A Y U Z A W A
- a story by REAGANJACKIE -
Genre: Crime, Drama and Romance
Rated: T
Disclaimer: Kaichou wa-Maid Sama! bukan punya saya. Saya cuma pembaca fanatik yang tergila-gila dengan pair TakuxMisa :D
PENJELASAN: Beberapa kalimat yang berformat italic menandakan bahwa kalimat tersebut merupakan pikiran para tokoh.
Chapter 2: Au revoir Baltimore, Bonjour Washington!
Sinar matahari yang menyeruak dari jendela menyakitkan mataku –memaksanya untuk terbuka. Aku membuka mataku dengan tidak rela dan melihat punggung seseorang menghadapku. Apa yang terjadi kemarin? Kemarin aku pulang..lalu Tora sudah tidur..lalu….
Shit
Benar-benar deh si Tora! Gara-gara 'kejadian' kemarin, aku tidak jadi mengepak baju-bajuku kan!
Panik, aku pun langsung bangun dan turun dari tempat tidur (tentu, aku dengan sigap menutupi tubuhku dengan seprai). Aku masuk ke kamar mandi, menggosok gigi lalu dalam semenit, aku sudah bermandikan air panas yang keluar dari shower. Hmm…aku gak sempat liat jam tadi. Take off pesawatku jam 11 pagi ini..semoga aku tidak terlambat..
Kira-kira, kantor baruku nanti seperti apa ya?
'Semua sudah siap, Misaki?' Tora mencoel pundakku sambil melihat koper yang kubawa. 'Sudah dong.' kataku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar iPad yang sedang kumainkan. Aku sedang memeriksa e-mail yang masuk, kebanyakan berasal dari teman-temanku yang tahu aku dipindahkan ke D.C. juga ada satu-dua e-mail dari adikku, Suzuna di Jepang.
Kurasakan jari-jarinya menggelitik perutku. Aku tertawa geli. 'Apasih, Tora! Aku kan sedang sibuk!' kataku setengah berteriak, masih tidak mengalihkan kedua mataku ke arahnya. 'Ayolah, Misaki! Dalam waktu 10 menit lagi, kita akan berpisah selama Tuhan-tahu-berapa-lama, bisakah kau tunda apapun itu yang sedang kau kerjakan dan menghabiskan detik-detik terakhir ini bersamaku?'
Aku menghela napas dan mematikan iPad-ku. Kulihat wajah Tora yang sedang cemberut itu. 'Baiklah. Apa yang kau inginkan?' tanyaku malas. 'Entahlah. Mau kuambilkan kopi?' Tora menunjuk ke arah mesin penjual kopi dengan jempolnya. 'Baiklah. Satu saja, seperti biasa ya.' Jawabku menjelaskan. 'Coming, my lady.' Tora mengakhirinya dengan seringai di wajahnya.
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat kelakuan tunanganku itu. Dia memang kadang-kadang bertingkah seperti anak-anak, tapi dirinya yang asli adalah seorang CEO perusahaan Igarashi yang terkenal di dunia. Aku bertemunya sewaktu ada kasus yang menyangkut kematian seorang anak buahnya. Kami memulainya dengan makan malam bersama..dan ternyata..berakhir dengan tinggal bersama dengan status 'tunangan'.
Aku melihat pemandangan orang lalu-lalang di depanku. Kebanyakan dari mereka pergi sendiri, sepertinya sedang melakukan perjalanan dengan kepentingan bisnis. Sebagian adalah anak muda yang kelihatan seperti pelajar, mungkin mereka mau pulang ke kampung halamannya dalam rangka libur kampus. Beberapa adalah satu keluarga. Terlihat sang ibu mendorong kereta berisi empat koper besar-besar dengan seorang anak perempuan yang kira-kira masih berumur 5 tahun duduk di ujung kereta. Kakaknya yang sudah agak besar berjalan di depan sambil menggandeng tangan ayahnya yang sedang mencurahkan perhatiannya ke tiket mereka. Mungkin sedang mencari di mana terminal keberangkatan mereka.
Aku tersenyum sendiri melihat pemandangan terakhir tadi. Aku selalu berpikir bahwa memulai keluarga baru itu hal yang menyenangkan. Kupikir, Tora tidak suka dengan anak-anak, melihat tingkahnya yang dulu benar-benar brengsek. Tetapi setelah beberapa bulan pacaran, aku bisa melihat bahwa sisi brengseknya tadi mulai pudar dan digantikan dengan Tora baru yang penuh kasih dan setia. Aku mulai yakin bahwa aku dan Tora bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kami nanti.
'Kok melamun?'
Aku tersentak dari lamunanku dan melihat ke arah suara datang.
'Jangan ngagetin dong!' kataku sambil memukul lengan Tora- dengan main-main tentu saja.
Ting Tong!
Perhatian, perhatian. Para penumpang pesawat Local US dengan nomor penerbangan 0987 tujuan Washinton D.C dipersilahkan untuk masuk ke Terminal A dikarenakan pesawat yang bersangkutan akan mendarat dalam waktu 5 menit lagi.
Aku berdiri dari tempat dudukku dan memasukkan iPad-ku ke ransel yang ada di sampingku. Aku mendengar Tora menggumamkan 'cih. Sudah waktunya, ya' dengan pelan di belakangku. Aku menoleh ke arahnya dan melihat ia menatap sedih ke arahku. Aku meletakkan kedua tanganku di pipinya sambil tersenyum.
'See you next month, okay?'
'Yeah, see you. Take care and don't get shot!'
Aku tertawa dan mencium pipinya. Ku genggam erat kopi yang tadi dibeli Tora dan berjalan ke arah Terminal B sambil menyeret koperku.
Au revoir, Baltimore.
Aku berdiri di samping wanita setengah baya berbaju putih dan memakai rok kotak-kotak dibawah lutut berwarna cokelat yang sedang membaca peta Washington D.C. Sepertinya, ia baru datang dari negara bagian lain di US dan sedang mengecek peta dan mencari jalan terdekat ke tempat tujuannya. Aku sekarang sedang di teras bandara sambil menunggu orang dari FBI yang khusus ditugaskan untuk menjemputku. Yes, I'm in Washington now, people. Aku mencari-cari di antara kerumunan para penjemput –yang saling berdesakan sambil mengangkat kertas bertuliskan nama orang yang ingin dijemput- orang dari FBI ini. Aku tidak melihat ada yang mengangkat kertas bertuliskan namaku di antara kerumunan itu. Berarti, orang yang menjemputku tidak ada di antara kerumunan itu, atau ia belum datang.
Sambil menunggu, aku mengambil cellphone-ku yang ada di kantung depan celana jeans-ku. Aku men-dial nomor yang ada di speed dial-ku.
(a/n khusus untuk bagian ini, kalimat yang di-italic menandakan percakapan di telepon, di sisi penerima)
'Kau tidak apa-apa, Misaki? Sudah sampai di D.C.?' suara Tora yang khas terdengar di sisi penerima, penuh dengan kekhawatiran.
Aku tekekeh. 'Tidak apa-apa, kok. Penerbangannya enak, tapi aku sekarang kesulitan mencari orang yang katanya akan menjemputku di bandara,' aku berhenti sambil celingak-celinguk kembali di teras bandara. 'kau sendiri bagaimana? How's your day at work?'
Aku mendengar Tora menghela napas. 'Yah, seperti biasa. Aku ada pertemuan dengan CEO dari perusahaan batu bara di Indonesia. Orangnya enak diajak bercanda, dan sepertinya nanti malam kami akan pergi ke bar. Oh ya, tadi ada yang menelepon ke apartemen kita-'
'Miss Ayuzawa?'
Aku menoleh mendengar nama-ku dipanggil dan tidak mendengar apa yang sedang Tora bicarakan. Aku melihat pria latin berpostur gempal dan lebih pendek dariku sedang menatapku sambil tersenyum. Ia memperlihatkan tanda pengenal bahwa ia adalah agen FBI kepadaku. Aku membaca sekilas dan mengetahui bahwa pria di depanku ini bernama Javier Esposito. Aku mengalihkan pandanganku ke wajahnya yang masih tersenyum.
'Hey, Misaki! Are you still there?'
Suara Tora di telepon mengagetkanku. 'Eh, sudah dulu ya, penjemputku dari FBI sudah datang. Nanti malam kutelepon lagi. Bye.' kataku tanpa menunggu jawaban dari Tora dan langsung mematikan telepon.
'Maafkan aku, Mr. Esposito. Terima kasih telah menjemputku ke sini.' ucapku sambil mengembalikan senyumnya yang sampai sekarang belum meninggalkan wajah pria ini.
Ia tertawa. 'Tidak apa-apa, Ms. Ayuzawa. Now, shall we?' katanya sambil memberi isyarat untuk mengikutinya ke tempat parkir. Aku mengikutinya dari belakang sambil menarik koperku.
'Kita sudah sampai, Ms. Ayuzawa.'
Aku melihat ke luar dari jendela penumpang. J. Edgar Hoover –itulah nama bangunan markas besar FBI yang sedang kulihat ini. J. Edgar Hoover itu sendiri adalah nama dari direktur pertama FBI yang diisukan pernah 'berhubungan intim' dengan sesama lelaki. Well, di dunia yang sudah gila ini apa yang menurutmu tak wajar bisa saja sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu dan kau juga akan terkejut melihat banyak pendukung aliran-aliran yang menurutmu 'sesat' tadi.
Ngomong-ngomong soal arsitektur bangunan ini sendiri, -aku akan beritahu sedikit- bangunan ini dibangun dengan gaya arsitektur Brutalist, seluruh eksterior terbuat dari beton. Majalah Washingtonian mengkritik bangunan-bangunan yang bergaya Brutalist sebagai "Buildings I'd Tear Down" –bangunan yang akan saya hancurkan. Yah, memang bangunan dengan gaya seperti ini kelihatan sangat membosankan, tidak menarik tapi hemat biaya dalam pembangunannya.
Mobil kami masuk ke dalam bangunan dan turun ke basement. Mr. Esposito memarkir mobil kami di sebelah Mercedes-Benz SLR McLaren 722 Edition warna hitam. Sebenarnya, bisa menemui mobil seperti ini di basement markas besar FBI adalah pertanyaan. Siapa yang mempunyai mobil mahal ini? Sejauh yang kutahu, mobil ini menghabiskan delapan tahun gajiku.
Kami berdua melepas sabuk pengaman kami lalu membuka pintu mobil. Mr. Esposito berjalan ke arah lift yang ada di ujung kiri basement. Ia menekan tombol naik di dinding sebelah lift. Beberapa detik kemudian, pintu lift di depan kami sudah terbuka.
'Ladies first.' katanya mempersilahkanku.
Aku dan Mr. Esposito tiba di lantai 5 di gedung J. Edgar Hoover ini. Mr. Esposito keluar lebih dulu. Aku mengikutinya sambil mengamati sekitarku. Para agen sedang berkutat dengan berkas-berkas. Ada yang sedang menelepon, menginterogasi tersangka, dan berdiskusi dengan partner masing-masing.
'Lewat sini, Ms. Ayuzawa.' Mr. Esposito berbelok ke kanan dan di ujung koridor ada pintu yang bertuliskan GERARD WALKER – DIRECTOR OF SPECIAL UNIT FEDERAL BUREAU OF INVESTIGATION (FBI).
'Ini kantor bos-mu nanti. Tenang saja, ia lebih menyenangkan dari yang terlihat. Aku pergi dulu, Ms. Ayuzawa.'
Mr. Esposito tersenyum ke arahku lalu berbalik dan meninggalkannku. Aku menarik napas lalu berkata di dalam hati: Tenang, Misaki. Jangan mengacaukan pertemuan pertama dengan bos baru-mu ini.
Aku memutar kenop pintu lalu membukanya. Aku melihat punggung kursi berbahan dasar kulit berwarna hitam di depanku. Aku masuk ke dalam sambil menutup pintu di belakangku sepelan mungkin. Aku berjalan menghampiri meja kantor yang lumayan rapi, yang menjadi penghalang di antara aku dan bos-ku yang pasti sedang duduk membelakangiku itu. Itu yang kupikir.
'Umm, Mr. Walker? Saya Ms. Ayuzawa dari Baltimore. Saya dipindah-tugaskan ke unit khusus pimpinan anda. Saya yakin, sudah ada pemberitahuan tentang hal ini dari Mr. Jerry Summer, pimpinan saya sebelumnya di Baltimore. Am I right?' kataku mengakhiri perkenalanku.
Tidak ada jawaban.
Satu menit, dua menit. Masih tidak ada jawaban.
'Umm, sir?' kataku tidak yakin sambil berjalan mendekati meja kantornya. Aku berhenti. Jarakku dengan meja di depanku kurang lebih 7 cm. Jika diteruskan lagi, aku akan membentur meja kantornya. Aku mengernyit. Aku berjalan ke kanan, mencoba melihat apakah benar ada orang di balik kursi atau tidak. Dan aku…tidak melihat apa-apa. Kosong.
Benar, kursi itu hanya dibalik saja tanpa ada orang yang menempatinya. Aku bingung. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?
'Mau kau tatap sampai kapanpun, kursi itu tetap akan kosong.'
Aku mendongakkan kepalaku dan melihat pria berambut hitam dan bermata emas melihat ke arahku. Ia tersenyum.
'Sorry.'
Ia tertegun sejenak mendengar perkataanku. Aku sendiri bingung, kenapa begitu saja orang ini langsung diam? Memangnya ada yang salah dengan mukaku ya?
'Ehm. Mr. Walker I assume? My name is Misaki Ayuzawa. I am the one from Baltimore who get transferred to special unit in here.'
Seperti baru kembali ke dunia nyata setelah berjalan-jalan sebentar di dunia khayalannya, pria di depanku lalu mengangguk lalu tersenyum. 'Salam kenal, Ms. Ayuzawa. Yap. Seperti yang kau katakan tadi, aku adalah Gerard Walker, bos-mu selama kau disini.'
Aku mengangguk pelan lalu pertanyaan yang dari awal ingin kutanyakan meluncur sendiri dari mulutku. 'Untuk apa aku dipindah kesini?'
Gerard sempat membelalakkan bola matanya, ekspresinya terkejut. Tapi ia langsung menutupinya dengan baik. Walau begitu, aku masih bisa menangkap perubahan ekspresi wajahnya tadi.
'Ada kasus yang membutuhkan agen-agen diatas rata-rata seperti kau, Ms. Ayuzawa,'
katanya hati-hati. Melihat aku memberikan isyarat agar dia menjelaskan lebih jauh, ia pun melanjutkan, 'kasus yang akan kau tangani nanti hanya satu. Mungkin kelihatannya sepele, tapi aku sendiri tidak yakin. Kami kekurangan petunjuk. Hanya ada satu mayat lelaki yang menjadi petunjukknya. Ia ditemukan di gudang di gedung J. Edgar Hoover ini.'
'Mayat? Di sini?' kataku tidak percaya.
'Iya. Awalnya, kami hanya menganggap ini kasus biasa. Tapi ternyata, apa yang kelihatan di luar tidak sesederhana yang kelihatannya. Kami menemukan kertas yang diselipkan di kantong baju korban.'
'Apa ada tulisannya?'
'Ya. Tulisannya "INTRO" yang ditulis dengan darah.'
'Apa kalian berhasil mengetahui apa arti pesan tersebut?'
'Tidak. Karena itu kami butuh bantuan anda dan partner anda nanti. Pak Presiden berpendapat bahwa ini bukan kasus sembarangan. Ia minta bantuanku untuk menangani kasus ini dan aku juga butuh agen berkualitas untuk membantuku.' Gerard mengakhirinya dengan menunjukkan seringainya.
Aku mengangguk tanda mengerti. Kasus yang menarik sepertinya. Gerard mengambil berkas dari meja kantornya dan menyerahkannya kepadaku. 'Ini berkas tentang kasus tadi. Oh ya, orang luar memanggil unit ini Unit Khusus, tapi sebenarnya unit ini punya sebutan tersendiri.' katanya seraya berbalik dan berjalan menuju pintu.
'Sebutan seperti apa?' kataku sambil membuka berkas kasus dan membacanya dari awal. Kakiku berjalan sendiri mengikuti Gerard keluar dari kantornya. Aku terlalu sibuk terbenam dalam laporan tentang kasus ini sampai tidak menyadari bahwa Gerard sudah berhenti dan pertanyaanku belum dijawab. Aku menabrak Gerard. 'Ups. Maafkan aku, Mr. Walker!' kataku panik.
'Tidak apa-apa.' katanya menoleh padaku. 'Hey, bro! I've got your new partner here!' Gerard berkata setengah berteriak kepada sosok berambut pirang yang sedang menghadap papan tulis kaca yang berisi foto-foto korban dan kertas bertuliskan darah berbunyi "INTRO" yang dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan label 'EVIDENCE' dan ditempel ke papan.
Pria yang kira-kira tingginya 180 cm ini berbalik dan menatap Gerard dengan bosan. 'Jangan teriak-teriak, G.' katanya pelan.
Gerard tertawa. 'Sudahlah, Takumi. Ngomong-ngomong aku bawa partner baru-mu, nih. Agen FBI terbaik dari Baltimore. Kau baik-baik padanya.' Gerard memperkenalkanku sambil mengangkat jempol tangan kirinya dan mengarahkannya ke belakang, ke arahku.
Aku mengangkat dagu ku dan memasang wajah pokerface. Aku selalu memasang pokerface ku setiap bertemu dengan orang baru. Pria yang dipanggil Takumi tadi memiringkan tubuhnya dan melihat ke arahku. Ia menatapku lama dengan mata emeraldnya yang kosong, tajam ke arahku. Aku tidak merasa takut, walau kuakui, tatapannya seolah melihat menembus ke dalam diriku, seperti ingin mencari segala kelemahanku. Aku menatapnya balik. Sesaat, mata emeraldnya dan mata hazelku bertemu.
Gerard menatapku, lalu menatap Takumi kembali. 'Ehem!'
Kami berdua mengalihkan pandangan kami dan kembali memperhatikan Gerard. 'Baiklah, kuharap kalian bisa menjadi partner yang hebat dan menyelesaikan kasus ini secepat-cepatnya. Kalian dua agen terbaik di negeri ini, jadi kuserahkan semuanya ke kalian.' Ia menatap kami berdua sekali lagi. 'Kutinggalkan kalian berdua untuk saling berkenalan sendiri. Jangan lakukan hal yang tidak-tidak ya.' Katanya sambil mengedip ke arah Takumi. Ia pun langsung meninggalkan kami.
Aku berdeham lalu memperkenalkan diriku. 'Misaki Ayuzawa, salam kenal.'
Lawan bicaraku terdiam, lalu berkata sambil membalikkan badannya ke arah papan. 'Takumi Usui. Salam kenal.'
Aku menghela napas dan berjalan kesampingnya, ikut membaca segala informasi yang ada di papan.
HAH! Capek juga ngetiknya! Terima kasih yang udah mau mampir baca chapter 1 dan ngereview. Ngomong-ngomong, 'Au Revoir' itu bahasa Perancis yang artinya Selamat Tinggal/Good bye. Thanks to Kisiki Nagome sebagai pe-review pertamaku *bow down*
Di cerita ini, Misaki udah tunangan sama Tora dan Misaki sama sekali belum kenal Takumi sebelum bertemu di Washington. Tapi tenang saudara-saudara, akan ada adegan2 TakuxMisa kok di chapter-chapter berikutnya.
Tentang bangunan J. Edgar Hoover..hmm bagaimana menjelaskannya ya? Saya cuma dapet gambaran dari luarnya saja selama searching berhari-hari di Google, tapi siapa tau ada yang udah pernah masuk ke gedung itu (atau jangan-jangan ada agen FBI yang sedang baca cerita ini), dan tau gimana keadaaan di dalemnya, silakan beri tau saya.
Oh ya, gaji rata-rata agen FBI itu pertahun berkisar dari $35.000 sampai $65.000 dolar. Nah, saya asumsikan disini gaji Misaki $50.000, sedangkan harga Mercedes-Benz SLR McLaren 722 Edition adalah $482.750 maka dapet deh kira-kira 8 tahun lebih lah baru bisa kebayar itu mobil.
Oke deh, seperti biasa saran dan kritik sangat diterima. Saya heran kok visitors bisa 10, empat dari Indonesia tapi yang nge-review cuma satu. Jangan malu-malu, saya gak gigit kok cuma pervert kayak Takumi(?)
Chapter selanjutnya, mulai deh kasusnya dan misterinya jalan. Yang mau usul kasusnya gimana juga boleeehh.
Review pleaseeee *pasang puppy eyes*
Until next time folks,
- REAGANJACKIE (May 5, 2012. 5:05 PM)
