Hai, saya kembali setelah WB berat dan kesibukan nyata yang naujubilah itu. Entah sejak kapan penyakit yang bernama writer's block itu menjangkiti saya, yah ini salah satu tantangan yang harus saya sembuhkan. Saya suka menulis, dan untuk penyakit cemen gitu aja masa iya saya kalah, kau tidak tahu berhadapan dengan siapa HAHAHAHA *ketawa nista* yaah walaupun sampe berbulan-bulan sih, tapi here I am. I'm baaaccckkkk!
Saya sebenernya gak ngerti sih nih cerita tentang apa *ditabok* *sungkeman* tapi saya sudah nyiapin draft diotak saya untuk fic yang satu ini.
Semoga suka, terimakasih untuk yang udah baca dan segala jejak kalian yang ditinggalkan baik yang terlihat ataupun tidak.
Oh iya saya lupa nyantumin disclaimer, gomen ne, saya sudah tua ternyata *baru nyadar*
Happy reading!
Inilah aku dan segala takdir yang kubawa di pundakku
Sesekali berhenti berpijak dan mengkhayal sedang terbang diangkasa
Tuhan, aku tak meminta beban yang ringan
Tapi kumohon, kuatkan langkahku
Aku sudah lelah mengeluh dan bertanya mengapa
Untuk itu
Jika aku telah merasa lelah, yakinkan aku senyum-Mu menanti diujung sana
Chef vs Singer
Disclaimer: Vocaloid isn't mine
Typo(s), berantakan, abal, gaje
"Rin-sama, bagaimana dengan makanan saya?"
"Kaito-nii, jangan panggil aku sesopan itu!"
"Ta-tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian Kaito-nii, atau aku tidak akan mau lagi mencicipi masakanmu!"
"Ah ya, ba-baiklah, Rin-chan."
"Nah, begitu. Hmmm mmm, enak, kau hanya perlu menambahkan sedikit keju diatas pisangnya, dan makananmu akan perfecto."
"Benarkah itu? Wah, terimakasih Rin-sama."
"Kaito-nii!"
"Haha, aku senang sekali meledekmu, Rin-sama."
"Rin- siapa?"
"Umm iya-iya Rin-baka!"
"Aaaaaahhh, Kaito-nii jangan lari! Akan kubuang semua es krim milikmu itu."
"Hahaha, tangkap aku dulu baru boleh kau buang semua nyawaku itu."
Pemuda berambut biru yang memakai apron putih sebagaimana chef lainnya tengah berlari keluar menuju pintu belakang dapur restoran itu, tawa renyahnya bergema seiring mulutnya yang terbuka, sesekali kepalanya menengok ke belakang, lalu kemudian kembali tertawa lagi.
Tak jauh dari pemuda itu, terlihat gadis bertubuh kecil yang sedang menggembungkan pipinya sambil berlari mengejar orang di depannya. Rambut pirangnya ditutupi sebuah topi chef yang bertengger manis mempertegas penampilannya sebagai ketua-chef, baju putihnya terlihat bersih tanpa noda, dan sebuah spatula teracung menantang di genggaman tangan kanannya.
Di taman belakang restoran itu, dua makhluk beda warna rambut itu terus berputar kesana kemari seiring pijakkan langkah kaki mereka. Si pemuda terlihat ceria, dan si gadis terlihat merengut sebal.
"Kaito-nii berhentiii…!"
"Tak akan baka-orange."
"Dasar es krim menyebalkan."
"Jeruk pirang."
"Biru bodoh."
"Kuning kecil."
"AAAAAA… Kaito-nii kau benar-benar membuatku maraaah!"
"Hahahahaha."
Adegan saling melempar ejekan sambil terus berlarian itu tetap berlanjut, membuat seorang gadis cantik yang melihat itu kembali mengurut keningnya, selalu seperti ini sejak dia memperkerjakan gadis aktif yang sekarang menjadi ketua chef di restoran miliknya.
"Kembalikan topiku Bakaito!"
"Kau bisa mendapatkannya setelah semua jeruk di dunia ini aku tumpaskan. Hahahaha."
"Awas ka-"
"BERHENTI KALIAN BERDUA!"
SIIIIINNNGGGG
Kedua makhluk beda kelamin ini sontak menghentikan langkahnya dan langsung menatap satu sama lain dengan pandangan horror.
"Luka-sama / Luka-nee?"
"KEMBALI BEKERJA ATAU KUBUANG SEMUA ES KRIM DAN JERUK KALIAN!"
"Huwaaaaa…."
Dan hanya acara kabur-lah kedua manusia itu bisa sangat kompak dalam waktu yang bersamaan.
"Tuhan, apa salahku?" kata gadis yang kini tengah mengurut frustasi keningnya lagi – Megurine Luka.
.
.
.
Namanya Rin Kagamine, umurnya baru 17 tahun, tapi kemampuannya dalam bidang memasak tidak usah dipertanyakan lagi. Berbagai gelar telah 'nyangkut' dinamanya bahkan saat ia masih bersekolah di sekolah khusus memasak taraf internasional di kotanya.
Tangan-tangan mungilnya selalu berhasil meracik paduan bumbu dalam setiap makanan yang dia buat menjadi luar biasa lezat. Otaknya tak pernah berhenti menyuguhkannya berbagai resep baru yang senantiasa dicobanya setiap hari, dan tidak pernah sekalipun percobaannya itu gagal.
Restoran 'Petrichor' tempatnya bekerja kini adalah restoran yang tadinya hampir bangkrut karena ketua chef yang dulu meninggal dan tidak ada satu pun dari bawahannya yang tahu resep rahasia dari sang ketua, jadilah mereka menerka-nerka sendiri bumbu apa yang harus ditambahkan pada setiap makanan. Dan mengenai hasil? Tak jauh lah dari makanan meow.
Pemilik restoran itu nyaris saja menutup restorannya jika saja dia malas datang ke acara penghargaan bergengsi dalam dunia kuliner yang sudah enam puluh tahun digelar di negaranya. Disana dia duduk dengan pandangan miris, ya harusnya dirinya masuk dalam nominasi restoran terbaik, tapi sekarang sepertinya dia sudah harus berhenti memikirkan itu.
"PEMENANG DARI CHEF PROFESIONAL BERBAKAT TAHUN INI JATUH KEPADA…"
Suara pembaca kategori yang bergema keras di ruangan itu membuat si cantik pink ini kembali memfokuskan pikirannya pada acara yang sedang berlangsung, matanya memandang malas pada panggung didepannya.
"RIN KAGAMINE!"
Riuh tepuk tangan para hadirin langsung membahana memenuhi ruangan, sorakan kagum dan senang terus mengalir dari mulut para undangan itu.
Luka hanya bisa diam di kursinya dan ikut bertepuk tangan pelan, dia tidak merasa harus repot-repot bersemangat seperti yang lainnya, karena jujur saja dia tidak tahu apa yang menarik dari pemenang kategori ini.
Matanya kemudian melihat seorang gadis mungil yang sedang melangkah ragu keatas panggung dengan wajah merah, 'sedang apa dia disini?' tanya Luka dalam hati.
Gadis mungil itu akhirnya berdiri di depan podium sambil mengucapkan syukurnya layaknya pemenang-pemenang sebelumnya, dan akhirnya disitulah Luka baru sadar dari ketidaktahuannya sejak tadi.
Gadis itu baru berusia tujuh belas tahun! Kuulangi, BARU TUJUH BELAS TAHUN!
Lalu?
Biasanya pemenang dari kategori ini adalah mereka yang sudah sepuh, yang namanya sudah melanglang buana hingga ke sudut penjuru dunia, yang bekerja di berbagai restoran multi-nasional yang sudah mempunyai nama.
Dan sekarang, yang menjadi pemenang itu adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun dan baru saja lulus dari sekolah memasaknya kurang lebih sebulan yang lalu.
'Ingatkan aku jika kiamat memang sudah benar-benar dekat.' ucap Luka dalam hati, masih terkejut akan fakta yang baru saja ia sadari. Tapi tak lama kemudian, sebuah ide cemerlang benar-benar mendarat tepat di kepala berhiaskan mahkota pink miliknya.
'Semoga berhasil.' pintanya dalam hati.
"Dan yang terakhir, aku ucapkan terimakasih yang tak dapat kuungkapkan banyaknya kepada siapapun yang memercayai saya sebagai pemenang kategori chef professional berbakat ini. Hontou ni arigatou gozaimasu."
Dan dengan berakhirnya kalimat itu, maka gadis pirang itu melangkah menuju belakang panggung, masih dengan wajah merah dan senyum bahagianya.
Bersamaan dengan itu, Luka bergegas menyusul si pemenang barusan, mencegah ada 'lawan' lain yang bisa jadi mendahuluinya dan lenyaplah kesempatan emas yang sedaritadi dia pikirkan.
"Hei, tunggu." Luka memaksa langkahnya untuk terus mendekat kearah Rin yang sekarang sudah menengok ke belakang dengan raut wajah bingung.
"Aku?" telunjuk kanannya menunjuk wajahnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Ya, kamu. Umm bisakah kita berbicara sebentar?"
"A-ano, maaf kau siapa?"
"Aku Megurine Luka. Panggil saja Luka. Aku sudah tahu namamu, Rin Kagamine si chef professional berbakat tahun ini." kata Luka sambil mengerling ke benda yang ada di tangan Rin, sebuah piala terbuat dari kristal bening dengan pahatan siluet orang yang sedang memegang spatula.
Spontan wajah Rin kembali memerah, sambil menunduk malu dia berkata, "Panggil saja aku Rin."
"Ah tentu saja, Rin. Jadi bagaimana? Bisakah kita bicara?"
"Baiklah."
"Nah, ayo kita ke restoranku." Luka menyeret salah satu tangan Rin hingga membuat sang pemilik sedikit kaget dan nyaris saja menjatuhkan benda berharga di tangannya yang lain.
"Ta-tapi acaranya belum selesai."
"Kau tidak akan sanggup menunggu acaranya selesai tanpa tertidur di kursimu kurang lebih selama satu jam."
"Semembosankan itukah?"
"Ya, mengingat sekarang adalah giliran si baka Gakupo untuk mengisi penutupan dengan ceramah yang sangat menjengkelkan."
"Baka Gakupo?" Rin mengernyit bingung, langkahnya tidak berarturan karena Luka menggeretnya dengan tidak berperike-Rin-an.
"Masa kau tidak mengenalnya? Dia kan penyelenggara acara ini selama empat tahun terakhir, Rin. Lelaki terong itu tidak akan bisa jika hanya berbicara sepenggal dua penggal kata, membuat siapa saja sangat ingin memenggal kepalanya saat itu juga." Luka berbicara dengan nada kesal yang sangat ketara, sepertinya dia memang mempunyai masalah dengan lelaki itu.
Rin hanya bisa tertawa geli, bagaimana mungkin lelaki yang sangat disegani itu bisa dijelek-jelekkan oleh gadis pink yang tengah menyeretnya kini? Eh, tapi tunggu-
"Umm Luka-nee, apa tadi kau bilang Gakupo-san itu lelaki?"
Brak!
Tubuh kecil Rin tiba-tiba saja menabrak tubuh seseorang yang tadi ada didepannya, ya, Luka menghentikan langkahnya secara mendadak dan itu tidak disadari oleh Rin tentu saja.
Luka membalikkan tubuhnya kearah Rin yang kini tengah memegangi kepalanya, matanya menatap Rin aneh, "Tentu saja, memang kau kira dia itu.."
"Aku kira selama ini dia perempuan, habis rambutnya panjang dan berwarna ungu seperti itu." Rin berbicara inosen dengan raut wajah tak mengerti.
"Hahahahahahaha, haha, Rin haha,kau haha." Luka tertawa keras sambil menunjuk-nunjuk Rin jenaka.
Ada apa sih dengan dia? Rin bertanya dalam hati.
Luka yang mendapati kebingungan di wajah Rin tetap saja tidak berhenti tertawa, matanya bahkan sudah berair akibat tawanya yang berlebihan.
"Haha, uh aduh perutku. Hmm ehem ehem, jadi Rin, kau pikir selama ini si terong itu perempuan?"
"Ya, makanya aku heran kenapa setiap bertemu dengannya dia memakai jas. Kupikir dia mempunyai panu jadi malu memakai dress ke setiap acara, apala-"
"HAHAHAHA, panu hahahaha dia panuan hahahaha, terong baka punya panu hahaha." Luka dengan suksesnya tertawa lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya, memotong pembicaraan Rin yang kini benar-benar memasang tampang waspada terhadap perempuan cantik yang tengah terpingkal-pingkal dengan wajah merah.
"Umm, Luka-nee, apa nama restoranmu?" tanya Rin mengabaikan Luka yang masih saja tertawa keras.
"Ah? Haha restoranku ya? Hahaha itu haha petrichor."
Rin menghela nafas panjang, lalu kemudian kini dia mengambil alih tugas Luka yang seharusnya menyeret tangannya hingga ke restoran milik perempuan itu.
"Haha, jangan-jangan dia memang memiliki panu, Rin. Haha." Luka masih dengan tawanya mengikuti langkah Rin yang kini tengah menyeret tangannya menuju restoran.
Rin diam, dia tidak ingin menanggapi tingkah Luka yang sekarang bertransformasi dari seorang perempuan yang anggun dan berkelas menjadi perempuan yang seolah tidak mempunyai rasa malu.
"Luka-nee, kita sudah sampai. Tapi kenapa restoranmu tidak buka? Bukankah sekarang hari sabtu jadi ramai pembeli kan?" Rin melihat-lihat kedalam restoran melalui kaca yang menjadi dinding restoran itu, matanya tadi sempat melihat papan bertuliskan 'Close' di depan pintu restoran itu.
Tawa Luka seketika terhenti, digantikan dengan senyum sendu di wajahnya. Dia tidak mengatakan apapun pada Rin, tangannya kini memutar kunci pada lubang pintu restoran itu.
"Nah, ayo masuk." ajak Luka.
"Baiklah, aku bicarakan langsung ke inti saja ya?" Luka meletakkan dua cangkir cokelat hangat diatas meja yang dia dan Rin tempati, lalu kemudian duduk berhadapan dengan Rin.
"Ya, sebenarnya ada perlu apa denganku?"
"Maukah kau bekerja disini, Rin?"
Rin nyaris saja menyemburkan kembali minuman manis yang sedang dalam proses menuju tenggorokannya, dengan cepat diambilnya tisu dan langsung mengelap mulutnya yang masih belepotan cokelat.
"Bekerja disini?"
"Ya. Kau tahu? Aku baru saja akan menutup restoran ini jika saja aku tidak bertemu denganmu. Kau satu-satunya harapanku agar restoran ini tetap ada, jadi maukah kau membantuku?"
Jika ditanya seperti itu, maka tentu saja Rin akan dengan senang hati menganggukkan kepalanya tanpa ragu.
Restoran ini, Petrichor. Restoran yang sangat dikenal di seluruh pelosok negerinya, bahkan ada yang mengatakan kalau restoran ini ada di urutan pertama restoran tersukses di Asia. Lihat saja bangunannya yang bertingkat lima ini, ditambah desainnya yang sangat menyamankan siapapun yang berkunjung kesini, terlebih lagi rasa dari makanan disini yang tidak akan pernah sanggup memuaskan pengunjung hanya dengan sekali mencoba.
Dulu, dua tahun yang lalu sebelum dia masuk ke asrama memasaknya, restoran ini masih menjadi tolak ukur restoran-restoran lainnya, dan sekarang setelah dia bisa bebas dan kembali lagi kesini, restoran ini bagaikan gudang kosong dengan banyak meja dan kursi di dalamnya.
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Rin penasaran.
"Ketua chef yang dulu meninggal, dia adakah rekan mendiang ayahku yang ikut membangun restoran ini. Dia yang mengetahui satu bumbu yang selalu dibawanya dari rumah, itu yang menjadi rahasia makanan-makanan disini mempunyai rasa yang luar biasa,
Tapi sayangnya, saat dia akan memberitahuku bumbu itu, dia sudah tewas karena kecelakaan saat menuju kesini. Aku sudah memerintahkan chef yang lain untuk membuat menu baru, tapi ternyata pengunjung datang kesini untuk memakan menu yang sudah familiar bagi mereka, dan kami tidak bisa memberikan itu. Lama-lama citra restoran ini semakin buruk dan hingga sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Rin terdiam, membiarkan Luka menyelesaikan omongannya terlebih dulu.
"Restoran ini adalah hidupku. Sejak kecil aku kebanyakan menghabiskan waktuku disini. Bohong jika aku berkata aku tidak sedih, aku bahkan hancur. Melihat mereka yang berkerja disini kecewa karena aku telah menyerah mempertahankan tempat ini membuat rasa bersalahku semakin bertambah, mereka adalah teman-temanku disini. Dan aku telah mengecewakan mereka, membiarkan mereka pergi satu persatu tanpa bisa kucegah. Jadi kumohon Rin, berapapun yang kauminta akan aku berikan, aku masih mempunyai sedikit tabungan. Tapi kumohon bantu aku."
"Bagaimana kau yakin aku bisa membantumu? Aku bahkan tidak tahu bagaimana bentuk dari bumbu rahasia itu, aku tidak yakin bisa membuatnya." kata Rin ragu.
"Aku tidak memintamu untuk membuat bumbu itu. Aku hanya ingin kau bekerja disini, membuat menu-menu luar biasa lainnya yang berasal dari sini, tangan-tangan mungilmu ini. Walau nanti aku memang akan gagal lagi, tapi setidaknya aku sudah berusaha hingga kemampuanku sudah mencapai batasnya."
Hening.
Kedua kepala itu tengah sibuk dengan berbagai pikiran yang memunculkan kemungkinan-kemungkinan kedepannya akan sebuah keputusan yang mereka ambil.
Lama keadaan sunyi seperti itu, hingga satu hembusan berat mengawali pecahnya keheningan yang ada.
"Aku bersedia."
Hanya dengan dua kata itu, mampu membuat pemilik surai serupa bunga sakura itu menatap tak percaya pada sosok dihadapannya yang balik menatapnya yakin. Sedetik kemudian, pemilik restoran itu tengah memeluk erat gadis mungil yang kini tersenyum bahagia.
"Terimakasih, Rin."
"Aku yang harus berterimakasih, Luka-nee. Terimakasih telah memberiku sebuah kesempatan langka yang sudah menjadi mimpiku sejak dulu, menjadi bagian dari restoran ini. Aku akan berusaha sebisaku. Dan soal bayaran, jangan pikirkan itu. Kau baru boleh membayarku jika restoran ini sudah bisa sukses lagi. Aku tidak bisa menjamin apapun, tapi aku yakin restoran ini akan bangkit lagi. Para pengunjung setianya telah tak sabar menunggu diluar sana, bukankah begitu Luka-nee?"
"Sungguh, aku sangat berterimakasih Rin."
"Tak perlu. Jadi besok apakah aku sudah bisa mulai bekerja disini?"
"Tentu. Aku akan menghubungi para chef yang dahulu bekerja disini, semoga mereka masih mau berada disini lagi."
"Aku yakin mereka mau, bukankah katamu mereka adalah teman-temanmu? Dan seorang teman akan selalu berdiri disana, kapanpun kau menoleh kearahnya. Iya kan?"
Luka tersenyum tulus. Kebahagiaan terlukis kuat di wajah cantiknya.
Sebuah keputusan yang diambilnya kurang dari dua jam yang lalu. Sebuah keputusan ditengah keputus-asaannya. Sebuah keputusan yang tak akan pernah disesalinya. Sebuah keputusan yang mengembalikan semua keindahan dalam hidupnya.
.
.
.
Di lain tempat.
"AAAAAA….. Kau tampan sekaliii…!"
"Tanda tangani bajuku, kumohon!"
"KYAAAAA, dia tersenyum kearahku!"
"Tuhan, aku rela menukar apa saja asal aku bisa berbicara berdua dengannya."
Teriakan-teriakan yang didominasi kaum hawa itu menggelegar di depan sebuah hotel megah nan mewah saat sebuah limousine dan seorang pria tampan turun dari sana, puluhan bodyguard berbaris rapi di pinggir karpet merah yang menjadi jalan masuk ke hotel, desakkan penonton membuat beberapa penjaga keamanan kewalahan dan harus bersikap tegas jika ada beberapa orang yang mengacau.
Sebuah senyum senantiasa terpatri di wajah tampan itu. Pria yang memakai jaket sport berwarna hitam yang menutupi kaus putih yang dipakainya, celana jeans biru gelap yang melekat di kakinya, sepasang sepatu sport keren yang terpasang sempurna, serta sebuah kacamata hitam yang menutupi kedua matanya itu adalah sumber dari segala keributan di pagi hari ini.
Langkah kakinya terus membawanya masuk menuju hotel itu, terus tersenyum sambil mengedarkan pandangannya kearah para gadis itu, hingga seketika senyum itu lenyap saat dirinya yakin sudah sepenuhnya masuk ke dalam hotel dan tidak dapat dilihat dari luar. Raut dingin dan aura tidak suka langsung mendominasi pemuda itu.
"Cih, menyebalkan." ujarnya singkat sambil membimbing kakinya ke sebuah lift untuk menuju kamarnya yang berada di lantai lima puluh.
Dengan wajah malas dan datar, dia memasuki kamar paling mewah yang ditempatinya di hotel itu. Lalu tanpa banyak bicara langsung dibanting tubuhnya ke kasur empuk berukuran king size di kamarnya.
"Bagaimana acaranya tadi?" kata seseorang yang baru saja muncul dari kamar mandi dengan handuk yang masih dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Aku tidak suka. Terlalu banyak berbasa-basi. Katamu itu hanya talkshow yang membahas mengenai karirku, mengapa mereka malah menanyai kehidupan pribadiku?"
"Haha, wajar saja. Kau kan sedang berada di puncak karirmu, jadi wajar jika mereka juga ingin tahu kehidupan pribadimu, kan?"
"Aku tidak pernah meminta berada di puncak. Ingat itu." Pemuda tampan itu menatap tajam orang yang kini sedang menyisiri rambutnya itu.
"Dengar, Len Kagamine. Kau sekarang sudah berada di puncak yang tak kau inginkan itu, dan kau tidak bisa menyangkal apapun selain mengikuti arusnya."
"Dan dengar, Mikuo Hatsune. Aku tidak peduli akan hal itu, dan aku bisa melakukan apapun sesuai kehendakku."
"Kau keras kepala."
"Setidaknya aku tidak sok mengatur sepertimu."
"Hei, wajar saja. Aku kan manajermu." seru pemuda yang dipanggil Mikuo itu.
"Aku lapar." Pemuda bernama Len itu mengabaikan perkataan pemuda hijau dihadapannya.
"Yasudah, kita akan ke sebuah restoran paling terkenal disini."
"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin makan."
"Haha, baiklah baiklah tuan egois. Pakai penyamaranmu sekarang jika kau ingin cepat-cepat makan."
"Cih." Len hanya mendecih, tapi tangannya secara cepat memakai segala aksesoris penyamarannya jika ingin pergi keluar tanpa kehadiran para fansnya yang menurutnya berisik itu.
Sebuah wig hitam menutupi rambut pirangnya, topi baseball putih tak lupa dia kenakan diatas wig itu. Lalu tentu saja kacamata hitamnya.
"Sudah?" tanya Mikuo.
"Jangan banyak tanya. Cepat berangkat."
"Yayaya, apapun katamu tuan." kata Mikuo malas.
.
.
.
"Ada yang bisa kami bantu, tuan-tuan?" seorang perempuan dengan rambut panjang pirangnya bertanya ramah pada dua orang pemuda yang baru saja menduduki kursi di restoran tempatnya bekerja itu.
"Ah, tentu saja. Boleh kuli-"
"Bawakan kami semua makanan terbaik yang kalian miliki. Kudengar ini restoran terbaik disini kan? Aku ingin tahu seberapa 'terbaiknya'."
Ucapan pemuda berambut hijau langsung disambar oleh pemuda satunya yang duduk sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya sama sekali tidak melihat pelayan perempuan disampingnya, melainkan menatap lurus kedepan.
"A-ah ya. Baiklah kalau begitu. Mohon sabar menunggu selagi makanannya kami siapkan. Terimakasih." Pelayan cantik itu langsung melesat kearah dapur tanpa bertanya lagi.
5 menit kemudian.
"Bisakah cepat? Aku sudah lapar." Pemuda yang sedang mengenakan penyamarannya itu berkata dengan suara kencang, membuat beberapa pelayan dan pengunjung lain menoleh kearahnya.
"Hei, Len. Kita saja belum lama memesan. Kau meminta semua menu terbaik restoran ini dibawakan, jadi bersabarlah. Mereka juga pasti sedang repot. Kau lihat kan restoran ini sangat ramai?" kata Mikuo mencoba menenangkan Len.
"Aku tidak peduli."
Seorang chef berambut biru yang mendengar perkataan Len langsung saja menghampiri meja kedua pemuda itu sambil tersenyum ramah.
"Maaf membuat kalian menunggu, tapi kami sedang memasakkan semua masakan yang anda pesan. Jadi selama menunggu, aku sudah menyiapkan dua banana split untuk kalian. Semoga menyukainya." Pemuda itu meletakkan dua porsi banana split ke meja berwarna hitam dari kaca itu, lalu setelah itu kembali ke pekerjaannya.
"Ah pelayanan restoran ini benar-benar bagus. Bukan begitu, Len?" tanya Mikuo yang tidak ditanggapi pemuda itu.
Len kini sibuk dengan banana splitnya, atau lebih tepatnya sibuk mengambil semua pisang yang ada di piring milik Mikuo dan menaruhnya kedalam piringnya sendiri.
"Dasar pisang lover." kata Mikuo sambil terkekeh pelan.
Yah setidaknya dengan adanya pisang si pemuda keras kepala itu bisa diam kan untuk sementara? Restoran ini benar-benar tahu bagaimana cara membuat pengunjung yang bertingkah menjadi tenang. Pikir Mikuo geli sambil menatap Len yang dengan rakus menyantap es krim beserta pisang miliknya.
.
.
.
Di dapur restoran.
"Huh dasar pemuda sombong." keluh seorang perempuan sambil menyisir rambut pirang panjangnya.
"Siapa yang kau maksud?" perempuan pirang lainnya yang tengah memberikan sentuhan terakhir pada makanan terakhir pula yang dimasaknya.
"Tentu saja orang yang sama dengan orang yang memesan semua makanan yang baru saja kau masak itu, Rin."
"Hmm, Kaito-nii juga bilang begitu. Aku jadi penasaran seperti apa sih orangnya?"
"Kau lihat saja sendiri."
Rin meletakkan dua irisan tomat di sebuah piring putih dengan masakan khas Jepang yang mengisi diatasnya.
"Selesai." kata Rin riang.
"Sudah semua ya? Sebaiknya aku segera mengantarkan ini sebelum pemuda itu mengamuk lagi."
"Biar kubantu. Ini sangat banyak dan kau tak mungkin membawa semuanya seorang diri, lagipula aku juga ingin tahu orang yang kau bicarakan itu, Neru."
"Hmmm baiklah. Siapkan saja emosimu agar tidak meledak."
Rin hanya tersenyum simpul. Semenyebalkan itukah pemuda itu?
.
.
.
"Selamat menikmati." kata Rin ramah.
"Hah, lama!" seorang pemuda berambut hitam mendengus sebal, lalu mulai menyendok makanan pertama yang menggugah seleranya, lalu beralih ke makanan lainnya, kemudian ke makanan yang lain lagi, begitu seterusnya.
Setelah menelan makanan terakhir yan dicicipinya, pemuda itu meletakkan sendok yang tadi dia gunakan lalu mengelap mulutnya dengan serbet yang ada di depannya.
Rin dan Neru yang masih setia berada disana hanya bisa berharap semoga masakannya tidak mengecewakan.
Restoran itu sudah sering mempunyai pengunjung seperti Len, dan semua pengunjung itu akan langsung berwajah hangat setelah memakan masakan restoran itu, dan kali ini semoga Len juga seperti itu.
"Tidak enak." ucap Len singkat.
HEEEEHHHHH?
Rin mengernyitkan alisnya bingung, seingatnya tadi dia sudah sangat teliti dalam memberi bumbu, dan dia telah mencicipi semua masakannya sebelum dihidangkan di meja pemuda itu, dan dia yakin lidahnya masih bisa merasakan makanan lezat seperti yang telah dibuatnya.
Sedangkan Neru hanya memasang wajah tidak suka, 'pasti dia berbohong.' kata Neru dalam hati.
"Tidak. Ini semua enak kok, Len." Mikuo menyanggah ucapan Len, karena baginya semua makanan itu memang enak, bahkan luar biasa enak.
"Seleramu rendah sekali, Mikuo. Bumbunya terlalu berlebihan, bahkan ada yang sangat pedas hingga membuat tenggorokanku terasa panas. Ini yang kalian sebut makanan terbaik? Kenapa tidak tutup saja restoran buruk ini, heh?" Len menyeringai sinis.
Rin yang mendengar itu tentu saja emosi. Siapapun boleh mengkritik makanannya, justru itu akan membuatnya termotivasi untuk berbuat lebih baik. Tapi menghina restoran ini? Tak akan dia biarkan siapapun melakukan itu. Mereka tidak tahu kan bagaimana susah payahnya Rin dan yang lainnya membangun kembali restoran itu dari keterpurukan terburuknya?
"Maaf jika mengecewakan. Tapi kami telah memberikan yang terbaik yang kami bisa. Dan jika kau tidak suka dengan masakanku, jangan sangkut pautkan dengan restoran ini." kata Rin berusaha menekan emosinya.
"Cih, jadi kau yang memasaknya? Oh kau ketua-chef ya? Pantas saja, kau masih kecil. Lebih baik kau tidur siang, bocah."
"Terserah apa katamu. Silakan pergi, tidak usah membayar karena kami tidak sudi menerima uang dari orang sepertimu." Rin berkata ketus.
Len yang selama ini selalu dipuja dan dihormati tentu tidak akan terima dengan kalimat pelecehan baginya itu.
"Kau… tidak tahu siapa aku kan?"
"Apakah itu penting? Kau pikir aku peduli?"
"Aku bisa saja menutup restoran ini jika aku mau."
"Lakukan saja apa maumu, tuan shota."
Len tidak bisa menahan emosinya kini, ayolah, selama ini wajah tampannya mampu membius semua kaum hawa yang melihatnya. Dan shota? Oh ini penghinaan lainnya yang dilakukan oleh gadis yang sama dalam sehari ini.
Dengan kesal, dilepasnya wig hitam dikepalanya, lalu disusul oleh kacamata hitamnya. Dan tampaklah seorang Len Kagamine, seorang penyanyi kelas atas yang berhasil meletakkan beberapa lagunya dalam billboard tangga lagu teratas kelas dunia.
Neru tak dapat menyembunyikan kekagetannya, tangannya bahkan tengah memegangi hidungnya agar tidak mengeluarkan darah akibat kini tengah berhadap-hadapan dengan penyanyi idolanya.
Sedangkan Rin hanya menatap Len datar, "Oh, jadi kau Len Kagamine? Penyanyi kondang yang katanya ramah itu? Cih, kau tak lebih dari seorang aktor, tuan."
Sebenarnya Rin tidak tahu siapa pemuda di depannya itu, jika saja Neru tidak berkali-kali menggumamkan kata "Astaga dia Len Kagamine, penyanyi idolaku itu." Yang tentu saja didengar oleh Rin yang berada disampingnya.
"Aku bisa menggunakan popularitasku untuk menurunkan pamor restoran ini." ancam Len sambil menatap Rin sinis.
"Oh ya? Kalau begitu silakan. Kau harusnya tahu pengunjung-pengunjung tetap disini tidak akan sebodoh itu memercayai ucapanmu, tuan shota."
"Jangan memanggilku shota, bocah."
"Aku akan memanggilmu sesuai kehendakku. Bisa apa kau, hah?" tantang Rin.
"Cih, kau…"
Len nyaris saja menarik rambut Rin jika saja Mikuo tidak menahannya,
"Ah, maafkan kami. Ini uangnya, maaf ya kami membuat keributan. Ayo Len, kita pulang."
Dan Mikuo pun langsung menyeret Len untuk keluar dari restoran yang menjadi ramai akibat tingkah pemuda pirang itu.
"Lihat saja apa yang akan kulakukan, bocah." Teriak Len.
"Aku tidak peduli, shota," balas Rin yang juga berteriak.
Rin bersumpah, dia bisa melihat kilatan marah di kedua manik biru milik Len saat menatapnya. Dan dia tahu pemuda itu tidak main-main.
"Huh, buat apa aku takut? Len Kagamine, kau akan bertanggung jawab jika restoran ini ada apa-apa. Lihat saja nanti."
Dan tanpa disadari siapapun, kedua makhluk berambut pirang itu tengah menaruh dendam pada satu sama lain bertepatan dengan seringai yang muncul diwajah keduanya.
Hah, sepertinya perang baru saja dimulai, yah.
.
.
.
A/N: adakah yang menantikan fic ini lanjut? hmm sepertinya tidak mengingat kegajean di awalnya. Disini juga semakin terlihat gajenya -_-
Abal banget gak sih? *baru sadar, heh?*
Makasih ya yang udah baca, gomen aku gak biasa bales review, bukan berarti aku gak baca loh. Aku mau terimakasih sama kalian juga yang udah review. Kalau ada waktu pasti aku bales yah, (kaya ada yang review lagi aja)
Doakan bisa update cepat.
See you,
Mwaaaaahhhhhh!
