.
.
~0o0o0~
~DREAM~
(Another World)
xxx
Hyefye
Xxx
Diclaimer: Themselves
Genre: Fantasy – Romance – General
Pair: BL/SLASH/Sho-Ai – Straight (Official & Unofficial)
Cast:
EXO
KrisTao, SuLay, ChanBaek, KaiSoo, Hunhan.
TVXQ/DB5K/TH5K
ChangMin
SJ
Kyuhyun,
SMfamily
and
Other
~0o0o0~
.
"YO!"
Sebuah tepukan cukup keras mendarat tepat di bahu Chanyeol. Remaja berambut sedikit ikal itu terlonjak, dengan sedikit mengeram ia membalikkan tubuhnya. Bibirnya mendecih kala melihat sang pelaku.
"Kim Jong In. " ucap Chanyeol malas menyebutkan nama sang pelaku.
Sebuah cengiran Nampak di wajah Jong In, atau lebih sering dipanggil Kai oleh Chanyeol dan ketiga kawan lainnya.
"Kau tahu?" Tanya Chanyeol. Kai menggeleng, "Wajahmu mengalahkan matahari pagi ini!" sunggut Chanyeol.
Kai terkekeh, "Aku dapat kabar yang sangaaattt baik. " Ucapnya bahagia.
Alis Chanyeol bertaut. "Kabar baik?"
Kai mengangguk. "Taemin,"
"Hyungmu?"
Kai memicingkan matanya, kesal karena ucapannya dipotong begitu saja oleh Chanyeol. Namun sejurus kemudian ia tidak menghiraukannya, "Ya, akhirnya dia akan angkat kaki dari rumah hahahaha. . . " Ucapnya penuh kebahagian dengan tawa yang puas. Tangan Kai menepuk-nepuk bahu Chanyeol.
Chanyeol menepis tangan Kai, "Hyungmu akan pergi, kau malah senang!"
"Tentu saja! Dengan begitu, rumah aku yang menguasai. " Ucapnya penuh kebanggaan.
Chanyeol menatap malas Kai. "Kau benar-benar tidak menyukainya. " Bukan sebuah pertanyaan. Chanyeol mengatakan sebuah pernyataan yang benar adanya. Kai memang tidak menyukai Taemin, sang kakak.
Kai tersenyum, "Walau aku tidak menyukainya, tapi aku tidak membencinya. "
Setelah mengatakan itu, Kai berjalan mendahului Chanyeol. Chanyeol hanya mampu menghela napas mendengar ucapan Kai.
"Ck, aku ragu. Suatu saat bisa saja kau membencinya. "
.
~0o0o0~
.
"Ge. "
"Hm?"
"Tadi aku lihat Kai. "
"Terus?"
"Sudah. "
"…"
Krik. Krik. Krik.
Suasana dalam kelas tiba-tiba hening. Seakan di padang pasir, gersang.
Ingin rasanya buku yang ia pegang dilayangkan ke wajah remaja yang duduk disampingnya. Meratakan kantung mata yang mirip panda itu dengan buku yang ia cengkram erat. Menampar bibir yang tersenyum innocent dengan buku yang tadi ia baca. Namun hal itu tak mungkin ia lakukan, karena bagaimanapun ia tidak akan tega. Pada akhirnya hanya hembusan napas yang keluar dari bibirnya.
"Tao. " Panggilnya pada sang remaja yang masih memasang senyumnya.
Tao semakin menarik bibirnya.
"Bisa kau keluar? Kelas akan dimulai sebentar lagi. " pintanya.
Bibir Tao seketika cemberut. "Luhan-Ge~" rajuknya.
Luhan menatap Tao jengah, "Kau itu lebih tua dari Kai, tapi kenapa tingkahmu melebihi Kai?!" herannya.
Tao mengangkat bahunya tidak memperdulikan ucapan Luhan.
"Cepat pergi. " Usir Luhan.
"Baiklah. tapi nanti aku kesini lagi. " Tao beranjak dari duduknya dan keluar kelas.
Luhan menatap kepergian Tao sampai Tao menghilang dari pandangannya. Luhan mengalihkan perhatiannya pada buku yang ia pegang, sebuah jurnal. Luhan membuka bagian tengah jurnal itu dan mengambil sebuah foto yang terselip disana. Menatap foto itu sesaat, kemudian meletakkannya kembali pada jurnal itu. Menutup jurnal tersebut, kemudian memasukkannya ke dalam tas.
Luhan menyangga dagunya dengan tangan kanan. Matanya menatap langit lewat jendela disampingnya.
"Berhentilah berpura-pura…"
.
~0o0o0~
.
Waktu istirahat adalah waktu yang sangat dinanti oleh setiap siswa, terbukti dengan helan napas yang keluar dari para siswa kala mendengar bel berdering dan membuat sang guru meninggalkan kelas. Dengan sigap para siswa itu membereskan peralatan belajar mereka yang berserakan di atas meja. Selesai dengan peralatan belajar mereka, sebagian dari mereka melesat keluar kelas, dan sebagian lainnya mengeluarkan bekal mereka untuk disantap di dalam kelas.
Cuaca yang cerah memungkinkan bagi lima remaja untuk kembali menikmati waktu istirahat di atap gedung sekolah. Seperti biasanya, mereka duduk melingkar di dekat pagar pembatas.
Kelima remaja itu menikmati waktu istirahat mereka dengan memakan roti dan susu. Sesekali bercanda dan mengobrol tidak jelas, mengatakan hal-hal tidak penting pun mereka lakukan.
Susu dan roti telah habis, kini mereka menikmati semilir angin yang menyejukkan.
"Hyungmu jadi ke Jepang?"
Sebuah pertanyaan yang ditujukan pada Kai memecah keheningan.
Kai yang sedang menatap siswa lain menoleh pada sang penanya. "Hm. Tadi pagi ia bahkan sudah mengepak barang-barangnya. Kau mau mengucapkan salam perpisahan, Tao?" Kai balik bertanya.
Tao menggeleng. "Hanya menyayangkan kepergiannyanya saja. " Ucap Tao enteng.
Ucapan Tao membuat ketiga remaja lainnya menatap penuh Tanya. "Maksudmu?" Tanya Luhan tidak mengerti.
"Kalau tidak ada dia, kita tidak akan bisa melihat wajah tersiksa Kai lagi. " jawab Tao santai.
"Hmm. . benar juga. Hanya Taemin yang mampu membuat Kai terlihat menyedihkan. " Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dan membuat Kai seperti seorang pecundang. " Tambah Chanyeol dengan senyum meremehkan.
Ucapan Luhan dan Chanyeol sukses membuat dahi Kai berkedut. "Maksud kalian apa!" ucapnya jengkel.
Xiumin terkekeh, "Maksud kami, kesenangan kami melihat penderitaanmu berakhir. Hahahha…"
Kai hanya mampu cemberut mendengarnya dan menatap sebal pada teman-temannya yang tertawa puas. Oh, Betapa ia sangat beruntung memiliki teman-teman yang 'perhatian' padanya. Terlalu perhatian sampai-sampai mereka dengan senang hati memperhatikan dan menyaksikan penderitaannya.
Cukup lama mereka menertawakan Kai, sampai akhirnya hening. Mereka terdiam memperhatikan langit.
"Taemin akan lewat diatas kita tidak ya?"
Xiumin berkata dengan mata yang menatap focus pada langit biru.
Kai menatap Xiumin dengan tatapan mengejek, "Kau pikir kakakku punya sayap!"
Xiumin berdecak, "Pesawat yang ditumpanginya yang memiliki sayap!" ucapnya sewot.
Kai memutar bola matanya malas, "Kalimatmu tidak jelas!"
Bibir Xiumin terangkat, kini ia yang menatap Kai dengan tatapan mengejek. "Kau saja yang memiliki otak pas-pasan. Kata-kataku saja tidak dimengerti, bagaimana kau belajar selama ini, eh?"
Ah, Kai merasakan kepalanya berasap! "Maksudmu aku tidak dapat mencerna pelajar!? Dengan kata lain bodoh!?"
DUK
Kai melempar kotak susu yang telah kosong pada Xiumin dan tepat mengenai wajahnya. Xiumin hanya mampu berdecak kesal, sedangkan tertawa puas.
"Hei, aku tidak mengatakan kau BODOH. Kau sendiri yang mengakuinya tadi. "
DUK
Xiumin melempar kembali kotak susu itu, namun sayang Kai dapat menangkapnya. "Tadi kau bilang otakku pas-pasan. " Dilemparnya kembali kotak itu.
DUK
Kali ini Xiumin dapat menangkapnya. "Otak pas-pasan belum tentu bodoh!" melempar kembali.
DUK
Diterima dengan mulus oleh Kai, "Intonasi kata-katamu seperti berkata begitu!"
DUK
Dan kejadian saling melempar kotak susu malang itu terus berlanjut dengan saling berargumen. Luhan, Tao, dan Chanyeol hanya menatap malas Kai dan Xiumin. Yah, walaupun itu awalnya, pada akhirnya mereka menjadi pemandu sorak. Memanas-manasi perdebatan Kai dan Xiumin. Kai dan Xiumin menjadi tontonan menarik, melihat mereka ribut seperti itu membuat tiga sekawan lain ini membawa kesenangan tersendiri.
Cukup lama hal itu berlangsung sampai akhirnya Xiumin dan Kai menghentikan perdebatan karena merasa mulut mereka telah pegal. Hal itu menimbulkan desah kecewa bagi Chanyeol, Tao, dan Luhan sebagai pemandu sorak.
"Yah, aku belum sempat merekamnya! Kenapa kalian malah berhenti!" protes Tao yang baru saja mengambil handphonenya untuk merekam.
"Ayo, lanjutkan lagi, Xiu!" seru Luhan semangat.
"Kai! Kali ini kau jangan kalah dengan Xiumin-hyung!" chanyeol ikut memberi semangat pada Kai.
Sedangkan Xiumin dan Kai hanya mampus menghela napas melihat tingkah ketiga kawannya. "Bisakah kalian hentikan? Kalian malah membuatku tambah jengkel!" ketus Xiumin. Kai mengangguk menyetujui ucapan Xiumin.
Ketiga sekawan itu cemberut, "Ah, kalian tidak seruuuu~" sorak mereka bersamaan.
Kali ini Kai dan Xiumin menatap malas mereka. Sungguh sangat kompak mereka bertiga jika berurusan dengan perdebatan antara Kai dan Xiumin.
Xiumin mendesah, ia memasukkan kotak susu tadi ke kantung plastic. Suasana tiba-tiba menjadi hening, hanya semilir angin yang menerpa mereka. Makanan dan minuman yang tadinya berserakan, telah masuk ke dalam kantung plastic. Mereka terdiam. Luhan dan Kai menatap langit biru, Tao dan xiumin memainkan ponsel mereka dan Chanyeol…
BUK
Suara benda jatuh mengusik aktivitas empat sekawan lainnya. Mereka tersentak, lantas mencari sumber suara. Dahi mereka berkerut kala melihat tubuh Chanyeol yang tertidur di lantai dengan posisi telentang.
Kai yang berada di samping Chanyeol menepuk-nepuk pipi Chanyeol, memeriksa apakah ia tertidur atau hanya pura-pura.
"Dia tidur?" Tanya Luhan yang melihat tidak ada pergerakan dari Chanyeol.
Kai mengangguk, "Kurasa iya. " Jawabnya kemudian.
"Tapi aneh. "
Keempat sekawan itu menatap Tao, "Apanya?" Tanya Kai.
"Bukankah tadi Chanyeol terlihat tidak mengantuk? Lalu kenapa tiba-tiba tertidur, dan lagi dari pada tidur dia malah seperti pingsan. "
Sontak tiga sekawan itu menatap chanyeol. Mereka bertiga dan Tao menghampiri Chanyeol dan mengerubungi Chanyeol. "DIa tidak pingsan, hanya tertidur. " Ucap Xiumin setelah memeriksa Chanyeol.
"Sudahlah. Kalau dia tidur biarkan saja. Mungkin ia lelah. " Ucap Luhan dan kembali ketempatnya. Ketiga temannya mengangguk, "Kita tunggu ia terbangun saja. Istirahat masih lama. " Lanjutnya.
.
~0o0o0~
.
"ughh…"
Seorang remaja melenguh dalam ketidak sadarannya. Tubuhnya terbaring diatas batu besar yang dikelilingi oleh ilalang dan rumput-rumput liar yang tinggi.
Matahari bersinar cukup terang, sepertinya hari akan menjelang siang. remaja itu bergerak-gerak gelisah. Matanya pelahan terbuka, namun kembali tertutup karena sinar matahari yang tepat mengenai matanya. beberapa saat ia terpejam, kemudian perlahan kembali membuka matanya, mencoba membiasakan diri dengan cahaya. Ia mendudukkan dirinya.
Mengerjapkan mata beberapa kali. Mengucek matanya. mulutnya mengangga.
Itulah reaksi awal yang terjadi. Ia menatap sekeliling. Penuh dengan ilalang dan rumput liar yang tumbuh tinggi. "Ini… dimana?" itulah perkataan yang terucap.
Saat ini, remaja itu seperti kehilangan arah. Ia binggung dengan sekelilingnya, karena seingatnya tadi ia berada di atap sekolah bersama teman-temannya. Wajahnya berubah pucat. Ia sontak berdiri di atas batu besar tersebut. Menatap sekitar. Hanya ilalang dan rumput liar yang ia lihat, ia memutar tubuhnya ke kanan.
Terdapat sebuah jalan, jalan selebar lima meter. Ia mengerakkan tubuhnya dan berjalan ek jalan tersebut. Jalan itu di penuhi batu kerikil dan sedikit rumput-rumput kecil. Ia berlari sampai ke ujung jalan. Ketika sampai di ujung jalan, hal pertama yang ia lihat adalah hijau. Padang rumput yang hijau dengan bebatuan besar dan kecil tersebar disekitarnya.
Remaja itu melangkah kembali. Di ujung padang rumput tersebut, ia melihat sebuat pemukiman. Ia berlari dan terus berlari. Jarak yang ia tempuh cukup jauh, jika dihitung ia berlari selama setengah jam. Langklah kakinya terhenti. Ia telah sampai di pemukiman yang ia lihat tadi.
Yang pertama terlintas dalam pikirinnya adalah indah. Pemukiman tersebut sangat indah dan begitu menenangkan. Begitu banyak tumbuhan hijau. Bahkan pagar pembatas pemukiman tersebut dipenuhi rumput dan tumbuhan merambat. Dengan langkah pasti, remaja tersebut memasuki kawasan itu.
Matanya tidak lepas dari bangunan-bangunan yang ada. Begitu unik. Bangunan itu sangat sederhana dengan dipenuhi tanaman di halaman rumah dan bangunan. Sangat asri. jalan yang ia lalui beralaskan batu-batu hitam kecil yang tertata rapi. Selama 15 menit ia berjalan, ia hanya menemukan beberapa penghuni pemukiman. Mereka tersenyum ramah.
Matanya meneliti busana yang dikenakan penduduk. Sedikit heran, penduduk tersebut berpakaian layaknya orang-orang Romawi kuno. Sempat terpikir olehnya ia berada lokasi syuting. Namun ia menggeleng, orang-orang yang ia lihat seperti orang eropa.
"Maaf. "
Sebuah suara menyetakkan remaja itu dari pikirannya. Remaja itu membalikkan badannya, mencari asal suara. Ia cukup terkejut mendapati seorang pemuda yang lebih pendek darinya berdiri tepat dihadapannya. Pemuda itu tersenyum, membuat remaja itu ikut tersenyum.
"Apa kau pendatang?" tanya pemuda tadi masih dengan senyumnya.
Remaja itu mengangguk kaku. Senyum pemuda itu membuatnya sedikit grogi.
Pemuda itu tersenyum lebar, "Darimana? Apa kau baru saja tiba?" tanyanya lagi dengan nada yang antusias…
Sang remaja terdiam sesaat, kemudian membuka mulutnya, "Ko-Korea Selatan?" jawabnya entah kenapa menjadi tidak yakin akan jawabannya sendiri. Seakan ia meragukan dirinya dari Korea.
Pemuda itu terdiam mendengar jawaban sang remaja. Senyumnya menghilang sempurna. Mata pemuda itu menelusuri penampilan sang remaja. Setelah puas meneliti, ia menatap sang remaja dan memasang senyum kembali, namun bukan senyum yang sama dengan tadi. "Dimana itu?"
Sang remaja menatapa binggung, "Kau tidak tahu?" tanyanya penuh keheranan.
Sang pemuda mengangguk, "Apa jauh?" tanyanya lagi.
Sang remaja mengalihkan pandangannya ke langit biru, berpikir. Cukup lama berpikir, ia mendapat sebuah pemikiran berdasarkan pertanyaan sang pemuda. Ia tidak di negaranya. Ia terdampar!
Raut wajah remaja itu berubah pucat. "Dimana ini?" tanya remaja itu menatap sang pemuda penuh kecemasan. Tangannya mengguncang bahu sang pemuda tidak sabar, membuat sang pemuda meringgis.
"Le-pas…" sang pemuda melepaskan cengkraman sang remaja.
"Ma-maaf." Sesal remaja itu begitu melihat sang pemuda meringgis.
"Tak apa. Hal ini biasa terjadi jika ada pendatang baru. " Ujar sang pemuda disela-sela ringgisannya. "Saat ini kau berada di East Village. "
Kening remaja itu mengerut, "East Village? "
"Ya. Desa ini bernama East Village. Ah, sepertinya kau memang baru tiba ya?"
"Emm. . yah… sepertinya…" ragu sang remaja.
Sang pemuda menjulurkan tangannya, "Bian Bai Xian. " Ucapnya dengan senyum manis.
Sang remaja melonggo, "Ha?" respon sang remaja tidak mengerti. Matanya menatap ke tangan sang pemuda kemudian ke wajah sang pemuda.
Sang pemuda terkekeh. Ia meraih tangan kanan remaja itu dan menjabatnya, "Namaku. Namamu?"
Sang remaja membulatkan bibirnya dan mengangguk mengerti. "Aku-" remaja itu tidak melanjutkan ucapannya dan membuat snag pemuda menatap penuh tanya.
"Emm… aku… namaku… Park Chan Yeol?" ucap sang remaja dengan suara cukup pelan, namun telinga Bai Xian mampu mendengarnya.
Bai Xian melepaskan jabatan tangannya, "Chan Yeol?" ulang Bai Xian. Remaja bernama Chan Yeol itu megangguk kaku, sepertinya remaja itu tidak yakin dnegan namanya sendiri, entahlah. "Baiklah, aku panggil kau Yeollie!" seru Bai Xian dengan senyum lebar.
Pemuda yang dipanggil Yeollie hanya terdiam.
"Kau boleh memanggilku Bian, BaiBai, Baekkie, atau Xian. Sesukamu saja, oke!?"
.
~0o0o0~
.
"Jadi ini dimana, Bai Xian?" tanya Chanyeol pada Bai Xian.
Saat ini mereka berada di sebuah kedai yang cukup unik. Bagunan kedai itu berbentuk jamur, dimana semua yang terdapat dalam kedai terbuat dari kayu jati. Peralatan kedai tersebut hampir berbentuk jamur, dari mulai gelas, piring, sampai mangkuk.
Mata Chanyeol menatap sekeliling kedai tersebut. 'unik' itulah yang terlintas di pikiran Chanyeol. Kedai tersebut tetata rapi, membuat siapapun yang berkunjung tak akan bosan.
"Ehm… sebelumnya apa kau pernah kemari?"
Pertanyaan Bai Xian membuyarkan pikiran Chanyeol. Chanyeol menatap Bai Xian, "Ya?"
Bai Xian menghela napa, "Kau pernah kemari sebelumnya?" tanyanya lagi.
Chanyeol menggeleng, "Baru kali ini dan aku benar-benar binggung, kenapa aku bisa berada disini. Seingatku tadi aku sedang berkumpul bersama teman-temanku di atap gedung sekolah. " Jelas chanyeol.
Bai Xian mengangguk, "Aku mengerti. Satu pertanyaan untukmu, apa kau merasakan kantuk saat berkumpul bersama teman-temanmu?"
Chanyeol terdiam, ia berpikir. Seingatnya, ketika di atap gedung sekolah, ia tidak merasakan kantuk. "Tidak. " Jawab Chanyeol pasti.
Bai Xian menatap aneh pada Chanyeol, "Tidak?Lalu bagaimana kau bisa kemari?"
Kali ini dahi Chanyeol berkerut, "Hei!Mana aku tahu!" bentak chanyeol, "Yang aku ingat, aku tiba-tiba merasakan lemas dan kesadaranku hilang. Begitu aku membuka mata, aku berada di tempat ini!"
Bai Xian menatap Chanyeol, matanya meneliti Chanyeol dari rambut sampai tangan Chanyeol yang berada di meja. Cukup lama ia meneliti, sampai akhirnya matanya terpaku pada pergelangan tangan Chanyeol. "Boleh aku lihat gelangmu?" izin Bai Xian.
Mulut Chanyeol sedikit terbuka, "Gelang? Aku tidak memakai gelang. " Ucap Chanyeol.
Tidak memperdulikan ucapan Chanyeol, Bai Xian meraih pergelangan tnagan kanan Chanyeol. Tangan kanannya meraih sebuah gelang dan melepasnya dari tnagan Chanyeol. "Ini." Bai Xian menunjukkan gelang yang ia maksud.
Chanyeol menatap tidak percaya, "Aku. . aku tidak pernah mengenakan gelang, bahkan aku tidak mengenali gelang itu."
Bai Xian meneliti gelang tersebut. setelah puas, ia meraih sesuatu di saku baju kanan bawahnya. Bai Xian menunjukkan sebuah gelang, gelang yang sama dengan yang dikenakan Chanyeol. Namun gelang milik Bai Xian memiliki bandul berwarna hijau, sedangkan Chanyeol hitam.
"Gelang yang kau kenakan sama dengan punyaku. Krystal-ku hijau, sedangkan kau hitam. "
"Bagaimana bisa?" tanya Chanyeol. Pikiran seakan kosong, ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi.
"Apa kau pernah mengalami kejadian aneh?"
Chanyeol terdiam, mengingat-ingat apakah ada kejadian aneh yang ia alami. Tidak begitu lama, mata Chanyeol membulat. "Pernah!" pekik Chanyeol, "Aku… tapi aku tidak yakin, karena kupikir aku bermimpi."
"Mimpi?"
Chanyeol mengangguk, "Seperti mimpi… mungkin. Saat itu aku bersama teman-temanku menemukan sebuah batu seperti meteorit. Batu yang kami temukan tiba-tiba retak dan mengeluarkan cahaya, setelah itu kami tak sadarkan diri dan-"
"Tunggu! Tunggu! " Bai Xian memotong penjelasan Chanyeol, "Seperti mimpi? Apa kau pernah bermimpi sebelumnya?"
Chanyeol menatap Bai Xian, "Belum. Selama hidupku, aku tidak pernah bermimpi. Baru beberapa waktu lalu aku merasakan mimpi itu seperti apa. " Jelas Chanyeol.
Bai Xian kembali memasangkan gelang Chanyeol, "Kasusmu sedikit berbeda denganku. "Ucapnya pelan, sehingga Chanyeol tidak mendengarnya. "Nah!"Bai Xian menepuk gelang yang sudah terpasang di lengan Chanyeol. "Aku harap saat aku memberitahukan ini dimana, kau tidak terkejut. "
"Tergantung. Kalau tempat ini mampu membuatku terkejut, aku akan terkejut. "
Bai xian menghela napas, ia mulai membuka bibirnya untuk berkata…
DUGHH
"HYAAAA!"
Chanyeol dan Bai Xian tersentak. Belum sempat Bai Xian berucap, suara gaduh dari luar kedai mengalihkan perhatian mereka. Chanyeol dan Bai Xian menatap ke luar jendela. Kedai cukup sepi sehingga mereka dapat melihat apa yang terjadi tanpa terhalang.
Chanyeol menatap penuh pada pergerakan di luar. Suara gaduh tersebut diiringi oleh suara teriakan. Mata Chanyeol membola kala melihat kaca kedai pecah. Kaca itu pecah karena ada seseorang yang terlempar.
Tubuh Chanyeol tiba-tiba menegang. Sekarang matanya melihat secara langsung. Di luar kedai, begitu banyak pasukan berkuda, memporak-porandakan pemukiman. Bahkan Chanyeol tercekat kala melihat seorang berkuda hitam menebas kepala anak kecil begitu saja.
Tanpa sadar, Chanyeol memekik dengan suara cukup keras. Setelah pemandangan anak kecil yang ditebas, Chanyeol melihat pasukan berkuda itu menerobos memasuki kedai. Salah seorang pasukan itu melemparkan sebuah belati, belati tersebut mengores pipi kanan Chanyeol cukup panjang. Darah mengalir di pipi Chanyeol cukup banyak.
Tubuh Chanyeol kaku. Tubuhnya bergetar. Bibirnya terkatup rapat. Tangannya melemas. Dan entah apa yang terjadi, tubuhnya ditarik oleh seseorang. Pikiran Chanyeol kosong, sehingga ia mengikuti orang yang menariknya ke luar kedai dari pintu belakang.
Dalam pelariannya Chanyeol sesekali menengok kebelakang, melihat apa yang terjadi. entah berapa lama ia berlari, ia tidak tahu. Yang ia lihat sekarang, pemukiman itu terbakar…
Langkah chanyeol terhenti seketika, membuat sang penarik ikut berhenti.
"Jangan Berhenti!" seru orang yang menarik Chanyeol. Orang itu menarik tangan Chanyeol, bermaksud membawanya lari kembali. Namun Chanyeol masih terdiam, menatap pemukiman yang tadinya hijau, kini berubah menjadi merah karena kobaran api.
"LARI!"
Orang itu menarik-narik Chanyeol. Chanyeol masih terpaku, ia menunduk sesaat. Chanyeol menatap pada Bai Xian, orang yang menariknya. "Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol lemah.
Bai Xian melepaskan genggaman tangannya, "Akan kujelaskan nanti, sekarang yang harus kita lakukan adalah berlari dan pergi ke tempat aman. "Bai Xian mengulurkan tangannya.
Chanyeol menatap uluran tangan Bai Xian. "Aku tahu tempat yang aman. " Ucap Bai Xian meyakinkan. Dengan ragu Chanyeol meraih tangan Bai Xian. Bai Xian tersenyum dan kembali melanjutkan pelarian mereka.
.
~0o0o0~
.
"Bagaimana? Apa Chanyeol sudah bangun?" tanya Luhan cemas.
Saat ini Tao, Kai, Xiumin, dan Luhan berada di UKS. Setengah jam berlalu setelah Chanyeol 'tertidur', Chanyeol tidak bangun meski mereka telah membangunkan Chanyeol dengan berbagai cara. Mereka memutuskan membawa Chanyeol ke UKS kemudian, namun 15 menit berlalu Chanyeol masih tak sadarkan diri.
"Aneh. Kita bahkan sudah menyiramnya dengan air dan mencabut bulu kakinya. " Kai menggeleng heran. Tangannya kembali mencabuti bulu kaki Chanyeol.
"Chanyeol seperti koma," Ujar Xiumin membuat penghuni UKS menatap pada Xiumin. "Tidak menunjukkan pergerakan apapun. "
"Apa sebelumnya Chanyeol pernah seperti ini?" tanya Tao pada Kai yang masih asik mencabuti bulu kaki Chanyeol. Dalam kegiatannya Kai menggeleng.
Mereka bertiga menghela napas serempak. Mata mereka menatap chanyeol yang tertidur. Tidak ada kedamaian dalam tidurnya, ekspresi wajah Chanyeol kaku seperti robot. Mereka berempat duduk mengelilingi Chanyeol, dimana Kai dan Luhan duduk bersebalahan di smaping ranjang sebelah kanan, sedangkan Xiumin dan Tao di sebrang mereka, sebelah kiri.
Tao memperhatikan wajah Chanyeol. Awalnya Tao mereasa biasa saja, tidak ada apapun di wajah Chanyeol. Namun Tao menatap tidak yakin kemudian, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia melihat sesuatu yang mengejutkan dan aneh pada wajah chanyeol. Tao mengulurkan tangannya, mencoba meraih sesuatu yang aneh itu.
Telunjuk Tao mengusap pipi kanan Chanyeol. Matanya terbelalak kala merasakan cairan kental tersapu oleh telunjuknya. Matanya kini ia fokuskan pada pipi Chanyeol. Telunjuknya kembali mengusap cairan merah tersebut. sebuah luka gores cukup panjang terlihat. Luka yang masih baru.
Tao menatap pada Luhan yang berada di sebrangnya, "Luhan Ge. "Panggil Tao dengan suara parau.
Luhan menatap penuh tanya. Tao menunjukkan telunjuknya yang berdarah. Mata Luhan membola, "Tao! Telunjukmu terluka. " Kaget Luhan.
Kai menghentikan kegiatan mencabut bulu Chanyeol dan menatap Tao, begitupula Xiumin. Mereka melihat telunjuk Tao yang berdarah. "Jarimu kenapa?" Tanya Xiumin.
"Bukan darahku," jawab Tao. Telunjuk Tao menunjuk pada pipi Chanyeol, "Darah Chanyeol Hyung. " Ucap Tao.
Luhan, Xiumin, dan Kai menatap pipi Chanyeol. Mata mereka menatap heran, "Sepertinya tidak ada luka di pipi Chanyeol tadi. " Heran Luhan.
"Tadi aku melihat tiba-tiba luka itu ada. " Jawab Tao.
"Tiba-tiba?"tanya Kai.
Tao mengangguk, "Lukanya masih baru…"
"Aneh. Kau tidak melukainya kan, Tao?" Xiumin berprasangka. Tao menggeleng.
Luhan terdiam. Tangannya kanannya meraba pergelangan tangan kirinya. Meraba luka di pergelangan tangan kirinya yang belum sembuh total. Sebuah dugaan melintasi pikiranya, namun ia tidak yakin jika ia mengatakannya pada teman-temannya. Luhan mengigit bibir bawahnya.
Xiumin melihat sikap Luhan yang aneh angkat bicara, "Ada yang ingin kau katakan, Luhan?" tanya Xiumin.
Sontak Luhan mentap Xiumin. Ia terdiam sesaat menimang-nimang untuk dikatakan atau tidak. Ia menutup matanya sesaat dan membulatkan tekad, "Aku harap kalian mempercayai apa yang akan kukatakan. " Harap Luhan.
.
~0o0o0~
.
Tubuh Chanyeol terpaku. Ia tidak tahu harus berkata apa. Antara percaya dan tidak. Chanyeol mengusap wajahnya kasar, lalu menghembuskan napas kasar.
"Ternyata terkejut. " Ujar Bai Xian begitu melihat reaksi Chanyeol.
Bai Xian mengusap pipi kanan Chanyeol yang terluka, "Luka ini," ibu jari Bai Xian mengusap-usap luka tersebut sedikit kasar. "Kau tidak merasakan perih sedikitpun, kan?" tebak Bai Xian.
Chanyeol menatap Bai Xian dan mengangguk. "Seperti tidak terluka. " Ucapnya.
Bai Xian tersenyum, "Karena tempat kita berada sekarang adalah Dream World. Luka separah apapun tidak akan kau rasakan. "
"Aku pasti bermimpi. " Lirih Chanyeol menundukkan wajahnya.
"Ya, ini adalah mimpi…" lirih Bai Xian.
Chanyeol mengangkat wajahnya dan menatap Bai Xian. Bai Xian tersenyum, namun sebuah senyum sendu. Sorot mata Bai Xian pun kosong. Entah sadar atau tidak, tangan Chanyeol mengenggam tangan Bai Xian yang berada di pipinya. Melihat Bai Xian, ia merasakan sebuah perasaan aneh.
Jari-jari Bai Xian membalas genggaman Chanyeol, "Aku tidak tahu kau bisa kesini dengan cara apa. Seperti yang ku katakan sebelumnya, kita berbeda 'sedikit'. "
"Bagaimana caranya agar aku kembali?" tanya Chanyeol, "Tidak mungkinkan aku harus terbangun sendiri?" tambahnya.
Bai Xian terkekeh, "Kalaupun aku tahu, sudah dejak dulu aku lakukan. "
Tubuh Chanyeol melemas. Kalimat Bai Xian cukup untuk menjelaskan bahwa ia tidak tahu bagaimana caranya kembali.
.
~0o0o0~
.
Chanyeol menatap air terjun yang berada cukup jauh dari kamarnya, ah, tepatnya kamar Bai Xian. Chanyeol menatap air terjun itu penuh kekaguman. Air terjun itu tidak seperti air terjun pada umumnya. Terdapat lengkungan warna-warni di atas air terjun tersebut, yah, mungkin hal itu terjadi pada beberapa air terjun di dunia. Namun satu hal yang membuat chanyeol kagum, air terjun yang terjatuh sebagian kecilnya menjadi gelembung dan tetesan air, tetesan air dan gelembung tersebut berterbangan meluncuri pelangi. Menari-nari.
Air dan gelembung tersebut seakan bermain perosotan, namun seterlah meluncuri pelangi tersebut, air itu menguap menjadi pelangi baru yang kecil. Sedangkan gelembung itu bertebangan, bahkan sampai pada jendela kamar yang di tempati Chanyeol. Chanyeol memainkan gelembung-gelembung tersebut. kenyal, gelembung itu tidak mudah pecah.
"Gelembung harapan. "
Sebuah suara mengintrupsi kegiatan chanyeol. Chanyeol menagalihkan pandangannya pada seseorang yang masuk ke kamar Bai Xian. Mata Chanyeol merefleksikan seorang pemuda yang tengah tersenyum. Pemuda itu memiliki dimple di sebelah kanannya. Perlahan, pemuda itu menghampiri Chanyeol yang duduk di pinggiran jendela.
"Gelembung itu adalah gelembung yang berasal dari air terjun. Air terjun itu merupakan sebuah situs yang diyakini dapat menampung harapan-harapan. Harapan yang akan terkabul suatu saat nanti. "
Chanyeol memperhatikan penjelasan sang pemuda yang kini memainkan gelembung dari air terjun. Bibir pemuda itu kini menunjukkan sebuah senyum, namun berbeda dnegan senyum tadi.
"Sayang, semua itu hanya sebuah bualan. Bualan yang mampu mensugesti penduduk, sehingga para penduduk mengantungkan harapan mereka pada air terjun itu. Sangat sulit meyakinkan mereka, budaya yang melekat terlalu kental. "
Pemuda itu menatap Chanyeol, ujung telenjuk kanan pemuda itu terdapat sebuah gelembung cukup besar. Chanyeol terpana menatap gelembung itu. Gelumbung itu menunjukkan gambaran Chanyeol yang tengah tertawa bahagia bersama teman-temannya.
"Kau melihat sesuatu?" tanya pemuda itu begitu melihat perubahan pada mimic Chanyeol.
Chanyeol mengangguk, "Bagaimana bisa?" takjubnya.
Pemuda itu memcahkan gelembung tadi, gelembung itu tidak pecah, malah terbagi menjadi lima gelembung kecil, "Lima ya…" bisik pemuda itu membuat Chanyeol menantap penuh tanya. "Lima gelembung… apa yang kau lihat?" tanya pemuda itu tanpa menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Wajah bahagia teman-temanku dan aku. " Jawab Chanyeol menatap satu per satu gelembung kecil itu.
Pemuda itu meraih satu gelembung kecil. "Gelembung ini… mampu menunjukkan apa yang sedang dipikirkan oleh orang yang menyentuhnya pertama kali. Namun oranglaintidak akan dapat melihat gambaran itu, hanya orang yang menyentuhnya yang mampu melihat. Karena itu, bualan tentang harapan yang terkabul menjadi sebuah kepercayaan. "Jelasnya, "Kau memikirkan teman-temanmu?" kembali bertanya setelah melepas gelumbung kecil tadi.
Chanyeol tersenyum, "Ya, aku membayangkan bagaimana reaksi mereka kala mengetahui aku 'tidak ada'. "
Pemuda itu mendudukkan diri di kursi sebelah Chanyeol. "Kau sangat menyayangi mereka ya?Kau lebih memikirkan temanmu daripada keluarga?"Pemuda itu menatap Chanyeol heran.
Chanyeol tersenyum, kali ini senyum lebar. "Karena aku sangat yakin, keluargaku akan sangat sedih. Jadi aku hanya memikirkan reaksi teman-temanku, karena bagaimanapun merekalah orang-orang pertama yang mendapatiku 'hilang'. "
Pemuda itu tertegun, "Kenapa kau bisa tersenyum seperti itu? Apa kau tidak sedih?"
"Sedih?" Chanyeol berpikir sebentar, "Hmm… yah, aku memang sedih. Tapi… entah kenapa ada perasaan senang menghampiriku. Aku merasa aku tidak akan kehilangan mereka. " Jelas Chanyeol dengan nada yang terdengar santai.
Pemuda itu semakin tertegun, "Apa kau akan tetap tersenyum selebar itu kala apa yang kau rasakan suatu saat berubah?Menjadi kebalikannya. "
Senyum Chanyeol langsung hilang. "Itu terjadi 'nanti', kan? 'nanti' yang berarti bukan saat ini. mungkin kau akan melihatnya kala hal itu terjadi, dan aku berharap tidak terjadi. aku tidak bisa berkata saat ini, karena saat ini adalah saat ini. bukan esok atau lusa, karena hari ini akan menjadi kemarin. Dan itu berarti… ketika kebalikan itu datang, kejadian itu akan terlupakan oleh waktu. "
Pemuda itu terdiam. Jawaban Chanyeol berbada dari orang yang pernah ia temui. "Sepertinya kau tipe yang menikmati hidup saat ini, dan akan menerima apapun yang akan terjadi dikemudian hari. "
Chanyeol kembali tersenyum, kali ini tipis. "Ya, kau benar! Masa yang akan datang mau tidak mau akan kuhadapi walau perih. Bukankah kita tidak bisa menghindar? So, akan kuterima dan menganggapnya suatu hal yang harus kujadikan pelajaran hidup. "Ucap Chanyeol tenang. "Kita menjalani hari ini, namun yang harus kita lakukan adalah bertahan untuk hari esok."
Pemuda itu tersenyum mendengar jawaban Chanyeol. Ia menjulurkan tangan kanannya, "Lay." Pemuda itu mengenalkan diri.
Chanyeol menjabat tangan pemuda bernama Lay itu dengan senyum lebarnya, "Chanyeol."
Kedua tangan mereka pun terlepas. Mereka terdiam cukup lama menikmati suasan pagi. Chanyeol mentap air terjun itu kembali. Sudah satu minggu Chanyeol berada di dunia lain ini. chanyeol selalu berkata bahwa dunia dimana ia berada adalah dunia lain. ia belum mau mengakui sebagai Dream World, karena jikalau mimpi seharusnya ia sudah bangun.
Selama seminggu, chanyeol mulai berinteraksi dengan penduduk sekitar. Mencoba mengakrabkan diri dengan bantuan Bai Xian. Selama tinggal di kediaman Bai Xian, Chanyeol tidak melakukan banyak hal. Hanya melihat-lihat desa saja.
Desa tempat Bai Xian tidak berbeda dengan desa saat pertama kali Chanyeol datang. Bedanya, desa ini dikelilingi air. Bergitu banya air di desa ini. mulai dari sungai yang mengalir di setiap rumah penduduk, air terjun yang berjumlah Sembilan, danau yang tidak jauh dapi pemukiman, dan yang membuat Chanyeol nyaman di desa ini adalah taman air.
Taman air yang berada di pusat desa. Taman air itu sungguh menakjubkan! Air menari-nari di sepanjang taman yang berbentuk bulat. Air tersebut menari dnegan indahnya, membentuk berbagai macam pola, bahkan sampai menirukan manusia yang menyentuhnya. Tanaman yang berada di taman air pun berada di dalam air. Air itu membentuk sebuah bola dan di dalam ait tersebut terdapat tanaman kecil. Tidak hanya itu, bola-bola air itu melayang! Bahkan mampu berpindah tempat.
"Lay," panggil chanyeol. Lay mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol, "Bai Xian kemana?" tanyanya.
Lay tiba-tiba menepuk dahinya, "Ah! Aku lupa. Bai Xian bilang, ia akan pulang malam. Karena itu aku berada disini."
Chanyeol mengangguk. "Hm. Apa kau dan Bai Xian telah lama saling kenal?" tanya Chanyeol mencoba membuka pembicaraan.
Lay mengangguk, "cukup lama."
"Hooo… tapi kenapa aku baru melihatmu sekarang? Selama seminggu disini, aku tidak melihatmu." Ujarnya penasaran.
"Aku mendapat tugas mengawasi perbatasan." Jawab Lay.
Chanyeol mengangguk, "Ah, jadi berapa lama kau mengenal Bai Xian?" tanya Chanyeol melanjutkan pertanyaan sebelumnya yang belum dijawab Lay.
Lay tersenyum misterius, membuat chanyeol merasa aneh. Entah kenapa ia akan menyesali pertanyaannya tadi. Tapi… daripada tidak ada obrolan dan hanya akan membuat mereka terdiam, lebih baik ia bertanya untuk memulai pembicaraan, kan?
Chanyeol menanti, Lay masih tersenyum misterius. Sampai Lam mulai membuka bibirny, chanyeol menajamkan pendengarannya.
"60 tahun. "
Chanyeol mengerjap, "Eh?"
"60 tahun aku mengenal Bai Xian, Chanyeol."
Dan chanyeol sungguh menyesal menanyakan hal itu!
.
~0o0o0~
.
Ruangan itu sunyi. Berbagai pikiran menghampiri tiga remaja itu. Sebuah penjelasan salah satu temannya membuat mereka terdiam. Selama 15 menit mereka mencerna perkataan temannya.
"Hal itu benar-benar terjadi."
Luhan, orang yang sukses membuat tiga temannya terdiam mulai membuka suara. "Awalnya aku tidak percaya, namun begitu aku merasakan sakit pada tanganku, aku mulai mempercayainya. "Luhan menunjukkan luka di tangannya yang telah diperban.
Ketiga temannya menatap tangan Luhan penuh. "Saat kejadian itu terjadi, aku tidak merasakan apapun. Luka yang kudapat seperti oksigen. Ada namun tidak terlihat. Lukaku ini kebalikannya, ada namun tidak kurasakan." Luhan mengusap luka itu.
Kai menatap Luhan dengan tatapan yang seakan berkata 'pasti sakit. '
Luhan menatap Kai, membuat Kai terkejut. "Saat aku terbangun, aku merasakan sakit dan perih pada lenganku. Aku bahkan meneteskan air mata."
"Sesakit itukah?" cemas Kai.
Luhan mengangguk, "Sangat sakit karena luka ini berasal dari sebuah pedang yang sangat tajam." Jelas Luhan.
Ketiga teman Luhan berjengit. "Pedang? Apa… apa yang terjadi setelah itu?" tanya Xiumin dengan nada getar.
Mata Luhan menatap Chanyeol, tepatnya luka Chanyeol. "Gelap… dan tiba-tiba aku terbangun dengan bersimbah darah dari lenganku."
Tao meraih tangan Luhan, "Apa ini berhubungan dengan kejadian di rumah Kai?" tanyanya menebak.
Kai yang namanya disebut menatap Tao, "Kejadian di rumahku?"
Tao beralih menatap Kai, "Bukankah saat itu kita mengalami kejadian aneh?"
Kai mengangguk lemah, "Aku benar-benar berharap itu mimpi." Harap Kai.
Luhan yang mendengar itu menanggapi tanpa melihat Kai, "Itu memang mimpi."
"Kalau mimpi kenapa rasanya sepertinya?" Xiumin menimpali.
Luhan kali ini menatap Xiumin, "Kalian akan tahu jawabannya… sesaat lagi." Ucap Luhan dengan suara yang dikecilkan pada dua kata terakhir.
Setelah Luhan berkata, terdengan sebuah benda berbunyi. Kai, Xiumin, dan Tao saling melirik. "Bunyi apa itu?" Xiumin mencari-cari asal suara.
CRING
Kembali bunyi itu terdengar.
Tanpa ketiganya sadari, Luhan mengigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangan kuat. Tao mencari-cari asal suara, Kai menajamkan telinganya, dan Xiumin menebak-nebak bunyi tersebut.
CRING
Sampai bunyi ketiga, Luhan berbisik…
"Saatnya telah tiba. "
Dan secara tiba-tiba tubuh Kai, Xiumin, dan Tao terbaring di lantai. Sedangkan Luhan, ia menatap teman-temannya yang tidak sadarkan diri. Senyum miris tersungging…
"Kuharap kita bisa bertemu disana. "
Dengan kalimat itu, Luhan pun menyusul teman-temannya yang tidak sadarkan diri.
.
~0o0o0~
.
"Apa Kau gila!?"
"Tidak. Kau yang Gila. "
"Kau yang gila!Mana ada dunia macam itu!?"
"Kenyataannya kau berada disini, tuan!"
"Oyeah? Lalu bisa kau jelaskan bagaiman aku bisa aku disini?"
"…"
"Tidak bisa, eh?"
"… Krystalmu. "
.
~0o0o0~
.
"Eh?"
"Nagaku. Namanya Draco. "
"Aku tidak menanyakan namanya! Singkirkan dia!"
"Tidak bisa. "
"APA? KAU GILA! Nagamu mau memanggangku!"
"…"
"OI! Tuan! Singkirkan Nagamu!"
"…"
"GYAAAAA! JANGAN BAKAR PANTATKU!"
.
~0o0o0~
.
"Dimana ini?"
"Berhenti menanyakannya!"
"Tapi-"
"Kau bertanya 30 kali! Dan sudah aku jawab semua! Otakmu rusak!"
"YA! Otakku baik-baik saja! Mulutmu bermasalah! Jawaban apa itu? Mana ada jawaban yang seperti itu. "
"Ada. Dan sudah kukatakan tadi. "
"He-he!Mau kemana? Tunggu aku! Jangan tinggalkan aku di tempat macam ini!"
"…"
"Tunggu, tuan!"
"…"
"GYAAAA! ULAAAARRR!"
.
~0o0o0~
.
"Kalian makhluk apa?"
"Ye?"
"Kalian berdua makhluk apa? Kenapa tidak bisa diam?"
"Tentu kami manusia, bocah!"
"Lalu, kenapa kau memiliki ekor dan telinga macam itu?"
"A-ah. . ini…"
"Kami terkena kutukan!"
"HE?"
"Kalau kau lewat hutan ini, kau akan terkena kutukan!"
"Be-benarkah?"
"HUM!"
"La-lalu aku harus kemana?"
"Ikut kami!"
"Tapi kalian…"
"Percaya pada kami. Kau mencari teman-temanmu, kan?"
"Eh?"
.
~0o0o0~
.
"Tak kusangka, kau datang sendiri. "
"…"
"Jangan menatapku seperti itu. Bocah sepertimu tidak sepatutnya bersikap seperti itu. "
"…"
"Nah, saatnya kau bertugas~"
"…"
.
~0o0o0~
.
"Kejam!"
"Baru seperti ini kau bilang kejam?"
"Lalu kata apa lagi yang pantas?"
"Oh, ayolah~ berapa lama kau berada disini? Apa yang kalu lihat barusan hanya sebagian kecil. "
"Sebagian kecil…"
"Ya. Masih banyak desa-desa yang jauh lebih menyedihkan. Desa kami bisa dikatakan cukup aman di daerah ini. "
"Cukup aman? Cukup aman bagaimana! Tidakkah kau lihat mayat-mayat itu!?"
"…"
"Dengan kejinya prajurit itu membantai mereka. "
"…"
"Apakah kalian tidak punya hati?"
"Bagi kami yang tinggal di daerah konflik, tentu menjadi pemandangan sehari-hari. Hati kami telah mengeras. Tidak ada waktu untuk sekedar memikirkan mereka yang telah tiada. Bagi kami, bertahan hidup adalah yang paling utama. "
"…"
"Kami akan bertahan untuk melangsungkan hidup kami. Kami akan bertahan agar ras kami tidak menghilang. Seorang wanita dan pria sudah cukup untuk mempertahankan keturunan kami. "
"…"
"Kami akan bertahan. Tidak peduli seribu ras kami akan menghilang. Yang terpenting adalah, jangan sampai ras kami punah. "
.
~0o0o0~
.
To Be Continue
.
~0o0o0~
.
Sebelumnya saya mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan.
Untuk Chapter tiga, saya tidak janji. Mulai saat ini sampai tahun depan saya akan sibuk, jadi kemungkinan fic ini akan sangat lama update. Saya tidak tahu bisa update kapan, bisa terjadi sampai tahun depan tidak update.
Bagi yang menanti fic ini, saya berterima kasih. Doakan saya tahun depan dapat selesai sesuai target dan saya bisa bernapas lega, sehingga saya bisa bebas melanjutkan fic saya^^
Tapi kalau ada waktu luang dan saya tidak sedang dalam mode 'malas', saya akan mencoba menyicilnya^^
Nah, terima kasih bagi anda yang telah meReview, Favorite, dan Alert fic saya.
Terimakasih pada Reviewer dan Reader^^
Sampai jumpa di Chap tiga (yang entah kapan bisa update^^a)~
_HyeFye_
