperti apa? Beritahu aku, nampyeon." Goda Wonwoo sambil beraegyo. Ia menggerakkan jarinya, membentuk pola abstrak diatas dada bidang Mingyu
Mingyu menyeringai. Gadis polosnya sudah berani menjadi wanita penggoda sekarang. Tapi tidak masalah, Jeon Wonwoo hanya boleh menjadi wanita penggoda didepan mingyu, tidak didepan pria lain.
"Baiklah baby, kau yang minta."
.
.
Tubuh Wonwoo sudah dipenuhi peluh. Ia bahkan sudah menjemput klimaks pertamanya, bahkan sebelum Mingyu melakukan penetrasi pada Wonwoo.
Yah, itu semua akibat cumbuan dahsyat dari suaminya, Kim Mingyu.
"Ahhh... cepat lakukann.. jangan goda aku terusshh.." desah Wonwoo makin menjadi saat Mingyu menggesekan kejantanannya didepan kewanitaan Wonwoo yang sudah basah, merah, dan berkedut.
"Sabar, sayang... aku harus melakukan ini agar kau tidak kesakitan nantinya.."
Wonwoo hanya menggigit bibirnya. Sejujurnya ia takut. Sangat takut. Namun tak bisa dipungkiri, ia juga sangat menantikan saat ini. Saat ia bisa dengan bangga mempersembahkan mahkota paling berharganya untuk orang yang paling dicintai.
"Sayang, aku masuk ya.." Mingyu mencoba memberi peringatan kepada Wonwoo agar bersiap. Tangannya bergerak untuk membuka lebih lebar kaki Wonwoo yang sudah mengangkang.
Mingyu mulai memasukan kejantananya kedalam kewanitaan wonwoo. Namun sulit. Selain lubang wanita itu yang benar-benar sempit, didalam sana seperti ada yang mengganjal, menghalangi Mingyu untuk masuk lebih dalam.
"Aaahhkk! Sakit sekali!" Jerit Wonwoo sambil mencengkeram kedua lengan Mingyu.
"Sayang, ini bahkan baru ujungnya. Sabar ya. Aku akan melakukannya dengan segera agar kau tak terlalu merasakan sakit." Mingyu meletakkan kedua tangan Wonwoo di pundaknya, agar jika wanita itu merasa kesakitan, ia bisa segera mencengkeram pundak Mingyu.
Mingyu menghitung dalam hatinya, dan dalam hitungan ketiga, ia dengan sengaja menghentakkan keras miliknya agar masuk sepenuhnya kedalam lubang kewanitaan Wonwoo.
"Ahhhkk! Gyu! Ini sakit sekali! Jeball! Hiks.." jerit Wonwoo. Ia menggigiti bibirnya saat merasakan dibawah sana ada bagian dari tubuhnya yang robek dan mengalirkan cairan.
Tidak tega melihat Wonwoo terus menggigiti bibirnya hingga nyaris luka, Mingyu kemudian menyambar bibir Wonwoo, dan berusaha membuat wanita itu kembali nyaman.
Setelah agak tenang, Mingyu melepaskan tautan mereka. Ia menatap mata Wonwoo dan mengelus dahinya sayang.
"Masih sakit? Apa kita hentikan saja?" Tanya Mingyu.
Yang langsung dibalas gelengan keras oleh Wonwoo.
"A-ani! Gwenchana. Tapi tolong lakukan dengan lembut. Rasanya masih sedikit perih.." jawab Wonwoo sambil menikmati elusan lembut tangan Mingyu pada rambutnya
Mingyu masih belum menggerakan miliknya, ia berusaha membuat Wonwoo relaks. Mingyu mencoba menikmati rasa hangat didalam tubuh Wonwoo, basah dan lembut menjadi satu, dan lubang sempit Wonwoo yang seolah memberikan sensasi seperti dijepit, membuat Mingyu merasakan nikmat, bahkan sebelum ia menggerakan miliknya.
"Huh, aku bingung. Kenikmatan apanya. Ini sakit sekali. Teman-temanku aneh sekali." Ujar Wonwoo pelan, membuat Mingyu terkekeh lucu melihat tingkah istrinya.
"Kau akan tahu nanti, sayang.."
.
.
"ahhh.. ahh..angghh..! gyuhh.. ak- akuhh.. mau keluar.. anghh.. lagihhh.." jerit Wonwoo merasakan tusukan konstan yang begitu cepat dan kuat yang dilakukan suaminya dibawah sana.
"aghh… uhh.. sabar sayangh.. aku sebentar lagih.. aghh.. ayo kita keluarkan bersama.." desah Mingyu sambil menggeram seksi. Pinggulnya terus bergerak menusuk, mengisi lubang milik istrinya dengan benda kebanggannya dibawah sana.
"gyuhh.. ppali..! akuuhh sudah tak tahannh..!" ini pelepasan Wonwoo yang kesekian kalinya, sedangkan suaminya itu sekalipun belum mengeluarkan benihnya. Sesungguhnya Wonwoo sudah sangat lelah, namun bagaimana lagi, suaminya sedang sangat bersemangat, ia tidak mungkin memintanya untuk segera selesai.
Hingga sepuluh tusukan kemudian, Wonwoo beserta Mingyu melakukan pelepasan mereka. Mingyu melakukannya didalam tubuh Wonwoo. Membiarkan benihnya mengalir menuju rahim wanita itu.
Wonwoo merasakan lega pasca pelepasannya, dan tusukan-tusukan pelan yang MIngu lakukan semakin membuatnya merasa nikmat.
Akhirnya Mingyu menjatuhkan dirinya diatas tubuh Wonwoo, meski ia masih menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangan.
Tidak lama, Mingyu segera berguling ke samping istrinya, dan memeluk Wonwoo erat.
"haaah… jeongmal.. gomawo, nae sarang.." ucap Mingyu lembut sambil terus mengusap kepala Wonwoo.
"ehm.. cheonma… aku merasa lega sekarang. Saat pertama kalinya kulakukan denganmu.." ujar Wonwoo sambil terkekeh kecil, membuat Mingyu ikut terkekeh pula.
"Bagaimana? Apakah teman-temanmu itu aneh? Kau tidak merasa nikmat?" Tanya Mingu, menggoda Wonwoo yang sedang bergelung di dadanya.
Mendengar pertanyaan suaminya, Wonwoo hanya menggigut bibir malu. Wajahnya juga merona merah. Namun tidak lama kemudian ia mengangguk.
"Nikmat."
Mereka saling memeluk diatas ranjang. Meski sudah sangat lelah, namun Wonwoo belum mau tidur. Ia masih ingin berbagi cerita dengan suaminya, hingga terdengar suara dering ponsel Mingyu diatas meja kerjanya.
"aish! Jinjja! Yang benar saja!" omel Mingyu sambil beranjak menuju meja dan mengambi ponselnya.
"siapa?" tanya Wonwoo.
"Chan." Yah, Chan adalah sekretaris Mingyu. Namun karena urusan pernikahan ini, Mingyu terpaksa mengirim Seokmin untuk menggantikan posisinya sementara di perusahaan cabang Jepang. Membuat gadis itu ingin mengomel kepada Mingyu karena sudah memisahkan ia dengan kekasihnya.
Wonwoo hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Ia kemudian berjengit karena rasa aneh yang tidak nyaman mendera bagian kewanitaannya.
"yak! Apa yang kau lakukan malam-malam begini menelepon sepasang pengantin baru?! Apa kau tidak tahu ritual kami? Ish! Mengganggu saja! Sudah, kututup teleponnya!" dalam sekali bicara, Mingyu langsung mengomeli sekretarisnya itu. Padahal diseberang sana, Chan bahkan belum berkata apa-apa.
Namun alangkah terkejutnya ia, saat menoleh kembali keatas ranjang, ia mandapati Wonwoo yang sedang membuka lebar kedua pahanya.
Wanita itu sedang mengusap bagian kewanitaannya yang sedari tadi terasa tidak nyaman, tanpa ia sadari bahwa sedari tadi Mingyu memperhatikan kegiatannya.
Bagian kewanitaannya yang berwarna merah terlihat berkedut sambil mengeluarkan sedikit cairan yang luber keluar, karena tidak mampu menampung cairan Wonwoo dan Mingyu disana.
Mingyu mendekati Wonwoo sambil menyeringai. Dibagian bawah sana sesuatu kembali terbangun, dan istrinya itu harus bertanggung jawab.
"yeobo." Panggil Mingyu.
"kyaaa..!" jerit Wonwoo saat Mingyu kembali menindih tubuhnya.
TBC / FIN ?
Hai semuaa.. aku bawain sequel dari ff tergajelas ini.
Pertama-tama aku mo minta maaf karena untuk minggu ini aku blm bisa apdet enchanté karena satu dan lain hal.
Makanya aku berusaha gantiin update minggu ini dgn update ff ini yang emang udah selesai kutulis sejak beberapa minggu yang lalu. Tadinya mau kuganti judulnya, tapi aku rada males gitu. Hehehe
Di part ini ada NC nya, maafin ya kalau ngga hot dan malah bikin ilfil. Ini bener-bener perdana. For the first time ever. Aku ampe keringet dingin bikinnya. Aku gapernah bikin ini soalnya (kalau baca mah sering. Hehehe) tadinya pas bagian ena-ena nya aku skip, Cuma bagian awal ama akhir aja..
Tapi aku mikir lagi, betapa kesalnya diriku kalo baca ff nc bagian naena nya di skip. Jadi aku bikin yang eksplisitnya deh. hueheueheue..
Aku seneng deh sama review kalian untuk minta aku ngelanjut ff ini. Tuh makanya aku bikinin. Hehehe..
Untuk selanjutnya, aku juga minta pendapat kalian nih, mau dianjut atau udah cukup, stop aja? Seperti biasa, plot selanjutnya mah udah ada, tinggal di garap doang.
Trus kalian juga boleh saran jalan cerita selanjutnya seperti apa. Siapa tau srek, yekan? Bisa jadi pelipur lara disaat suntuk.
Maafin juga kalo ff ini panjang buanget. 5,7K tjoy! Sepet dah tuh mata bacanya.
Akhir kata, terima kasihhhhhhhh review juseyoo
