CASTS:
Main Casts: Xiao Lu Han, Kim Minseok
Support Casts: Wu Yifan, Oh Sehun
Mentioned: Others EXO member
Genre: General. Kalian bisa anggap ini friendship, bromance, ataupun yaoi.
XXX
Dear, XIU.
Xiexie. I thank U
XXX
Aku diterima oleh seluruh trainee setelah dua minggu resmi bergabung dengan agensi ini.
Mereka berbicara denganku, mengajariku dance, melatih vokalku, dan bercanda denganku.
Aku menyukai mereka. Tapi saat mereka tertawa dengan lelucon mereka, aku terdiam. Tanganku bergerak menyentuh lengan Minseok yang sedang duduk bersila di sampingku. Ia tertawa, menyukai lelucon yang dilontarkan.
Saat merasakan sentuhanku, wajahnya bergerak menoleh ke arahku dan matanya menatap lurus padaku. Tawanya terhenti, tapi senyumnya tak memudar.
Ia tak bertanya apapun. Aku tak menjelaskan apapun. Tapi ia mengerti, jadi ia membuat beberapa gestur menjelaskan lelucon itu sebisa mungkin agar dapat kupahami.
"Ah" Anggukan kecil kuberikan padanya, menginformasikan padanya bahwa aku paham. Dan ia kembali memusatkan perhatiannya pada teman kami yang sedang melawak di depan.
Aku menemukan hal baru untuk mendeskripsikan Minseok. Penerjemahku.
Dia tak dapat berbahasa Mandarin dengan baik, standar bahasa Mandarinnya setara dengan standar bahasa inggrisku saat aku masih kelas 2 SD, tapi ia selalu ada di sampingku untuk menerjemahkan segala hal yang tidak kupahami artinya.
Kadang kami akan mendapati diri kami duduk berdua di ruang latihan, menunggu yang lain untuk datang. Aku akan bercerita panjang lebar tentang kehidupanku di Cina, membagi keluh kesahku padanya, sementara ia duduk tenang di sampingku menatap langit-langit.
Ia tak banyak bicara. Hanya sesekali mengulangi kalimat berbunyi sama, "Kau tak sendiri". Atau sesekali membenarkan penyusunan kata dan pelafanku yang salah.
Tapi kupahami makna 'Kau tak sendiri' sebagai 'Aku selalu ada di sampingmu'. Bukan karena kosa kata Korea-ku yang terlalu terbatas, tapi lebih karena aku menganggap Minseok memiliki bahasa tersendiri. Dan aku lebih ahli dalam bahasa Minseok dibandingkan dengan bahasa Korea yang telah lebih dari dua tahun kupelajari.
Capek yang kurasakan pada masa training tiada tara. Semua trainee merasakan keletihan yang sama. Atau paling tidak, keletihan fisik yang sama. Karena secara mental, mereka tak merasakan apa yang dirasakan oleh kami trainee dari Cina.
Mereka, trainee asal Korea takkan pernah memahami apa yang kami rasakan. Mereka takkan paham bahwa rasa letih yang kami rasakan bisa bertambah dua kali lipat hanya dengan mengingat fakta bahwa tak ada rumah hangat yang akan menyambut kami saat kami diberikan izin libur seminggu, atau tak ada sosok Ibu yang akan datang dengan membawakan sup penambah energi saat berkunjung.
Aku gagal melihat raut letih pada wajah nyaris selalu datar milik Yixing, ataupun pada Tao yang terlihat penuh semangat masa muda. Tapi pada Yifan, aku bisa melihat itu dengan jelas.
Kurasa ia pun menangkap raut letih di wajahku.
Saat agensi tempatku bernaung mengumumkan pada kami member fix yang akan didebutkan sebagai EXO, hari-hari berikutnya semakin menggila.
Beberapa dari kami dibawa ke rumah sakit untuk sedikit membenahi wajah kami. Pembenahannya dilakukan dengan teknik yang sering disebut dengan―
Kutarik nafas-ku dalam-dalam. Ini salah satu hal yang memicu ketidak warasan mentalku. Aku tak pernah ingin membahas hal ini jika bisa, dan agensikupun tak pernah mau mengakuinya pada publik, jadi tak pernah ada keadaan dimana aku haru menceritakan hal ini pada siapapun. Tapi kali ini, kuputuskan untuk mengakuinya.
―Operasi plastik.
Ya. Aku melakukannya.
Sebenarnya, aku bukan orang yang menentang operasi plastik. Setiap orang punya kebebasan untuk melakukan apapun pada dirinya sendiri, selama hal itu tidak bertentangan dengan hukum atau apapun yang mereka percayai.
Operasi plastik tak menentang apapun yang kupercayai, jadi saat manager kami membawaku ke rumah sakit, kuikuti dia tanpa banyak protes.
Namun demikian, perlu kubilang bahwa aku adalah manusia dengan tingkat kepercayaan diri sangat tinggi terhadap fisikku. Aku tampan, dan cukup terkenal saat masih sekolah. Bukan bermakud pamer, tapi aku bahkan punya fanclub ku sendiri.
Sungguh, jika kalian bertanya padaku, aku merasa tak ada satupun bagian dari diriku yang perlu diperbaiki―Bagaimana caranya memperbaiki sesuatu yang tak pernah rusak? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Jadi sambil duduk tenang di samping manager yang sedang berbicara dengan dokter, kembali aku berpikir, 'mereka takkan mengubah terlalu banyak bagian dari wajahku'.
Dokter melakukan beberapa gestur tangan di sekitar wajahnya, dan berbicara dengan bahasa Korea yang terlalu berkelas, aku tak mampu menangkap maksudnya. Kemudian ia mendekat ke arahku, melakukan entah apa pada wajahku, sebelum kemudian bertukar pandang dengan manager kami, yang dibalas dengan anggukan dari manager.
Aku sangat yakin, terlalu yakin bahkan, bahwa mereka hanya akan sedikit memperbaiki mataku.
Tapi mereka tak melakukan apapun dengan mataku―yang mana kusyukuri―, dan malah melakukan sesuatu dengan dagu dan hidungku.
Daguku seolah digergaji. Aku tak merasakan apapun saat dioperasi tentu saja. Mereka membuatku tertidur selama berjam-jam. Saat terbangun, kudapati diriku tak dapat bernafas. Hidungku disumbat, wajahku diperban.
Mulutku megap-megap, berusaha menangkap oksigen sebanyak yang ku bisa. Tapi perban dan penyanggah di bawah daguku menahan mulutku untuk terbuka terlalu lebar. Membuatku semakin kesulitan untuk mendapatkan oksigen.
Saat pengaruh anesthesia menghilang, sakit luar biasa melanda seluruh wajahku.
Hari pertama setelah operasi, aku kesulitan bernafas, aku kesulitan makan, dan aku kesakitan.
Malam hari tanpa tidur, air mataku akan jatuh tak terbendung.
Seolah penderitaan berminggu-minggu selama masa pemulihan tak cukup untuk mengganggu kewarasan mentalku, pada suatu hari setelah semua perban pada wajahku dilepas, oleh dokter aku disuruh duduk dengan tangan memegang cermin dan mengamati pantulan diriku.
Tapi yang memantul di dalam cermin itu bukan aku. Atau setidaknya bukan aku dengan wajah yang kuingat.
Sosok di dalam cermin itu balas menatapku, dangan mata yang sama persis seperti milikku. Paras sosok di dalam cermin itu cantik. Sangat cantik. Dengan tingkat kecantikan yang tidak normal.
Dagunya kecil dan mungil. Bukan lagi dagu tegas yang kutau.
Hidungnya mancung, lurus, dan pointy. Bukan hidung yang kutau.
Aku bukan lagi manly Lu Han yang selama ini kukenal. Sejak itu baby Lu atau pretty Lu menjadi image-ku. Mereka mengubahku.
Raut bangga dari dokter atas karyanya, atau ekspresi puas dari manager kami saat melihatku membuatku muak. Ingin rasanya kubanting cermin itu, menerjang mereka, dan memaki mereka dengan segala makian tersadis yang pernah kutau. Tapi tidak kulakukan.
Aku ingat, aku kembali ke dorm dengan wajah menunduk. Terlalu malu memperlihatkan wajah feminimku pada siapapun yang ada di dalam.
Tapi saat aku melangkah ke ruang nonton dan merasakan tak ada reaksi heboh apapun, kuangkat kepalaku. Mendapati member yang lain menatapku bingung, seolah bertanya "Kau siapa?"
Aku meringis, berharap bisa mengurangi rasa apapun yang siap kapan saja untuk meluap. Kepalaku berdenyut hebat. "Oh. Hai..." sapaku kaku.
Masih tak ada jawaban.
Lalu kuingat lagi, Minseok keluar dari dapur dengan segelas air dan sekantong cemilan, saat matanya menangkap sosokku. Ia menatapku sekitar beberapa detik, detik yang menyiksaku, sebelum kemudian menyapaku. "Hai Luhan."
Dan denyut hebat di kepalaku terhenti. Kalimatnya kuartikan sebagai, 'Kau adalah kau'
Aku menemukan lagi hal baru untuk mendeskripsikan Minseok hari itu. Pengingatku tentang jati diriku.
Keadaan masih hening. Kulihat member yang lain tampak malu dan merasa bersalah. Jadi berdehem pelan, kubuka mulutku, "Bagaimana menurut kalian?" kukibaskan rambutku, berlagak diva. Suasana mencair, dapat kudengar yang lain tertawa.
"Cocok denganmu." Jawab mereka. "Kau terlihat oke" Mereka mengangguk padaku.
Senyumku melebar, kemudian mentap penuh harap pada Minseok, menunggu kalimat menenangkan apapun yang akan keluar dari mulutnya.
Dengan tenang, Minseok mendudukkan dirinya pada karpet, meletakkan air putih di atas meja, dan memutar TV.
Aku masih menatapnya.
Ia khusyu dengan acara TV dan cemilannya.
"Hyung" Chanyeol bebisik, berusaha mendapatkan perhatian Minseok, tak enak denganku.
Minseok akhirnya menatapku, dan aku kembali menyengir. Tapi Minseok malah membalas dengan "Apa?" Yang terdengar cuek. Padahal ia tau jelas apa mauku.
Kadang Minseok bisa menjadi orang yang amat sangat tidak manis.
Kutendang Minseok, kemudian melangkah meninggalkan ruang nonton.
Aku tak pernah marah pada Minseok, dan ia tau. Jadi ia tak pernah datang pada ku untuk minta maaf atas segala tingkah-tidak-manisnya.
Hari-hari setelah kembali dari rumah sakit, kuhabiskan waktuku dengan menatap pantulan diriku di dalam cermin, mencoba terbiasa dengan wajah baruku. Bahkan saat berada di ruang latihan, saat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak, aku akan berdiri di depan cermin besar, menatap diriku yang terpantul dengan kening bertaut.
Member yang lain berlalu lalang di sekitarku. Ada yang mengabaikan kebiasaan baruku ini. Ada yang tertawa karena menganggap ini lucu, bahkan ada yang dengan nada bercanda berkata, "Lihat, hyung kita tersayang terserang sindrom pangeran" Kukenali suara itu. Baekhyun.
Aku tertawa sebagai respon dari komentarnya, tapi mataku masih terpaku di depan cermin. Tanganku bergerak menyisir rambutku, mengubah modelnya secara berkala, berusaha mencari model terbaik yang bisa mengembalikan image manly-ku. Tapi gagal menemukannya.
Aku belum sempat merasa frustasi, mood-ku belum sempat berganti buruk, saat tiba-tiba Minseok muncul di depanku. Telunjuknya mengelus daerah di antara alisku, dan berkata "Kau terlihat oke." Ia menjawab pertanyaanku berhari-hari lalu.
Mencibir, kubalas dia, "Kau menjawab pertanyaan yang sudah kadaluwarsa"
Cuek, ia mengedikkan bahunya dan melanjutkkan, "Bahkan jika kau terlahir kembali, aku tetap akan mengenalimu".
Kalimat bualan. Tapi kalimat bualannya itulah yang berkali-kali kuputar dalam kepalaku untuk menenangkan diriku saat aku merasa kehilangan jati diriku.
Kubalas dia dengan nada menantang, "Bahkan jika aku terlahir sebagai perempuan?"
Sebelah keningnya terangkat, mulutnya tersenyum manis, "Yap." Senyum manisnya berubah menjadi senyum mengejek, "Bahkan jika kau terlahir menjadi kambing".
Dan kuhadiahi dia tendangan menggunakan punggung kakiku ke arah bokongnya.
Saat kubilang Minseok adalah sosok yang manis, sungguh aku tak berbohong. Hanya kadang, sekali lagi, hanya kadang―dengan penekanan pada kata kadang―, Minseok akan berubah menjadi sosok yang tidak manis.
XXX
To be continue…
XXX
A/n: Trimakasih untuk Guest, sinta, abethhan, HamsterXiumin, XiuhanReum, Yuuki Asuna41, Alaricus, LM, dan Kiki2231 yang sudah ngereview chapter 1. Review kalian berarti sangat banyak bagi saya. :')
Sekali lagi, diharapkan Rnr-nya. m(_._)m
