Disclaimer: Bleach by Kubo Tite
Warning: sorry for very not so romance, immature drama, dark -in what terms?- not frightening horror, typhos
Rated: Teenage
.
.
.
Malam masih terlalu muda saat Rukia melempar coat hijau yang dikenakannya ke sofa kesayangannya. Kamarnya masih tetap sama seperti saat ia tinggalkan. Selama ia pergi, kamarnya tetap dirawat, bunga-bunga dalam vas selalu diganti, seolah siap jika Rukia sewaktu-waktu akan pulang.
"Nona. Air hangatnya sudah siap, silahkan bersantai."
"Terimakasih."
Rukia memasuki kamar mandi dengan gontai. Omelan sang kakek menyambut dirinya begitu menginjakkan kaki di bawah ambang pintu utama kediaman keluarga besarnya. Rukia tahu dirinyalah yang salah karena tidak langsung pulang ke rumah setelah sekian lama ia tidak pulang ke kota ini. Dengan gontai ia memasuki bathtub, membiarkan nyamannya air hangat membasuh kelelahan dan mengusir dingin.
Kejadian tadi siang masih melekat kuat dalam ingatannya. Ia bertemu dengan penyelamat jiwanya setelah sekian lama. Tidak ada perubahan dari pria itu, padahal sudah 10 tahun berlalu sejak kejadian itu.
Pikiran Rukia melayang-layang. Memaksa otaknya bekerja keras, namun akhirnya menyerah. Ingatannya kemudian menyibak kembali kenangan buruk 10 tahun lalu. Bagaimana pria itu datang saat itu, Rukia tidak ingat dengan baik. Satu hal yang mengganjal, tentang supirnya yang malang, tewas dengan kehabisan darah.
Rukia memejamkan mata, mengingat kematian si supir, Maeda. Supir yang sudah puluhan tahun mengabdi kepada Kuchiki-ke, yang sudah sangat ia kenal sejak kanak-kanak. Ditemukan dalam keadaan masih memakai seat belt. Yang gadis mungil itu ingat, Maeda ditembak di dadanya, tidak begitu pasti apa tepat mengenai jantung atau tidak, sebelum Rukia dibawa paksa oleh kawanan penculiknya. Para penyidik kemudian menemukan bahwa penyebab kematiannya adalah dua buah luka di leher Maeda.
Bekas gigitan.
Kira-kira mirip seperti itu. Mungkin memang demikian.
"Vam... pir..." Rukia menggumam.
Mahluk kegelapan yang lahir dari dosa. Penghisap darah, pemangsa yang bersembunyi dalam bayangan. Penyebar teror dan rasa takut. Ratusan mitos dan legenda telah menceritakannya namun tidak pernah ada bukti keberadaan mereka. Bagaikan kebohongan yang dibuat untuk menakuti anak kecil.
"Haaahh... Apa yang kupikirkan sih?"
...
Sosok pria itu terlihat di suatu sudut kota. Masih dengan tatapan dingin yang tidak bersahabat, menyusuri jalan yang berhiaskan bar dan cahaya remang-remang. Dirinya datang bukan untuk menikmati keindahan dan kehangatan semu –yang esok paginya akan lenyap bagaikan kabut– yang ditawarkan oleh suara-suara manis yang tergelak dan tertawa, alunan nada-nada lagu nan menggoda serta riuh ramainya pesta, semuanya seolah mengundangnya untuk menghentikan langkahnya dan masuk mengikuti arus putarannya. Namun bagi pria itu, suara-suara dan bunyi-bunyi penuh undangan itu seperti suara sendu angin malam yang berhembus, dingin.
Pria itu sudah menetapkan tujuannya sejak semula, bahkan sebelum ia menginjakkan kakinya di kota ini. Sebuah ruangan di atas bekas toko anggur. Sedikit tidak mencolok di antara toko-toko dan bar-bar yang lain. Hanya karena sebuah lampu temaram yang masih bertahan menyinari papan namanya lah yang membuat orang-orang yang lalu-lalang sadar akan keberadaan toko yang telah jatuh dan ditinggalkan. Dengan langkah penuh pasti, ia mendekati tempat tujuannya.
Lampu ruangan masih menyala saat pria itu memasuki ruangan yang ia tuju. Berdebu dan penuh sarang laba-laba. Meski demikian sebuah jalur bebas debu di lantai menunjukkan bahwa salah satu ruangan di atasnya masih berpenghuni. Orang yang ingin ditemui telah menunggunya di atas.
'Apa kau takut?'
"Cih!"
Pria itu menaiki tangga tua yang tiap anak tangganya akan berdecit jika dilalui, pegangan tangga yang keropos itupun sudah tidak bisa diharapkan. Pintu ruangan yang ia tuju telah terbuka. Tampaknya ia telah didahului. Isi ruangan nampak seperti kapal pecah, barang-barang tak lagi berada di tempatnya. Lampu yang sekarat masih mempertahankan dirinya untuk berpijar. Ia menatap penuh kewaspadaan. Sisa-sisa abu tercecer dimana-mana, begitu juga dengan darah.
Seseorang nampak duduk di atas sebuah kursi kayu. Diam. Lelaki pemurung itu mendekatinya tanpa menghiraukan sisa-sisa aroma darah yang menusuk indera penciumannya. Pria yang duduk di kursi itu adalah orang yang ingin ia temui. Ia tampak duduk seakan menunggu pria itu dengan pandangan mata yang sangat tenang. Namun tidak tersenyum. Beberapa sobekan tampak terlihat di bajunya.
"Muguruma Kensei-san..."
Pria bercoat hitam itu menyebut namanya dengan pandangan kosong. Tangannya menyentuh pundak pria yang sedang duduk itu. Sepertinya ia telah sangat terlambat. Tubuh pria yang duduk itu perlahan hancur menjadi abu dan tertiup oleh angin yang menyusup dari celah-celah jendela. Orang yang ditemuinya telah tewas. Benar-benar sangat terlambat.
"Lihatlah..."
Suara-suara dari kenangannya menggeliat-geliat menuju puncak kesadarannya. Kenangan lama yang telah tersimpan jauh di bawah tumpukan ingatan-ingatan akan peristiwa-peristiwa yang selama ini ia lewati. Jutaan detik yang lalu.
.
.
Pria itu terlahir dengan nama Ichigo Kurosaki. Ia tinggal di sebuah sudut desa yang sedikit terpencil, di daerah perkebunan. Kehidupan damai dan tenang yang sangat biasa sampai suatu ketika peristiwa terjadi. Peristiwa yang membuat hidup yang ia jalani seperti kepalsuan. Bunga tidur yang menghilang kala membuka mata.
Sore itu, ia mendapati pemandangan yang mengerikan, seluruh anggota keluarganya tewas dan digantung di sebuah pohon besar yang telah mati, tak jauh dari rumahnya. Semuanya. Orang-orang desa memburunya sebagai korban terakhir. Ichigo melarikan diri menghindari bebatuan yang dilemparkan dengan ganas padanya. Meski telah memasuki hutan pepohonan pinus yang rimbun, para pengejarnya tidak merasa terganggu. Tak lagi menggunakan batu, mereka memburu Ichigo yang terluka itu dengan senapan. Musim perburuan bebek liar mungkin telah usai, tapi kali ini orang-orang desa telah menemukan buruan yang baru, Ichigo. Bagi mereka, Ichigo hidup ataupun mati sama saja. Mereka yang masih tinggal di desa telah menyiapkan tali untuk menggantungnya, apapun keadaan Ichigo saat tertangkap nanti.
Satu langkah yang ceroboh mengantarkan Ichigo untuk bermain-main dengan bebatuan di tepi jurang. Para pengejar terus memburu tanpa ampun, menghujani Ichigo dengan timah panas. Kemudian mereka meninggalkan dia di sana. Ichigo tergolek tak berdaya di bawah sana penuh luka. Pandangan matanya mengabur karena darah. Ia ingin menangis setelah merasa semua doa yang ia ucapkan sama sekali tidak menolongnya dari kekejian.
Kebencian mulai merasuki.
Sekarat, putus asa, dendam dan kebencian membuat Ichigo memanggilnya. Bukan malaikat. Sosok wanita itu datang padanya tepat saat Ichigo merasa berkubang di dasar jurang keterpurukan dan ketidakberdayaan. Retsu Unohana. Suara-suara dalam dasar hati Ichigo telah mengundang wanita itu untuk mendekatinya.
"Lihatlah dirimu. Sakit bukan?"
"Khhkk... Ukkhh..."
"Betapa malangnya..."
"Khhkk..."
"Apa kau tidak ingin tahu mengapa? Apa kau ingin membalas perlakuan mereka padamu?"
"... Khhkk... Y-ya..." Ichigo sudah tidak bisa berpikir dengan jernih, siapa gerangan wanita itu.
"Sungguh? Meski kau tidak akan menjejakkan kakimu di surga dan dikutuk?"
"Ya..."
"Meski selamanya terikat oleh pekatnya kegelapan?"
"Ya..."
"Anak baik..."
Wanita itu, Retsu Unohana, menggigit dan menghisap darahnya. Menjadikan Ichigo sebagai salah satu dari kaumnya. Bagian dari kegelapan.
Ichigo yang telah terlahir kembali dengan meminjam tangan-tangan hitam kegelapan, membalaskan dendamnya. Jerit ketakutan dan kengerian membumbung tinggi di udara. Ichigo membantai dan memangsa desa itu. Pria, wanita, anak-anak dan lanjut usia bergelimpangan di bawah kakinya. Ia membunuh semua mahluk hidup dan mencemari tanah dan airnya dengan kegelapan.
Ichigo Kurosaki jatuh dalam dosa.
.
.
Lamunannya dibuyarkan oleh kedatangan tiga orang pria yang tak diundang, apa lagi dikenalnya, namun ia tahu siapa mereka. Hunter. Pemburu yang akan selalu mengejar mereka. Sesosok pria penakut nampak sebunyi-sembunyi dari balik bayangan pegangan tangga.
"Mereka tidak akan berhenti memburumu atas apa yang telah kau lakukan, pelayanku."
"Cih!" Suara Unohana yang teringang di telinganya, membuat Ichigo muak.
Salah satu dari pemburu menyerangnya. Ichigo mengelak dari tebasan pedang dengan cepat dan menjadikan tubuh penyerangannya sebagai perisai dari tembakan rekannya. Satu telah roboh. Dengan sigap, ia menyelinap di belakang si penembak dengan memanfaatkan refleks di luar jangkauan mata manusia, menghadiahinya dengan hujaman tangan kosong yang menembus jantung. Jerit kesakitan membahana di ruangan itu. Ichigo menarik keluar jantungnya dan meremasnya. Darah berceceran, aroma menusuk memenuhi seisi ruangan. Tanpa jeda dan berkata apa-apa, Ichigo menyerang pemburu terakhir tanpa ampun. Dengan brutal, ia mengoyak dan mencerai-beraikan tubuh si pemburu malang, tanpa sekalipun mengedipkan mata.
Pria penakut itu menjerit tanpa suara dan bergegas turun dengan tergesa-gesa. Keringat dingin mengalir di permukaan kulitnya. Wajahnya pucat pasi nyaris biru. Anak tangga yang rapuh itu nyaris membuatnya celaka. Dengan terburu-buru ia meraih daun pintu menuju jalan. Apapun yang terjadi ia harus keluar, begitulah suara dalam hatinya. Sayang. Belum sempat ia meraihnya, Ichigo telah berada tepat di depan wajahnya. Sedikit cipratan darah tampak di wajah Ichigo. Ia menatap pria itu dengan pandangan menuntut sebuah jawaban.
"A-a-aku ti-tidak t-tahu apa-apa!" Pria itu gemetar karena takut. Suaranya terbata-bata.
"..."
"A-aku b-berani bersumpah! Mereka membayarku untuk menunjukkan letak toko ini."
"..."
"Sungguh! Aku ti-tidak akan cerita pada siapa-siapa! K-kumohon, jangan bunuh a-"
KRAUK
Sepasang taring yang tajam menghentikan ucapan pria itu. Ichigo memangsa pria itu, entah karena ingin membungkamnya atau memang karena butuh, ia tidak perduli. Malam beranjak semakin larut.
.
.
.
Bersambung
Uki make style vampir klasik. Jadi ada abu n soal 'mengundang'. Yup klo dicerita2 klasik kan gitu. Soal mengundang, uki ambil contohnya dri Louis di 'An Interview With A Vampire' karangan Anne Rice, film era 90an sih. Louis terpuruk setelah kehilangan anak n isterinya. Rasa keterpurukan n putus asa dll dari Louis itu 'memangil' Lestat, si vampir, untuk mendekat. Jdi si Louis dijadiin vampir ma Lestat, buat lbih jelasnya cari aja filmnya ya! Yg main Tom Cruise (Lestat), Brad Pitt (Louis), Antonio Banderas (Armand) Christian Slatter dll... salah satu adegan yg bikin menjerit adalah adegan Lestat menggigit Louis! Uhh...kebayang ga? uki suka akting si Tom Cruise disini, jd Lestat si vampir sinis, labil n rada jahat. Konon kabarnya, Anne Rice saat proses kasting, g setuju si Tom yg jadi Lestat, beliau lbih memilih salah seorang aktor inggris, tpi si produser n sutradara ngbujuk2 biar Tom yg main. Mungkin karena itu kali ya si Tom aktingx buagus bgt di sini, biar bisa membuktikan klo dia adlah aktor yg tepat buat diserahin peran Lestat.
Lupain si Tom, soal 'mengundang', uki juga tau dari 'Buffy The Vampire Slayer' n emang sebagian mitos mengatakan vampir g bakal mndekat klo kita ga 'mengundang'nya. Oh ya, maap lama baru diupdate...
Lagu yg nemenin uki ngetik chapter ini adlah Main Street dari Late Night Alumni dari album Haunted n La Vie en Rose dari Edith Piaf
Makasih udah baca, klo sempat RnR ya!
