Hai semuanya! Balik lagi sama Ayu!
Btw, gue kemarin memang bilang kalau Levi dan kawan- kawan bakalan muncul di chapter ini tapi ternyata pas gue mainin lagi prologue game-nya, turns out durasinya lumayan panjang dan kalau gue paksain jadi satu chapter bakalan jadi panjang banget. Jadinya gue mutusin untuk membagi prologuenya sekitar... 4 atau 5 chapter mungkin? Depends sih, tapi begitulah. Kali ini giliran si dokter Kenny Ackermann dan dokter Erwin Smith yang muncul di chapter ini.
Sebenernya, karakter si Erwin ini juga salah satu termasuk kandidat love interestnya karakter Sasha. Tapi setelah dipikir- pikir, apa gak kebanyakan ya? Walaupun masih enggak yakin juga sih, lagipula gue juga ga pernah liat cerita Erwin x Sasha. Jadi gimana, readers, perlu dimasukin juga ga nih ErwinSasha?
Buat RainyRain123: Makasih buat reviewnya! Emang sengaja dibuat gue- elo biar ga terlalu kaku. Terus juga author belom expert sama namanya bahasa terlalu baku hehehe (terakhir belajar bahasa indonesia tiga tahun yang lalu jadi udah lupa :p) jadi sekalian aja. Tapi untunglah kalau masih bisa diterima. Soal pairing, masih belum fix apakah bakal LeviSasha karena author rencananya pengen voting gitu para readers mau fokus ke cerita Sasha dengan siapa. Tapi untuk sementara memang fokusnya semua ke LeviSasha, JeanSasha, BertholdSasha, dan kalau jadi minta ditambahin ErwinSasha karena memang ceritanya berhubung. Kalau boleh jujur sih, OTP author itu sebenernya JeanSasha tapi ya itu tadi, balik ke voting :D Jadi nggak usah khawatir soal LeviHan, masih ada kesempatan kok! *wink wink*
Disclaimer: All belong to Hajime Isayama and Voltage.
Warning: OOC, penggunaan kata tidak baku, typo, dan segala macamnya. Mohon dimaklumi -_-
Lelaki itu sedikit berubah dari yang terakhir Sasha lihat.
Rambutnya yang dulu bermayoritas masih berwarna hitam kini menjadi lebih putih. Wajahnya nyaris dipenuhi keriput akibat dimakan usia, terutama di sekitar area mata. Hanya saja senyumnya yang masih sama seperti dulu; penuh percaya diri dan seakan tidak ada beban di dalam hidupnya.
Sasha benci senyum itu.
Sejujurnya gadis cantik penyuka kentang ini sudah merasa gelisah sejak Jean tadi berbaik hati untuk mengantarkannya ke ruangan direktur. Telapak tangannya sedikit basah lantaran keringat dingin yang tak kunjung berhenti. Ia bahkan tidak begitu memerhatikan omongan Jean sepanjang perjalanan mereka ke ruangan dr. Ackermann sehingga menyebabkan lelaki itu akhirnya bertanya apakah Sasha baik- baik saja untuk kesekian kalinya.
Ia sempat khawatir kalau saja dr. Ackermann dapat mengenali wajahnya. Dia memang sudah mengganti nama belakangnya dengan nama gadis ibunya, namun kemungkinan direktur itu masih mengingat wajahnya itu lumayan besar. Untungnya, ketakutannya ini ternyata tidak terbukti mengingat lelaki itu malahan tersenyum lebar padanya, menjabat tangan kanannya dengan semangat.
"Dr. Alexandra Schultz. Saya sudah menunggu anda dari tadi." katanya memulai pembicaraan. "Sungguh sebuah kehormatan sekali bagi kami karena anda bersedia bergabung di rumah sakit ini."
Kalau saja gadis itu tidak menahan diri, dia sebenarnya ingin sekali mengusapkan tangannya ke rok cokelat yang ia kenakan untuk menghapus sisa- sisa sentuhan dr. Ackermann.
"Harusnya saya yang bicara seperti itu, Sir." Sasha sebisa mungkin mencoba untuk merilekskan wajahnya dengan sebuah senyuman palsu. "Kalau boleh jujur, saya sebenarnya sudah tidak sabar untuk memulai untuk bekerja di rumah sakit bereputasi hebat seperti Royal Stohess ini. Saya dengar- dengar ini semua berkat anda."
Dr. Ackermann tertawa. "Kamu terlalu menyanjungku, dr. Schultz." ujarnya sambil berjalan ke arah sofa berwarna merah yang di letakan di tengah ruangan. "Mari duduk dulu. Apa anda mau minum brandy?"
Tertawalah selagi kamu bisa, Ackermann. batin Sasha berbisik. "Sedikit saja. Saya tidak mau mabuk di hari pertama saya kerja." jawab Sasha sambil duduk di sisi tengah sofa.
Lelaki tua hanya tertawa lagi, kemudian beranjak ke lemari etalasi berukuran kecil dimana botol- botol brandy beserta gelas- gelas kecil untuk tamu disimpan.
Sasha sedang sibuk menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan direktur ketika sebuah suara ketukan terdengar dari arah pintu. Seorang lelaki berperawakan tinggi tegap bersurai pirang dan mengenakan jas putih ala dokter muncul saat pintu itu terbuka.
"Maaf saya terlambat, dr. Ackermann." ucap pria itu seraya menutup pintu perlahan.
"Dr. Smith! Tidak apa- apa, Nak. Ayo, ayo duduk." Kenny Ackermann muncul disebelah Sasha dengan dua gelas kecil berisi brandy di kedua tangannya. Diberikannya satu gelas untuk Sasha sebelum beralih ke pria yang baru masuk itu. "Oh ya, ini dr. Alexandra Schultz yang saya ceritakan kemarin. Dr. Schultz, this is dr. Erwin Smith, salah satu dokter bedah disini. Kalau anda mempunyai pertanyaan seputar rumah sakit ini, anda bisa langsung bertanya pada dia."
Sasha lantas berdiri dari posisi duduknya untuk menjabat tangan lelaki bernama Erwin Smith itu. "Alexandra Schultz. Senang bertemu dengan anda."
Dr. Smith tersenyum ramah. "Likewise, Dr. Schultz. Saya sudah dengar banyak hal tentang anda."
"Hal- hal yang bagus, saya harap." balas Sasha, membuat senyuman di wajah tampan dr. Smith makin melebar.
"Oh, tentu. Saya dengar anda adalah seorang pekerja keras di rumah sakit anda dulu. Itu adalah hal yang baik, bukan?"
Mau tak mau Sasha tersenyum mendengar itu. Kehadiran Erwin Smith harus ia akui ternyata berhasil membuat dirinya sedikit lebih relax. Mungkin karena aura pembawaan lelaki itu yang tenang sekaligus karismatik, Sasha sendiri juga tidak tahu.
"Ngomong- ngomong, dimana Levi?" dr. Ackermann tiba- tiba menyela pembicaraan mereka. Pertanyaannya kini ditujukan untuk Erwin.
"Ah… dr. Ackermann bilang ke saya kalau dia tidak bisa bisa datang karena ada jadwal operasi. Anda tahu sendiri, dia sangat memperhatikan pasien- pasiennya."
Jawaban Erwin membuat perhatian Sasha kembali terusik. Ia mengerutkan kening, bingung. Dr. Ackermann? Ada dr. Ackermann lain di rumah sakit ini?
"Ck… anak itu. Padahal sudah saya suruh untuk meluangkan waktu kesini." Kenny Ackermann menggerutu seraya menggelengkan kepala. Mata kelabunya beralih ke sang dokter baru. "Jadi dr. Schultz, sebelum ini anda bekerja di rumah sakit Dauper, bukan?"
"Benar, Sir. Saya kebetulan juga asli Dauper."
"Benarkah? Kalau begitu, orang tua anda pasti rindu sekali dengan anda. Dauper dan Stohess kan jaraknya cukup jauh." kali ini Erwin yang berbicara, cukup membuat Sasha yang tadinya sudah agak tenang kembali ketar- ketir gugup.
This is bad.
Buru- buru Sasha mengalihkan topik pembicaraan. Hal terakhir yang Sasha inginkan adalah mereka mengorek- ngorek tentang privacynya, terutama tentang orang tuanya. "Oh ngomong- ngomong, Sir, tadi dr. Smith sempat menyebut- nyebut nama dr. Ackermann. Anda punya keluarga yang bekerja disini juga, Sir?"
"Ah ya, saya punya dua keponakan disini, Levi dan Mikasa. Kedua orang tua mereka masing- masing meninggal akibat kecelakaan mobil sejak mereka kecil, jadi saya ambil alih untuk membesarkan mereka. Bisa dibilang mereka sudah saya anggap seperti anak saya sendiri mengingat saya tidak menikah." dr. Ackermann senior tersenyum bangga. Namun itu semua tidak bertahan lama karena ekspresinya berubah menjadi kesal lagi. "Mikasa sedang ikut seminar kedokteran selama dua hari di Trost jadi dia nggak bisa kesini. Levi… Aduh, padahal tadi sudah saya suruh dia untuk mampir kesini untuk bertemu denganmu. Dasar anak keras kepala." tambahnya sambil mengelus dagunya yang lumayan dipenuhi oleh jenggot tipis sebelum akhirnya menyesap brandy-nya.
Jadi ternyata pria tua ini tidak pernah menikah dan punya dua keponakan yang juga bekerja disini. Interesting. Diam- diam otak Sasha menambahkan nama Levi dan Mikasa Ackermann ke dalam daftar orang yang perlu ia dekati. Jika Sasha ingin usaha balas dendamnya berhasil, mereka berdua otomatis menjadi sasaran pertamanya dalam menggali informasi tentang Kenny Ackermann.
Melihat ekspresi sang direktur rumah sakit yang kecut membuat Erwin yang duduk di sebelah Ackermann senior tertawa kecil. "Tenang saja, Pak Direktur. Biar saya yang memperkenalkan mereka nanti."
Mereka bertiga melanjutkan kembali perbincangan mereka selama sepuluh menit kedepan, topiknya tidak jauh- jauh dari seputar pekerjaan Sasha dulu di Dauper dan juga tentang rencana dr. Ackermann yang berencana untuk membuat Royal Stohess Hospital menjadi lebih baik di tangan Erwin dan Levi. Hal itu hanya ditanggapi oleh Erwin dengan sebuah senyuman sopan dan beralasan bahwa dia hanya berusaha untuk membantu kedua lelaki Ackermann, tidak lebih dari itu.
Sampai pada akhirnya, Sasha melontarkan pernyataan yang sejak tadi ia pendam. "Sepertinya anda sangat percaya pada mereka berdua."
"Tentu saja. Levi ini adalah dokter bedah yang sangat handal, tetapi sayang dia cuma peduli pada pasien- pasiennya dan sangat keras kepala sekali. Sedangkan Erwin ini…," direktur Ackermann berhenti sebentar untuk menepuk pundak Erwin yang sedari tadi masih tersenyum sopan. "…sangat well- balanced. Saya yakin dengan adanya Erwin disini dapat membuat rumah sakit ini menjadi lebih maju dan bisa mengatasi kejadian- kejadian yang tidak diinginkan nanti."
Tangan lentik Sasha yang tadinya hendak menyuapi sisa brandy- nya mendadak terhenti. "Kejadian yang tidak diinginkan…? Maksudnya… seperti medical practice?" tanya gadis itu hati- hati. Deperhatikannya raut wajah sang direktur yang kini mulai berubah. Ekspresi gembiranya seketika lenyap, diganti dengan pandangan gusar.
"Apa yang sedang anda pikirkan, Dr. Schultz?"
Sasha mulai menyesali omongannya tadi. Me and my damn mouth.
"Oh, saya cuma ingat kasus malpraktik yang ada di berita sebulan lalu. Saya pikir itu bisa menjadi contoh kejadian yang tidak diingkan. Maaf, saya tidak bermaksud untuk lancang atau apapun."
Untunglah suasana yang tadi sempat sedikit memanas menjadi cair kembali saat Erwin tertawa kecil dan berkata bahwa itu tidak akan terjadi selama ada Levi Ackermann, yang menurutnya merupakan dokter bedah nomor satu di Royal Stohess, di rumah sakit ini. Ajaib, entah raib kemana wajah gusarnya tadi.
Obrolan berlanjut kembali dengan Kenny Ackermann beberapa kali menyinggung tentang urusan pribadinya sehingga Sasha sebisa mungkin mengalihkan topik atau paling tidak memberi jawaban yang ambigu. Sasha sempat berpikir bahwa ada kemungkinan Kenny Ackermann mulai curiga terhadap dirinya, tetapi untungnya sang direktur tidak berniat untuk mengorek lebih jauh. Setidaknya ia bisa menjadi lebih tenang, walaupun Sasha sempat menyadari Erwin sesekali menatapnya lekat, seakan sedang menganalisa dirinya.
Perasaan gundah kembali menghampiri Sasha.
Tak lama kemudian, direktur Ackermann pamit kepada mereka berdua dikarenakan ada janji dengan salah satu petinggi rumah sakit, meninggalkan mereka berdua di ruangan bercat putih tua itu.
"Akhirnya. Saya pikir dia nggak bakal pergi- pergi." tiba- tiba lelaki berambut pirang itu berkata dengan nada suara terdengar lega. Kedua tangannya sibuk memijit- mijit wajahnya.
Sasha hanya bisa menatap bingung. Sekilas Erwin terlihat mengabdi sekali terhadap direktur Ackermann, mengingatkan Sasha akan anjing kepada majikannya. Tapi sepertinya ada motif lain dibalik itu semua. "M-maksud anda…?"
"Well, let's just say, you don't really want to get on his bad side." balasnya santai. "Kamu tahu, omonganmu tadi benar- benar membuat direktur Ackermann gugup. Kenapa?"
Gadis berambut cokelat sedada itu menggeleng, mencoba untuk bersikap biasa saja walaupun itu susah sekali. "Nggak ada apa- apa sih. Cuma penasaran. Memangnya… pernah ada kejadian seperti itu di rumah sakit ini?"
Ceroboh Sasha, kamu terlalu ceroboh.
Erwin terdiam sebentar, mata birunya menatap Sasha lekat seakan sedang mencoba untuk mencari tahu apa maksud dokter baru ini menanyakan pertanyaan semacam itu.
"Seandainya pernah terjadi, memangnya kamu mau berbuat apa?" tukasnya kemudian, kali ini sambil tersenyum manis. Mungkin ia tidak bermaksud apa- apa, tetapi entah mengapa itu pertanyaan itu dan senyum Erwin membuat perempuan itu bergidik ngeri.
Kali ini Sasha tidak tahu apakah itu senyum palsu atau bukan. Ternyata Erwin Smith adalah seseorang yang sangat susah dibaca.
Review?
