Salty Studio
Rate: T
Genre: Romance/Drama, AU
Pair: KookV
Cast: Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Kim Namjoon, Jung Hoseok, Min Yoongi, Kim Seokjin, Park Jimin, Lee Suwoong, Kim Yerim, and others.
Length: Chaptered
.
Jungkook dulunya bekerja di perusahaan ayahnya dan dia tidak punya niat sedikitpun untuk bekerja di sana, jadi dia berhenti dan pindah dari rumah orang tuanya untuk mengejar mimpinya—menggambar. Di pesta reuni, dia bertemu dengan Taehyung, salah satu teman satu sekolah menengahnya dulu dan juga seorang ilustrator hebat.
Note: Jungkook is 27 years-old, Taehyung is 27 years old, Kim Yerim is 27 years-old, Jimin is 18 years-old, Suwoong is 25 years-old, Hoseok is 18 years-old, Yoongi is 18-years old, Namjoon is 28 years-old, Seokjin is 18 years-old. Most of the characters are aged up and aged down, if you don't like this please don't read my fanfiction. This fanfiction is a remake from omyo's webtoon, Salty Studio.
.
Chapter 2
Kim Taehyung, the Fortune, Rolling In.
.
Jungkook masih kebingungan.
Pertama, dia bangun dalam keadaan hangover. Kedua, Taehyung muncul di hadapannya.
Sambil mengacak rambutnya, Jungkook menoleh ke samping dan seketika dia kebingungan karena menemukan beberapa pot bunga tergeletak di sampingnya—bahkan ada bunga kaktus juga. Apakah aku sedang berada di rumah? Sepertinya iya… Bunga macam apa ini?—Jungkook membatin, dan bergidik ngeri melihat kaktus itu.
"Jadi, kau masih harus sadarkan diri ya?" Taehyung meletakkan kardus di atas meja komputer milik Jungkook.
Taehyung memakai kemeja kasual berwarna merah darah dan celana jins panjang berwarna hitam. Jungkook memfokuskan pandangannya dan dia dapat melihat Taehyung memakai snapback warna hitam bertuliskan supreme.
Jungkook menggerakkan tubuhnya ke samping dan dia hampir menyentuh kaktus itu, membuat wajahnya terlihat cemberut. "Nama dia Hedgehog, hati-hati jika berada di dekatnya." Taehyung tiba-tiba datang dengan membawa sepiring makanan, entah apa makanan itu Jungkook tidak tahu. Tapi yang masih ia pertanyakan—untuk apa pemuda di depannya ini membawa kaktus ke apartemennya?
"Lihat"—Taehyung menyodorkan piring yang ia bawa—"apakah ini cukup untuk hangover-mu?" tanyanya. Jungkook mendadak merasa mual, makanan yang Taehyung bawa itu pizza, dan itu pizza sisa yang dipanaskan lagi.
Jungkook dengan sopan menolak. "Ah tidak. Tidak, terima kasih."
Taehyung hanya menatapnya dan kemudian berjalan menjauh—ke dapur. Dia meletakkan pizza itu di atas meja dan membuka kulkas. "Hm… kalau begitu, kau mau ayam goreng?"
Jungkook menatap Taehyung dari kejauhan, dan berteriak sedikit—siapa tahu Taehyung tidak bisa mendengarnya dari jarak yang agak jauh. "Bisakah kau berhenti mengecek kulkasku?" Setelah mengatakan itu, Jungkook beranjak dari kasurnya dan membuka lemari untuk mengambil kaus. Dia kemudian mengenakan kaus itu dan berjalan ke dapur dengan sempoyangan, dia rasa dia masih mabuk. Lalu Jungkook beralih untuk menyingkirkan Taehyung dari kulkas dan mengambil sebotol air mineral dari dalam sana. Dia kemudian membawanya ke meja—hanya meja saja, tidak ada kursi dan mereka duduk di lantai. Taehyung sudah berada di sana dengan kedua siku berada di atas meja, wajah yang ditangkupkan di tangannya, dan menatapi Jungkook. Jungkook meneguk air dari botol mineral itu dan menghela napas setelahnya.
Taehyung masih terus menatapi Jungkook, sampai Jungkook merasa canggung dan akhirnya dia bertanya. "Kau… adalah Kim Taehyung 'kan?" dia bertanya dengan ragu.
Taehyung memajukan bibirnya, entah dalam artian apa, atau itu memang kebiasaannya. "Uh? Ya, aku Taehyung."
Jungkook punya banyak pertanyaan yang harus ia tanya, tapi pikirannya sedang kacau sekarang. "Hm… jadi, kenapa aku—eh, maksudku… apakah ada sesuatu yang terjadi antara aku dan…" Jungkook tidak bisa benar-benar menyelesaikan ucapannya, jadi dia menggaruk tengkuknya dengan canggung.
"Hah?" Taehyung menatap Jungkook kebingungan.
Jungkook kemudian batuk dengan canggung, disengaja. "Apakah kita melakukan"—Jungkook menatap Taehyung takut-takut—"itu?"
Wajah Taehyung tiba-tiba langsung memerah padam, dan dia segera melepaskan snapbacknya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Jungkook yang melihat itu seketika langsung panik, jangan-jangan dia memang melakukan itu dengan Taehyung saat dia mabuk.
"Tunggu sebentar! Kau serius? Masa sih…" Jungkook berkata dengan panik, wajahnya sudah pucat. Jika memang iya dia melakukan yang tidak-tidak ketika mabuk, dia bisa mati dibunuh oleh ayahnya.
Taehyung masih sembunyi di balik snapback hitamnya. "Kau semalam melakukan—" dengan sengaja Taehyung menggantungkan kata-katanya, membuat Jungkook penasaran setengah mati.
"Kau melakukan strip-dance, dan pole dance!" Taehyung berujar, yang tidak dipercaya oleh Jungkook.
"JANGAN BERBOHONG!" Jungkook menjerit panik, walau dia yakin Taehyung tidak benar-benar serius ketika mengatakan itu, entah kenapa dia merasa gelisah.
Taehyung menurunkan snapbacknya dari wajahnya dan tersenyum cerah. "Aku bercanda~"
Jungkook kemudian menggeram, tapi dia berhasil untuk menahan amarahnya. Taehyung menatap Jungkook sambil tersenyum. "Kau benar-benar tidak ingat semuanya?"
"…Aku ingat beberapa bagian," Jungkook menjawab dengan jujur, sambil memainkan ujung kausnya.
Taehyung meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Kalau begitu, kau tidak ingat ini?"
Jungkook bertanya. "Apa?"
"Kau memintaku untuk tinggal bersama denganmu."
Jungkook menatap Taehyung kebingungan dan memgumamkan kata 'apa?'. Dia menatap Taehyung lekat-lekat, meminta penjelasan yang benar-benar jelas dan detail. Taehyung menengadahkan kepalanya, dan mulai bercerita. "Kau mengalami waktu yang berat kemarin, kau terus minum seperti ikan." Taehyung menghela napasnya, mengingat-ingat kejadian kemarin. "Kau baru saja putus, kau tidak punya pekerjaan, kau punya masalah keuangan, tidak ada orang yang bersedia untuk selalu bersamamu di dunia ini."
"Kau minum, dan minum lagi." Taehyung mengistirahatkan dagunya di tangannya. "Aku ada di sana, menghiburmu." Sebuah tangan—tangan Jungkook—bergerak naik ke arah pipi Taehyung, tapi Taehyung hanya menatap Jungkook dengan tatapan yang biasa saja.
"Kau bilang 'aku menyerah karena hidup sangatlah sulit, aku berharap ada orang lain yang mau menghiburku'. Kemudian, kau memintaku untuk tinggal dengan—aaah, aduh!" Penjelasan Taehyung terpotong karena Jungkook mencubit pipinya dan menariknya.
"Berhenti mengada-ngada," kata Jungkook sinis, masih sambil menarik pipi Taehyung. "Maafkhan akhuuu…" ucap Taehyung dengan tidak jelas karena pipinya yang masih ditarik.
Jungkook melepaskan cubitannya dan segera berdiri. "Berdirilah," Jungkook memerintah Taehyung, yang segera diikuti oleh Taehyung. Dan Jungkook mengisyaratkan Taehyung untuk mengambil kotak yang tadi ia taruh di atas meja komputer. Jungkook kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya; mempersilahkan Taehyung untuk keluar dari apartemennya.
"Aku minta maaf, tapi aku rasa kau harus pergi." Jungkook berucap tenang, tapi Taehyung tidak menangkap apa maksudnya.
"Uh?" Taehyung memasang wajah bingungnya, dan Jungkook hanya bisa memutar bola matanya malas. Jadi dia mendorong tubuh Taehyung sampai keluar dari apartemennya. "Dah, senang bertemu denganmu." ucap Jungkook final.
"Tunggu seben—" Taehyung belum bisa menyelesaikan apa yang hendak ia katakan karena Jungkook sudah lebih dulu menutup pintu, tepat di depan wajahnya.
Jungkook berbalik dan menyentuh pipi kirinya (yang entah kenapa terdapat bekas pukulan, Jungkook tidak ingat apa yang terjadi saat dia mabuk). Aku butuh tidur, tubuhku sakit sekali—Jungkook membatin, dan berjalan menuju kasur lipatnya.
Tiba-tiba suara yang sangat keras menghentikan langkahnya.
Itu suara pintunya yang dipukuli oleh seseorang—Jungkook sudah tahu betul kalau orang itu adalah Taehyung.
Jungkook mengerang dan berbalik untuk membuka pintu, dia sudah bersiap untuk membentak Taehyung habis-habisan. Dan ketika ia membuka pintu, dia bisa melihat Taehyung yang sedang nyengir dengan satu tangan terangkat.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Jungkook membentak, yang entah kenapa tidak membuat Taehyung takut sama sekali, malah membuat dia tertawa.
Jungkook jadi sebal. "Apa? Kau tertawa?!"
[ Salty Studio ]
Sekarang, berakhir dengan Taehyung yang kembali masuk ke apartemen Jungkook.
Jungkook sudah menyerah untuk mengusir Taehyung keluar dari apartemennya. Kebetulan pula dia sedang hangover, jadi makin sulit. Ditambah dengan sebuah lebam di pipi kirinya yang baru dia sadari itu, mempersulit keadaan.
Jungkook tidak sadar Taehyung sedang melakukan—dan dia tidak peduli, tentu saja. Jungkook berjalan menuju dapur untuk mencari makanan, tapi tiba-tiba sebuah suara dari ponsel menghentikan gerakannya.
Itu dari ponsel Taehyung, dan Taehyung memperlihatkan layarnya kepada Jungkook. Itu adalah sebuah rekaman, yang membuat Jungkook bingung, ada wajahnya di sana.
"Baiklah, rekam ini sebagai bukti," suara Jungkook yang terdengar dari rekaman itu menggema di apartemennya.
"Apakah ini rekaman?"—"Yep,"
Wajah Jungkook di rekaman itu sangatlah lucu, bahkan banyak yang menertawakannya kala itu. "Tunggu sebentar, kemarilah agar kau bisa masuk di rekaman ini juga."
Rekaman video itu mulai terlihat bergerak-gerak dan akhirnya memunculkan wajah Taehyung, yang berdiri di samping Jungkook. "Baiklah, apa kesepakatannya?" tanya Jungkook.
"Aku akan membayar setengah dari uang sewamu," kata Taehyung sambil tersenyum di rekaman itu—yang entah kenapa membuat Jungkook yang sedang menonton rekamannya merasa jijik.
"Dan?"
"Aku akan mengajarimu bagaimana caranya menggambar dengan bagus." Taehyung berucap mantap, yang segera disetujui oleh Jungkook di rekaman itu.
Jungkook yang sekarang tiba-tiba menjadi sangat pusing.
Kemarin…
"Aku tidak pantas untuk hidup, lebih baik aku jadi pupuk saja~" itu ucapan Jungkook yang sedang mabuk berat, di toilet, dengan kepala yang diistirahatkan di atas kloset. "Aku ingin pergi ke laut saja," kata Jungkook lagi, yang membuat Mingyu—yang sedang mengurusinya kala itu, frustasi dan akhirnya memilih untuk meninggalkan tempat.
Taehyung berdiri tidak jauh dari tempat Jungkook duduk, dan dia menatap Jungkook prihatin. Taehyung berjalan masuk, dan berhenti di dekat Jungkook—tampaknya Jungkook tidak sadar kalau ada orang yang muncul.
"Tunggu… sebentar!" Jungkook berteriak tiba-tiba, "ini salah dunia, bukan salahku." Dia mulai mengoceh lagi, yang bisa saja membuat telinga Taehyung iritasi. "Tidak ada uang untuk sewa apartemen, aku baru saja putus, dan tidak punya bakat dalam menggambar."
Taehyung bisa mendengar jelas nada putus asa dari suara Jungkook, tapi mendengar pria itu terus mengoceh jelas saja membuatnya sebal.
Jungkook mengeluarkan ponselnya, dan membuka lockscreennya. "Semuanya tidak adil. Orang-orang lahir dengan bakat seperti ini!" sahut Jungkook, sambil menunjukkan layar ponselnya entah kepada siapa—wallpapernya itu adalah sebuah karya yang ia bookmark di komputernya. "Sedangkan aku? Aku terlahir seperti ini, apa yang harus aku lakukan?"
"Aku akan menyer—"
"SIAPA BILANG?!"
"ADUH!" Sebuah tangan menampar pipi kiri Jungkook dengan sangat kencang, sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya.
Jungkook duduk di lantai, terkejut, dan rasa sakit mulai menyerang di pipi kirinya. Taehyung berjongkok di depan Jungkook, dan menggelengkan kepalanya. "Mengecewakan,"
Jungkook hanya menatap Taehyung kebingungan, belum mencerna apa maksudnya. Taehyung menggelengkan kepalanya sedikit. "Aku tidak tahu kalau kau ternyata adalah orang yang sepert ini," tandasnya. Setelah itu Jungkook tidak bicara apa-apa, tampaknya masih kebingungan, jelas sekali dari ekspresinya.
"Kau… Kim Taehyung?" tanya Jungkook, separuh yakin. Bukannya dapat jawaban, Jungkook dapat pukulan gratis.
"Jangan menyerah begitu saja, bodoh!" sahut Taehyung sambil memberi sebuah pukulan di kepala Jungkook. Sementara Jungkook hanya bisa mengaduh karenanya.
Jungkook mengusap kepalanya, lalu berkata, "Berhenti memukulku, sakit tahu."
Taehyung berdiri dan mengusap celana jinsnya yang kotor di bagian lutut. "Kau menggambar kemarin, dan sekarang sudah mau menyerah? Payah sekali,"
"Memangnya kenapa? Kau 'kan bukan bosku." Jungkook mengusap pipinya lagi, "Pergi saja sana, kecuali kalau kau mau membantuku."
Dengan cepat, Taehyung merespon. "Aku mau."
"Hah?"
"Apa masalahmu?" Taehyung bertanya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Jungkook sempat berpikir, kemudian menjawab. "Tidak punya uang,"
"Kalau begitu cari uang."
"Gambarku belum cukup bagus untuk dijadikan penghasil uang,"
"Kalau begitu belajar dong."
"Kenapa kau mudah sekali sih mengatakan itu?" Jungkook menyahut tidak terima. "Tunggu sebentar, ada yang aneh."
Taehyung memiringkan kepalanya. "Apa?"
"Kau mau menolongku, padahal kita sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Apa kau merencanakan sesuatu yang buruk atau sejenisnya?" tanya Jungkook, dan dia segera merasakan kengerian begitu melihat Taehyung sudah menyiapkan tinjunya. "Tolong jangan ada kekerasan," sahutnya memohon.
"Tentu saja," Taehyung menurunkan tangannya. "Aku tidak membantumu secara gratis."
Alis Jungkook menukik sebelah. "Lalu?"
"Taruh meja kerjaku di tempat kerjamu." Taehyung tersenyum.
"Hah?"
Taehyung memiringkan kepalanya lagi. "Aku sedang mencari tempat untuk kantor pribadiku. Aku akan ikut membayar uang sewa dan membantumu dalam menggambar kalau kau mau memberikanku tempat,"
Jungkook tertawa, dan tersenyum meremehkan. "Aku sebenarnya sama sekali tidak keberatan kalau kau ikut membayar uang sewa, tapi, membantuku?" Jungkook membuang wajahnya ke kanan. "Memangnya kau mau mengajariku atau semacamnya?" Dia tertawa lagi dan menatap Taehyung.
"Memangnya kau cukup mahir untuk mengajarku?"
Taehyung terdiam. Jungkook sempat berpikir bahwa Taehyung tersinggung karena ucapannya, tapi dia tidak tahu. "Itu," Taehyung menunjuk layar ponsel Jungkook, "gambar di wallpapermu,"
Jungkook menatap Taehyung, pria itu bicara setengah-setengah, Jungkook jadi tidak sabaran untuk mendengar apa yang akan ia bicarakan sebetulnya.
"Itu punyaku."
Kembali ke masa kini.
Taehyung nyengir persegi. "Setelah itu, kau langsung memintaku untuk pindah dan tinggal bersamamu!" katanya dengan ceria. Berbanding terbalik dengan Jungkook yang berwajah masam. "Lupakan saja, jadi kau ya yang membuat wajahku begini!"
Jungkook menunjuk pipinya yang lebam, tapi Taehyung dengan rasa tidak bersalahnya—hanya tertawa.
"Pokoknya, aku tidak mau tinggal denganmu." Jungkook menghela napasnya, "kemarin itu aku terlalu mabuk, jadi aku bicara macam-macam."
"Jadi tolong per—" tiba-tiba ponsel Jungkook bergetar, tanda pesan masuk. Jungkook entah kenapa yakin kalau itu adalah pesan penting, jadi dia segera memeriksanya.
Betapa kagetnya ia begitu membaca pesan singkat dari pemilik apartemen yang ia tinggali itu.
—Aku sudah menerima uang sewanya, lain kali bayarlah tepat waktu!—
"Aku yang bayar," Taehyung membuat suaranya semenyeramkan mungkin agar Jungkook terkejut, tapi ternyata pria itu bukan kaget karena suaranya, melainkan karena Taehyung yang sudah membayar uang sewanya.
Jungkook menatap Taehyung, meminta penjelasan. "Kenapa bisa begini?"
"Kau takut aku berubah pikiran, jadi kau langsung mengirim nomor ponsel pemilik apartemen ini." Taehyung nyengir lagi, kelihatan ceria sekali. "Lagipula, kita juga bisa saling mengenal. Dan lagi, kau tentu saja tidak bisa mengembalikan uang yang sudah aku kirim ke pemilik apartemen dan menendangku keluar begitu saja."
Jungkook terdiam, kata-kata Taehyung itu memang tepat sasaran sekali.
Uang sewanya yang awalnya $300, turun menjadi $150. Kantor kecilnya (dan juga kamarnya) sudah menjadi setengah dari asalnya.
"Err… kau serius, Taehyung? Ini rumah orang," Jungkook berucap ragu saat melihat Taehyung yang tengah membawa kembali kotak yang sebelumnya ia bawa saat Jungkook baru bangun. "Terus kenapa?"
Jungkook hanya bisa menggeram ketika mendengar itu.
"Baiklah. Satu syarat, kau boleh makan di sini tapi jangan tidur di sini." Jungkook jelas saja tidak mau ada orang lain yang belum terlalu ia kenal tidur di tempat tinggalnya, apalagi dengan alasan yang aneh seperti mengajar.
Taehyung tertawa. "Aku baru saja akan membawa ranjangku kemari."
"Jangan pernah."
Kim Taehyung yang baru saja Jungkook temui lagi setelah 10 tahun berlalu, baru saja masuk ke ruang kerjanya hanya dalam waktu satu hari.
To Be Continued
not edited, so maybe you would see some typo(s) in this. it would be great if you click the favourite and follow button for this story, i appreciate it. i'll work hard for the next chapter, thank you for your review.
