Wahhh terimakasih ya review nya. :)

Mumpung ni hari Minggu, ada waktu ngarang chapter 2. Jadi ini deh chapter 2. Updatenya cepat kan? hehe

Seperti yang di janjikan...chapter yang satu ini agak panjang

Enjoy!


Bab 2

Misi sebelum menguntit: Interogasi teman-teman yang kenal Sakura dan Sai.

"Yamanaka Ino! Teman terdekat Sakura-chan."

"Saya tau itu."

"Kita mulai dari dia dulu."

"Tapi kamunya yang tanya. Aku tunggu di luar tokonya."

"Enak saja! Kenapa hanya aku yang tanya? Tidak adil!" keluh Naruto.

"Kalau begitu jangan tanya!"

Naruto mengerutkan dahinya, "Dasar penakut!"

"Apa katamu?" tanya Sasuke dengan suara keras.

"Kamu takut orang-orang pada tau kamu cemburu sama Sai bukan?" ejek Naruto.

"Persetan kau Naruto!"

"Jadi? Ikut tanya atau tidak?" tanya Naruto sambil menahankan tawanya.

"Hn." Respon Sasuke kesal, "Kecuali Ino."

Naruto mendesah, "Yah, apa bole buat, Sasuke takut sama Ino."

"Bukan karena itu bodoh! Perempuan itu ribut sekali dan saya tidak mau mendengar ocehannya." jelas Sasuke tegas.

"Sama saja takut!"

Kedua pemuda ini berdebat tanpa henti dalam perjalanan mereka, sampai akhirnya mereka sampai di depan toko bunga Yamanaka, baru mereka terdiam. Naruto yang tadinya berdiri di samping Sasuke, tiba-tiba di dorong Sasuke masuk ke dalam toko, mengakibatkan Naruto jatuh di lantai.

"Sialan kau!" teriak Naruto yang dengan cepat berdiri mencari Sasuke yang sudah hilang dari pandangan.

"Naruto? Kau baik-baik saja kah?"

"I-Ino!" seru Naruto, "Yo."

Ino yang memasang wajah bingung berjalan dari counter tokonya mendekati Naruto, "Tumben kamu kemari? Pasti ada maunya."

Tepat sasaran!

'Dasar Sasuke sialan! Awas kau!' seru Naruto di batinnya.

"Atau jangan-jangan, mau beli bunga buat Hinata? Akhirnya!"

"Hah? B-bukan! Aku kemari karena ada sesuatu yang ingin kutanyakan." jelas Naruto panik dengan wajah memerah.

Ino mengerutkan alisnya, "Yah! Sampai kapan kamu mau membuat Hinata menuggu? Kamu tau kan dia suka sekali sama kamu? Apa kamu masih punya perasaan sama Saku…"

"Aduh Ino! Cerewet sekali sih kamu." Sekarang Naruto tau kenapa Sasuke tidak mau ikut-ikutan menginterogasi Ino. "Aku hanya mau tanya, apa hubungan Sakura-chan dengan Sai?"

"Hah?" seru Ino yang sekarang terlihat sedikit marah, "Emang mereka ada hubungan apa?" tanyanya dengan suara keras.

Kedua pria tampan yang di sebut Ino sekarang satu tim dengan Sakura, tentu Ino sangat iri pada temannya yang berambut merah muda itu. Kenapa Sakura begitu beruntung? Sedangkan dia terjerat dengan Shikamaru yang super malas dan Choji yang gemuk dan rakus. Sekarang tambah dengar Sakura yang senang sama Sasuke malah sering keluaran dengan Sai (target Ino yang baru, karena dia sudah pasrah dengan Sasuke yang kelihatannya tertarik juga dengan Sakura.)

Naruto menelan ludahnya, sambil berkeringat dingin saking takutnya dijadikan punching bag nya Ino, "Bukan begitu!"

"Lalu?"

"Sai dan Sakura-chan dekat-dekat ini semakin sering menghabiskan waktu berduaan." jelas Naruto cepat, "Nah, kita ingin tau sebenarnya apa yang mereka lakukan saat mereka berdua. Mereka selalu merahasiakan kemana mereka pergi dan apa yang mereka lakukan. Apa kamu benar-benar tidak tau apa-apa?"

"Sama saja bodoh! Berarti Sai-kun benar-benar pacaran dengan si dahi lebar kan? Sial! Katanya hanya Sasuke-kun, sekarang tambah Sai-kun? Hebat sekali dia!" bentak Ino keras-keras.

"Bukan begitu Ino!"

"Lalu?"

"K-kita tidak tau apa mereka berdua benar-benar pacaran atau tidak. Sakura-chan sih tidak pernah menggoda Sai di depan kami."

Gadis pirang yang marah itu langsung reda setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Naruto.

Setelah menarik nafas dalam-dalam untuk menenagkan dirinya, Ino berkata, "Ini sih jelas aneh."

"Eh?"

"Kalau dia benar-benar suka, pasti Sai-kun sudah digoda. Setauku Sakura tidak pernah curhatan tentang Sai, malah aku lelah mendengar ocehannya tentang Sasuke-kun. Kalau Sakura memang benar-benar menjalin hubungan dengan Sai-kun, buat apa juga dia masi tergila-gila sama Sasuke-kun? Sakura orangnya setia dan jujur , tidak mungkin juga sih." Jelas Ino sambil memikir dan memegang dagunya." Ngomong-ngomong, apa maksudmu dengan 'kita' barusan? Berarti bukan kamu saja yang ingin tau. Jangan-jangan…" tanya Ino curiga.

"Ohoho, kamu tau la siapa!" jawab Naruto sengaja mengerakan suaranya, sambil memalingkan kepalanya ke arah pintu masuk yang terbuka lebar. Dia tau Sasuke sedang diam-diam mendengarkan.

Ino yang mengerti Naruto pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.

"Ino! Tolong janji jangan bilang apa-apa ke Sakura-chan. Aku pasti dihajar habis-habisan kalo ketahuan menguntit dia. Bukan aku saja, kemungkinan juga partnerku bisa ikut termakan maut."

"Baiklah." angguk Ino, kemudian memasangkan wajah yang mengerikan dan berkata,"Jangan lupa kasi tau hasil investigasinya ya. Kalau memang benar Sakura sekarang menjalin hubungan dengan Sai-kun, perempuan itu tidak akan kuampuni!"


"Apaan-apaan tadi hah?"

"Apanya?"

"Bocor banget sih kamu!"

"Salah siapa dulu? Kamunya dorong-dorong orang sampai jatuh, sakit tau! Lagian aku juga tidak sebut namamu."

"Sial kau!"

"N-naruto-kun…" terdengar suara wanita yang lembut memanggil nama si pemuda pirang.

Naruto yang tadinya mengadu tatapan mautnya dengan Sasuke, sekarang tersenyum lebar menghadap gadis cantik yang memanggil namanya. "Hey, Hinata-chan!"

"A-apa kabar N-Naruto-kun…S-Sasuke-kun…" sambut Hinata malu-malu.

"Baik! Kamu sendiri?" balas Naruto dengan ceria, sementara Sasuke hanya diam dan masih menyorotkan tatapan membunuhnya ke arah Naruto.

"B-baik." jawab gadis berambut gelap itu dengan wajah yang semakin memerah.

"Oh ya Hinata-chan!"

"Y-ya?"

"Apa kamu tau apa-apa tentang hubungan Sakura-chan dan Sai?"

"Eh? Sakura-chan dan Sai-kun?"

"Iya. Mereka dekat-dekat ini sering berduaan, ngak jelas kemana dan apa yang dilakukan. Apa kamu tau apa-apa ne Hinata-chan?"

"Uhmm..Saya sih sering melihat mereka berpiknik berdua."

Berpiknik berdua

Berpiknik berdua

Dua kata ini terulang-ulang di batin Sasuke yang tiba-tiba merasa sangat terpukul.

"B-be-berpiknik berdua?" teriak Naruto yang memasang ekspresi kaget, "Kau dengar itu Sasuke?"

Sasuke yang terpukul hanya mematung di tempat dengan wajah yang pucat pasi, tentu saja tidak mendengar apa pun yang dikatakan Naruto.

"S-Sasuke-kun…Kamu tidak apa-apa?"

"Oi Sasuke!"

Melihat Sasuke masih mematung, Naruto menghiraukannya dan mulai bertanya Hinata lagi, "Dimana mereka biasa berpiknik?"

"Di sekitar kebun bunga milik keluargaku." Jawab Hinata yang sedikit bingung, "Aku lihat mereka selalu di sana sekitar pukul 3 atau 4 sore, setiap hari Jumat dan Sabtu."

"Wah! Sudah berapa lama mereka berpiknik begitu? Terus, mereka ada berciuman tidak? Atau bermesraan?"

Wajah Hinata semakin memerah setelah mendengar kata 'berciuman' dan 'bermesraan' dari mulut Naruto.

"S-sudah kira-kira sebulan. Kalo berciuman sih…"

"Adakah? Ada?" tanya Naruto panik dan wajahnya semakin dekat dengan Hinata, membuat Hinata langsung kehilangan suaranya dan akhirnya pingsan di tempat.

"Kyaa! Hinata-chan!" teriak Naruto semakin panik dan dengan cepat dia menggendong Hinata yang tergeletak di jalan. "Tenang Hinata! Aku akan menggendongmu pulang. Oi Sasuke! Kita ke tempat Hinata sekarang!"

Masih tidak ada respon dari Sasuke yang mematung, dan kali ini Naruto menginjak kaki Sasuke sekeras mungkin.

Sasuke teriak kesakitan.

"Sekarang bukan saatnya untuk melamun tolol! Kita harus ke tempat Hinata sekarang."

"Hah? Buat apa?" tanya Sasuke yang merintih kesakitan.

"Ngak lihat Hinata-chan pingsan?"

"Kenapa aku harus ikut?" protes Sasuke.

Menatap Sasuke dengan ekspresi serius ala spy, Naruto menjawab,"Karena dia memegang informasi tentang Sai dan Sakura-chan."


"H-Hinata-chan! Kamu baik-baik saja kah?"

Hinata yang baru sadar dan masih terbaring di ranjangnya memalingkan kepalanya ke sumber suara yang familiar itu.

Setelah mata lavender nya bertemu dengan wajah Naruto, dalam sekejap, mukanya langsung memerah dan ia pun dengan cepat menyembunyikan kepalanya ke dalam selimut.

"Eh?" respon Naruto kebingungan.

"Cepat tanya!" bentak Sasuke tak sabar.

"Sabar dong! Dia baru sadar." desis Naruto yang kemudian menggaruk kepalanya dan melihat ke arah Hinata yang menutupi dirinya di dalam selimut, "Maaf ya Hinata-chan."

Dengan pelan Hinata mengeluarkan kepalanya dari selimut, "T-tidak apa-apa." Katanya lembut dan gugup, "K-kenapa Naruto-kun dan Sasuke-kun ada di sini?"

"Oh, kita mau tanya lagi, tentang Sai dan Sakura-chan."

"Oh iya! Ma-maaf ya Naruto-kun, aku pingsan begitu saja di tengah pembicaraan."

Naruto tersenyum, "Tidak apa-apa kok Hinata-chan. Nah, yang mau kutanya… apa kamu melihat Sai dan Sakura-chan bermesraan? Atau berciuman? Seperti pasangan begitu, ada tidak?"

Wajah Hinata mulai memerah lagi mendengar kata-kata itu dari Naruto. Untung saja Naruto tidak mendekat kali ini. Kalau dia mendekat lagi, Hinata pasti pingsan lagi.

"A-ahh..I-itu aku tidak tau." kata Hinata sambil menundukan kepala, " Soalnya aku cuman melewatin mereka."

Naruto dan Sasuke lagsung mendesah dengan kekecewaan.

"M-maaf Naruto-kun…Sasuke-kun…"

"Tidak apa-apa Hinata." senyum Naruto sambil memegang bahu Hinata, "Kamu sudah sangat membantu! Terima kasih ya." Dan dengan begitu saja, Hinata kembali pingsan.


Sekeluarnya dari rumah Hinata, keduanya berdiam sampai akhirnya Naruto mulai mendesah dan berkata, "Sayang sekali hari ini baru hari Selasa. Kalau begitu kita harus nuggu sampai hari Jumat."

"Hn…" jawab Sasuke singkat sambil berjalan menjauhi Naruto.

"Tunggu! Mau kemana kau?"

"Pulang."

"Tidak, tidak, tidak. Masih banyak orang yang harus kita interogasi. Tenten, Shikamaru, Choji, Neji, Lee, Kiba, Shino, para sensei, nenek Tsunade, tante-tante pasar…"

"Bodoh! Buat apa kita tanya sebanyak itu?"

Naruto menghelakan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya, "Sasuke, Sasuke, Sasuke… Informasi itu penting. Semakin banyak informasi itu, semakin mudah bagi kita untuk cari tau."

"Satu informasi sudah cukup. Bye."

"Ayolah! Itu Kiba di toko ocha, ayo tanya dia!" Naruto menarik lengan Sasuke


"Oi Kiba! Ada yang mau kita tanyakan."

"Yo Naruto, Sasuke…" sapa Kiba santai. "Ada apa?"

"Kita mau tanya soal Sai dan Sakura-chan. Apa kamu pernah melihat mereka berduaan?"

"Sai dan Sakura? Ada sih…"

"Dimana? Dimana?" tanya Naruto tidak sabaran.

"Di jalanan."

"Terus? Mereka mesra tidak?"

"Hah?" seru Kiba kaget.

"Ayo jawab!" Naruto bersikeras.

Kiba sweatdrop melihat tingkah laku Naruto yang tidak sabaran dengan pertanyaan anehnya."Ngak juga sih. Aku seringnya lihat mereka berdua mengangkat beberapa buku atau belanjaan sambil tertawa dan asik ngobrol."

"Kau dengar itu Sasuke? Sudah kuduga!"

"Tertawa dan asik ngobrol?" gumam Sasuke sambil menunduk."Tertawa dan asik ngobrol?" ulangnya lagi."T-tertawa dan asik ngobrol.." suara Sasuke semakin terdengar mengerikan.

"A-apa sih yang kalian pikirkan?" tanya Kiba yang benar-benar bingung.

"Mereka sering keluar berduaan!" sahut Naruto palak, "Tidak pernah mengajak kita, dan yang paling aneh, mereka sering piknik berduaan dan kita tidak pernah tau sampai tadi kita tanya Hinata! Kau dengar? Berduaan dan diam-diam!" seru Naruto, matanya mempelototi Kiba

"Hah? Jadi kalian berencana untik menguntit mereka? dan kenapa Sasuke mau juga ikutan?"

"Err, itu…"

"Cukup Naruto! Saya mau pulang!" bentak Sasuke, wajahnya merah padam berkat amarah yang sudah berkibar-kibar di dalamnya. "Ingat hari Jumat!" dan dengan begitu Sasuke pun pulang, sambil menghentakan kakinya.

"Ada apa sih dia?" tanya Kiba yang tambah kebingungan.

Naruto tertawa terkikih-kikih dan menjawab, "Ntah tuh."


Nantikan Bab 3! Sasuke dan Naruto akan memulai petualangan menguntit mereka.

Ingat r&r ya :)

Thanks for reading.