Ryu : Yeah! Akhirnya sampai juga di Chapter 2 :-D .
Len : Ya ampun... baru Chapter 2 aja senengnya kayak dikasih kuaci. Apalagi kalau udah Chapter 10... (dibekep Ryu)
Ryu : Oi! Jangan bilang-bilang aku suka kuaci!
Rin : Lho? Ryu-kun sukanya kuaci?
Ryu : Yup! Kenapa kamu jadi manggil aku pake "-kun" segala? Aku kan belum tentu cowok. Udah deh, ayo baca ceritanya ya! (smile )
My Dark Side
Disclaimer : Yamaha Corporation & Crypton Future Media
Warning : OOC, AU, dll ;-)
Sisi hitamku selalu muncul saat bulan purnama muncul. Aku tidak sadar kalau aku telah membunuh orang-orang di dekatku, dan ketika aku sadar orang tersebut sudah berada di pangkuanku tanpa nyawa lagi. Tanganku memegang pisau, dan pisau itu berlumuran darah. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.
Chapter 2 : The True Dark Side
Rin's PoV
Aku menghadiri upacara pemakaman Kaito-senpai. Di sana keluarga Kaito-senpai menangis. Ini semua salah iblis itu, Rinto Kagamine. Karena dia semua orang menjadi bersedih. Aku dan Len berdiri di samping makam sambil menundukkan kepala. Sepertinya Len kelihatan lebih shock dari aku. Entah kenapa matanya kelihatan sedih sekali. Tapi sepertinya mustahil seorang Len Kagamine mau terang-terangan menangis di depan banyak orang.
Aku menatap makam Kaito-senpai. Kenapa harus dia yang menjadi korban? Padahal aku sudah berjuang untuk menyatakan perasaanku. Bahkan dia belum menjawab pernyataanku. Padahal Len juga sudah memperjuangkan segalanya untuk membuat aku bisa berpacaran dengan Kaito-senpai.
Di depan, aku melihat seorang gadis twintails berwarna tosca yang sedang menangis tersedu-sedu. Setahuku dia adalah Miku Hatsune, anak kelas 1-A SMA yang kelasnya di samping kelas Kaito-senpai. Tapi kenapa dia juga datang ke upacara pemakaman ini?
"Ng... Hatsune-san?", kataku memanggil Miku. Dia menghapus air matanya dan menatapku sambil tersenyum manis. Wajahnya manis sekali! Senyumannya indah dan terlihat begitu ramah. Sepertinya dia gadis yang baik.
"Panggil aku Miku saja. Kamu yang namanya Rin Kagamine, ya? Kaito-kun menceritakan banyak hal tentangmu dan adik kembarmu." Apa? Miku memanggil Kaito-senpai dengan sufix –kun? Apa mereka dekat?
"Ng... Miku-chan, kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengan Kaito-senpai?" Wajah Miku yang tadinya terlihat cerah sekarang terlihat muram lagi. Aku dapat mellihat kalau tubuhnya gemetaran dan air matanya akan keluar lagi.
"Kami... baru pacaran kemarin..." Aku sangat terkejut. Jadi Kaito-senpai dengan Miku sudah berpacaran?
"Yah, tapi ternyata malam di mana seharusnya kami tertawa bersama, dia malah meninggalkan aku." Miku kembali menangis, tapi kali ini lebih keras dari yang tadi. Pasti hatinya sakit, sama seperti hatiku sekarang. Ternyata Kaito-senpai menyukai Miku, bukan aku. Dan sepertinya Len juga sudah tahu hal ini. Awas saja nanti ya, anak pisang!
Sekarang aku merasakan perasaan aneh di dalam hatiku. Rasanya seperti rasa sakit dan iri, tapi lebih besar. Sepertinya aku... membenci Miku. Rasanya seperti ingin melenyapkannya dari dunia ini. Aku benci perasaan ini.
Setelah upacara pemakaman yang dipenuhi isak tangis berakhir, aku dan Len pulang bersama Miku. Miku terlihat sangat sedih, sama seperti Len. aku terus menatap Miku. Tiba-tiba Len menoleh ke arahku dan menepuk pundakku.
"Kenapa kamu menatap Miku dengan tatapan death glare begitu?" Hah? Masa aku menatap Miku seperti itu tanpa sadar? Aku menggelengkan kepalaku dan berusaha tersenyum, walaupun di dalam hatiku aku sangat kesal.
"Nggak, kok! Kenapa kamu bilang begitu?" Len hanya diam sambil menggaruk kepalanya. Pasti dia sudah kehabisan kata-kata. Ketika sampai di rumah Miku, Miku langsung masuk ke rumahnya yang besar dan mewah. Pasti dia orang kaya. Sebenarnya dalam hati aku berpikir pantas saja Kaito-senpai mau berpacaran dengannya. Ternyata orang yang sangat kaya. Tapi cepat-cepat kuhilangkan prasangka itu. Miku tidak tahu apa-apa, jadi dia tidak berhak mendapat rasa benciku ini.
"Ya sudah, kami pulang dulu ya. Sayonara, Miku-senpai!" Ternyata Len memanggil Miku dengan sebutan senpai-nya. Padahal kami kan cuma beda 1 kelas. Aku dengan terpaksa ikut tersenyum karena Len tersenyum pada Miku. Kalau aku terus terlihat kesal, Miku akan curiga. Tapi sebenarnya dari tatapan Miku saja aku sudah tahu kalau Miku sudah mulai curiga. Aku pun cepat-cepat menarik lengan Len untuk segera pulang ke rumah.
Ketika sampai di rumah, aku menggenggam tangan Len dan menatapnya tajam. Wajah Len terlihat agak takut. Memang sih, siapapun ang melihat wajahku sekarang juga pasti merasa agak ngeri. Apalagi tatapan death glare-ku yang selalu "sukses" membuat semua orang merinding.
"Len...", kataku dingin, "Apa benar kamu sudah tahu kalau Miku berpacaran dengan Kaito-senpai?" Wajah Len langsung terlihat terkejut. Kena kamu!
"Da-dari mana kamu tahu?" Aku melepaskan tangannya dan mengangkat bahu.
"Dia yang cerita." Aku kembali menatap Len tajam "Lalu, kenapa kamu gak bilang ke aku?" Lagi-lagi wajah Len terlihat gugup. Dia menunduk dan menjawab dengan suara pelan, tapi tetap dapat terdengar olehku.
"Aku... aku tidak mau kamu sedih. Aku tahu kamu sangat menyukai Kaito-senpai." Mataku terbelalak. Aku menepuk pundak Len sambil tersenyum.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku ke kamar dulu ya." Aku pun masuk ke kamarku.
Len's PoV
Sebenarnya sekarang aku masih agak seram sama Rin. Sekali lagi death glare-nya itu berhasil membuatku bergidik dan agak takut menatapnya. Aku memang tidak mungkin menang darinya ya...
Setelah beberapa menit Rin masuk ke kamarnya sementara aku masih berdiri terpaku. Aku terduduk di kursi lemas. Aku masih lemas karena pertanyaan Rin tadi benar-benar mendesak dan membuatku gugup, seperti biasa. Tapi kali ini aku tidak bisa diam saja seperti biasa kalau tidak bisa menjawab lagi. Tanganku yang lemas bersandar pada lengan kursi. Biasanya kan aku melipat tanganku di belakang kepala.
Setelah tubuhku bisa digerakkan kembali semauku, aku segera pergi menuju kamar Rin. Aku mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban. Dia kenapa? Aku pun memutuskan untuk langsung masuk saja ke kamarnya. Rin terlihat terkejut melihatku masuk ke kamarnya dan segera enyembunyikan sesuatu di belakangnya.
"Kamu kenapa, Rin-chan?" Aku menatap Rin yang terlihat gugup. Sepertinya dia sedang menyembunyikan suatu hal dariku.
"Ah, tidak ada apa-apa. Aku... hanya sedang mencari sesuatu. Sudahlah. Aku mau istirahat. Tolong keluar ya." Aku menatap Rin penuh tanda tanya. Tapi melihat senyum kecut Rin, aku memutuskan untuk mematuhinya.
Di luar aku pergi ke dapur untuk mengambil kue pisang yang sudah disiapkan Kaa-san. Tapi ketika hendak memotong kue tersebut, aku tidak menemukan pisau yang paling tajam di rumah ini. Padahal biasanya ada di laci. Aku pun mengambil pisau lain. Setelah memotong kue pisang itu, aku ppun melahapnya.
Sebenarnya aku mendengar suara pintu dibuka dan ditutup perlahan, tapi kue pisang yang lezat ini memang tidak bisa kulepaskan.
Rin's PoV
Aku sangat terkejut melihat Len masuk ke kamarku begitu tiba-tiba. Aku segera menyembunyikan benda yang sudah kusiapkan di belakang punggungku yang kecil. Semoga benda "ini" tidak terlihat oleh Len. setelah percakapan yang bagiku tidak penting, aku mengeluarkan benda "itu" dari punggungku dan menatapnya sambil tersenyum licik. Benda itu adalah sebilah pisau yang merupakan pisau tertajam yang kami miliki.
"Aku akan membalasmu, Miku-chan...", bisikku dingin sambil tertawa cekikikan. Aku keluar kamar dan membuka pintu sehalus mungkin agar tidak terdengar oleh Len, lalu setelah menutupnya kembali aku keluar rumah dengan mengendap-endap. Ketika berhasil keluar rumah tanpa ketahuan Len, aku segera berlari menuju rumah Miku. Kebetulan hari itu sudah agak gelap, jadi pisau yang kubawa tidak terlalu mencolok. Agar aman, aku menyembunyikan pisau ini di balik jaket.
Setelah beberapa menit perjalanan menuju rumah Miku, aku menekan bel yang berada di hadapanku. Salah satu maid rumah Miku langsung membukakanku pintu. Aku tersenyum manis membalas senyuman maid itu.
"Selamat sore, ada Miku Hatsune?", tanyaku sesopan dan semanis mungkin. Tidak lama kemudian Miku muncul dengan setelan hijau tosca dan mantel biru.
"Oh, ternyata Rin-chan. Kenapa kamu mencariku?" Sudah jangan basa-basi! Aku muak mendengar suaramu!
"Ng... mau tidak kamu menemaniku ke Cafe Voca sekarang? Aku ada janji dengan seseorang di sana." Permintaanku itu pun langsung dijawab Miku dengan anggukkan. Dasar Miku baka! Kamu tidak tahu kalau kebaikkanmu ini akan menghabisimu.
Aku berjalan di depan Miku. Kami pun pergi lewat jalan yang agak menyimpang. Miku yang sepertinya mulai gelisah bertanya padaku,
"Rin-chan... kamu yakin ini jalan menuju Cafe Voca?" Tentu tidak, baka! Ini adalah jalan bagimu ke Neraka!
"Tenang, Miku-chan. Ini hanya jalan pintas yang kuketahui.", jawabku sambil tersenyum licik. Kami pun berbelok menuju sebuah gang sempit yang tidak terlihat oleh orang luar.
"Rin-chan, ini bukan Cafe Voca..." Sebelum Miku sempat menyelesaikan kalimatnya, aku sudah mencekik lehernya dan mendorongnya sampai dia terjatuh dengan aku di atasnya.
"Rin-chan... Apa yang... ka-kamu lakukan?", kata Miku yang kesakitan. Aku menatap Miku tajam, tapi tetap disertai dengan senyuman licik.
"Kamu sudah merebut Kaito-ku! Aku menyukai Kaito-senpai, tapi kenapa malah kamu yang menjadi pacarnya? Semoga kamu masuk ke Neraka!", seruku sambil menusukkan pisau yang berada di tanganku berkali-kali ke tubuh Miku. Tubuh Miku mencipratkan darah ke mana-mana. Wajahku yang menyeringai dipenuhi darah Miku dan bajuku yang berwarna putih saat ini sudah berubah warna menjadi merah darah.
Tiba-tiba aku mendengar suara tawa yang tidak asing bagiku. Si iblis, Rinto!
"Hahaha! Ternyata kali ini aku tidak usah repot-repot merasuki tubuhmu ya, Rin-chan. Kamu sudah melaksanakan tugasku. Kamu baik sekali!" Aku tersentak dan menatap tubuh Miku yang sudah tertusuk-tusuk secara sadis, sangat sadis.
"KYAAA! Apa yang kulakukan?", teriakku sambil memegangi kepalaku sementara Rinto masih tertawa.
"Ternyata kamu memiliki sisi hitam lain selain aku ya? Dan sepertinya sisi hitammu kali ini lumayan juga.", kata Rinto sambil menunjuk tubuh Miku yang sudah tidak jelas lagi wujudnya. Aku menatap Miku dan meneteskan air mataku.
"Wah-wah! Ternyata kali ini aku menang tanpa perlawanan, ya? I'm so lucky!"
"Diam!" Aku tidak sanggup memaki-maki Rinto kali ini. Bukan dia yang telah membunuh Miku kali ini, melainkan aku, seorang Rin Kagamine yang telah membunuh Miku. Aku menangis menyesal atas emosiku yang tidak bisa kukendalikan. Perlahan-lahan suara tawa Rinto mulai menghilang. Saat aku berusaha berdiri lagi, aku mendengar suara mobil polisi berbunyi. Tamatlah riwayatku!
To be Continued
Ryu : Yay! Chapter 2 yang kubuat dalam 2 jam ini selesai juga!
Len : Hah? Bikin 1500 kata aja sampai 2 jam?
Ryu : Kan aku bikinnya sambil makan & nonton TV juga... aku juga gak bisa ngetik cepet... T^T
Rin : Oi, dasar author sadis! Kenapa kali ini aku beneran yang bunuh Miku? Pake acara nusuk-nusuk berkali-kali lagi!
Miku : Iya! Lagian, kenapa harus aku yang dibunuh?
Ryu : Yah, gomen deh Rin-chan, Miku-san... Kan fic kali ini emang aku buat agak sadis. Ada unsur "horor"-nya juga sih.
Rin : Oke kalau gitu, minta review ya... (smile + puppy eyes ;-) )
Ryu : Seperti biasa, bagi yang niat.
