Disclaimer: Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya, sedangkan Fatal Frame belongs to TECMO.
Warning: GAJE, aneh, dan hal jelek lainnya. Ada sedikit Yaoi hint disertai Incest. Bagi yang tidak suka hal-hal diatas, dimohon untuk tidak membaca fic ini karena dikhawatirkan malah akan mengirim 'flame'.
Chapter 1 : The Lost Village
"Mattie?"
Melihat saudara kembarnya tak ada lagi disana, America langsung berdiri dan mencoba mencari saudaranya tersebut.
"Ayolah, jangan bercanda Mattie. Kau tahu kan, kalau... aku ini... penakut?" ujar America, mulai cemas.
Tapi tetap saja, dia tak berhasil menemukan pemuda berambut pirang itu. Instingnya mengatakan, bahwa Canada benar-benar tidak berada disekitar tempat dimana ia berdiri. (walaupun biasanya, pake insting sekalipun memang ga kerasa).
Rasa cemas membuatnya langsung merogoh saku bajunya. Memencet tombol-tombol telepon genggamnya dengan gusar. Berharap saudaranya itu akan menjawab teleponnya, dan berhenti bermain-main ditempat yang bahkan tidak begitu dikenal di Jepang.
"Cih, tidak diangkat. Ayolah, Mattie. Oke, aku tidak akan menggoda mu lagi. Jadi, kumohon angkat teleponku." ujar America, gusar. Matanya terus menelusuri setiap sisi hutan, telinganya terus mendengar kalau-kalau ada suara isakan tangis, ataupun tawa mengejek dari saudaranya itu.
Satu hal yang dia dapatkan hanyalah, bunyi telepon genggam Canada yang terdengar nyaring ditelinganya. America pun berasumsi, saudaranya itu pasti masih disekitar sini. Pasti!
"Mattie? Tunggu sebentar?"
America pun menelusuri sumber suara itu, berharap menemukan saudaranya secepat mungkin.
Dan akhirnya, dia menemukan Canada. Di Hutan, sedang mengejar sesuatu...
"Kupu-kupu merah?"
Indonesia hanya tersenyum simpul, matanya terus menatap lekat Japan dan Netherlands. Tangannya menunjukkan sebuah buku tua berbahasa Jepang yang lembaran kertasnya sudah menguning juga ujung yang dimakan rayap dan tikus.
Japan langsung mengambil buku tersebut, dan membaca halaman demi-halaman. (sedangkan Netherlands hanya bisa cengo karena sama sekali tidak bisa membaca kanji)
"Oh tidak, ini gawat..." ujar Japan. "Daerah itu..."
"Ada apa, Nihon?" tanya Netherlands, cemas melihat perubahan sikap Japan yang mulanya tenang menjadi sedikit... ketakutan?
"Panggil America dan Canada kembali."
"Mattie..."
America yang berhasil menemukan saudaranya itu dengan segera berlari mengejar Canada yang, ya... terlihat mengejar sesuatu.
"Mattie, tunggu aku."
America berusaha sekuat tenaga untuk mengejar kakaknya itu, namun keadaan tanah disekitar hutan yang berbatu-batu juga jurang dalam disamping jalan yang dilaluinya menghambat gerakannya untuk segera menggapai Canada yang sudah cukup jauh darinya.
"Mattie, tunggu aku. Sh*t, kenapa harus ada jurang pula disini."
Dengan hati-hati, America mencoba mempercepat larinya. Sedikit lagi, sedikit lagi, pikirnya.
Sedangkan Canada terlihat sama sekali tidak mendengar sedikitpun perkataan America, Ia terus mengejar sebuah (atau seekor) benda melayang berwarna merah darah yang sepertinya... menuju ke suatu tempat.
Sedikit lagi, hanya tinggal beberapa sentimeter saja jarak America dan Canada. Walaupun sudah berulang kali America memanggil saudaranya itu, tapi tetap saja. Canada sama sekali tidak merespon sedikitpun dan terus berjalan...
"Ugh, sudah cukup main-mainnya Mattie. Kita sudah cukup jauh dari tempat awal kita tahu." teriak America disela-sela larinya.
Putus asa dengan usahanya memanggil Canada, America mencoba menarik kakaknya itu.
Sedikit lagi...sedikit lagi...
Tinggal beberapa senti lagi...
-GRAB-
"Ketangkap kau, Mattie." seru America
"Perlu kita jemput mereka, Nihon?"
Japan menoleh kearah Indonesia yang masih membaca salah satu buku sejarah dan ritual-ritual kuno Jepang. Japan menoleh masih dengan wajah khawatirnya.
"Bagaimana, kalau kita coba hubungi mereka dahulu?" usul Japan
"Netherlands sudah mencoba, tapi dua-duanya tidak diangkat." jawab Indonesia, datar. Masih membaca buku sejarah milik Japan.
"Cih, bagaimana ini?" ujar Japan sambil menggigit kuku jempolnya "Jika mereka tidak kembali..."
Indonesia menutup bukunya, langsung menghadap kearah Japan yang sudah sangat gusar. Wajahnya cemas, keringat mengalir deras dari wajah pucatnya.
"Bagaimana kalau kami menyusul mereka?" usul Indonesia, sambil tersenyum.
America memang telah berhasil membuat saudaranya itu berhenti.
Tapi, daerah tempat mereka berhenti sekarang betul-betul menyeramkan. Hutan disekeliling sangat lebat, sinar matahari yang tadinya masih bersinar benar-benar telah lenyap, bahkan jalan setapak yang mereka lewati benar-benar sudah tidak terlihat.
Satu hal yang membuat America benar-benar takut adalah...
Siluet wanita berambut bob, yang mengenakan kimono putih berdarah. Yang tadinya ada dibelakang Canada.
Dan sekarang Canada ada disampingnya, tidak bergeming, diam seperti patung sambil memeluk Kumajirou. Beruang Kutub kesayangannya.
"Mattie, dimana ini? Kenapa kau tiba-tiba meninggalkanku?" tanya America sambil memaksa saudara kembarnya itu untuk menatap wajahnya.
Tatapannya kosong, seakan-akan Canada sendiri tidak sadar apa yang baru saja dia lakukan. Sekilas, terlihat seperti orang yang habis... kerasukan?
Seketika itu juga, aura disekeliling mereka berubah. Canada membuka mulutnya, hanya untuk mengucapkan satu kalimat...
"Desa yang hilang..."
"Nihon, kami akan pergi menyusul mereka." ujar Netherlands
Kalimat barusan membuat Japan tersentak, tidak. Ia tidak boleh membiarkan seseorang (apalagi orang luar seperti mereka) datang ke tempat seperti itu.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan kalian pergi." ujar Japan tegas.
"Tapi, America dan Canada belum juga kembali. Teleponnya juga tidak diangkat, bagaimana kalau terjadi sesuatu?" balas Netherlands
"Tapi...tapi... kalau seandainya, kalian... umm... a-aku bisa dimarahi boss-ku dan juga boss kalian." ujar Japan terbata-bata.
Indonesia menatap kearah negara yang dahulu sempat menjajahnya selama 3.5 tahun itu. Ya, dia sudah tahu segala kecemasan Japan. Tempat itu, segalanya. Dia sudah berulang kali membaca buku itu semenjak tiba di negeri Bunga Sakura tersebut.
"Tenanglah, Nihon. Biarkan aku dan Holland mencari mereka." ujar Indonesia sambil memegang pundak salah satu negara maju di Asia Timur itu.
Japan hanya menatap mereka berdua. Kalaupun seandainya mereka tetap bersikeras pergi, ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Dia berlari menuju kamarnya, mengaduk-aduk isi lemarinya, dan memberikan sesuatu pada Indonesia. Sebuah kotak usang yang –sepertinya- berisi sesuatu...
"Jika kalian bersikeras pergi, kumohon bawa benda ini."
Indonesia hanya menatap bingung kearah pemuda itu, sambil membuka kotak usang pemberian Japan itu.
Sebuah kamera tua...
"Al, kita dimana?"
America tertegun mendengar kalimat Canada barusan, jadi dari tadi ia berjalan tanpa tujuan? Bahkan tak tahu akan kemana?
"Kau ini bagaimana, tadi kan kamu yang berjalan kesini. Daritadi aku memanggilmu, tapi kau tidak memedulikanku. Kau terus saja berjalan, sampai kita terjebak disini." ujar America marah.
Canada terdiam, matanya menghadap ketanah dan menguatkan pelukannya ke Beruang Kutub kesayangannya. Badannya bergetar, dan isak tangis mulai terdengar dari nada bicaranya.
"Maaf, maaf. Aku tak tahu... Aku... ha-hanya mengikuti seekor kupu-kupu..." ujarnya terbata-bata.
America menghela nafasnya, "Kau ini benar-benar tidak berubah, Mattie. Tapi, kenapa kau tidak menjawab panggilanku?"
"Aku, aku tak tahu. Tadi itu seakan-akan, ada seseorang yang berkata sesuatu, memerintahku untuk mengikuti kupu-kupu itu. Dan, aku. Aku tak sadar sama sekali, aku benar-benar dikuasai bisikkan itu. Aku...aku..."
Canada tidak sanggup meneruskan kata-katanya, air matanya mengalir. Perasaannya kacau, dia sama sekali tak tahu. Tak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
America yang merasakan perasaan kacau saudaranya itu (juga kejujurannya soal 'mengejar kupu-kupu tanpa sadar tadi), merangkul saudaranya itu. Memeluknya.
"Shh...shh... sudahlah, tak apa. Tenangkan pikiranmu, kita ingin segera keluar dari tempat ini kan?" hibur America sambil mengusap lembut rambut pirang Canada dan menghapus air matanya.
"Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi...seperti waktu itu."
America mengusap wajah saudaranya, seraya mengangkat agar Canada melihat wajahnya saat itu juga. Senyum kepahlawanan khas dirinya, tersungging dengan jelas diwajahnya.
"Tidak akan, Mattie. Tidak akan pernah..."
Ap...apa-apaan ini? Sudah saya menduga akan kemasuk unsur 'ehem' seperti ini. Dan, kenapa settingnya jadi berganti-ganti begini? Huaa... saya mohon maaf jika ada readers yang terganggu karena banyaknya perpindahan latar. Dx
Dan lagi, Canada kok cengeng banget yah? (Padahal dia kan tegar, walaupun ga pernah dipeduliin sama negara lain) maaf, saya sudah membuat dirimu OOC Mattie. Dx
Buat yang sudah review, arigatou! Saya ga nyangka, fic gaje kayak gini ada juga yang mau review. :D
Oh iya, jangan lupa untuk mereview chapter yang ini yah.
Alright, sampai jumpa di chapter selanjutnya! –wave hands-
Created on: Saturday, 13th February 2010. 19:30
