Yuhuu~! Kembali lagi bersama Akuma!
Seperti yang aku bilang di chapter 1, aku gak janji untuk update secara rutin. Tetap update kok, cuma gak rutin. Jadi para readers gak perlu khawatir kalau fanfic ini discontinued atau hiatus.
Rancangannya sudah aku buat satu tahun lalu, terus ketambahan dengan inspirasi saat nonton BoBoiBoy The Movie. Tapi anggap saja kalau di sini Ochobot tidak mempunyai kekuatan teleportasi karena di cerita ini BBB dan kawan-kawan tidak bertemu Bora Ra atau Klamkabot (ini bener tulisannya?)
Terus aku kaget banget reaksi para readers dengan fanfic ini, baru pertama kali ini aku dapat reaksi sehebat ini. Apa lagi aku pendatang baru di fanfic ini.
Ok! Cukup curhatnya~ saatnya membalas review~!
Haruka:
Hehehe arigato mau menyemangatiku... tolong jangan panggil aku senpai~
Haruka-san bisa panggil namaku langsung... soalnya aku baru di sini...
Nurul Juwairiyah:
Oh... cup cup... ambillah tisu ini nak (Siapa yang kamu panggil nak hah?!)
Wah~ aku gak tahu kalau cerita ini sampai bisa mengharukan...
Adashino san:
Pinginnya mau bikin BBB tersiksa... (ni anak sadis juga...)
Hmm... Ochobot hidup lagi ya... kita lihat ke depannya gimana...
Hana:
Makasih... ini sudah update..
Shidiq743:
Execellent! Dia pakainya tergantung dengan emosinya..
Makasih sudah nunggu... ini lanjutannya...
Thank's for your support! Aku jadi semangat nulisnya.
Nah... bagi yang nunggu... nikmati chapter 2 dengan santai~
Chapter 2: Keberuntungan atau Kesialan
"Namaku Fang, salam kenal."
Boboiboy terdiam melihat anak baru yang masuk ke kelasnya. Ini…
Keberuntungan atau kesialannya?
SGSH
BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta
Say Goodbye Say Hello © KashikAkuma Himitsuko
Rate: T+
Language:BahasaIndonesia
Genre: Friendship, Hurt/Comfort
Warning: Typo(s), OOC –maybe?–, Teori hasil imajinasi, No Pair
SGSH
Ini hukuman. Ya, pasti hukuman. Hukuman mereka, lebih tepatnya bagi Boboiboy. Mereka berdua memang mendengar desas-desus tentang anak baru. Khususnya Boboiboy, dia mendengar dari teman setimnya di klub sepak bola, Iwan, memberitahunya kalau SMA Rintis menerima murid baru.
Bukan pindahan, tapi murid baru. Boboiboy sempat heran dengan pernyataan Iwan. Kalau murid baru yang datang ke sekolah ini bukan pindahan, artinya dia tidak masuk SMA manapun sebelum masuk ke SMA Rintis ini. Seperti kalau murid baru ini telat masuk sekolah atau kelebihan liburan sekolah.
Tapi semester 2 hampir berakhir, bahkan ini sudah mendekati ujian kenaikan kelas. Kenapa sekolah menerima murid baru yang baru masuk di saat ujian kenaikan kelas akan dimulai? Tapi dia tidak terlalu peduli dengan hal semacam itu, toh juga bukan urusannya.
Itu yang dia pikirkan sebelum laki-laki berwajah lucu itu mengatakan, "Aku sempat melihat anak baru itu berjalan-jalan keliling sekolah tadi. Wajahnya kayak teman SD kita, Fang," dan dia tidak menyangka apa yang ditebak Iwan itu tepat. Parahnya lagi, 'teman masa kecilnya' ini menjadi teman sekelas sekaligus teman sebangku 3 menit yang lalu setelah memperkenalkan diri.
Boboiboy diam, ia melihat laki-laki berkacamata itu dari ekor matanya. Laki-laki berjaket jingga itu sempat melihat Ketua Kelas yang juga melirik ke arahnya, tepatnya ke arah sang murid baru.
Dia tidak mengajak murid baru yang memperkenalkan diri sebagai Fang berbicara. Boro-boro mengajak bicara, menatapnya saja dia tidak.
…
Ok. Dia hanya melirik bukan menatap.
'Aarggh! Sial…! Kenapa hari ini sial banget!' serunya membatin sambil mengacak poninya.
"Baiklah, kelompok 3 anggotanya Boboiboy, Fang, dan Yaya. Tugasnya membuat susunan Tata Surya," merasa namanya disebutkan, Boboiboy sedikit terperanjat. Otaknya memproses apa yang dikatakan gurunya tadi.
Boboiboy mengangkat tangannya, "Maaf Bu… apa bisa diulangi lagi?" tanyanya. Yaya yang mendengar pertanyaan Boboiboy dalam hati setuju, dia agak gak ngeh tadi. Begitu juga dengan Fang, meskipun tertutupi dengan wajah coolnya.
Sang guru hanya menghela nafas, "Makanya jangan melamun, Ibu ulangi lagi. Kamu masuk kelompok 3, anggotanya Boboiboy, Fang, Yaya. Tugas kalian membuat susunan Tata Surya," ulang Bu guru.
Fix. Kesialannya bertambah, kenapa dari semua rekan kelas yang ada harus mereka berdua yang menjadi anggota kelompoknya?!
SGSH
Gadis berjilbab merah muda itu menghela nafas untuk... entahlah, dia tidak menghitungnya. Dia menatap dua orang 'teman masa kecilnya' yang kini merangkap sebagai teman sekelompok. Tidak ada yang memulai pembicaraan selama setengah jam.
Ya. Setengah jam. 30 menit, 1800 detik.
Yang satunya menundukkan kepala dengan topi diposisikan ke depan yang diturunkan sampai menutupi matanya, susah untuk membaca ekspresi yang terpasang di wajah laki-laki tersebut. Sedangkan satunya lagi menutup mulutnya rapat-rapat dan mengamati sekitarnya, membuktikan kalau dia menghindari kontak mata.
Tidak ada yang mau mengalah hanya untuk membuka suatu topik agar suasana canggung tidak mengelilingi mereka.
Gadis itu– Yaya yang notabene merupakan Ketua di kelasnya secara tidak langsung menjadi Ketua di kelompoknya tidak tahan dengan suasana sunyi senyap yang menemani kelompoknya, dia mulai berdehem. Menarik perhatian dua anggota laki-lakinya tersebut.
Ia membuka buku catatannya, "Karena tugas akan dikumpulkan minggu depan, kita harus membagi tugas membawa bahan dan alat," ucapnya.
"Bahan dan alatnya seperti yang kita catat lagi, kalian bisa milih du–"
"Kalian pilih duluan saja, aku akan mengambil sisanya," laki-laki bertopi dinosaurus itu akhirnya membuka mulutnya, mengucapkan kata-kata yang akan ia lontarkan.
Yaya melihat catatannya, terdapat alat dan bahan yang Yaya sudah miliki di rumah. "Kalau gitu… aku pilih cat warna, karton, dan tusuk gigi," ucapnya.
Boboiboy mengangguk, dia beralih menatap murid baru yang baru masuk kelas selang dua jam lalu. "Kalau kamu murid baru? Mau bawa apa? Terserah kamu mau pilih yang mana. Yang penting saat kita kerjakan semua bahan dan alat sudah lengkap," tanyanya tanpa menyebut nama sang murid baru.
Murid baru– Fang, mendengus. Ia melihat catatannya, "Jangka sama penggaris," jawabannya yang singkat membuat Boboiboy menghela nafas.
"Kalau begitu aku akan bawa steroform dan lem, Ketua Kelas nggak keberatan 'kan?" tanya laki-laki bermata caramel memastikan jawaban dari sang Ketua.
"A-ah… tentu saja, tapi masalahnya…" Yaya menggantungkan ucapannya.
"Masalahnya?" tuntut kedua laki-laki tersebut.
"Kita kerjakan di mana? Aku kalau di mana saja tidak masalah asalkan jangan di rumahku… adikku akan mengganggu kita mengerjakan tugas ini," lanjut gadis berjilbab tersebut.
Laki-laki berambut raven itu terdiam. Bisa saja dia mengajak kedua 'teman sekelasnya' itu mengerjakan tugas di rumahnya, tapi… mengingat kakaknya ada di sini dan kondisi rumah yang kacau balau karena tak terurus selama 4 tahun itu dia agak enggan. "Di rumahku juga tidak bisa, aku baru saja datang ke sini beberapa hari yang lalu. Jadi barang yang kami bawa masih berserakan," ucapnya datar.
Kedua orang itu langsung menatap pemuda yang kini sibuk memainkan rambut putihnya, entah sejak kapan dia melepaskan topinya. Merasa ditatap, Boboboy balas menatap, "Apa?" tanyanya.
KRIIING!
Bel berbunyi yang menandakan pelajaran sekolah telah usai itu menjawab pertanyaan Boboiboy. "Err… kita akan kerja kelompok di rumahmu besok boleh?" tanya Yaya ragu.
Boboiboy terdiam sejenak, membuat kedua orang itu menebak jawabannya yang pastinya tidak. Namun diluar dugaan Boboiboy mengatakan, "Ya, tentu saja. Aku akan beritahukan Tok Aba," dengan senyuman cerahnya.
"Ah! Aku harus segera ke klub! Sampai ketemu besok!" serunya lalu berlari menuju ruang klubnya berada.
Hening melanda dua orang yang tersisa di kelas tersebut, "Apa… dia selalu seperti itu?" tanya Fang ambigu.
"Hah?" bisa ia tangkap wajah kebingungan dari 'teman buminya' tersebut.
"Bicara seolah tidak terjadi apa-apa dengan mata sedihnya itu? Kelihatan banget kalau dia banyak pikiran, apa dia masih memperbaikinya?" Fang bertanya lebih jelas.
"Oh… ya, kemarin dia bicara seperti itu padaku. Itu pertama kalinya dia berbicara kepadaku, aku bahkan tidak tahu kalau dia sekelas dengannya. Masalah dia masih memperbaikinya atau tidak, aku tidak tahu," jawab Yaya dengan senyum sedihnya.
"Tapi kalau dia berusaha santai berbicara dengan kita itu pertanda baik kan? Setidaknya kita bisa berkumpul seperti dulu, dan kayaknya kamu juga sudah menantikan saat-saat kita bersama dulu. Dengan Ying, Gopal, juga… Boboiboy," lanjutnya.
Fang membawa tasnya lalu berjalan keluar kelas diikuti dengan Yaya, "Jadi? Apa kau menemukan solusinya? Sampai-sampai kakakmu datang ke Bumi, saat ini hanya aku dan Boboiboy yang tahu. Meskipun dia berusaha berpura-pura tidak tahu siapa kakakmu. Aku juga tidak bisa menghubungi mereka berdua. Berkat ucapan Boboiboy 4 tahun lalu… kita sepakat untuk tidak memakai jam itu dan fokus memperbaiki teman kita," laki-laki berkacamata dengan frame warna ungu itu mendengus.
"Sudah, dan masalahnya hanya sepele. Karena kita dulu tidak terlalu mengetahui sistem robot kita tidak terlalu teliti saat memperbaikinya. Dan aku yakin sebentar lagi dia akan tahu penyebab teman kita– Ochobot tidak kunjung sadar."
"Sepertinya keberuntungan memihak kita ya? Sekarang tinggal menunggu semuanya berkumpul dan memperbaiki hubungan kita yang sempat merenggang ini."
SGSH
"Jangan… MELAMUN SAAT LATIHAN!" Race, senior baik hati –menurut Boboiboy– dan suka jahil itu menendang Boboiboy hingga tersungkur.
Boboiboy yang tersadar dari lamunannya berkat tendangan seniornya itu kembali bangkit. "Aduh… sakit kak… tolong kalau nendang itu jangan keras-keras," orang yang mendengar keluhan laki-laki bermata caramel itu sweatdrop.
"Aku tidak melamun…" Boboiboy membenarkan posisi topinya miring ke kanan, "... hanya memikirkan sesuatu."
Twitch!
"Ya, memikirkan sesuatu sampai tidak memperdulikan operan bola yang menuju padamu, mana mamerin rambut putihmu lagi!" sewot laki-laki bermata biru tersebut.
"Ah… maaf…"
Race mendengus, "Sudahlah! Ayo lanjutin latihannya! Lu ini Kapten tapi hobinya ngelamun!"
Boboiboy hanya bisa tersenyum, 'Sedikit lagi…'
[SKIP]
"Assalamu'alaikum Tok…" salam Boboiboy sambil salim kepada kakeknya.
"Wa'alaikumsalam…" balas Tok Aba, "gimana sekolahnya?"
Boboiboy menghela nafas, "Huft… sepertinya keberuntungan Boboiboy habis deh Tok," laki-laki itu duduk di kursi yang tersedia di kedai.
Tok Aba heran, "Kenapa?" pria paruh baya itu memberikan Hot Chocolate ke cucunya.
Boboiboy meminumnya sedikit, "Boboiboy ditendang sama kak Race saat latihan karena melamun dan mengabaikan operan bola," Tok Aba memandang datar cucunya.
"Atok sampai tidak bisa ngomong apa-apa," Boboiboy menanggapinya dengan kekehan pelan.
Hening sejenak menemani mereka meskipun kedai milik Tok Aba masih ada beberapa pelanggan yang menikmati cokelat miliknya. Boboiboy sibuk menghabiskan Hot Chocolate miliknya. "Boboiboy… kamu tunggu kedai bentar ya? Atok mau ambil cokelat dulu, sudah mau habis nih…" pinta Atok yang dibalas dengan anggukan.
"Istirahat sebentar juga gak apa-apa Tok… Atok kan sudah dari pagi jaga kedai, biar Boboiboy yang gantiin Atok."
"Terus gimana dengan orang yang mau pesan cokelat? Atok takut kamu gak bisa bikin…"
Boboiboy memutar matanya, "Atok… sudah 4 tahun Boboiboy bantuin Atok… Boboiboy sudah tahu caranya… nanti Boboiboy yang nutup kedai, jam 6 kan?"
Atok terkekeh pelan, "Benar juga, kalau gitu yang bener jagain kedainya, jangan ngelamun lho…" nasihat Atok.
"Iya Tok…" Boboiboy melihat Atoknya pergi memasuki rumahnya.
"Nah…" laki-laki itu menggulung lengan bajunya, "sekarang... aku harus cuci gelas kotor yang sudah menumpuk ini dulu…"
Dengan senandung kecil yang keluar dari mulutnya, Boboiboy membersihkan kedai dan melayani pelanggan dengan senang hati. Dia tidak terlihat lelah meskipun dia baru saja latihan sepak bola yang menguras tenaga.
"Ah… permisi… saya mau pesan Ice Chocolate satu," pesan salah seorang pelanggan yang baru datang.
Tubuhnya gempal, kulitnya cokelat, terdapat headband di kepalanya. "Tentu saja…" Boboiboy menggantungkan ucapannya saat melihat pelanggannya. Ekspresi terkejut terpasang di wajahnya.
Pelanggan tersebut tersenyum yang terlihat dipaksakan, "L-l-lama tak jumpa…" sapanya gugup.
Wajah terkejut milik Boboiboy langsung digantikan oleh senyuman cerah andalannya, "Tolong tunggu sebentar…"
'Semoga saja keberuntungan kali ini berpihak padaku.'
SGSH
Kedai milik Tok Aba telah tutup 1 jam yang lalu, namun kedua laki-laki itu masih belum beranjak dari tempatnya.
Hening tidak mau meninggalkan mereka berdua, bahkan ada aura canggung di sana. "Maaf…" kata pemuda gempal itu tiba-tiba sukses membuat Boboiboy tersentak.
"Maaf? Kenapa?" tanyanya bingung.
Hembusan nafas berat keluar dari mulut pemuda bertubuh gempal tersebut, "Kau pasti tahu kan? Jangan sembunyikan masalah itu dengan mata sedihmu… meskipun kau berbicara santai denganku, mata sedihmu itu sangat kentara."
Terkejut? Tentu saja, Boboiboy tidak mengira kalau pemuda yang merangkap sebagai 'teman baiknya' itu mengetahui hal yang ia pikirkan sejak 4 tahun lalu sampai membuat kepalanya pusing.
Lama? Jangan pikirkan lagi... mana ada orang yang memikirkan masalah sampai 4 tahun lamanya? Laki-laki itu mati-matian untuk menyembunyikan masalah yang sedang melandanya. Berusaha seceria mungkin agar orang-orang khususnya kakeknya tidak mengkhawatirkan dirinya. Tapi dia tidak tahu kalau dia menunjukkan masalah yang membuatnya sedih itu lewat matanya.
Kepala yang dihiasi topi dinosaurus itu menunduk, "Ah… kau mengetahuinya ya? Kau memang yang terbaik, Gopal."
Pemuda itu– Gopal mendengus, "Bukan aku saja yang tahu, Yaya dan Fang juga tahu itu. Aku dengar kau berusaha bicara santai dengan mereka, meskipun kau tanpa sadar menunjukkan mata sedihmu itu."
Kepala Boboiboy terangkat, "K-kau… tahu Fang dan Yaya?" tanya Boboiboy, kali ini menyebut nama kedua temannya itu dengan benar tanpa julukan.
Untuk kedua kalinya Gopal mendengus, "Tentu saja tahu lah! Aku kan satu sekolah dengan kalian, kudengar Ying juga sekolah di sana…" jawabnya.
"O-oh…"
"Jadi bagaimana?" tanya Gopal ambigu.
Boboiboy kembali bingung, "Apanya yang bagaimana?" tanyanya balik.
"Ochobot," satu kata yang terlontar dari temannya itu langsung membuat Boboiboy mengerti maksud dari temannya tersebut.
Dengan senyuman miris ia menjawab, "Dia belum sadar, rencananya mau aku akan scan dia besok… mungkin ada yang kulewatkan setelah memperbaikinya bersama kalian 4 tahun yang lalu."
Hening kembali menemani dua orang tersebut. Sibuk dengan pikiran masing-masing untuk membuat topik yang baru.
Boboiboy mendongakkan kepalanya menatap awan yang gelap tanpa bintang, "Aku dari dulu bertanya-tanya… apa karena aku ikatan persahabatan ini merenggang? Bahkan Fang sampai kembali ke kakaknya."
Gopal terdiam mendengar curhatan teman baiknya, "Aku memang pelupa, tapi aku tidak tahu kalau penyakit pelupaku ini sangat parah sampai-sampai melupakan kalian yang merupakan temanku. Saat aku sadar tentang itu… aku menyesal," Boboiboy melanjutkan curhatannya.
Boboiboy tidak berani menatap Gopal, dia takut kalau tangisan yang berusaha ia bendung akan hancur begitu saja, "Meski ini hampir tidak mungkin... aku harap kita bisa bersama seperti waktu itu. Bermain bersama, belajar bersama, menolong orang bersama, dan kegiatan lainnya yang kita lakukan bersama-sama. Aku benar-benar rindu saat-saat seperti itu..."
"Boboiboy ini bukan salahmu... ini salahnya si Alien itu! Kau tidak perlu menyalahkan diri sampai seperti itu," Gopal berusaha menyemangati Boboiboy meski ada nada canggung di sana.
Masih tidak berani menatap Gopal, Boboiboy tersenyum, "Ya... aku tahu," laki-laki keturunan India itu menghela nafas.
"Aku tahu kalau itu salahnya... kalau dia tidak menyerap energi Ochobot sampai hampir habis... kalau dia tidak membuat kita kewalahan sampai Ochobot memberi energi terakhirnya ke kita... mungkin dia ada di sini bersama kita," Gopal hanya menundukkan kepalanya.
"Seharusnya saat itu aku lebih berhati-hati dengan serangan mereka, karena aku meremehkan mereka aku jadi lengah."
Hening sejenak, suara jangkrik ikut meramaikan suasana sepi di sekitar kedua pemuda tersebut.
"Kau tahu?" akhirnya Boboiboy menatap Gopal.
"Waktuku telah berhenti tepat di saat aku kehilangan Ochobot... kehilangan kalian..." senyuman menyedihkan dari pemuda berambut hitam itu membuat hati Gopal teriris.
"Aku bersikap seperti ini karena tidak ingin membuat Atok dan orang lain khawatir, karena itu aku berusaha bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Itu juga menjadi alasanku kenapa berhenti menjadi pahlawan... aku takut kalau Api tidak terkendali lagi."
"Tapi kau bisa mengendalikannya Boboiboy... kau bahkan punya kekuatan baru..." Gopal menyentuh bahu laki-lai bertopi jingga tersebut bermaksud memberi semangat.
"Ya... aku memang bisa mengendalikannya... tapi kau ingat kenapa aku bisa punya kekuatan api?" tanya Boboiboy.
"Ukh... karena tertekan..." jawab Gopal lirih.
Boboiboy tersenyum tipis, ia menyingkirkan tangan Gopal pelan. "Kalau begitu... apa yang akan terjadi kalau aku terus memakai jam kuasa?" tanyanya lagi.
Kepala Gopal menunduk, "Mungkin Api tidak akan terkendali dan mengamuk karena tekanan yang ia rasakan, bisa saja dia menghancurkan Pulau Rintis."
Masih dengan senyum tipisnya, Boboiboy menepuk bahu Gopal pelan. "Itu bukan 'mungkin' atau 'bisa saja' lagi, tapi pasti. Karena itu aku tidak mau memakai jam kuasa di saat seperti ini. Aku melakukan ini bukan untuk diriku saja, tapi untuk Api... untuk Blaze. Cukup diriku yang biasa saja yang merasakan tekanan ini... aku tidak ingin merepotkan kalian dan juga... semua orang."
Boboiboy bangkit dari duduknya. Menghela nafas, senyum tulus tanpa diikuti dengan mata sedihnya ia tunjukkan pada teman baiknya. "Terima kasih Gopal... sudah mau mendengarkan curhatanku yang mungkin tidak ingin kau dengar setelah sekian lama kita tidak bertemu. Aku benar-benar berterima kasih... aku bersyukur punya sahabat yang pengertian seperti dirimu." ucapnya membuat Gopal terharu.
Dengan segera ia memeluk tubuh Boboiboy yang kecil darinya, "Hiks... kenapa tubuhmu kecil sekali? Hiks... seharusnya kau makan lebih banyak... hiks... mana tubuhmu kurus lagi..."
Boboiboy tertawa kecil, "Sudah umur 17 tahun kau masih cengeng ya Gopal... dari dulu kau tidak berubah..."
"Lama tidak jumpa Gopal... teman baikku..."
'Sebentar lagi, kita pasti berkumpul... seperti waktu itu.'
SGSH
"Hmm…" Boboiboy berjongkok di depan tong sampah, tepatnya kardus yang ada di dekat tong sampah. Dia tidak memperdulikan tatapan aneh dari orang yang lewat.
Tangannya mengangkat topi sedikit dan mulai memainkan rambut putihnya. Kebiasaannya saat ia memikirkan sesuatu kembali muncul. "Haduh… apa yang harus kulakukan? Kasihan dia…" Boboiboy mengusap bulu pirang dengan sedikit warna hitam yang terdapat di tubuh hewan tersebut.
"Aku tinggal juga gak tega, mana lucu banget nih kucing… tapi kalau bawa pulang… aku belum minta izin Atok, ukh…" gumaman yang bagaikan suara lalat dari pemuda itu tetap mengabaikan orang yang melihatnya menganggapnya gila.
"Meow…" suara kucing tersebut membuat Boboiboy gemas.
"Kalau mau bawa pulang ya bawa pulang sana, daripada dianggap gila karena dikira ngomong sama tong sampah," ucapan ketus tersebut membuat Boboiboy mendongakkan kepala.
Dia langsung mematung setelah melihat orang yang telah memberinya kalimat ketus tersebut. 'Sudah ketemu Yaya, sekelompok dengan Fang, curhat dengan Gopal, sekarang aku harus menerima ucapan ketus dari DIA?!' seru batin Boboiboy.
"Setelah berbicara sendiri sekarang berhenti bergerak seperti patung, lagian… reaksi macam apa itu?" perempuan berambut hitam yang dikuncir twintail rendah dengan tambahan bando warna kuning menatap Boboiboy sinis dengan matanya yang beriris biru tertutupi dengan kacamata bundarnya.
Boboiboy tersadar dari lamunan singkatnya, "A-ah… apa aku menghalangi jalanmu?" tanya Boboiboy keluar topik.
"Tidak. Aku hanya malu ada murid dengan seragam SMA Rintis berbicara dengan tong sampah. Kalau kau ingin dianggap gila, tolong lepaskan seragammu dulu agar tidak mencoreng nama baik SMA Rintis," jawab perempuan tersebut masih dengan nada ketus.
'Aku memang merasa kami akan bertemu, tapi tidak secepat ini kan?! Mana rentan waktunya hanya 1 bulan lagi! Kenapa… kenapa aku harus bertemu Ying di saat aku bimbang membawa kucing atau tidak di depan tong sampah?!'
[To Be Continued]
Bagaimana dengan cerita ini? Bagus kah? I hope you like it for this chap...
Budayakan tinggalkan jejak setelah membaca. Review para readers membantuku untuk terus berkembang dan menambah semangat!
Mind to review?
See you next time~
