I HATE MOS! 2: BE DIFFERENT

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance, Humor (just little maybe?)

Warning(s): OOC, typos, aneh, lebay, full of narsis (?), dll.

Summary: Semenjak MOS, kehidupan Sakura memang berubah. Tapi, bagaimana kalau Sasuke juga ikutan berubah?/"Menjadi pasangan yang berbeda?"/Narsis?/"Aku hanya berani melakukannya di hadapanmu."/"Aishiteru, Sasuke-kun!"

Don't like, don't read!

Enjoy! ^^

.

.

.

Sasuke's POV

.

.

Chapter 2: I Can't, Jidat Cerewet

"Aku memang tampan dan ketampananku tidak bisa dibandingkan dengan Daniel Radcliffe," ujarku lalu kembali berjalan bersama Sakura. Sakura hanya tertawa cekikikan. Baiklah, ini baru langkah pertama. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

"Sasuke-kun, terima kasih sudah mau mengantarku sampai ke kelas," tutur Sakura ketika kami berdua telah sampai di depan kelasnya.

"Hn. Bukankah hal ini sudah sewajarnya terjadi?"

"Haha, kau benar, Sasuke-kun." Sakura tertawa kecil. Aku kembali melangkah menuju kelasku. "Oh, ya, Sasuke-kun!" panggil Sakura tiba-tiba.

Aku membalikkan tubuhku. "Ada apa?"

"Umm, tidak ada yang mau kau atakana sebelum meninggalkanku?"

Aku melangkah ke arahnya. "Yang mau aku katakan?"

Sakura mengangguk mantap.

Aku berpikir sejenak. "Ganbatte."

"Hm? Kau tidak mau menyebut nama kekasihmu yang imut ini?"

Aku tertawa kecil melihat kenarsisannya. "Ganbatte, Sakura-chan."

"Ganbatte, Sasuke-kun!"

Aku mengelus-elus lembut puncak kepala Sakura sejenak, lalu aku mulai melangkah menuju kelasku. Tak lama aku sudah berjalan…

"Sakura~! Ohayou!"

"Ah! Ohayou, Ino!"

Argh! Lagi-lagi wanita itu! Entah mengapa kalau Sakura berada di dekat wanita itu, perasaanku menjadi tidak enak. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Sakura.

.

.

.

Aku mulai menjejakkan kakiku di dalam ruang kelasku. Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri karena aku ditatap terus oleh teman-teman sekelasku maupun siswa-siswi yang lewat di depan kelasku. Ada apa ini?

Apakah aku memang tampan?

Tidak, tidak!

Kuakui bahwa aku memang narsis. Tapi aku sama sekali tidak ingin menunjukkan kenarsisanku di depan banyak orang! Oh, tidak! Image-ku hancur sudah!

Tak lama kemudian, Shikamaru masuk ke kelasku yang diikuti oleh Chouji.

"Sasuke, hoaaaaaam!"

"Ada apa?"

"Kakashi-sensei meminta laporan mengenai acara MOS 3 hari kemarin. Hoaaaaaam!"

"Hn. Baiklah."

"Hoaaaaam!"

"Hei, Shika! Kau mau menjenguk Neji hari ini?" tanya Chouji. Mereka berdua masih berada di kelasku. Lebih tepatnya, di depan mejaku.

"Hmm, entahlah. Hoaaaaam!"

"Katanya rambut Neji bakalan dipotong."

"Memangnya dia mau? Hoaaaaaam!"

"Tentu saja tidak. Kemarin dia mencoba kabur dari rumah sakit, tapi saat kabur lagi-lagi rambutnya malah terkena minyak tanah."

"Hoaaaaam! Kenapa gak sekalian hangusin aja tuh rambut? Ribet banget. Hoaaaaam!"

"Ingusin?"

"Hangusin. Hoaaaaam!"

"Oh."

"Hei…" Aku memanggil mereka berdua.

"Ada apa? Hoaaaaaam!"

"Apakah aku ini benar-benar keren?" TIDAK! Ini bukan pertanyaan yang ingin kulontarkan! Sebenarnya aku ingin bertanya bagaimana kabar Neji setelah rambutnya tersiram minyak tanah. Kok aku malah bertanya seperti ini, sih! Pasti gara-gara aku memang keren!

Bukan, bukan!

Aduh, kenapa jadi narsis blak-blakan begini?

"Hah?" Shikamaru dan Chouji mengangkat sebelah alis mereka. Aku bingung harus mengatakan apa. Tapi, kebingungan ini kututup dengan wajahku yang selalu serius ini. Yah, inilah pesonaku.

Kan, benar! Kok jadi narsis blak-blakan gini, sih?

"Yah, kalau kau merasa bahwa dirimu keren, ya keren. Tapi, kalau kau merasa dirimu tidak keren, ya tidak keren. Hoaaaaam!" jawab Shikamaru seadanya.

"Hmm, aku memang keren," ujarku lagi.

Habislah sudah!

"Hei, sejak kapan kau jadi narsis begini, Sasuke?" tanya Chouji.

"Hmm, aku tidak narsis. Aku memang terlahir sebagai manusia yang ganteng dan keren."

Dia mengangkat sebelah alisnya.

Semua orang menatapku bingung.

Sepertinya, aku sudah kelewatan narsis untuk pagi ini.

Baru pagi?

Baiklah, mulai besok aku akan menyiapkan kantong plastik.

.

.

End Sasuke's POV

.

.

Sakura baru saja masuk ke dalam kelasnya ketika Sasuke mulai melangkah pergi dari kelasnya. Tiba-tiba, suara nyaring terdengar oleh telinganya.

"Sakura~! Ohayou!"

Sakura membalikkan badannya. "Ah! Ohayou, Ino!"

"Baru datang?"

Sakura mengangguk mantap.

"Dengan Sasuke-senpai?"

"Pastinya!"

Ino melirik sekeliling. "Hei, Sakura! Kenapa dari tadi orang-orang melihatmu terus?" tanya Ino seraya berjalan menuju bangkunya.

"Yah, wajar saja. Aku memang cantik dan imut, jadi banyak orang yang melihatku terus. Hehe…," ujar Sakura kepedean.

"Ha?"

"Apa? Aku cantik?"

"….Kau gila."

"Terima kasih atas pujiannya."

"Heh? Hah… Kau aneh, Sakura. Oh, ya ngomong-ngomong, kau sudah memutuskan akan menjadi pasangan apa dirimu dan Sasuke-senpai?"

"Sudah, kok! Bahkan hari ini kami terlihat begitu kompak menjadi pasangan yang berbeda."

"Memangnya kau dan Sasuke-senpai menjadi pasangan apa?"

"Pasangan narsis."

"Apa?"

"Pasangan narsis."

"Ha?"

"Pasangan narsis."

"Gak salah?"

"Nggak sama sekali, Ino!"

"Kalau kau narsis, sih memang. Tapi kalau Sasuke-senpai…"

"Dia narsis juga kok."

"He?"

"Sungguh!"

"Beneran?"

"Bener!"

"Gak bohong?"

"Nggak!"

"Memangnya gimana cara Sasuke-senpai narsis?"

"Tadi saat di koridor, Sasuke-kun bilang ke Naruto-senpai kayak gini, 'Aku memang tampan dan ketampananku tidak bisa dibandingkan dengan Daniel Radcliffe.' Narsis, kan?"

"Ha? Kau serius? Ayam Kutub bilang seperti itu?"

"Serius, Ino! Haaah, Sasuke-kun memang tampan dan aku memang imut. Kami berjodoh, bukan?"

Ino menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa? Butuh ember?"

"Tidak. Ada tong sampah?"

.

.

.

TENG! TENG! TENG!

Waktu untuk istirahat telah tiba. Para murid segera keluar, menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Ada yang jajan di kantin, ada yang bergumel dengan buku di perpustakaan, ada yang memojokkan diri di atap sekolah, ada yang tidur di dalam kelas, ada yang ngerumpi, ada yang lagi menyatakan cinta di halaman belakang, ada yang mengerjakan PR, dan ada yang bengong di tengah lapangan.

"Sasuke-kun, temani aku jajan, ya…," ujar Sakura manja.

"Hn."

Sepasang kekasih itu berjalan sambil bergandengan tangan menuju kantin. Saat mereka akan melewati koridor…

"Hinata~~~ Kembalilah pada diriku~~~"

"Maaf, Naruto-kun… Aku… Aku tidak bisa…"

"Apakah aku kurang cakep untuk menjadi pacarmu, Hinata? Hinata~"

"Bu-Bukan begitu Naruto-kun… Aku—"

"Jelas saja kau kurang cakep, Naruto. Apa kau tidak pernah berkaca, heh?" tanya Sasuke datar.

"Te-Tentu saja pernah!" balas Naruto.

"Kalau aku sih, tidak pernah."

"He? Kenapa?"

"Karena aku memang sudah cakep, jadi buat apa berkaca. Kalau cakep, ya cakep," ujar Sasuke santai sambil melewati Naruto dan Hinata bersama Sakura.

"He? Sasuke benar-benar berubah," ujar Naruto.

"A-Aku juga berpikir seperti itu," timpal Hinata.

"Huaaaa! Hinata! Kita sehati! Kam bek tu mi, plisss!"

"Ma-Maaf, Naruto-kun… Aku…"

"Haaah, mereka berdua benar-benar membosankan," keluh Sasuke kepada Sakura ketika mereka telah tiba di kantin.

"Hihihi… Kau lucu sekali, Sasuke," ujar Sakura cekikikan.

"Aku tidak suka melakukan ini, Sakura," ujar Sasuke depresi.

"Haha… Kau bukannya tidak suka, Sasuke-kun. Kau hanya malu untuk melakukannya. Haha…"

"Huh! Sama saja. Walaupun aku memang punya tampang ganteng yang berada di atas normal, aku tetap tidak suka mengumbar-umbar kegantenganku kepada semua orang," tutur Sasuke.

"Jadi, yang barusan kau katakan apa?"

"Aku hanya mengatakan fakta, Sakura."

"Aih, kalau narsis, ya narsis aja!"

"Memangnya kamu gak narsis, heh?" tanya Sasuke dengan raut wajah sinis.

"Nggak tuh! Aku memang punya wajah yang cantik yang berada di atas rata-rata maksimum."

"Heh? Bukankah itu narsis juga?"

"Bukan, Sasuke-kun. Aku sama sepertimu, aku hanya mengatakan fakta! Hahaha…"

"Huh, kau ini! Haha…"

"Oh, ya, Sasuke-kun. Tadi pagi sehabis kau mengantarku ke kelas, banyak sekali teman-temanku yang melihat ke arahku. Ada apa, ya? Apa mereka nge-fans sama aku?"

"Bukannya mereka nge-fans sama aku?"

"Kok sama kamu?"

"Aku kan pernah ditembak 10 cewek dalam waktu 1 minggu."

"Iiih, apa hubungannya coba?"

"Tentu ada, dong! Aku kan ganteng, jadi banyak cewek yang naksir."

"Huh!" Sakura menggembungkan pipinya.

"Kau terlihat imut jika seperti itu," komentar Sasuke.

"Huh! Aku kan memang imut."

"Kata siapa?"

"Kata aku barusan. Haha…"

"Haaah, dasar cewek narsis."

"Yee, biarin!"

"Ah, Sasuke. Ternyata kau di sini," sapa Chouji sambil memakan kripik kentangnya. Di belakangnya ada Shikamaru yang sepertinya baru bangun tidur.

"Hn."

"Hei, Shikamaru! Bangun! Lagi-lagi kau tidur sambil berdiri!" ujar Chouji sambil menggoyang-goyangkan tubuh Shikamaru agar dia bisa cepat membuka matanya.

"Umm, Senpai! Apa Shikamaru-senpai memang suka tidur seperti itu?" tanya Sakura sambil memperhatikan Shikamaru yang baru membuka seper-tigapuluhdua matanya.

"Iya, dia memang suka molor seperti ini. Hei, kau pacarnya Sasuke, ya?" balas Chouji.

"I-Iya."

"Cocok banget dengan Sasuke. Kau gadis yang manis," puji Chouji sambil memakan kripik kentangnya dengan sesekali membangunkan Shikamaru.

"Hehe… Aku memang manis, kok," ujar Sakura pede.

Seketika mata Shikamaru terbuka lebar. "Apa?"

"Apa? Apanya?" tanya Chouji bingung.

"Kau bilang apa barusan?" tanya Shikamaru pada Sakura.

"A-Aku memang manis, kok."

"Kalian berdua…" Shikamaru memandang Sasuke dan Sakura bergantian.

Sakura menaikkan sudut bibirnya. "Kami, pasangan narsis!"

"Pasangan narsis?"

"Hm!" jawab Sakura disertai anggukan mantap. Terlihat Sasuke yang sedang pasrah.

"Haha, unik juga," komentar Chouji, kemudian kembali melahap kripik kentangnya.

"Pantesan…" ujar Shikamaru.

"Pantesan apanya?" tanya Sakura.

"Kau berubah, Sasuke."

"He?"

"Ini bukan dirimu."

Sasuke dan Sakura saling menaikkan sebelah alis mereka.

"Tapi terserahmu saja. Hoaaaam! Hanya saja, kau bukan Sasuke yang kutahu," kata Shikamaru sambil berjalan meninggalkan mereka.

"Ah! Kau mau ke mana, Shikamaru? Tunggu aku!" kata Chouji setengah berteriak sambil menyusul Shikamaru dari belakang.

'Kenapa rasanya jadi serius begini?' tanya Sakura dalam hati.

"Bukan diriku?" tanya Sasuke sendiri.

DHEG!

'Mengapa aku merasa tidak enak hati pada Sasuke-kun? Apakah keinginanku ini salah?'

"A-Aku tidak mengerti," ucap Sakura. Ia menundukkan wajah sedalam-dalamnya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.

"Tentu saja ini adalah diriku. Tahu apa dia tentang diriku? Huh, menyebalkan," tutur Sasuke enteng.

"Eh?" Sakura menaikkan kepalanya. Terlihat setitik air di pelupuk matanya.

"Kau kenapa?" tanya Sasuke bingung.

"Haha, tidak ada. Aku hanya berpikir sesuatu."

"Apa itu?"

"Hmm… Aku memang cantik."

"…"

"Kenapa, Sasuke-kun?"

"Ada obat penahan muntah?"

.

.

Sasuke's POV

.

.

Perkataan Shikamaru selalu terngiang-ngiang di dalam pikiranku. Jujur saja, hal ini membuatku jenuh.

"Kau berubah, Sasuke."

"He?"

"Ini bukan dirimu."

Berubah, katanya?

Aku memang narsis. Lalu, apa yang salah?

Apa mungkin, karena selama ini aku selalu menjaga image-ku, aku menjadi seperti berubah?

Aku memang tidak suka narsis secara berlebihan seperti ini. Ini bukan keinginanku. Tapi, ini semua kulakukan demi Sakura. Aku sungguh tidak rela jika Sakura berpacaran dengan Si Rambut Merah (Sasori)! Sasori itu menyebalkan! Mentang-mentang dia punya wajah babiy (?) face, dia bisa seenaknya mengambil pacar orang! Huh! Sampai bumi berbentuk ketupatpun, Sakura tetap milikku!

Camkan itu!

Sakura adalah milikku!

Jadi, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Ini memang diriku. Tapi, di luar ini bukan diriku. Apa yang harus kulakukan? Aku bingung. Sangat bingung. Jika aku kembali seperti dulu, apakah Sakura akan mengerti?

Sakura akan mengerti?

"Ini bukan dirimu."

Bagaimana ini?

Haaah, maafkan aku Sakura.

Ku harap, kau bisa mengerti.

Aku mencintaimu.

TBC

.

.

.

Huwaaa! Maafkan saya yang gak bisa update asap! D'X
Maafkan saya juga karena fanficnya jadi jelek begini. Duh,
author emang gak becus bikin, nih! *dilempar readers ke laut*D'X

Ternyata buat Sasuke jadi narsis bikin mutar otak. Saya sampai bingung mau ngetik apa. =="

Banyak reader yang bertanya, "Jangan-jangan author-nya narsis juga, ya?"

Hmm, saya memang narsis. Tapi juga tidak narsis. *PLAK!* Saya cuma mau narsis kalau sedang ada mood. Kalau tidak ada mood, saya tidak bisa narsis. Hehehe… (^_^v) Jadi, saya memang narsis. *ngaku* Tapi juga tidak. Bingung? Sama, dong! Hahaha…

Lalu, ada juga pertanyaan, "Sasuke bilang agar Sakura hati-hati dengan Ino. Maksudnya apa? Apakah Ino bakalan jadi jahat?"

Jawabannya adalah Sasuke hanya mempunyai feeling buruk terhadap Ino yang dekat-dekat dengan Sakura. Ino gak bakalan jadi jahat, kok. (^_^)

Yap. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk readers yang sudah menyempatkan diri untuk membaca fanfic abal-abal saya ini. Berkat review readers, saya semakin semangat untuk melanjutkan fanfic ini. Sekali lagi, terima kasih banyak! \(^o^)/

Akhir kata.
Bolehkah meninggalkan
review untuk saya (lagi)? *puppy eyes*
(=^_^=)

~Special thanks~

Amelia maraqy ;Zee konaqii;ermaMothredglittle; Ayhank-chan UchihArlinz Agy MualezZ Login ; Rizuka Hanayuuki ;Haza ShiRaifu; Mrs. Kadir ; Chini VAN ;namina88;Hikaru Kin;Aiko Uchiha-chan;Tsukiyomi Kumiko;RestuChii SoraYama;Lady Spain; riska-chan ;NHL-chan;Kudo Widya-chan Edogawa;Harukaze Chiharu; Kim Uchiha97 ; Angelique rayne
(maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan nama)

And YOU!
Thanks for reading my fict
.