CHAPTER 2

-School Life-

Angin berhembus menerbangkan dedaunan yang berguguran. Suhu sudah mulai mendingin, mengingat musim ini sudah memasuki musim gugur. Pagi itu, seperti pagi-pagi biasanya area gerbang masuk Konoha Junior High School dipenuhi siswa-siswi yang berlalu lalang menuju ke sekolah mereka.

Di sana terlihat sesosok anak laki-laki berambut hitam melewati gerbang masuk. Ia menggendong tas ransel dengan satu bahu. Kedua tangannya masuk ke dalam saku calananya. Uchiha Sasuke. Kini anak laki-laki yang mempunyai masa lalu yang kelam ini sudah duduk di bangku SMP. Tepatnya kelas 2. Disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada masa kecilnya, Sasuke semakin jarang berbicara dengan orang lain. Bahkan terhadap dua sahabat semasa kecilnya itu.

Dari samping kanan tiba-tiba ada sekumpulan anak-anak perempuan yang sedang berbisak-bisik, lalu terkadang mereka terkikik centil.

"Ohayou Sasuke-kun!" sapa gadis berambut blonde panjang dengan nada centil yang tak karuan.

Sasuke melirik mereka dengan tatapan dingin, "Hn." katanya singkat lalu mengalihkan pandangan dari para gadis itu.

Bukannya kecewa dengan sikap Sasuke, sekumpulan gadis itu malah semakin berteriak-teriak histeris. Bagi mereka sikap Sasuke yang dingin itu adalah daya tarik yang tidak dimiliki oleh cowok-cowok lain. Ditambah lagi, karena ia sekarang sudah tidak memiliki orang tua, keadaan ekonomi keluarganya dapat dibilang kurang. Karena itu Sasuke selalu belajar dan hasilnya dia selalu meraih peringkat 1 paralel, sehingga beasiswa selalu ia dapatkan. Dan seiring bertambahnya usia, Sasuke tumbuh menjadi laki-laki yang teramat sangat tampan. Tidak mengherankan jika Sasuke sangat populer diantara gadis-gadis.

Memasuki lobby Konoha JHS, Sasuke berjalan menuju loker sepatu sambil melepas sepatunya. Di sana sudah mulai sepi karena memang beberapa menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Tiba-tiba terdengar suara orang berlari menuju ke arah loker sepatu dan...

GEDUBRAAAK

Sasuke yang sedang berdiri di sana kaget bukan main, lalu spontan mengalihkan pandangan ke sumber suara. Dilihatnya seorang gadis berambut pink sebahu jatuh tersungkur di lantai. Seluruh isi tasnya berserakan.

"Aduduh..." rintih gadis itu sambil mengusap-usap lututnya yang berdarah

Sasuke sama sekali tidak memasang ekspresi yang berarti begitu melihat teman masa kecilnya sedang jatuh tersungkur di sana. "Oi, sedang apa kau?"

Gadis itu mendongak. "Sasuke-kun." katanya dengan sedikit malu karena Sasuke melihatnya jatuh seperti itu.

"Untuk apa berlari segala?" kata Sasuke sambil berjalan mendekati Sakura lalu memungut buku-buku yang berserakan. "Merepotkan saja."

Sakura yang baru sadar buku-bukunya berantakan ikut membereskan. "Ma-maaf Sasuke-kun. Tadi aku kira aku terlambat." Bel sekolah seketika berdentang. "Ah...terima kasih sudah membantuku Sasuke-kun." Kata Sakura sambil tersenyum pada Sasuke.

Setelah buku-buku Sakura selesai dibereskan, iapun berdiri lalu berjalan menuju kelasnya. Sasuke yang melihat Sakura berjalan sedikit pincang itu menatapnya dengan heran. "Oi Sakura, itu..."

Sakura melihat lututnya, "Ah ini, tenang saja tidak apa-apa kok Sasuke-kun." Katanya sambil tersenyum pada Sasuke. "Ayo masuk." Ajak Sakura setelah ia mengganti sepatu. Dia tidak ingin Sasuke mengetahui kalau wajahnya memerah karena menahan malu.

Begitu sakura berjalan, Sasuke menyusul di belakang Sakura menuju ke kelas mereka. Kelas 2-2.


"SAKURA-CHAAAAN!" sesosok lelaki berambut kuning tiba-tiba berlari menghampiri Sakura begitu ia memasuki kelas. "Tolong pinjam PR ya!" katanya sambil menyeringai lebar.

Sakura hanya menghela napas. "Dasar pemalas." Sakura membuka tasnya begitu ia duduk di bangkunya. "Ini. Tapi lain kali coba kerjakan sendiri ya Naruto."

"BAIK. Thank you Sakura-chan. Aku menyukaimu." kata Naruto sambil tertawa keras.

"Dasar bodoh!" Sakura mengerutkan dahi, lalu tertawa juga melihat tingkah sahabatnya ini.

Pintu kelas dibuka dan sesosok pria -dengan bekas luka di satu matanya- masuk. Semua murid duduk di kursi masing-masing.

"Baiklah anak-anak, mari kita mulai pelajaran. Semuanya ambil buku kalian."


Beberapa jam kemudian...

"Sakura-chan." panggil seorang gadis manis bermata lavender.

Sakura sedang membereskan buku-bukunya. "Ah, Hinata-chan. Ada apa?"

"Emm... a-anu, sebentar lagi kan Naruto-kun ulang tahun, ka-kau mau tidak... emm..." katanya sambil menunduk, tetapi kelihatan sekali wajahnya memerah.

Sakura yang melihat tingkah temannya ini tersenyum kecil. "Kau mau aku mengantarmu mencarikan hadiah untuknya?"

Setelah berpikir Hinata mengangguk pelan.

"Hmm... baiklah. Ayo!" Sakura beranjak dari kursinya. "Aku rasa aku juga ingin membelikan kado untuknya." kata Sakura sambil tersenyum.

Hinata langsung terlonjak senang, "Terima kasih Sakura-chan." katanya dengan wajah berseri-seri.

Mereka berdua berjalan menuju gerbang luar. Melewati gedung olahraga, rupanya banyak sekali orang-orang yang berkumpul di sana. Sakura mencoba mengingat-ingat hari apa ini. Benar saja, hari ini klub basket ada kegiatan. Dan yang menyebabkan banyak penonton -terutama para gadis- di sana adalah karena Sasuke ada di sana. Sakura mencoba melihat ke dalam melalui sela-sela para gadis yang berteriak-teriak itu. Dan ia menemukannya.

Sasuke-kun...

Sasuke yang sedang bermain basket adalah hal yang paling Sakura sukai. Rasanya ingin ia melihat lebih dekat, tetapi ia urungkan niatnya itu karena ia sudah berjanji mengantarkan Hinata.


Bel sekolah berbunyi tanda sekolah berakhir. Murid-murid sudah bergegas pulang. Tetapi lain halnya dengan Sakura, sekarang ia sedang berada di ruang klub memasak, tentu saja karena ia adalah anggota klub memasak. Setelah beberapa kali praktek membuat kue, mereka mengakhiri kegiatan.

"Baiklah semua, tolong pelajari di rumah dan kalau ada waktu

senggang kalian dapat mencoba resep-resep yang sudah diberikan." kata Sakura kepada para adik-adik kelasnya.

"Baik Sakura-senpai."

Langit sudah mulai kehilangan matahari. Bukan karena waktu sudah larut, tetapi karena tertutup oleh awan mendung. Anak-anak klub memasak sudah mulai meninggalkan sekolah. Sekolahpun sudah mulai sepi. Tetapi Sakura berniat pergi ke perpustakaan dulu sebelum pulang.

Hanya ada beberapa anak saja di perpustakaan itu. Sakura sedang melihat-lihat buku-buku resep.

Ah, ini dia tempatnya

Ia berjalan menuju rak-rak buku resep lalu mengambil salah satu buku. Sakura berniat membacanya di meja, jadi ia menuju meja besar yang ada di samping rak-rak ini.

Begitu melewati rak-rak buku yang besar, mata Sakura terpaku pada seorang laki-laki yang sedang duduk di meja itu. Sesosok lelaki yang sangat tidak asing baginya. Yang sepertinya sedang sibuk mengerjakan soal-soal atau semacamnya.

"Sasuke-kun." panggil Sakura. "Sedang apa di sini?"

Lelaki berambut hitam itu menengok ke arahnya. "Kau? Aku... sedang belajar."

"Belajar? Kenapa di sini?" tanya Sakura heran.

Sasuke kembali menekuni soal-soal yang ada di hadapannya. "Aku pikir di sini lebih banyak buku referensi."

Setelah berpikir sejenak Sakura mengerti. Mungkin karena keadaan ekonominya ia jarang membeli buku-buku referensi. "Hmm... jadi begitu."

Sasuke membereskan buku-buku itu begitu merasa sudah selesai. Lalu bangkit dari kursinya. Ia melihat ke arah Sakura. "Oi, kau tidak pulang? Hari mulai sore dan aku rasa sebentar lagi akan hujan."

Sedetik kemudian hujanpun turun. Suaranya yang keras membuat semua orang yang ada di dalam perpustakaan dapat mendengarnya.

"AH! Benar." Sakura setengah teriak. "Bagaimana ini, aku tidak tahu kalau akan turun hujan jadi aku tidak membawa payung." Sakura terlihat gelisah sekali.

Melihat Sakura yang sedang panik membuat Sasuke terganggu. "Sudahlah, aku membawa payung tenang saja." Sasuke mengeluarkan sebuah payung dari dalam tasnya.

Sakura mengamati Sasuke sambil berpikir, "Hanya... satu payung?" tanyanya.

Sasuke menatap Sakura dengan heran. "Kau pikir aku membawa berapa payung? Sudahlah, ayo pulang. Menunggu hujan redapun aku rasa pasti akan lama."

Sakura terperanjat. "Ah, iya baik. Kau tidak keberatan mengantarku pulang Sasuke-kun?"

"Kau belum ingin pulang?"

"Tidak! Bukan begitu, aku hanya..."

"Ya sudah. Ayo pulang." Sasuke beranjak ke luar disusul Sakura.

Sasuke membuka payung lalu mereka berdua berjalan dibawah payung yang sama. Hujan yang cukup deras sehingga sedikit membasahi tubuh Sakura sama sekali tidak terasa lagi. Tidak tahu apakah karena bingung, terlalu senang atau apa hingga terkadang senyum mengembang di wajah Sakura.

"Hmm... Sasuke-kun." kata Sakura memecah keheningan.

"Hn?"

"Terima kasih ya. Aku tertolong." Sakura tersenyum.

"Aa..." jawab Sasuke sekenanya.

Suasana hening kembali. Hanya terdengar deru air hujan yang berjatuhan dengan keras dan langkah kaki yang tertapak di jalanan berair. Paling tidak hari ini tidak terlalu buruk, pikir Sakura. Senyum kembali menghiasi wajahnya yang bersemu merah.

Mereka berdua terus berjalan ditengah hujan melewati halaman sekolah mereka yang cukup luas. Tanpa mereka sadari banyak tatapan tajam dari murid-murid –terutama murid perempuan- yang masih ada di sana. Mereka langsung berbisik-bisik khas anak-anak perempuan saat melihat pemandangan yang asing ini. Banyak opini-opini yang bermunculan. Tentu saja mereka tidak terima dan merasa kesal.

Begitu pula gadis berambut panjang itu.

---to be continued---

Author's Note:

Halo semua! haha! Baru kali ini aku menulis Author's Note. Hwaaa! Fanfic pertama yang aneh ya? Tapi aku harap dapat disukai, atau diterima, atau dibaca, atau paling tidak, pantas bertengger di deretan fanfic-fanfic lain XP. Hahahahaha! Oh iya, berhubung aku masih baru di dunia ini –maksudnya di dunia perfanfic-an- aku mohon bimbingan ke jalan yang benar dari para author senior supaya aku dapat tumbuh dan berkembang dengan benar dengan cara memberi kritik dan saran melalui review. Bagi yang sudah mereview aku ucapkan terima kasih. Tapi bagi yang belum mereview, dimohon jangan memberi kritik yang terlalu pedas, karena kalau kalian melakukannya, aku akan menghantui tidurmu. Huahahaha! –dibuang ke sumur- sudahlah, terima kasih sudah membaca. Mari mereview ^^

Usagi-chama