Special thanks for:: Yukira Mirabelle;Natsu D. Luffy; And You.
Disclaimer:: Naruto © Masashi Kishimoto ; Family Game © Shino Okimura
Warning:: AU, OOC, M rated for later chapter. Bi-shounen ai. Slash of Naruto x Sakura.
.
Earl Yumi Trancy
mempersembahkan
cerita ini hanya untukmu
.
.
"Cherry Drops"
.
.
"Hey, Sasuke! Sasuke!" sosok anak lelaki yang mencolok dengan warna rambutnya menerjang Sasuke dari belakang.
"Aduh, hei! Hati-hati dong, Dobe! Kalau jariku sampai teriris bagaimana?" Sasuke menjitak kepala Naruto dengan tangannya yang terbalut sarung plastik.
"Haha…kau lama sekali sih memasaknya!" protesnya sambil menarik apron biru yang dipakai kakaknya itu.
"Kau diam saja dan duduk sana." sahut Sasuke sambil menunjuk meja makan dengan pisau yang digenggamnya.
Naruto tertawa kecil, "Hey, Sasuke. Teman-temanmu baik ya!" serunya senang.
"Naruto…Kau tahu, kami sedang ada tugas kelompok. Besok kami juga akan belajar bersa―"
"Besok juga?" Sasuke yang tadinya ingin memaki Naruto karena telah memotong ucapannya mengurungkan niatnya setelah melihat wajah adiknya yang terlampau―amat―sangat bahagia.
"Horeee! Mereka benar-benar akan datang kan? Sakura-chan juga, kan?" terkanya seraya mengetuk-ngetukkan jarinya dengan irama yang teratur di atas meja makan.
Sasuke mengernyitkan dahinya, "Dobe, jangan-jangan kau…"
"Ya?" lagi-lagi Sasuke tak mampu melanjutkan ucapannya, ia sudah terlanjur sweatdrop melihat keceriaan yang terukir di wajah mungil Naruto.
"Jangan ceroboh, Dobe." tutur Sasuke pada akhirnya. Meratap pasrah.
"Ceroboh?" Naruto menggembungkan pipinya tanda tak setuju.
"Mereka datang hanya untuk belajar, sama sepertiku. Kami tidak butuh anak kecil yang hanya akan mengganggu." terangnya datar―seperti biasa.
"Makan ini. Aku akan ke rumah Kakashi-sensei sebentar." Ia menyodorkan sepiring nasi goreng kesukaan Naruto. Dan membalikkan badannya untuk melepas apron-nya. Naruto tak bergeming di tempat duduknya―melipat kedua tangannya dengan angkuh.
Sasuke yang melihat itu tak mengacuhkannya dan berjalan ke arah konter dapur. Naruto semakin kesal diperlakukan demikian. Tersemat simpangan tiga di pelipisnya yang mulus.
Karena merasa tak terima ia bangkit dari kursinya dan memilih mengabaikan perutnya yang sudah berpesta pora―meminta untuk diisi.
Seraya berjalan medekati sosok kakak―yang notabene berwajah rupawan—nya, ia meremat garmen yang dikenakan Sasuke. Ia mengembangkan kedua lubang hidungnya dengan cepat. Mencoba membaui kakaknya. Sasuke menghentikan akitivitasnya dan menatap Naruto dengan bingung.
"Ada apa, Dobe?" tanyanya.
Tak menjawab langsung, Naruto kembali menggerakkan kedua lubang hidungnya sebelum ia membuka kedua belahan bibirnya.
"Whoa! Kau berkeringat, Sasuke! Hueek!" pekiknya tiba-tiba sambil bergerak menjauh dan menutup hidungnya.
Sasuke terdiam. Ia tetap berdiri di tempatnya selama beberapa saat hingga pada akhirnya ia menggerakan jari-jarinya liar dan meremas ubun-ubun kepala Naruto dengan kasar.
Naruto's POV::
"Adudududuh! Sial… susah sekali kalau memiliki kakak yang bahkan tak bisa diajak bercanda." Aku memijit kepalaku perlahan, mencoba agar rasa sakit yang diakibatkan oleh cengkraman tangan kekar Sasuke itu mereda.
Sesekali aku merintih ketika aku tak sengaja menyentuh kulit kepalaku yang memerah.
"Dasar tukang kekerasan dalam rumah tangga." gerutuku sebal seraya melemparkan tubuhku ke atas kasur yang dingin. Aku melirik secarik kertas yang terjatuh di bawah meja belajarku dengan ekor mataku. Ah! Benar juga! Aku lupa memberitahukan Sasuke tentang undangan itu—
Aku langsung menyambar kertas itu dan berlari tegopoh-gopoh ke lantai bawah dengan langkahku yang kecil.
"Sasuke! Sasu—" aku lupa. Tadi kan dia bilang kalau dia akan ke rumah Kakashi-sensei.
.
Ah, sudahlah.
.
.
Lagipula, dia tidak mungkin datang….
.
.
aku meremas kertas putih itu dan membuangnya ke tong sampah didekatku.
Normal POV::
"Ah, sepertinya ini kurang dalam." Kiba memposekan dirinya dengan penuh arti—laiknya seorang Holmes yang sedang memecahkan kasus.
"Tapi kita sudah melakukan yang kita bisa." Chouji mengorek-ngorek sisi tanah yang mereka gali untuk membuat lubang.
Kiba kembali membuat ekspresi aneh dan memalingkan tubuhnya ke arah bocah berkulit tan yang berdiri di belakangnya.
"Hoi, Naruto! Bagaimana menurutmu?" teriaknya. Tak ada sahutan, Kiba mengerutkan keningnya melihat sahabatnya melayang entah ke negara antah berantah mana. Dan hal inilah yang membuatnya kesal karena kelakuan Naruto yang seringkali bengong—tak tahu tempat dan waktu.
"AH!" Kiba terperanjat kaget setelah melihat Naruto yang tiba-tiba menepukkan tangannya.
"Maaf! Aku pulang sebentar!" serunya.
"EH! Naruto—"
Sosok yang diajak bicara terlebih dahulu menghilang sebelum Kiba berhasil menyelesaikan ucapannya.
"—lubang jebakannya…"
"Tch! Dasar! Dia bahkan tidak melakukan apapun!" cercanya.
"Kau benar." sahut Chouji seraya memamah kentang gorengnya.
"Kau juga! Jangan makan terus!" sebuah jitakan indah melesat ke kepala Chouji. Kasihan, dia telah menjadi bahan amukan Kiba. Naruto…kau memang kejam. *plak*
"Aku akan mengembalikan sapu tangan Sakura. Aku sudah mencucinya kemarin." derap langkah Naruto terdengar lemah di sepanjang lorong gang rumahnya.
"Ah, tapi. Itu saja tidak cukup. Aku harus melakukan sesuatu untuknya. Aku akan menanyakan Sakura tentang keinginannya!" imajinasi-imajinasi Naruto saling berkelebat dipikirannya. Beradu satu sama lain untuk merencanakan keinginannya.
"Lagipula, aku belum memperkenalkan diriku dengan baik di depannya. Akan lebih baik jika kami bertemu saat berangkat sekolah. Setelah itu dia akan berbagi banyak cerita tentang dirinya!" gumam Naruto dengan semangat '45. —Oke, saya tahu itu tak ada hubungannya dengan ini. tapi anggap saja begitu. Mengingat ini akan mudah dipahami oleh bangsa kita.—Abaikan.
Setelah beberapa saat, ia telah sampai di ambang pintu depan rumahnya, dilihatnya banyak pasangan sepatu yang berjejer rapi di bawah lantai membuatnya semakin gembira.
'Mereka sudah datang!' batinnya.
'Baiklah…pelan-pelan…jangan sampai mereka mengetahui keberadaanku.'
Naruto merangkak tanpa suara di lantai, mendekati ruangan keluarga yang jaraknya tak jauh dari depan pintu yang baru saja dilewatinya.
'Pelan-pelan…'
Saat ia sudah hampir sampai di depan ruangan yang ditujunya, ia terhenti setelah mendengar suara yang samar-samar terdengar di kupingnya.
"Tapi…kau tahu. Aku merasa sedikit kasihan padamu, Sasuke." ucap seorang laki-laki.
"Pulang sekolah tanpa main, memasak, bekerja paruh waktu setiap hari. Hanya untuk mengurusi anak kecil." sahut salah seorang lagi.
"Sasuke benar-benar orang yang baik! Aku akan mendukungmu!" jerit salah seorang gadis. Naruto tahu benar siapa pemilik suara cempreng ini. Itu Ino, gadis berambut pirang yang ia temui semalam.
"Tidak perlu." Sasuke ikut dalam perbincangan itu.
"Eeeh? Apaa?" sahut Ino lagi.
"Bahkan kau tidak ada waktu untuk libur. Aku berpikir begitu setelah datang kemari. Apa kau tak lelah, Sasuke?"
Tak ada sahutan. Sosok bocah yang sedari tadi mendengar ucapan mereka hanya bisa bersimpuh dan terdiam. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat, kedua safirnya bergerak-gerak tak teratur. Ia sudah tak tahan lagi. Ingin rasanya ia menghilang dari tempat itu juga. Ia ingin menarik ucapannya lagi. Teman-teman kakaknya bukanlah orang yang baik. Mereka kejam. Mereka telah menganggap dirinya sebagai beban untuk Sasuke?
"Eh? Sasuke? Ada apa?"
"Tadi…apakah di sini ada orang?" tanya Sasuke datar.
"Hah? Memangnya ada?" tanya salah seorang temannya lagi.
.
Sasuke kembali terdiam melihat sebuah sapu tangan berwarna pink yang tergeletak di depan pintu.
.
.
'Naruto…'
.
.
Naruto's POV::
.
Hatiku seperti remuk tak bersisa.
.
..
.
Apa maksudnya?
..
.
Mereka pikir aku tidak tahu itu?
.
..
.
Lagipula bukan aku yang memintanya melakukan itu untukku kok!
.
..
Sasuke kenapa sih? Dia ada di sana kan? Kenapa dia tidak membelaku!
..
.
Tch! Aku mengerti—
.
..
.
.
.
.
—dia juga membenciku, kan?
Ternyata dia sama saja.
.
.
"Aaahhh! Sudahlah! Aku benci Sasuke! Aku tidak mau lagi pulang ke rumah itu!" aku berlari kencang tanpa arah. Aku sadar bahwa pipiku telah terbasahi oleh airmata yang mengalir dari ujung pelupuk mataku, aku sadar bahwa aku akan tersesat jika aku terus berlari, aku tahu itu. Tapi aku…
.
..
.
Aku tidak mau bertemu dengannya. Aku tidak mau memikirkan tentang dia lagi. Aku benar-benar membencinya. Sasuke. Kakakku.
.
.
"Tch…jahat sekali… mereka sudah pulang." Aku menendang batu kerikil di hadapanku dengan sadisnya, tanpa memperdulikan keadaannya yang menggelinding dan menabrak batu lainnya dengan keras. Yah, lagipula batu itu tidak bisa protes dengan perlakuanku kok. Untuk apa aku perduli?
Aku menaikki dahan pohon yang biasa kujadikan tempat bermain. Melompat dengan ringan kesana-sini―laiknya seekor hewan yang lincah. Jangan paksa aku menyebutkan nama 'hewan' itu. Aku bukanlah tipe orang yang suka memaki diriku sendiri.
"Ah, rasanya bosan jika bermain sendiri." kedua safirku memendar ke segala sudut arah, mencari sesuatu yang menarik untuk kulakukan. Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Benar juga! Kenapa aku tidak main ke rumah Kakashi-sensei sa—WAAA!" entah karena aku yang terlalu bersemangat atau karena kecerobohanku, dengan indahnya aku terpeleset dari dahan yang lembab itu. Nasib, kurasa.
Tapi, setidaknya aku beruntung karena jatuh di daerah yang empuk dan kepalaku tidak pecah dan berserakan sehingga cerita ini berubah menjadi rated M seketika.
Tapi, tunggu dulu.
Empuk?
Aku baru tahu kalau tanah yang ditumbuhi berbagai macam pohon tua ini empuk―
―Oh, bagus sekali. Aku terjatuh kedalam lubang jebakan yang kami buat tadi. Well, ralat, Kami minus aku dan Chouji. Apakah aku harus mengatakan ini adalah―hanya―hasil jerih payah Kiba? Oke, menurutku itu terlalu kejam untuk diucapkan meskipun kenyataannya aku telah berhasil melontarkan kalimat itu.
"Ini sih namanya senjata makan tuan." aku membersihkan kausku dari jerami-jerami yang digunakan sebagai penutup lubang 'tidak berguna' ini. kemudian aku membalikkan badanku ke dinding tanah dan mencoba memanjatnya. Rasanya sial benar nasibku ini, aku bahkan tidak bisa menggerakkan pergelangan kakiku yang tanpa disadari mengeluarkan sedikit darah. Sepertinya terkilir.
Aku hanya mendesah panjang dan kembali berjongkok di tanah kemerahan itu. Pasrah. Kuharap akan ada Kiba yang kabur dari ibunya dan menemukanku di sini atau Chouji yang mencari makanan sampai ke sini. Well, pikiranku mulai kacau. Itu tidak mungkin kan?
Aku memeluk kedua lututku. Terdiam tanpa suara. Membiarkan hembusan angin senja menelusuri lekukan-lekukan di setiap inchi tubuhku. Jangan tanya apakah itu rasanya dingin atau panas. Yang bisa kupastikan adalah, aku bisa masuk angin stadium 3 jika terus seperti ini.
"Tch! Sial…sudah malam begini kenapa tidak ada yang datang? Aku lapar! SASUKE SIALAAAN!" teriakku sejadinya dan kembali memendamkan wajahku.
Sesaat kemudian aku bisa merasakan sesuatu yang mengelus kepala kuningku. Aku harap itu bukan ular yang tiba-tiba datang dan murka karena aku berteriak-teriak kencang di daerahnya. Perlahan aku membuka kedua bola mataku, terus menggumamkan kata-kata untuk memohon keselamatan. Sampai pada saat aku sadar benda apa yang menggantung di depan dahiku itu, sebuah tali.
Aku menengadahkan kepala mungilku dan menyipitkan mataku untuk mengenali sosok yang melemparkan tali itu.
"Sedang apa kau? Ayo cepat naik, Dobe!" Sempurna. Dari semua orang, kenapa harus dia? Orang yang tak ingin kulihat sepanjang hari ini. apa karena tadi aku memanggil namanya? Kurasa itu kebetulan saja.
"Aku tidak mau!" dengan angkuh aku membuang muka dan tidak mengacuhkannya. "Jangan pedulikan aku! Bukankah kau akan lebih senang jika aku tidak ada?"
"Tch!" aku dapat mendengar Sasuke berdecak kesal. Aku sedikit terkejut setelah melihat tali yang diulurkannya kembali ditarik ke atas. Itu saja? Dia mau menyerah begitu saja? Sial! Ternyata Sasuke memang tidak memperdulikanku! Rasanya aku mau mati saja!
"Tarik sekarang." Suara rendahnya terdengar begitu dekat. Eh? Dia ada di mana? Dengan sigap aku memutar badanku dan menemukan sosok Sasuke yang mencoba memelukku dari belakang.
"A-Apa? Lepaskan aku!" aku mencoba memberontak dengan kasar.
"Berisik! Diamlah, Dobe!" Sasuke malah mengeratkan pelukannya dengan lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang tali tambang itu dengan kuat. Aku berhenti mengelak dan hanya terdiam sambil menahan malu.
Setelah aku kembali melihat keadaan sekitar yang kembali normal―berada di atas tanah yang rata dan normal pula, barulah aku sadar bahwa orang yang menarik kami berdua adalah Kakashi-sensei. Apakah beliau juga ikut mencariku? Waw, aneh sekali.
"Kalian memang pasangan saudara yang berisik." protes Kakashi komplit dengan wajah tenangnya.
"Jangan berkomentar apapun, Kakashi." aku tak bergeming dari gedongan Sasuke dan memendamkan wajahku ke punggungnya yang tegak. Aku merasa sangat kesal dan malu.
"Kau sudah menemukannya, Sasuke?" suara seorang gadis mendekati kami, dari suaranya yang indah saja aku sudah tahu siapa itu.
"Maaf telah melibatkanmu, Sakura." sahut Sasuke datar―sedatar-datarnya. Aku bisa merasakannya meskipun aku tidak melihat wajahnya, aku sudah hapal dengan gaya bicaranya yang dingin itu. Itu hal yang biasa untukku.
.
.
.
Normal POV::
"Tidak apa-apa. Kebetulan aku sedang di sini juga. Tapi, syukurlah Naruto sudah ditemukan."
"Ya. Oya, aku akan mengantarmu pulang." tawar Sasuke yang lagi-lagi datar. Yang bahkan tak diketahui apakah dia mengucapkannya dengan tulus atau tidak.
"Ah, tidak usah! Kau kan harus mengurus Naruto," tolaknya halus.
"Biar aku saja yang mengantarnya." sepasang onyx dan tosca muda menatap ke arah sumber suara secara bersamaan.
"Apa? Kau tidak percaya denganku?" Kakashi menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak. Aku hanya kaget. Kupikir lelaki berumur 25 tahun sepertimu tak akan menawarkan hal yang kau rasa itu merepotkan." sindir Sasuke dengan tajam.
"Wah, tidak sopan sekali. Haruskah aku membuka maskerku ini di hadapanmu?"
"Tidak usah. Lagipula itu tidak ada hubungannya." sahut Sasuke dengan ―sangat― cepat. Seolah ia benar-benar menolak perkataan gurunya itu.
Sakura yang mendengar percakapan mereka hanya tertawa pelan sambil melirik seonggok tubuh mungil yang memeluk Sasuke dengan erat.
"Kasihan Naruto, sepertinya ia kelelahan. Ia sudah tertidur." ucapnya simpati.
Tapi, itu salah. Naruto tidak tertidur daritadi. Ia hanya terlalu malu. Sangat malu terhadap kelakuannya tadi. Ia bahkan tak mampu membuka kedua matanya sendiri. Ingin rasanya ia menenggelamkan dirinya ke dasar danau atau laut dan tak menampakkan dirinya lagi.
"Tapi…menjadi seorang kakak memang enak ya…" tiba-tiba Sakura bergumam sendiri sambil mendongakkan kepalanya ke langit yang penuh akan kerlap-kerlip bintang yang tak terhingga jumlahnya.
"Kau tidak tahu seperti apa anak ini. Dia benar-benar merepotkan." elak sang raven.
"Haha…jangan berkata begitu. Kaulah yang menyelamatkannya, bukan? Bahkan tadi saat kita belajar kelompok, kau membelanya mati-matian."
'Apa? Membelaku? Sasuke ini membelaku?'
"Sampai-sampai kau mematahkan pulpen yang kau genggam dan berteriak seperti ini, 'Cukup! Kalau kalian hanya membicarakan omong kosong seperti itu, lebih baik kalian keluar!'" Sakura menghentikan langkahnya dan mengikuti gerakan serta mimik yang di lakukan Sasuke tadi sore di hadapan teman-temannya.
Sasuke kembali terdiam, tanpa disadari timbul semburat merah di pipinya yang mulus. "Hentikan itu, Sakura. " desisnya disela-sela menyembunyikan rasa malunya.
Mau disembunyikan dalam kegelapan ini pun, tetap saja kelihatan jelas seperti apa wajah Sasuke sekarang, berhubung kulitnya yang teramat pucat dan bersih. Sakura tertawa renyah dan kembali melangkah pelan.
"Kau benar-benar mencintai adikmu, Sasuke." pujinya senang.
Hanya angin malam yang menjawab perkataan Sakura. Tanpa suara. Hanya derap langkah sekelompok mahluk hidup yang disebut sebagai manusia. Hening. Mereka terlanjur tak menyadari apa yang dirasakan bocah berumur 10 tahun itu. Meski suasana senyap itu terus berlangsung, mereka tak menyadari detakan jantung bocah itu yang semakin keras. Bocah sekecil itu sudah melewati batas ambigu yang seharusnya. Rahasia kecil seorang kakak. Kakak yang selalu mendampinginya. Kakak yang selalu mencintainya. Selalu.
'Maaf…'
.
..
.
.
Pemuda berambut ala harajuku itu sedikit tersentak setelah merasakan sesuatu yang mungil meremat kemeja putihnya. Bukan rasa khawatir lantaran bajunya akan kusut. Tapi…
..
.
.
..
.
sosok tangan mungil yang bergetar hebat.
'Maafkan aku…Sasuke…'
.
.
BRAK!
Suara dentuman pintu kelas membuat orang-orang di sekitar sang pelaku menatapnya heran, lain dengan kedua safir muda yang membulat tak percaya. Orang yang ditunggunya telah datang. Tetapi, bukan itu masalahnya. Bisakah pemuda tampan berambut raven itu membuka pintu dengan cara yang biasa saja? Apakah dia berniat untuk merusaknya lalu menggantinya dengan percuma lantaran kelebihan uang? Rasanya sungguh alasan yang bodoh.
Entah karena sang pelaku 'tampan' ini tak menyadari atau malah tak perduli dengan segala tatapan dari pria dan wanita yang berumur―entah tatapan kagum atau malah sirik, Sasuke hanya menatap Naruto―yang terpatung dengan napasnya yang sedikit terengah-engah.
"Hadap ke depan! Hadap ke depan, bodoh!" bisiknya sedikit keras seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
Sosok yang diajaknya bicara hanya tertawa dengan wajahnya yang bersemu. Ia sudah siap dengan proyek 'Hari Ibu'-nya
.
.
.
'Aku memang tidak punya orangtua. Aku tidak punya ayah maupun ibu.'
.
'Aku hanya tinggal dengan kakakku yang bernama Sasuke.'
.
'Memang benar dia orang yang menyebalkan karena sok tahu tentang diriku…'
.
..
"―tapi…dia selalu ada jika aku sedang kesusahan. Dia selalu saja menolongku…" Naruto memilih untuk memutar sedikit matanya untuk melihat puluhan manusia yang menatapnya dengan penuh arti, lalu kemudian melanjutkan ceritanya.
"Aku sering bertanya pada diriku sendiri. Kenapa dia selalu mengerti apa yang kurasakan? Kenapa dia selalu merawatku dengan sepenuh hati? Padahal dia laki-laki. Apa dia berniat untuk menjadi ibu rumah tangga nantinya?" gelak tawa yang membahana terdengar riuh saat Naruto menyelesaikan kalimatnya. Sedangkan orang yang sedaritadi dibicarakan hanya menahan malu sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
'Sialan, bocah itu…' umpatnya dalam hati.
"Seperti tante-tante, dia gampang marah. Dia suka sekali memukul kepalaku jika aku berbuat aneh. Tapi dia melakukannya karena ia menyayangiku. Sebenarnya aku sangat kagum dengan Sasuke. Dia adalah keluargaku yang berharga."
"Karena itulah aku―"
.
.
.
"Bagaimana tadi? Bagus, kan? Sasuke?"
"Aku kan sudah bilang, kau harus hadap ke depan." bagai gula dan permen, antara pertanyaan dan jawabannya tidak nyambung. Apakah Sasuke harus memeriksakan kupingnya ke dokter THT terdekat? Atau ke RSJ mungkin? Oke, ngaco.
"Aku dengar kok. Nah, bagaimana menurutmu? Pidatoku bagus, kan?" tanya Naruto―sekali lagi.
"Kau boleh kok, menangis karena terlalu bahagia!" ucap Naruto dengan narsis―bahkan tanpa memberikan kesempatan pada Sasuke untuk menjawab pertanyaanya tadi. Sebenarnya apa maumu, Naruto?
"Berisik! Jangan harap aku akan melakukannya!" seperti biasa, Sasuke meremas ubun-ubun Naruto―untuk kesekian kalinya.
'Karena Itulah aku―'
.
..
.
.
'Sangat mencintai Sasuke…'
~TBC~
A/N::
Maaf saya telat update. ^^
Saya sangat sibuk akhir-akhir ini. Terimakasih bagi yang sudah mereview. Saya sangat menghargai itu. Karena review anda sangat membantu saya melanjutkan cerita ini. Untuk Disclaimer di atas, 'Family Game' adalah dounjishi sasunaru. Karena saya sangat menyukai dounjinshi itu, saya berani mengangkatnya dalam ke sebuah Fic yang berjudul 'Cherry Drops' ini. Dan saya minta maaf, sepertinya saya akan terlambat update lagi, saya sudah dikejar ulangan 2 minggu ini. Jadi saya mohon kemaklumannya dari anda semua.
See you~ *waves*
Mind to Review?
