Kahahahakhaaaa ! *sembari snowboard*
Mampir dulu dah ke leptop ngebuat fic sembari ngilangin sterees mau ujian XDD
Okeh dah author bacot akan memberikan Chapter 01 dari Tak Menyerah Mendapatkan Hatimu inii~
Jadi, silahkan membaca..
Terima kasih untuk Lucida Corsiva dan Tsukishiro Rei yang dengan teliti melihat tanda bacaku yang berantakan *sungkem*
Makasih juga yang udah baca Tak Menyerah Mendapatkan Hatimu 00.
Pokoknya Love you all~~…
Judul : Tak Menyerah Mendapatkan Hatimu 01 by HakkiRin
Disclaimer : jika suatu saat Ryuk sudah tidak suka apel lagi, Death Note tetep milik Tsugumi Ohba & Takeshi Obata
Rating : Teen
Peringatan : OOC, AU, sho-ai (atau pertemanan ya?), typo(s), etc.
Tak Menyarah Mendapatkan Hatimu
01 Kenapa dengan Hatiku ?
Setelah melewati hari pertama men-dubbing yang aneh (karena kunjunganku ke apartemen si mangaka, walaupun pada akhirnya kita tak membicarakan apapun).
Hari keduaku menjadi seiyuu tokoh utama heroin anime ini kukerjakan dengan mulus.
Tak ada kesalahan.
Secara, aku ini orang yang perfect !
Tetapi hari ini si hikikomori mangaka itu tak ada disini.
Mengapa disaat aku men-dubbing tokoh utama dalam anime-nya dengan perfect, dia malah tidak datang kesini ? batinku.
Entah otakku yang sudah terhipnotis oleh kata arigatou-nya atau demi pemulihan nama baikku terhadap adikku, Sayu, aku terus berharap bisa berada didekatnya.
~510~
Saat aku selesai men-dubbing tak kusangka hari sudah malam.
Huh ! Sudah jam 7 malam lagi.. ucapku dalam hati, kesal.
Sampai tiba-tiba ada yang memanggilku yang sedang terduduk.
"Yagami-saan~~~," ucapnya imut. Karena secara penampilan, dia memang imut.
Misa Amane, cewek berambut pirang yang selalu menguncir dua (sedikit) rambutnya itu berlari menujuku dengan emm.. boleh dibilang lari yang kawaii.
"Aku membelikanmu sekaleng kopi. Dark coffee !," ucapnya memberikan sekaleng dark coffe padaku seolah dia tau bahwa aku tak suka yang manis-manis.
"Arigatou, Misa-san"
Ia tersenyum–sekali lagi dengan imut–kepadaku membuat orang-orang yang saat itu sedang disana terpana padanya.
Aku pun mulai berjalan meninggalkannya.
"Yagami-san mau kemanaa~~ ?," ia mengejarku.
Kubuat saja alasan sejadinya,"Aku mau pergi ke suatu tempat."
"Heeee~~…. Kau tak akan ikut minum-minum lagi ?," tanyanya.
Sekarang ia berdiri dihadapanku, memandangku dengan mata penuh harap.
"Uum.. Sepertinya aku tidak bisa, Misa-san. Aku harus menjenguk eer.. temanku..," ucapku seenaknya, sweatdrop.
Ia memiringkan kepalanya kesebelah kanan.
"Jangan-jangan Yagami-san ingin menjenguk Ryuuzaki-sensei,yaa ?,"tebaknya dengan mata terbinar-binar.
"Uuum.. eetoo.. eeer..," aku pun kehilangan kata-kata.
Dengan cepatnya ia mengangkat tangan kanannya ke atas dan berkata dengan penuh semangat,"Misa juga ikuut~ ! !"
"Eeeeh ?"
"Misa mau menjenguk Ryuuzaki-sensei juga !," ucapnya masih dengan tangan kanan mengangkat ke atas.
Aku hanya bisa terdiam, tambah sweatdrop.
"Nee~.. Nee~.. Boleh kan, Yagami-san ?," sekarang ia menautkan kedua tangannya di dada seolah memohon padaku.
"Eeem.. eh, iya, deh gak apa," ucapku dengan menggaruk bagian belakang kepalaku yang tidak gatal.
"Horee !," teriaknya sembil melompat-lompat.
"Tunggu disini ya, Yagami-san. Misa mau ambil tas Misa dulu~…," ia pun berlantun sambil pergi meninggalkanku.
~510~
TOK TOK
"Ryuuzaki-sensei~~.."
TOK TOK
"Ryuuzaaakiii-senseei~~.."
TOK TOK TOK
"Ryuu-senseiiii~~.."
Anak ini pantang menyerah, batinku.
Ya, aku dan Misa sudah berada didepan pintu apartemen si mangaka hikikomori ini selama hampir 30 menit. Sampai suatu suara mengagetkan kami.
"Sedan apa kalian disini ?"
Aku dan Misa pun berbalik melihat pada orang yang bertanya tersebut.
"Mikami-saan !," ucap Misa dengan mata berbinar.
Aku setengah membungkuk kepadanya. Ia pun membalasnya.
Dia adalah Teru Mikami-san, editor-nya Ryuuzaki-sensei.
"Kalian belum menjawab pertanyaanku, sedang apa kalian disini ?," tanyanya dengan penekanan di kalimat 'sedang apa kalian disini'.
"umm.. i..itu," aku menjawab dengan tergagu.
"Yagami-san dan Misa disini mau menjenguk Ryuuzaki-sensei, Mikami-san," ucap Misa menundukkan kepalanya.
Mikami-san kaget dan mulai bereaksi,"Memang dia–Ryuuzaki–tidak ke tempat dubbing ! ?"
Misa menggeleng. Aku hanya bisa berdiam melihat 'muka cemas bercampur marah'-nya Mikami-san.
"O… Orang itu !," geram Mikami-san.
Ia pun mengeluarkan kunci apartemen (sepertinya kunci duplikat apartemen Ryuuzaki-sensei) dan memasukkannya ke lubang kunci pintu aparteman Ryuuzaki-sensei.
"RYUUZAKI ! !"
Aku terdiam dengan Misa bersembunyi di belakang punggungku, gemetaran. Sepertinya ia takut atas teriakan Mikami-san tadi.
"RYUUZAKI ! ?"
Sekarang teriakan Mikami-san menunjukkan seolah dia menemukan sebuah–seorang–mayat.
Aku pun bergegas menelusuri apartemennya Ryuuzaki-sensei, menuju arah suara Mikami-san.
"Ya.. Yagami-san.. Tunggu Misaa…"
Misa mengekor padaku, takut menginjak sesuatu. Apartemen ini memang sangat berantakan–lagi–dan gelap. Makanya Misa mengekor padaku.
"Ada apa, Mikami-san ?,"tanyaku khawatir.
"Hu… A.. Apa Ryuuzaki-sensei baik-baik saja, Mikami-san ?," tanya Misa yang ada dibelakangku.
Disana terlihat seseorang tengah digendong di punggung Mikami-san.
"SENSEI ! ?,"teriakku
Aku menghampiri Mikami-san dan orang–Ryuuzaki-sensei–yang digendongnya.
"A..ada apa, Yagami-san ?," tanya Misa yang aku tinggalkan di depan pintu ruangan–dapur–tersebut.
"Tenang saja. Dia tidak apa-apa, Yagami Raito."
"Hu… Huum.. Bi.. Biar kubantu, Mikami-san."
"Tidak usah. Biar aku saja yang membawa dia ke kamarnya."
Misa yang terdiam di depan pintu memberi jalan pada Mikami-san yang menggendong Ryuuzaki-sensei.
Aku mengikuti Mikami-san dengan Misa dibelakangku–gemetaran.
Sesampai dikamarnya–yang lumayan Rapi–Ryuuzaki-sensei. Mikami-san menidurkannya di ranjang yang ada di kamar itu.
Setelah Ryuuzaki-sensei ditidurkan diranjangnya, aku mulai melihat ada beberapa bercak noda darah di baju putihnya yang lusuh.
Aku pun angkat bicara dengan nada khawatir,"Ryuuzaki-sensei kenapa, Mikami-san ?"
Misa yang masih mencubit bagian belakang bajuku masih gemetaran dan mulai menangis. Takut terjadi apa-apa pada si Sensei.
"Ahahahaha ! Dia, orang bodoh ini, hanya terlalu kelelahan. Padahal dia tau dia punya anemia–kekurangan darah. Tapi ia selalu memaksakan dirinya. Dan jika ia sudah memaksakan dirinya, secara otomatis dia akan mengeluarkan darah dari hidungnya. Kondisi itu akan membuatnya pingsan. Hahahaha !"
Pantas saja Mikami-san bilang Ryuuzaki-sensei dengan sebutan 'orang bodoh', batinku.
Lalu, tiba-tiba aku merasakan bagian punggungku basah.
Hei, kenapa baju bagian belakangku basah begini ?
Aku pun melihat kebelakang punggungku. Disana Misa menyembunyikan mukanya dibalik kaosku yang berwarna hijau tua.
"Huu.. Huu.. Mi.. Misa takut.. Misa takut Sensei kenapa-kenapa.. Huu.. Hiks," ucapnya terbata-bata dengan kaosku yang menjadi tumpuan airmatanya.
Mikami-san yang saat itu masih terduduk dipinggir ranjang pun berdiri menghampiri Misa.
Misa pun menengokkan kepalanya kepada Mikami-san yang telah berdiri disampingnya.
"Misa… Ryuu-sensei gak apa-apa, kok.. Jangan khawatir. Lebih baik Misa pulang sekarang, ya," ia mengelus rambut Misa.
"umm.." Misa mengangguk pelan.
"Biar kuantar, Misa" ucapku pelan.
"Tidak usah, Yagami Raito. Aku membawa mobil dibawah. Aku akan membiarkan Misa pulang dengan supirku. Tak apa kan, Misa ?"
Misa mengangguk pelan lagi.
"Biar kuantarkan kau pada supirku, Misa."
Mikami-san dan Misa pun meninggalkanku dan Ryuuzaki-sensei yang masih terbaring–pingsan.
~510~
Mikami-san kembali lagi ke apartemen Sensei setelah mengantar Misa ke mobilnya.
Dia membuka jas hitamnya dan melepas dasi merahnya, lalu menyimpannya di kursi terdekat. Kemudian dia membuka dua kancing teratas kemejanya dan melinting lengan kemejanya yang putih, berjalan menuju dapur.
"Kau belum pulang, Yagami Raito ?," tanyanya membawa segelas air setelah memasuki kamar Ryuuzaki-sensei.
Aku menggeleng pelan.
Keadaan mulai hening kembali. Mikami-san menyimpan gelas diatas meja dan membuka laci meja yang ada dikamar itu. Mengambil beberapa obat dari sana. Yang satu obatnya adalah kapsul berwarna merah dan satu lagi obatnya adalah pil berwarna putih.
Mikami-san membawa kedua obat itu ditangan kanannya dan segelas air ditangan kirinya, menuju ranjang.
Aku melihatnya dengan terdiam dan tak mengerti apa yang akan dilakukan Mikami-san dengan segelas air itu dan kedua butir obat yang dipegangnya.
Aku pun mulai bertanya," Apakah itu obatnya Ryuuzaki-sensei, Mikami-san ?"
"Ya," balasnya singkat sambil mendudukan dirinya di ranjang Ryuuzaki-sensei. Ia menyimpan segelas air yang dipegangnya di sebuah meja kecil yang berada di dekat ranjang itu lalu menopang kepala Ryuuzaki-sensei ke pahanya.
Aku masih berdiri didekat pintu kamar tersebut. Sampai akhirnya, Mikami-san memasukkan kapsul merah ke dalam mulut Ryuuzaki-sensei. Mengambil air yang tersimpan di meja tadi dan meminumnya–tapi tidak ditelan. Hingga ia pun mengangkat kepala Sensei dan mengalirkan air yang ada didalam mulutnya ke mulut Sensei, supaya kapsul merah itu tertelan oleh Ryuuzaki-sensei.
DEG
"Se.. Sepertinya aku harus pulang, Mikami-san. Tadi Sayu menelponku untuk membelikannya coklat di supermarket terdekat," ucapku, bohong.
"Hn" jawab Mikami-san sambil memasukkan pil putih kedalam mulut Sensei dan mengulang adegan tadi.
"Jaa…," ucapku melambaikan tangan, meninggalkan apartemen itu dengan berlari.
Ke… Kenapa hati ini sakit sekali ? ucapku dalam hati sambil terus berlari dan memegang bagian 'hati'ku yang sakit.
~TBC~
Haduuduuh..
Susah juga buat fic drama ini.
Kata-katanya begitu serius.
Beda banget ama pribadi aku yang suka nge-banyol. (–w–)
Jadi, mohon maaf jika kurang memuaskan. *dogeza*
Mungkin terlalu cepat Raito sakit hatinya, ya ?
Tapi aku lebih suka begini.
Mungkin aku akan buat Raito nyadarnya lama alias berlarut-larut (dibunuh Readers).
Akhir kalimat;
Silahkan caci maki, beri kritik, saran, ide atau apapun yang lainnya. Review Please~.. :D
