The Wedding Path

Path 2: Nice Bet

Pairing : Dino x Girl!Hibari

Genre : Romance – Humor

Rate : T

"Kyouya… yakin, nih?"

"Lakukan saja. Kali ini aku akan menurut."

"Tapi, wajahmu mengatakan kalau kau terpaksa. Kalau aku melakukannya, kau jangan menolak ditengah-tengah, ya."

"...Hanya berlaku satu kali."

"Baiklah. Kalau begitu…"

"Satu lagi. Setelah semua ini usai, bersiaplah untuk kugigit."

Dino tersenyum, "Akan kupikirkan. Nah, sekarang…"

*****

Sunday, April 15th.

11.45 a.m.

Hibari Kyouya sedang berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu Dino. Dia tak memakai seragam, melainkan pakaian yang dibelikan Dino untuknya.

Bisa-bisanya aku kalah dalam pertarungan kemarin, Hibari kesal, dan kenapa juga aku harus menuruti kemauannya seharian?

Itu gara-gara kemarin:

Saturday, April 14th.

Hibari membuka matanya dari kesenangan dunia mimpi menuju kenyataan. Yang pertama dilihatnya adalah Dino yang sedang tidur di sampingnya, berbantalkan tangan kanan, jaketnya dilepas dan dibuat untuk menyelimuti Hibari, tangan kirinya mendekapnya.

Hari masih siang dan cuacanya cerah. Pohon sakura melindungi mereka dari cahaya matahari. Angin bertiup lembut, membuat pohon-pohon bergemerisik pelan dan kelopak-kelopak sakura berguguran.

Hibari memeriksa jam tangannya. Jam dua siang. Sudah lewat jam makan siang, pantas saja dia merasa lapar dan terbangun. Tapi Hibari masih malas untuk beranjak dari tempat hangat dan nyaman tersebut, dia masih merasa ngantuk. Dan akhirnya, dia memejamkan matanya kembali…

...Hanya untuk terbangun oleh suara berisik yang mengganggunya.

Dino sedang tertawa terbahak dengan Romario yang datang membawakan makanan untuk mereka berdua. Mungkin mereka sedang membicarakan hal lucu, tapi hal itu tidak lucu jika mengganggu waktu tidurnya.

"Kami korosu," dengan suara serak bangun tidur dan mata masih setengah mengantuk, Hibari langsung mengeluarkan kedua tonfanya.

"Ah? Wah, gawat," ucap Dino tenang, "mundur Romario. Pertandingan akan dimulai lagi."

Mereka bertarung.

Kemudian ditengah-tengah pertarungan Dino bicara pada Hibari.

"Hei, Kyouya," Dino memulai, "bagaimana dengan taruhan?"

Sambil melompat untuk mengelak dari serangan cambuk Dino, Hibari mendengarkan. "Taruhan? Menarik," kini bergerak menendang Dino dari atas, "Apa taruhannya?"

Menghindar, "Jika kau menang, perlakukan aku sesukamu. Jika akuyang menang, kau harus menuruti satu permintaanku. Bagaimana?" serang balik, tapi Hibari juga bisa menghindarinya.

"Baiklah."

"Sekarang aturannya," sambil menghindari serangan kedua tonfa Hibari, "Siapa yang duluan terjatuh, dia kalah."

"Setuju. Dan sudah waktunya bagimu untuk mencium tanah."

Dino nyengir, "Dengan kata lain, kau mengakui bahwa aku tidak terkalahkan, 'kan?" mencambuk diagonal ke atas.

"Tidak juga. Dan kali ini…

!?"

Dengan sukses, cambuk Dino membelit pergelangan kaki Hibari (de javu) dan menariknya jatuh.

"Dan kali ini," kata Dino sedikit urakan, "Aku menang lagi. Kalau begitu, kuminta mulai besok dari jam duabelas siang sampai lusa jam duabelas siang, maksudnya 24 jam, kau harus menurut padaku. Dan selama itu kau juga pakai baju yang kubelikan, ya."

"...Kami korosu…"

Begitulah, pada akhirnya Hibari harus menggunakan pakaian yang dibelikan Dino untuknya. Ditambah lagi, harus menurutinya selama 24 jam! Dan sekarang kembali lagi kemari, di depan gerbang sekolah, di hari Minggu yang seharusnya dia bisa menikmati waktu tidur, menunggu seorang bodoh datang. Bodoh. Sekali lagi, B-O-D-O-H.

Catatan: Hari ini dia sedikit temperamental.

"Lho? Hibari-san?"

Hibari segera mencari sumber suara tersebut. Ternyata Sawada Tsunayoshi, Gokudera Hayato, Yamamoto Takeshi, Sasagawa Ryouhei, Reborn, Bianchi, Miura Haru, Colonello, dan pasangan bocah berisik Lambo dan I-Pin sedang melongo keheranan menatap dirinya.

Dan merekapun gempar.

"HIBARI-SAN?! TIDAK MUNGKIN!!" Sawada Tsunayoshi tak percaya.

"Kutukan setaaan!!" Gokudera teriak tidak jelas.

"Oi oi… nggak nyangka, lho… cewek, toh…" Yamamoto senyum.

"WUAHHH! KEJUTAN YANG EXTREME!!" ini logat Sasagawa Ryouhei.

Dan sebagainya.

"Kenapa kalian bisa ada di sini?"

Karena yang lainnya masih ribut-ribut sendiri, yang jelas membuat Hibari mulai kesal karena dia tidak suka keributan, Tsuna yang menjawabnya dengan gugup, "Uhmm… be-begini… tadi kami semua dapat telepon dari Dino-san. Dan… dia bilang mau memberitahukan sesuatu. Jadi kami harus berkumpul di gerbang sekolah."

Jadi itu!

Si Bodoh satu itu! Jadi dia mau mempermalukan dirinya di depan semua orang!

Urat yang ada di dahinya berkedut.

"...Orang yang mempermainkanku…" langsung saja, kedua tonfanya siap di masing-masing tangannya, "akan kugigit hingga mati!"

"HYAAAU!" semuanya langsung mundur ketakutan.

"Yoo, Kyouya. Kuminta tak ada perkelahian untuk hari ini."

Hibari menoleh sengit. Dino Cavallone, si biang keladi, mendadak muncul dengan Romario dibelakangnya.

"Hmm, kau berani datang. Dan apa maksudmu dengan semua ini?" tanya Hibari dengan nada mengancam. Tsuna dan yang lain bergidik ketakutan.

"Wah, dengar dulu," kata Dino sambil mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan Hibari supaya tenang. Lalu dia berbalik untuk bicara ke yang lain, "Nah, sudah kumpul semuanya? Sekarang dengarkan. Hari ini, aku sebagai pemimpin keluarga Cavallone kesepuluh, menyatakan bahwa Hibari Kyouya adalah tunanganku yang resmi."

Tsuna dan yang lainnya terbelalak.

"Hi-ba-ri Kyou-ya res-mi men-ja-di tu-nang-an-ku." Dino mengulang.

Hibari syok, mematung. Tak disangka Dino akan mengatakan hal ini sekarang. Walau dia tahu kalau Dino itu memang bodoh.

"UAPPAAAAAAAAAAAA?!!"

*****

"Nah, aku sudah cari tempat yang bagus untuk menikmati sakura yang mekar, dan aku juga sudah menyiapkan peralatan dan bekalnya," jelas Dino. "Jadi, bagaimana kalau kita pergi sekarang?"

"Terserahlah."

"Bagaimana dengan mereka?" Dino menunjuk Tsuna dan keluarganya, yang masih berdebat mengenai Hibari dan pernyataan Dino.

"Aku tak suka menikmati sakura dengan suasana berisik."

Dino kembali nyengir dan memberi perintah pada Romario, "Kalau begitu, Romario, ajak Tsuna dan keluarganya makan duluan di restoran yang sudah kita reservasi. Kami berdua akan menyusul nanti."

Romario mengerti, "Baiklah, Bos." Lalu dia mengajak pergi Tsuna dkk.

"Oke, kita pergi Kyouya."

Dino berjalan menuju mobilnya dan membukakan pintu untuk Hibari. Entah kenapa, Hibari merasa malu. Kemudian, Dino menancap gas dan mengendarai mobil menuju tempat yang dikatakannya.

Perjalanan dengan mobil itu cukup cepat, sekitar 20 menit dari sekolah.

Dino segera memarkir mobilnya. "Tunggu," katanya, lalu dia keluar dari mobil dan sekali lagi membukakan pintu untuk Hibari.

"Ada apa denganmu?"

"Ada apa denganku? Masa' tidak boleh aku bersikap begini pada tunangan sendiri?" kata Dino dengan senyumnya yang lembut.

Dino menggandeng tangan Hibari yang dengan enggan harus menurutinya, "Kau tenang saja. Tempat ini sudah kupesan sejak kemarin, jadi hanya kita saja yang ada disini. Nggak akan berisik."

Mereka duduk di tempat yang sudah dipersiapkan dan memandangi keindahan sakura yang berguguran. Bekal mereka berupa dua kotak sushi, beberapa kaleng bir dan air mineral, serta cheese burger yang dipesankan Dino khusus untuk Hibari.

"Nih."

Hibari mengambil cheese burger yang disodorkan Dino dan memakannya habis.

"Nih."

Hibari mengambil air mineral yang disodorkan Dino dan meminumnya.

"Nih."

Hibari mengambil setangkai lili putih yang disodorkan Dino dan memandanginya dengan heran.

"Nih."

Hibari mengambil… sebuah cincin?

Dia langsung menatap Dino, "Aku tidak pakai perhiasan."

Dino tersenyum padanya, "Aku tahu."

"Kalau kau tahu, kenapa memberikan ini padaku?"

"Itu cincin pertunangan. Lihat, aku juga pakai," Dino menunjukkan cincin di jarinya, "Kita satu set."

"Jadi aku harus memakainya?"

Dengan ekspresi tenang dan pengertian, Dino menjawab, "Tidak, tidak harus. Kalau kau tak mau memakainya, kau bisa membuatnya menjadi kalung, atau kau simpan di laci mejamu. Tapi jangan kau hilangkan, lho."

Hibari menatapi cincin tersebut. Bentuknya simpel dan sederhana, terbuat dari bahan silver berkualitas tinggi, permata menghiasi bagian tengahnya, dan di sisi bagian dalam terukir kanji namanya. Kemudian tanpa mengatakan apapun lagi, Hibari memakai cincin tersebut. Ukurannya benar-benar pas di jarinya. Bagaimana Dino bisa tahu ukurannya?

"Dengan begini tidak akan hilang."

Dino tak menyangka sama sekali bahwa Hibari mau memakai cincin itu. Wajahnya sedikit tersipu, mulutnya yang tadinya terperangah kini nyengir lebar.

Dino merentangkan tangannya pada Hibari, "Kesini, Kyouya."

Hibari memang tidak suka diperintah, tapi untuk kali ini, dia tidak merasa bahwa itu adalah sebuah masalah. Tanpa ragu, Hibari mendatangi Dino yang kemudian merangkul gadisnya dengan hangat dan erat.

Hibari memejamkan matanya.