Hanakotoba

.

.

Hetalia - Axis Power milik Hidekaz Himaruya.

Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan cerita.


Tok, tok, tok.

Pintu mahoni yang sebelumnya diketuk beberapa saat kemudian dibuka; menampilkan seorang gadis kecil bersama sebuah buket bunga berpita merah marun—dan kali ini bunganya adalah camelia kuning.

Senyum polos nan riang sang anak terkembang, sebelum ia menyerukan sesuatu.

"Ada kiriman bunga untukmu, Onee-san!"

Tanpa berlama-lama ia dengan cepat menyerahkan buket itu dan pergi berlari entah kemana, meninggalkan Sakura yang termangu di tempatnya sendiri.

.

.


Sekali lagi mata dikerjapkan sang dara. Saat ini, bunga itu ia letakkan di atas meja yang berada dalam kamarnya. Manik ambernya kembali mengawasi setiap inci buket tersebut, meniti jika ada lagi surat yang diselipkan di antaranya.

Hasilnya nihil. Kiriman yang ini tidak disertai surat.

Sakura menghela nafas pelan dan lalu memandang ke arah kalender yang berada tepat di seberang meja tersebut. Tanggal 10 Februari. Besok adalah harinya.

"Kenapa dia tidak langsung datang saja sih," Gumamnya pelan. Netra teduh sang dara terpaku pada hadiah yang tergeletak begitu saja—sedikit berharap bahwa selain bunganya, sang pengirim juga datang untuk menemuinya karena telah seminggu penuh ia belum melihat ataupun mendengar kabar dari pemuda bermata zamrud dan bersurai keemasan tersebut. Rindu memang, Sakura akui.

Dahinya mengernyit. Biasanya ia selalu memberi kabar dengan menelpon sang dara tiap ada kesempatan; memberi tahu tentang jadwalnya dan kegiatan apa saja yang dilalui, meskipun tak jarang ia juga tak pernah absen untuk berkeluh kesah tentang Alfred dan Francis yang sangat iseng mengganggunya terus. Sakura juga sering mengingatkannya agar tidak terlalu sering marah-marah karena ulah mereka—itu tidak baik untuk kesehatannya nanti.

Apa kali ini aku saja yang menelponnya terlebih dahulu? Lagipula kan jarang sekali aku untuk menghubunginya duluan, batin Sakura. Namun ketika ia membulatkan niat untuk beranjak keluar dan menelpon, ia tiba-tiba terhenti.

'Bagaimana kalau nanti aku jadinya mengganggu? Siapa tahu ia memang sibuk, 'kan?' Begitu pikir Sakura; yang langsung mengurungkan niatnya untuk menelpon sang pengirim bunga karena segan jika ia memang benar-benar menganggunya di saat sibuk-sibuknya ini.

"Imōto." Pintu kamar diketuk, bersamaan dengan suara bariton Kiku terdengar sayup dari balik pintu kamarnya. Sakura dengan gontai meraih gagang pintu dan membukanya, memperlihatkan wajah datar sang kakak yang berdiri di hadapannya.

"Ada apa, nii-san?" Walau tidak terlalu kentara, suara Sakura terdengar lesu—tidak bersemangat seperti biasanya, menyebabkan Kiku yang menyadarinya mulai sedikit bertanya-tanya. Namun, ia akan memikirkan itu nanti dan kembali kepada alasan mengapa ia datang untuk menemuinya.

"Ini. Ada surat yang tidak disertai apapun kecuali namamu lagi."

Sebuah amplop diserahkan. Amplop berwarna kuning cerah yang terlihat sama seperti yang kemarin. Anonim, tidak ada nama pengirim dan hanya tertera nama Sakura Honda seorang—juga tidak ada inisial apapun. Hei, bukankah ia tidak perlu lagi menyembunyikan identitas dirinya lagi karena dari surat yang ditulis sebelumnya saja sudah sangat jelas siapa pengirimnya itu? Sakura hanya bisa menggeleng melihat ini.

Tapi ia tak mengatakan apa-apa dan dengan cepat sang gadis menyambar amplop itu—tak lupa bergumam terima kasih kepada Kiku terlebih dahulu sebelum menutup pintu kamarnya lagi. Sakura lalu mengambil sebuah kursi dan kemudian duduk; terkesan agak tergesa-gesa karena ingin langsung membaca saja. Ketika amplop dibuka, tinta hitam yang tertoreh menyusun alfabet pembentuk kalimat di atas kertas langsung ditangkap oleh manik cokelat mudanya.

'Dear Sakura,'

Masih dengan pembukaan yang sama.

'Sesuai dengan perkataanku, ini adalah surat yang kedua. Aku harap masih surat ini masih terlihat misterius, tapi kelihatannya tidak lagi, ya? Che, cepat sekali ketahuannya. Padahal mengirim surat dengan cara begini terlihat keren.'

Sang pengirim sendiri yang akhirnya menyadarinya juga. Walaupun begitu, darimana dia tahu kalau Sakura telah mengetahui identitasnya? Heran, sungguh.

'Namun ah—sudahlah. Intinya, kali ini aku akan menulis tentang mengapa aku memilih bunga camelia kuning yang diantar tadi. Etto—itu karena camelia kuning diartikan sebagai bentuk kerinduan. Y-ya! A-aku ternyata rindu padamu.'

Sang dara tertegun. Ia membaca ulang kalimat terakhir sekali lagi, untuk memastikan bahwa itu tidak salah tulis.

'Mulai dari binar dalam matamu, kurva pada senyum tipismu, serta segala yang melekat pada dirimu; aku sangat menantikan untuk melihat semuanya lagi. Terdengar sangat melankolis, bukan? Tapi memang begitu kenyataannya. Perasaan aneh menggelitik ketika aku tahu bahwa aku masih bisa melihatmu atau bahkan mendengar suaramu, meskipun kita baru saling tak berkomunikasi kurang lebih selama seminggu.'

'Lama kelamaan aku bisa keluar dari karakterku sendiri. Dan ini semua salahmu Sakura.'

Si pemilik nama terdiam sejenak untuk mencerna kata-kata yang tertulis rapi disana. Beberapa detik terlewat dengan ia yang membisu. Wajah pucat kembali dihiasi rona merah dan tanpa sadar sebuah senyuman malu dikulum akan rangkaian non verbal dalam secarik surat tersebut.

'Meskipun begitu, ketahuilah bahwa aku rindu padamu sejak hari pertama tidak berjumpa sampai batas waktu yang tak ditentukan.'

Surat yang lebih singkat daripada sebelumnya. Namun masih menimbulkan efek yang sama pada dirinya. Sakura meletakkan telapak tangannya di atas dadanya—dan ia merasa bahwa jantungnya rasanya mau berhenti berdetak saja. Pemuda itu sepertinya hobi sekali untuk membuat jantung Sakura bekerja dua kali lipat dari biasanya.

Terlepas dari itu, pandangan matanya lalu dialihkan pada sebaris kalimat terakhir ditulis pada pojok bawah surat. Ia kemudian bergumam pelan, mengulang bacaan yang tertera disana.

'Besok datanglah ke taman biasa yang sering kita kunjungi pada sore hari. Jangan terlambat. Aku tunggu.'


Senyum Sakura makin terkembang. Rindunya akan terbalaskan.


Out of: [2/3]

.

.10.02.2017; H-1 Japan's day.

Mind to drop review? :)