Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

Miss Spearsza's present

Cahaya Dibalik Teduh

.

(Naruto. U & Hinata. H)

WARNING : OC, Westren, typo(s), and more. If you don't really like this please klik back.

.

Hope you enjoy it ^^


Januari, 1864

.

"Mr. Uzumaki. Kiranya aku ingin minta maaf kepadamu,"

Jalan Adelaide Ave cukup lengang pada jam seperti ini. Kereta kuda yang melintas hanya terhitung jari. Udara musim dingin membuat sebagian besar masyarakat Inggris memutuskan untuk berduduk santai di depan perapian dengan secangkir kopi atau teh panas sambil mengisap pipa. Naruto dan Hinata berjalan di sepanjang jalan itu sebelum berbelok arah menuju jalan Brenchley Gardens.

"Minta maaf? Untuk apa?"

"K-karena mungkin saya sudah lancang dengan Anda ketika berada di gedung ballroom tadi. T-tetapi, sungguh, saya hanya berada dalam tekanan emosi yang meledak-ledak," kata Hinata dengan menyesal. Kedua tangan mungil itu terbungkus rapi oleh sarung tangan tebal. Wajahnya menunduk lesu.

"Tidak perlu, Hyuuga, tidak perlu. Aku bisa memaklumi itu. Lagipula aku yang seharusnya minta maaf kepadamu, akulah yang sudah lancang," kata Naruto. Wajah tampan itu tersenyum ramah.

Gadis itu menggeleng lemah. Tapi kata-kata yang sudah siap di ujung lidah tak kunjung terucap, sehingga Hinata memilih untuk diam, tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Sedangkan Naruto terheran-heran, apa gerangan yang membuat Hinata terdiam. Apa mungkin ia salah ucap? "Well, lupakan saja kejadian di ballroom tadi. Dan mungkin kita bisa memulai perkenalan dengan lebih wajar?" tawar Naruto.

Hinata mendongak. Warna mata teduhnya beradu pandang dengan mata sebiru langit. Sebelum akhirnya ia menyadari jika pemuda di depannya baru saja mengulurkan tangan, maka ia menyambutnya untuk saling berjabat tangan. "Hyuuga Hinata. What is your name, Sir?"

Naruto tertawa renyah. "Uzumaki Naruto. Jangan memanggilku dengan sebutan Sir, Nona. Aku masih terlalu muda. Kau bisa memanggilku Naruto, terdengar lebih akrab bukan?"

Hinata ikut tersenyum. Wajahnya cantik namun terdapat kerutan samar di sekitar sudut-sudut mata. Tampaknya ia terlalu larut dalam kesedihannya akhir-akhir ini. "Well, aku akan memanggilmu Naruto jika kau mengizinkan demikian. K-kupikir kita bisa lebih akrab dari ini,"

Naruto berharap begitu. Dalam hati ia mengaminkan lebih dari seribu kali. Mungkin akan mengejutkan dan terdengar canggung jika gadis yang baru kau kenal langsung menjadi kekasih. Apalagi Hinata sepertinya masih enggan. Jadi pekerjaan Naruto sekarang adalah menghapus kesedihan itu dari sinar mata Hinata. Dan membiarkan Hinata jatuh cinta sesuai dengan kehendak hatinya.

"Kuharap begitu."

Mereka berjalan cukup jauh dengan topik-topik pembicaraan ringan. Dari Brenchley Gardens lalu ke Honor Oak kemudian Lordship Ln dengan deretan rumah yang cukup terkenal sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk naik kereta di stasiun North Dulwich. Hinata sudah menolak untuk diantar pulang sedangkan Naruto memaksa. Tanpa mendengar banyak protes, Naruto menarik lengan kecil itu untuk masuk kedalam bilik kereta.

"Jadi, Hinata, boleh aku mendengar sedikit cerita tentangmu?"

Gadis yang sedang membaca koran itu mulai duduk dengan gelisah. Kereta yang mereka tumpangi sudah berjalan sepuluh menit yang lalu dan akan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk sampai di stasiun Streatham Common "Kupikir kau sudah cukup tahu tentangku, Naruto?"

"Tidak, secara keseluruhan. Kukira pernyataanmu tadi mengenai kita yang bisa lebih akrab dari ini sudah membangkitkan kepercayaanmu kepadaku,"

"A-aku tidak tertarik untuk membahas hal semacam ini."

"Tetapi aku tertarik."

"Kenapa kau tertarik? Kita baru kenal, Uzumaki Naruto,"

"Justru karena kita baru kenal maka aku tertarik mendengar lebih tentangmu. Jadi, bagaimana, kau mau berbagi?"

"Tidak,"

"Kenapa tidak?"

"Aku sudah memberikan alasannya tadi,"

"Tapi aku memaksa."

Hinata melipat korannya sambil menghela nafas lelah. Pemuda di depannya benar-benar keras kepala. Tidakkah dia menyadari jika hal semacam itu cukup privasi dan, dalam kasusnya, cukup sensitif. Tetapi warna mata biru yang menyala-nyala bagai kobaran api itu menuntutnya lebih dalam untuk berbagi cerita.

"Well, Naruto, aku akan menceritakan singkat mengenai diriku. Aku menceritakan apa yang mau aku ceritakan dan jangan bertanya lebih. Well, aku lahir di Monmouth, Wales. Keluargaku tidak memiliki garis keturunan bangsawan namun kehidupan kami cukup mapan disana. Umurku baru tiga tahun ketika Mrs. Elsie, pelayan pribadi keluarga Hyuuga, mengajariku menari dan sejak saat itulah aku mencintai dunia waltz. Ibuku meninggal saat melahirkan Hanabi, adikku. Sejak saat itu kami hidup bertiga, bersama Mrs. Elsie, pelayan tua yang sangat menyayangi aku serta Hanabi.

Singkat cerita, umurku sudah sembilan belas tahun ketika aku bertemu Toneri, pemuda yang menjadi pasangan waltzku pada suatu kompetisi di Cardiff. Kebersamaan itu melahirkan cinta yang kemudian bersemayam sangat kuat di hati kita berdua. Lalu saat itu pula aku mengetahui jika Ayah mengidap kanker hati. Toneri pemuda yang baik dan sopan sehingga Ayah mempercayakan aku kepadanya. Tahun-tahun berlalu namun belum ada kemajuan yang berarti bagi kesehatan Ayah. Yang ada keadaanya justru semakin parah, meski ia sangat rajin berobat. Sampai akhirnya beliau meninggal satu tahun yang lalu.

Kala itu hatiku sangat hancur. Ayah sempat menitipkan aku serta Hanabi pada Mrs. Elsie, sebelum pelayan baik hati itu mengudurkan diri karena kerentanan usianya. Ayah tidak pernah bercerita banyak mengenai kerabat kami, tetapi seminggu kemudian ketika aku pulang dari bekerja, aku mendapat selembar telegram dari orang asing yang aku tidak tahu siapa namanya, karena dia tidak mencantumkan nama itu, mengatakan kalau ia membawa Hanabi dan meminta uang tembus dua ratus ribu pounds. Tentu saja dengan pekerjaanku sekarang aku tidak memiliki uang sebanyak itu,"

"Lalu dua bulan kemudian, kekasihmu tewas oleh perampok jalanan?"

Hinata mengangguk. Sesak di dadanya kian menghantam. "Lalu dimana Hanabi saat ini?" tanya Naruto.

Hinata menggeleng lemah. Tatapan mata itu kosong seperti tidak bernyawa. "Aku sudah menjadi kakak yang jahat, bukankah begitu, Naruto?"

Tidak ada komentar ataupun tanggapan dari Naruto. Tangan besarnya mengelus lengan Hinata dengan tatapan prihatin. Setelah mengetahui informasi lebih banyak, dari yang Ino tahu, Naruto merasakan betapa kuatnya Hinata. Mungkin jika Naruto berada di posisi gadis itu ia lebih memilih mati ketimbang harus meneruskan hidup yang tidak ada artinya lagi. Bahkan sekarang Hinata sebatang kara.

"Dimana kau tinggal sekarang?"

"Di flat sederhana di Sherwood Ave. Aku tinggal sendiri setelah memutuskan untuk meninggalkan rumahku di Monmouth,"

Pembicaraan tidak berlanjut karena setelah itu Hinata kembali membuka koran yang sempat di bacanya. Memberi Naruto isyarat untuk menghentikan tanya jawab mereka. Satu jam kemudian Hinata dan Naruto sampai di stasiun Streatham Common. Udara kian mendingin, ketika Naruto melirik jam rantainya jarum pendek menunjukan angka sepuluh. Lalu lalang orang sudah mulai berkurang bahkan sepi. Sedangkan Naruto masih harus kembali setelah ini. Kira-kira pukul setengah dua belas ia sudah sampai di rumahnya.

"Kurasa aku bisa pulang sendiri. Flatku tak jauh dari sini," kata Hinata. Wajahnya menunjukan permohonan. "Lagipula kupikir kau harus segera kembali. Aku tak yakin kapan kereta terakhir menuju London akan berangkat."

"Well, sebenarnya aku tinggal di East Dulwich jika kau perlu tahu."

Hinata mengangguk mengerti. Itu berarti Naruto hanya perlu kereta yang tujuannya mengarah kembali ke stasiun North Dulwich. Dan kalau tidak salah, seingat Hinata yang sering berpergian menggunakan kereta yang sama, kereta tersebut akan berangkat setengah jam lagi.

Setelah pamit, Hinata melangkah di tengah gelapnya jalan yang hanya mendapat sinar temaram dari beberapa rumah dan lampu jalanan. Naruto memandang punggung yang lebih kecil darinya itu hingga menghilang di belokan. Mungkin dia akan menunda kepulangannya, lagipula kereta akan berangkat setengah jam lagi. Mungkin membeli beberapa minuman di toko terdekat bisa membantu menghangatkan tubuhnya yang terasa membeku.

Lima menit Naruto melangkah dari toko minuman, Ia menangkap sekumpulan polisi dan beberapa orang berjas mahal di salah satu rumah mewah di ujung jalan. Dengan rasa penasaran ia berjalan menghampiri.

"Mr. Sarutobi!"

Tanpa di sangka-sangkanya, Sarutobi Asuma berdiri menjulang di samping kereta kudanya. Sedang bercakap-cakap dengan beberapa polisi. Sarutobi Asuma adalah teman dekat Ayahnya. Pria berumur empat puluh tahun lebih itu menoleh kemudian tersenyum singkat di balik bibirnya yang terselip pipa. "Oh, hai, Uzumaki. Apa yang kau lakukan disini?"

"Hanya kebetulan berjalan-jalan, saya baru saja mengantar seseorang. Kupikir Anda memiliki kasus luar biasa hari ini, Sir?" tanya Naruto.

Laki-laki berwajah lancip dengan dagu yang dipenuhi janggut tebal itu mengangkat sedikit kedua bahunya. "Begitulah. Pukul lima sore tadi aku mendapat telegram. Isinya memberitakan bahwa baru saja terjadi pembunuhan di rumah ini,"

Naruto sedikit terperanjat. Sarutobi Asuma adalah seorang detektif dari London. Pekerjaannya sangat sibuk, seingat Naruto sejak ia masih berumur tujuh tahun. Ayahnya sering bercerita mengenai pria luar biasa ini. "Lalu Anda sudah mendapat perkembangannya?"

"Hanya sedikit. Belum ada bukti kuat yang ku dapatkan begitu pun dengan pihak kepolisian. Kupikir ini akan menjadi persoalan yang cukup panjang,"

"Anda sudah menghubungi pihak Skotland Yard?"

"Baru saja akan ku lakukan."

Rumah mewah itu tampak indah sejujurnya, menurut Naruto. Bangunannya memiliki dua lantai dengan masing-masing pintu di desain khusus menggunakan batu alam. Catnya berwarna putih gading dan merah bata. Sangat kuno namun elegan. Sayang sekali sudah terjadi tindak kriminal di rumah indah seperti ini.

Setelah pamit, Naruto kembali ke stasiun, dan tepat ketika kereta menuju North Dulwich akan berangkat. Pemuda itu memilih bilik paling pojok di sudut kiri. Kakinya berselonjor santai. Hari ini cukup melelahkan. Pertemuannya dengan Hinata mungkin akan menjadi awalan yang unik serta menyenangkan. Setidaknya kurang lebih ia tahu dimana gadis itu tinggal. Sedangkan pertemuannya dengan Mr. Sarutobi menjadi hal yang menarik sebagai penutup hari ini.

.

Cuaca pagi ini cukup mendukung. Hamparan salju di sepanjang jalan menjadi fenomena yang tidak asing bagi Naruto. Ia baru saja kembali sehabis melakukan penelitian di kampus, sebagai tugas akhir yang akan pemuda itu jalani. Prof. Pycrof memuji habis-habisan hasil penelitiannya. Kemungkinan Naruto akan menyelesaikan studinya sekitar dua bulan lagi dan setelah itu ia akan segera menyusul kedua orang tuanya di Paris.

Di ujung sana Naruto melihat Uchiha Sasuke, Ia berjalan menghampiri. Pemuda itu adalah teman dekatnya. Garis keturunan bangsawan yang di milikinya membuat pamor seorang Uchiha menjadi cukup terkenal di London.

"Hai, sobatku, Sasuke. Apa gerangan yang membuatmu terlihat murung?"

Lihatlah bagaimana wajah lancipnya yang tampan mendelik ke arah Naruto. "Aku tidak murung." Katanya.

"Bisakah aku mempercayai ucapanmu. Sebagaimana kau kukenal sebagai pendusta,"

Matanya yang sipit seperti elang semakin mendelik tidak suka. Kaki-kakinya yang panjang berjalan terburu-buru dengan kesal. Naruto yakin pemuda itu berusaha menghindarinya. Ia tertawa keras. "Jangan marah begitu, sobatku, aku hanya bercanda. Kurasa memang ada yang tidak beres denganmu. Tidak biasanya kau mudah marah oleh karena perkataanku,"

"Ibuku jatuh sakit." kata Sasuke singkat.

Naruto mengusap telapak tangannya dengan semangat. Hal itu rupanya yang membuat pemuda ini murung, meskipun raut wajahnya tetap menampilkan ketenangan. "Separah apa?" tanya Naruto

"Entahlah. Beliau tidak cerita apapun. Ayah serta Itachi sibuk mengurus kasus-kasus di kepolisian. Ibu sekarang tinggal bersama perawat Ayame." Ceritanya.

Naruto mengangguk-angguk seperti ayam tanda ia mengerti. Pastilah Sasuke merasa khawatir. Kedekatannya dengan sang Ibu tidak perlu di ragukan, sedangkan hubungannya dengan sang Ayah tidak begitu baik. Belum lagi kepala keluarga Uchiha itu selalu mengelu-elukan kehebatan anak pertamanya, Itachi, sebagai emas bagi keluarga. Hal itu lantas membuat Sasuke enggan terhadap Ayahnya.

Uchiha Fugaku seorang kepala kepolisian begitupun dengan Itachi. Keduanya selalu sibuk mengingat kejahatan sedang merajalela akhir-akhir ini. Bisa dikatakan keluarga mereka tidak akrab satu sama lain tetapi selalu terlihat harmonis di kalangan bangsawan.

"Tenangkan dirimu, sobat. Aku yakin ibumu akan cepat pulih," Naruto menepuk bahu lebar itu untuk menyemangati. "Ngomong-ngomong, aku membutuhkan bantuanmu, Sasuke."

Warna mata yang tajam itu menoleh. "Apa yang kau inginkan?"

Naruto terlonjak dengan hati yang senang. "Mungkin tidak sekarang. Tapi bisakah kau mengenalkanku dengan Itachi?"

"Untuk apa?"

"Akan kujelaskan nanti. Pada intinya aku punya keperluan dengan kakakmu," kata Naruto mengakhiri pembicaraan.

Setelah keduanya pamit dan berpisah di persimpangan jalan, Naruto memilih untuk singgah sejenak pada satu toko minuman. Ia membeli beberapa brendi. Naruto bukan pemuda yang senang merokok, seperti sobatnya Shikamaru. Tetapi bukan berarti ia tidak penah mengisap tembakau itu lewat pipa seperti yang biasa dilakukan kebanyakan pria di Inggris. Seperti sekarang ini. Naruto memutuskan membeli satu hingga dua tembakau beserta pipanya. Ia berpendapat jika tidak sering, toh ia akan baik-baik saja.

Sebelum memutuskan untuk pulang, Naruto berjalan-jalan di daerah Westminster. Menyesapi dingin udara musim salju dan rasa tembakau di pipanya. Sambil membuat rencana setelah studi kuliahnya selesai. Mungkin ia akan benar-benar pindah ke Paris, atau hanya sekedar mengunjungi kedua orang tuanya sambil berlibur. Tapi mungkin meminta rekomendasi Prof. Pycrof mengenai pekerjaan tidak akan Naruto kesampingkan.

"Lebih baik kau pergi, saya tidak butuh seorang pekerja disini."

"Please, Ma'am. Saya membutuhkan pekerjaan,"

"Carilah di tempat lain."

"Tidak ada yang mau menerima saya, Ma'am. Saya mohon. Apapun pekerjaannya akan saya lakukan, Ma'am"

"I told you. I'm not!"

"Please, Ma'am..."

"No! Get out from here!"

Sebelum tubuh itu jatuh terjembab di tumpukan salju, tangan panjang milik Uzumaki Naruto sudah menangkapnya. Wanita dengan gaun indah di depan pintu toko melototi keduanya sambil berkacak pinggang. "Bawa dia dari sini, Sir. Sudah saya katakan kalau saya tidak butuh seorang pekerja," suaranya yang melengking terdengar sedikit menakutkan lalu menutup pintu dengan kasar. Gadis di dekapannya beranjak meraih tasnya yang dilempar wanita tadi. Wajah itu murung dengan warna hitam yang membayangi matanya.

"Apa yang kau lakukan disini, Hinata?"

"Kupikir kau mengerti setelah peristiwa barusan," Hinata berjalan pelan ke arah yang berlawanan. Mantel serta topi ia rapatkan demi menepis udara dingin. Hinata tidak memiliki tujuan saat ini. Setelah penolakan mentah-mentah nyonya pemilik toko baju disana membuat segalanya rusak. Apa yang harus dilakukannya sekarang benar-benar kabur dari bayangan.

Naruto menggeleng pelan. Merutuki pertanyaan bodohnya. "Maksudku, kenapa kau meminta pekerjaan dari wanita kasar tadi? Bukannya kau memiliki pekerjaan?"

"Aku dipecat." Kata Hinata. Wajahnya tertunduk lunglai.

"Wah, bagaimana bisa?"

"Pagi ini aku terlambat. Mrs. Morstan sudah memberiku peringatan sejak jauh-jauh hari, hanya saja, yah, begitulah, akhirnya aku di pecat."

Naruto berdiri menghadang jalan si gadis. Tangannya yang keras mengangkat wajah murung itu sambil memberikan senyuman terbaik. Warna biru di matanya berkilat-kilat sesaat setelah menangkap gerumulan air di sudut mata Hinata. "Jangan murung begitu. Kau pasti mendapatkannya. Aku bisa membantumu jika kau mau,"

"Mungkinkah?"

"Trust me,"

Bisikan Naruto yang menerpa wajahnya membuat sudut-sudut bibir mungil itu tertarik barang dua senti. Di tengah keputusasaannya, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali mempercayai orang lain. Dan entah bagaimana, Hinata memilih Naruto dari sekian banyak jiwa di Inggris yang ia percayai seutuhnya.

Melihat secercah kelegaan di kedua mata yang teduh itu, Naruto lantas tersenyum semakin lebar. "Ada pertandingan Rugby di Southwark. Kau mau melihatnya bersamaku?"

Hyuuga Hinata sudah buka mulut untuk merespon tawaran Naruto sebelum laki-laki itu membuang rokoknya dan menarik lengannya. "Aku tidak menerima penolakan apapun, Miss. Setelah pertandingan itu selesai, kita akan mencari pekerjaan untukmu,"

Warna mata teduh itu mengamati wajah tegas Naruto yang bersemangat ketika menarik lengannya. Hidungnya mancung menjulang di wajahnya yang besar dengan garis samar di kedua belah pipi. Rahang itu bulat namun garisnya kokoh. Berbeda dari kebanyakan kulit bangsa Eropa, Naruto memiliki kulit yang kecoklatan. Seperti selalu berada di bawah terik matahari.

Tetapi yang membuat Hinata selalu kehilangan sebagian kalimatnya adalah sepasang warna mata biru samudera. Jarang penduduk Inggris yang memiliki warna mata sebiru itu. Nampak sangat indah dan jernih.

Hyuuga Hinata menunduk dengan pipi yang bersemu kemerahan.

.

Mereka menduduki bangku penonton di paling belakang. Tidak masalah, karena di depan sana penuh dengan manusia yang berteriak-teriak seperti di hutan. Naruto tidak ingin telinganya berdenging sedemikian rupa.

Pemuda itu menatap ke arah Hinata. Sebenarnya ia tidak yakin Hinata menyukai olahraga yang cukup fenomenal di Inggris ini, tapi mungkin spekulasi itu perlu di kesampingkan, karena Hinata terlihat antusias.

"Kau menyukai Rugby, Hinata?"

Hinata menatapnya. "Tidak juga. Tapi dulu Ayah sering mengajakku menonton temannya yang menjadi pelatih di salah satu club," kata Hinata. "Tidakkah kau pikir, Naruto, gadis sepertiku menyukai olahraga?"

"Mungkin saja. Kau lihat disana," telunjuknya yang kurus menunjuk ke arah bangku penonton di samping kanan mereka, jaraknya cukup jauh. "Wanita bangsawan itu sepertinya sangat menikmati pertandingan. Dan juga yang disana, atau yang disana,"

Hinata hanya mengangkat bahu. Matanya yang lembut kembali meneliti atlet-atlet itu ketika menunjukan kebolehan mereka. "Bagaimana dengamu?"

"Secara teknisi, Ayahku mantan pemain Rugby ketika dia masih kuliah. Setelah iming-iming perusahaan ekonomi dengan tawaran gaji yang menggiurkan, ia meninggalkan olahraga ini."

"Kau sendiri tidak pernah?"

Naruto tertawa. "Untuk beberapa alasan, aku tidak tertarik. Tapi kalau kau senang melihatku bermain Rugby, yah, akan kucoba untuk beberapa waktu kedepan," candanya. Hinata hanya tersenyum malu ketika menanggapi celotehan Naruto. Tipikal pemuda yang senang berbicara daripada diam.

Belum sempat mereka meneruskan pembicaraan, seorang pria menepuk bahu Naruto. tubuhnya tinggi dengan bulu halus yang mengelilingi rahang serta dagunya. Rambutnya panjang dan lebat. Matanya jenaka. Hidungnya sedikit bengkok tapi besar dengan kutil di pangkal hidung. Pipa di bibirnya bergeser ketika ia tersenyum ramah.

"Ah, Mr. Jiraya. Apa kabar? Kukira kau akan menetap di Jerman. Tapi kurasa kecintaanmu terhadap club Rugby tak dapat ditandingi,"

Suara berat itu terdengar tertawa ringan. "Yah, yah, sebenarnya aku sering pulang setiap musim pertandingan Rugby. Ngomong-ngomong kau sudah besar Minato Junior,"

"Begitukah?"

Pria itu lagi-lagi tertawa, "Jika tidak, bisa kau jelaskan siapa gadis manis yang kau bawa ini?"

Seketika Naruto memutar tubuh. Wajah gadis itu terlihat bingung luar biasa. Kedua alisnya naik meminta penjelasan. "Perkenalkan, ini temanku, Hyuuga Hinata. Dia berasal dari Wales,"

"Ah, temanmu rupanya. Well, gadis manis, apa yang membuatmu datang jauh-jauh dari Wales?"

"Saya sedang mencari pekerjaan, Sir,"

Jiraya tiba-tiba terlonjak. "Benarkah? Kebetulan sekali kalau begitu. Istriku memiliki toko bunga, tak jauh dari sini, sayangnya Mrs. Jiraya belum menemukan seorang kurir untuk mengantar pesanan. Jika kau mau, kau bisa bekerja disana, gadis manis. Akan ku bicarakan terlebih dahulu dengan istriku,"

Sejak pertemuan pertamanya lusa lalu, Naruto belum melihat senyum seindah ini di bibir Hinata. Matanya penuh rasa syukur sedangkan kedua tangannya terkepal memandang Jiraya. "Dengan senang hati, Sir. Kapan kiranya saya bisa bertemu dengan istrimu?"

"Secepatnya. Mungkin besok sore pemuda ini akan mengantarmu menemui istriku, bagaimana, Naruto?"

Uzumaki Naruto menarik sudut bibirnya tanda setuju. Setelah Jiraya pamit undur diri dari sana untuk suatu urusan, Naruto berujar dengan kedipan mata yang menawan. "Aku sudah mengatakannya padamu sebelumnya, Hinata, kalau kita akan menemukan pekerjaan untukmu,"

Senyum masih belum luntur dari wajah lembut itu. Meskipun poni yang tertutup topi menghalangi pandangan matanya, Naruto yakin ada kelegaan dan rasa terima kasih luar bisa dari mata teduh Hyuuga Hinata. "Jangan memandangku seperti itu jika kau tidak mau jatuh cinta padaku," kemudian tertawa.

Kemerahan di pipi Hinata timbul lagi. Ia tidak ingin berkata apapun saat ini. Hatinya sedang diserang kegembiraan luar bisa, dan menurutnya itu berkat Naruto. Dua jam yang lalu ia dipecat dari pekerjaannya dan ditolak berkali-kali, tapi seperti sebuah sihir, kehadiran Naruto mempermudah segalanya.

"Well, Hinata, boleh aku minta satu hal?"

Apapun, demi membalas jasa yang Naruto berikan kepadanya. Demi terima kasih yang tidak hanya cukup dengan ucapan, Hinata akan memenuhi permintaan Naruto. Oh, jangan anggap berlebihan. Untuk seorang gadis sebatang kara seperti Hinata, tidak ada yang bisa dilakukannya. "Anything you want, Sir,"

Naruto benar-benar tergelak keras kali ini. "Well, kau pernah bercerita mengenai telegram yang kau dapat dari orang asing, 'kan? Boleh aku minta telegram itu?"

Dari sekian banyak hal yang mungkin bisa Naruto minta dan dapat Hinata lakukan, itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan telegram asing itu. Lalu untuk apa Naruto memintanya?

"For what?"

Sepasang mata biru samudera itu menatap pertandingan Rugby yang kian memanas di lapangan sana. Para pelatih sudah berteriak dan ratusan penonton sudah mulai bersorak. Mungkin kemenangan telak akan jatuh di salah satu club. Kemudian Naruto berpaling kembali ke Hinata. Senyumnya sungguh menawan di bawah terik matahari yang mengintip di balik awan tebal. Hinata tersentuh.

"E-eh?"

Bersambung


Note :

Hai, welcome back :)

Terima kasih banyak untuk yang sudah review, follow, fav, or just read, I'm so appreciate it. Entah bagaimana, gue ternyata jatuh cinta dengan karya gue sendiri sehingga apapun bentuk appreciate kalian dan berapapun itu, gue memilih untuk melanjutkan cerita ini sampe tuntas ^^

Btw gue banyak masukin Other Character disini, cuma biar mendukung westernnya aja.

So, kalian bisa ninggalin jejak berupa review, very need the feedback about this story. Karena sebuah tulisan tidak akan berkembang jika tidak ada feedback :)

.

.

.

Salam,

Miss Spearsza

19/02/2017