Rizkyuzumaki603 : Terimakasih atas reviewnya, dan sudah menyempatkan baca ff ini. Btw, terima kasih sarannya. Tapi sekali lagi, disini diceritakam Gintoki mempunyai sisi tak terduga, nah saya membayangkannya kurang lebih seperti yg saya tulis ini:3. Tapi terima kasih sudah mau mampir :3
Mirafame : Haik makasi sudah mau mampir :3, iya disini Gin-san Agresif ya:3 begitu lah kurang lebih bayangan saya. Terima kasih:3 ini ada lanjutannya
Halichi Miyamoto : Makasih:3 saya suka baca ff Author loh. Jadi mohon bantuannya:'3
Gintsukki
Chapter II
"Gin-san, aku tidak percaya kau bisa melakukan hal seperti itu tadi." ucap Shinpachi sambil menghampiri Gintoki.
"Gin-chan mesum aru!"
"A-ah aku speechles Gin-san."
"Nani? Aku tidak mengerti" jawab Gintoki sembari meneguk sake yang ia minum. Ia terlihat santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Gin-san romantis juga! bagaimana kalau Tsukuyo-nee juga suka." ucapan Seita membuat semua orang menatap horor kr arah Seita dan Gintoki.
"Oi tenen pama, selain rambutmu yang keriting otakmu ternyata juga mulai keriting ya?" sindir Otose kepada Gintoki.
Beberapa komentar singgah di telinga Gintoki, mungkin malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi si bos Yorozuya satu itu. Ya seperti yang kalian tahu, si ikal bego itu baru saja mengungkap sisi lain dari dirinya.
Sasuga Gin-san.
Namun ia hanya memberikan reaksi seadanya.
"Shinpachi, Kagura, ayo pulang. Tiba-tiba aku rindu rumah." kata Gintoki, lalu berjalan melalui Hinowa.
"Dan.. Terima Kasih jamuan makanannya Hinowa-san. Kami pamit dulu."
Perkataan Gintoki membuat Shinpachi dan Kagura menoleh satu sama lain. Hinowa memaklumi hal tersebut, mungkin Gintoki sedang kirang enak badan.
"Hai~ terima kasih Yorozuya dan Otose-san jangan sungkan untuk mampir lagi ke Yoshiwara." ucap Hinowa kepada yang lain.
"Ah titip salam pada Tsuki kami pulang aru ne! Jaa!"
Kemana perginya Tsukuyo?
Ah, kalian bertanya-bertanya bukan?
Dari insiden ciuman yang ia alami dengan Gintoki beberapa waktu lalu, membuat Tsukuyo syok berat. Dan ia pun meninggalkan acara tersebut.
Kemana?
Kegunung! *emang lu dora? /plak
Ia langsung mengurung diri dikamarnya, sambil merenungkan insiden yang Gintoki lakukan terhadap dirinya.
Namun, itu tidak menjadikan dirinya benar-benar mengurung dalam artian 'tidak ingin bertemu siapa pun' Tsukuyo hanya berusaha mengendalikan dirinya.
Gintoki kau sungguh keterlaluan!
Batin Tsukuyo berteriak. Tsukuyo tidak habis pikir kenapa bisa si rambut ubanan itu MENCIUMNYA ya MENCIUMNYA. Di tambah lagi ia menyatakan SUKA pada Tsukuyo.
"Aku menyukaimu."
Tapi setelahnya?
"Tidak usah ambil pusing, lupakan saja."
Kata-kata Gintoki kembali terngiang di pikiran Tsukuyo.
"Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku akan membuatmu merasakan yang namanya menjadi wanita eh?".
Lagi, kalimat itu kembali menyadarkan Tsukuyo.
Kini ia menatap langit-langit kamarnya, menepis jauh-jauh pikirannya. Ia sadar sudah membayangkannya terlalu jauh.
Tapi bagaimana bisa ia menyukai seseorang secepat itu. Hanya karena ciuman yang Gintoki berikan pada Tsukuyo dengan cara tiba-tiba dan waktu yang tiba-tiba pula.
Suka? Apa benar aku menyukai Gintoki? Ti-tidak mungkin! Itu terlalu cepat!
Tsukuyo berusaha mengelak dalam hati, apa iya sih dia suka betulan?
JIKA memang Tsukuyo benar menyukai Gintoki, lantas apakah Gintoki menyukainya juga?
Tidak mungkin aku paham betul. Gintoki itu mesum!
Tsukuyo paham betul apa yang Gintoki sukai didunia ini, judi, mabuk, susu stroberi, gula dan Ketsuno Ana.
Jadi ia tidak mungkin menyukai wanita dengan sungguh-sungguh, walaupun di usianya yang hampir kepala tiga itu usia yang sangat MATANG untuk menikah.
Tapi kita tidak tahu yang namanya Takdir bukan?
Hanya Gintoki dan Tuhanlah yang tahu perasaan sesungguhnya. Kita bukanlah Mama Lauren atau pun Ki Kusumo yang bisa tahu kilas balik seseorang. Apa lagi perasaan?
Tsukuyo memejamkan matanya perlahan menanti rasa kantuk yang akan merasuki dirinya, berharap besok terbangun dan lupa dengan kejadian yang dialaminya.
Mengabaikan jetak jantungnya, perasaan senang saat bersama Gintoki, serta bayang-bayang Gintoki yang menghantui pikirannya.
Ia berusaha tertidur walau ia tahu sulit rasanya, detakan jantungnya terasa sangat menggebu-gebu. Pikirannya kacau
Sakata Gintoki.
Lagi. Nama itu terus-terusan menggema di kepala Tsukuyo, menari-nari tiada hentinya. Hatinya pun selalu bereaksi, degupannya terdengar makin kencang saat nama Gintoki kembali terpikirkan.
Kenapa aku harus repot memikirnya? Kenapa juga aku harus terus mengingat wajah bodoh pria itu?!
Apa yang terjadi padaku?
Suka?
Tidak mungkin, ini terlalu cepat.
Kini Tsukuyo terlarut dalam pikirannya sendiri, menentang keras perasaan yang dialaminya. Menimbang-nimbang apakah rasanya terlalu cepat untuk jatuh hati?
Yakinlah, perasaan suka itu datang tanpa permisi. Tidak perduli kapan waktunya, entah itu cepat atau terlambat tergantung kita menyadarinya.
Tapi percaya, suka adalah awal dari sebuah Cinta.
Mereka pun pulang pada malam itu, tanpa bertemu Tsukuyo pastinya. Entah mengapa sepertinya Shinpachi dan Kagura membaca ekspresi Gintoki
Ini tidak seperti Gin-san/chan biasanya.
"Oi tennen pama apa yang terjadi denganmu? Bukan rambut dan otakmu saja yang terlihat kusut, wajahmu juga kusut." komen Otose dengan nada sindirnya.
Tapi Gintoki hanya diam.
Merasa Gintoki aneh Kagura langsung menonjok perut pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya tersebut.
Bgguhh.
"I-iite oi Kagura!" keluh Gintoki karena perutnya ditonjok dengan keras.
"Gin-chan jadi alien aru!" teriak Kagura tepat di telinga Gintoki
"Kagura-chan? Bukankah yang alien itu dirimu?" Shimpachi meralat perkataan Kagura, nyatanya Kagura lah yang alien. Ya alien Yato.
"Diam kau kuso megane! Gin-chan dalam bahaya aru!" Kagura kembali berteriak, tapi kini mengarah ke Shinpachi.
"KAGURA! OI BERHENTI MEMANGGILKU MEGANE!" bentak Shinpachi karena dirinya selalu menjadi bahan olokan bagi Gintoki maupun Kagura.
"Eh bukannya kau adalah megane yang berjalan Shinpachi-kun?" Akhirnya Gintoki ikut terhanyut dalam perdebatan tak berguna mereka.
"Yare-yare, aku pikir aku tidak perlu khawatir. Dengan adanya mereka Gintoki baik-baik saja." ucap Otose sambil menghirup batang rokoknya yang tinggal separuh.
"Ini sudah sangat larut sebaiknya kalian langsung pulang. Sudah sana keatas, aku duluan pelanggan pasti sudah menunggu. Jaa~" Otose pun memasuki kedainya untuk kembali bekerja bersama Chaterine dan Tama.
"Selamat malam Baba." ucap Gintoki lalu menaiki tangga.
Saat ini mereka telah dirumah, bersiap-siap untuk tidur. Hari ini Shinpachi tidak pulang ke dojo kodokan tempat tinggal ia bersama Otae, ia harus menginap lantaran waktu sudah sangat malam dan lelah juga.
Kagura sudah tidur lebih dulu, karena sudah mengantuk. Kini hanya Gintoki dan Shinpachi yang masih terjaga.
"Gin-san kau tidak apa?" tanya Shinpachi.
"Nani? Ada apa denganmu Patsuan? Jelas, Gin-san sehat walafiat." jawab Gintoki dengan gaya khasnya (mengupil dengan kelingking.)
"Jangan mengupil disaat orang sedang berbicara Gin-san, tidak sopan."
"Disaat kita mengupil tidak hanya untuk membersihkan rongga hidung saja Patsuan, tapi ada sensasi dan kesenangan tersendiri." jelas Gintoki panjang lebar.
"Yamero yo! Gin-san! Aku serius, kenapa bisa kau dan Tsukuyo-san berciuma-"
"Shinpachi."
Kata-kata Shinpachi dipotong oleh Gintoki.
"Aku ingin istirahat, cepat tidur sudah larut okey?" kata Gintoki sambil menepuk kepala Shinpachi, lalu berjalan menuju sofa.
Kali ini Gintoki mengalah, Shinpachi tidur di futon sedangkan ia di sofa.
Tidak masalah, yang penting ia bisa tidur.
Shinpachi terapaku atas perlakuan Gintoki barusan, tidak biasanya si ubanan itu lembut kepadanya. Ya walau Shinpachi akui ia memang menyayanginya dan Kagura seperti layaknya sebuah kelurga.
Namun, Gintoki tidak pernah secara terang-terangan menunjukan perasaannya tersebut.
Gintoki mungkin bisa disebut sebagai mahluk tsundere.
Gintoki merebahkan tubuhnya diatas sofa, ia mulai memejamkan matanya perlahan. Namun itu tidak benar-benar membuatnya tidur.
Pikirannya jauh melayang kesana kemari, bayangan di otaknya terpaku pada satu sosok.
Tsukuyo.
Gintoki kembali merasakan debaran setiap kali ia memikirkan nama Tsukuyo, perasaannya seperti meluap. Ada gejolak-gejolak aneh yang memenuhi rongga dadanya. Dan setiap bertemu Tsukuyo ia merasa senang.
Gintoki tahu ia bukanlah anak kemarin sore yang tidak paham akan sesuatu yang terjadi pada dirinya, namun ia menyangkal keras perasaannya terhadap Tsukuyo.
Apa iya aku menyukai Tsukuyo?
Hati dan pikiran Gintoki sangatlah tidak sinkron. Dan selalu berbanding terbalik.
Namun percayalah, hati selalu benar.
Jadi, ikutilah kata hatimu Gintoki.
Jam menunjukan angka 1 malam, namun ia belum beranjak tidur juga, ia melirik Shinpachi sekedar mengecek apakah ia tidur dengan nyenyak atau tidak.
Terlihat Shinpachi tidur dengan pulas, Gintoki bernapas lega.
Dan sekarang gilirannya untuk tidur, namun-
Gintok lagi-lagi membayangkan sesosok wanita berkimono hitam bercorak daun berwarna orange, mendekap tubuhnya erat.
Terkutuklah dirimu Gin-san. Apa yang sedang kau bayangkan?!
kami-sama biarkanlah hambamu ini tidur dengan nyenyak aku ada kerjaan besok! Harus bangun pagiiiii.
Gintoki merutuki dirinya sendiri, kenapa ia bisa-bisanya membayangkan hal seperti itu!?
Mata sipitnya terlihat lelah, wajahnya pun sangat terlihat kantuk namun ia tidak kunjung tertidur. Gintoki menghelakan napasnya panjang-panjang, ia mulai merilekskan tubuhnya sebisa mungkin, memejamkan matanya perlahan.
Berharap bayang-banyang Tsukuyo hilang dan tergantikan dengan tidur nyenyaknya.
Kini Gintoki perlahan mulai berlabuh ke lautan mimpinya, menikmati setiap rentetan cerita dalam khayalan mimpinya. Hingga pagi datang dan membangunkannya kembali ke alam sadarnya.
Apa Ini? Ga jelas ya:'D
Terimakasih yg sudah mau baca, kritik saran saya terima:'3
Monggo di Review:3
Satu Review kalian berharga buat saya
Adios~
