Warning : Typo dan MissTypo, OOC, Yaoi, etc. Setting TYL!

ATTENTION! "Don't Like? Don't Read!"

CHOISE!

DISSCLAIMER:

KATEKYO HITMAN REBORN! BELONGS TO AMANO AKIRA

DRRR! BELONGS TO

THE STORY BELONGS TO ME

Kau masuk ke bar yang tergolong mewah itu, banyak mata yang memandangmu dengan ekpresi beragam. Cih, tempat macam apa ini? Begitu kau melewati beberapa penari yang nyaris telanjang yang menggoda tamu sambil menari—entah tarian apa namanya—kau sampai di meja bar, memfokuskan matamu untuk mencari sosok makhluk kepala nanas atau bartender berambut pirang.

"[y/n]!"

"Yo, Shizu! Dimana dia?"

Sang bartender menunjuk seonggok daging berambut bitu yang acak-acakan di pojok, botol minuman berserakkan disekitarnya, dan para penari yang tidak dihiraukannya. Dia tertunduk, dapat dipastikan mabuk berat karena dia menggumamkan beberapa kalimat yang terdengar seperti mantra penolak hujan atau sejenisnya.

"Pergi kecoak!" dengan tampang ter-sinismu kau mengusir gerombolan penari itu tanpa menggunakan kekerasan. Dan ta-da, mereka pergi secepatnya.

"Mukku?"

"[y/n]? [y/n]?"

"Ya, ini aku, Mukku,"

"A...ku seharus..nya tau... aku... sudah tau... dia... memilih Di..no.."

Jadi begitu? Hibari memilih kuda pirang itu, heh? Dan apa yang dilakukan dua orang itu? Kenapa Mukku jadi begini?

"Padahal... kala...u saja.. dia menetap..ka..n hatinya.. aku akan..ikhlas, tapi tadi... dia.. harapan..." cara bicaranya acak-acakkan, tapi kau mengerti, Hibari belum memantapkan hati sepenuhnya, dan memberi Mukku secercah harapan, dan itu yang membebaninya sekarang. Che, Hibari yang egois, tentu saja.

"Aku...i...ngin pula...ng,"

"Iya, kita pulang sekarang, mana kunci mobilmu?"

"Sa..ku k..iri"

Dan dia pingsan, duh, dengan badan sebesar itu dia pingsan? Bagaimana mungkin kau bisa mengangkat tubuh orang pingsan yang beratnya dua kali lipat itu?

"Shizuo?"

"Hm?"

"Bisa bantu aku?"

"Haaah... Terimakasih, Shizu,"

"Bukan masalah, kutinggal ya,"

"Ya, hati-hati, jangan sampai imanmu tergoda dengan orang-orang nista di dalam sana,"

"Haha, aku mengerti,"

Kau dudukkan bos-mu di kursi penumpang, mobil dengan dua kursi ini sepertinya tipe sport atau balap, hell, jenis ataupun merk mobil tidak ada hubungannya dengan ini semua.

"Hup-la... grr... kau berat, Mukku," kau tatap wajahnya, menderita, kata yang sangat tepat untuk menggambarkan keadaan bosmu sekarang. Kau kompres dahinya dengan handuk yang telah kau beri air dingin, berharap itu akan membantu, semoga. Setelah berada di area parkir selama kurang lebih dua jam, kau kendarai mobil hitam itu ke jalan yang sudah sangat sepi mengingat waktu kini cukup malam. Kau jalankan mobil dengan kecepatan sedang, bermacam hal bergantian menyinggahi pikiranmu, pekerjaan, mobil tanpa atap yang jika hujan entah apa yang akan kau lakukan—mengingat Mukku yang terbaring lemah di samping mu—, Hibari Kyoya, dan hal-hal lainnya.

Lamunanmu berhenti ketika kau melihat mobil Ferrari merah dengan dua orang didalamnya, yang satu berambut pirang dan yang satu lagi berambut hitam. Great, semoga saja Mukku tidak terbangun sekarang. Mereka membicarakan sesuatu, ya, gunakan teknik membaca bibir dan kita lihat apa yang mereka bicarakan. Kami...korosu, nanas, bingung, mengharapkan? Oh, Hibari Kyoya mengharapkan seorang Rokudo Mukuro dalam hidupnya? Bukankah dia sudah punya Cavallone? Tidak bisa memutuskan? Ya ya ya, dan menyebabkan bos-ku menderita, terimakasih.

Kau pacu mobil yang kau kendarai, sekarang posisi mobilmu dan Ferrari merah itu sejajar, kau tolehkan kepalamu kesamping, mendapati Hibari yang tengah menyetir. Kau sunggingkan senyuman, salah, seringaimu dan memacu mobil lebih kencang. Tanda kau menantang Hibari adu balap, mobil Ferrari merah itu melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha menyaingimu yang berada beberapa meter didepan. Dia berusaha mendahuluimu, tapi kau yang anak seorang pembalap tersohor akan merasa terhina jika sampai kalah ditangan amatir seperti Hibari Kyoya, kau melakukan berbagai macam manuver untuk menghalangi, mendahului, maupun berbelok dengan kecepatan tinggi. Sampai disuatu jalan lurus kau bermanuver, mengakibatkan mobilmu berbalik arah dengan indah dan berhenti. Menunggu Hibari Kyoya yang muncul di ujung jalan. Ferrari merah itu kini menunggu, sama seperti dirimu yang menunggu burung di tengah jalan itu terbang, dua mobil yang saling berhadapan, 'flap' kepakan sayap menandakan pertandingan dimulai. Kau injak gas dalam-dalam melaju lurus kearah Ferarri merah yang melakukan hal yang sama denganmu, 50 meter jarak antara kedua mobil salah seorang di dalam sana mulai ketakutan, 30 meter si pirang mulai panik, 5 meter si pirang mulai berteriak 'KYOYA!', 2 meter Ferrari merah melenceng dari jalur untuk menghindari tabrakan. Bingo, kau menang. Kau hentikan mobil untuk memeriksa keadaan bos-mu yang masih tertidur lelap, kau langkahkan kaki keluar mobil dan berdiri di kap mobil Ferrari merah. Dengan sedikit menunduk dan memandang wajah sang awan mulutmu membentuk satu kata dengan jelas 'her-bi-vore'.

'BRAK'

Pintu mobil terbanting dengan keras, Hibari Kyoya, dengan tonfa dikedua tangan. Kau menendang plang stop dan menginjaknya, mematahkan plang menjadi dua bagian lalu mengambilnya, kau, dengan dua besi ditangan. Dengan begitu kau akan bisa bertarung, mengingat senjatamu yang berupa dua buah pedang seperti milik si hujan yang rupawan—HEI! KAU AKAN BERTARUNG DAN YANG KAU PIKIRKAN MALAH ITU?

Detik kemudian dua besi bergesekkan, menyebabkan bunyi denting di tengah malam yang sepi.

"Apa maumu, herbivore?"

"Apa mauku? Mudah saja, tetapkan hatimu dan berhenti menyakiti bos-ku!"

"Aku tidak pernah menyakitinya!"

"Oh ya? Dengan memberinya harapan sementara kau sudah bersama kuda pirang itu, kau sebut apa itu?"

"Kau... Kamikorosu!"

"Heh, jika kau mampu, Hibari Kyoya,"

Besi kembali beradu, tonfanya mengenai wajahmu, meninggalkan jejak biru keunguan dengan darah yang mengalir, kau kembali menyerang, tidak memperdulikan rasa sakit di pipi yang berdenyut hebat, bahkan sepertinya bibirmu robek. Besi terus beradu sampai akhirnya senjatamu mengenai bahu milik Hibari, menyebabkan bunyi 'krek' pelan yang membuatnya mundur beberapa langkah. Kau sudah hampir menyerang lagi jika saja suara seseorang tidak menghentikanmu.

"Cukup, [y/n]. Sudah kukatakan aku ingin pulang, bukan menontonmu berkelahi tidak jelas seperti ini,"

"Kau sudah bangun?" kau lepaskan besi ditangan dan berlari kecil menghampiri bos-mu yang nafasnya tak beraturan

"Ini ada air, minum dulu. Sudah baikan?"

"Ya, terimakasih. Kita pergi!"

Dan kalian meninggalkan dua manusia yang masih terpaku di sepinya malam, menunggu sesuatu entah apa. Kalau si rambut hitam berharap kalian kembali untuk mengatakan satu dua patah kata padanya, lupakan saja. Pulang dan segeralah cuci muka, lalu tidur dengan nyenyak di atas keegoisanmu.

"Sudah sepi,"

"Tentu saja, kau pikir sekarang jam berapa?"

"Kufufu~ maaf merepotkan,"

"Kau harus sering-sering mabuk begini,"

"Oya? Kenapa?"

"Kau yang tidak berdaya lebih mudah diurus daripada yang biasa,"

"Kufufufu, bawahan macam apa kau ini?"

"Berterimakasihlah pada atasan yang telah membuatku seperti ini,"

"Kufufu, pasti orang yang sangat tampan dan berkharisma tinggi, kan?"

"Kau pasti ngelindur,"

Kalian masih bercakap-cakap di basement HQ sampai deru mobil menampilkan dua manusia yang tadi kalian tinggalkan. Kau menatap mereka tanpa kedip, mereka tidak berbicara satu patah katapun, hanya terdiam.

"[y/n]?"

"Ya?"

"Antar aku ke kamarku,"

"Baik,"

Kalian berlalu tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Setelah mengantar bos-mu ke kamarnya dan memastikan segala obat yang mungkin diperlukannya sudah tersedia, kau meninggalkan bos-mu dan masuk ke kamarmu sendiri. Merebahkan diri di kasur empuk mahal tanpa mengganti bajumu, kau mulai lupa akan segala masalah, karena kau sekarang, tertidur.

Pagi itu kau terbangun dengan badan yang pegal-pegal, sembari menggosok gigi kau berdecak melihat lebam di pipimu dan mengambil plester untuk menutupinya. Begitu membuka pintu, bosmu juga membuka pintu kamarnya.

"Ah, ohayou, Mukku,"

"Hm? Ohayou, [y/n],"

"Kau baik-baik saja?"

"Oya? Dan kenapa aku harus tidak baik-baik saja?"

"Tidak, hanya saja..."

"Bagaimana laporan misi di Jerman minggu lalu?"

"Eh? Kau bertanya pekerjaan?"

"Ya, kenapa?"

"Tidak, bukan apa-apa," dan saat itulah kau tau, bahwa semua tidak baik-baik saja.


CHOISE!


'Ichidome no kiseki wa kimi ga umareta koto

Nidome no kiseki wa kimi to sugoseta jikan'

'pip'

"Ya?"

/[y/n], dia mabuk lagi/

"Haaaah, lagi? Kapan dia keluar— aku kesana sekarang,"

/Hm/

'pip' dan ponselpun mati

Sudah 3 bulan bos-mu begini terus, dia tidak menunjukkan bahwa dia masih terbebani masalah tempo itu setiap berada didekatmu. Dia selalu tertawa mesu-nista dan mengatakaan kata-kata ambigu seperti biasa. Tapi ketika malam tiba, dia akan pergi ke bar dan mabuk sampai teler begini. Hanya karena satu hal kualitas Guardian of Mist-nya mengalami penurunan dan diragukan. Hibari Kyoya.


CHOISE!


"Ya, malam ini dia mabuk lagi, aku kesulitan membawanya pulang. Aku tidak bawa kendaraan, Shizuo pulang ke Ikeburo hari ini. Kau bisa membantuku?"

/Baiklah, berikan saja alamatnya/

"Bar di jalan—"


CHOISE!


"Kenapa dia, herbivore?"

"Menurutmu kenapa?"

"Aku yang bertanya disini,"

"Kau menanyakan sesuatu yang kau ketahui pasti jawabannya, Hibari-san"

"..."

"Biar aku yang mengantarnya pulang," ketika tangannya hampir meraih lengan bos-mu, kau menghalanginya

"Kau tidak bawa mobil, jangan halangi aku,"

"Tidak. Aku sudah memanggil orang yang akan membantuku. Lebih baik kau jauhi dia sementara waktu. Setidaknya sampai kau bisa memutuskan siapa yang akan mendampingimu,"

"Dia tidak punya siapa-siapa, tidak akan ada yang membantunya ji—"

"[y/n]-san!" seorang laki-laki memanggilmu dari kejauhan

"Siapa bilang? Jangan pikir hidupnya hanya berkutat disekitarmu, Hibari-san. Dia memang begitu, tapi bukan berarti tidak ada yang peduli padanya,"

"[y/n]-san, kuharap aku tidak terlambat. Ah? Hibari Kyoya? Lama tidak bertemu," lelaki berambut putih yang tadi memanggilmu tersenyum, yang hanya dibalas dengusan oleh Hibari sebelum pergi

"Kenapa orang itu?"

"Jangan dipikirkan, bawa dia pulang ya?"

"Lalu kau bagaimana? Tidak baik perempuan malam-malam sendiri,"

"Bukan masalah, lagipula aku masih ada sedikit urusan. Bawa saja dia. Ingat! Jangan 'macam-macam' dengannya!"

"Hahaha, ya, tentu saja,"

"Terimakasih, Byakuran,"

"Kapan saja, [y/n]-san,"


CHOISE!


"Ada perlu apa, Hibari-san?"

"Ini tentang herbivore nanas itu,"

Kau menghela nafas, yah, cepat atau lambat hal ini pasti terjadi, kan? Dan disinilah kau sekarang, berada di café langgananmu bersama seorang Hibari Kyoya. Kau pikir orang yang menelponmu satu jam yang lalu itu orang iseng, 'aku ingin bicara dengamu, berdua. Ini tentang herbivore itu'. Kau baru yakin itu Hibari Kyoya yang asli setelah orang yang menelepon berkata kamikorosu saat kau bilang salah sambung.

"Ada apa?"

"Kupikir... Aku sudah memutuskan,"

"Hm? Memutuskan, apa?"

"Aku akan memilih Muku-"

"Stop!"

"...?"

"Haaah... Kau terlambat. Setelah 6 bulan kau pikir dia akan terus sendiri, sementara kau bersenang-senang dengan kuda pirang itu?"

"Apa maksudmu? Bukankah kau yang dulu menyuruhku memilih?"

"Ya, aku tau. Hanya saja Mukku yang lebih dulu memilih, terimakasih kepadamu,"

Yang berambut hitam pendek hanya memberikanmu wajah bingung, maka kau melanjutkan

"Karena saat itu kau memilih si kuda pirang, dia juga mulai memilih. Mukku orang yang tampan dan baik—meski agak mesum—, tidak sedikit orang yang suka padanya,"

"Saat itu aku belum memilih, kau tau itu,"

"Aku tau, tapi tidak dengan Mukku. Well, pada awalnya dia memang berpikir kau belum memilih, tapi 4 bulan berlalu dan kau masih bersama kuda itu. Dia menyimpulkan kau sudah memilih, maka dia juga membuat pilihan,"

"..."

"Penyesalan selalu datang terlambat, kita tau bahwa jauh didasar hatinya dia masih mengharapkanmu, tapi dia bukan orang rendahan yang akan meninggalkan pasangannya yang sekarang demi orang dimasa lalu yang 'nyaris' menghancurkan hidupnya,"

"AKU TIDAK PERNAH BERMAKSUD MENGHANCURKAN HIDUPNYA, HERBIVORE!"

"Oh ayolah... Kau seolah berkata 'ayah tidak bermaksud menghamili ibu saat melakukan 'itu' tadi malam'. Jangan menutup matamu, Hibari-san,"

"Seandainya saja malam itu aku menetapkan hati dan memilihnya, apa semua tidak akan begini?"

"Tidak akan, kau malah bisa mendapat paket gangguan dipagi, siang, sore, malam dan subuh secara gratis dari seorang Rokudo Mukuro yang selalu mengikutimu dengan 'kufufufu' dan 'oya oya'-nya"

Lawan bicaramu terdiam, menyilangkan tangan didepan dada sambil memejamkan mata dan sesekali memijat keningnya. Begitupun dirimu, kau hanya diam sambil menyeruput moccha-latte –mu sambil sesekali menggaruk bagian belakang kepalamu yang tidak gatal. Dan dari seberang jalan kau dapat melihat dua manusia yang bertengkar mulut kecil dimana salah seorang diantaranya terus bergelayutan di leher yang lain. Dengan senyum pepsodent dan mata sipit juga tangan yang menggenggam marsmallow dan coklat batang.

"Menyingkir, landak!"

"Muuu~ Mukupii judes. Padahal tadi malam kau—"

"[Y/N]! SUDAH LAMA MENUNGGU?"

"Ah, Mukku, Byakku. Tidak, lagipula aku ada sedikit urusan tadi, jadi yah..."

"Oh begitu, mana laporannya?"

Kau menyerahkan map berwarna ungu-nila kepada rambut pucuk nanas, dan kembali menyeruput minumanmu.

"Ku cek sebentar, hei, bisa kita tinggal sebentar? Aku tidak yakin pekerjaan gadis ini sempurna, kufufufu,"

"Oke, honey!"'

"WHA—? HOI! AKU MENGERJAKAN LAPORAN ITU UNTUKMU 3 HARI 3 MALAM DAN BALASANMU MALAH SEPERTI INI?"

"Kufufufu, jangan marah begitu, [y/n]. Ku traktir kau coklat kopi besok,"

"SETUJU," saat itu juga kau langsung kalah ditempat, coklat dan kopi memang favorit-mu

"Kufufufu, anak yang merepotkan, bukan begitu, Kyoya?"

Yang diajak bicara tersentak kaget, mungkin tidak menyangka bos-mu akan mengajaknya bicara. Begitu membuka mata dan melihat kalian bertiga secara bergantian, dia berdecak dan ber-'kamikorosu' sebelum pergi.

"He? Mau kemana, Hibari Kyoya?" tanya Byakuran sambil tetap mengunyah marshmallow

"Bukan urusanmu, herbivore. [y/n]?"

"Ya?"

"Kurasa aku mengerti. Dan untukmu, jangan sampai kau menyakiti herbivore nanas itu. Atau kau berhadapan langsung denganku," Hibari menatap tajam Byakuran untuk meyakinkan si landak albino bahwa dia serius dengan perkataannya

"Kau tidak akan pernah mendengar kabar dia terluka karenaku, Hibari Kyoya," nada bicaranya berubah serius. Atmosfir mendadak berubah kaku ketika dua orang itu... Katakanlah... berebut bos-mu

"Che, herbivore,"

Dan dia berjalan meninggalkan kalian yang masih menatapnya sampai tubuh berkemeja ungu dan berjas hitam itu hilang ditengah kerumunan orang yang lalu lalang.

"Owaaaah... Masa muda itu extreme indahnya ya,"

"Ku-kufufu, jangan mulai, [y/n]. Laporanmu lumayan sempurna kali ini. Pertahankan, kita bertemu di HQ besok. Jaga dirimu baik-baik."

"Bilang sempurna apa susahnya sih. Ya, kau juga, jangan terlalu banyak bermain diatas ranja—"

"KU-KUFU, KITA PERGI SEKARANG, BYAKURAN,"

"ROGER!"

Kedua orang itu pergi, berjalan beriringan dimana Byakuran masih mencoba untuk bergelayut pada bos-mu. Kini kau sendiri di pojokan kota Itali, menyeruput minuman yang nyaris habis. Byakuran pasti akan membahagiakan Mukku, tapi bagaimana dengan Hibari-san? Mengetahui Hibari terpukul pasti akan membuat Mukku 'galau', haaaah... Sepertinya kau harus berbicara sedikit hal kepada Byakuran tentang 'menenangkan' Mukku jika hal itu sampai terjadi. Dan sekali lagi bertemu dengan Hibari Kyoya untuk menanyakan keputusannya dengan jelas. Apa yang akan dilakukannya kali ini? Apa yang akan diperbuatnya mengingat keputusan yang dia ambil tidak lagi berguna? Bah... Harimu masih panjang, [y/n]. Semua hal itu bisa dipikirkan nanti, sekarang nikmati sore di kota Itali dan habiskan minumanmu, karena kau tau, misi masih menunggu.

FIN


Ta-da~ finalle~ hohoho, Hibari disini super OOC yaXDD, soale kalau gak gitu ceritanya gak bakal jalan, ffuuuu~ entah cuma perasaan author atau memang Hibari disini agak-agak gimana gitu=. .=

Gimana endingnya? Terlalu gantung kah? Rencananya emang mau dibikin ending gantung, tapi terlalu gantung gak kalau gini? Haaah~ serasa jadi penghianat cinta#preeeeet padahal author itu fans 6918, tapi setiap bikin cerita 6918 jadinya malah... errr... hahaha! Yang penting disini ujungnya Hibari gak sama tu kuda peyot, author benci banget ngeliat pair D18 = ,= kenapa? Karena 6918 yang terbaik! #LAH DIAWAL KAN HIBARI SAMA ITU KUDA?, kalau masalah 169 itu, author emang lumayan suka, ngeliat Mukku di-uke-in itu kesenangan sendiri buat author, hahahahaha, tapi tetap 6918-lah yang terbaik TvTd

Saa~ review, minna-san?