Caption : BLACK Feather
Author : Wolf88RED17+
Cast :
Byun Baek Hyun
Xi Lu Han
Do Kyung Soo
Huang Zhi Tao
Park Chan Yeol
Kim Jong In (Kai)
and other
Genre : Fantasy, Mystery, School life
Rate : M
#Typo Bertebaran
.
.
.
.
.
.
Setelah ingatannya waktu bersama Baekhyun waktu tiga hari lalu pelajaran olahraga, tugas mereka berdua mengambil bola voli kembali terngiang di otaknya. Dan sekarang ucapan Tao yang mengiang memenuhi sistem kerja otaknya. 'Bahkan Luhan dan Baekhyun tidak ada di kantin..'
"Ohh tidak... Baekhyun dan Luhan! TAO! BAEKHYUN DAN LUHAN. Mereka dalam bahaya" Kyungsoo berubah histeris
.
.
BLACK Feather
Chapter 2
.
.
.
"Kyungsoo! KYUNGSOO! KAU MAU KEMANA?! HEI TUNGGU!" Suara lengkingan Tao memenuhi penjuru kantin. Para murid yang sedang istirahat terganggu akan hal itu, ada yang menatap Tao dengan tatapan kesal ada juga yang menatapnya dengan tatapan bingung.
Tapi Tao tak perduli mereka semua mau memandangnya seperti apa, yang terpenting sekarang dia harus mengejar sahabatnya yang mulai menjauh dari area kantin.
.
.
"Tidak si kacamata itu, si mata bulat, dan si tiang hitam berjalan itu. Selalu membuat polusi telinga. Mereka pikir suara mereka bagus apa?!" yeoja yang sedang duduk dengan temannya, menatap sebal kepergian Kyungsoo dan Tao.
"Biarkan saja mereka, Kristal. Lagi pula mereka tak mengganggu kehidupan kita. Hanya buang buang waktu mengurusi mereka. Dari pada mengurusi mereka lebih baik kau gunakan waktumu untuk belajar, sehabis istirahat kita ada ulangan fisika." yeoja yang sedang diceramahi akibat perkataannya tadi hanya mempautkan bibir tipisnya.
.
-o-o-o-
.
.
"LUHAN! STOP!" teriak Baekhyun dari kejauhan namun suaranya mampu memecahkan kaca jendela kelas, jika disana ada kaca. Karna disana hanya ada lorong yang mengarah kearah tiga lapangan kembar.
Lapangan itu terdapat dibelakang gedung sekolah. Berbeda dengan ruangan indoor seperti ruang kolam renang, ruang musik, dan ruang lapangan basket yang baru dibangun disebelah ruang musik.
Kaki kecilnya dihentakkan ketanah dengan cepat, arahnya yang saling berlawanan menuju namja bermata rusa yang sekarang berdiri terpaku menatap sahabatnya.
"Baek berhenti berteriak, dan stop mengagetkanku. Kau selalu saja menaikan nada suaramu, ini bukan ruang musik." Luhan hanya mampu menggelengkan kepalanya, selalu saja dikagetkan oleh sahabatnya ini. Yaa... jika Luhan masih menganggapnya sebagai sahabat. Berhubung dia anak yang baik dan pemaaf, mungkin kata menganggap akan dihapuskan.
"Hahh.. Kita harus kembali Lu hahh.., tempat ini terlalu berbahaya. Perasaanku tidak enak, kumohon Lu.. Dengarkan aku kali ini saja." napasnya terengah engah akibat berlari mengejar Luhan.
"Baekhyun hilangkan fikiran negatifmu itu, itu hanya perasaanmu saja. Lagi pula tugas kita hanya mengumpulkan bola basket yang jumlahnya tak terlalu banyak. Setelah itu kita akan menaruhnya di gudang ruang lapangan basket. Dan selesai, setelahnya kita bisa kembali kekelas."
"Luhan kau tak mengerti.. ini tak seperti yang kau pikirkan." tanpa sadar kaki Baekhyun terus melangkah mengikuti Luhan yang berjalan masuk memasuki area lapangan basket. Mulut tipisnya tak pernah lelah menyuruh Luhan kembali dan membatalkan acara 'mari cari bola basket terkutuk'. Bahkan rumput ilalang yang hampir meninggi menutupi lapangan tak disadarinya, sudah diinjak oleh sepasang dua kaki namja cantik.
"Lihat. Kau bisa melihat sekelilingmu, Baek. Bahkan sekarang kita sudah didalamnya, dan tidak terjadi apa-apa." Tangan Luhan terbentang sambil melihat sekeliling. Ia mengeluarkan tas jaring yang ia lipat dan disimpan dalam kantung sakunya. Tangannya sekarang sibuk membentangkan tas jaring untuk mengisi bola basket yang berserakan. Yang tiap tas jaring mampu mengisi tiga bola basket.
Mata rusanya mulai mencari bola basket dan memasukkannya kedalam tas jaring. Baekhyun hanya terpaku melihat tingkah Luhan memasukkan bola demi bola kedalam tas jaring.
"Baekhyun, kenapa kau malah melihatku. Seharusnya kau membantuku. Bola basket itu tak mungkin masuk sendiri kedalam tas jaringmu bukan?" tak ada tanggapan dari Baekhyun, ia malah berhenti menatap Luhan dan berganti melihat tas jaring miliknya. Wajahnya sulit diartikan.
"Baek! Baekhyun! Kau tak sedang melamunkan? Aku benar benar butuh bantuanmu, makannya aku memanggilmu. Kita bisa telat mengikuti pelajaran berikutnya, jika kau tak membantuku. Tadinya aku ingin mengajak Kyungsoo, tapi ia sedang membatu Cho songsaem bersama Tao diperpustakaan." Kali ini Luhan menatap Baekhyun dengan tatapan puppy eyes nya.
Mendengar suara keputus asaan Luhan, dan jangan lupa mata terkutuknya itu. Ingatkan dia untuk pemplester kedua mata rusa Luhan. Menyesal ia menoleh ke arah Luhan. Ia jadi tak tega sendiri. Masa ia berbuat sekejam ini pada sahabatnya. Sungguh sangat tidak keprisahabatan dong. Baekhyun paling benci di cap seperti itu.
Padahal niatnya ia akan pergi sendiri dari tempat ini, jika Luhan tak mau mengikutinya. Kali ini ia harus mengurungkan niatnya, dan membuang egonya. Wajah yang sejak tadi ia tundukkan kini ia tegakkan dan memandang Luhan yang letaknya tak begitu jauh darinya.
"Hahh.., baiklah... Aku akan membantumu." Terdengar helaan napas dari mulut namja berkacamata itu, sebenarnya Baekhyun kurang yakin dengan jawabannya. Tapi memang dasarnya Luhan itu pemaksa, walau secara tak langsung.
"Kau memang yang terbaik Baek.." Luhan merubah raut wajahnya menjadi senang, dan membalikkan badannya. Ia merubah senyumnya jadi cengiran dengan mata yang terpejam erat. Sebenarnya Luhan ingin ketawa, karna sudah berhasil mengerjai temannya yang selalu berpikiran paranoit ini. 'Baek maaf membohongimu tentang Kyungsoo dan Tao. Mereka hanya tau aku mengajakmu ke lapangan basket karna Kim songsaem, tanpa mengajak mereka berdua. Lumayan untuk terapi paranoitmu itu.' batin Luhan. Sebenarnya ia juga ingin membuktikan omongan teman temannya tentang langan ini, dan terbukti tidak ada apa apa. Berarti itu hanya isu yang dibuat anak anak.
Luhan mulai melanjutkan acara pungut memungut bola laknat, yang sempat tertunda karna iklan sabun dadakan.
"Dasar anak adam bermata rusa ini. Jika bukan karna Suho hyung yang menyuruhku untuk jangan menggangku mereka saat dalam misi, sudah pasti lari terbirit birit dia karna ku kerjai. Asal kau tau, itu bukan hanya isu biasa. Itu kenyataan. Dan kalian akan tau akibatnya nanti. Sekarang bukan saatnya." Mata biru elangnya menatap si mata rusa itu dengan wajah datar dan mata yang menyiratkan arti didalamnya.
.
.
Kedua kaki Baekhyun, ia coba langkahkan kesudut lain mencari bola basket yang banyak berserakan dimana mana. Bohong jika bola basket ini sedikit. Melihatnya saja, tak yakin bisa selesai dalam sepuluh menit. Belum lagi jarak lapangan ini yang jauh dari gedung sekolah dan ruangan indoor yang berada disamping gedung.
Untung tadi ia menyimpan tas jaring cadangan disaku celananya. Matanya sesekali melihat kearah Luhan, memastikan jaraknya dan Luhan terjangkau. Maksudnya tidak terlalu jauh, begitu.. mencegah lebih baik bukan?^^
Siapa tau nanti terjadi sesuatu, dia jadi tak perlu susah susah menguras tenaga terlalu banyak karna berlari kearah Luhan. Karna lapangan basket ini terbilang cukup luas. Sangat lumayan untuk menguras tenaga dan lemak yang tertimbun.
Jari lentiknya mulai memunguti bola basket. Dan memasukkan bola ke tas jaringnya. Baekhyun tak henti hentinya membetulkan letak kacamata yang merosot melalui hidung.
Salahkan bolanya yang berada dibawah, jadi ia harus berjongkok dan menunduk, lalu memasukkan bola itu kedalam tas jaring satunya. Karna yang satu lagi sudah penuh dengan bola yang ia ambil.
"Memungut bola saja bisa menguras tenaga, apa lagi yang lebih berat dari ini. Fiuuhh.. bahkan keringatku saling berlomba untuk keluar.." gumannya, bajunya sudah mulai masah karna keringat, tangan nya juga sibuk memungut bola, membenarkan letak kacamatanya, dan harus mengelap keringat pula. 'Lengkap sudah penderitaanku' batin Baekhyun
'Belum, bahkan ini belum dimulai.. Nikmatilah waktumu sebaik mungkin.' Senyum liciknya mengembang, begitu mengerikan. Tapi tidak sedikitpun menghilangkan kadar ketampanannya.
.
.
"Baek kau sudah selesai?" tanya Luhan namun tak mendapat respon dari Baekhyun. Ia pun berbalik dan melihat sahabatnya yang terlihat bingung, kedua mata Baekhyun tak henti henti melihat sekitar dan berganti ke arah bola basket yang ada di tas jaring, dan begitu seterusnya.
Hanya helaan napas yang terdengar, ia langkahkan kaki kecilnya mendekati Baekhyun sambil membawa dua tas jaring yang sudah terisi penuh. Luhan menepuk pelan pundak Baekhyun lalu bertanya kembali.
"Baek, kau baik baik saja? apa kau sudah selesai mengambil bola basketnya?" yang dipanggilpun menoleh masih dengan tatapan bingung.
"Aku baik, Lu. Sepertinya sudah selesai, melihat tak ada lagi bola basket yang berserakan.. aku rasa... sudah selesai. Hanya saja.. aku bingung. Kim songsaem bilang bolanya berjumlah 12, seharusnya ada bola satu lagi, jika terhitung dari dua tas jaring milikmu yang terisi penuh. Dan seharusnya tas jaring akupun begitu, tapi kenapa salah satu tas jaring ku kurang satu?" Jawab Baekhyun sekaligus membenarkan letak kacamatanya.
"Mungkin terselip disuatu tempat. Apa kau sudah periksa diseluruh tempat, Baek?" mendengar ucapan yang keluar dari Baekhyun, iapun jadi ikut melihat sekitar memastikan bola yang mereka cari ada di area jangkauan.
"Sudah.. tapi seperti yang bisa kau lihat, hasilnya nihil. Lalu bagaimana?"
"Sudahlah kita langsung melapor ke Kim songsaem, bilang saja bola basketnya kurang satu. Nanti aku akan membantu menjelaskan. Kita harus cepat kembali, jika tak ingin ketinggalan pelajaran."
"Lalu bagaimana dengan bolanya? Apa kita serahkan langsung ke Kim songsaem?" tas jaring Baekhyun yang berada dikedua tangannya, ia angkat dan menatap bola yang ia kumpulkan dan berakhir menatap Luhan.
"Jangan, sebelum kembali kekelas kita taruh di gudang ruang lapangan bola basket terlebih dahulu."
"Baiklah, tunggu sebentar Lu, aku ikat dulu tas jaringku.."
Akhirnya mereka berduapun berjalan beriringan menuju ruang guru. Dan meninggalkan sesuatu disana, lebih tepatnya disamping ring basket.
Tubuh tegap nan tinggi, garis wajah yang menggambarkan ketampanan, kulit putih pucat tanpa cacat sedikitpun. Bak porselin mahal.
Tubuh tingginya ia biarkan menyender pada tiang ring, mata elangnya tak pernah lepas dari dua manusia yang baru meninggalkan lapangan basket. Siapapun tak akan menyadarinya, jika kekuatannya belum lepas.
Kekuatannya adalah membuat siapapun tak menyadari keberadaan sosoknya dimanapun bahkan mahkluk sebangsanya dan membaca pikiran lawan. Benar benar kekuatan yang hebat bukan, dan yang pasti sangat menguntungkan diwaktu waktu tertentu. Lebih tepatnya seperti sekarang ini.
"Apa mungkin mereka korban yang dimaksud Suho hyung. Kalo memang benar, terlalu sulit menangkap yang satu itu. Anak adam berkacamata itu.. seperti ada benteng yang melindungi sebagian tubuhnya. Kepekaannya terlalu bahaya. Sebaiknya aku harus memberi tau Suho hyung sekarang. Lebih cepat, lebih baik." Sosok itu menghilang bagaikan hembusan angin, kepergiannya diiringi suara burung gagak dan kepakan sayap burung yang saling mengepak satu sama lain.
.
-o-o-o-
.
.
"HYUNG, TANGKAP INI!" suara namja menggema di ruang lapangan basket, bola basket itu tak meleset satupun dari tangan sang ahli.
HAPP!
"Tangkapan yang bagus hyung.." ucapnya lagi
Bola basket itu memantul dilantai kayu, lalu melambung diudara dan masuk dengan sempurna di ring. Bola basket itu dibiarkan terjatuh dan memantul kelantai kayu yang mereka pijaki, dan berguling kesudut lapangan.
Namja tinggi berambut coklat yang dinaikan sedikit di bagian poni rambut, melihatkan bertapa tegas jidat nya. Yang membuatnya terlihat berkali lipat jauh tampan dan terlihat fress.
Salah satu tangan kekarnya ia topang kelutut. Badannya terlihat membungkuk, tangan yang satu lagi sibuk mengelap keringat yang membasahi area wajahnya. Napasnya terengah, mencoba mencari pasokan udara yang sempat terbuang.
"Kai, kenapa kau mengajakku bermain bola basket disini? Tidak seperti biasanya.." tanya namja tinggi yang tadi memasukkan bola basket dengan indah kedalam ring, tanpa merubah posisi tubuhnya yang sedang menunduk.
Namja berkulit tan yang dipanggil Kai itu, belum merespon ucapan namja berambut coklat itu. Kakinya ia langkahkan ke salah satu kursi penonton dan duduk disana, sambil menyirkirkan jubah hitam yang ia kenakan.
"Aku bosan, tidak ada suasana baru. Aku ingin yang berbeda. Makannya aku mengajakmu bermain disini Chanyeol hyung. Lagi pula disini lebih sejuk ketimbang lapangan gersang itu. Rumput disana menghalangi permainan indahku.." Kai bicara sekenanya, dia terlalu lelah, dua jam ia habiskan waktu hanya untuk bermain basket dengan namja tinggi berambut coklat, sebut saja Chanyeol. Dan ajakan itu direspon baik dengan hyungnya, Chanyeol. Kadang Chanyeol setuju dengan ucapan Kai, ia juga bosan kalo terus bermain disana. Lagi pula disini lebih rapi, bersih dan terawat. Siapapun pasti berpikir untuk kedua kalinya.
Kedua tangan Kai, ia rentangkan dan kepalanya ia hadapkan keatas, sambil memejamkan kedua mata coklatnya. Menikmati hembusan angin yang masuk dari jendela ventilasi besar yang berada di atas mengililingi area ruang lapangan basket ini. Hembusan angin menerbangkan helai demi helai anak rambut berwarna silver yang sengaja tak tertata rapi (rambutnya jaman overdose). Terlihat seperti iblis yang kejam namun sebutan itu tak cocok untuknya, sipatnya lebih kekanak kanakan dan jahil terhadap siapapun.
Sama seperti pasangan jailnya yang bermata biru. Ada saja yang mereka jahili, tidak manusia saja bahkan hyung hyungnya juga menjadi sasaran empuk kejahilan mereka. Sehari tidak bisa tanpa melakukan ritual dua anak itu, apa lagi mencari kesenangan. Bukan yang iya iya ya.. maksudnya mengerjai manusia..
'Ini menenangkan..' ucapnya dalam hati. Senyum indahnya terlukis diwajahnya yang tenang. Ingat! Itu untuk saat ini.
Chanyeol menegakkan badan lalu merenggangkan otot ototnya sedikit. Kaki jenjangnya ia langkahkan menuju Kai. Hembusan angin menerbangkan jubah hitam yang melekat dipakaian serba hitam yang ia kenakan.
Jubah itu dibuat dari bahan kusus untuk menjaga kestabilan kekuatannya, makannya jubah ini selalu dikenakan oleh bangsanya. Tebalnya hanya satu cm, terlalu ringan untuk mereka kenakan, namun tak terlalu tipis. Panjangnya saja hanya sampai selutut. Memudahkan mereka untuk melakukan sesuatu.
Jika mereka mau jubah itu bisa berubah menjadi sepasang sayap besar dengan bulu biru gelap pekat yang hampir mendekati warna hitam yang mengkilat jika terkena paparan cahaya matahari. Terlalu indah, bahkan jika dilihat oleh orang awam seperti manusia sekalipun.
"Kau mengikuti rapat minggu kemarin?" Chanyeol memulai percakapan, ia ikut duduk di kursi sebelah Kai. Kai pun menegakkan badannya, ia menarik kedua tangannya yang sempat ia rentangkan dan menoleh kearah Chanyeol.
"Tidak, aku ada tugas waktu itu. Memangnya kenapa hyung? Apa ada sesuatu yang menyangkut tentang ku?" pertanyaan Kai hanya ditanggapi helaan napas dari Chanyeol.
"Walau kami tak membahas tentangmu, namun kau menyangkut didalamnya."Jawab Chanyeol sekenanya
"Benarkah? Aku juga masuk dalam pembahasan? Setenar itu kah aku.. Wahh.."
"Berhenti bercanda Kai, aku serius" Chanyeol benar benar jengah dengan dongsaengnya yang satu ini.
"Ohh baiklah, kau memang tak asik hyung." Kedua tangannya ia lipat silang tepat didepan dadanya.
"Hahh, Kai saat ini tak ada waktu untuk bercanda. Suho hyung menyuruh kau dan aku mencari korban selanjutnya. Bulan purnama dipastikan akan muncul dua hari lagi. Jadi-" ucapan Chanyeol terpotong karena teriakan dari Kai yang terlalu berlebihan merespon ucapan Chanyeol.
"APA?! DUA HARI LAGI? TAPI KENAPA AKU?! Dan kenapa harus aku?! Aku kan sudah menjalankan misi waktu itu.. Kenapa tidak si cadel itu Saja. Yang jelas jelas saja dia ada dalam rapat berlangsung. Lagi pula inikan tugasnya Chanyeol hyung dan Kris hyung. Kenapa aku dibawa bawa lagi dalam misi." Kai benar benar tak terima keputusan yang disepakati oleh yang lain tanpa meminta persetujuan darinya.
"Dengar Kai, Kris ada misi yang sangat mendadak yang membuatnya tak bisa ikut misi ini. mau tak mau kau ikut dalam misiku." Jelas Chanyeol mencoba sabar, kalo dia terbawa suasana yang diakibatkan Kai. Ia tak tau lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin lapangan indor basket ini akan hangus terbakar, begitupun ruang musik dan ruang kolam renang yang berada paling ujung dari sisi kiri gedung sekolah.
"Lalu si cadel albino itu kemana? Kenapa bukan dia saja? menyebalkan!" Kai masih belum terima dia ikut ambil alih misi, padahal jadwal seminggu ini benar benar kosong. Karna jadwal dua minggu lalu adalah misi tugas terakhirnya dibulan ini, kenapa ia harus dapat misi lagi.
"Dia sedang menyelidiki sesuatu. Dari tiga hari yang lalu ia mendapat misi dadakan dari Suho hyung. Karena ada yang mengetahui misi kita. Walau kemungkinan kecil mereka mengerti apa maksud dari pembicaraan yang sempat mereka dengar."
"Misi dadakan? Maksud hyung, ada yang mengetahui bahwa kita membutuhkan darah dari korban secepatnya? Apa.. itu anak, adam?" Kai memastikan yang ia pikirkannya benar.
"Bisa dibilang seperti itu, satu anak adam itu terlalu merepotkan. Sehun hanya memastikan rencana kali ini tidak akan gagal, makannya dua hari belakangan ini selalu mengawasi gerak gerik anak adam itu. Anak adam yang satu ini bisa merasakan keberadaan kita.. Ini terlalu berbahaya.."
"Bagaimana bisa anak adam itu mengetahui keberadaan kita? Tapi itu sangat tidak masuk akal.. Kalau Sehun sedang mengawasi berarti keberadaannya akan terbaca dengan mudah oleh anak adam itu. Dan itu akan sia sia." Kai benar benar bingung kali ini, otaknya bahkan tidak bisa membantunya berpikir jernih.
"Dari cerita yang aku dengar dari Sehun. Awalnya mereka tak terlalu perduli, maksudku Suho hyung dan Sehun dengan dua anak adam yang sedang sibuk mencari bola voli itu... Ayolah Kai, aku lelah. Semua ini membuatku malas menceritakannya."
"Hyung kau pelit sekali, kau kan hanya menceritakannya. Lagi pula itu menggunakan mulut hyung, bukan menggerakkan badanmu. Aku tak ingin mati penasaran, hyung." Rengekan Kai menggema diarea telinganya. Jika terus seperti ini bisa mengganggu sistem syaraf kerja otaknya.
Sebenarnya sihh Chanyeol juga tak terlalu mengerti cerita yang dijelaskan oleh Sehun. Kenapa Chanyeol tak pernah kepikiran tentang melewati waktu. Biar lebih jelas tentang kejadian yang sebenarnya. Tangan kekar Chanyeol menggenggam lengan Kai. Dan kalian tau apa yang terjadi. Mereka tidak ada ditempat yang mereka duduki tadi. Tidak. Mereka tidak terbang seperti yang biasa mereka lakukan, kali ini berbeda.
"Putaran waktu? Aku selalu suka kekuatanmu hyung.." Senyum khas Kai yang ia tunjukan ke Chanyeol. Dia memang mengagumi kekuatan hyungnya ini, sayangnya bukan itu kekuatannya.
"Ya, aku tau. Kau sudah mengatakannya berkali kali, dan aku sudah hapal akan kalimat itu." Chanyeol bosan, pasti kalimat itu yang sesalu Kai lontarkan ketika Chanyeol menggunakan kekuatannya yang satu ini didepan Kai.
Sebenarnya ia bukan pamer, tapi memang karena ini efek lelah bermain basket selama dua jam non stop. Dan salahkan saja namja disebelahnya ini yang mengajaknya, dan dengan bodohnya ia mengiyakan nya begitu saja.
"Salahkan kekuatanmu yang terlalu keren dimataku hyung.."
"Berhenti membahas itu Kai. Lihat di arah bangku penonton bukankah itu Kris hyung.." tunjuk Chanyeol saat matanya tak sengaja melihat sosok namja tinggi berambut pirang tengah duduk di salah satu bangku penonton ruang lapangan basket. Mata elangnya menatap kearah lain dan tangannya sibuk memainkan ranting pohon yang sengaja ia buang daunnya, dan mengotori lantai kayu ruangan itu.
"Chanyeol hyung, sepertinya Kris hyung melihat kemari." mata Kai tak percaya hyungnya, Kris menyadari keberadaan mereka. 'Sehebat itukah kekuatan mu hyung, wahh..' pikir Kai.
Sudah cukup kekuatan Chanyeol hyung yang ia kagumi, jangan sampai kekuatan Kris hyung juga.
"Aku rasa bukan melihat kekita, melainkan kearah mereka.." Chanyeol baru menyadari Kris hyung tidak sendiri disini. Ia melihat satu anak adam yang menunggu temannya yang baru masuk ruangan indor ini. Matanya tak henti menatap kedua anak adam yang sekarang sedang berdialog.
Kai mengikuti arah pandang Chanyeol, dan matanya menangkap dua anak adam dengan wajah yang tak pantas disandingkan dengan gelar sebagai namja. Sangat meragukan. Wajahnya terlalu cantik dan imut disaat bersamaan walau yang satu lagi matanya terbinngkai kacamata, tapi tak menutupi kecantikannya.
"Apakah mereka namja? Aku rasa mereka berdua salah memakai seragam sekolah.."
"Jauhkan pikiran tak bergunamu Kai, simak dan perhatikan mereka.." Chanyeol sibuk merhatikan keadaan sekitar tanpa memperdulikan Kai yang mencibirnya.
"Ck, begitu saja dibawa serius. Akukan hanya bertanya, dasar hyung menye-" gumanan Kai terpotong karna ucapan Chanyeol.
"Aku merasa ada yang aneh disini." Ada yang mengganjal pikirannya sedari tadi. Chanyeol sekali lagi melihat keadaan sekitar dan melihat jam yang ia kenakan.
"Aneh bagaimana, hyung?"
"Sudah kuduga, jam ku menunjukkan angka setengah dua belas. Lagi pula Kris hyung tak ada didalam cerita yang di jelaskan Sehun. Kai, kita salah waktu."
"Salah waktu? Tak seperti biasa hyung salah mengendalikan waktu."
"Entahlah, munkin efek lelah. Kita harus kembali, Kai. Dan mengatur waktu ulang." Chanyeol sudah bersiap, tangan kirinya akan menggenggam Kai. Tapi yang ia gapai hanya angin. 'Hanya angin!' pikirnya bingung. Ia menoleh kesamping tempatnya diposisi Kai berdiri tadi. Dan kosong.
Mata abu abunya melihat sekeliling, dan ia menemukan sosok tan itu berdiri tepat disebelah namja berkacamata itu yang sekarang sendirian, tanpa teman bermata rusanya.
"Kapan anak itu pergi, padahal tadi dia masih ada di- Ohh, aku lupa. Teleportasi. Dasar anak itu, sesalu seenaknya saja." kakinya baru akan melangkah menuju Kai, namun ia hanya terpaku ditempat karna suara yang sudah ia hafal berucap.
"Dua anak adam..." walau terdengar lirih, namun lapangan ini sedang sunyi. Makannya suara sekecil apapun akan terdengar. Iapun menatap asal suara itu, dan benar saja. Itu suara Kris hyung. Lalu matanya bergantian menatap namja berkacamata yang sedang memandang sekitar. Kai hanya mampu terdiam dan menyaksikan semuanya.
Mata sipit namja berkacamata itu sempat terpaku sesaat saat menatap bangku penonton. Mata sipitnya membola, walau tak terlalu berefek pada matanya. Bibirnya bergetar dan wajahnya pucat.
Detik berikutnya namja berkacamata itu berlari menembus Kai dan melewati pintu lapangan indoor basket yang memang sengaja dibuka namja bermata rusa yang sudah meninggalkan namja berkacamata.
"Hyung, kau melihatnya bukan?" tanpa menunggu respon Chanyeol, yang sibuk menatap kepergian namja berkacamata itu. Ia melanjutkan ucapannya lagi.
"Namja itu! Namja itu, bisa melihat Kris hyung. Dan dia juga dapat mendengarnya.. Wahh.. namja macam apa dia?" Kai dibuat geleng geleng kepala melihat kejadian barusan.
"Kita harus kembali Kai."
"Tapi hyung, aku masih mau melihat kelanjutannya."
"Tidak, Kai. Waktu kita tak banyak."
"Baiklah.." terdengar nada kecewa dari namja berkulit tan tersebut. Selanjutnya mereka menghilang dari area tersebut. Dan berputar kewaktu tujuan awal mereka.
.
.
.
.
T embok
B esar
C hanyeol
Sejenis setan atw iblis gitu
Sebenarnya bukan, Chanyeol sama Sehun..
Nasib mereka berdua serahkan sama yang diatas aja, biar lebih afdol^^
Kyungsoo? Kalo itu belom di bahas dichapter ini, ditunggu aja ya..
Udah di lanjut kok.. Maaf lama..
.
Itu Sehun sama Suho
Niatnya gitu..
Itu sebangsa iblis..
.
Kepoin terus ya...
.
.
Ngebingungin ya... emang tujuan awalnya itu..^^
Maaf baru ngepost, silahkan ditunggu chapter berikutnya..
Makasih yang udah ngereview...
.
.
.
.
Review again yaaaaaaaa...
