-Silent World-
*Ch 1*
Story by: Kiriko Alicia
Kamichama Karin belongs to Koge Donbo
Rating: T
Pairing (Main): Hanazono Karin x Kujo Kazune
Genre:Romance, Drama
Warning: Typo(s), all in Normal PoV
Summary: —karena apa daya, hatinya telah membeku sempurna.
Sambil membawa tas coklat yang berisikan buku pelajaran, Karin memosisikan dirinya untuk berdiri tegak dan melangkah dengan angkuh menuju kelasnya.
Raut wajahnya kini tampak begitu dingin hingga warga sekolah mulai takut akan dirinya dan mempertanyakan perubahan drastis yang terjadi.
Contohnya adalah mantan sahabat Karin, yang akan selalu melarikan diri saat gadis itu berjalan menuju dirinya—hanya sekedar berlalu.
Membuat Karin sedih jauh di lubuk hati, namun juga tak dapat menyangkal fakta bahwa kini ia tak dapat kembali menjadi Karin yang dulu.
"Apa benar dia Karin-chan?"
"He? Hanazono dari kelas 9-C itu? Kau bohong kan? Mereka benar-benar berbeda."
"Sejak kapan Hanazono berubah seperti itu? Seingatku ia masih tampak begitu ceria minggu lalu."
"Aku benar-benar penasaran apa yang terjadi dengan Karin-chan..."
Sayup-sayup terdengar pembicaraan di sepanjang koridor yang dilewatinya mengenai dirinya. Karin tersenyum miris mendengarnya.
Mereka tak tahu.
Mereka tak mengetahui apapun.
Yang mereka ketahui hanyalah, kelurga Hanazono merupakan keluarga seperti keluarga lainnya. Tak memiliki banyak perbedaan dan bahkan tak ada yang memiliki clue mengenai ibunya yang meninggalkannya.
Awalnya Karin tak begitu mempermasalahkannya, toh ayahnya selalu saja ada untuk dirinya. Namun kini? Lihat. Ia meninggalkan dirinya sendirian dan membuatnya putus asa akan masa depan.
"Tou-san, lihat? Ini semua salahmu," gumam Karin dengan wajah kesal sambil mearih kenop pintu kelas dan memutarnya—masuk dan menemukan kelas yang langsung sunyi melihat kehadirannya.
Karin bertanya-tanya dalam hati, namun tak mengatakan apapun dan hanya terus berjalan menuju tempat duduknya di ujung kelas—dekat jendela. Segera, Karin pun meletakkan tas dan merapikan mejanya.
Lalu segera beranjak duduk. Namun melihat sekelas yang terus menatap dirinya dengan pandangan aneh, membuat Karin merasa tidak nyaman.
Ia pun menautkan kedua alisnya—kesal—lalu bertanya dengan sinis. "Apa?"
Beberapa teman sekelas tampak mulai tak menyukai perilakunya dan memutuskan untuk kembali ke aktifitas mereka semula. Sedangkan sisanya tergagap dengan satu kata singkat, padat, jelas yang diucapkan Karin.
Tidak terbiasa, panik, dan terkejut. Itulah yang mereka rasakan. Yah, dapat dikatakan mereka tergagap karena tak menyangka jawaban sedingin itu akan keluar dari mulut gadis berparas manis tersebut.
"U-U-Um... bukan apa-apa!" ucap seorang gadis dengan panik yang sontak diiringi anggukan oleh beberapa temannya. Karin menatap gadis itu tajam beberapa menit. Lalu segera mendesah dan duduk di kursinya dengan manis—melepaskan gadis tersebut.
Dapat dilihat sekarang gadis itu—Rika—menghela nafas lega.
Sekali lagi, Karin pun memutuskan untuk melamun menatap jendela kelas. Entahlah, ia sendiri tak mengerti apa daya tarik jendela tersebut. Tanpa sadar saja telah menjadi hobi baginya.
Karin mengerjapkan kedua matanya berulang kali ketika menatap halaman sekolah yang sama setiap harinya—dengan insan berbeda berlalu lalang.
Sebelum kedua manik matanya menangkap figur seorang lelaki berambut pirang yang duduk di salah satu batang pohon bunga sakura. Karin pun menatap pemuda—yang tak menyadari kehadirannya—dengan heran.
Pemuda itu tampak sedang memainkan sebuah biola dengan begitu hati-hati. Namun karena tertutup kaca jendela, Karin pun tak dapat mendengarkan lantunan musik yang tercipta dari gesekan biola.
Karena rasa ingin tahu mengalahkan kemalasan Karin untuk pergi meninggalkan kursi duduknya, Karin pun segera melangkahkan kaki keluar dari kelas—yang sontak membuat sekelas bertanya-tanya.
Namun tentu saja, tak ada yang berani untuk mengemukakan pertanyaan padanya.
"Ah, sudahlah. Toh masih terdapat lima belas menit sebelum kelas dimulai," batin Karin sambil berjalan angkuh dan memasang wajah dinginnya—membuat beberapa adik kelas bergidik ngeri saat melewatinya.
Beberapa menit kemudian, Karin telah sampai di halaman sekolah. Masih dengan kelopak bunga sakura yang berterbangan ditiup angin dan pohon-pohon yang menjulang tinggi—membuatnya merasa begitu pendek dan terasing.
Namun hal itu hilang seketika saat sebuah lantunan melodi indah masuk dalam indra pendengarannya.
Karin terhenyak dan dengan cepat menelusuri setiap pohon sakura dalam halaman. Hingga ia menemukan seorang pemuda dengan seragam sekolah yang serupa dengannya sedang duduk di atas batang pohon—memainkan biola. Ah, dia adalah pemuda yang ia lihat di kelas.
Karin menghela nafas dan berusaha mencari tempat dimana dirinya tak dapat dilihat oleh sang pemuda, namun dapat melihat pemuda berambut pirang itu memainkan biolanya.
Hingga saat ia menemukannya, ia pun bersembunyi disana—di balik tembok—dan menjamkan pendengarannya.
Ini hanya perasaannya, atau... melodi ini terdengar begitu sedih?
Karin yang kebinggungan pun mengintip untuk melihat raut wajah sang pemain. Walaupun jarak mereka cukup jauh, Karin merasa masih dapat menangkap mimik yang terpasang saat sang pemuda bermain.
Seharusnya, dapat melantunkan sebuah melodi yang begitu indah membuat kepuasan diri pada sang pemain juga membuatnya merasa gembira.
Namun mengapa... raut wajah pemuda itu tampak begitu sedih dan tersiksa?
.
Hai. Kembali ke saya yang baru saja ngelanjutin chap satu. Maaf sekali lagi karena ceritanya begitu pendek. Chap 2 mungkin akan update beberapa hari mendatang atau minggu depan. Ini balasan reviewnya~
-Rin-chan 2930
Iya. Pendek memang... ok ini sudah lanjut, thanks sudah me-review! :'3
-Guest
Ini sudah lanjut, terima kasih banyak telah me-review! :'3
-Hayashi Hana-chan
Belum keliatan sifatnya Kazune tapi sebenarnya dia itu... dingin. Aku ga buat dia OOC kayak Karin. Ngespoil memang, tapi habis ini keluar, nti juga tahu kok #slap
Ini sudah lanjut. Arigatou ne Ira-san sudah me-review! :3
-lthin
Thanks! Maaf membuat anda menunggu lanjutannya! Semoga suka! :'D
-dci
Ok. Ini sudah lanjut, terima kasih banyak telah me-review! :3
-Hanazono Hinami
Ok, ini sudah lanjut... maaf lama. He? Ga akan selama itu deh kayaknya #slap
Arigatou ne sudah me-review! X3
-ismi . azizzah
Iya, soalnya itu baru prolognya... Ini sudah lanjut. Arigatou sudah me-review :)
Terima kasih banyak atas semua yang sudah membaca dan me-review!
Sekian, jaa ne!
~Kiriko Alicia
