Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Selamat HTNH/NHTD!

Memang sih HTNH udah lewat nun jauh lamanya… tapi, tetap nggak menampik saya seneng banget menuliskan kata-kata di atas tersebut. Hihihi.

Sepertinya sudah terlampau jauh dari rencana update berkala, saya baru update fic ini. Aduh, fic ini pasti terlupakan. Tak apa. Saya harap, chapter ini cukup memuaskan untuk pembaca sekalian—mengingat kemampuan menulis saya agak menumpul karena lama tak diasah.

.

Dozo, Minna-sama!

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: AR, cliché, a little bit plotless, TWT (Time? What Time?), slight flashback.

Special backsound: Terjemahan ending O.S.T Trouble Chocolate

.

Have a nice read. ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Di saat kuberjalan sendirian

Kau selalu ada di belakangku

Walaupun kadang kusakiti dirimu

Kau diam dan tetap menanti diriku

.

#~**~#

Special fic for NaruHina Tragedy Day,

.

Lukisan Senja

.

Chapter 2

"Flashback"

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Hinata tidak bisa tidur. Bagaimanapun juga ia tetap seorang gadis yang tak nyaman untuk tidur sebelum tubuhnya bersih terlebih dahulu. Sedari tadi ia menunggu Naruto sampai tertidur lelap, barulah ia bergerak dengan sangat berhati-hati untuk keluar dari tenda.

Setelah keluar dari tenda, Hinata mengaktifkan byakyugan untuk mencari sumber air. Sembari ia menelusuri jangkauan pandangnya, gadis itu menapaki tanah yang menjadi lunak karena hujan.

Tak begitu jauh dari tenda, putri sulung Hiashi Hyuuga itu terdiam. Kewaspadaannya meningkat tatkala ia menyadari sekumpulan ninja bersembunyi mengitari kawasan tempat ia dan Naruto menginap malam ini. Jika asumsinya tidak salah, mereka adalah ninja yang baru saja ditumpas Naruto.

Bukannya mereka sudah diringkus, eh? Mengapa bisa kemari lagi?

Kini ia mengambil langkah mundur, mulai merapat pada tenda. Dengan musuh sebanyak ini, gadis dengan byakyugan aktif tersebut tak begitu yakin dapat mengatasi mereka sendirian.

"Konbawa, Ojou chan."

Sepasang mata lavendernya melebar. Sejak kapan pemimpin segerombolan bandit ini tengah mengalungkan lengan padanya? Menekan permukaan dingin kunai pada urat nadi yang bersemayam di lehernya, lalu mengunci pergerakannya. Rupanya ia telah lengah.

"Ssshh… tak usah takut, Ojou chan," bisiknya tepat di telinga yang tertutupi rambut indigo. "Jangan berani-berani kau membuat suara atau bergerak. Kami tak mau Kyuubi sampai terbangun."

Bulu kuduknya meremang. Didengarnya tawa kecil terlontar dari para bandit yang juga ninja. Menertawakannya yang masih tak meresponkan apa pun.

Ibu jari yang semula mengenggam kunai itu mendekat pada pipinya, membelainya perlahan. Tangannya yang satu lagi mulai menjalar kemana-mana. Kemudian desahan kecil menggema di telinganya. Membangkitkan rasa jijik. Bukan hanya karena ia keturunan ningrat, tapi sebagai seorang perempuan pun, tak pernah ada seorang pun yang berani melecehkannya seperti ini. Sungguh, Hinata merasa terhina.

"Ternyata… kau sangat cantik, Ojou chan," desahnya dengan nada seduktif, "Bagaimana kalau kita menghabiskan malam bersama?"

Kesabaran mempunyai batasan. Kali ini Hinata Hyuuga habis sabar, untuk pertama kali semarah ini dalam hidupnya.

Bermula dengan sikutan maut tepat pada pusat aliran chakra musuhnya yang membuat orang kurang ajar itu berjengit, dengan kilat Hinata menepis kasar kunai yang menorehkan goresan panjang pada punggung tangan kirinya. Tidak peduli dengan luka terbuka yang mengalirkan darah pekat, gadis itu menginjak kaki seseorang yang membelitnya. Orang itu mengaduh, membuat kawanannya ribut karena terkejut. Tak percaya pemimpin mereka diserang oleh seorang gadis.

Pergerakannya tak lagi terkunci, Hinata melompat, menjauh dari zona berbahaya yang sempat mengurungnya. Kuda-kuda bertarung dipasangnya sempurna.

"Kenapa kalian bisa kemari?" tanya Hinata, dengan suara pelan bernada tajam. "Penjara adalah tempat yang tepat untuk penjahat macam kalian."

"Cih." Dia meludah. Tatapan murka dilayangkannya pada Hinata, namun gadis itu sama sekali tak gentar. "Kau pikir sekumpulan ninja idiot dari Amegakure dapat mengurung kami di balik jeruji besi? Jangan bermimpi!"

Menyadari makna di balik perkataannya, Hinata mengigit bibir bawahnya. Pikirannya melayang pada seberapa banyak ninja dan penduduk sipil yang telah disakiti mereka.

"Kami mencari kalian, ninja-ninja dari Konoha. Membalaskan dendam yang membayang dari masa lalu…" katanya, sarat dendam yang sepatutnya tak lagi ada.

"Terlambat…" ucap Hinata, sorot matanya sarat akan kekecewaan, "kalian sebenarnya hidup di zaman apa? Zaman purba? Kedamaian sudah datang, namun kalian masih tertidur."

"Bicara apa kau? Kau tak mengerti apa pun, Dasar Kerdil!" maki orang itu. Bersamaan dengan kata-kata yang tak pantas diterima Hinata, nyaris seluruh ninja menghujani gadis yang berasal dari klan Hyuuga itu.

Sempat Hinata terdiam, inilah pertama kalinya seseorang menghinanya dengan makian yang terlalu jelek untuk didengar. Namun Hinata sama sekali tak membiarkan dirinya terpengaruh oleh hinaan yang dilontarkan padanya.

Berteriaklah, panggilkan dia sekarang juga! Pikirannya tak fokus untuk menangkis semua serangan yang dihujamkan padanya. Hinata berusaha mencari waktu yang tepat demi menghindar dari hujanan chakra dengan berbagai macam jurus, kemudian melancarkan serangan balik.

Sekali lagi, rencana hanyalah rencana jika ia tak mampu merealisasikannya.

"Oi, Brengsek!" Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, seseorang telah berdiri di depannya, melindunginya dari semua jurus ninja terhebat yang dialamatkan untuknya. "Berani-beraninya kalian main keroyokan, dengan seorang perempuan pula… Dasar Pengecut!"

Semua serayangan buyar. Hinata mendapati punggung tegap yang berbalut jumpsuit oranye hitam menjadi fokus pandangnya. Senyum lega terkembang. Ia tidak tahu ingin berkata apa mendapati pemuda di hadapannya menjadikan diri sendiri sebagai tameng untuk melindunginya.

"Haha… akhirnya, kau muncul juga, Pahlawan Legenda." Sang pemimpin meludah, seringai bengis tampak di wajah bernoda percikkan darah, tertimpa sinar rembulan.

Senyum sinis melengkung di bibirnya. Digunakannya lengan punggungnya untuk menyeka rahangnya yang tertoreh selintang luka. "Oh, rupanya ada yang merindukan kematian…" Calon kuat pewaris tahta Hokage itu melemaskan otot-ototnya, siap unjuk kebolehannya yang tersohor hingga ke seluruh penjuru dunia ninja.

"Tch. Kudengar selentingan kabar, katanya kau tak gemar membunuh, Bocah," sindir ninja lainnya.

Naruto mendengus. "Dan sejak kapan membunuh itu menjadi aktifitas yang layak digemari? Kurasa itu kegemaran yang tidak sehat. Yeah, seperti gosip apa pun yang pernah kalian dengar tentang aku, aku memang tidak memiliki hobi membunuh."

"Ternyata sindrom kepahlawananmu telah muncul, eh?" Pelaku yang sempat menggerayangi tubuh Hinata mendecih, ekspresi jijik terpeta jelas. "Munafik kau, Dasar Pahlawan Kesiangan! Kyuubi dalam tubuhmu itu bukti konkrit segalanya atas seberapa banyak nyawa yang melayang—"

Perkataan itu jelas-jelas menyengat emosi Naruto. Pemuda yang menjadi figur inspiratif untuk setiap orang itu hendak menukas ucapan penjahat jelek yang menuduhnya hipokrit.

"Itu Kyuubi dan bukan Naruto kun! Sudah berapa lama sejak kisah lama itu terlewat? Dan kalau kau berlagak sok masih sekuat itu, tak tahukah kau betapa menderitanya seseorang yang diharuskan menanggung dosa, yang bahkan tak mencicipi kenikmatan dari dosa itu sendiri? Pun kalau bisa memilih, tak akan ada seorang pun yang mau menjadi wadah dari bijuu seperti Kyuubi."

Batal sudah niat suci Naruto untuk mendamprat penjahat di hadapannya. Seseorang telah mendahului melakukan hal yang sesuai dengan kehendaknya

Tak ada yang tak terkejut ketika suara itu melengkingkan amarah, termasuk Naruto,yang lekas menoleh ke belakang. Didapatinya Hinata terengah-engah setelah melontarkan pembelaan—yang tentu saja tak akan direspon positif para penjahat itu—untuknya. Mata menyiratkan emosi yang di sekelilingnya urat-urat berkedut menojol—byakyugan telah diaktifkan.

Tidak pernah terbayang di benaknya, seseorang akan membelanya seperti tadi. Lebih mengejutkan dari perkiraan tentang cuaca atau iklim yang akhir-akhir ini tak menentu, Hinata adalah orangnya. Hinata-lah orang yang marah karena kisah sensitif mengenai jinchuuriki Kyuubi beberapa tahun silam.

Tuhan… di antara jutaan makhluk hidup yang bermukim di bumi, mengapa harus gadis bernama Hinata Hyuuga yang kini tengah bersitatap dengannya?

Tepatnya, mengapa harus Hinata yang menindakkan atau mengatakan hal-hal yang selalu mengesankan untuk Naruto?

Mungkin, memang seharusnya begitu.

Mungkin, memang sudah garis takdirnya seperti ini.

Dan mungkin, karena suatu saat nanti, ia tak mampu untuk melakukannya lagi.

"Gadis kurang ajar!" geramnya, murka.

Naruto baru saja akan berterimakasih pada Hinata, namun tak sempat. Pula jika ia memiliki kesempatan, ia tidak akan pernah mendapat balasan.

Makhluk bernama manusia yang hati nuraninya digelapkan oleh benci tak bertepi, bagai hujan menyerang bertubi-tubi. Dengan sigap Naruto menangkis semua serangan. Bersama Hinata, mereka bersatu padu membalas terjangan setiap jurus pamungkas yang dilancarkan pada sepasang muda-mudi itu.

Naruto memfokuskan perhatiannya untuk melancarkan serangan balik pada setiap ninja yang menghadangnya. Ia tahu pasti bahwa jika berada di sisinya, siapa pun akan baik-baik saja. Atau setidaknya, begitulah yang diinginkannya.

Sampai akhirnya, jeritan dengan range vocal terbilang tinggi untuk suara alto itu mendendangkan getar yang seakan merobek pita suara.

Seketika diterpa firasat buruk, Naruto menebas habis tiga orang sekaligus dengan satu rasengan biasa. Di kegelapan malam, mata birunya bergulir nyalang, mencari sumber suara yang membuat bulu kudungnya meremang.

"LARIII!" instruksi suara itu. Peduli setan jika tindakannya dapat menguras habis seluruh persediaan oksigen dari kapasitas maksimum yang dapat ditampung paru-parunya. "CEPATLAH LARI, NARUTO KUN!"

"Tutup mulutmu, Gadis Bodoh! Aku tidak akan membiarkan seorang pun bisa hidup tenang, jika dia akan menghalangi rencanaku," ancamnya.

Mata birunya terpancang pada sesosok monster—yang bentuknya tidak dapat dideskripsikan dengan baik, berlendir menjijikkan dengan bau busuk menyengat, cakarnya yang dua kali lebih panjang dari ukuran telapak tangan manusia dewasa pada umumnya, terletak di leher mulus milik Hinata.

Sejak kapan penjahat itu bertransformasi menjadi monster?

Naruto mendecih. Dia kecolongan. Hinata dalam bahaya.

Simpan dulu ketakjubannya mendapati gadis itu sama sekali tidak menangis. Nyawa sepupu perempuan Neji jelas-jelas dalam bahaya. Seperti sinetron atau cerita aksi lainnya, jika ia mendekat pasti penjahat jelek itu akan menggorok habis kepala berwajah cantik itu hingga putus dari tempat asalnya; dengan kata lain melayangkan nyawa Hinata Hyuuga.

Rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat, urat nadi di pelipisnya berkedut menahan emosi. Digigitnya tepian bibir kuat-kuat dengan selaksa barisan giginya sendiri yang terasah tajam. Rasa amis bercampur ludah terkecap, mungkin ada darah. Naruto bahkan tak peduli dengan kondisinya sendiri. Yang dikhawatirkannya adalah Hinata.

"La-larilah, Naruto kun!" Hinata melemparkan pandangan redup padanya. "Dia punya rencana gila untuk membangkitkan Madara dan—ukh!" Gadis asal klan Hyuuga itu mengaduh karena perutnya disodok oleh penjahat yang sedang menerkamnya. Dengan seluruh kekuatan yang tersisa, ia meronta-ronta liar semampunya.

"Kau terlalu banyak bicara," kata penjahat tersebut, "sudah sepatutnya aku membungkammu."

"Jangan berani-berani kau menyakiti Hinata, atau kau benar-benar akan kukirim ke neraka!" Naruto memunculkan beberapa kloning bayangan untuk menangani anak buah penjahat brengsek yang meringkus Hinata, serta untuk menyempurnakan jurus Rasengan Shuriken yang berpendar di telapak tangannya.

Hinata Hyuuga menyesal, sungguh. Ia benar-benar merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya—ketika orang brengsek tersebut entah sejak kapan menyelinap, menculiknya lalu mengunci pergerakannya.

"Akulah yang akan mengirim kau ke neraka, Bocah Kyuubi—"

"Jangan buang waktu lagi, Naruto kun! Cepat beritahukan pada—"

"—urusai, Kuso Ojou chan!"

"—AAARRGHH…"

Manusia jahanam dengan wujud layaknya monster hendak membungkam Hinata, taring-taringnya tumbuh cepat, dengan kilat menghunjam dalam pada leher Hinata. Merobek kulit yang semulus sutra, menghisap darah, menghirup wangi alami yang menguar dari gadis itu, hingga jeritannya seketika mati tatkala taring tajam itu menembus bagian terdalam lehernya.

"Pueh…" Monster itu melepaskan giginya yang semula tertancap di bagian sensitif milik gadis tersebut, membanting putri sulung Hiashi Hyuuga pada bumi, menyeka aliran darah dari bibirnya lalu berjalan menjauh, "…rasanya tidak buruk juga."

DEG

Dia mematung mendapati sosok itu lagi-lagi bersimbahkan darah, tumbang tepat di depan matanya. Tak membuang waktu lagi, lekas ia berlari menghampirinya. Meraih tubuh dengan napas tersendat-sendat dalam pelukannya, peduli setan dengan luka menganga di lehernya. Tidak peduli walau amisnya darah meracuni indera penciumannya—membangkitkan rasa mual, pun ketika darah gadis itu ikut terpecik pada tubuhnya.

"KEPARAAAT!" maki Naruto.

Hendak ia menyongsong musuh itu, melumatkannya menjadi debu. Sebelum ia sempat melaksanakan niatan tersebut, tangan yang berlumuran darah menyentuh lembut pipinya. Sentuhan serapuh kepakan sayap kupu-kupu itu mengalihkan titik fokus pandangannya. Diraihnya tangan itu, sekali lagi mengenggamnya, berusaha mengalirkan kehangatan.

"Hinata…" lirih Naruto parau.

Mata yang sayu menyiratkan sesuatu, bibir yang dialiri darah terbuka lalu terkatup. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi pita suaranya tak menggetarkan suara apa pun. Dirasakannya tangan perempuan berambut indigo itu mendingin dalam genggamannya. Gadis itu terlalu memforsir diri bahkan hanya untuk mempertahankan kesadarannya. Kemudian, dia terkulai lemah.

DEG

Aura bijuu meledak, langit hitam dinodai pendar chakra merah menyala, beratapkan bintang gemintang memandang simpati pada seorang figur pahlawan yang menyeka kasar airmatanya, ketika seorang gadis tak sadarkan diri dalam pelukannya.

Perasaan sakit ini lagi. Sakit yang tak terdefinisi secara pasti. Tak dapat ditafsirkan secara verbal, tak dapat direfleksikan pada lukisan. Sakit yang menjalar ke seluruh penjuru tubuhnya, menggerogoti tak ubahnya parasit yang tertanam dalam jiwa. Sakit mendapati gadis dalam pelukannya, sekali lagi disakiti tepat dalam jangkauan pandang mata biru yang berubah warna menjadi merah.

DEG

Transformasi sempurna.

Bijuu mode.

"Oi, Bocah!" Kyuubi berseru marah pada jinchuuriki-nya, "Ini kedua kalinya kau mengamuk, perlukah kau seserakah ini merampok chakra-ku? Apa yang terjadi, Bodoh?"

Kyuubi tak diacuhkannya. Walau ia dalam mode bijuu, tetap penuh kelembutan dikesampingkannya gadis itu di tempat yang sekiranya aman. "Aku janji, tidak akan lama," bisik pemuda itu, meski ia tahu sang gadis tak kuasa membalasnya.

Usai mengamankan gadis itu dengan disandarkan pada sebatang pohon kokoh, langkahnya menghentak bumi ketika aura merah karena marah menghempaskan segalanya.

Si monster tertawa bengis, tak tahu-menahu konsekuensi yang harus ditanggungnya akibat menyakiti gadis tersebut.

"Bajingan," umpat Naruto.

Yang dimaki semakin tertawa bengis, menggelegar garang di kesunyian malam.

Sungguh sangat meremehkan namanya jika ia sekedar marah. Tidak. Pemuda yang memiliki cita-cita menjadi Hokage itu murka pada fase terakhir, meruncingkan kebencian yang dapat menjelma menjadi dendam.

"HAHAHA—"

"—RASENGAN!"

Fakta mengatakan bahwa rasengan mempunyai konsep yang sama dengan bijuu bom, bahkan lebih dahsyat lagi jika si pengguna jurus sedang dalam mode bijuu. Memiliki tenaga penghancur terkuat, terutama apabila chakra dipasok oleh kombinasi chakra bijuu itu sendiri yang berpadu dengan chakra alam.

Ledakan dengan suara memekakkan gendang telinga.

Alhasil, monster itu tak bisa menuntaskan tawanya, keburu digilas oleh serangan teramat dahsyat putra dari pasangan Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki tersebut. Yang juga meratakan segaris hutan dan sebuah gunung di ujung seberang.

Pasca pertarungan tersebut, masih dalam mode bijuu, ia berlari mendekatinya, memastikan kakak dari Hanabi Hyuuga itu baik-baik saja. Tidak, kondisinya kritis dan kian memburuk. Ia dapat merasakan aliran chakra yang kian melemah.

Melupakan semua yang telah terjadi, bahkan sama sekali tidak ingat kewajibannya untuk menangkap ulang seluruh musuh dan mengembalikannya pada penjara di Amegakure—lagi pula mereka semua sudah terkapar tak berdaya, meninggalkan barang-barangnya dan gadis dalam dekapannya, digendongnya gadis yang selalu terlihat pemalu itu di punggung tegapnya. Secepat kilat menuju desa Konoha yang memiliki ahli medis terbaik ketimbang desa-desa lainnya.

Pemuda yang bercita-cita menjadi Hokage itu juga tidak sempat peduli dengan penampilannya saat ini. Ah, si rubah buruk rupa menggendong putri yang berlumuran darah dan mengangakan luka.

Sebuah cerita baru yang menyedihkan untuk dikisahkan ulang.

Naruto Uzumaki tidak berani membayangkan hal buruk apa pun yang dapat diterima Hinata Hyuuga.

"Kumohon… bertahanlah, Hinata!"

.

#~**~#

.

Beberapa saat kemudian…

"Ara, ara… pertarungan macam apa yang baru saja berlangsung di sini?" Darui menggeleng-gelengkan kepala.

Killer Bee dan rombongannya, sejenak tertegun mendapati jejak chakra bijuu pasca pertarungan yang pastinya luar biasa. Awal mulanya, mereka sedang dalam perjalanan menuju desa Konoha, ketika bumi berguncang. Raungan sedahsyat auman Kyuubi sempat menggelegar, diikuti hempasan kencang angin yang membawa butiran pasir serta kerikil.

Ninja-ninja yang merupakan muridnya terkagum-kagum tatkala menjejaki medan pertempuran, hingga mereka menyadari ada banyak tubuh bergelimpangan, napas terputus-putus pertanda dalam kondisi kritis. Bee mengomando anak-anak didiknya untuk menyelamatkan nyawa manusia-manusia itu, tak menghiraukan kawan atau lawan.

Ketika Killer Bee sedang menganalisa situasi yang sedang terjadi berdasarkan pengamatan di lingkungan sekitar, ia mendapati sebuah tenda berdiri. Bergegas dihampirinya tenda tersebut. Bersama dua orang muridnya, mereka memeriksa dengan seksama tenda dan seisinya.

Pria berkacamata hitam itu memungut sebuah buku familiar berwarna oranye, ada sebaris rapi tulisan tangan seseorang. Ya, ia mengenali buku ini. Waktu mereka berangkat menuju medan perang, Naruto membawa buku ini.

Berarti, Naruto sudah mengembalikan buku—yang sekarang berada dalam genggamannya—ini pada pemiliknya? Jadi, pemiliknya berada di sini. Dan terjadi sesuatu, entah itu peperangan yang terseret dari pertengkaran.

"Wah, banyak sekali ramen instan dalam tas ini…" cetus seorang muridnya yang tengah menggeledah sebuah tas.

"Di resletingnya ada name-tag, coba lihat! Uhmm… Uzumaki Naruto, eh?" Sepasang muridnya berpandangan terkejut. Lalu menoleh pada Killer Bee.

Sejak pertama kali menemukan bekas peperangan yang jejaknya masih baru, Killer Bee tahu sesuatu yang buruk berskala besar telah terjadi. Terlebih, tak perlu banyak berpikir, ia mengerti masalah ini pasti ada sangkut pautnya dengan si anak Hiashi Hyuuga dan Naruto Uzumaki.

Bee mengantongi buku oranye milik Hinata seraya memberikan instruksi pada ninja-ninja dari desanya. "Bagi tim menjadi dua. Regu satu dipimpin Darui, ringkus ulang semua ninja yang terkapar di sini, lalu cepatlah konfirmasi pada desa Hujan. Regu dua, bereskan barang-barang ini dan tendanya. Kita bawa, dan ikutlah denganku ke Konoha!"

.

#~**~#

.

"Aku tak mengerti… lantas, kenapa kau justru ada di sini, Naruto?"

Sepasang alis pirangnya bertautan. "Apa maksudmu, Sai?"

"Kenapa kau ada di sini, jika Hinata dalam kondisi kritis? Kau seperti bukan Naruto yang kukenal saja." Sai menurunkan kuas dari kanvas. Sesungguhnya, mendengar cerita Naruto barusan, dia benar-benar terkejut.

"Aku diusir oleh Sakura chan." Naruto cemberut, pipinya digembungkan dan bibir mengerucut. "Katanya, Hinata tidak butuh dirusuhi olehku."

Sai terdiam sejenak. Rasanya ia bisa mengerti mengapa Sakura bertindak demikian—pasti ada yang disembunyikan gadis itu. "Kalau begitu, bilang saja padanya kau ingin menemani Hinata."

Ganti Naruto yang membisu. Mata birunya kini menyorot lesu.

"Kau tidak siap menemui Hinata? Atau tak sanggup melihat kondisinya begitu mengenaskan?" tanya Sai serius—tanpa nada menggoda sedikit pun.

Hening.

"Andaikan kau yang kini terbaring lemah di ranjang di kamar berbau obat-obatan itu, apa kaupikir Hinata akan menggalau dan diam saja?" Sai menoleh pada kawannya yang tertunduk lemas. "Tidak. Dia tahu apa yang harus dilakukannya, sama seperti kau yang mengerti betul apa yang harusnya kaulakukan."

Sudut-sudut bibirnya perlahan sedikit tertarik ke atas. "Seperti kau saja yang paling mengenal Hinata."

Sai ikut tersenyum. Ditepuknya bahu Naruto sekilas. "Pergilah! Atau kau akan menyesal."

Naruto mengepalkan kedua tangannya, ia mengangguk mantap. Diiringi senyuman Sai, Naruto segera melompat dari tebing yang berpahatkan wajah Hokage tiap generasi. Sai tidak berniat membuang waktu untuk memastikan apakah temannya baik-baik saja menjatuhkan diri dari ketinggian setinggi itu. Bagaimanapun mereka adalah ninja. Bukanlah hal yang sulit untuk menyelamatkan diri dari ketinggian.

Tepat setelah Naruto melompat, terdengar derap langkah tergesa-gesa seseorang dan tapak kaki orang lain yang melangkah lebih santai. Disusul suara napas yang terengah-engah dan dengusan pelan.

"Sa-Sai… li-lihat, hah… hosh…"

"Ya?" sahut Sai seraya menengok ke belakang.

"Bernapas dulu baru bicara, Sakura," celetuk Sasuke seraya menepuk-nepuk punggung Sakura yang tengah membungkuk.

Mengikuti saran Sasuke, Sakura menormalkan sistem pernapasannya terlebih dahulu baru mengulang lagi pertanyaan yang hendak dilontarkannya. "Sai, apa kau melihat Naruto?"

"Aku baru saja berbincang-bincang dengannya. Dia baru saja pergi, ketika kalian datang."

"Kemana dia pergi?" tukas Sakura tak sabar.

"Aku yakin dia pergi mengunjungi Hinata. Ingin mengetahui kondisi terbaru Hinata saat ini," Sai menyadari perubahan ekspresi Sasuke dan Sakura mendengar jawabannya. Lekas ia bertanya, "Memangnya ada apa kalian mencari Naruto?"

Dengan wajah memucat, Sakura yang hendak mengambil ancang-ancang untuk lari mengejar Naruto, buru-buru menjawab pertanyaan Sai. "Ingin mengabarkan pada Naruto kondisi terbaru Hinata saat ini."

Sasuke berdecak kecil. "Sial, kuharap kita tidak terlambat."

.

#~**~#

.

Pintu sudah tertutup. Ia telah berganti baju dengan pakaian steril yang khusus disediakan rumah sakit. Sejenak ia hanya berdiri di ambang pintu, menyentuh gagangan pintu yang terbuat dari logam dan terasa dingin di permukaan telapak tangannya.

Pandangannya tertuju pada seorang pasien yang tergolek lemah di ranjang serba putih. Meneguhkan hatinya, ia menghampiri pasien dengan perban membalut leher. Menarik sebuah kursi pengunjung untuk didudukinya.

Sunyi. Seakan mereka diintai malaikat kematian yang telah menanti tiba waktunya untuk menerkam nyawa mangsanya. Buru-buru digeleng-gelengkan kepalanya, untuk mengusir segala imajinasi liar yang tak seharusnya bercokol di benaknya.

Mata birunya menatap lekat pasien yang tengah terbaring di tempat tidur khusus pasien. Wajahnya tampak tirus dan pucat. Mengherankan. Biasanya ia melihat pipi-pipi yang pucat itu begitu berwarna dengan rona merah berseri.

Dengan ragu, diraihnya tangan berjemari lentik itu untuk digenggam sepasang tangan berkulit tan miliknya. Tangan yang lebih mungil, lembut, kini pucat warnanya namun tetap meradiasikan kehangatan untuknya.

Dikecupnya punggung tangan tanpa cacat cela tersebut. Matanya terpejam ketika tangan dengan permukaan kulit yang halus itu ditangkupkan pada pipi bergaris-garisnya.

Tak menghiraukan perasaan aneh yang mengganjal hatinya, Naruto turut membisu layaknya kesunyian yang melingkupi seisi ruangan tersebut. Termenung ia, merenungi sebuah mozaik kenangan bersama Hinata di sudut memorinya.

Dahulu juga pernah seperti ini, kan? Ketika gadis di hadapannya berulang tahun, tepat pasca perang usai. Situasinya sama. Tertidur di tempat tidur rumah sakit, tak sadarkan diri. Sementara ia hanya mampu menggenggam erat tangan gadis itu. Berusaha meresonansikan sebuah aliran perasaan yang tak mampu diterjemahkan secara verbal.

Namun, kali ini kondisinya berbeda. Mereka tertukar. Kali ini, gadis yang pandai merangkai bunga itulah yang terluka.

Kadang, adakalanya sesuatu perlu dikatakan karena membutuhkan penjelasan.

Adakalanya tindakan itu menjadi sia-sia, jika dilakukan tidak pada tempatnya, tak ada saksi mata pula.

"Maaf, Hinata…" lirihnya di kesunyian.

Walau ia tak mengakui, pada kenyataannya ia tengah menghayati kepedihan mendapati bahwa yang terluka adalah Hinata Hyuuga—bukan dirinya.

Hingga pergerakan kecil terasa dari jari-jemari itu. Mata birunya terbuka, berbinar menyiratkan harapan. Lekas dipandangnya Hinata, ditemukannya bulu-bulu mata lentik itu bergerak samar.

Tirai kelopak mata itu terangkat sedikit demi sedikit, menampilkan iris lavender yang menyorot sayu.

"Hinata, syukurlah…" Naruto Uzumaki mengembuskan napas lega. Seulas senyum lega terkembang di wajah lelahnya.

Merasakan rangsangan dari genggaman tangan hangat Naruto, menyebabkan Hinata siuman. Sungguh, Hinata sama sekali tak menyangka, ketika ia membuka mata untuk pertama kalinya, orang yang berada dekat dengannya adalah Naruto.

Hinata tak bisa menoleh—tentu saja dikarenakan penyangga di lehernya.

"Hinata…?" Naruto memanggilnya lagi.

Hinata tetap diam dengan pandangan kosongnya terarah pada langit-langit kamar rumah sakit.

Naruto terperangah. Bahkan sekelumit perasaan galau ini jauh lebih buruk ketimbang digelitik firasat buruk.

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Saya baru sadar, ada kekeliruan dalam fic ini. Antara chapter satu dan dua kurang berkesinambungan. Naruto-nya kurang galau. *rasenganed* di chapters mendatang, saya akan berusaha memperbaikinya. Maaf, ya. #deep bows

Fic ini sudah lama terpendam dalam draft, dan saya kelamaan hiatus, jadi saya minta maaf untuk gaya menulis yang aneh atau pun kekurangan yang terdapat dalam fic ini. Kemampuan saya sudah agak menumpul. T_T

.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran selalu dinantikan kehadirannya! ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan (LoL)