Oke, jadi... gue berpikir untuk merubah cerita ini jadi menurut sudut pandang orang ketiga. Dan juga, gue berterima kasih banyak banget buat semua yang udah nge follow dan berbaik hati untuk membaca lanjutan dari cerita ini.
Well, enjoy the story then~
Suara berisik dari headphone Haru membuat gadis itu terjaga sejak matahari hilang di ufuk barat. Dia tidak tahu apa yang terjadi beberapa hari ini sampai-sampai mendengarkan koleksi lagu dark-metalnya yang berisikan orang-orang dengan racauan aneh.
Sudah seminggu sejak dia mendapatkan sebuah bingkisan kecil dari Tsuna, orang yang sejak beberapa hari ini terngiang di kepalanya. Dia tidak membukanya. Bahkah bingkisan itu tersembunyi dengan aman di bawah tempat tidurnya. Dia tidak ingin beresiko melihat apa yang ada di dalamnya. Dia benci harus memikirkan bahwa Tsuna sebenarnya adalah orang yang sangat tidak peka. Apalagi dengan semua kode yang dia lakukan untuk mengambil perhatiannya.
"Haaaa...," Haru menghela napas berat. Dia membalik tubuhya untuk menghadap jendela.
Malam ini Bulan bersinar terang dengan cahaya aneh. Lagu dark-metal di playlistnya hampir mencapai akhir dan matanya tidak lelah sama sekali. Dia kembali menghembuskan napas berat.
Apa yag akan kulakukan sekarang? pikirnya dalam hati. Dia tidak ingin mengganggu hubungan Kyoko-chan dan Tsuna-kun. Tapi di lain sisi dia tidak bisa mengabaikan perasaan sakit yang terus berkecamuk dalam dadanya.
Rasanya sakit, sesak. Membuatnya sering terjaga tanpa alasan di malam hari.
Tapi lalu dia memikirkan tawa Tsuna-kun dan senyuman kecil dari Kyoko-chan yang sering dilihatnya. Dia tidak mungkin berbuat sesuatu yang bisa membuat sedih kedua sahabatnya itu. Tidak, dia tidak bisa. Dan tidak akan pernah.
Di ranjangnya dia membalik lagi badannya. Dia bingung. Suara di headphonenya sudah berhenti. Sunyi malam menjadi semakin terdengar nyaring. Keheningan menjadi semakin keras. Dia tidak tahu kalau hening itu lebih bersuara dibandingkan dengan suatu lagu.
Kali ini dia membalik badannya hingga punggungnya menyentuh ranjang sepenuhnya. Dia menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi bintang-bintang plastik yang menyala dalam gelap. Suara hening semakin menjadi-jadi. Dia mencoba untuk menutup matanya, tapi tidak ada yang terjadi.
Indera pendengarannya masih mendengar sunyi, indra penglihatannya masih tidak bisa berkonsentrasi dengan gelap gulita mata yang tertutup.
Sehari lagi tidak tidur, pikirnya dalam diam.
.
.
.
.
.
Orang-orang di lapangan bermain bola dengan riang. Haru melihatnya dari tempatnya duduk di kelas. Guru Sejarahnya sedang menjelaskan suatu peristiwa negara yang membuatnya kehilangan konsentrasi karena ceritanya yang memakan waktu panjang.
Pikirannya terbang kembali ke hari itu.
"A-aku, suka padamu, Kyoko-chan."
"U-um… aku juga."
Seperti suatu kilasan cepat, dia memalingkan pandangannya dari lapangan. Mencoba untuk menghilangkan kilasan itu dari pandangannya dengan berkonsentrasi pada gurunya yang tidak berhenti mengucapkan kata 'jadi' secara berulang-ulang.
Apakah aku harus mengatakan perasaanku pada Tsuna-kun? Tidak, tidak. Tentu saja Tidak, Idiot! Apa kau ingin melihat Kyoko-chan menangis?! debatnya dalam hati.
Dia tidak berhenti memikirkan apa yang harus dia lakukan saat sebuah kapur melesat terbang dengna kecepatan tinggi ke arahnya.
—pletak !—
"Adududuh!" dahinya memerah dan beberapa teman sekelasnya tertawa kecil. Sedangkan gurunya di depan menatapnya dengan mata melotot.
"Jadi, Haru, bisa kau jelaskan, maksud Ibu, persingkat, apa yang baru ibu ceritakan?" kata guru sejarahnya itu sambil berkacak pinggang.
"Eh—itu, ehem..," tidak. Dia tidak bisa menjelaskan apa-apa. Semua mata sekarang tertuju padanya, dan beberapa anak menutup mulut mereka, tertawa.
"Sepulang sekolah, temui Ibu," kata gurunya galak. Setelah itu semua orang kembali melihat ke depan dan memerhatikan dengan baik.
.
.
.
.
.
Haru berjalan dengan gontai. Setelah mendapat ceramah dari gurunya di ruang guru, dia bersumpah tidak akan bengong lagi pada pelajarannya. Akibatnya, dia telat satu jam dari jam pulangnya.
Dengan langkah cepat dia berjalan pulang. Tapi suatu pemandangan membuatnya langsung bersembunyi di belakang tempat sampah besar.
Apa yang sedang mereka lakukan? tanyanya dalam hati.
Di ujung jalan, dia dapat melihat Tsuna-kun dan Kyoko-chan bergandengan tangan sambil bercakap-cakap seru. Hal itu dapat terlihat dari wajah mereka berdua dan suara girang mereka dari tempatnya berjongkok.
Dadanya sakit.
Ah ya. Aku lupa. Tentu saja mereka berdua, Toh mereka pacaran, pikirnya sambil menghela napas berat.
Dengan memberanikan diri, dia berdiri tegap dan melanjutkan jalannya. Dia tidak mau terlihat bodoh lagi, dan dia juga tidak mau Kyoko-chan dan Tsuna-kun khawatir dengannya yang selalu sembunyi saat bertemu mereka ataupun Gokudera dan Yamamoto. Well, bisa dibilang, dia hanya bersikap seperti itu saat bertemu dengan Tsuna dan Kyoko.
Dia melankah dengna santai, yah, setidaknya, mencoba untuk santai. Tapi kepalan tangannya di dalam sakunya tidak bisa menyembunyikan ketidak percayaan dirinya berjalan ke arah mereka.
Beberapa meter darinya, Tsuna dan Kyoko menyadari Haru berjalan ke arah mereka. Kyoko yang pertama kali menyadarinya langsung menyikut perut Tsuna yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Haru.
"Hei. Haru!" panggil Kyoko dengan riang.
Haru yang tadinya berusaha untuk pura-pura tidak melihat langsung tersentak kaget dan menatap Kyoko-chan yang memanggilnya.
"Uh—hei, Kyoko-chan," balasnya sambil memalingkan wajahnya. Karena merasa tidak enak, dia pun memberaikan menatap Kyoko-chan dan tanpa sengaja juga menatap Tsuna-kun.
"Um—hei, Tsuna-kun," kata Haru sambil menatap ke bawah.
Kyoko dan Tsuna bertukar pandang bingung. Aneh, pikir Tsuna pada dirinya. Dia mengenal Haru sebagai orang yang berterus terang dan tidak pernah malu, well, saat pertama kali mengenalnya, dia kira gadis itu tidak punya urat malu.
"Kau kenapa? Kau sakit, Haru?" tanya Kyoko-chan yang langsung menghampirinya dan memegang keningnya. "Aneh. Kau tidak deman. Apa kau sakit perut?" tanya Kyoko-chan yang juga bingung dengan Haru yang terus menerus menatap tanah.
"Er.. itu—tadi, aku dipanggil guru sejarahku karena tidak memerhatikan saat di kelas, dan aku jadi telat satu jam dari jam pulangku yang biasanya. Well, Ibuku pasti akan menghawatirkanku di rumah. Aku.. pulang dulu ya, Kyoko-chan, Tsuna-kun," katanya cepat.
Dia tidak tahu apakah itu alasan yang cuku masuk akal, tapi itu memang yang sebenarnya terjadi. Tanpa meminta izin dari Kyoko dan Tsuna, dia pun dengan cepat melangkah pergi.
"Tsuna-kun," panggil Kyoko yang melihat Tsuna melamun.
"Ya, Kyoko-chan?"
"Apa pikiranmu sama denganku?" tanya Kyoko curiga.
"Ya, Haru aneh."
.
.
.
.
.
Haru terus berlari dan berlari. Langkahnya-langkah cepatnya membawanya ke dekat taman, dan larinya yang tidka stabil pun membuatnya tersandung batu dan menimbulkan bunyi—bruk!—keras.
"Hh..," dia menyentuh pergelangan kakinya. Matanya memanas, dan air mata pun menetes. Pandangannya mengabur saat air mata itu membendung, dan mulutnya bergetar.
Kenapa? Kenapa sakit ini ada di dadaku, bukan di kakiku? pikirnya dalam hati. Dia terisak. Dia tidak tahu kenapa sakitnya berada di dadanya padahal yang tersandung adalah kakinya.
Dia tidak tahu kenapa sakitnya semakin menjadi-jadi.
Dia tidah tahu kenapa sakitnya di kaki tidak terasa.
Dia tidak tahu kenapa air mata terus menetes.
Dan dia tidak tahu kenapa tubuhnya bergetar hebat hanya karena tersandung.
Dan dia tidak mau tahu kenapa semua sakit ini terkumpul di dadanya.
Dia takut.
Takut untuk mengetahui rasa ini.
.
.
.
.
.
Saat dia sampai di rumah, wajahnya sudah tidak terlihat sama. Matanya bengkak, dan darah terlihat dari lututnya. Jalannya pincang dan bajunya kotor. Dia terlihat bodoh dan terlihat menyedihkan.
Dia menarik badannya ke lantai dua, ke kamarnya. Dengan mengandalkan kaki kanannya, dia bertumpu pada pegangan tangga dengan kedua tangannya.
Ruang tamu masih sepi, pasti Ibu dan Ayahnya belum pulang. Dia tidak mau mereka melihatnya seperti ini juga. Jadi dengan cepat dia membawa dirinya ke kamar.
Tangannya terjulur untuk membuka pintu kamarnya saat tiba-tiba saja kamar yang gelap jadi terang dan semua orang di dalamnya berteriak dengan semangat, 'surprise!'.
Tapi dia diam di tempat. Dia melihat sekelilingnya. Orang-orang yang disayanginya, beberapa teman baiknya dari sekolah, dan kedua orang tuanya. Dan juga Gokudera, Yamamoto, Reborn, Ryouhei, Kyoko-chan, dan Tsuna-kun, dan masih banyak lagi.
Apa yang mereka lakukan di sini? pikirnya dalam hati.
Tanpa sadar setetes air mata meluncur ke pipinya yang kotor dengan tanah. Semua senyum orang-orang yang ada di sana pun berubah menjadi tatapan tidak percaya saat mereka melihat baju kotor Haru dan darah pada lututnya. Tidak lupa tangisan Haru yang semakin besar.
Isakannya semakin menjadi-jadi dan dia terduduk saat kakinya lemas.
"Haru," kata Ibunya yang langsung menghampirinya dan memeluknya. "Happy Birthday, nak."
"Tanjoubi Omedetou, ne, Haru," bisik Ayahnya di telinganya yang ikut memeluknya yang terus terisak. Di belakang mereka orang-orang ikut berjalan mendekat untuk memeluknya.
"Ta-tapi... kenapa?" tanya Haru bingung. Ulang tahunnya seharusnya sudah lewat. Bahkan in isudah lewat dua minggu dari hari ulang tahunnya.
"Karena kami tidak sempat merayakannya," kata Ibunya sambil tersenyum hangat. Dia berkaca-kaca dan langsung memeluk ibunya.
Ibu dan Ayahnya selalu sibuk bekerja, sampai selama beberapa tahun terkhir, ulangtahun Haru tidak pernah dirayakan. Dia senang. Senang bukan main atas rencana orangtuanya ini. Tapi bukan hanya itu alasan dia menangis. Tapi Tsuna-kun dan Kyoko-chan yang hadir dan terus bergandengan tangan sejak dia datang dan sejak semua orang mengatakan, 'surprise!'.
Kenapa semua ini harus datang secara bersamaan?
Rasa senang dan sedih ini bercampur menjadi satu.
Haru tersenyum miris. Dia tidak menyangka hal ini membuatnya tersenyum dan menangis secara bersamaan. Yah, dia sekarang yakin. Dia tidak perlu menyatakan perasaannya. Karena biar bagaimanapun, Tsuna-kun dan Kyoko-chan adalah sahabatnya. Dan akan selalu jadi sahabatnya. Dia tidak akan merusak hubungan mereka atau apa pun. Dia akan memendamnya. Biar waktu membuat lukanya kering.
Dia akan ikut berbahagia, untuk sahabatnya.
.
.
.
.
.
The End
_Thanks buat semuanya. Ini chapter terakhir dari Sakit. Well, bisa dibilang, first story that I ever finished. Lol
Dan beribu maaf buat semuanya yang udah nunggu ini. maaaaaaaaaaaaaaf! Dan Author pamit dulu ^O^
