When You Tell Me That You Love Me

(Song by Diana Rose)

Ayane Sakura-Chan

Chanyeol X Baekhyun

Romance. Slice of Life

PG-15

2 Shoot

...

...

...

"Jadi itu kau yah?"

"Hm?"

"Yeah, seorang anak laki-laki yang menangis sendirian di bawah pohon ini sambil memanggil-manggil ayahnya,"

"Kau benar,"

...

...

...

Minggu berikutnya, Baekhyun melakukan part timenya seorang diri karena si mata bulat Do Kyungsoo tidak juga menampakkan batang hidungnya setelah dua jam berlalu. Tapi bagi Baekhyun, sendirian ada bagusnya juga. Keadaan jadi lebih tenang semenjak tidak banyak pengunjung yang datang. Kebetulan toko buku ini juga terletak di jalanan yang tidak begitu ramai sehingga kendaraan tidak banyak berlalulalang dengan suara mesin mereka yang memekikan telinga.

Baekhyun suka kedamaian, dia suka keheningan, tapi tidak berarti dia betah berada dalam kesepian. Baginya, dalam keheningan seperti ini, dia bisa menikmati waktunya sendiri sebagai makhluk individu, dan yeah... meski dia memang selalu seperti itu. Sedangkan jika sudah berurusan dengan sosial dia hanya akan merasa bahagia saat dia bersama dengan ibunya. Dan kesempatan itu sangat jarang dimilikinya karena ibunya selalu sibuk bekerja. Namun, meski Baekhyun terlihat sangat penyendiri dan dingin, sebenarnya anak itu sama dengan remaja-remaja SMA lain. Dia juga memiliki mimpi untuk warna ketujuhnya, dan dia selalu berharap bahwa anak di masa lalunya lah yang akan menjadi pelengkap pelangi Baekhyun.

'Tling~'suara bel masuk berbunyi, menandakan bahwa akhirnya ada pelanggan lain datang setelah tigapuluh menit yang lalu pelanggan terakhir datang.

"Hai?"dan Baekhyun tidak pernah bermimpi bahwa Chanyeol lah yang datang.

"Kyungsoo tidak datang,"kata Baekhyun kemudian memfokuskan pandangannya kembali kepada novel yang semenjak tadi dibacanya.

"Ah itu..."Chanyeol mengusap tengkuknya kikuk kemudian berjalan mendekati tempat kasir.

"Aku menggantikannya,"dan kalimat tunggal itu cukup untuk membuat perhatian Baekhyun kembali kepada sosok tinggi Chanyeol.

"Maksudmu?"Baekhyun menaikan alisnya sebelah.

"Yeah... anak manja itu bilang dia tidak tahan dengan part time. Katanya membosankan karena tidak ada pelanggan yang datang dan dia bilang... uang yang didapat tidak seberapa. Jadi... dia sekarang pergi ke Cina,"jelas Chanyeol kemudian tersenyum.

"Oh,"Baekhyun menganggukan kepalanya tanda mengerti, membuat Chanyeol sedikit kesal karena sikap dinginnya.

"Kau tidak mau tau kenapa dia pergi ke Cina?"Chanyeol sedikit berbasa-basi.

"Tidak. Itu bukan unrusanku,"jawab Baekhyun acuh.

"Bukannya dia temanmu?"tanya Chanyeol heran.

"Bukan juga, kita hanya satu sekolah dan satu angkatan, itu saja,"Baekhyun masih tidak memandang ke arah Chanyeol.

"Ah... begitu yah, kalau begitu kau tidak bertanya kenapa aku mau menggantikan Kyungsoo?"Chanyeol kembali mencoba.

"Hm..."Baekhyun menutup novel tebal yang dibacanya dengan kesal kemudian memincingkan matanya ke arah Chanyeol.

"Jadi? Kenapa kau menggantikan Kyungsoo?"tanya Baekhyun terpaksa.

"Karena aku ingin menemanimu?"dan jawaban Chanyeol membuat Baekhyun menjadi bingung.

"Aku rasa kita tidak sedekat itu sehingga kau harus menemaniku,"Baekhyun membuka novelnya kemudian mulai membaca.

"Belum. Kita memang belum dekat tapi aku akan mencoba lebih dekat denganmu,"kata Chanyeol kemudian tersenyum.

"Ah yaaaa! Tugas Kyungsoo dibagian resep, biografi, dan novel kan? Aku akan menata buku-buku di bagian itu,"dan sepeninggalan Chanyeol, Baekhyun menyunggingkan senyumnya sedikit.

...

...

...

Dan tidak terasa seminggu telah berlalu. Hubungan keduanya menjadi semakin dekat. Baekhyun mulai terbuka kepada Chanyeol dan untuk sebaliknya, Chanyeol terlihat sangat gencar untuk mendekati Baekhyun. Namun sialnya, kedekatan mereka harus sedikit terusik saat sabtu kemarin paman pemilik toko buku memutuskan untuk menutup toko bukunya selama sisa musim panas karena tidak ada pelanggan, yang artinya tidak ada pemasukan serta tidak ada uang gaji yang bisa diberikan kepada kedua remaja itu. Untuk menutupi kekosongan itu, Baekhyun sekarang bekerja part time di Kedai Bubble Tea yang sudah lama menjadi langganannya.

Siang ini, udara terasa sangat panas, suhu menunjukan drajat yang sangat fantastis dan membuat peluh bercucuran meski sudah berada dalam ruangan ber-AC yang sudah sangat rendah. Seperti halnya dengan Baekhyun. Sekarang dia sedang duduk di kursi bar sambil menulis beberapa bahan kebutuhan yang perlu dibeli atas perintah pemilik kedai. Tak beberapa lama kemudian, suara bel masuk berbunyi. Baekhyun segera mengalihkan perhatiannya kepada pelanggan.

"Anye... eh? Luhan? Dan...?"Baekhyun mengernyitkan alisnya bingung ketika mendapati sosok kecil sahabatnya datang ke tempatnya bekerja dengan Chanyeol.

"Hai... hehehe... kami datang untuk berkunjung... ah Baekhyun ini adalah Chanyeol,"Luhan menarik tangan Chanyeol untuk segera berdiri di sampingnya.

"Tunangan rancangan orangtuaku,"kata Luhan tidak suka. Chanyeol ikut mendengus mendengarnya.

"Eh? Ah... anyeong Chanyeol-sii..."kata Baekhyun sopan kemudian membungkuk sedikit. Persis seperti bertemu dengan orang baru.

"He?"Chanyeol memekik tidak percaya atas tingkah Baekhyun.

"Ya sudah, aku pergi dulu yah, aku ada kencan dengan Minseok. Baekhyun... aku menitipkan Chanyeol,"kata Luhan kemudian tersenyum. Kedua objek di depannya menatap Luhan dengan ekspresi yang berbeda.

"Kau pergi?"Baekhyun bertanya datar.

"Yeah... itu yang kulihat di drama-drama berating tinggi. Aku pergi untuk mengejar cinta sejatiku dari kencan bohongan. Dan kau... tolong jangan biarkan dia mati bosan, setidaknya berikan dia bubble tea gratis, nanti aku yang membayar. Anyeong!"dan dengan itu Luhan segera berlari menuju ke arah pintu untuk segera mengejar Minseoknya.

"Dia gila!"komentar Chanyeol. Matanya masih mengikuti sosok Luhan yang perlahan mulai menghilang dari pandangan.

"Dia tidak gila, dia hanya sedang mencoba membuat dirinya menjadi peran pertama yang sebenarnya,"Baekhyun segera masuk ke dalam counter dan mulai membuat bubble tea rasa coklat untuk Chanyeol.

"Hah? Maksudmu?"

"Untukmu,"Baekhyun menyerahkan bubble tea yang sudah jadi kepada Chanyeol.

"Terimakasih. Tapi... apa maksud dari perkataanmu barusan?"Chanyeol bertanya kembali.

"Yeah... jika dia menerima begitu saja takdir yang digariskan oleh orangtuanya, bukankah berarti Luhan hanya sebagai boneka, bukan sebagai pemain? Hanya pemeran figuran yang diciptakan untuk melengkapi keindahan hidup orangtuanya?"tanya Baekhyun ambigu.

"Hah?"

"Chanyeol, setiap orang berhak menentukan nasibnya sendiri untuk menjadi pemeran utama dalam hidup mereka. Jika mereka hanya mengikuti alur kehidupan tanpa berani melawannya, bukankah berarti mereka hanya boneka? Boneka yang dikendalikan, yang tidak memiliki emosi dan akal?"Baekhyun menatap Chanyeol intens.

"Yeah... aku rasa kau benar,"dan mungkin Chanyeol adalah boneka dalam hidupnya sendiri.

...

...

...

Dan semenjak Chanyeol tau bahwa Baekhyun bekerja di Kedai Bubble Tea, Chanyeol kini menjadi langganan tetap disana. Meski sebenarnya dia tidak menyukai sesuatu yang manis. Tapi hal yang membuatnya betah untuk berlama-lama di kedai itu adalah Baekhyun sendiri. Sosok baru yang entah mengapa begitu familiar di benak Chanyeol. Sosok dingin yang sebenarnya memiliki segudang pemikiran dewasa yang menjadi satu-satunya kunci bagi pemikiran-pemikiran ambigu dalam benak Chanyeol. Dan menjadi dalang dari perasaan baru yang timbul di hati Chanyeol.

Saat ini, keduanya sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang di belakang rumah Baekhyun. Pohon yang mengingatkannya kepada seseorang dari masa lalu. Dan yeah... sekarang Baekhyun sudah mau mengajak Chanyeol datang ke rumahnya. Mereka menikmati semangka dingin yang Chanyeol bawa sebelum dia datang. Dengan sebotol besar jus jeruk dan mereka rasa ini adalah surga dunia.

"Baekhyun... aku tidak pernah melihat ayahmu ada di rumah,"kata Chanyeol tiba-tiba.

"Ayahku sudah meninggal,"jawab Baekhyun cepat.

"Ah... maaf-maaf,"Chanyeol berkata kikuk kemudian mencoba beralih ke topik lain.

"Wah... tidak menyangka semangka bisa seenak ini,"kata Chanyeol antusias.

"Hm... dari dulu rasa semangka seperti ini,"kata Baekhyun pelan.

"Yeah... mungkin karena aku memakannya denganmu jadi rasanya semakin manis,"Baekhyun memutar bola matanya dengan malas saat mendengar rayuan Chanyeol. Dan keduanya diam untuk beberapa saat.

"Chanyeol..."Baekhyun bergumam lirih.

"Yeah?"Chanyeol menengokan kepalanya ke arah Baekhyun. Kini keduanya sudah dalam posisi terlentang sejajar.

"Kenapa kau mendekatiku?"tanya Baekhyun langsung. Chanyeol tersenyum, akhirnya Baekhyun mau bertanya juga.

"Karena ada hal berbeda yang terlihat di dalam dirimu,"jawab Chanyeol konyol.

"Seperti apa hal berbeda itu?"

"Entahlah... aku seperti melihat orang lain yang pernah hadir dalam hidupku,"kata Chanyeol cepat.

"Ah."

...

...

...

Dua minggu berikutnya, ketika minggu terakhir untu liburan musim panas tiba. Chanyeol datang ke tempat bermain masa kecilnya. Sebuah hutan kecil yang menjadi aset keluarganya semenjak dulu. Dulunya disinilah surga kanak-kanaknya. Tidak seperti kebanyakan putra bangsawan terkenal, Chanyeol kecil justru suka sekali menghabiskan waktunya disini seorang diri. Mencari serangga-serangga aneh untuk ditangkap, mencari tumbuhan lucu, dan ah... jangan lupakan jamur! Dia selalu mencari jamur dan membawanya pulang ke rumah. Ibunya yang saat itu masih belum menjadi bussines woman akan memasak jamur-jamur itu menjadi sup yang lezat. Ah... membayangkannya saja sudah membuat Chanyeol bahagia.

'Srek... srek... srek...'

"Chanyeol?"dan Chanyeol membuka matanya saat sebuah suara yang begitu familiar mengusik tidur siangnya.

"Baekhyun?"Chanyeol balik bertanya.

"Kau? Kenapa ada disini?"tanya Baekhyun datar.

"Yah... aku kabur dari rumah, karena aku menolak untuk pergi ke Inggris dan juga... menolak sahabatmu itu,"jawab Chanyeol pelan.

"Lalu, dari sekian banyak tempat orang kaya di Seoul, kenapa kau memilih untuk masuk hutan yang sepi dan menakutkan?"tanya Baekhyun sakratis.

"Disini tidak terlalu sepi, dan... jika kau berpikir hutan itu menakutkan kenapa kau juga ada disini?"tanya Chanyeol heran. Chanyeol tidak merasa dia adalah seorang aktor film yang sedang memerankan sebuah peran utama dengan lawan main di dalam hutan. Yah... setidaknya di dalam kehidupan nyata kemungkinan bertemu Baekhyun di sebuah hutan kecil di pinggir kota secara kebetulan itu adalah enol persen.

"Karena aku dan hutan sama, aku merasa bahwa hutan ini diciptakan untukku,"jawab Baekhyun. Seperti biasa dengan kata-kata ambigunya.

"Woah, woah! Diciptakan untukmu? Kau tahu? Hutan ini adalah property keluargaku,"kata Chanyeol jujur.

"Oh yeah, apa yang tidak kau miliki?"Baekhyun memutar bola matanya kesal.

"Hm... tidak seperti itu juga,"jawab Chanyeol pelan.

"Jadi, kenapa kau ada disini?"tanya Chanyeol lagi, kali ini terdengar serius dari nada bicaranya.

"Aku selalu mencari jamur disini, di setiap musim panas,"Baekhyun mulai bercerita.

"Aku juga! Tapi itu terhenti ketika aku mulai kelas empat,"ucap Chanyeol sedih.

"Kenapa?"

"Karena di musim panas-musim panas yang lalu, aku harus tetap merasakan dinginnya salju swiss,"jawab Chanyeol kemudian memejamkan matanya perlahan.

"Maksudmu?"Dan nampaknya Chanyeol mulai bisa mengikuti permainan ambigu Baekhyun dengan baik.

"Aku akan menghabiskan setiap menit dari liburan musim panasku untuk akutansi,"gumam Chanyeol. Baekhyun mengangguk kemudian ikut berbaring di samping Chanyeol. Persis seperti kejadian dua minggu yang lalu di pohon taman belakang rumah Baekhyun.'

"Wah... ternyata menjadi orang kaya tidak enak juga yah,"Chanyeol tersenyum begitu mendengar tanggapan dari Baekhyun.

"Tentu saja."

"Jadi Baekhyun... boleh aku menebak?"Chanyeol membuka matanya tiba-tiba kemudian menghadap ke arah Baekhyun. Membuat Baekhyun sedikit berjengit kaget karena jarak mereka yang sangat dekat.

"Menebak apa?"

"Jadi itu kau yah?"Chanyeol akhirnya menanyakan hal itu juga, hal yang membuatnya selalu penasaran dengan sosok Baekhyun.

"Hm?"jawab Baekhyun singkat kemudian tersenyum. Akhirnya Chanyeol mengingatnya juga.

"Yeah, seorang anak laki-laki yang menangis sendirian di bawah pohon ini sambil memanggil-manggil ayahnya,"kata Chanyeol selanjutnya.

"Kau benar,"jawab Baekhyun pelan.

"Kau sudah tau kan? Bahwa anak laki-laki itu aku semenjak awal? Lalu kenapa kau tidak menyapaku saat di kedai ramen itu?"Chanyeol mengatakan kesimpulannya. Dia akhirnya sampai pada pemikiran sederhananya yang sangat tepat. Baekhyun adalah pribadi anti sosial bukan? Bahkan dengan Luhan saja sepertinya Baekhyun jarang berbicara, tetapi dengan Chanyeol yang bahkan baru dua bulan bertemu, dia sudah sangat terbuka dan sedikit banyak dia juga tersenyum kepadanya. Jadi... jika bukan karena Baekhyun menginginkan sesuatu dari Chanyeol, untuk apa Baekhyun membuka diri pada Chanyeol? Lagipula... sosok Baekhyun saat ini tidak jauh berbeda dari usia sepuluh tahunnya saat itu.

"Aku hanya bukan tipe orang yang akan menyapa orang lain yang bahkan tidak mengingatku,"jawab Baekhyun terdengar sedih. Chanyeol tersenyum, sedikit penyesalan merayap di hatinya.

"Maaf,"Chanyeol mengelus pipi kiri Baekhyun dengan perlahan.

"Tidak apa-apa. Bukan salahmu. Aku tidak sepenting itu sampai harus kau simpan dalam memorimu,"Baekhyun memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut dari tangan Chanyeol di pipinya.

"Ne?"

"Lupakan,"dan kemudian Baekhyun tersenyum kepada Chanyeol.

"Tidak. Aku bahkan tidak pernah melupakanmu,"Chanyeol ikut tersenyum. Dan entah siapa yang memulai duluan, kini keduanya sudah terbalut dalam sebuah ciuman panjang yang panjang. Chanyeol melepaskan kulumannya pada bibir Baekhyun kemudian berbisik, "Katakan, kenapa saat itu kau bilang kau menyukaiku?"tanya Chanyeol penasaran.

"Karena kau selalau membuatku merasa menjadi diriku sendiri,"jawab Baekhyun pelan.

"Yeah... mungkin karena aku mencintaimu sebagai Byun Baekhyun,"kata Chanyeol.

"Byun Baekhyun si pendiam yang kelam dan penyendiri, yang selalu menggunakan bahasa sastra padahal dia ada di jurusan IPA, yang selalu mengambil banyak part time untuk mencari uang tabungan –"

"Dan Baekhyun yang selalu menunggu Chanyeolnya untuk datang ke pohon tua di belakang hutan Park Corp untuk memeluknya danmenyeka air matanya,"gumam Baekhyun lirih.

"Yeah... aku mencintaimu,"dan keduanya kembali menyatu dalam sebuah ciuman panjang yang begitu intim.

Because You Are The Best Thing That Come To My Life.

...

...

...

"Tapi Chanyeol... dulu kau tidak mengetahui namaku kan? Kau selalu memanggilku dengan sebuatan Snow White meski saat itu musim panas!"Baekhyun tertawa pelan saat mengingat masa kecilnya dulu.

"Yah... karena kau sangat putih seperti salju, dan kau memanggilku Prince bukan?"Chanyeol mulai menggoda Baekhyun yang kini sedang terlentang di lengan kanannya.

"Yah! Itu karena di film Snow White dia memanggil orang yang disukainya dengan Prince!"protes Baekhyun kepada Chanyeol. Kini giliran Chanyeol yang terkikik geli.

"Hahaha... begitu yah."

"Dan... dulu kau tidak mengatakan bahwa hutan ini adalah milik keluargamu!"

"Karena dulu ayahmu bekerja untuk merawat hutan ini bukan? Jika aku berkata yang sejujurnya, kau mungkin akan menganggapku sebagai tuanmu!"

"Ah... kau benar."

"Lalu kenapa saat itu kau pergi?"tanya Baekhyun sedih.

"Seperti yang kukatakan, karena aku memulai kelas lima ku di Inggris, dan di setiap musim panas aku akan belajar akutansi bisnis di Swiss. Kau tau? Ini pertama kalinya aku pulang ke Korea setelah delapan tahun."

"Ah begitu..."

"Tapi Baekhyun... kau tidak usah khawatir, untuk selanjutnya... apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu..."

.END.

Terimakasih yang sudah review...

Prequel

8 years ago...

"Kau kenapa?"seorang anak kecil yang mempunyai badan yang sangat tinggi menghampiri seorang anak lain yang sedang menangis di bawah sebuah pohon pinus yang besar.

"Hiks... ayahku pergi,"jawab anak itu dengan mata sembabnya.

"Ya? Ayahmu? Lalu kenapa kau ada disini?"

"Karena ayah bekerja di hutan ini, makanya aku mencari ayah disini!"jawab anak itu pelan.

"Beliau pergi kemana?"tanya anak pertama.

"Kata ibuku, ayah pergi ke tempat yang jauh... yang tidak bisa kita kunjungi dan ayah tidak bisa kebali lagi... tapi aku tidak percaya! Ayah sudah berjanji tidak akan meninggalkanku!"anak itu kembali menagis dengan kencang.

"Sstt... sudah, tidak apa-apa... aku disini, aku akan menemanimu untuk menggantikan ayahmu. Kau bisa bermain denganku selagi ayahmu pergi,"kata anak tinggi itu kemudian memeluk anak pendek di depannya.

"Gomawo..."

Dan janji itu nyatanya tidak bertahan untuk satu musim panas saja. Meski sempat terputus untuk delapan tahun berikutnya, tapi janji itu mengundang kedua pengikatnya untuk kembali bersama. Karena jannji itu diucapkan oleh sepasang anak adam yang suci dan murni, dan karena janji itu selalu diingat untuk selalu dipenuhi. Disiram dengan cinta untuk tumbuh dalam keabadian.