SPADE KING
(Chapter ganjil: Scaicards | Chapter genap: Kuromi)
Kitty Kuromi and Scaicards's collaboration fic.
Naruto is belong to Kishimoto Mashashi.
Rated T++/AU/Typo(s)
.:spadeking|ch2:.
Bel yang sedari tadi di tunggu-tunggu oleh cowok berambut emo pun berdering. Bukannya ia jengah pada pelajaran yang diberikan, tentu saja tidak. Dia hanya tidak sabar ingin mengobrol dengan cewek musim semi yang sangat ia rindukan. Cewek berambut merah muda yang duduk tepat di depannya.
Setelah Kakashi-sensei hilang di telan pintu, Sakura pun menoleh.
"Sasu—"
"Kyaaa!" teriakan histeris yang memekakan telinga itu memotong kalimat Sakura. Beberapa murid cewek datang menghampiri meja belakang Sakura. Bahkan ada yang dengan kasarnya menarik kerah si rambut merah muda itu dan langsung mendorongnya, agar tempat duduknya dapat di tempati oleh si pendorong tadi.
"Minggir kau!"
"Agh!" Sakura meringis kesakitan ketika pinggang kurusnya terbentur sudut meja sebelah.
"Kyaa~ Sasuke-kun."
"Kau pindahan dari amerika ya?"
"Tampan sekali~"
Cerocosan dari cewek-cewek liar binti agresif itu memburamkan pendengaran cowok yang mereka terror. Dari celah kerumunan itu, Sasuke bisa melihat Sakura mengulum senyum dan mengangguk, padahal mata emerald itu lain—alis Sakura juga bertaut.
Gadis itu pun berlalu keluar kelas dengan perasaan tidak ingin mengganggu pemuda tampan yang merupakan teman kecilnya.
"Hei, Sasuke. Boleh minta alamat emailmu?"
"Aku juga ingin tahu."
"Ini nomer hpku, telpon aku ya."
Tubuh tegap nan jangkung yang di panggil Sasuke itu berdiri dan membelah kerumunan tanpa banyak berkata.
Iris obsidian-nya bergerak mencari siluet yang tidak tinggi dan kurus itu. Namun langkahnya terhambat karena kerumunan baru tercipta mengelilingi dirinya. Bahkan ada yang nekat memeluknya, membuatnya merasa semakin jengah.
"CUKUP!" bentaknya kasar dan tajam sambil melepaskan diri, berhasil membungkam kebisingan yang terjadi. Tatapan tajam pun terlempar pada mereka semua, lalu langkah Sasuke menjauh dan semakin ia percepat.
Tanpa butuh banyak berpikir, pemuda beriris hitam kelam itu pergi menuju perpustakaan. Meski langkahnya sempat tersendat karena kerumunan lain hendak mendekat—namun tatapan mematikan yang ia lempar sukses membuat mereka menjauh.
Hari itu pun mereka memberi predikat 'pangeran es' pada Sasuke, yang justru membuat jumlah fans-nya membludak.
.:spadeking|ch2:.
Kaki-kaki kurus itu terus menjijit berusaha menggapai buku di rak paling atas, mata cerahnya sedikit menyipit dengan alis yang bertaut. Tangan ringkihnya terulur keatas memcoba meraih buku bersampul cokelat itu.
"Ish…!" desahnya gemas karena hanya ujung jari tengahnya saja yang mampu menyentuh buku itu.
Sampai sebuah tangan pucat dan lebih besar darinya terulur melewati pucuk kepalanya, ia pun menoleh dan mendapati wajah tampan dan datar sedang menatap buku—yang dengan mudahnya—tergapai.
"Arigatou." Senyum gadis berambut merah muda ketika menyambut sodoran buku dari pemuda berambut emo di hadapannya. Sejenak, iris viridian cemerlang itu memandang penuh wajah permuda yang sangat dekat dengan wajahnya.
Senyuman lembut dan belaian pada pada pucuk kepala merah muda itu—sebagai balasannya. "Kau tahu—" pemuda itu membungkuk dan sedikit memicing saat berusaha menyamai tinggi sang gadis.
"Kau begitu menggangguku." Lanjutnya dengan tatapan tak terdefinisikan.
"Eh?" Gadis itu menautkan alis tanda tak mengerti. Mengingat dirinya justru menjauh ketika melihat kerumunan itu tercipta di sekitar Sasuke.
Pemuda di hadapannya pun menggores senyuman miring dan tatapan yang sedikit memicing—lagi. "Selama di America kau selalu mendatangi mimpiku."
Mata mereka tetap beradu. "Aku jadi sedikit kacau saat berpikir, sedang apa kau saat ini, atau apakah kau baik-baik saja." Lanjut Sasuke dengan helaan napas di akhirnya. Ia bangkit dari bungkuknya.
"Dan pemikiran bodoh lainnya." lanjutnya dengan tangan terulur menyentil pelan dahi yang di bingkai helaian merah muda. "Kau masih saja berjidat lebar."
Pukulan kecil pun menderat di dada Sasuke yang sedikit terkekeh. Dengan tatapan sebal dan bibir yang mengerucut, Sakura mendengus kecil. "Jadi intinya, kau hanya ingin memastikan kabar jidatku ini?"
Sudut kiri bibir Sasuke terangkat dan kembali mengacak rambut Sakura.
"Hei!" protes Sakura dengan kesal namun rona merah tercetak samar di kedua pipi putihnya. "Kau merusak rambut yang sudah rusak ini!"
"Kau hanya malas menyisir rambutmu, Saku." Sahut Sasuke enteng dan melipat kedua tangan di depan dada seraya menyandarkan sebelah bahu di rak buku.
"Kau jauh-jauh datang dari America hanya untuk mengecek rambutku?" sungut Sakura dengan bibir bawah yang sedikit dimajukan. Tawa kecil dari pangeran es pun tak terhindari.
"Kau masih saja lucu—" onyx itu belum berhenti menyapu pandang wajah Sakura. "—dan aku sangat suka."
BLUSH!
.:spadeking|ch2:.
"What the?" seorang gadis berambut pirang dengan wajah yang begitu cantik menatap sepasang remaja yang sedang berjalan begitu er—entahlah… yang pasti mereka terlihat begitu dekat.
Belum genap dua puluh menit yang lalu seorang Sasuke Uchiha—yang memang tenar duluan sebelum memperkenalkan diri—mendapat predikat 'pangeran es', dan sekarang pangeran es itu terlihat tersenyum—meski tipis pada gadis yang terkenal menjadi bahan bulan-bulanan mereka.
Pangeran Es tersenyum?
Sasuke Uchiha yang sedang berjalan dengan sebelah tangan bersembunyi di saku celana itu nampak bergitu keren—karena tengah menyunggingkan senyum menawan untuk gadis di sebelahnya. Sakura Haruno. Sementara Sakura berjalan dengan santai dan terlihat lebih banyak berbicara, membuat tatapan sinis dari beberapa murid tak terelakan.
Hampir semua merasa terhina, mengapa harus Sakura? Gadis yang mereka anggap sampah dan sangat tidak layak untuk di anggap sebagai teman satu sekolah mereka.
"Mereka sepertinya tidak suka kalau kau bersamaku, Sasuke-kun." Sakura menggaruk belakang lehernya canggung karena tidak enak mengungkapkan kegundahannya. Tatapan-tatapan itu terlalu mengganggu dirinya, hingga membuatnya terpaksa mengadu pada sahabat kecilnya—Sasuke, agar Sasuke setidaknya jangan terlalu membuat orang lain cemburu. "Aku sedikit kesal, kau begitu disukai hanya dengan beberapa detik. Sedangkan aku?" kekeh Sakura dengan nada aneh.
Sasuke menghentikan langkahnya sejenak, dan menarik tangan kecil itu sehingga si pemilik tangan menoleh. Tatapannya sedikit menajam pada gadis di hadapannya. Tangan dinginnya terulur menaikan dagu gadis tersebut agar menghadap pada wajahnya.
Sakura meraskan panas di kedua pipinya. Kalau dulu sekali Sasuke melakukan ini, pasti biasa saja, tapi sekarang? Dampaknya begitu hebat sehingga mengganggu ritme detak jantungnya. Apalagi wajah tampan itu mendekat dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti.
"Berhenti." Kata yang terdengar aneh di telinga Sakura itu tidak terdefinisikan artinya. Sementara Sasuke masih menatap datar, tak ada senyuman di wajahnya. "Berhenti menutupinya." Lanjut Sasuke datar.
"A-apa maksudmu?"
Sasuke hanya menghela napas kemudian kembali mengacak rambut merah muda di hadapannya. "Aku hanya tidak suka kau berpura-pura ceria." Setelah mengacak rambut Sakura, dia langsung berjajalan duluan dengan kedua tangan di dalam saku celana. Membiarkan Sakura terpaku di tempat.
Tapi langkahnya terhenti ketika menyadari Sakura tidak mengikutinya. Ia pun menoleh dan memicingkan mata. "Sakura, jangan buat aku menggeretmu."
"A—i-ya…"
.:spadeking|ch2:.
"He? Yang benar saja? Si norak itu sama pangeran es?"
"Nggak pantas!"
"Lihat tuh mereka datang!"
Bisik-bisik yang cukup membuat telinga panas itu terdengar ketika dua pasang remaja memasuki area kantin.
Semua nampak terkejut, cemburu, dan tidak menyangka. Pangeran es mereka kini tengah mengantri pudding untuk gadis yang mereka benci. Gadis yang dipaksa duduk manis di salah satu meja di sudut sana oleh Sasuke.
"Heh, kau!" Seorang perempuan pirang cantik menghampiri meja di pojokan sana. Beberapa perempuan lain mengelilinginya.
"Ah!" jambakan kasar memaksa gadis di meja untuk mendongak. "Sh-Shion?" gadis itu ingin memberontak, tapi tangan-tangan lain mengunci pergerakannya.
PLAK!
"Panggil aku Shion-sama." Ketus perempuan bernama Shion itu menatap tajam pada gadis berambut merah muda yang masih ia jambak. "Ada hubungan apa kau dengan Sasuke?"
"A-aku… hanya bertem—argh!" jambakan yang lebih kasar hingga merontokan beberapa helai merah muda itu. "S-sakit…"
"Bagus, kalau kau—" kalimat itu terpotong deheman keras, mereka pun menoleh dan mendapati si pangeran es dengan dua pudding di tangannya. Tatapannya tajam pada sekumpulan gadis yang telah berani-beraninya mengganggu Sakura.
"E-eh, Sasuke…" cengir Shion sambil melepaskan cengkraman kasarnya dari kepala Sakura. Membuat Sakura lega dan memegang kepalanya meredam sakit.
Tatapan tajam belum berakhir, sehingga kumpulan itu memilih untuk diam di tempat—yang tadinya akan mendekat. "Ini." Sasuke menyodorkan pudding pada Sakura yang di terima dengan sikap aneh.
"Arigatou." Dan sebelah tangan lain dari Sasuke menarik tangan Sakura untuk berdiri. "Eh?"
"Aku tidak suka memukul wanita." Kata Sasuke datar menatap kumpulan yang tengah di tonton masyarakat kantin. "Tapi kalau kalian mengganggu Sakura…" tatapan dingin pun menyirami mereka. Kemudian Sasuke menggandeng Sakura pergi dari keramaian yang tidak mengenakan.
"Shit!" umpat Shion ketika kedua insan itu menghilang.
.:spadeking|ch2:.
"Eum… enak." Gumam Sakura saat memakan puddingnya. Mereka kini memilih tempat sepi seperti di halaman belakang sekolah, duduk di bawah pohon yang rindang. Sasuke hanya tersenyum tipis.
"Seperti tidak pernah makan pudding saja." Ledek Sasuke dan menyendok pudding-nya sendiri sambil menatap Sakura yang nampaknya sangat sibuk dengan pudding.
"Ka-u bhenal." Ucap Sakura dengan mulut penuh pudding, setelah berhasil menelan, ia kembali membuka mulut. "Aku memang sudah lama tidak makan pudding. Kau kan tahu uang saku-ku seberapa." Kekehnya sambil memasukan suapan kedua ke dalam mulutnya sendiri.
Selanjutnya mereka menghabiskan pudding dengan perbincangan ringan soal kehidupan masing-masing selama mereka terpisah.
"Sasuke-kun, mau coba?" tawar Sakura menaikan sendokan pudding strawberry-nya. Sasuke hanya mengangguk dan membuka mulut ketika suapan itu mendekat, ia pun bergumam 'lumayan', lalu menyendok pudding cokelatnya dan mendekatkan pada bibir Sakura.
Sakura menatap Sasuke yang kini sedang memicingkan mata sambil memajukan sedikit dagunya sekilas.
Paksaan seorang Uchiha. Batin Sakura, ia tersenyum dan membuka mulutnya, tapi sendok itu tidak bergerak, akhirnya ia memutuskan untuk memajukan wajahnya mendekat ke sendok. Tapi di elak oleh Sasuke, Sakura menatap pemuda yang sedang tersenyum jahil itu sambil lebih mendekat agar pudding itu tergapai mulutnya, tapi tetap saja di elak. Sakura pun menyerah dengan dengusan sebal.
Sasuke terkekeh pelan dan mengangkat dagu Sakura, lalu menyodorkan sendok berpudding-nya. Kali ini Sakura terdiam dengan tatapan sebal, ia tidak ingin membuka mulut.
"A." perintah Sasuke, Sakura mengerucutkan bibir sambil menggeleng.
"A!" nada Sasuke meninggi satu oktaf, dan Sakura tetap bertahan. "Jangan buat aku menyuapimu dengan bibirku sendiri."
"A-aup—mhh…!"
Sakura menatap Sasuke sebal karena tipuan itu berhasil membuatnya membuka mulut sekaligus merona. Sementara yang di tatap tersenyum tipis dengan tatapan meledek. Setelah berhasil menelan Sakura pun membuka mulut. "Curang!"
Dan hanya usapan sekilas di pucuk kepala Sakura sebagai jawaban dari Sasuke. Gadis itu selalu merasa nyaman setiap tangan itu menderat di helaian merah mudanya. Mereka pun kembali untuk menghabiskan pudding masing-masing.
"Nanti sepulang sekolah aku ada urusan sebentar, tunggu aku ya. Kau harus pulang denganku." Pinta Sasuke yang lebih terdengar seperti perintah. Sakura hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
"Ahn!" pekik Sakura ketika tiba-tiba sebuah ranting tajam jatuh dan tidak sengaja menggores punggung telapak tangan kanannya. Darah segar pun mengalir, sementara puddingnya sudah terjatuh ke tanah. Sasuke segera manaruh puddingnya dan menyambar tangan Sakura. "Sshh…" desis Sakura ketika merasakan perih di sana.
Untuk sejenak, obsidian itu terpaku menatap darah, kilatan merah nampak sekilas di iris kelam tersebut. Ia menenggak ludahnya sendiri, dan dengan ragu mendekatkan bibir ke tangan berdarah itu. "Biar kubersihkan." Ucapnya setengah berbisik.
"Emh…" Sakura merasa sedikit geli dan perih saat Sasuke menyedot darah di tangannya, namun ekspresinya berubah jadi ringisan kesakitan. "Argh! Sas—suke!"
Pemuda itu berhenti bergerak, degup jantungnya perlahan terpacu. Ia seolah sadar akan apa yang ia lakukan. Kepalanya masih tertunduk, menyembunyikan irisnya yang memerah. Tangan Sakura ia lepaskan dan langsung berdiri membelakangi Sakura.
"Ma-af." Pemuda berkulit pucat itu berlari meninggalkan Sakura yang menatapnya tidak mengerti.
.:spadeking|ch2:.
Teriakan mejerit histeris menggema saat seorang berambut emo yang mereka juluki pangeran es melintas melewati koridor dengan kacamata hitam bertengger di wajahnya, menenggelamkan kedua tangan kedalam saku celana.
"Astaga!"
"Dia tampan!"
"Kenapa dia memakai kacamata hitam. Tapi dia keren!"
Pujian-pujian yang terdengar membosankan di telinga Sasuke itu tak ia hiraukan. Ia terus mempercepat langkah hingga masuk toilet, memastikan tidak ada orang, dan membuka kacamatanya.
Pantulan dirinya di cermin memberitahukan dirinya kalau iris merah itu mulai memudar seiring tarikan nafas memburunya.
.:spadeking|ch2:.
Shion dan beberapa murid lainnya nampak menghampiri gadis berambut merah muda yang sedang berjalan sendirian. "Heh!" mereka membentuk banjar untuk menutup jalan. Gadis yang sedari tadi tertunduk itu kini mengangkat dagu.
"Ada apa?"
"Kuingatkan, kurasa Sasuke hanya mengasihanimu, tahu." Ketus Shion dan berlalu dengan sengaja menabrakan bahu secara kasar ke gadis itu, diikuti oleh beberapa temannya.
Sakura hanya menggerakan irisnya malas. "Nggak jelas." Gumamnya sembari melanjutkan langkah menuju—mana lagi kalau bukan perpustakaan? Selain dapat menimba ilmu, dia juga dapat melindungi diri dari berbagai bully. Perpustakaan adalah tempat yang memiliki ratting tersepi sesudah gudang—di sekolah tersebut.
Sementara Shion dan kawan-kawan kembali ke kelas, melihat sang pangeran es sedang berjalan keluar kelas. Hari ini beberapa jam pelajaran masih kosong karena beberapa guru sedang ada panggilan ke pusat dinas pendidikan. Jadilah koridor dan kantin masih ramai, dan kelas-kelas menyepi.
"Hai, tampan." Sapa Shion pada anak baru yang sedang terduduk di bangkunya sendiri. Mata gadis itu melirik pada teman-temannya seolah memberi tanda kalau menyuruh mereka untuk keluar. Mereka pun mengangguk dan segera keluar kelas kemudian membuat penjagaan, setiap siswa yang ingin kekelas mereka cegah.
"Kau, sangat tampan." Ulang Shion dengan mendorong meja Sasuke ke samping. Sehingga ia bisa berdiri tepat di depan pemuda berambut emo itu. Sedangkan si pemuda sendiri tidak terlalu menghiraukan, pikirannya penuh akan kejadian tadi—Sakura.
Tapi perempuan cantik berambut pirang itu nekat duduk di atas pangkuan Sasuke. "Kau lebih pantas denganku." Shion membelai kedua wajah Sasuke dengan kedua telapak tangannya. "Wow, kau dingin, kau gugup ya?" kekeh Shion dengan tatapan yang dibuat sesesual mungkin.
"Turunkan dirimu, sebelum aku yang melakukannya." Ketus Sasuke dengan tatapan tajam, namun Shion tak kunjung mengubah posisinya di pangkuan Sasuke.
"Melakukan apa? Mencumbuku, eh?" goda Shion dengan mendekatkan wajah pada wajah yang sangat tampan itu. Sasuke mengeraskan rahang, dan Shion tetap nekat menempelkan bibirnya di bibir dingin itu. Tersulut emosi, Sasuke membalas ciuman itu secara kasar berniat memberi gadis itu ganjaran atas perbuatannya dengan Sakura. "Ngghh…" Shion melenguh saat merasakan bibirnya disedot kasar bahkan digigit secara tidak berperasaan.
.:spadeking|ch2:.
Sakura menghentikan langkahnya di depan pintu perpustakaan, entah kenapa perasaannya tidak enak. Ia memutar arah menuju kelasnya, sambil sesekali mengelus telapak tangan terluka yang sudah ia bersihkan dan obati sendiri di ruang kesehatan.
Meski sesekali celetukan mengejek terdengar untuk dirinya, ia tidak terlalu peduli. Ia ingin mencari Sasuke, sepertinya ada yang aneh dengan teman kecilnya itu.
Alisnya mengeryit saat melihat beberapa gadis yang ia ingat sebagai anak buahnya Shion sedang berdiri di depan kelasnya yang tertutup. Beberapa murid yang hendak masuk dicegah dan diusir, itu membuat Sakura penasaran dan mendekat.
"Permisi." Ucapnya pelan dan sopan sambil mencoba menerobos. Sekumpulan gadis itu saling tatap dan seringai aneh. Mereka pun saling memberi tatapan penuh syarat, kemudian memberikan jalan pada Sakura.
Aneh. Tapi Sakura abaikan itu lalu memutuskan untuk langsung membuka pintu…
Dan…
"Nggghhhh!" erangan yang lebih terdengar seperti jeritan kesakitan yang tertahan itu seolah meredam decitan pintu yang sedikit terbuka. Kedua iris viridian cemerlang itu membeku menangkap pemandangan yang tak biasa untuk dirinya. Perlahan ia merasakan sesuatu yang mencekik tenggorokannya dan menyesakkan dadanya.
Kedua orang itu masih tetap seperti itu sampai ia menggumamkan nama si pemuda dengan sangat pelan nyaris tak terdengar. "Sasuke."
Detik berikutnya kedua insan itu terlepas karena pemuda yang bernama Sasuke mendorong si perempuan dengan kasar hingga terjungkal ke belakang dan mengerang kesakitan. "Sakura!"
Entah kekuatan apa yang Sakura dapatkan, ia berbalik arah dan melangkahkan kaki secepat yang ia bisa.
.:spadeking|ch2:.
.
.
.
.
.
To be Continue
Story: 2424 words.
Author's Note: halo, kembali Spade King (sebenarnya kuromi juga nggak tau kenapa si scaicards kasih judul itu, soalnya kami sepakat bikin chapter masing-masing tanpa saling tau satu sama lain apa yang akan terjadi,wkwk) di update dengan author yang luar biasa oneng seperti diriku, Kuromi. Seperti tuliasan di awal chapter, bahwa chapter ganjil adalah tugasnya Scaicards dan chapter genap adalah tugasnya diriku… *mengedipkan mata dengan jenaka* KUROMIIIIII! (mendadak jadi heboh sendiri).
Scaicads: *nabok*
Kuromi: *sadar*
Menjawab pertanyaan dari reviewer:
1. Kenapa Sasori ngomong kaya gitu? Apa Saso mati? Karena… akan di jawab di chapter yang entah berapa xD
2. Rating akan naik karena sesuatu? Adegan yang er—shion itu gimana? Kayanya nggak usah naik ya?
3. Fic ini berlanjut? Iya dong xD ini kan belum end.
4. Fic ini diketik berdua? Tidak, chapter ganjil bagian Scaicards, genap bagian aku ^^ dengan ketentuan saling tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya satu sama lain.
5. Sasuke datang untuk menepati janji, tapi Sakura nggak sadar? Un, aku sebenernya nggak ngerti maksud dari pertanyaan ini xD gomen, aku tulalit emang…
6. SasuSaku yatim piatu? Sasu diabdosi dan dpt beasiswa ke amerika? Saku tinggal dimana sekarang? Terjawab di chapter yang entah berapa xD
Thanks to:
Quinza, WinterCherry, Sslove'yumiki, otaku-chan, rika nanami, miyank, Chocolate, SasuSaku Lovers, Neerval-Li, Chini VAN.
Akhir kata, repiu yaa…
V
V
