Diclaimer : I Own Nothing

FATE BLAZE

Rama x Oc

Adventure, Misteri, Shounen, Romance, Friendship, Action, Hurt/Comfort.

Rating K-M

Series

A/N : Cerita ini author buat hanya sekedar iseng, mengisi waktu luang.

Warning : Typo, OOC

Chapter I

-Resurrection-

"Anu...Aku sangat suka padamu sejak aku m-mengenalmu...M-maukah kau -..." Belum selesai dengan ucapannya, seorang pemuda menyela ucapan sang gadis. "Maaf aku tidak tertarik dengan gadis culun."

Bagaikan tersambar kilatan petir, gadis itu sangat shock dengan ucapan pria yang ditaksirnya tak lain adalah teman kecilnya. Dulu teman kecilnya tidak mempermasalahkan dengan penampilannya namun ketika sang gadis itu ingin mengungkapkan perasaannya yang telah ia pendam selama gadis telah lama mengenal pria itu semenjak duduk di bangku smp serta rumah mereka pun berdampingan dan seiring waktu, gadis itu jatuh cinta kepada pria itu. Menurutnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya sebelum teman kecilnya itu ditembak oleh gadis lain. Namun, rumor tersebut memang terbukti, dimana rumor itu mengatakan bahwa Ryu hanya menyukai gadis yang cantik dan modis. Gadis bernama Akashi Aya sangat jauh dari kriteria tipe cewek idaman teman kecilnya.

"Aku lebih tertarik kita sebagai teman daripada pacar. Kamu masih jauh dari kriteriaku."

"..."

"Maaf aku ada urusan. Bye..."

Sang pria beranjak meninggalkan Aya sendirian, tertunduk sedih, kedua tangannya mengepal dengan kuat, ingin menangis keras namun Aya tahu bahwa ia masih di lingkungan sekolah. Kecewa, sedih, marah dan perih bercampuraduk menjadi satu dalam hati Aya. Buliran air mata berusaha keluar dari kedua matanya namun ditahan sekuat mungkin agar tidak kelihatan oleh siswa lainnya. Pupus sudah impian Aya memenangkan hati sahabat kecilnya, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana apabila mereka bertemu terlebih lagi rumah mereka berdekatan. Tak mau tinggal terlalu lama di sekolah, Aya pun memutuskan untuk beranjak pergi...pergi jauh hanya untuk hari ini, berusaha melupakan semuanya. Aya berbalik dan mengambil langkah secepatnya, meninggalkan lingkungan sekolah. Hiraukan semua, Aya hanya fokus pada satu tujuan yakni mencari tempat sepi untuk melampiaskan kesedihan atas penolakan cintanya.

BRRUKK!

"Auw...That's hurt," nyeri seseorang.

"Maaf..." Aya meminta maaf kemudian pergi bergitu saja tanpa melihat sosok orang yang ditabraknya. Sosok tersebut menatap Aya yang semakin menjauh dan kemudian menghilang dari keramaian.

"Are you okay,Sir?"

"Yes, I'm okay. Let's go," perintah sosok pemuda berambut pirang emas dan bermatakan batu emerald yang indah, kemudian pemuda itu mengambil posisi duduk dalam mobil mewah. Sang supir langsung menancap gas pergi meninggalkan sekolah majikannya.

"Bagaimana dengan hari pertama anda di sekolah, tuan?" tanya sang supir sembari fokus dalam mengendalikan stir motir.

"Nothing special," jawab singkat pemuda itu, dingin dan bosan.

Sang supir terdiam dan tersenyum, "Hari pertama memang selalu begitu, tuan. Besok dan lusa pasti akan menjadi hari yang menyenangkan. Percayalah."

"I hope so," Lagi-lagi pemuda itu menjawabnya dengan dingin, namun sang supir membalas perkataan tuan mudanya dengan tenang seakan sudah terbiasa dengan sifat tuannya. Maklum sang supir telah mengabdikan dirinya pada keluarga majikan sudah lebih dari 60 tahun dan kini usianya mencapai 67 tahun.

"Hah...Seperti biasa kau sangat membosankan, master." Suara misterius muncul secara tiba tiba dari sebelah pemuda itu. Butiran cahaya emas mulai bermunculan bersamaan dengan munculnya suara misterius itu. Semula butiran cahaya emas terlihat seperti serpihan serbuk emas kini memperlihatkan sesosok pria dengan pakaian yang terbilang unik untuk dipakai di masa depan, duduk di sebelah pemuda berambut emas itu. " Master, wajahmu sangat tampan. Setidaknya gunakanlah ketampananmu untuk memikat banyak wanita. Aku yakin harimu sangat menyenangkan apabila dikelilingi banyak wanita."

"Jangan samakan aku denganmu, Rider," jawaban sinis dari pemuda itu.

"Hmph...Membosankan. Kenapa diriku harus terikat dan melayani seorang master yang membosankan sepertimu," gerutu Rider sembari mencodongkan bibirnya.

"Itu kalimatku,Rider."

Kemudian Rider tersenyum sinis, "Sebentar lagi, Master."

"Hn."

"Seven Master dan Seven Servant akan bertemu dan bertarung."

"Hn. Kalah tidak ada dalam kamusku, Rider," ucap sinis pemuda pirang itu.

"Percayakan padaku, Master. Dewi fortuna selalu berpihak padaku. Kita yang akan memenangkan Holy grail," percaya diri Rider akan kemenangan yang berpihak padanya.

Kembali pada Aya,

Air mata tidak henti – hentinya keluar dari kedua mata Aya, dia merasa menyesal telah mengungkapkan perasaannya kepada Ryu, sahabat kecilnya. Tapi dalam hati kecilnya, ingin sekali mendapatkan perhatian lebih dari teman. Namun ada rasa sedikit kegundahan dalam hatinya yang mengatakan bahwa dirinya tidak mungkin mendapatkan cinta dari Ryu. Suatu hari, Aya ingin memantapkan hatinya untuk menembak Ryu dan hari ini, Aya berakhir dengan patah hati. Aya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana apabila bertemu dengan Ryu terlebih lagi rumah mereka bersebelahan. Sakit...

"Aya, bisakah kamu bantu ibu sebentar?"

Tidak ada jawaban dari Aya. Sepulang dari sekolah, Aya langsung menutupi wajahnya dengan bantal, tak ingin siapapun lihatnya wajahnya yang jelek karena sembab. Aya tidak ingin diganggu oleh siapapun meski itu oleh ibunya sendiri, gadis itu berusaha menghiraukan ucapan ibunya.

"AYA!" bentak ibu aya, kesal terhadap putrinya yang sama sekali tidak menjawab.

Aya menghapus tetesan air mata yang terus menerus mengalir kemudian dia terbangun duduk di kasur dan menampar kedua pipinya begitu keras," Aya kamu tidak boleh bersedih terus menerus seperti ini!...Ryo" Aya termenung sedih jika mengingat nama teman kecilnya yang telah membuatnya patah hati.

"AYA!" bentak ibunya kedua kalinya, suara kali ini jauh lebih nyaring.

"Iya!"

Mau tidak mau, Aya beranjak turun dari kasur dan menuju tempat ibunya berada.

"Apa?" tanya Aya dengan suara serak tipis.

"Daritadi ibu memanggilmu, kamu tidak menjawabnya. Kamu lagi apa?"

"Maaf. Aku tertidur, ibu."

'Dasar kamu. Bisakah kamu mencarikan mesin penghangat ruangan di loteng? Hari ini mulai memasuki musim dingin."

"Hn. Aku akan mencarinya."

Aya langsung bergegas menaiki anak tangga menuju loteng rumah, bisa dikatakan gudang penyimpanan barang yang tidak diperlukan. Sesampainya di loteng, Aya mulai mencari mesin penghangat ruangan di antara tumpukan kardus. Satu persatu kardus Aya membuka dengan teliti, seingatnya mesin penghangat itu disimpan oleh ibunya didalam sebuah kardus besar. Loteng rumah Aya terbilang lumayan luas sehingga banyak sekali tumpukan kardus dan perabotan yang tidak diperlukan tersimpan menumpuk memenuhi loteng. Debu dan udara lembab menyelimuti ruangan loteng, Aya membuka lebar jendela loteng untuk memberikan sedikit udara segar.

"Ah dasar ibu...Aku sudah bilang jangan terlalu boros dan sekarang semua menumpuk disini. Kenapa harus aku yang mencari?" Aya menggerutu sembari masih sibuk mencari barang yang dicarinya. "AH! Ini dia. Akhirnya kutemukan tapi ini susah banget diambilnya...Ugh...Ugh." Gadis itu berusaha keras untuk menarik kardus besar yang terhimpit di antara tumpukan kardus besar ditambah dengan berat mesin penghangat ruangan sehingga sangat susah untuk diambil, terlebih lagi energi Aya telah terkuras buat menangisi kejadian tadi siang sepulang sekolah.

BRUKK! GUDBRAK

Dengan kekuatan Aya yang tersisa, gadis itu berhasil mengambil kardus mesin penghangat namun kekacauan besar terjadi setelahnya.

"Acha...Hehehe..." Aya hanya tertawa bingung melihat apa yang telah dilakukannya. Kardus yang semula menumpuk berantakan kini berjatuhan di lantai. " Aku harus membereskannya sebelum ibu marah. Ibu kan menakutkan kalau sudah marah..." Aya mulai merapikan kardus, tiba tiba sebuah benda terbalut kain bewarna coklat kusam terjatuh di dekat gadis itu

BRUK!

"Apa ini?" Aya mengambil benda itu dengan rasa penuh penasaran. Saking penasarannya, Aya membuka perlahan kain tersebut dan terkejut isi di dalamnya. Sebuah pedang panjang berwarna coklat tua dengan desain yang unik. Aya berdecak kagum dengan desain pedang kuno itu dan bertanya-tanya. 'milik sapa ini'?

Dalam balutan kain, terdapat sebuah buku yang terselip di pedang panjang. "Apa ini? Cara memanggil arwah pahlawan... EH?" tanya Aya. Meski merasa takut dengan berbau mistis, aura dalam buku tersebut seakan menarik Aya untuk membacanya. Menelan ludah, Aya membuka buku kemudian membacanya.

"Holy Grail? Servant? Apa itu?" Semakin lama Aya semakin tertarik membaca buku tersebut. Rasa penasaran yang tinggi membuat Aya semakin tersedot dalam buku itu hingga ia melupakan tugas pertamanya. Lembar perlembar, Aya membukanya dengan perlahan kemudian kata demi kata, ia membaca dan menghayatinya dengan serius. Entah apa yang membuat Aya semakin tertarik membacanya.

Dua jam kemudian, Aya selesai membaca kemudian kedua maniknya menatap sebuah pedang kuno yang terletak disampingnya.

"Pedang ini... milik siapa?" Aya bertanya dalam hati. Gadis itu terdiam berpikir dan berpikir keras namun tidak ada cahaya terang untuk memberikannya jawaban. Aya menghela napas pelan, dia menarik pedang kuno itu dari balutan kain sehingga ia menyentuhnya secara langsung. "Ugh..." Tiba – tiba Aya merasakan sesuatu yang nyeri di bagian tangan kanannya, berasa seperti disengat listrik tegangan tinggi. Aya berusaha keras untuk melepaskan tangannya dari pedang yang terus menerus menghisap energi Aya namun energi magis dari pedang kuno itu terlalu kuat. "Hentikannnn!" Aya berteriak kesakitan.

Bersamaan dengan teriakan Aya, pedang kuno itu menjatuhkan diri ke lantai. Gadis berambut hitam legam itu terjatuh lemas setelah dirinya melepaskan diri dari pedang misterius itu dan berusaha menormalkan napas dan detakan jantungnya. "Apa itu?"

"Pedang itu sangat berbahaya. Kenapa sih ayah memungut benda seperti ini?" Aya terduduk ketakutan kemudian bergegas meninggalkan pedang itu yang tergeletak di lantai tanpa dikembalikan seperti semula.

"Ini Pemanas ruangannya, ibu."

"Aya? Kamu tidak apa apa nak? Tadi ibu mendengar suara teriakanmu," Khawatir wanita berusia 38 tahun. " Tanganmu terluka. Biar ibu obati."

"Hehe... tidak perlu, ibu. Ini hanya luka kecil mungkin tadi pas menarik pemanas ruangan," ucap Aya, ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.

"Maafkan ibu, Aya."

"Ibu tidak salah kok. Kenapa meminta maaf seperti itu? Aku harus bergegas tidur...Aku ke kamar dulu,"

"Iya kalau ada apa-apa, tinggal panggil ibu, Aya."

"Hn." Aya meninggalkan wanita yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya seorang diri setelah ditinggal pergi oleh sang ayah untuk selamanya. Sesampainya Aya di kamarnya, gadis itu lekas mengambil kotak pertolongan pertama kemudian duduk diatas kasurnya yang empuk dan mulai mengobati luka di tangannya yang terlihat seperti membentuk sebuah tanda simbol. Aya hanya bisa menghela napas dengan apa yang menimpanya hari ini, cintanya ditolak oleh teman kecil yang sudah disukainya semenjak kecil dan harus berhadapan dengan pedang misterius nan menakutkan.

"Hari ini sungguh melelahkan." Aya langsung ambruk di kasurnya, kedua matanya sangat berat dan tenaganya seakan terkuras habis. Perlahan-lahan gadis itu tertidur lelah.

Kembali pada loteng,

"Sebentar lagi...Sita...Sita..." Terdengar suara misterius menggema menyelimuti suasana loteng yang kembali sunyi dan gelap.


TO BE CONTINUED...

Maafkan aku karena terlalu lama menulis fanficnya. Aku tahu banyak dari kalian menantikan siapa saja para servant yang hadir untuk bertarung dan sapa saja yang menjadi master yang akan menjadi rival Aya dalam memperebutkan Holy Grail kali ini. Karakter OC pure dari Author.

Apabila pembaca menemukan banyak kesalahan tolong dimaklumi. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk II Akan ditulis secepatnya.

Makasih. Jangan lupa koment ya ^ v ^