Here is chapter 2, minna! ^.^ Sebelumnya, terima kasih atas review-review para pembaca sekalian, yang membuat saya bersemangat untuk melanjutkan fanfic HitsuHina ini. ^^
DISCLAIMER *lagi* : Bleach beserta para tokohnya, especially Hinamori, Hitsugaya, Nemu, dan ********* (Spoiler!) bukan punya saya, tentu saja. Tapi punyanya Kubo Tite-sama yang telah menciptakan character-character ini dengan begitu hebat sampai saya bikin ini fanfic. TAPI, FanFic HitsuHina chapter 1 and 2 ini, ASLI buatan saya. Bukannya sombong, tapi saya memang belum minta masukkan dari temen-temen. Nanti kalo lagi ga ad aide, bantuin saya ya temen-temen. Hehe… Dah ah, entar jadi kepanjangan ini Disclaimer. Gomen ne kalo bosen baca Disclaimer, tapi ini penting. -_-"
Enjoy reading!!
CHAPTER 2
Hitsugaya merenung di kamarnya, buku di hadapannya hanya dibuka tanpa dibaca. Ia menumpukan kepalanya pada telapak tangan kanannya; hal yang selalu dilakukan Hitsugaya bila ia sedang memikirkan sesuatu. Dan saat ini ia memikirkan Hinamori. Setelah lama melamun, akhirnya Hitsugaya tersadar. Ia menggelengkan kepalanya dan membaca bukunya lagi.
"Apa sih yang kulakukan? Kenapa aku terus memikirkannya?" Pikir Hitsugaya. Bukannya terus membaca, Hitsugaya malah memikirkan alasan mengapa ia memikirkan Hinamori. Berkali-kali ia mencoba untuk fokus membaca, tapi gagal.
Akhirnya Hitsugaya menyerah pada pikirannya sendiri. Ia menutup bukunya dan menaruhnya di rak buku dalam kamarnya yang luas. Lalu ia berjalan ke luar menuju balkonnnya, dan bersandar pada pagar balkon dengan kedua tangannya di atas pagar.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkannya." Pikirnya lagi, sambil memandang awan gelap yang siap menurunkan hujan. "Tapi kenapa? Sudah enam tahun aku berpisah dengannya, tapi kenapa baru sekarang aku memikirkannya?" Pikirnya, bertanya-tanya dalam hati.
"Kenapa kita baru merasa kehilangan seseorang, saat kita telah berpisah dengannya?" Sekarang Hitsugaya mengerti, mengapa orang-orang sering mengatakan hal itu.
Setelah berpikir cukup lama, bahkan diselingi dengan melamun, Hitsugaya memutuskan sesuatu.
"Aku akan menemuimu, Hinamori…" Hitsugaya memutuskan. Ia akan pergi ke tempatnya dulu, dan menemui Hinamori lagi, supaya ia tidak terus menerus memikirkan Hinamori.
--
"Hinamori-chan!" Panggil Nemu saat Hinamori baru masuk ke dalam kelas. Hinamori menoleh dan tersenyum pada Nemu.
"Selamat pagi, Nemu-chan!" Sapa Hinamori.
"Selamat pagi! Ngomong-ngomong, kau sudah selesai baca novelnya?" Tanya Nemu. Ia duduk di kursinya, di sebelah kursi Hinamori.
"Sudah, ceritanya menarik sekali. Jadi kuhabiskan dalam satu hari. Hehe…" Jawab Hinamori, membuat Nemu kagum.
"Wah, cepat sekali kau membaca. Aku saja baru baca setengah." Balas Nemu.
"Kau mau pinjam bukunya besok? Akan kubawa, siapa tahu Nemu-chan selesai membaca besok." Tawar Hinamori sambil tersenyum.
"Boleh juga, terima kasih!" Jawab Nemu, tersenyum. "Memang ceritanya tentang apa sih?" Tanya Nemu penasaran.
Hinamori berpikir sebentar, mengingat-ingat seluruh isi novel yang ia beli dengan Nemu. Ia menjetikkan jari ketika tahu kalimat yang tepat untuk menjelaskan ceritanya. "Di situ, ada cewek dan cowok yang berteman, tapi ketika mereka berpisah, ceweknya tidak ingat soal si cowok. Yaa… begitulah kira-kira…" Tetapi menceritakannya hanya membuat Hinamori teringat Hitsugaya. Kemarin malam saat menyelesaikan buku bacaannya itu, Hinamori menangis lagi saat ia teringat Hitsugaya.
"Sepertinya seru, kau hebat bisa memilih buku yang bagus!" Puji Nemu. Hinamori tidak menjawab tapi ia tersenyum.
Pulang sekolah, mereka semua mendapat kabar akan ada libur panjang. Nemu mengajak Hinamori untuk menginap di rumahnya.
"Hinamori-chan, kau belum pernah ke rumahku kan? Menginaplah!" Ajak Nemu.
"Sepertinya asyik! Baiklah, aku akan menginap. Kapan aku bisa datang?" Tanya Hinamori, menyetujui ajakan Nemu.
"Kapan saja yang kau mau, kau boleh datang dan menginap berapa lama pun yang kau inginkan." Jawab Nemu tersenyum.
"Kalau begitu bagaimana kalau besok? Kebetulan besok ada karnaval di dekat rumahmu, kita sekalian ke sana yuk!" Usul Hinamori.
"Ah, betul juga! Kalau begitu, besok jangan lupa bawa kimono ya!" Kata Nemu. Hinamori mengangguk sambil tersenyum.
--
Hitsugaya memutuskan untuk pergi secepatnya. Tapi satu masalah besar menghalangi jalannya untuk pergi ke tempat Hinamori.
"Taka da yang bisa mengantarku ke sana…" Pikirnya. Kedua orang tuanya sedang berada di luar kota. Setelah lama berpikir, ia pun memutuskan. "Biarlah, aku pergi sendiri saja!" Katanya.
Hitsugaya pun pergi ke stasiun seorang diri. Selama perjalanan ia melamun sendirian, memandang ke luar, tapi tidak memikirkan apa pun. Selain Hinamori…
"Tunggu aku…" Pikirnya.
Sesampainya di kota tempatnya tinggal dulu, Hitsugaya terbentur masalah besar—yang bahkan jauh lebih besar, yang dapat dikatakan… konyol…
"Gawat…" Bisiknya pada diri sendiri. Lalu ia menghela nafas putus asa, mengutuk dirinya sendiri yang begitu ceroboh. "Kenapa alamatnya bisa tertinggal di rumah??" Katanya, menyesal dan putus asa. "Bagaimana aku mau menemukannya? Aku sama sekali tidak ingat di mana rumahnya…!" Sesalnya lagi.
Ia memandang langit yang mulai gelap, melengkapi keputus asaan-nya dan rasa kesepian yang ia alami.
"Kenapa sulit sekali bertemu denganmu?" Pikirnya.
Hitsugaya melihat taman kecil di dekat stasiun, lalu ia memutuskan untuk beristirahat di sana sebentar. Ia duduk di salah satu bangku dan menengadah untuk melihat matahari yang telah menuntaskan tugasnya di sore hari ini. Ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya dan membiarkan pergelangan sampai ujung jari kedua tangannya terkulai ke bawah. Ia pun menunduk dan menutup matanya.
"Aku harus menemukanmu. Pasti, aku pasti akan bertemu lagi denganmu…!" Bisiknya. "Karena aku sudah berjanji, janji enam tahun yang lalu… yang tidak akan pudar…" Lanjutnya.
Dengan tekad bulat, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke luar taman kecil itu. Pertama ia memutuskan untuk bertanya tentang apa yang ia ingat akan kota ini. Di antaranya, perpustakaan tempat ia dulu membaca bersama Hinamori.
"Maaf, apa Anda tahu di mana saja letak perpustakaan di kota ini?" Tanyanya pada seorang penjaga toko buku—yang tidak ia kenali tokonya.
"Perpustakaan di sini banyak sekali. Kau mau cari perpustakaan yang mana?" Balas cewek itu ramah.
"Ehh… Seingatku, warna cat temboknya biru muda. Perpustakaan itu besar, tapi aku tidak tahu apa isinya sudah berganti apa belum. Aku sudah enam tahun tidak ke sini." Jawabnya kebingungan.
"Cat biru muda? Rasanya tidak ada perpustakaan yang cat temboknya biru muda…" Kata cewek itu sambil mengingat-ingat. Hal itu membuat Hitsugaya putus asa, ia menghela nafas.
"Sepertinya perpustakaan itu sudah ganti cat ya…" Katanya.
"Sepertinya begitu… Ah, kau mau tahu letak perpustakaan yang lain? Sebentar." Balas cewek itu, ia masuk ke dalam toko dan keluar lagi beberapa saat kemudian, membawa sebuah peta. Cewek itu menyodorkannya pada Hitsugaya.
"Ini, ambillah. Kuharap peta itu bisa membantumu untuk menemukan perpustakaan yang kau cari." Kata wanita itu, memberikan peta pada Hitsugaya sambil tersenyum.
Hitsugaya mengambil peta itu perlahan, dan membukanya sekilas. Lalu ia tersenyum pada cewek itu. "Terima kasih banyak!" Katanya.
Cewek itu balas tersenyum. "Sama-sama. Hati-hatilah jika tidak bersama orang tuamu adik kecil, oke?" Katanya, tapi itu membuat Hitsugaya membuka mulutnya, kemudian ia sedikit kesal.
"Aku mau tanya lagi…" Katanya menahan rasa kesalnya.
"Ya?" Balas cewek itu bingung.
"Berapa umurmu?" Tanya Hitsugaya, membuat cewek itu makin bingung.
"Eh? Aku tujuh belas tahun, memang kenapa?" Jawabnya.
"Aku ini… sudah umur lima belas tahun, tahu!" Kata Hitsugaya kesal. Cewek itu jelas terkejut, hanya berbeda dua tahun, tapi tinggi mereka berbeda beberapa puluh senti.
"Ahh… Ma-maaf ya! Habis, kukira kau masih SD. Hehe…" Kata cewek itu polos. "Kalau begitu, perkenalkan. Namaku Matsumoto Rangiku." Cewek itu memperkenalkan dirinya.
"Ah, ya. Aku Hitsugaya Toushiro. Senang berkenalan denganmu." Balasnya. Rangiku hanya tersenyum. Hitsugaya masih kesal disebut anak SD, tapi ia masih ingat tujuannya semula.
"Ya sudah lah. Terima kasih petanya!" Katanya lagi.
"Sama-sama!" Jawab Rangiku . Lalu Hitsugaya berlalu pergi sambil membuka-buka peta yang diberikan Rangiku.
"Sebaiknya ke mana dulu ya?" Tanyanya pada diri sendiri. Akhirnya ia berjalan ke arah yang ditunjuknya asal.
--
Malam itu Hinamori sudah berada di rumah Nemu, mereka baru saja makan malam bersama. Sekarang Nemu mengajak Hinamori untuk ke kamarnya.
"Kita siap-siap untuk besok, yuk! Hinamori-chan bawa kimono kan?" Tanya Nemu bersemangat, saat mereka sudah berada di dalam kamar Nemu.
"Ya, tentu saja! Besok kita harus bawa apa saja ya??" Balas Hinamori, ia juga ikut bersemangat.
Mereka memepersiapkan segalanya sambil bercanda tawa. Untuk sesaat, Hinamori dapat melupakan hal-hal mengenai Hitsugaya.
--
Hitsugaya telah berputar-putar di kota itu, mencari mana perpustakaan yang ia kunjungi enam tahun yang lalu.
"Argh, aku benar-benar tidak beruntung!" Katanya sambil memandangi peta yang berada di tangannya. Ia berhenti berjalan. "Sebaiknya aku andalkan insting saja. Baiklah… Kalau begitu… kita akan ke…" Katanya sambil menutup mata dan menunjuk petanya dan melayangkan telunjuknya di atas peta itu. "Sini!" Katanya lagi sambil mendaratkan telunjuknya di satu titik. Ia memandang titik itu dan mencari perpustakaan terdekat dari tempat itu. Lalu ia tersenyum licik. "Baiklah, apa katamu. Aku ke sana sekarang juga!" Katanya dengan tekad bulat.
Tempat yang tadi ditunjuknya tidak begitu jauh dari tempat ia berdiri tadi, jadi ia memutuskan untuk mempercepat langkahnya supaya cepat sampai. Sesekali ia melihat peta untuk memastikan ia masih berada di jalan yang benar.
Sesampainya di sana, perasaan aneh menyelimutinya. Perasaan rindu, bahagia, yang dirasakannya sekaligus dalam sekejap setelah ia melihat jalanan itu. Hitsugaya memandang ke kanan, dan terlihatlah sebuah perpustakaan besar.
"Ini dia…" Bisiknya pelan. Ia benar-benar tidak mengerti akan perasaan yang dirasakannya. Ia seakan-akan kembali ke masa kecilnya, saat ia bermain dan pergi ke perpustakaan ini setiap hari.
Hitsugaya terlalu lelah untuk berpikir, jadi ia langsung saja masuk ke perpustakaan itu, yang ternyata masih buka.
"Tidak berubah, perpustakaan ini masih buka sampai larut malam…" Pikirnya saat ia berjalan menelusuri rak buku di samping kanan-kirinya. Lalu ia berhenti sebentar, menyadari sesuatu.
"Hah…" Bisiknya pelan "Hebat sekali, susunan bukunya hampir tidak berubah…" Katanya sambil tersenyum heran dan menggelengkan kepala. "Dan aku lebih kaget aku masih ingat susunan bukunya." Tambahnya sambil tertawa pelan.
Setelah puas berkeliling di perpustakaan yang hampir tidak berubah itu, ia sekarang merasa yakin dapat menemukan rumah Hinamori. Hitsugaya berjalan ke luar perpustakaan, dan memandand jalan di depannya sebentar.
"Ke sini…" Bisiknya, mengandalkan ingatannya. Ia bahkan berjalan tanpa sadar, kakinya seakan tahu ke mana ia pergi, dan di mana rumah Hinamori.
Rumahnya tidak terlalu jauh dari perpustakaan itu, tentu saja. Itulah sebabnya mereka berdua sering ke perpustakaan tadi, karena rumah mereka tidak jauh dari tempat itu. Saat sampai di jalan yang sangat dikenalnya, ia melihat rumahnya sendiri.
"Sudah… sangat lama ya…" Bisiknya pelan sambil memandang rumahnya, yang sekarang sudah ditempati keluarga lain.
Tapi jalanan itu sangat sepi, Hanya terdengar suara angin yang mengehembus pelan, suara daun gugur yang menyapu aspal dengan kasar, dan samar-samar suara kendaraan dari kejauhan. Hitsugaya berdiri di tengah jalan dan memandang rumah Hinamori.
"Rumah ini juga tidak berubah…" Katanya. "Tapi kenapa gelap? Tidak mungkin kan dia pindah rumah? Kalau ya, berarti sia-sia usahaku dari tadi sore!" Lanjutnya, mulai merasa khawatir. Lalu ia berjalan ke arah rumah Hinamori dan menggenggam salah satu besi pagar yang berwarna hijau tua. Hitsugaya mencoba membukanya, dan berhasil.
"Tidak digembok?" Pikirnya heran. Tapi ia tidak peduli, ia masuk ke halaman rumah, dan terus masuk sampai ia bertemu dengan pintu depan rumah itu. Hitsugaya mencoba membuka pintunya, tapi terkunci. Ia sedikit kecewa.
"Tentu saja terkunci, dasar bodoh…" Katanya pelan, mencoba menghilangkan rasa kecewanya. Ia melihat ke sekitar rumah, dan melihat ada sepasang sepatu di halaman sampingnya.
"Itu…" Katanya sambil berjalan ke halaman samping dan menyadari bahwa ia mengenali sepatu itu. "Ini sepatu Hinamori! Aku tahu ini sepatunya, ia selalu mengenakan merek yang sama. " Lanjutnya, merasa senang Hinamori masih menetap di situ.
Hitsugaya senang ia akhirnya menemukan tempat tinggal Hinamori, tapi tetap saja ia belum bisa bertemu dengan Hinamori. Lampu rumah tidak dinyalakan, dan rumah itu kosong. Akhirnya Hitsugaya memutuskan untuk duduk di kursi teras dan menunggu Hinamori di sana.
"Cepatlah pulang…" Bisiknya sambil menunduk ke bawah. "Aku capek…" Tambahnya sambil memejamkan matanya. Tanpa terasa ia tertidur karena telah berjam-jam berjalan mencari rumah Hinamori.
--
Hinamori dan Nemu terbangun di pagi hari, saat sinar matahari menyinari kamar Nemu lewat jendela.
"Selamat pagi, Hinamori-chan…!" Sapa Nemu saat mereka masih berbaring di tempat tidur masing-masing.
"Selamat pagi, Nemu-chan!" Balas Hinamori, lalu ia beranjak dari tempat tidurnya, Nemu mengikutinya.
"Kau mau melihat-lihat tempat karnaval nanti sore tidak?" Tawar Nemu, tersenyum.
"Mau! Supaya aku tahu letak kios-kios yang menarik!" Jawab Hinamori senang, menyetujui tawaran Nemu.
"Baiklah, ayo cepat kita mandi!" Kata Nemu.
Hinamori mengambil tasnya dan mencari sikat giginya, tapi kemudian ia mendesah setelah mengaduk-aduk tasnya beberapa saat.
"Payah, sikat gigiku ketinggalan…!" Katanya pada Nemu.
"Ah, aku masih punya sikat gigi baru di sini. Kau mau pakai?" Tawar Nemu.
"Tidak usah, aku ambil saja ke rumah." Jawab Hinamori sambil tersenyum.
"Baiklah, mau kuantar?" Kata Nemu lagi.
"Boleh!" Jawab Hinamori sambil mengangguk.
Nemu pun mengantarkan Hinamori ke rumahnya. Hinamori menutup pintu mobil Nemu dan berjalan ke pagar. Tapi ia berhenti dan heran melihat pagarnya terbuka.
"Aku memang tidak menguncinya, tapi apa ada yang masuk?" Gumamnya perlahan sambil membuka pagarnya lebih lebar, dan ia masuk ke dalam. Menelusuri pekarangan rumahnya dan berjalan menuju teras rumahnya. Tapi ia semakin kaget saat melihat seseorang sedang duduk, atau lebih tepatnya tertidur di kursi terasnya.
Dan ia mengenali orang itu…
"Shiro-chan?" Katanya sambil berjalan ke arah orang itu perlahan.
Hitsugaya membuka matanya dan dengan segera mengangkat wajahnya untuk melihat asal suara yang memanggilnya. "Hinamori!" Katanya terkejut.
Hinamori tidak dapat berbiaca sepatah kata pun, matanya mulai berkaca-kaca. Dan tanpa Hitsugaya sempat berbicara lagi, ia berlari dan memeluk Hitsugaya yang masih terududuk di kursi teras.
"Shiro-chan…!" Bisik Hinamori di tengah tangisannya. Ia tak mampu mengucapkan kata lain selain kata itu.
"Hinamori…" Balas Hitsugaya.
"Kau… ke mana saja?" Tanya Hinamori, perlahan-lahan melepaskan pelukannya dan memandang Hitsugaya.
"Maaf… Aku sungguh… Entahlah, betapa bodohnya aku, baru mencarimu sekarang." Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
"Kau memang bodoh…" Kata Hinamori, menggenggam tangan Hitsugaya lebih kencang. "Bodoh…! Kau piker selama ini aku tidak memikirkanku??" Katanya marah.
"Maaf… Aku minta maaf…" Balas Hitsugaya, merasa bersalah akan kecerobohan dirinya sendiri selama ini.
"Tapi ini Shiro-chan yang aku kenal. Ceroboh, bodoh, serampangan, sombong…" Katanya, membuat Hitsugaya mengernyitkan dahinya, bingung. "Shiro-chan… yang aku sayangi…" Lanjutnya, wajahnya merona
Hitsugaya terdiam, wajahnya ikut memerah, dan ia memeluk Hinamori. "Enak saja bilang aku sombong…!" Balasnya.
Hinamori melepaskan pelukan Hitsugaya. "Tuh, kau selalu memancing pertengkaran, sama sekali tidak berubah!" Tuduh Hinamori sambil tertawa kecil.
Hitsugaya ingin membalas, tapi Hinamori mengacak-acak rambutnya pelan. "Kau telah kembali…" Katanya.
Hitsugaya mendongak dan menatap Hinamori.
"Aku pulang…"
CHAPTER 2 END
Yak, chapter 2 selesai. ^^ Gimana, sodara sekalian? Puaskah Anda? Apa masih kurang? Saya minta reviewnya, kritik dan saran, supaya chapter 3 bisa lebih bagus. *bow* ^_^
