xXx_xXx

"Playing Secret"

By: Shu AliCieL

Vocaloid©Yamaha, Crypton Future Media and others

Chapter 2

xXx_xXx

BIIP…BIIP…BIIP.

Bunyi jam alarm yang bagi Luka sangat berisik. Malas bangun, rasanya. Matanya serasa lengket tak mau terbuka, belum lagi tubuhnya sekarang terasa sangat pegal.

Aneh… Bukannya kasur import dari Swiss-nya sangat empuk? Oh, ternyata ia tidak tidur di kasur itu malam ini. Dia tidur di ruang rahasianya yang hanya ada tempat tidur seadanya. Ya, karena malam ini kamarnya dihuni oleh… Ayo tebak siapa?

Tidak tahu? Oke, dia pemuda berambut biru yang bekerja di sebuah agensi mata-mata rahasia yang mulai kemarin resmi menjadi bodyguard Luka. Yup, dia Kaito. Kenapa dia bisa menempati kamar Luka? Begini ceritanya…

Rumah Luka cuma terdiri dari tiga kamar. Satu kamarnya, kamar Luki dan satu lagi kamar maid. Luki, jika pulang ke Jepang pasti menempati rumah itu bersama Luka, dan dia sudah berpesan agar jangan ada yang masuk dan mengutak-atik isi kamarnya—kecuali jika maid mereka membersihkan kamar itu.

Menyuruh Kaito tidur di kamar maid-nya? Mana mungkin Luka membiarkan maid-nya yang baik, setia dan ramah tidur di ruang tamu sementara Kaito yang menempati kamarnya.

Dan Luka tidak mau komputer di kamar rahasianya disentuh oleh siapapun. Ia lebih memilih mengorbankan badannya jadi pegal karena tidur di kasur keras, selama barang-barangnya tetap aman.

Luka pun bangkit duduk dan meregangkan badannya sambil matanya mengerjap-ngerjap. Tak lama kemudian ia menuju keluar, ke kamar aslinya. Untuk keluar dari kamar itu tidak sesulit masuknya. Hanya tekan satu tombol, dan pintu terbuka!

Dilihatnya Kaito masih tertidur. Selimutnya ditarik sampai menutupi lehernya. Sudah pagi, tapi ia masih kelihatan nyenyak sekali. Luka jadi iri, mengingat tidurnya semalam sangat tidak nyaman.

"Masih tidur rupanya. Pemalas…" umpat Luka dalam hati.

Luka melangkah ke kamar mandi di dalam kamarnya. Ia menyikat giginya lalu mencuci muka. Tetapi matanya terpercik oleh sabun dan terasa perih. Setelah membasuhnya dengan air, Luka pun meraba-raba tempat di sekitar wastafel untuk mencari handuk yang tadi diletakkannya.

Sialnya, ia tak menemukannya. Matanya masih terpejam dan tangannya masih meraba-raba tempat sekitarnya. Lalu sesuatu seperti kain yang lembut terasa menyentuh pipinya. Sepertinya itu benda yang dicari-carinya.

Luka pun menyentuh kain itu.

Sepertinya itu Kaito. tak peduli kenapa ia bisa ada di situ, Luka bersyukur ia memberikan bantuan. Luka pun menerima handuk tadi dan cepat-cepat membasuh mukanya.

Begitu Luka bisa melihat dengan jelas, ia langsung melihat ke arah penolongnya. Ya, itu memang Kaito, tapi…

"Kau…kenapa telanjang dada begitu?" Luka langsung memalingkan wajahnya begitu dilihatnya Kaito tidak memakai baju atasan.

"Aku sudah begini ketika tidur. Kan tidak mungkin aku tidur masih pakai jas hitamku itu," ya…Kaito memang tak mungkin bawa apapun ke sini, kan? Mereka tidak merencanakan acara menginap sebelumnya.

"Terus ngapain kau disini?"

"Aku mendengar suara air. Mulanya aku berpikir itu kau, tapi mungkin saja orang asing yang seenaknya menerobos rumahmu jadi kupastikan saja," jelas Kaito panjang lebar kali tinggi (apaan sih?).

"Matamu sudah nggak apa-apa?" Kaito menunduk untuk melihat wajah Luka lebih dekat. Tetapi tindakannya itu malah membuat Luka makin mundur ke belakang.

Luka belum pernah dia berada sangat dekat dengan cowok— si cowok telanjang dada pula—seperti sekarang ini. Rona merah pun mulai terlihat di pipinya.

"Ti…tidak apa-apa kok. Sudah, jangan melihatku terus," Kepala Luka makin menunduk dan tubuhnya pun semakin mundur ke belakang. Niat ingin menghindari tatapan Kaito, namun cowok biru itu malah semakin mendekatkan wajahnya juga.

"Hei, aku cuma mau lihat matamu dulu. Apa benar tidak apa-apa?"

"Iya, iya..! Sudah, minggir sana!" Luka pun mendorong tubuh Kaito menjauh, lalu melangkah cepat keluar dari kamar mandi.

"Huh? Kenapa sih dia? Aku 'kan cuma mengkhawatirkannya saja…" gerutu Kaito sambil melipat tangannya dan cemberut.

XXX

"Tidak, tidak, tidak. KAU TIDAK BOLEH IKUT!" kata Luka sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Eh? Tapi aku kan harus ikut. Kau ingat aku bodyguard-mu, kan?" Kaito pun merajuk.

"Pokoknya tidak boleh! Banyak kru di studio. Kalau kau terlihat membuntutiku terus, apa yang harus kukatakan nanti?"

"Bilang yang jujur saja. "Lelaki tampan berambut biru ini adalah bodyguard-ku," ya…hal-hal seperti itu. Kau seorang artis—dan 'Megurine'. Diikuti satu bodyguard 'kan wajar saja," usul Kaito sambil menyelesaikan sarapannya—toast dengan olesan madu dan secangkir teh.

"Bisa-bisanya kau ngomong santai begitu! Mereka pasti bertanya-tanya kenapa tiba-tiba saja ada bodyguard di sampingku. Orang-orang itu pasti curiga!"

Kaito hanya bisa geleng-geleng kepala. Ternyata kehidupan selebritis itu sangat-sangat rumit! Sedikit saja ada yang berbeda, akan langsung disorot dan dibicarakan.

Yah, sebenarnya sih tidak begitu rumit jika kau artis yang bukan sekaligus anak konglomerat dan juga seorang hacker di balik semua itu.

"Kenapa nggak bilang saja kalau aku sepupumu?" usul Kaito.

"Sepupu?"

"Iya. Atau temanmu dari luar negeri yang sedang berlibur ke Jepang. Bisa saja, kan?"

Luka berpikir sejenak. Kalau sepupu sepertinya agak tidak mungkin. Tidak juga, sih. Hanya saja—jujur—Luka tidak sudi punya sepupu seperti Kaito yang menurutnya agak blo'on. Kau kejam, Putri Luka…

"Kalau dari luar negeri…tidak ada salahnya juga, sih…" ucap Luka ragu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Tuh, benar 'kan? Kalau begitu, aku boleh ikut ke studio itu, 'kan? Ayo pergi sekarang!"

"Iya… Eeh, tunggu dulu! Masa' kamu mau pergi dengan jas hitam begitu, sih? Aneh, tahu!" cegah Luka ketika Kaito menarik tangannya dan mengajaknya pergi.

"Habis, mau bagaimana lagi? Yang aku bawa sekarang cuma ini… Ah! Bisa kau antar aku pulang untuk mengambil baju-bajuku?"

"Ya, bolehlah…" sebenarnya Luka agak dongkol karena Kaito sudah banyak meminta ini-itu, padahal mereka baru berkenalan kemarin. Itu juga kalau bisa disebut 'berkenalan'!

Tapi pada akhirnya, Luka mau juga mengantar Kaito pulang ke rumahnya sebentar setelah mereka menghabiskan sarapan.

"Sudah sampai. Sekarang cepat ambil bajumu," ucap Luka ketika mobilnya sudah berhenti tak jauh dari rumah Kaito.

"Huh? Kau tak mau ikut turun?" Kaito bertanya sambil membuka pintu mobil merah muda itu.

"Tidak, ah… Aku di sini saja."

"Baik, tunggu di sini!"

Kaito pun berlari masuk ke rumahnya sementara Luka menunggu di mobilnya. Tidak begitu lama setelahnya, Kaito keluar dari rumahnya dengan membawa sebuah ransel hitam yang ditebak Luka isinya adalah baju-baju milik Kaito. Ia juga sudah mengganti jas hitam yang dipakainya dengan kaos lengan panjang abu-abu, bolero hitam dan jins biru.

Ketika sampai di pagar rumahnya, Kaito terlihat melambaikan tangan pada seseorang yang berada di pintu. Anak laki-laki berambut hitam dan potongan rambutnya tak jauh beda dari Kaito. Tubuhnya kecil dan mata kanannya ditutup eye-patch berwarna putih.

"Mungkin adiknya, ya? Tapi kenapa dengan matanya? Kecelakaan?" terka Luka.

Kalau kecelakaan, kasihan sekali…anak itu terlihat seperti anak SMP, masa' harus pakai penutup mata seperti itu? Tapi Luka sedikit merasa kalau eye-patch itu sangat cocok dengannya dan juga…keren! Diam-diam dia punya selera yang aneh juga.

"Siapa itu?" tanya Luka setelah Kaito masuk ke mobilnya.

"Adikku. Namanya Taito. Imut, kan?"

"Lumayan, lah… Tidak seperti kakaknya," olok Luka dengan gaya cueknya yang biasa. Membuat Kaito berpikir kalau orang ini bukan 'klien'-nya, mungkin dia sudah jauh-jauh darinya.

Luka pun kembali menjalankan mobilnya.

"Adikmu itu masih sekolah?" huh? Tumben sekali Luka tanya-tanya dan bersikap ingin tahu. Kaito menjawab dengan anggukan.

"Kenapa dia pakai eye-patch?"

"Itu untuk menutupi luka akibat kecelakaan. Sudah sejak lama, sih," Luka pun hanya ber 'Oo…' kecil dan terdiam.

"Sebenarnya aku punya satu adik lagi, Akaito. Dia baru lulus sekolah."

"Orangtuamu punya selera yang unik dalam memberi nama anaknya…"

"Orangtuamu juga sama. Namamu itu loh. 'Luka' itu seperti… 'Hei, kau terLUKA' begitu. Kesannya buruk."

Kaito diam setelah sadar apa yang dikatakannya. Apalagi saat Luka memberinya death-glare yang cukup menakutkan.

"Maaf, aku tak tahu apa yang kukatakan. Lebih baik abaikan saja omonganku yang tidak penting itu!" bagus, Kaito. Minta maaf sebelum dia membunuhmu. Hei, Luka tidak sesadis itu, kok. Dia bahkan mengabaikannya dan lebih berfokus ke mengemudi.

"Luka…sepertinya jarang bicara tentang kehidupan pribadimu, ya?"

"Kau keberatan?" Luka menjawabnya dingin dan tanpa ekspresi, seperti biasa.

"Tidak. Hanya saja…lebih baik kau sedikit terbuka pada orang lain…" jawab Kaito agak gugup—takut menyinggung sesuatu yang bukwn hanya berbuntut death-glare. Kali ini mungkin ia benar-benar membunuhnya.

Oke, cukup dengan kalimat-kalimat tentang pembunuhan. Luka tidak se-sadis itu. Meski dia sangat cocok menjadi gadis yandere

"Tidak harus ke semua orang juga, kan? Aku punya teman curhat, kok."

"Benarkah?"

"Miku, adik manajerku Mikuo. Yah…sepertinya hanya dua orang itu yang bisa kupercaya menyimpan rahasiaku. Sebenarnya Luki—kakakku—juga bisa, tapi ia terlalu sibuk, dan aku tidak punya begitu banyak teman"

"…segitu tidak percayanya kau pada orang lain?"

"Banyak orang memakai topeng di hadapanku. Mana kutahu apa yang ada di balik topeng itu. Makanya aku lebih baik menghindari mereka."

Kaito terdiam dalam pikirannya sendiri. ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kehidupan seorang idola. Media hanya menyingkap kilau indah mereka dan menyembunyikan bayangannya. Buktinya, Kaito mendengar sendiri bagaimana kehidupan Luka. Suram, menurutnya…

Luka itu bagaikan kunci emas yang bisa membuka semua pintu. Sekali kau memilikinya, kau akan bisa memenuhi semua yang kau mau. Karena itu Luka harus menjaga dirinya agar tidak bisa diperdaya oleh orang lain.

"Sudah jangan bicarakan ini. Kalau terlalu suram, bisa-bisa fic ini berubah genre…" aa…terima kasih sudah mengingatkan author, ya, Luka…

"Eeh… Kalau begitu ganti topiknya, deh! Ah, aku tidak pernah tahu kau punya saudara…siapa namanya? Luki?"

"Iya, Luki. Dia sekarang kuliah di Amerika."

"Luki… mirip seperti bahasa inggris "Lucky", ya? Haha!" Luka hanya tersenyum.

"Bagaimana wajahnya? Mirip denganmu tidak?"

"Ya…mirip lah! Namanya juga saudara. Tapi sifatnya itu lho…" ucap Luka menggantung.

"Kenapa?"

"Sister complex…" lanjutnya dengan wajah datar. Wajah Kaito juga datar sih ketika mendengarnya.

"Haah…mungkin kurang-lebih dengan Akaito, ya?" Kaito menghela nafas.

"Adikmu yang satu lagi? Memang dia kenapa?"

"Terlalu over-protective terhadap Taito. Dulu sih tidak begitu, tetapi semenjak Ayah meninggal, dia sangat ketat menjaga Taito."

'Ayahnya sudah meninggal?' Luka sedikit terkejut akan fakta itu. Kaito tidak pernah menyebutkan sebelumnya. Ibunda Luka juga sudah meninggal, sih… Tapi melihat Kaito tetap bisa ceria seperti itu…dia hanya tidak bisa percaya.

"…Pokoknya aku lega karena dua saudaraku itu baik-baik saja meski tanpa orangtua!" Kaito terkekeh kecil, sedangkan Luka terkejut untuk kedua kalinya.

"Jadi kedua orangtuamu…"

"Sudah meninggal? Ya…tapi aku baik-baik saja, kok! Meskipun agak repot mengurus dua adikku itu," Kaito memotong sebelum Luka menyelesaikan kalimatnya.

Sedikit, ada rasa kagum terhadap Kaito. Dari luar sifat Kaito memang kekanak-kanakan. Bicara seperti ini Luka baru bisa menyadari kalau dia sangat dewasa. Sudah seharusnya, sih… Mengingat umur Kaito hampir mencapai dua puluh.

"Kau sepertinya sayang sekali pada saudara-saudaramu?" ya, memang terlihat dari cara ia membicarakan mereka.

"Tentu saja! Mereka satu-satunya yang kupunya…"

Luka melirik sebentar pada Kaito yang duduk di sampingnya. Sepertinya ada kemiripan…antara dia dan si rambut biru itu.

"Yaah… Aku tau rasanya, sih…" Kaito langsung menoleh pada Luka.

"Saat masih kecil, aku selalu bersama Luki. Di manapun ada dia, pasti aku ada juga, menggamit lengannya. Seperti teman terbaikku. Lalu dia pindah ke Amerika…saat itu aku masih di sekolah dasar. Aku…jadi seperti kehilangan teman…"

Kaito diam saja sambil tersenyum mendengarkan cerita Luka. Selanjutnya, gadis itu bercerita banyak tentang kakaknya. Tentang masa kecil mereka. Terlihat dari sorot matanya ketika menceritakan tentang Luki, bahwa gadis itu sangat menyayangi kakaknya itu.

Begitu asyiknya ia bercerita, ia tidak sadar dari tadi Kaito hanya menjawab dengan "Ooh," atau "Benarkah?" dan "Lalu?". Tapi biarlah. Lebih baik daripada gadis itu berteriak memarahinya.

Luka masih fokus mengemudi—dan bercerita—membuatnya tidak sadar akan satu hal lagi. Cara Kaito memandangnya saat itu sangat…lain.

Kalau tahu diperhatikan dengan sorot mata tulus dan hangat begitu, dia pasti langsung tersipu. Kaito lega ia tidak menyadarinya, jadi ia bisa terus memandangi wajah Luka sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.

Setelah memarkir mobilnya, biasanya Luka segera ke ruang rias. Tetapi tidak kali ini. Ia mencari Mikuo, ingin minta maaf karena kemarin meninggalkannya di tempat karaoke. Ia pun segera menuju ke studio tempat acara talkshow-nya nanti.

"Mana Mikuo?" tanyanya pada kru-kru di studio yang sedang mempersiapkan dekor untuk acara. Tetapi sebelum ada yang menjawab, ia menemukan sosok yang dicarinya duluan.

"Mikuo!"

"Hei, Luka!" Mikuo berbalik menghadap Luka yang sedang menghampirinya.

"Umm…maaf kemarin aku meninggalkan kalian begitu saja di karaoke…" Luka sedikit membungkuk.

"Ah, itu tidak masalah. Yang lainnya juga maklum, kok. Dan turut berduka atas kematian hewan kesayanganmu itu…" ucap Mikuo yang juga tersenyum mencurigakan.

Luka sedikit tersentak dan menelan ludah. Sudah pasti mereka tahu kalau alasan yang kemarin itu bohong. Apalagi Mikuo tahu kalau Luka alergi bulu anjing.

"Ng…i-itu…"

"Hmm…hei, Luka, siapa itu?" tak mempedulikan Luka yang mau memberi alasan lain, Mikuo melihat seseorang yang setahunya tadi tak ada di sana sebelum Luka datang.

Mikuo menunjuk ke arah pemuda berambut biru yang sedang berdiri diam, terbengong-bengong memperhatikan set studio.

"Oh, dia…kenalanku…"

Dan lagi, tanpa mempedulikan Luka yang berniat memberi penjelasan, Mikuo langsung saja menghampiri pemuda yang terlihat seumuran dengannya itu.

"Hei, kau!" Kaito yang merasa disapa pun menoleh.

"Kau kenalan Luka, ya?"

"Ng…iya. Aku temannya."

"Temannya? Kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?" ditanya begitu, Kaito jadi merasa seperti…dicurigai!

"Itu karena selama ini dia tinggal di luar negeri," sahut Luka yang sesaat tadi diabaikan.

"Tapi kau tidak pernah cerita, Luka…"

"Memangnya penting, ya?"

'Ow, sakit!' batin Kaito. Kalimat itu seperti menyatakan kalau ia tidak penting. Gadis itu memang sering mengatakan kata-kata kejam entah ia sadar atau tidak.

"Luar negeri…dimana?"

"Ah! Err…dia dari…"

"Korea," sahut Kaito karena Luka sepertinya agak bingung.

"Tidak terlalu jauh, kok!" lanjut Kaito lagi yang mulai bisa bersikap santai.

"Tapi namamu tidak seperti nama orang Korea?"

"Itu karena aslinya aku orang Jepang. Lahir juga disini, hanya saja saat diriku masih bayi, orangtuaku pindah ke Korea."

"Hee? Pantas saja kau fasih bahasa Jepang. Pasti orangtuamu yang mengajarkannya."

"Begitulah!"

'Wah…dia pintar sekali mengarang cerita! Teruskan, Kaito!' batin Luka sudah melompat kegirangan hingga akhirnya Mikuo berkata…

"Ah! Perkenalkan dirimu dengan bahasa Korea dong!" Mikuo meminta dengan semangat, sedangkan Luka…membatu!

Dia tidak tahu Kaito bisa bahasa Korea atau tidak. Mana mungkin ia tahu! Dan kalau ternyata dia tidak bisa, Luka bakal ketahuan bohong lagi! Dalam hati Luka berdo'a agar Kaito diberi mukjizat bisa berbahasa Korea…satu menit saja juga tak apa!

"Annyeong. Janaeun Kaito imnida."

"Wah… Keren! Luka curang sekali menyimpan manusia keren seperti ini untuk dirinya sendiri!" seru Mikuo.

"Apa maksudnya itu? Ah, aku mau ke ruang rias saja!"

"Iya, sebaiknya kau cepat. Tenang saja, aku akan menjaga temanmu ini, kok!" ucap Mikuo seraya menepuk dadanya sambil nyengir.

"Huh! Ya, ya… Kaito jangan lakukan yang aneh-aneh, ya!"

"Memangnya aku melakukan apa?" protes Kaito, tak didengar oleh Luka yang sudah melenggang pergi.

"Sudahlah, Luka memang begitu. Nah, sementara menunggu dia, ayo kita mengobrol di belakang panggung saja!"

Kaito mengangguk setuju. Senang ada yang bisa menemaninya selama menunggu Luka.

"Kau bisa kenal Luka darimana? Dia tak pernah menyebutkan seseorang bernama 'Kaito' sebelumnya."

"Mulanya sih dari internet, kami mengobrol banyak. Lalu aku memutuskan untuk tinggal di Jepang. Luka juga memperbolehkanku tinggal di rumahnya."

"Eh? Jadi sekarang kalian tinggal satu atap?" Mikuo terkaget.

"Ah, tidak! Maksudku…hanya untuk sementara saja. Kalau aku sudah dapat kerjaan, nanti aku akan cari kontrakan sendiri!" sergah Kaito sambil agak gelagapan. Sampai di rumah nanti, sepertinya dia harus bicara dan menyamakan cerita dengan Luka.

"Tapi…apa itu tidak bahaya? Seorang gadis dan seorang pria tinggal di bawah satu atap…"

"Tidak, tidak! Aku tidak akan melakukan yang tidak-tidak padanya!" lagi-lagi Kaito menyergah. Kali ini dengan banyak kata 'tidak' di dalam kalimatnya.

"Oke, oke…hanya mengetes, kok! Haha! Hei, tadi kau bilang kau disini untuk kerja?"

"Makanya, Mikuo. Kalau ada lowongan, beritahu, ya!" ucap Luka yang tiba-tiba saja muncul. Dia yang sudah berdandan, membuat Kaito takjub…malah mungkin terpesona?

"Luka?"

Ia memakai dress terusan se-paha dengan warna atasan hitam dan bagian roknya krem. Boots dan kalung manik berwarna hitam yang sangat serasi dengan bajunya. Rambutnya yang di-blow jadi terlihat sedikit bergelombang.

"Apa?" sadar Kaito terpaku menatapnya, Luka pun menegur.

"Ah, tidak…" dalam pikirannya dia berkata lain.

'Dia…cantik!'

Ayolah, Kaito… Dia Luka Megurine, loh! Hanya 'cantik'? Harusnya lebih dari itu!

"Karena kulihat kalian akrab, jadi aku tak perlu khawatir. Mikuo tolong temani Kaito, ya!" pinta Luka.

"Serahkan padaku!" seru Mikuo ceria, seperti biasanya.

Setelah itu Luka masuk ke set, Kaito dan Mikuo melanjutkan perbincangan mereka.

"Hei Mikuo, kamu kenal Luka sejak lama, kan?"

"Ya. Tadinya dia temannya Miku—adikku. Dan lama-lama jadi akrab. Tapi…jangan membicarakan Luka terus, deh! Sepertinya dirimu lebih seru."

"Maksudmu?"

"Maksudku, ayo kita jadi teman! Yeah, seperti itulah. Lagipula kau akan sering bersama Luka, dan akan sering bertemu denganku juga, kan?"

"Oh, iya. Tentu saja…" Kaito cukup senang juga bicara dengan orang yang ramah dan aktif seperti ini.

Pembicaraan pun berlanjut. Mikuo terlihat sangat antusias pada Kaito. SANGAT. Sepertinya bukan karena dia juga temannya Luka atau karena dia dari Korea, tetapi lebih ke pribadi Kaito. Misalnya tentang keluarganya, kebiasaannya dan hal-hal yang disukai Kaito.

'Padahal yang ada di talkshow itu Luka. Tapi disini aku juga seperti diwawancarai!' batin Kaito. Bukan merasa risih, kok. Hanya saja saat bicara dengannya, Mikuo terlihat selalu memasang senyum dengan bola mata melebar dan berbinar menatapnya. Begitu diperhatikan hingga membuatnya gugup.

"Kau suka es krim? Untungnya sikapmu tidak sedingin es krim yang kau makan! Haha!"

"Jauh dari sikap 'dingin', dia kekanak-kanakan," lagi-lagi Luka datang tiba-tiba, sudah seperti hantu saja.

"Wah, Luka-chan ternyata sudah selesai, ya," kata Mikuo, tersenyum. Sebenarnya daritadi dia tersenyum, sih…

"Sampai lupa waktu. Sepertinya perbincangan kalian seru sekali," sepertinya memang begitu. Sudah dua jam berlalu, Luka bahkan sudah mengganti pakaiannya lagi.

"Begitulah. Kaito cukup menyenangkan. Kapan-kapan bawa dia lagi, ya!"

"Selama dia tidak merepotkan, sih, tidak apa-apa."

"Kau benar-benar menganggapku seperti anak kecil, ya?" Kaito tersenyum sinis.

"Karena memang terlihat seperti itu, kan?" ucap Luka seperti tanpa dosa. Kaito hanya mengedarkan pandangan sambil menghela nafas.

"Sudah, sudah… Hei, bagaimana kalau kita makan siang?" tawar Mikuo.

"Boleh lah, aku juga sedang lapar. Mau kutraktir?" kata Luka.

"Tidak usah, aku saja. Hitung-hitung menyambut teman baru."

"Tidak perlu, Mikuo. Kemarin 'kan kau mentraktir karaoke, sekarang giliranku!"

"Sudah, tidak apa-apa. Aku sedang berbaik-hati nih! Kita langsung pergi saja, yuk!" Mikuo pun langsung merangkul Luka dan Kaito, lalu menyerat mereka.

"Memangnya mau makan di mana?" tanya Luka.

"Di restoran seafood dekat sini saja. Bagaimana?"

"Hmm… baiklah. Eh, tunggu! Handphone-ku tertinggal di ruang rias! Mikuo dan Kaito tunggu saja aku di lobby depan, ya!" Mikuo pun melepas rangkulannya pada kedua orang itu.

"Wah, bisa-bisanya. Ya sudah, cepat ambil!" Mikuo geleng-geleng kepala. Tidak biasanya Luka seceroboh itu, meninggalkan handphone-nya sembarangan.

Luka pun berbalik, niat berlari. Tetapi ia menubruk seseorang yang baru saja keluar dari pintu tak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Ouch!" Luka berteriak kecil. Tubuhnya sedikit goyah, dan untungnya orang yang baru ditabraknya itu menahan lengannya agar ia tidak jatuh.

"Tergesa-gesa sekali ya, Luka-chan…" ucap si rambut ungu—orang yang ditubruk Luka.

"Eh…Gakupo, ya. Maaf…" yeah, Luka baru saja menabrak seseorang yang dikenalnya.

"Tidak apa-apa. Hei, Mikuo-san…" dan sepertinya pemuda bernama Gakupo itu juga mengenal Mikuo. Mikuo pun menjawab salamnya dengan sebuah kata.

"Yo."

"Ehm… Gakupo…kau bisa melepaskanku sekarang," ucap Luka akhirnya karena Gakupo masih terus memegangi lengannya.

"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" senyum jahil yang dilontarkan Gakupo membuat darah Luka sedikit naik.

"Memangnya aku peduli?" Luka berkata-kata dingin lalu menepis tangan Gakupo. Ia pun segera pergi, menuntaskan niatnya mengambil handphone-nya yang tertinggal di ruang rias.

"Sulit didekati, seperti biasa, ya?" Mikuo berkata jahil.

"Namanya juga Luka… Ah, siapa dia?" tanya Gakupo, mengacu pada pemuda berambut biru kita—Kaito yang keberadaannya sempat terlupakan.

"Oh, dia kenalanku dan Luka…"

"Kaito."

"Aku Gakupo Kamui. Senang bertemu…" Kamui menyambut uluran tangan Kaito dan balik memperkenalkan diri.

"Kaito baru saja datang ke Jepang. Sekarang kami mau makan siang bareng. Kau ikut?" tawar Mikuo.

"Sepertinya tidak bisa. Masih banyak yang harus kukerjakan. Ah, sekarang saja aku tak bisa lama-lama di sini."

"Baiklah, lain kali."

"Yeah. Aku duluan. Mikuo. Kaito"

"Bye," Mikuo melambai kecil pada Gakupo yang meninggalkan mereka.

"Entah kenapa…wajahnya seperti tidak asing…" gumam Kaito.

"Yah, wajar saja. Dia 'kan model. Meski namanya belum terlalu naik, sudah muncul di beberapa majalah."

"Oh…" Kaito tidak terlalu peduli dengan hal itu.

"Meskipun kelihatannya serius dan cool begitu, tapi kalau sudah bertemu Luka bisa jadi sangat kocak, lho."

"Eh? Kenapa begitu?"

"Habisnya hubungan Luka dan Gakupo itu… Gakupo jatuh cinta pada pandangan pertama! Hahaha!"

"Aku bertaruh, Luka pasti tidak mau dengannya."

"Yup. Tapi Gakupo tidak mudah menyerah. Meskipun kalau bertemu dengannya Luka selalu bersikap dingin dan jutek…"

"Tapi, Luka itu… Meski di media sering ada gosip dia berpacaran, namun tidak pernah terbukti."

Luka memang sering digosipkan menjalin hubungan dengan rekan kerjanya. Semacam cinta lokasi. Contohnya kemarin dia digosipkan berpacaran dengan bintang lain yang menjadi bintang video clip-nya.

"Karena memang tidak pernah. Sepertinya jarang sekali ada laki-laki yang menarik perhatiannya."

"Sama sekali tidak pernah?"

Mikuo menggeleng. Setidaknya Kaito bisa mengira-ngira alasannya. Alasan yang sama dengan kenapa hanya beberapa orang yang bisa jadi teman dekatnya. Tapi yang disayangkan Kaito adalah; Luka itu remaja. Meskipun bukan remaja biasa, pastilah ia menginginkan sedikit warna percintaan singgah di hidupnya.

"Dia memang sulit didekati. Karena itu aku kaget dia bisa punya teman dari jauh sepertimu."

"Sebegitu senangnya kalian menjadikanku topik pembicaraan, huh?"

Lagi-lagi Luka yang entah sejak kapan berdiri di sana—seperti hantu. Sedangkan Kaito dan Mikuo hanya bisa cengar-cengir.

"Hahaha! Tak apa, kan? Bukan cuma kami, kok. Dirimu kan sudah jadi perbincangan publik," elak Mikuo. Luka hanya memutar mata jengah, mewakili kata 'whatever' yang disuarakannya dalam hati.

"Sudahlah. Kita cepat-cepat saja. Kau juga masih ada banyak jadwal, kan?" Mikuo pun merangkul kedua orang itu lagi dan mereka keluar dari gedung. Tidak ada yang tau bahwa sepasang mata mengamati mereka dari atap gedung tersebut.

"Ya. Pria berambut biru itu juga ada di sana," ucapnya pada seseorang di seberang telepon yang ditempelkan di telinga kirinya.

"Aku hanya bicara sedikit dengannya. Tak ada yang penting. Kelihatannya juga tidak terlalu berbahaya," lanjut pria jangkung yang rambut ungunya mulai bergerak-gerak tertiup angin itu.

"Aku mengerti. Jangan meremehkannya dan lanjutkan tugasku," sambungan telepon diputus oleh pihak lain. Pria itu pun menjauhkan benda elektronik itu dari telinganya dan berfokus kembali pada objek pengamatannya.

"Tetap pada tugasku untuk mendapatkanmu… Putri Luka…" dan si pemuda ungu bernama Gakupo itu tersenyum manis nan ambigu.

~To Be Continued~

A/N:

Annyeong~ #mulai tertular virus korea

Mau gebuk saia karena update yang kelewat lama? Yeah…go ahead karena itu memang kebiasaan…ralat, PENYAKIT saia –w-

Ahm…mulai sekarang saia bakal menaruh author's note di akhir saja. Sekalian balas review yah~ :3

Lilith Noir Lawliet : makasih buat review dan pujiannya~ *smiles* ini udah saia lanjut~^^

Asakuro Yuuki : eeh? Waah, stalker sungguhan… saia kagum~ (loh?). Kalau tentang ayahnya Luka, itu… s-e-c-r-e-t! ufufufu~ Ini sudah diupdate, makasih review-nya~

ReiyKa : ah, kalau itu... Saia yang kurang teliti dalam memakai kata-kata! Makasih sudah bersedia koreksi, dan buat review-nya *bows*

Dan makasih juga buat kalian-kalian yang bersedia membaca fanfic dari saia ini! Kalau bisa, sih… Review, Please~

Saia menerima segala jenis caci-makian, pujian, koreksi, et cetera ^^

Sampai jumpa di next chappie~ *bows