CIC FANFIC SHARE
.
.
.
-oOo-
.
.
"Winner"
A fanfic by Karma
.
.
-oOo-
.
.
Main Cast : Chanyeol x Baekhyun
Category : Boys Love
Genre : Romance, Humor, School Life, Slice of Life
Length : Chaptered
Rate : T
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Baekhyun tidak ingat sejak kapan ia begitu malas masuk sekolah. Yang jelas, jika saat ini ia masih berada di bangku SMP atau mungkin SD, ia akan berjalan dengan semangat di koridor sekolah, dan menyapa –dengan tak kalah semangat- pada siapapun penghuni kelas meski mereka tidak mengenalinya sama sekali.
Tapi sekarang sungguh lain cerita.
"Fuuuh…" Baekhyun menghembuskan napas berat seberat-beratnya. Ini benar-benar adalah ujian hidup. Siapa yang menyangka bahwa Byun Baekhyun –yang menurutnya- hebat ini akan terdampar di kelas (nyaris) buangan yang bahkan untuk menemukannya saja Baekhyun mesti berputar-putar terlebih dahulu di sekitar sekolah.
Ketika kakinya telah sampai di ambang pintu, Baekhyun menatap datar pada suasana kelas. Seumur-umur, baru pertama kali baginya melihat langit-langit kelas yang dihias sarang laba-laba, lantai penuh debu, serta kursi tempat duduk yang bersenggolan; tidak rapi sama sekali. Sementara siswa-siswinya sendiri? Oh, lupakan. Siapa juga yang ingin membahas tentang mereka yang memilih berdandan di kelas, mengintip rok anak perempuan, dan tertidur (padahal ini masih pagi, demi Tuhan). Daripada belajar, orang-orang terbelakang ini lebih senang menghambur-hamburkan waktu demi keriaan sesaat.
"Ah, sudahlah."
Baekhyun berjalan malas. Dengan hanya melihat papan tulis yang kosong, Baekhyun tahu bahwa tidak ada pembagian kursi secara khusus di tempat ini. Jadi tanpa pusing, ia memilih tempat duduk kedua dari belakang, di dekat jendela. Alasannya karena sejauh ini tempat inilah yang terlihat nyaman dan tentunya masih kosong.
Baekhyun menyapu permukaan meja dengan jarinya. Ia menatap datar ketika debu kini menempel di jemarinya. Maka buru-buru ia pun mengeluarkan tisu, serta mengelap seluruh permukaan meja tanpa menyisakan setitik debu pun. Oke, ia boleh tinggal di kelas yang dipenuhi orang-orang bodoh. Tapi setidaknya ia tidak mau tinggal dengan orang-orang yangg jorok. Seingatnya ini adalah kelas, tempat belajar. Bukan kandang ayam.
Tapi melihat kelas ini yang tidak punya harapan, Baekhyun jadi membayangkan bagaimana rupa kelas E. Kalau kelas D saja penampilannya sudah seperti ini, barangkali kelas paling bontot tersebut layak dapat julukan kandang babi yang belum dibersihkan selama dua tahun. Saking joroknya.
Sudahlah, daripada berpikir lebih jauh tentang betapa parahnya kelas E itu, Baekhyun memilih untuk memikirkan dirinya sendiri. Setidaknya, ia tidak ingin berlama-lama disini. Barangkali setelah UAS, ia bisa memperbaiki nilai dan naik ke kelas yang lebih layak. Atau mungkin saat UTS pun bisa. Mana saja yang penting dirinya bisa pindah dari kelas buangan ini. Karena jujur saja, Baekhyun alergi kalau lama berdekatan dengan orang yang IQ-nya hanya mencapai dua digit.
Beberapa menit kemudian kelas yang awalnya kacau menjadi sedikit ribut hingga akhirnya tenang seketika. Penyebabnya adalah seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima dengan menggunakan seragam olahraga, datang ke dalam kelas membawa sebuah map. Tanpa bertanya, Baekhyun sudah tahu kalau wanita ini akan menjadi wali kelasnya untuk beberapa waktu ke depan.
"Selamat pagi." Sapanya dengan wajah tak semangat.
Baekhyun tersenyum kaku. Bahkan wali kelasnya pun merasa malas untuk memasuki kelas ini.
"Selamat pagi!" murid-murid yang lain menjawab serempak.
Kemudian Guru itupun memperkenalkan diri. "Aku Jessica Jung, wali kelas kalian untuk setahun ke depan."
Selanjutnya, ia langsung ke inti pembicaraan dan mengarahkan murid-muridnya mengenai kegiatan hari ini.
Yang guru Jung katakan: "Baiklah, langsung saja. Hari ini bebas. Aku masih banyak urusan di ruang guru. Buat sistem kepengurusan setelah itu kalian diperbolehkan untuk keluar. Mau memilih eskul atau apapun terserah, yang penting jangan buat keributan. Mengerti?"
Yang Baekhyun dengar: "Lakukan sesuka kalian, dan jangan ganggu aku."
Yang murid-murid lain dengar: "Hari ini bebas tidak belajar."
Ya, terkadang sebuah kalimat bisa mengandung bermacam-macam penafsiran.
Selepasnya, guru berambut pirang terikat itupun meninggalkan kelas. Dari caranya melambaikan tangan sembari berjalan, Baekhyun tahu ia tak terlalu peduli dengan kelas ini. Satu lagi helaan napas Baekhyun keluarkan.
Begitu Wali kelas keluar, kelas kembali riuh seketika. Mereka melakukan macam-macam selebrasi atas kebebasan untuk hari ini. baekhyun tersenyum remeh. Dasar orang-orang bodoh. Kenapa mereka sebegitu senangnya saat tidak diberi pelajaran setelah semua uang yang mereka bayarkan ke sekolah. Mungkin hanya Baekhyun disini yang merasa rugi.
"Kulihat kau hanya diam sedari tadi. Siapa namamu?"
Baekhyun menoleh ke samping kanannya dan tersenyum remeh dalam hati. Teman pertama, heh?
Satu orang pertama yang barusan menyapanya memiliki wajah kotak dengan lengkungan senyum yang khas. Suaranya sedikit melengking. Dari penampilannya, Baekhyun tahu anak ini tipikal orang yang asyik dalam pergaulan. Rambutnya dicat kuning keemasan dengan potongan masa kini, khas anak boyband sekali. Tak lupa dengan piercing di telinga kanan. Tipikal anak hits. Baekhyun kurang suka.
"Baekhyun. Byun Baekhyun." Baekhyun menjawab seadanya sambil mengulurkan tangan.
"Aku Kim Jongdae. Biasa dipanggil Chen." Ujarnya sembari menyambut tangan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum meringis. Itu nama panggilan yang jauh sekali dengan nama aslinya.
"Senang bertemu denganmu, Baekhyun. Ngomong-ngomong, apa kalau sudah memilih ingin masuk klub apa?"
"Aku kurang terampil dalam bersosialiasi." Baekhyun menjawab jujur.
"Bagaimana kalau bergabung denganku? Aku ikut klub basket." Sepertinya Chen mengabaikan ucapan Baekhyun barusan dan justru menawarinya sebuah klub yang mana Baekhyun sendiri tidak mungkin untuk memasukinya.
"Kurasa tidak." Baekhyun menolaknya halus. "Aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian untuk belajar."
"Oh ayolah, jangan bergurau. Aku tahu kau berbohong." Chen mengibas-ngibaskan tangannya sambil tertawa pelan. "Kalau kau suka belajar, mana mungkin kau terdampar di kelas ini."
Sementara mereka berdua melakukan obrolan khas orang yang baru saling mengenal, rupanya penghuni kelas yang lain sedang sibuk mengundi siapa yang akan menjadi ketua kelas. Bukan dengan cara menghitung suara terbanyak. Mereka justru menuliskan nama semua siswa di gulungan kertas kecil, dan mengundinya secara acak. Seseorang berdiri di depan kelas untuk mengambil gulungan kertas tersebut, dan mengumumkan siapa yang akan menjadi ketua kelas. Sesederhana itu.
Nampaknya Baekhyun dan Chen tidak terlalu memperhatikan karena mereka berdua tengah sibuk berbincang.
"Maaf, tapi aku tidak sedang bercanda, Jongdae-ssi." Baekhyun memutar bola matanya. Memang mustahil mengucapkan kata belajar di kelas ini. Sepertinya hal itu masih dianggap tabu dan tidak layak untuk diperbincangkan.
"Tapi buktinya-"
"Byun Baekhyun."
"Buktinya apa?"
"Byun Baekhyun."
"Buktinya kau ada di kelas ini."
"Byun Baekhyun."
"Astaga. Ya, aku disini. Ada apa?" Baekhyun tidak tahan ketika mendengar nama lengkapnya terus-menerus disebut. Ia pun melayangkan tatapan ke depan kelas dan menemukan seorang siswa laki-laki sedang melihat ke arahnya. "Apa?" tanyanya lagi dengan tidak ramah.
"Kau yang menjadi ketua kelas." Ujar siswa itu sambil mengendikkan bahu.
"Oh." Baekhyun kembali beralih pada Chen. "Sampai dimana kita-"
Sebentar.
Baekhyun merasa ada yang aneh. Apalagi dengan tatapan orang-orang yang menuju ke arahnya. Sekali lagi, ia pun bertanya pada si remaja yang berdiri di depan kelas.
"Aku… apa?"
"Kau yang menjadi ketua kelas."
Satu detik…
Dua detik…
Tiga…
"HEEEEEEEEEEE?!"
.
.
.
Di jam istirahat, Baekhyun memilih untuk jalan-jalan di sekitar sekolah. Alasanya karena ia sudah stress berada di kelas yang ia naungi sekarang. Kelas 1-D. Ada banyak hal yang membuat tekanan darahnya meningkat hari ini. salah satunya adalah setelah terpilih menjadi ketua kelas. Baekhyun mau-mau saja kalau ia memimpin kelas A yang mana mereka adalah kaum intelektual. Tapi ini…
Dua jam yang lalu.
"Teman-teman, tolong dengarkan." Baekhyun maju ke depan kelas dengan berat hati. Ia tidak punya pilihan lain, inginnya menolak, namun sepertinya ia kalah massa.
Ya, sudah. Karena sudah terlanjur. Mau tidak mau iapun menerimanya. Baekhyun yang berpikir cepat, akhirnya memutuskan untuk memimpin kelas untuk menjadi lebih baik. Dan langkah pertama adalah mengarahkan teman-temannya untuk bersih-bersih di kelas.
"Pertama," Baekhyun menulis sesuatu di papan tulis. "Kita akan membersihkan kelas terlebih dahulu. Lalu…"
Kemudian ia pun berbalik.
"Teman-teman?"
Teman-temannya sudah raib entah kemana.
"Haaaaah…"
Baekhyun menghela napas setelah sedotan terakhirnya tuntas. Ia membuang susu kotaknya ke tong sampah, dan lanjut berjalan di lorong.
"Kenapa ini semua harus terjadi padaku?" ia menunduk dengan wajah murung.
Lama berjalan tak tentu arah, Baekhyun tiba-tiba berhenti ketika menyadari sesuatu. Matanya secara tak sengaja menangkap sebuah pemandangan kelas yang bersih dan damai. Lalu seketika pandangannya ia arahkan ke pintu, dan melihat papan nama sebuah kelas terpajang dengan rapi. Kelas 1-A.
Baekhyun kemudian merapat ke dinding. Ia mengintip dari balik pintu dengan takut-takut. Kelas ini benar-benar kelas impiannya. Suasananya tenang, dan sejauh yang terlihat ada beberapa orang yang tengah sibuk membaca buku atau menuliskan sesuatu dari buku paket. Kelasnya pun tertata rapi, tidak ada debu terlihat, ataupun sampah yang berserakan. Baekhyun benar-benar merasa iri dibuatnya.
"Sial. Kenapa aku tidak bisa masuk ke kelas ini?" Baekhyun mengumpat pelan.
Lama memata-matai kelas tersebut membuatnya kesal sendiri. Ia pun memutuskan untuk berbalik dan kembali ke kelasnya. Namun naas, saat itu pula tubuhnya menabrak seseorang.
"Oh, Ya ampun!"
Baekhyun serasa baru menubruk tiang. Barangkali karena tubuhnya kecil, maka ia yang terlempar dan akhirnya harus tersungkur ke lantai.
"Maaf, apa kau tidak apa-apa?"
Seseorang yang ia tabrak mengulurkan tangan. Baekhyun menyambutnya seraya mengusap-ngusap pantatnya yang baru saja mencium lantai. Ia pun dibantu berdiri dan saat itu matanya langsung terpenjara pada seseorang yang berdiri tegak di hadapnnya.
Seseorang yang tinggi, berkulit seputih susu, dengan rambut yang dicat putih pula. Wajahnya benar-benar menawan dan Baekhyun mulai bertengkar dengan pikirannya sendiri karena setengah dari dirinya mengira bahwa seseorang yang ada di depannya ini adalah malaikat.
"Kau tak apa?" tanyanya sekali lagi.
"Ah ya, aku, aku baik." Baekhyun tergagap. Dan sekarang ia terlihat seperti seorang wanita culun yang baru saja dipertemukan dengan pangeran dari negeri seberang.
Lupakan. Lagipula Baekhyun itu laki-laki.
"Syukurlah. Jadi, sedang apa kau disini uhm…"
"Baekhyun. Namaku Baekhyun." Baekhyun memperkenalkan diri dengan cepat.
"Aku Oh Sehun." Pemuda itu tersenyum kecil. "Jadi, Baekhyun, apa yang sedang kau lakukan disini? Seingatku tidak ada nama Baekhyun di kelasku." Ia menunjuk ke dalam yang mana mengartikan bahwa kelas 1-A adalah kelasnya.
"Aku…emmm… tidak sengaja lewat. Ya, tidak sengaja lewat."
"Dan kau dari kelas?"
"Satu D." Baekhyun mengakuinya dengan berat.
Pemuda bernama Sehun itu tertawa pelan. Oke, beberpa detik yang lalu mungkin ia terlihat menawan. Tapi entah kenapa sekarang ia lebih terlihat seperti kotoran.
Itu sebuah tawa ejekan.
"Jadi kau dari kasta bawah?" Sehun ingin memperjelas hinaannya.
Baekhyun tersulut emosi. "Ya. Ada masalah?"
"Ahh tidak, hanya saja…" Sehun masih dengan sisa tawanya, melanjutkan. "Kupikir kau sedang memata-matai kami atau semacamnya karena kita tahu sendiri, kelas ini terlihat lebih baik daripada kelas-kelas lainnya. Oh maksudku, jauh lebih baik."
"Oh Tuhan, aku sudah salah menilaimu." Baekhyun tertawa tidak percaya. Kenapa wajah malaikat di depannya bisa berubah tiba-tiba menjadi Satan menjengkelkan.
"Jangan kau pikir semua di kelasku itu sama."
"Apa? Kau pikir aku tidak tahu? Kalian hanya sekumpulan orang yang suka bersenang-senang dengan kebodohan."
"Jaga bicaramu, Tuan sombong."
Sehun melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku bicara fakta. Kalian yang menghuni kelas itu hanya berandalan yang kebetulan punya sedikit otak sehingga tidak terlalu jatuh di kelas E."
Baekhyun menunjuk anak itu tepat di hidungnya. "Kuperingatkan kau-"
"AWAS!"
DUAKKKK!
Baekhyun menganga lebar ketika sebuah tong sampah melayang di hadapannya.
Sebuah Tong Sampah.
SEBUAH TONG SAM- maaf mendramatisir.
Tapi ini benar-benar sebuah tong sampah.
"Apa yang…"
Dan kabar baiknya adalah, tong sampah itu mendarat di kepala Oh Sehun.
Mengabaikan Sehun yang langsung dikerubungi beberapa siswa untuk menolongnya –dia tidak sadarkan diri, omong-omong- Baekhyun refleks mundur dengan pelan dan matanya melihat ke arah dari mana tong sampah itu melayang.
Saat itu, ia pun mendapati seorang pemuda tengah menarik kerah pemuda lainnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Baekhyun yakin sekali, berandalan itulah yang telah mengamuk dan melempar tong sampah ke arahnya –ke arah Sehun maksudnya. Dan… dimana Sehun?
"Bawa dia ke UKS."
Baekhyun terpaksa menghentikan percekcokan mulutnya karena Oh Sehun sudah terlanjur digotong ke UKS.
"Ne sunbae, kau bilang akan menghajar anak kelas satu ini yang telah menghalangi jalanmu." Pemuda tinggi yang tengah mencengkeram atau mungkin mencekik sunbae-nya itu bertanya datar.
"A-ampun, le-lepaskan aku." Mohon si kakak kelas dengan sangat.
"Kau pikir ini jalan nenek moyangmu?" Pemuda tinggi itu masih bersikeras. Tidak mau menurunkan kakak kelasnya barang sedikitpun. Justru tangannya makin terangkat tinggi dan membuat korbannya makin tercekik.
Baekhyun meringis ngilu. Ini baru hari pertamanya di sekolah SMA. Dan ia sudah disuguhi adegan pembunuhan.
"Seseorang tolong hentikan dia!"
"Panggilkan Guru!"
"Cepat rekam, viewers-nya pasti banyak kalau di upload ke Youcube."
Dan jeritan-jeritan lainya yang tidak mampu lagi Baekhyun dengar. Hey hey, jangan bercanda. Ia pikir untuk kasus ini, Guru saja tidaklah cukup. Mereka butuh polisi.
Tak lama kemudian, perkelahian –atau mungkin lebih kepada pembantaian- itu akhirnya terhenti setelah dua orang guru datang untuk melerai. Tak lupa seorang satpam pun diturunkan karena sepertinya, butuh tenaga ekstra untuk menyeret mundur si berandalan dari arena bergulat.
Baekhyun masih mematung di tempatnya. Jujur saja, baru kali ini ia melihat perkelahian umum secara langsung. Terlebih ketika tong sampah itu melayang, jantungnya terasa mau copot.
Dan ketika si berandalan di giring ke ruang konseling, Baekhyun sempat beradu pandang secara tak sengaja. Benar-benar tak sengaja. Ia pun hanya mampu diam seperti orang bodoh saat berandalan bongsor itu berkata, "Apa lihat-lihat?"
Serius, ada apa dengan hidupnya?
.
.
.
Tbc
.
.
.
Author Note:
Akhirnya chapter satu bisa publish, yehey! Maaf kalo humornya kurang ngena, dan romance-nya juga belum muncul, sengaja hehe. Dan ada yang tau siapa berandalan di atas? Hahaha, pasti udah pada bisa nebak. Yaudah deh, pokoknya sampai jumpa di chapter depan ya!
