Hai readers pecinta horor! :D Nih author udah update! Maap ya lama! Soalnya agak susah bikin alurnya. Apalagi bikin daftar setannya (?) yaa, ditambah dengan faktor sekolah dan fic-fic lain sih... satu pesan author, fic ini terinspirasi oleh game horor dari Jepang, "Fatal Frame" jadi kalo alur dan setannya agak-agak mirip, ya maap... namanya juga terinspirasi... INGAT! Terinspirasi bukannya jeplak! oke lah,

Selamat membaca!

Can't Come Back

KRIIIIEEEEEET

"Buka sentermu bodoh!" Perintah Lucy pada Natsu. Natsu segera menyalakan lampu senternya dengan gugup.

KRIIIIIEEET

"Uuh... apa mansion ini sudah lama ditinggalkan?" Tanya Natsu sambil melihat sekeliling. "Ng? Lucy! Tunggu aku!" Natsu pun berlari mengejar Lucy yang sudah jauh di depan.

Mansion kosong ini bergaya ala jaman Eropa, tapi bukan berarti pemiliknya orang Eropa yang hidup dijaman Eropa. Lucy dan Natsu berkeliling ke seluruh mansion lantai satu. Tidak menemukan apapun, mereka pun beranjak ke lantai dua.

"Ada jejak sepatu... " Gumam Lucy sambil mengarahkan senternya ke arah jejak sepatu itu. Natsu langsung datang menghampirinya. "Itu... mungkin sepatu Gray... " Kata Natsu. Lucy mengarahkan senternya ke sebelah jejak sepatu itu. "Ada jejak kaki... " Gumam Lucy. Natsu melihat jejak kaki itu.

"Erza?" Tanyanya. Lucy menggeleng.

"Kaki Erza tidak sekecil ini..." Jawab Lucy.

WUUS

"!" Lucy dengan cepat berbalik ke belakang. Hembusan angin membuatnya sedikit merinding. "Ada apa?" Tanya Natsu sambil menengok ke arah Lucy. Lucy masih terdiam dengan wajah kaget. "Hey! Ada apa?" Tanya Natsu lagi sambil menyikut lengan Lucy yang masih terbengong.

Mulut Lucy yang terbuka kini menutup. Ia menggigit bibir bawahnya. Samar-samar ia mendengar suara langkah kaki.

"Erza...!"

Pairing : Natsu D. & Lucy H.

Genre : Horor/Mystery

Disclaimer : Hiro Mashima

Warning : OOC buanget, Typo(s), Jelek, membingungkan, serem? Mungkin, banyak setannya.

"Haaah! Hosh! Hosh! Hosh!" Lucy berlari mengejar suara langkah kaki itu. padahal, di sekolah, Lucy adalah gadis yang penakut dan selalu minta ditemani. Tapi sekarang, ia meninggalkan Natsu di belakang.

"Hwaaa! Lucy! Tunggu!" Teriak Natsu. Karena terlalu terburu-buru, senter yang dipegang Natsu terjatuh dan mati.

"Aduh!" Ringis Natsu. Ia mencoba menyalakan senter itu lagi tetapi tidak bisa. "Aku tau harusnya aku bawa baterai cadangan!" Umpat Natsu.

"Sekarang aku tidak bisa melihat dengan jelas... " Gumam Natsu. Mansion itu gelap. Hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk lewat jendela.

"Jangan! Pergi sana! Aku tidak mau!"

"Ah!?" Natsu langsung menengok ke arah suara. Suara seseorang yang menggema di lantai 2. Dan Natsu tau betul suara siapa itu.

"Gray!" Natsu berlari ke asal suara. Sekarang ia berada di depan pintu sebuah ruangan dengan pintu coklat. Suara-suara masih terdengar dari dalam sana.

"Pergi kau! Sana!"

"Glek" Natsu menelan ludah. Mengumpulkan semua keberaniannya untuk melihat 'sedang apa Gray di dalam sana'. Kemudian Natsu memegang knop pintu dan memutarnya. Di dorongnya pintu itu pelan dan digesernya kepalanya sendiri agar matanya bisa melihat ke dalam ruangan itu.

"Gray?" Panggil Natsu.

WUUS

"... " Natsu berjalan masuk ke dalam ruangan itu. ke dalam ruang kosong itu. ia melihat kiri dan kanan. Di depannya ada sebuah jendela yang cukup besar dan ia berjalan ke arah jendela itu.

"Ini... lantai 2 ya... langsung menghadap gerbang... " Gumam Natsu. Sebenarnya ia sedang berada di tempat Erza dan Gray melihatnya tadi. Tapi orang yang dicari tidak ada di dalam.

"Aku yakin suaranya dari sini... " Gumam Natsu. Ia pun berbalik dan berjalan keluar.

BLAM

"!" Pintu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya. Natsu tentu saja kaget dan dengan cepat ia berlari dan memutar knop pintu dengan kasar. Tapi hasilnya nihil. Pintu dikunci dari luar.

"Kenapa?! Buka! Buka! Siapa pun di luar! BUKA!" Teriak Natsu sambil menggedor-gedor pintu itu. ia melihat ke belakang dan sekeliling.

Ada sebuah origami di sudut ruangan dan sudah berdebu. Natsu berjalan ke arah origami itu dan membersihkannya. Kemudian ia melipatnya menjadi burung kertas.

"Hey... "

WUUS

Natsu menengok ke kiri dan kanan. Karena angin kencang yang berhembus, ia tidak sadar akan suara yang memanggilnya tadi. Kemudian ia meletakkan burung kertas itu di sampingnya dan membenamkan wajahnya.

Tap tap tap tap tap tap tap

Terdengar suara orang berlari dari luar ruangan. Natsu buru-buru bangun dan menggedor pintu itu sekali lagi.

"Buka pintunya! Siapa saja!" Teriak Natsu.

Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu itu.

KLEK

Kunci pintu telah terbuka. Natsu langsung membuka pintu itu dengan ketakutan, pasti Lucylah yang membuka pintu itu.

WUUS

Tidak ada orang di luar. Natsu membelalakan matanya melihat angin di depannya. Tidak ada orang. Bagaimana pintu itu bisa terbuka? Terlebih lagi, siapa yang berlari?

Tanpa berpikir panjang, Natsu langsung berlari keluar dari ruangan itu dan segera mencari Lucy untuk mengajaknya pulang.

Tapi ingatkah kau, kalau tidak ada yang pernah kembali setelah memasuki masion ini?

Di depan pintu yang masih terbuka, seorang anak perempuan berdiri dengan wajah datar. Poninya yang berantakan menutupi kedua matanya. Di tangannya, ada sebuah gunting, dan di tangan lainnya, ada burung kertas yang tadi Natsu buat.

"Hey... " Panggil gadis itu.

"Apa kau juga suka origami?" Tanyanya sambil menggunting kepala burung kertas itu.


"Hosh! Hosh! Hosh! Erza! Erza!" Lucy masih berlari mengejar langkah kaki itu. tapi secepat apa ia berlari, suara langkah kaki itu masih saja terdengar jauh. Bagaimana ia yakin kalau itu Erza?

"ERZA!" Panggil Lucy. Sedetik kemudian, suara langkah kaki itu hilang. Lucy mengatur nafasnya, jantungnya berdetak sangat kencang.

"Lucy... " Panggil sebuah suara yang sangat Lucy rindukan. Lucy langsung menengok ke arah perempuan berambut scarlet itu.

"Erza!" Panggil Lucy dengan senyum.

"Kembalilah, Lucy..." Kata Erza dengan wajah khawatir. "Eh? Kenapa? Aku ke sini mau menjemputmu!" Kata Lucy sambil tersenyum dengan wajahnya yang ketakutan.

"Tidak, kembalilah, aku masih ingin menjelajahi mansion ini... " Kata Erza. Angin berhembus dari jendela yang tidak berkaca itu. gorden-gorden yang sudah terkoyak melambai-lambai.

"Erza...? Tapi kau sudah berada di sini selama 5 hari! Tidakkah waktu selama itu cukup untukmu menjelajahi semua bagian dari mansion ini?!" Tanya Lucy sambil membentangkan tangannya. Erza menggeleng.

"Belum. Belum Lucy. Mansion ini sangatlah besar. Kembalilah sebelum terlambat... " Kini wajah Erza semakin khawatir, kemudian air mata menetes dari matanya.

WUUS

Angin kembali berhembus lebih kencang. Gorden-gorden melambai dengan tingginya. Dan saat angin berhenti, Erza sudah menghilang. Di balakang tempat Erza berdiri, ada sebuah pintu pendek. Lucy berjalan menuju pintu itu. Mungkinkah Erza masuk ke dalam sana?

Hawa dingin mulai terasa seiring dengan Lucy yang semakin dekat dengan pintu itu. samar-samar Lucy mendengar suara bisikan seorang wanita.

"Aku tidak ingin menjadi seperti ini... aku tidak meminta menjadi seperti ini... "

Perlahan Lucy membuka pintu itu. ia melihat seorang wanita berdiri di depan jendela. Kemudian dengan tiba-tiba, wanita itu melompat ke bawah.

"AWAS!" Teriak Lucy sambil berlari mengejar wanita itu.

GREB

"!" Lucy langsung menengok ke belakang. Tepatnya ke arah orang yang mencengkram tangannya.

"N-Natsu?!" Panggil Lucy dengan wajah pucat.

"Ayo! Ayo kita pergi dari sini!" Kata Natsu. Seluruh tubuhnya gemetar dan berkeringat.

"K-kau kenapa?" Tanya Lucy takut. "Sudahlah! Ayo cepat pergi!" Teriak Natsu. Tapi Lucy melepaskan cengkraman Natsu.

"Tidak! Di sana ada seorang wanita yang baru saja melompat!" Kata Lucy sambil menunjuk ke arah jendela.

"Itu hantu Lucy! Hantu!" Teriak Natsu. Tanpa menunggu Lucy, Natsu langsung menarik tangan Lucy dan membawanya turun.

"Kau kenapa sih?!" Teriak Lucy sambil berlari dituntun Natsu. "Hosh! Hosh! Tempat ini...! Tempat ini tidak beres!" Teriak Natsu.

"Tapi aku bertemu Erza!" Teriak Lucy. Sesekali ia merengek ketakutan. "Aku juga mendengar suara Gray! Lucy! Mereka sudah menjadi 'penghuni' mansion ini! Mereka tidak akan kembali!" Bentak Natsu.

Tap tap tap tap tap tap tap tap

"Hiks! Hiks...!"

"Tunggu!" Bentak Lucy sambil membanting tangannya dengan kasar. Natsu berhenti dan menghadap Lucy. "Kenapa?" Tanya Natsu. "Ssst!" Lucy berdesis dengan telunjuk di depan bibirnya.

"Hiks! Hiks...!"

"Kau dengar?" Tanya Lucy. Natsu diam mendengarkan sebuah suara yang dimaksud Lucy.

"Hiks! Hiks...!"

Tap tap tap tap tap tap tap tap

WUUS

"Natsu!" Kata Lucy sambil menunjuk ke belakang Natsu. Natsu dengan cepat menengok ke belakang. Sesosok wanita berlari sambil menangis.

"...!? sudah kubilang! Di sini berhantu! Ayo kembali!" Bentak Natsu lagi.

"TIDAK!" Teriak Lucy. Natsu menahan marah dan menggigit bibir bawahnya. "APA YANG KAU PIKIRKAN!?" Bentak Natsu dengan mata membulat.

"Wanita itu pasti juga tidak bisa kembali... kalau kau ingin kembali... dia juga harus kembali!" Kata Lucy dengan wajah serius. Keringat mengalir di pelipis Natsu. Natsu sungguh heran dengan pikiran gadis yang ia sukai itu. tidak ada rasa takut sedikit pun di wajah gadis itu.

"Dari mana kau tau kalau dia juga tidak bisa keluar? Siapa tau dia sudah mati... " Gumam Natsu.

PLAK

Natsu membulatkan matanya dan melihat Lucy dengan tatapan tidak percaya. Gadis yang ia sukai, menamparnya.

"Di mana rasa pedulimu pada sesama hah?! Hiks... kita memang tidak bisa membawa Erza dan Gray... tapi setidaknya kita bisa membawa gadis itu...! dia sedang menangis sekarang... mana mungkin hantu bisa menangis! Hantu tidak punya perasaan sedih!" Teriak Lucy sambil menangis.

Natsu menahan nafas melihat Lucy. "Baiklah.. tapi cepat... " Kata Natsu sambil menunduk. Kemudian Lucy berlari mengejar gadis tadi diikuti dengan Natsu.

"Aku... pasti akan mati di sini... " Gumam Natsu.

Di belakang mereka, gadis penyuka origami itu berdiri dengan wajah yang datar.

"Seberapa hebat kau bisa melipat origami?" Tanya gadis itu sambil menggunting sayap kiri burung kertas yang telah kehilangan kepalanya.

To Be Continued


Fuuaah! Akhirnya selesai juga setelah sekian lama gak update...!

Maaf ya kalo akhirannya ngegantung... ternyata oh ternyata, Erza dan Gray sudah menjadi penghuni tetap mansion itu! Lalu bagaimana dengan perempuan yang ingin diselamatkan Lucy? Siapa dia?

WARNING : Hantu di fic ini akan muncul banyak (Di Fatal Frame juga banyak kan hantunya?) jadi biar gak bingung, silahkan buat catatan kecil tentang hantu-hantu yang telah muncul di chapter ini dan chapter selanjutnya. Author aja gak hapal sama hantu-hantunya, makannya buat catatan juga... XD sebisa mungkin author akan sedikit memperlambat alur supaya readers dengan otomatis dapat hapal dengan hantu-hantunya! :D

Author juga tau chapter ini sangat pendek, author usahakan chapter depan lebih panjang.

Oke, akhir kata,

Jangan lupa review! :D