For anyone who regard my existence.

Thank you...


Warning: AU, Gender switch, OOC, typos, and almost plotless.


Fanfiction by Gimo Michiko


Present: I Miss Him


Happy Reading ^^

Junsu POV

Sepuluh tahun berlalu semenjak kepergiannya, kepergian orang yang spesial bagiku. Bagaimana kabarnya ya? Apakah ia cukup tertawa tiap harinya? Aku jadi begitu mencemaskannya. Chunie, kapan kau pulang? Aku begitu merindukanmu. Oh dan jangan bilang kalau kau lupa padaku, awas saja kujitak jidatmu biar makin lebar .

Kini umurku sudah dua puluh empat. Sudah bukan remaja lagi, seperti waktu kelas dua SMP dulu. Lihat appa dan ummaku, mereka juga bertambah usianya, namun aneh Yunppa dan Jaemma selalu terlihat awet muda. Tingkah mereka seperti anak SD yang setiap harinya selalu bertengkar mempeributkan hal yang tidak penting. Yunppa yang posesif dan Jaemma yang moodnya selalu berubah-rubah nggak jelas. Itulah keluarga Jung. Tetangga-tetangga kami sudah tidak heran apabila sebuah panci melayang dan memecahkan kaca jendela rumah kami. Kadang aku berpikir kalau ada kaca anti peluru, ada nggak ya kaca anti panci? Eh sepertinya ada anggota keluargaku yang belum aku sebut tadi. Siapa ya? Sebentar... biarkan dolpin ini berpikir... berpikir...berpikir... *dijitak author yang esmosyong*. Hehe mian... maklum loading lambat. Siapakah anggota keluarga yang aku maksudkan itu? Check it out!

"Noona...!" teriak seorang anak kecil.

'Bag... big... bug...!'

"Bangun oey...! Dasar bocah pemalas!" teriakku jengkel. Kupukul-pukul tubuhnya dengan boneka dolpin yang sudah menjadi senjata andalanku (?).

Anak kecil itu malah mengeliat-liat lalu menutupi dirinya dengan selimut. "Lima menit lagi...," sahutnya.

Kutatap adik semata wayangku dengan gemas. Kurenggangkan jari-jari tanganku, siap untuk rencana kedua apabila rencana pertama gagal.

"Minnie... kamu kok lucu banget sih! Jadi gemes...!" kataku sambil menggelitik tubuh mungil Changmin.

"Bwahahaha... noona! Peace... nyerah! Bwahahaha...!" tawa Changmin keras. Tubuhnya meliuk-liuk layaknya ombak di pantai.

"Cepetan mandi sana. Telat lho!" peringatku.

Changmin menguap lebar, mengucek-ngucek matanya dan mengaruk-ngaruk kepalanya. "Hoam... nyam... nyam... nyam..."

Aku yang melihat pemandangan yang begitu menyilaukan itu langsung menjewer kedua pipi adikku yang lucu ini. "Kya... lutuna! Minnie kamu jadi mini terus ya. Jangan tambah besar, ntar nggak gemesin lagi," protesku.

"A..a... sakit noona," ringgis Changmin.

Aku melepaskan tanganku, kulihat pipit Changmin memerah sedikit. Auw... pasti sakit ya? Salah sendiri jadi namja kok kyiopta banget .. "Noona turun dulu yak. Minnie mandinya yang cepet, jangan kayak Yunppa yang malah konser di kamar mandi. Ow ya... Kalau lebih dari lima belas menit, jatah sarapanmu bakal ngilang, arra?"

"Siap ahjumma!" kata Changmin langsung ngacir ke kamar mandi.

Aku mendengus kesal. Sial dikatain ahjumma! Dasar evil magnae berwajah angel. Aku menghela nafas lalu keluar dari kamar Changmin kemudian menuruni tangga menuju ruang tengah.

'Jleb!'

Eh apa itu? Aku melirik ke tembok. Mataku kontan membulat! Sebuah pisau menancap di tembok.

"Yunnie, I hate you!" teriak Jaemma lantang.

"Boo, I hate you too!" teriak Yunppa tak kalah lantang.

'Prang... dhuar... boom!'

Sepertinya terjadi perang antara YunJae yang sangat heboh. Eh tapi sepertinya ada yang sedikit berbeda dengan perang yang biasanya. Biasanya yang melayang itu panci, tapi sekarang kok pisau? Dengan terburu-buru aku berlari menuju medan tempur.

"Gara-gara Yunnie, pancinya habis! Aku jadi tidak bisa masak!" bentak Jaemma.

"Boo yang nglempar kok salahin orang lain!" elak Yunppa.

"Tak ada panci, pisau pun jadi!" Jaemma mengacung-acungkan pisaunya ke arah Yunppa.

Aku yang melihat film action langsung meng-cut adegan yang di luar skenario. "Umma! Appa! Hentikan kekonyolan ini!" teriakku geram.

Namun teriakanku tidak mempan. Mereka malah semakin sengit bertempurnya. Aku semakin cemas karena mereka menggunakan benda tajam bukan benda tumpul lagi.

"Noona kenapa wajahnya ngeri gitu? Kayak nenek lampir," tanya Changmin yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

"Yunppa dan Jaemma ngamuk," jawabku sekenanya.

Aku yang terlalu fokus dengan duo aktor yang sedang berakting, tidak menyadari Changmin yang tengah mendekati Jaemma.

"Umma... aku lapar," kata Changmin sambil menarik-narik celemek Jaemma.

"Jangan ganggu umma!" balas Jaemma sadis.

Changmin menatap Jaemma dengan tatapan puppy eyes, berharap Jaemma memperhatikannya. Namun gagal, jaemma lebih memilih meladeni Yunppa daripada dirinya yang tengah kelaparan. "Hikz... Huwe... Minnie LLLLAAPPPPARRR !" teriak Changmin dengan nada tenornya.

Rumah bergoncang sedikit. Aku, umma dan appa tersadar dari dunia masing-masing.

"HUUWWWEEE!" rengek Changmin semakin menjadi-jadi.

Aigo! Aku belum sempat memberitahu rahasia si magnae ini. Yah... Changmin ini magnae bertopeng. Kenapa bertopeng? Karena wajahnya kyiopta tapi aslinya evil berlidah tajam. Satu lagi... dia itu punya suara tenor yang super duper tinggi. Begini ini kalau si Changmin teriak, dunia berasa diguncang. Ups... ternyata ada lagi. Changmin itu rajanya makan, tapi aneh ia tidak pernah gendut. Aku saja harus bersusah payah diet. Ugh... envy mode on .!

"Akh... mian Minnie-ya... cup...cup...," bujuk Jaemma sambil mengelus-ngelus kepala Changmin.

Changmin tiba-tiba berhenti menangis.

"Anak manis," kata Jaemma senang.

"Umma itu gimana sih? Aku itu lapar! Maunya makanan bukan bujuk rayuan umma yang biasanya mempan sama appa!" bentak Changmin .

'Jleb... jleb... JLEB!'

Itulah yang dirasakan oleh Jaemma sekarang. Sudah aku bilang kalau Changmin itu berlidah tajam. Haha tahu rasa Jaemma.

"Minnie kalau ngomong sama umma yang sopan dong, kasihan tuh umma udah hampir nangis bombay," kata Yunppa sambil menatap mata Jaemma yang berkaca-kaca.

"Makanya masakin dong," rengek Changmin.

"Tapi Minnie... pancinya nggak ada, jadi umma nggak bisa masak. Salahin appa tuch!" Jaemma menunjuk si terdakwa, Yunppa.

Yunppa mulai menatap tajam ke arah Jaemma lagi. Ah... sepertinya bakal terjadi reka adegan lagi.

"Ting... tong..."

Bel rumah berbunyi.

"Biar aku yang membukakannya," tawarku sambil berjalan menuju pintu utama rumah kami.

Sementara itu Changmin mulai ngambek lagi. Yunppa dan Jaemma kelabakan menghibur Changmin yang tengah kerasukan setan busung lapar.

'Cklek'

"Annyeonghi gyeseyo," sapa seorang namja mungil yang sudah sangat kukenal.

"Annyeong...Kya! Kyuhyunie... kau makin kyiopta! Gemesin deh!" jeritku histeris dan lagi-lagi tanpa sadar aku mencubit pipinya.

"A...a... Changmin ada, Junsu-sshi?" tanya Kyuhyun pasrah dengan perlakuanku ini. Sepertinya Kyuhyun sudah terbiasa, hahaha.

"APPA... UMMA... NYEEEBELIIIIN !" terdengar suara tenor Changmin menggema.

"Tuh ada," jawabku enteng. "Minnie... Kyu datang nih!" panggilku.

Tiba-tiba Changmin nonggol dengan sebungkus roti dan susu. Wajahnya mencemberut, khas anak kecil yang sedang ngambek, lutunya adikku ini ^^

"Kajja Kyu," ajak Changmin sambil berjalan terus. Kyuhyun pun mengekor di belakang Changmin. Namun sebelum mereka semakin jauh, Kyuhyun berbalik lalu membungkuk. "Kami berangkat sekolah dulu Junsu-sshi," pamit Kyuhyun kemudian mengejar Changmin yang berjalan dengan langkah lebar.

"Josimhae!" kataku sambil melambai-lambaikan tangan. Akh... Minnie ternyata kau punya seorang sahabat sebaik Kyuhyun ^^

Setelah itu aku kembali mengecek keadaan Yunppa dan Jaemma.

"Minnie itu nurun sifat siapa sih? Kamu kan Boo?" tuduh Yunppa.

Jaemma mulai naik darah. "Nurun kamulah! Minnie kan anakmu BABO!"

Yah... lagi-lagi mereka bertengkar kembali. Aku segera mendekati mereka lalu menyita semua benda tajam, mulai dari pisau, garpu, keris (?). Setelah terkumpul langsung aku simpan ke tempat yang aman. Nah sekarang Jaemma dan Yunppa bisa bertengkar dengan sepuasnya, fufufufu XD.

End of Junsu POV

~ooooooooo~

Author POV

"Nyam... nyam... Srup..." Changmin mencomot roti lalu menyeruput susu yang tadi ia bawa. Ia dan Kyuhyun sedang duduk di bangku bus.

"Tumben belum sarapan Changmin-ah?" tanya Kyuhyun heran.

"Nggak ada panci, nyam...srup," jawab Changmin tetap melanjutkan kegiatan tercintanya.

"Panci?"

Changmin mengangguk. "Biasa, pancinya nggak ada, hilang semua buat tempur. Dasar ortu kekanak-kanakan."

Kyuhyun tertawa terpingkal-pingkal. "Bwahahahaha..."

"Lucu ya?" tanya Changmin yang rupanya telah selesai sarapan instannya.

"He'e... Bwahahaha!"

"Aku juga heran dengan noonaku yang selalu memujimu sebagai namja yang kyiopta dan real seratus persen berjiwa malaikat," kata Changmin keheranan.

"Benarkah?" takjub Kyuhyun.

"Kalau saja noonaku tahu yang sebenarnya, mungkin ia langsung illfell sama kamu Kyu, hahaha," ledek Changmin.

'Ctak!'

Kyuhyun menjitak kepala Changmin. "Jangan diberitahu, aku tak ingin kehilangan salah satu fansku," pinta Kyuhyun.

Changmin tertawa. "Hahaha, ne... ne... ne... dasar evil!"

"Sama-sama evil dilarang saling menghina, hahaha," tawa Kyuhyun.

Changmin dan Kyuhyun memang masih duduk di bangku kelas lima SD. Secara fisik, mereka memang terlihat layaknya teman-teman sepantarannya. Namun jangan dikira, mereka berdua memiliki IQ yang melambung tinggi, sehingga tanpa sadar mereka jauh lebih dewasa dari umur mereka sesungguhnya. Intinya, mereka kadang lebih ralitis ketimbang pemikiran orang dewasa.

End of Author's POV

~ooooooooo~

Junsu's POV

'Cklek'

Aku membuka sebuah pintu lalu masuk ke ruangan yang sudah tidak asing bagiku. Sebuah benda besar hitam tetap kokoh berdiri di tengah ruangan. Aku mendekatinya lalu berkata, "Apa kabar piano?" Aku tersenyum lalu mengelus-elus permukaan piano. "Apa kau tidak rindu jari-jari tangannya yang menekan tuts-tutsmu?" tanyaku.

Tidak ada sahutan...

"Kalau aku..." aku menghela nafas panjang, "aku sungguh merindukannya. Bagaimana wajahnya sekarang ya? Apa jidatnya telah mengkerut dan aku tidak bisa mengenalinya lagi? Aigo... jangan sampai terjadi!" raungku sambil menjambak-jambak rambutku.

"Tok...Tok...Tok..."

Pintu terbuka, muncul seorang yeoja yang merupakan siswa di sekolah ini.

"Junsu-sshi, ekstrakulikuler theater kapan mulai?" tanya yeoja tersebut.

Aku tersentak kaget lalu bertingkah senormal mungkin yang tentunya gagal total. "Aum.. hm... Baiklah, kita mulai sekarang," jawabku kelabakan.

Yah... sekarang aku bekerja sebagai guru seni, khususnya di bidang theater. Kenapa aku memilih bekerja sekolah ini? SMP dimana aku pernah menuntut ilmu? Hm... mungkin karena aku tidak ingin kehilangan semua kenangan itu. Kenangan dimana ada 'diriku' dan 'dirinya'.

~ooooooooo~

"Fyuh... capainya," keluhku. Aku berbaring di lantai atap sekolah dengan atap biru cerah menaunggiku. Inikah yang rasanya lelah bekerja? Memang senang karena aku bisa dapat penghasilan, namun semakin usia bertambah, semakin kusadari bukan uang yang aku butuhkan, melainkan pasangan hidup. Orang dimana aku bisa berbagi sedikit kepenatan hidup. Kumohon, Tuhan tolong sampaikan perasaan ini padanya yang jauh di sana, aku sungguh merindukannya.

Perlahan aku menutupkan kelopak mataku. Dapat kurasakan angin semilir menerpa sekujur tubuhku.

'Dolpinie... I miss you...'

Aku langsung membuka kelopak mataku dan berdiri. Kepalaku kutolehkan ke segala penjuru sudut. Tidak ada siapa pun kecuali diriku sendiri. Tapi suer! Tadi aku mendengar suaranya. Suara yang begitu aku rindukan.

"Chunie-ya, I miss you too" salamku lewat angin yang berhembus.

'Tes!'

Cairan bening mengalir melewati pipiku. Aku menangis! Yah... tangis kerinduan akan pujaan hati. Kubiarkan diriku mengekspresikan isi hatiku, melampiaskan segala kepiluan hati ini.

~ooooooooo~

'Drrt...drrt...drrt...'

Ternyata ada SMS.

From : BooJaeLophYunnie

To : Dolpinie

Subject : nggak pake subject2~an

Suie-ya nglembur ya? Kok belum pulang? Ingat... bentar lagi makan malam lho ^^

Aku tersenyum membaca SMS dari umma tercintaku ini. Ketika aku hendak membalasnya, tiba-tiba sebuah SMS masuk. Kuurungkan niat membalas sms Jaemma untuk melihat SMS yang masuk.

From : YunnieLophBooJae

To : Dolpinie

Subject : Subject nggak penting

Suie-ya... Appa uda mborong panci satu toko. Hohohoho ^^

Eh ngomong-ngomong pisaunya mana ya? Ummamu sensinya kumat, mau masak tapi nggak da pisau. Suie-ya umpetin dimana hayo =="

Aku tertawa membaca SMS dari soulmatenya ummaku ini. Akh ortuku memang ortu terajib di dunia! Dengan cepat, aku membalas sms mereka bersamaan.

From : Dolpinie

To : BooJaeLophYunnie, YunnieLophBooJae

Subject : Apa artinya sebuah subject?

Umma... sebentar lagi aku pulang kok. Kangen ya ama Dolpinie ^^

Umma, appa ngejek umma tuch. Hahaha XD

Buat appa, pisaunya ada di tempat yang aman : di bawah bantal appa dan umma :P

'Klik'

Aku memencet tombol send. Yap... SMSnya sudah aku balas. Bagaimana reaksi mereka ya? Gya... sudah tidak sabar untuk pulang!

Aku terus tersenyum sepanjang perjalanan, namun tiba-tiba senyumku pudar. Setiap pulang, aku selalu melewati taman dimana aku dan Yoochun pernah membuat kenangan di sana. Kenangan dimana kami saling terbuka akan masalah kami masing-masing . Tiba-tiba kakiku melangkah dengan sendirinya, membawa diriku untuk terduduk di kursi ayunan. Aku duduk membisu, membiarkan memori otakku memutar kembali peristiwa yang terekam.

Kusadari dengan sangat nyata...

Tidak ada yang mendorong bahuku. Tidak ada yang menceramahiku. Tidak ada yang mengendongku pulang...

'Drrt...Drrt...Drrrt...'

SMS masuk lagi ke ponselku, membuatku tersadar akan lamunanku. Dengan malas aku melihat isi SMS tersebut.

From : MinnieKingFoodQueen

To :Dolpinie

Subject : Anti fans sama Subject

Noona...! Cepat pulang! Appa dan umma bertengkar lagi gara-gara baca SMS! Jangan biarkan adik tersayangmu ini tercatat sebagai anak kurang gizi, hikz... T.T... Aku laaapppaaarrr *krucuk~krucuk*

Akh... aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh seperti ini terus. Aku masih punya keluarga yang bahagia dan aku juga harus bahagia. Di dalam kamus Dolpinie, khusus kata sedih di coret! Aku ulangi! Khusus kata SEDIH di CORET!

Aku menghela nafas panjang dan dengan hentakan kecil, aku melompat dari kursi ayunan kemudian melanjutkan perjalanan ke home sweet home. Karena hentakan kecil tersebutlah kursi ayunan yang tadi aku duduki bergoyang pelan. Tapi tanpa aku sadari, kursi ayunan di sebelahnya juga bergoyang. Padahal tidak ada faktor eksternal yang membuat kursi ayunan itu bergoyang.


TBC


Gimo comeback !

Akhirnya fict gaje ini terupdate juga, fyuh... *ngilep kringet pake gombal*

Author sebenarnya agak ngeh dengan genre fict ini. Chap 1 ceritanya mewek2 gitu eh tau2 chap 2 kok jadi amburadal campur aduk gaje kayag gini O.o

Mungkin karena faktor lagu yang author denger =="

Silahkan salahkan pada lagu Forever Love~TVXQ yg sumpah sedih banget! Dan lagu Love Girl~CN Blue yang bikin author senyam senyum gaje XD

Eh malah curhat .

Nah ini balasan reviewnya :

*Shiori and Shiroi dan Nikwon

Junsu bakal ketemu Yoochun nggak ya? Tunggu chap selanjutnya yak ^^

*Thatz

Hehe kukira twoshot taunya malah TBC again =="

* Priss Uchun

Yap... Changmin jadi adeknya Junsu.

*Arisa Adaci

Request Yunjae yang bukan gender switch? Mungkin suatu saat saya akan membuatnya ^^

*Kim JaeNa

Lirik inggrisnya ntu terjemahan dari lagu My Little Princess

*Sulli Otter

Ini sekuelnya ^^

*mellchaa syvenneshte

Gomawo uda fave fict ini ^^

Sejunsu! Akhir-akhir ini author lagi kesemsem sama Yoochun. Apalagi liat fotonya pas di airport Taiwan *Kya... . cakepnya!*

Buat para silent reader semoga kalian berkenan menanggalkan pangkat anda dan tidak keberatan untuk mereview. Gomawo ^^