Ada banyak rahasia di atas muka bumi
Ada berbagai macam prasangka tiap insan
Bila diam adalah emas
Maka kata-kata merupakan belati
Salah ucap mengirismu, tak terucap menikammu
Dan kata cinta sejatinya adalah sebuah rahasia
.
.
.
[NielWink Fanfiction]
.
.
Flowers
Autumn97
Kang Daniel x Park Jihoon (GS), Broken!NielOng, Slight!PanWInk
Romance, Comfort
Chaptered
Genderswitch, Straight!Fanfic, Random!Pairing
Wanna One belongs them self
"Sepertinya Mawar Kuning cocok untukmu"
.
.
HAPPY READING ^^
.
.
.
Toronto, Canada
Aku terbangun merasakan sinar matahari menyambutku. Kuusahakan membuka kedua kelopak mataku dan tidak menemukan istriku disamping. Dia sudah bangun rupanya. Dengan cepat aku berjalan ke kamar mandi untuk sekadar mencuci wajahku dan sikat gigi.
"Morning" kataku disamping dirinya yang sibuk dengan pemanggang roti. Dia hanya tersenyum manis dan membalas morning tanpa suara
"kenapa tidak bangunkan aku?" tanyaku sambil mengambil roti dan kopi milikku dari tangannya. Aku masih cukup sadar diri tidak ingin merepotkannya karena dia sedang hamil besar.
"kau kelihatan sangat lelah Niel-ah, aku tidak tega membangunkanmu" Seongwoo membalasku dan mencoba mendudukkan dirinya di kursi meja makan. Tidak mudah dengan perutnya yang sudah besar. Aku hanya tersenyum merespon pernyataannya. Pagi ini dia sudah mandi. Tumben sekali.
"ada acara keluar hari ini Nuna?" aku bertanya dengan mulut yang sibuk mengunyah roti panggang
"tidak. Hari ini pengacara Shin mau datang. Jadi ya aku persiapan diri saja" Seongwoo-nuna menjelaskan. Ah aku lupa kalau hari ini pengacara Shin akan datang. Berarti akan bahas surat ahli waris dan juga
Surat Perceraian
"jam berapa pengacara Shin datang?" aku menatap tepat di mata wanita yang menjadi kepemilikkanku secara hukum ini.
"jam 9 nanti" jawabnya. Aku melirik jam dinding dan mengangguk. Masih jam 7 aku bisa berangkat sebelum jam 9.
"bisakah kau menemaniku Niel-ah?" pertanyaan itu lolos dari bibir Seongwoo-nuna. Dia memohon lewat tatapannya.
"apakah aku bisa menolak Nuna?" kata-kataku membuatnya mengulum senyum. Senyum miris.
"ya. Kau tidak punya pilihan apapun." Dia berkata tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Aku memasang wajah terbiasaku "Oh iya, bagaimana kabar Jihoon? Kau sudah menemukannya?" dia bertanya lagi.
"entahlah. Aku belum menemukannya" jawabku sekenanya. Aku tidak ingin ia ikut campur urusanku dan aku lebih memilih menghabiskan kopiku. Sama seperti hidupku rasanya. Pahit.
"Aku mandi dulu" ujarku sambil beranjak tanpa menoleh padanya. Kudengar dia menggumam saat aku menutup pintu kamar
.
.
TING TONG
Bel rumahpun berbunyi cukup nyaring. Seongwoo sudah akan bangkit dari sofa jika Daniel tidak menahannya dan beralih membuka pintu. Seongwoo tersenyum. Hal-hal kecil namun pengertian ini yang membuat Daniel terlihat sebagai suami idaman. Seongwoo menatap punggung Daniel sendu.
"Bagaimana kabar anda Nona Ong?" sapaan Pengacara Shin membuat Seongwoo tersenyum manis
"aku sangat baik Pengacara Shin. Bagaimana dengan Anda?" tanya Seongwoo balik
"seperti yang Anda lihat Nona, aku baik-baik saja asal masih bisa mengontrol gulaku." Pengacara Shin berkata yang memancing tawa kecil dari pasangan didepannya. "sepertinya Tuan Daniel menjaga Anda dengan sangat baik ya, Nona Ong?" sambungnya
"tentu aku harus menjaganya dengan baik Pengacara Shin. Kami akan punya Woojin sebentar lagi" itu Daniel yang menyahut. Seongwoo yang tersenyum tipis dan Pengacara Shin hanya mengangguk paham.
"Baiklah. Apa kita langsung ke inti atau sekadar basa-basi sedikit?" Pengacara Shin kembali berkata dengan nada jenaka sembari membuka tas kerjanya. Mengambil beberapa dokumen penting.
.
.
.
Seoul, South Korea
Park Jihoon, perempuan 24 tahun yang bekerja mengurusi berbagai hal tentang lingkungan itu hanya bisa mencebikkan bibirnya bosan karena menunggu sepupunya yang berjanji bertemu sejam yang lalu.
Sudah berkali-kali Jihoon menelpon sepupunya itu, dan tidak ada respon apa-apa darinya. Jihoon benci ditelantarkan tanpa alasan begini. Lebih baik tidak usah bertemu kalau hanya membuatnya menunggu bosan.
"angkat telponmu Park Woojin bodoh!" Jihoon masih sibuk memainkan ponselnya sebuah tepukan menyadarkannya
"boleh saya duduk disini?" seorang lelaki berperawakan tinggi tegap berdiri disamping Jihoon. Jihoon yang kaget hanya bisa menampilkan ekspresi terkejut yang lucu
"maaf, tapi saya sudah ada janji dengan sepupu saya" tolak Jihoon halus. Ayolah siapa yang mau memberikan tempat duduk dihadapanmu pada pria asing, yah walaupun tampan sih. Tetap saja orang asing.
"tapi saya benar-benar harus bertemu dengan Anda, Nona Park Jihoon" pria itu kembali mendesak. Oh bahkan memanggil nama Jihoon. Jihoon jadi sedikit was-was apakah orang ini baik atau jahat.
"baiklah, silahkan. Tapi Anda Siapa?" Jihoon memilih mengikuti alur pria ini. Tetapi tangannya dibawah meja sudah akan menekan tombol 112 kalau-kalau orang ini bertindak macam-macam
"Saya Lai Guanlin. Salah satu investor untuk rumah sakit yang telah dibangun oleh Mary Industrial. Kebetulan yang luar biasa bisa bertemu dengan Anda" orang itu memperkenalkan dirinya pada Jihoon.
"Senang berkenalan dengan Anda Tuan Lai Guanlin" Jihoon menjawab sopan seraya berusaha mengingat orang ini. Rumah Sakit? Mary Industrial? Sebentar, oh Rumah Sakit di Jeju itu ya. Bersyukurlah otaknya tidak terlalu buruk
"yah, harusnya saya yang bilang begitu Nona, Anda jauh lebih cantik aslinya dari pada saat video presentasi." Lai Guanlin ini tipe yang menggebu kalau urusan memuji. Baru beberapa detik duduk saja sudah manis sekali perkataannya
"Anda tidak perlu melebihkan Tuan, ada perlu apa bertemu dengan saya? Kalau urusan pekerjaan bisa telpon ke kantor saya saja" Jihoon mulai menjaga batasnya dengan lelaki ini. Kalau tidak yang ada perasaan ikut bermain dalam pekerjaannya.
"saya sudah mengirimkan email namun belum ada respon dari kantor Anda, dan kebetulan saya masuk kafe ini dan bertemu dengan Anda. Saya punya proyek pembangunan taman bunga, kalau Anda tertarik ini proposalnya" pria itu memberikan map coklat kepada Jihoon. Jihoon membukanya dan membaca sekilas
"Santorini? Yunani?" Jihoon bertanya dengan nada yang sedikit terkejut.
"ya, rencananya ini akan menjadi taman bunga paling besar dan lengkap di dunia. Tidak hanya taman, tapi ada museum dan tempat merangkai bunga untuk pengunjung. Jadi benar-benar tempat yang mengesankan" Lai Guanlin menjelaskan kembali dan Jihoon hanya menggangguk mengiyakan.
"lagipula Yunani terkenal dengan mitos-mitos dewa-dewi kunonya. Dan katanya bunga juga melambangkan identitas para dewa-dewi. Jadi target pasarnya lumayan banyak, pencinta bunga, pencinta mitologi, bahkan hanya untuk pengagum dan pengunjung saja" sepertinya Lai Guanlin dengan urusan bisnis adalah satu kesatuan. Buktinya ia lancar sekali mengatakannya dengan Jihoon.
"jadi Anda butuh konsultan lingkungan untuk mengerjakan proyek ini? Begitu Tuan Lai Guanlin?" tanya Jihoon yang sepertinya mengerti arah pembicaraan lelaki itu
"tepat sekali. Dan saya puas dengan hasil kerja Anda di Rumah Sakit itu. Saya tertarik merekrut Anda karena sepertinya lisensi Anda bukan hanya Korea tapi Internasional kan? Jadi akan lebih mudah untuk mengontrol urusan disana." Lai Guanlin tersenyum puas menampilkan deretan giginya yang rata.
"baiklah akan saya pertimbangkan. Dan saya akan coba mencari sumber disana mengenai akses dan fasilitas lainnya di Yunani." Jihoon kembali memasukkan kertas-kertas itu kedalam map coklat tadi. Well, taman bunga bukan sesuatu yang sulit untuknya, hanya tinggal melihat bagaimana lokasi dan akses limbah disana. Lagi pula, dia juga belum pernah ke Yunani sekali-kali bekerja sambil liburan tidak ada salahnya kan?
"ini kartu nama saya, kalau Anda sudah putuskan langsung hubungi saya saja" Lai Guanlin menyodorkan kartu namanya dan bangkit dari duduknya. Jihoon ikut berdiri dan sedikit membungkukkan badannya sebelum kembali duduk dan membaca kartu nama itu.
"wah, kau bertemu pria tampan Jihoon-ah. Kalau jadi suamimu cocok kok" sebuah suara mengagetkan Jihoon yang asik dengan pikirannya.
"kau ini menyebalkan sekali. Kenapa tidak angkat telponmu hah? Kalau tidak mau ketemu tidak usah janji!" mendengar pemilik suara yang ternyata sepupunya –Park Woojin membuat Jihoon naik darah kembali. Oh, ia bahkan sempat melupakan kekesalannya pada sepupu kurang ajarnya ini.
"maaf-maaf, tadi Seob-ie minta ditemani belanja. Dan kau tau sendiri kalau dia maniak belanja. 30 menit tak akan cukup" Woojin menjelaskan kemudian dengan lancang meminum Ice Machiato Jihoon.
"hei kau ini! Beli sana! Rugi punya uang banyak!" Jihoon langsung mencak-mencak melihat Woojin meminum minumannya. Sudah membuatnya menunggu, sakarang meminum minumannya.
"kan uangnya ku tabung untuk pernikahanku dengan Seob-ie tersayang" Woojin berkata dengan nada yang membuat Jihoon hampir melemparnya dengan map coklat tebal tadi.
.
.
"jadi kau akan ke Yunani begitu?" Woojin sudah hampir menyemburkan minum pada Jihoon kalau tidak ingat sepupunya ini cukup bar-bar jadi perempuan. Mereka sedang makan siang di tempat berbeda dari kafe tadi.
"Begitulah. Aku sudah bosan di Korea. Proyek di Jeju saja aku harus tetap pulang ke rumah tiap akhir pekan. Sekali-kali aku ingin bekerja sambil liburan Woojin-ah" Jihoon menggulung pastanya sebelum memasukkannya dalam mulut
"kau jangan bilang Seob-ie ya? Bilang saja kau ke Jepang atau ke mana gitu. Jangan ke Yunani pokoknya!" Woojin memberikannya ratapan memohon. Dan Jihoon hanya membalas 'kenapa' lewat tatapan matanya, mulutnya masih sibuk mengunyah
"Seob-ie itu suka sekali dengan mitologi Yunani. Dia akan memaksaku menyusulmu kalau tahu kau bekerja di Yunani" Woojin menjelaskan dan Jihoon hanya menahan tawa. Konyol juga sepupunya.
"sepertinya kau harus menyiapkan uang yang banyak Woojin-ah. Tempatku bekerja nanti adalah proyek Taman Bunga terbesar di Dunia. Dan kau tahu kan, Mitologi Yunani itu erat dengan Bunga" Jihoon sudah memberikan winknya saat mulut Woojin menganga lebar.
"sebaiknya tutup saja mulutmu Park Jihoon!" Woojin memakan potongan steak terakhirnya dan Jihoon hanya tertawa kencang.
"baik-baik, aku tidak akan bilang soal Yunani kepada Seob-ie tersayangmu" Jihoon masih bicara dengan tawa yang sesekali terselip.
"sudah tertawanya? Ayo kuantar pulang" Woojin sudah bangkit duluan. Dan Jihoon mengambil tas yang tadi tergeletak bersama map coklatnya.
"tapi mampir ke toko bunga dulu ya Woojin-ah" sela Jihoon yang masih sibuk mengecek ponselnya. Woojin hanya berdeham kepada pelayan yang membukakan pintu untuk mereka.
"memang kau mau beli bunga untuk siapa?" Woojin bertanya saat Jihoon mengenakan sabuk pengamannya
"untukku sendiri. Memang untuk siapa lagi?" Jihoon menjawab masih sibuk dengan ponselnya. Mengalihkan Woojin yang tampak menghela napas prihatin.
"kau masih belum melupakannya?" Woojin kembali bersuara saat lampu lalu lintas berwarna merah. Jihoon yang mengerti maksud Woojin hanya menghela napasnya. Woojin tahu semua tentangnya dan peristiwa pahit hidupnya. Terkadang Jihoon sampai heran dan curiga, jangan-jangan mereka ini bukan sepupu melainkan saudara kembar.
"sudah. Kalau aku tidak melupakannya, mengapa aku hidup begitu baik?" Jihoon menampilkan senyumnya yang manis. Tapi bagi Woojin itu hanya senyum penuh luka. Kalau melihat Jihoon begini, rasanya Woojin ingin sekali menghajar bajingan itu sampai tewas.
"aku mencoba mengerti dirimu Jihoon, rasa cinta itu rahasia hati. Kau mungkin bisa mengatakan baik-baik saja, tapi kalau hatimu remuk siapa yang tahu?" Jihoon ingin menangis rasanya. Woojin ini kadang-kadang suka menyentuh hal-hal yang tidak dapat diungkapkan oleh Jihoon. Bahkan Oppa dan orang tuanya tidak sepengertian ini.
"Apa kau mau beli Lavender untuk mengusir nyamuk lagi?" Woojin kembali bersuara memecah hening dan Jihoon dengan cepat menggeleng
"Aku mau beli Mawar Kuning" Jihoon menjawab pelan
"Sepertinya Mawar Kuning cocok untukmu" Woojin kembali tersenyum "setidaknya kalian sama-sama ceria" lanjutnya lagi. Jihoon hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Woojin hanya tidak tahu bahwa arti Mawar Kuning tidak secerah warnanya
Mawar Kuning – Awal baru, ketidaksetiaan/perselingkuhan, cemburu, permintaan maaf dan patah hati
Jihoon memejamkan kedua kelopaknya. Sebuah notifikasi di ponsel Jihoon tadi kembali mengingatkannya. Hari ini tepat dua tahun Jihoon meninggalkannya. Membekaskan kenangan dan luka mendalam.
~One Week Before Kang Bear's Wedding Party~
.
.
.
Toronto, Canada
"Nona Ong sebagai satu-satunya ahli waris berstatus sudah berkeluarga. Dengan demikian, semua aset harta benda, baik perusahaan, villa dan hotel serta benda-benda berharga peninggalan Tuan Ong juga akan menjadi tanggung jawab dan kepemilikkan dari Tuan Kang Daniel" jelas Pengacara Shin.
Ong Seongwoo dan Kang Daniel hanya diam mendengarkan semua penjelasan Pengacara Shin. Seongwoo menunjukkan senyum sedangkan Daniel masih diam. Mencerna semua dengan baik.
"berarti semua aset Appa akan berpindah tangan ke Daniel begitu kan?" Seongwoo menanyakan maksud dari surat tadi.
"ya Anda benar sekali Nona. Jika kalian tanda tangan maka surat ini sah dan aku tinggal mengurus dokumen alih kepemilikkan" Pengacara Shin tersenyum menatap kedua pasangan di hadapannya.
"baiklah Pengacara Shin. Kami setuju. Dimana kami harus tanda tangan?" Seongwoo dengan semangat menarik duduknya dari bersandar menjadi tegak. Pengacara Shin menempelkan materai dan Seongwoo membubuhkan tanda tangannya di ikuti Daniel.
"Aku akan kirimkan berkas aslinya setelah di salin" Pengacara Shin tersenyum lebar setelah Daniel selesai menandatangi semua dokumen pentingnya.
"Dan untuk surat perceraian, seperti peraturan yang berlaku. Kalian baru bisa bercerai setelah Kang Woojin lahir dan minimal berumur 15 bulan. Jadi sepertinya tidak perlu membahasnya sekarang bagaimana?" Pengacara Shin menatap dua orang dihadapannya bergantian. Daniel terlihat berpikir dan Seongwoo reflek mengelus perutnya
"tidak bisa di undur jadi 24 bulan. Maksudku apa kami bisa bercerai setelah setidaknya Woojin berusia 2 tahun?" Seongwoo bertanya namun tidak memandang Pengacara Shin. Daniel tentu saja terkejut dengan permintaan istrinya ini.
"bisa saja. Batas minimal kalian mengajukan perceraian adalah saat Woojin berumur 15 bulan. Jika lebih tidak masalah. Kalian juga bisa membicara hak asuh mulai dari sekarang. Saranku sih lebih baik biarkan Woojin yang memilih, ia akan ikut ayah atau ibunya." Penjelasan Pengacara Shin tadi ditangkap berbeda oleh Kang Daniel
"jadi maksudnya kami baru bisa bercerai kalau Woojin sudah besar dan bisa memilih begitu?" nada Daniel sedikit mengintimidasi.
"itu saran terbaik Tuan Kang, Woojin membutuhkan ayah dan ibunya dimasa tumbuh dan kembangnya. Kalau kalian berpisah setelah ia lahir, hak yang ia dapat tidak selengkap anak kebanyakkan. Ini yang terbaik untuk kalian dan Woojin" intinya adalah Pengacara Shin tidak ingin mereka bercerai.
Daniel sudah mengepalkan tangannya menahan luapan emosi. Seongwoo yang sadar menggenggam tangannya menenangkan. Toh, semua ini kesalahannya. Daniel menjadi korban perasaan terbesarnya.
"ya, kami akan bicarakan berdua dulu Pengacara Shin. Kalau sudah sepakat, kami akan menghubungimu lagi" Seongwoo mengusir Pengacara Shin dengan halus. Ada banyak yang harus ditenangkan. Dirinya, bayinya dan Kang Daniel.
"baiklah. Aku permisi Nona Ong, Tuan Kang" pamit Pengacara Shin dan bangkit pergi.
Daniel mendengus kasar dan segera masuk ke kamar mereka dengan membanting pintu. Emosi yang ia tahan sepertinya tidak sanggup dibendung. Seongwoo hanya meringis melihat kelakuan emosi suaminya.
Bolehkah? Bolehkah ia berharap bahwa perkataan Pengacara Shin tadi yang terbaik? Woojin membutuh mereka sebagai orang tua. Terlebih dirinya. Seongwoo butuh Daniel disisinya.
.
.
Daniel mencoba mengancingkan lengan kemejanya asal. Moodnya sudah rusak karena pagi ini. Pandangannya nanar pada cermin. Rasanya begitu sesak. Begitu berat dan begitu lelah. Dia menghembuskan napas panjang. Mencoba membuang semua bebannya.
Sepasang tangan mengambil alih pekerjaan tangannya yang akan menyimpulkan dasi dilehernya. Daniel sudah akan melepaskannya namun keinginan wanita ini terlalu kuat. Cengkramannya begitu erat.
"aku tahu aku egois Daniel-ah. Maafkan aku" Seongwoo berkata tanpa melihat manik Daniel. Dia hanya fokus pada simpul yang ia buat. Daniel hanya diam mencoba mengontrol semua emosinya.
"kau sudah menemukan Jihoon ya?" Seongwoo bertanya setelah menarik simpul terakhir dan menepuk pundak suaminya. Raut wajah Daniel tegang dan kaku. Seongwoo tahu rupanya
"Kau sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya Nuna" Daniel berbicara dengan nada terendahnya. Seongwoo tersenyum
"tentu saja aku tidak akan menyentuhnya. Kau mencintainya Niel-ah. Aku tidak bodoh untuk dibenci" Seongwoo mengambil jas abu-abu yang tergantung disebelah Daniel. Daniel kembali diam dan mengamati tingkah laku Seongwoo
'–terlebih dibenci orang yang aku cintai' Ingin rasanya Seongwoo mengatakan itu. Namun yang keluar hanyalah "Setidaknya pikirkan Woojin kita. Dia butuh kita berdua Daniel" Seongwoo terdiam setelah mengancingkan jas Daniel.
"dia hanya membutuhkanku sebagai wali. Bukan sebagai ayah." Daniel kembali berbicara. Seongwoo menahan perih yang mengiris hatinya.
"tapi sekarang kau ayahnya Kang Daniel" Seongwoo sama lelahnya. Bukan hanya Daniel yang menderita. Seongwoo juga.
"harusnya kau tidak lupa bahwa kita melakukan ini untuk menutupi kecerobohanmu Nuna" Daniel melepaskan tangan Seongwoo yang masih bertengger didepan dadanya. Cukup kasar untuk seorang Daniel yang perhatian.
"lagi pula, kita juga tidak yakin Woojin benar-benar anakku kan?" setelah mengatakan itu Daniel pergi, meninggalkan Seongwoo yang kembali terisak untuk kesekian kalinya. Menghadirkan memori yang menyakiti keduanya.
.
.
.
To Be Continue
halooo...
saya bawakan chapter berikutnya sebagai bentuk kebahagiaan saya habis nonton Happy Together dan liat moment NielWink macam pengantin baru. suap-suapan, usap-usap bibir, ketawa bareng, pegang2 paha. *oke yang terakhir abaikan*
ada yang sudah mulai bingung? tenang. penasarannya masih boleh dilanjut buat chapter depan hahaha *ketawa jahat*
Seneng deh kemarin ada yang tebak-tebak alurnya, separuh benar separuh mirip /digampar/ *apasih* ayo tebak lagi. siapa tahu kalian benar trus dapet jackpot special chapter wkwkwk
enaknya Jihoon diselingkuhin sama Tiang (PanWink) apa Boneka (DeepWink) ya? ku juga ingin buat Daniel menderita *sumpah jahat sama bias sendiri*
well, terimakasih ya yang sudah sempetin untuk review, fav, follow atau cuma sekedar mampir.
ditunggu respon kalian lagi, soalnya respon kalian bikin aku tambah semangat buat bikin ini kapal berlayar wkwkwk
Last, thanks for reading ^^
Autumn97
