06/06/18 – 09:29 AM

.

.

Michelle tengah menghabiskan waktunya dengan berselancar di pinggir salah satu pulau Seychelles; mengkombinasikan sebuah putaran sederhana dengan lompatan memukau sebelum salah satu pekerjanya memanggil dari kejauhan.

Si keturunan cantik Afrika— dengan sedikit eksistensi darah Eropa; membenarkan bagian bikini dan menyeret papan selancarnya dari mulut pantai, menggenakan topi jerami lebar yang ditinggalkan di atas pasir. Dia menoleh bingung tak kala sang pekerja menyebut soal undangan makan malam— khusus dua porsi di lepas pantai Seychelles yang ditaburi bintang-bintang. Sampai ada suratnya segala. Namun, tanpa nama dan hanya disertai lokasi.

"Siapa yang memberikannya?"

Si pekerja menggeleng, mengatakan itu dari seorang pengirim surat yang datang menyebrang dari Victoria. Michelle tak habis pikir soal siapa pemberi surat kaleng berbahasa Perancis ini. Tapi Michelle menyanggupinya. Siapa tahu itu datang dari seorang yang penting.

Begitu sampai di rumah, Michelle mengganti bikininya. Melirik jam, ternyata sudah waktu yang tepat untuk menikmati matahari terbenam— berhubung dia terlalu lama berada di pantai menghabiskan waktu berselancarnya, dan tak terasa ternyata hari sudah begitu sore. Kalau bukan karena kedatangan surat itu, mungkin dia akan menghabiskan waktunya di pantai lebih lama lagi.

Rambut dikeringkan, Michelle memilih sebuah dress biru sederhana yang biasa dikenakannya pada undangan acara yang tidak terlalu formal. Kalau cuma berdua— Michelle pikir, dia tidak perlu sampai memakai gaun dengan hiasan berat, kan? Dengan begitu, Michelle menata rambutnya dengan dua kuncir kembar di sisi pangkal rambut hitam panjangnya. Lalu memoles wajahnya dengan sentuhan sederhana; terlihat manis namun tetap natural. Begitu sunset selesai, Michelle berlenggang pergi menuju tempat yang dijanjikan.

Gugup? Sudah pasti. Siapakah yang mengirim surat itu? Michelle tidak tahu. Begitu dia sampai di lokasi restoran tepi pantai Seychelles yang tertera di surat dan menolehkan kepala— satu sosok pria mengagetkan Michelle hanya dengan kehadirannya. "Francis!"

Francis sudah duduk di meja yang tersedia untuk dia dan tamu undangannya, memakai setelan hawaii dan kacamata yang menggantung di kerah, menyapanya dengan senyuman lembut ketika si wanita berhasil sampai di dekat meja pertemuan mereka. Astaga. Michelle tak tahu harus pasang ekspresi yang seperti apa. Francis— dia sudah lama tidak menemuinya.

"Ma ami," Francis terkekeh, para pelayan mulai mengantar makanan mereka dan matahari sudah sepenuhnya terbenam tergantikan malam; "Tidakkah kau sadar bahwa yang mengirim surat itu adalah aku?"

Bahasa Perancis. Ah. Michelle baru menyadarinya sekarang.

Gadis itu menggeleng sembari tersenyum sumringah, lalu duduk di kursi bagiannya. Lebih tidak menyangka kepada kedatangan Francis yang tiba-tiba, namun sebenarnya bingung kenapa Francis mengundangnya makan malam tanpa pemberitahuan apa-apa. Kejutan? Bisa jadi. Restoran ini selalu penuh ketika malam. Mereka adalah salah satu 'pasangan' yang menikmati pemandangan bintang di restoran pinggir pantai yang tidak terhalang apa-apa, berbeda dengan kota yang selama ini Francis tinggali. Satu buah lilin sebagai penerangan di tengah-tengah mereka. Michelle sudah berekspresi malu-malu ketika Francis memintanya untuk memakan hidangan yang dikatakan khusus untuknya.

"… ini begitu tiba-tiba." Michelle mulai menyentuh piringnya, memotong hidangan daging tuna kesukaan. Francis sendiri tidak menyentuh makanannya; malah tersenyum-senyum menanggapinya. Tangannya meraih sampanye yang sudah tertuang di dalam gelas.

"Aku mentraktirmu. Kau lupa hari ini hari apa?"

"Oui?" Gadis itu mengeluarkan aksen Perancisnya yang tidak pernah berubah. Hasil didikan di bawah Perancis selama 44 tahun sebelum Inggris mengambil alih pulau-pulau dan negaranya. Dengan gelengan menggemaskan itu, Francis tidak tahan untuk tidak mengacak-acak rambutnya.

"Joyeux anniversaire, Seychellesku sayang."

Lilin bukan menjadi satu-satunya penerangan di malam itu, penglihatan mereka yang didominasi gelap juga dibantu dengan cahaya bulan yang terang mempesona. Tapi masih kalah mempesona dengan perlakuan Francis yang berangsur-angsur membuat wajah Michelle bersemu dan memanas.


Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya

Challenge by SeiYoshi

.

File02 : Treat

[ Francis Bonnefoy x Michelle Laroche ]

France*Seychelles, Rated : T