Bunyi mesin arcade kesayanganku itu bahkan sudah terdengar dari beberapa meter tempatku berdiri mematung. Meskipun samar, di balik kerumunan orang yang menatap kagum pada skor yang terpampang di layarnya, aku dapat melihatnya. Sang cahaya dengan kibaran surainya yang khas tengah meneteskan peluh kemenangan, memamerkan seringai lebar tanda arogansi yang tinggi.

Ya, dia telah merebut panggungku. Merebut seluruh atensi yang seharusnya tertuju padaku, dan tanpa ampun seolah mendorongku paksa ke sudut paling gelap di dalam kehidupan.

Aku mengepalkan tangan seraya menggigit bibir. Berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan aura keputusasaan yang dapat membuat sang cahaya sadar bahwa aku sedang mendongak menatapnya dari dasar tanah. Kaki-kakiku sebenarnya sudah gatal untuk kembali menginjak pad yang telah berganti 'penguasa' tersebut, namun sekuat tenaga kuredam dengan menyesak ubin lebih kuat. Membuang muka mengalihkan atensi pada arcade lainnya.

"Ayo main yang itu, Ryouta-kun!" ujarku berusaha seriang mungkin, menunjuk sebuah stall permainan drum dengan musik yang beralun-alun seolah mencicit memanggil pengunjung.

Ryouta-kun yang sedari tadi menemaniku sekejap memicingkan mata ke arahku, menatapku penuh selidik, bergantian antara aku dan arcade menari yang biasa kumainkan. Binar mata hazel-nya jelas menunjukkan rasa heran, namun segera tergantikan dengan pandangan teduh diiringi senyuman tanda mengerti. "Kau bisa bermain drum, –ssu?"

"Kucoba …" ujarku hati-hati setelah sesekali memutar bola mata jenaka–menuai tawa kecil dari si surai kuning.

"Baiklah, ayo –ssu!"

–Berujung pada tarikan lembut sang matahari padaku, menjauh dari trauma langit kelabu di tengah-tengah lingkaran itu.


Ludens –

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Haizaki x Readers/OC, slight Kise x Readers/OC

Standard warning applied~


"Kau anak yang baik, –ssu."

Aku sejenak kehilangan ritme permainan drum yang sedang kutabuh. Tertohok dengan sangat tepat sasaran, hanya itu kalimat yang dapat menggambarkan keadaanku ketika menerima sebuah usapan sayang di kepala dari Ryouta-kun.

"Jangan dekati pemuda itu atau kau akan menyesal nanti, –ssu," lanjutnya, masih terus mengusap kepalaku.

Aku hanya mengangguk canggung sebagai respons.

"Aku janji, untuk hari ini saja kita tidak bisa bermain permainan kesayanganmu," ucapnya lagi, setengah melirik pada pemuda berhelai abu di tengah-tengah ruangan, lalu menatap lagi layar arcade drum yang sedang kumainkan. "Hari ini kebetulan saja dia sedang ingin bermain itu, –ssu. Besok pasti dia akan bosan, lalu kau bisa mendapatkan kembali perhatian orang-orang."

Aku kehilangan ritme lagi. Setiap kalimat lembut yang meluncur dari bibir Ryouta-kun terasa seperti hantaman gada besi di ubun-ubunku. Perhatian serta kebaikan yang diberikan pemuda itu padaku sudah begitu besar hingga membuatku takut untuk mengatakan yang sebenarnya sudah terjadi.

Memejamkan mata, aku berusaha kembali rileks sembari memikirkan kata-kata yang tepat untuk memberitahu Ryouta-kun.

Ryouta-kun, aku bukan anak baik yang tidak bisa sekedar mematuhi peringatan kecilmu tempo hari. Aku tidak bisa menahan rasa penasaran di dalam diriku tanpa melihat jauh ke depan. Aku tidak bisa lagi mendapatkan perhatian orang-orang lewat kemampuanku yang sudah lenyap secara ajaib sejak hari itu. Semua itu terjadi begitu saja karena aku terlalu bebal untuk memahami apa yang Ryouta-kun khawatirkan terhadapku.

… Dan aku yakin, itu hanya akan menjadi kalimat yang berputar-putar di dalam lobus otakku saja tanpa bisa menemukan jalan untuk bersuara. Tidak punya keberanian untuk melontarkannya, bukan karena takut Ryouta-kun akan marah, melainkan Ryouta-kun terlalu baik.

.

.


Flashback~

Aku hampir berpikir bahwa aku sedang mengalami mimpi buruk. Tapi, tentu saja, aku tidak sebodoh itu hingga tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Yang kini sedang tersaji adalah jelas nyata. Aku, seorang yang tidak terkalahkan dalam permainan arcade menari ini, detik ini dilampaui oleh seorang pemuda yang mengaku newbie. Haizaki Shougou namanya, pemuda yang sudah sejak lama menguasai rasa penasaranku.

Setelah mengalahkan skorku di stage kedua, Haizaki Shougou selalu melampaui skorku pada stage-stage selanjutnya. Sesuatu yang tidak masuk akal namun sungguhan terjadi, bahwa ia mengaku telah mengambil kemampuanku dan menjadikannya miliknya untuk selamanya. Meskipun ingin menyanggah, namun kalimat bantahan apa yang bisa kulontarkan untuk mendebatnya? Aku yakin aku baru saja mengalami sebuah keajaiban: bertemu dengan orang yang bisa mencuri kemampuan, tidak sekedar meniru.

"Nah, nona …" Entah sudah berapa lama aku terpekur memandangi layar yang masih menampilkan skor kekalahanku ketika Haizaki Shougou memutusnya dengan menggayut pundakku. "Terima kasih untuk kemampuanmu yang luar biasa."

Meneguk ludah secara tidak sadar, aku tidak bisa bersuara untuk menjawabnya. Terlalu lemah untuk mengakui bahwa ia sudah mendapatkanku sepenuhnya–ya, mendapatkan dalam artian seluruhnya.

"Merebut kesenangan orang lain memang menyenangkan, kau tahu?" bisiknya di telingaku, diselingi dengan kekehan sinis. Aku tetap tidak bergeming. "Aku sudah sering melakukan ini sebelumnya, dan perasaan itu sudah ada ketika pertama kali aku melihatmu disini."

Tanpa sadar aku mengepalkan tinju. Kontan teringat peringatan Ryouta-kun yang sempat kulupakan. Dan kini aku merasa kesal pada diriku sendiri. Aku tidak menyangka bahwa pemuda yang ada di sampingku ini sebegitu brengsek.

"Hari ini cukup sampai disini dulu, nona …"

Aku segera tersadar dari lamunan keduaku pada hari ini di saat beban berat yang menggayuti pundakku lenyap. Haizaki Shougou melepaskanku, kemudian turun dari pad dan membalikkan badannya. Ia mulai melangkah keluar dari game center setelah melambaikan tangan padaku, seolah berkata 'sampai bertemu kembali disini'. Meninggalkanku sendiri yang masih belum terlepas dari jerat penyesalan yang luar biasa.

.

.


Tampaknya atmosfer di sekitarku sudah lama berubah menegang sebelum aku tersadar dari ingatan penyesalan itu. Ketika aku menoleh, aku mendapati wajah Ryouta-kun sudah mengeras dengan api kebencian yang berkobar di dalam manik madunya. Sungguh, aku tidak bisa menyembunyikan kekagetanku saat ini. Aku tidak pernah melihat Ryouta-kun memasang ekspresi semarah ini sebelumnya.

Dan entah kenapa, otakku langsung berkonklusi pada satu titik: helai sea fog yang mengingatkan tentang langit kelabu di hari mendung serta tatapan arogan yang seolah dapat membunuh jiwa bernyali kecil.

"Aku yakin kau mengerti dengan apa yang kukatakan kemarin, nona."

Benar saja. Suara pemuda itu–Haizaki Shougou, menggema tepat di belakangku. Membuat kelenjar keringat di sekujur tubuhku secara refleks mengembunkan bulir-bulir hangat di permukaan kulit. Sebuah tangan yang kuyakin miliknya mencengkeram pundakku, seakan ingin menagihku akan sesuatu.

"Apa yang kau inginkan darinya, Shougou-kun?" –suara Ryouta-kun sarat akan emosi di setiap penekanannya.

"Ryouta …" Aku mendengar Haizaki Shougou menggumamkan nama Ryouta-kun. Dan dengan ini, jelas sudah. Ryouta-kun dan Haizaki Shougou ternyata memang saling mengenal. Mereka sepertinya cukup akrab, dan Ryouta-kun selama ini memberiku peringatan bukan hanya sekedar bersumber dari desas-desus belaka.

"Apa yang kau inginkan dari temanku, Shougou-kun?" Sekali lagi, Ryouta-kun mengulangi pertanyaannya.

Aku masih tetap pada posisi semula. Terpaku. Tidak tertarik untuk masuk ke dalam pembicaraan atau sekedar membalikkan badan untuk menatap pemuda pemilik tangan yang sedang mencengkram pundakku.

Kudengar sebuah helaan napas dari pemuda langit kelabu sebelum ia menjawab. "Aku sudah berjanji pada gadis ini untuk merebut semua miliknya, dan akan kutuntaskan hari ini juga. Toh, kemarin dia tidak keberatan. Benar 'kan, nona?"

Dan aku tahu, detik ini aku sudah membuat Ryouta-kun sangat kecewa. Tapi, apa lagi yang bisa kuperbuat ketika semuanya sudah terlanjur terjadi … ?

.

.

To be continued~

.

.


[A/N]

Geje ya? Maafkan ._.v /plek

Betewe terimakasih sudah mampir dan membaca! :D